32 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 14185

Medanisme

Oleh : Ramadhan batubara
Redaktur Pelaksana Sumut Pos

Medan memang hebat. Kalimat singkat ini dikeluarkan tamu saya ketika selesai menikmati durian di Sei Sikambing. Tak ada durian seenak ini selain di Medan, katanya lagi. Mantap.

Langsung saja saya busungkan dada. Ayolah, siapa yang tidak bangga ketika daerahnya dipuji oleh orang lain? Masalah saya bukan asli orang Medan, itu kan urusan lain. Begitu juga dengan durian itu, dia kan bukan asli Medan; dia datang dari Dairi, Karo, Tapanuli Tengah, Asahan, Batubara, hingga kawasan Aceh. Jadi, selama di Medan, bukankah menjadi Medan?

Inilah yang saya maksud dengan Medanisme. Paham yang telah mendarah daging bagi siapa saja warga Medan. Slogan yang mewakili isme ini tak lain adalah ‘Ini Medan Bung!’ yang terkenal itu.

Saya katakan isme karena arti dan makna dari slogan itu begitu kental dalam kehidupan warga Medan. Misalnya, tamu saya tadi. Dia terkejut melihat lampu merah kehilangan marwah di Kota Medan ini. Untuk menenangkan kepalanya, saya cukup mengatakan: Ini Medan Bung! Lalu, ketika tamu saya tadi bingung melihat banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan uang di kota ini, saya hanya jawab: Ini Medan Bung!

Selesai. Ya, ketika saya keluarkan slogan itu, kawan saya ini langsung maklum. Ingat, maklum, bukan manyun. Menariknya, pemakluman itu malah cenderung tulus. Saya tidak melihat dia menyepelekan ungkapan saya; dia seakan patuh dengan slogan itu. Hebat kan?

Maka, kembali ke durian, adalah wajar ketika tamu saya tadi begitu percaya kalau di Medan ini tumbuh durian. Persis dengan dia, beberapa pendatang yang datang ke Medan juga mencari durian. Sebut saja Krisdayanti, Anang dan Ashanty, Maria Selena sang Putri Indonesia 2011, dan lainnya.

Kenyataan ini tentu merugikan para daerah penghasil durian bukan? Jawabnya tentu, tapi selama ini belum ada yang protes tentang itu. Beda dengan yang terjadi di Jawa Tengah. Ceritanya, pengusaha hingga pemerintah di sana tidak senang dengan Jogjakarta yang identik dengan Borobudur.

Bagaimana tidak, Borobudur itu terletak di Jawa Tengah, jarak yang terbentang dari Jogjakarta menuju candi tersebut pun hingga empat puluh kilometer. Tapi, mengapa wisatawan menginapnya di Jogjakarta, bukan Solo atau Magelang atau malah Semarang yang masuk dalam Provinsi Jawa Tengah. Tapi, sudahlah, kan tidak ada slogan: Ini Jogja, Bung!

Soal Medan memang sangat khas (saya tak percaya kalau ada yang bilang hal ini dikondisikan) dengan slogan yang penuh ego itu. Ya, ada keangkuhan hingga kebanggaan dalam ‘Ini Medan Bung!’ walaupun hingga sekarang saya belum menemukan siapa pencetusnya. Salut.

Mungkin karena itulah, Visit Medan Years 2012 mengusung ‘This is Medan!’ sebagai slogannya. Tapi, kok sok Inggris ya. Maksud saya, tidaklah salah menggunakan kalimat berbahasa Inggris, mungkin pemerintah kota memiliki pandangan luas; yang menginternasional. Namun, isme dalam ‘Ini Medan Bung’ seakan berkurang. Tidak membumi bagi orang Medan sendiri. Jadi teringat pertarungan Jogja dan Solo lagi. Kali ini yang saya anggap kalah adalah Jogja. Ceritanya beberapa tahun lalu, dengan bangga Jogja menelurkan slogan dalam dunia wisatanya yang berbunyi: Never Ending Asia. Hebat, mirip Malaysia dengan Truly Asia-nya.

Tidak ada yang salah, tapi Jogja terkejut ketika beberapa waktu setelah itu Solo membuat slogan yang jauh lebih menarik; The Spirit of Java. Ayolah, selama ini Jogja dan Solo kan selalu bersaing untuk disebut sebagai pusatnya Jawa.

Tentu, apa yang dilakukan Jogja bak bumerang. Nah, apakah Medan akan melakukan bumerang yang sama? Maksudnya, bagaimana ketika ada kota lain yang menggunakan slogan yang mirip dengan ‘Ini Medan Bung!’ (tentunya dengan mengganti nama kotanya) di kemudian hari?

Ego dari slogan itu sangat kental dengan karakter orang Medan bukan? Seperti yang dirasakan tamu saya tadi, dia seakan sudah kalah duluan begitu mendengar slogan itu. Bahkan, sebelum slogan itu dikeluarkan, di dalam otaknya pun telah tertanam sebuah paham; kesadaran untuk tidak macam-macam di Kota Medan. Dengan kata lain, isme yang tercipta di Kota Medan ini telah masuk ke tubuhnya sebelum dia sampai di sini. Bayangkan, bagaimana Medanisme menggerogoti sudut pandangnya itu.

“Wow… Ini Medan Bung!” teriak tamu saya itu ketika mendapati begitu banyak warung pecel lele di kota ini. (*)

 

Gatot Usulkan Pesawat Rute Medan-Cina

MEDAN-  Plt Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pujo Nugroho ST menawarkan kerjasama di bidang pariwisata. Tapi, untuk mewujudkannya mesti ada penerbangan pesawat langsung dari Medan ke Cina.

Pernyataan itu disampaikan saat menyambut kunjungan Konjen Tiongkok di Medan, Kamis (12/1).  Dia menyebutkan, kerjasama di bidang pariwisata dari RRT merupakan peluang untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia khususnya Sumut. Apalagi Sumut menyimpan banyak panorama alam yang sangat indah di Sumut.

“Pemerintah Sumatera Utara berupaya agar Bandara Kuala Namu segera beroperasi.  Bila memungkinkan ada penerbangan langsung dari Cina ke Medan,” katanya didampingi Sekdaprovsu H Nurdin Lubis SH MM, Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi Provsu H Salman Ginting, Kepala Biro Pemerintahan Umum Setdaprovsu Nouval Makhyar dan Kabag Humas Pimpinan Keprotokolan dan Telekomunikasi Biro Umum Setdaprovsu Zakaria SE.
Sementera itu, Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melalui Konsul Jenderalnya di Medan, Yang Lingzhu menjanjikan turisnya berkunjung ke Danau Toba. Dia menyebutkan, Sumatera Utara dan Provinsi Guang Dong, Cina, adalah dua provinsi kembar atau sister city untuk saling memajukan.
“Kami bisa janjikan turis dari Guang Dong berkunjung ke Danau Toba. Warga Guang Dong mendengar Danau Toba sangat indah dan terkenal .

Kami memasukkan Danau Toba sebagai satu tujuan wisata luar negeri. Kami ingin kerjasama bidang pariwisata segera berjalan,” kataYang Lingzhu kepada Gatot di ruang kerja Gubsu. (ril)

10 Ribu Batang Ganja Dicabut dari Tor Sihite

Setiap Dua Bulan BNN Pantau Madina

MADINA- Sepuluh ribu batang ganja dari tiga hektar lahan yang tersebar di pegunungan Tor Sihite, Madina, Kamis (12/1) ditemukan dalam operasi Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Narkoba Poldasu, Polres Madinas dan Pemkab Madina.

Penemuan yang merupakan pertama kali sekaligus terbesar di awal Januari 2012. Rencananya, polisi memberangus seluruh ladang ganja lainnya secara rutin setiap dua bulan sekali. Mengetahui itu, sekitar 100-an personel dari Polres Tapsel, Satpol PP dan Gegana, turun ke lokasi selama dua hari, mulai Rabu hingga Kamis (12/1).

Rombongan yang dipimpin Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN Brigjen Pol Beni Mamoto, Kepala BNN Madina AKBP Eddy Mas huri, Wakil Bupati Madina Dahlan Nasution, dan Kasat Narkoba Polres Madina AKP Hendra, berangkat dari Polres Madina Rabu (11/1) pagi sekira pukul 09.00 WIB.
Sebagian personel melintasi sejumlah jalur udara dengan meng gunakan helikopter Polisi P-3101. Sebagian lagi melalui jalur darat, yakni dari Kecamatan Panyabungan Timur. Mengingat areal yang dipenuhi bukit terjal, tim yang berangkat lewat jalur darat terpaksa menginap di lokasi.
Menurut Brigjen Pol Beni Mamoto didampingi Wakil Direktur Narkoba Polda Sumut AKBP Afriyanto SIK dan Wakil Bupati Madina, operasi tersebut merupakan program pemberantasan narkoba secara nasional.  Sebab,  menurut data BNN, Kabupaten Madina merupakan pemasok ganja terbesar setelah Nangroe Aceh Darusalam (NAD).

“Operasi ini merupakan tahapan dalam pemberantasan narkoba. Kami yakin ganja yang berasal dari Madina akan sampai ke Jakarta. Buat apa menguras tenaga memberantas ganja di Jakarta, kalau tahu dari mana sumbernya.  Artinya, prioritas pertama adalah pembasmian terhadap sumber-sumbernya. akan jalan terus sampai tuntas hingga ke akar-akarnya. Sekali dalam dua bulan kami melakukan pemusnahan lahan ganja ke Madina,” sebutnya.
Dilanjutkannya, apabila lahan-lahan berhasil dimusnahkan, maka BNN akan melakukan sosialisasi ke seluruh masyarakat di sekitar Tor Sihite, untuk mengalihkan profesi. Misalnya bertani sayur-mayur, beternak, dan lainnya.

“Kami bersama Pemkab Madina akan membuat program sosialisasi kepada warga sekitar lahan ganja. Tujuannya agar beralih profesi, dan meningkatkan kesadaran hukum,” tambahnya.

Kepala BNN Madina AKBP Eddy Mashuri Nasution mengatakan penyuluhan-penyuluhan tentang narkoba ke seluruh masyarakat terutama bagi pelajar di Madina. “Kami sudah melakukan penanganan masalah narkoba ini dengan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat. Ini merupakan program nasional untuk mengantisipasi peredaran narkoba,” ungkapnya.  Untuk diketahui, tim baru tiba di Panyabungan pada Kamis (12/1) sekira pukul 13.00 WIB. Dan seluruh barang bukti dibawa ke Jakarta. (wan)

Mopen Terbakar Akibat Merokok

PERBAUNGAN- Akibat memeriksa minyak sambil merokok, mobil penumpang (mopen) Rajawali BK 1630 MQ terbakar dan menghabisi kantor cabang mopen Koperasi Pengangkutan Umum Rajawali (KPUM Rajawali) di Jalan Seroja No 3, Perbaungan, Serdangbedagai, Kamis (12/1).

Kebakaran itu diketahui akibat kelalaian supir mopen Rajawali, Darma (43) warga Dusun 2, Desa Jambur Pulau, Perbaungan. Ketika itu, Darma memarkirkan kendaranya untuk memeriksa tangki minyak sambil merokok.

Tidak disengaja api rokoknya menyulut  minyak dalam tangki mobil, sehingga menyebabkan terbakar. Angkot yang hendak dikeluarkan dari kantor cabang yang merupakan kediaman Burhanudin Lubis Als Rajin (58).  Akhirnya gagal akibat seluruh pintu mopen Rajawali tersebut terbakar.

Upaya pemadaman akhirnya berhasil dilakukan setelah dua unit mobil pemadam kebakaran dari Deli Serdang dan dua dari Sergai milik kebun Indah Poncan turun ke lokasi kejadian memadamkan api. (btr)

Simpan Sabu di Bantal, Pasutri Dibui

LANGKAT- Pasangan suami istri (pasutri) Jumadi (40) dan Anita alias Nita (30) warga Kampung Lori Dusun Pekan Kuala Kecamatan Kuala-Langkat, diamankan Polres Langkat karena memiliki 20 gram sabu-sabu, Rabu (11/1) malam.

Demikian disampaikan Kapolres Langkat, AKBP Mardiyono didampingi Kasat Reskrim, AKP Aldi S, Kamis (12/1). Dia menyebutkan pelaku termasuk bagian dari target operasi. Saat dilakukan penggrebekan, pelaku tidak dapat memungkiri aktifitasnya karena langsung dibuktikan dengan barang bukti siap edar yang diletakkan persis di bawah bantal tidur.

Aldi menambahkan, petugas turut menyita satu unit telepon genggam, dua bungkus besar sabu, dua bungkus paket kecil, dua paket hemat kecil dan uang tunai Rp1 juta lebih serta timbangan elektrik. Jumadi kepada petugas mengaku, barang haram diperoleh dari seorang warga Binjai Km 19.

Bahkan, tercatat beberapa kali melakukan transaksi melalui seluler dan kemudian pesanan diantarkan.  “Kalau di jual ecer Rp1,1 juta bahkan lebih per gram. Keuntungan atau omset perhari bisa menembus satu jutaan. Kegiatan dijalani sudah empat bulanan, selain menjual kami juga menikmatinya,” terangnya seraya menaksir 20 gram sabu sudah bias dikonsumsi 200 pemakai. (mag-4)

Pedagang Dipindah, DPRD Bersitegang

TEBINGTINGGI- Niatan Pemko Tebingtinggi untuk memindahkan pedagang kaki lima di Pasar Patimura ke Jalan Jawa di Kelurahan Pasar Gambir, Kecamatan Tebingtinggi Kota membuat dua anggota DPRD Tebingtinggi bersitegang karena berbeda pendapat.

Hal itu terungkap saat Wakil Wali Kota Tebingtinggi Irham Taufik SH dan Wakil Ketua DPRD H Amril Harahap, perwakilan pedagang dan anggota DPRD lainnya mengunjungi Pasar Patimura, Kamis (12/1).

Kedua anggota DPRD Tebingtinggi bersitegang itu, Ketua Fraksi Partai Golkar, Ir Pahala Sitorus dengan anggota Fraksi FKPB, H Syamsul Bahri.
Anggota DPRD Tebingtinggi itu bersitegang karena Pahala Sitorus berprinsip mendukung program pemerintah membangun jembatan Jalan Patimura yang kondisinya sangat memprihatinkan karena sudah mau roboh, sedangkan H Syamsul Bahri dan anggota DPRD lainnya, Zulfikar berbeda pendapat dengan Pahala.

Syamsul dan Zulfikar menyebutkan, sebaiknya pedagang Jalan Patimura ditanya terlebih dahulu mau dipindahkan ke Jalan Jawa atau tidak.
“Jangan yang penting pindah, tapi nasib pedagang dipikirkan,“ sebutnya.

jika nanti pedagang kembali ke Jalan Patimura, nanti dirapatkan lagi. Lihat dulu dan tempatnya,”ucap keduanya. Tapi, Pahala tetap menekankan jembatan harus dibangun.

Akibat kondisi itu, Irham Taufik memerintahkan segera di relokasikan pedagang dan diberi waktu seminggu untuk menyiapkan tempatnya untuk berdagang.
Seorang pedagang, Amir Sitompul mengatakan sebelum dibangunya jembatan Patimura tersebut pedagang meminta kepastian dan kapan dimulainya pembangunan jembatan tersebut. Kemudian, setelah dibangun apakah bisa pindah kembali.

Irham Taufik menjawab, yang penting pedagang mau pindah supaya jembatan Patimura bisa segera diperbaiki. Karena perbaikan jembatan untuk kepentingan banyak orang. (mag-3)

Liber Manik Jadi Kades di Aornakan I

PAKPAK BHARAT –  Perhelatan Demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Kades) Aornakan I Kecamatan Per Getteng Getteng Sengkut (PGGS), Pakpak Bharat yang berlangsung, Selasa (10/1) dimenangkan Liber Manik.

Pemilihan Kades Aornakan I, yang diikuti 2 kandidat dimenangkan Liber Manik kandidat nomor 2 dengan capaian jumlah suara terbanyak  199 suara, sedangkan pesaingnya  menempati nomor urut 1 yang bernama Malik Manik hanya dapat mencapai jumlah suara sebanyak 188 suara  dari Jumlah  daftar pemilih tetap (DPT).

Dalam pemelihan itu, Panitia penyelenggaraan pemilihan kepala desa (P2KD) mengumumkan dari sebanyak 391 suara, yang batal hanya 4 Suara.
Liber Manik selaku Kades terpilih saat di konfirmasi mengatakan kemenangan yang di dapatnya sekarang merupakan kemenangan seluruh masyarakat Aor Nakan I. Dia berharap seluruh masyarakat bisa bekerjasama. (mag-14)

Karyawan PTPN2 Lempari Warga Pakai Batu

BINJAI- Ratusan warga yang tergabung dalam Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) Binjai nyaris bentrok dengan karyawan PTPN 2 Tanjung Jati. Insiden itu terjadi akibat perebutan PTPN2 melarang warga menanami kelapa sawit dan ubi di lahan seluas 70 hektar, Kamis (12/1) sekiatr pukul 09.00 WIB.

Emosi warga memuncak ketika karyawan PTPN 2, yang menumpangi 5 unit mobil colt diesel warna putih langsung melarang masyarakat melanjutkan pekerjaannya mengolah lahan seluas 70 hektar. Larangan itu disampaikan karena lahan itu diklaim milik PTPN2.

Walaupun sudah diusir, warga tetap bertahan dan tidak memperdulikannya. Ketika itu, warga terus melanjutkan aktifitasnya membersihkan lahan serta menanam ubi. Karyawan yang di pimpin langsung Manajer PTPN 2 Tanjung Jati, T Tampubolon bertindak memaksa dengan cara melempari pakai batu.
Tidak terima, warga melawan dengan cara mengambil batu untuk membalas lemparan. Ratusan warga yang membawa peralatan bertani berupa parang dan alat bertani langsung mengejar karyawan yang melemparinya.

Selanjutnya, kedua kubu dari perwakilan warga dan PTPN2 dipertemukan oleh Kapolres Binjai, AKBP Musa Tgampubolon di pos PTPN 2 Tanjung Jati, tak jauh dari lokasi kejadian. Bukan itu saja, kejadian tersebut langsung direspon Kapoldasu, Irjend Pol Wisdjenu Amat Sastro dan Komisi III DPR RI, yang ketepatan berada di Binjai. Kini, kasusnya akan diselsaikan oleh DPR RI.

Anggota Komisi III DPR RI, Azis Samsudi beserta 8 orang anggota lainnya, saat berada di lokasi kejadian menyatakan segera menyelesaikan permasalahan lahan PTPN 2 yang ada di Kota Binjai dan umumnya di Sumut.

“Dari hasil keterangan warga pada 2003, PTPN 2 baru mendapatkan surat dari badan pertanahan. Sementara BPRPI mendapatkan surat-surat resmi dari Mahkamah Agung tahun 2001. Maka dari itu, masyarakat terlebih dahulu memiliki hak atas lahan tersebut,” ujarnya.

Meskipun begitu, paparnya, untuk membuktikan siapa yang benar dan berhak atas lahan tersebut. Pihak panitia khusus (Pansus) akan membahas permasalahan tersebut.

Sementara itu, Ketua BPRPI, Acan menyatakan, pihaknya tetap memperjuangkan haknya sebagai rakyat penunggu. “Kami tidak akan gentar menghadapi pihak PTPN 2 demi merebut kembali hak kami. Meski, nyawa taruhannya,” tegas Acan.

Dia menerangkan, sejak tahun 1982, BPRPI sudah mendapat kuasa dari Bupati Langkat atas lahan tersebut dengan luas lahan 1.000 hektar karena wilayah tersebut sudah lepas dari Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2. Kemudian, kaburnya hak BPRPI atas lahan PTPN 2 setelah ditukar gulingkannya lahan PTPN 9 kepada PTPN 2. “Kami menilai, tukar guling hanya untuk menghilangkan hak warga dari Bupati Langkat. Maka dari itu, kami tidak ingin kehilangan hak kami karena sudah terlalu lama lahan kami dikuasai PTPN 2,” ujarnya.

Sedangkan, Manejer PTPN 2 Tanjung Jati, T Tampubolon mengakui, pihaknya memiliki dasar menguasai lahan tersebut. “Kami sudah mendapat HGU sejak tahun 2003 sampai 2025. Makanya, lahan tersebut masih dalam tanggung jawab PTPN 2,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kapoldasu Irjend Pol Wisjnu Amat Sastri berharap agar masyarakat bersabar agar hal-hal yang tidak diinginkan tak terjadi. “Masyarakat harus bersabar, bila masalah ini sudah selesai, lahan ini akan kembali kepada masyarakat yang memang berhak memilikinya,” ujarnya.
Mendengar ungkapan DPR RI dan Kapoldasu, serta membawa beberapa berkas dari warga untuk dibahas oleh Pansus di DPR RI. Akhirnya, rombongan meninggalkan lokasi kejadian dan warga yang mendapat arahan dari Kapoldasu dan Komisi III DPR RI terlihat senang dan berharap agar DPR RI sepenuhnya membela rakyat. (dan)

PN Lubukpakam Bebaskan Pelaku Cabul

LUBUK PAKAM- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam membebaskan terdakwa Aminton Sitorus (30) warga Desa Wonosari Pasar VII Kecamatan Tanjung Morawa atas dakwaan perbuatan cabul terhadap terhadap, NHN (20) warga Dusun IX Desa Wonosari Kecamatan Tanjung Morawa, Kamis (12/1).

Putusan itu disampaikan Ketua Majelis Hakim, Oloan Silalahi SH bersama dua anggotanya, MY Girsang SH dan Vera Yetti Magdalena SH. Dalam putusannya, hakim mempertimbangkan kategori dewasa dalam UU Perkawinan adalah berusia 18 tahun. Jadi, korban NHN sudah berusia 20 tahun, sehingga termasuk kategori dewasa. Sehingga dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung SH, yang menjerat terdakwa telah melanggar pasal 293 ayat (1) KUHPidana dinyatakan tak dapat diterima.

“Dakwaan JPU tidak dapat diterima, sehingga terdakwa dibebaskan dari rumah tahanan (Rutan),” katanya saat membacakan putusan.
Adanya putusan itu, Rumondang menegaskan banding atas putusan tersebut. Karena menurunya, terdakwa Aminton Sitorus melakukan perbuatannya, Minggu tanggal 21 Agustus 2011 sekira pukul 21.30 WIB bertempat di Dusun IX Desa Wonosari Kecamatan Tanjung Morawa. Saat itu korban NHN berada di rumah tetangganya di Dusun IX.

Terdakwa Aminton Sitorus menyuruh korban NHN datang ke tempat pembakaran batu yang jaraknya sekira 100 meter dari rumah terdakwa. Setiba di tempat itu, keduanya duduk-duduk. Lantas mencumbui korbansebanyak dua kali.

Di kasus yang sama, PN Lubuk Pakam pada 12 Oktober 2011 lalu memvonis terdakwa, Suherman (46). Terdakwa terbukti melakukan cabul terhadap SW (19), terdakwa divonis 2 tahun penjara. (btr)

Tak Terganggu Ambil-alih, Tetap Maksimalkan Produksi

Jalan-jalan ke Pabrik Peleburan Aluminum PT Inalum di Kuala Tanjung Batubara

Menjelang berakhirnya kontrak PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) di Tanjung Gading, Batubara pada Oktober 2013, disebut-sebut perusahaan tersebut akan diambil alih Pemerintah Indonesia. Di tengah isu itu, perusahaan tetap berproduksi.

Syaifullah/Triadi, BATUBARA

Ditemani Staf Humas, Julian Faisal, Sumut Pos menuju pabrik yang jaraknya sekitar 17 Km dari Komplek Perumahan Karyawan PT Inalum di Tanjung Gading. Tepat, Selasa (10/1) Pukul 09.00 WIB berangkat. Di pabrik, Sumut Pos disambut Senior Manager Humas Ir H Subagiyo Ibnoe dan Manager Humas Moranta Simanjuntak.

Dari keduanya mengalir sejumlah kisah. Bahwa 12 perusahaan yang mendirikan PT Inalum bersama pihak Indonesia sepakat membentuk usaha bersama di Jakarta. Nama usaha itu adalah Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd (NAA) yang berkedudukan di Tokyo, yang sah berdiri pada 25 November 1975.
Setahun kemudian, tepatnya 6 Januari 1976 NAA bersama Indonesia sepakat mendirikan PT Inalum.  Pada pendiriannya mayoritas saham PT Inalum sebesar 90 persen dipegang Jepanng. Tapi, pada akhirnya saham berevolusi pada 1998, pembagian saham menjadi 58,88 persen (Jepang) dan 41,12 persen (Indonesia).

Tak lama di ruangan bidang Humas PT Inalum, Sumut Pos diajak keliling oleh Julian Faisal. Helm dan kemeja lengan panjang wajib dikenakan. Saftey Firts. Darinya didapat ‘wisata pabrik aluminium’ yang dilakoni dengan antusias. Awalnya Sumut Pos menjelejah bagian luar pabrik. Yang mayoritas terlihat disana adalah instalasi listrik. Ada juga tabung-tabung berukuran besar.

Pabrik yang dibangun menghadap Selat Malaka. Sumut Pos berkeliling menumpangi mobil, karena luas area mencapai 200 hektar. Itupun tak semua dijelajahi. Bahkan ada titik-titik yang kurang bersahabat dengan barang elektronik, bahkan Sumut Pos enggan turun di titik tersebut.

Dalam paparannya, pabrik yang berdiri sejak 36 tahyun lalu mampu  menghasilkan rata-rata 225.000 ton aluminium per tahun. Jadi, tugas utama pabrik adalah mereduksi alumina (serbuk aluminium) menjadi aluminium dengan menggunakan alumina, karbon, dan listrik.

Pabrik ini memiliki tiga pabrik utama yakni pabrik karbon, pabrik reduksi dan pabrik penuangan.

Yang ingin Sumut Pos lihat tentu saja proses pembuatan hingga tercipta ingot aluminium. Ditemani Rahmad salah satu pengawas peleburan, Sumut Pos berkesempatan melihat-lihat ingot aluminium yang siap diekspor.  Adapun berap ingot per batang mencapai 22,7 kg.

Ngomong-ngomong, perusahaan ini bakal ‘free’ pada 2013. Kontrak jangka panjang pihak Jepang dan Indonesia tadi bakal berakhir tahun depan. Proses ambil-alih tadilah yang kini jadi isu nasional. Semua pihak, apalagi karyawan pasti tahu soal ini meskipun pada kenyataannya mereka tak begitu terganggu. Geber hasil produksi maksimal; hanya itulah yang ada di benak karyawan. (habis)