32 C
Medan
Wednesday, April 8, 2026
Home Blog Page 14291

Kasus JR Saragih Ngendap

MEDAN-Jangankan masuk ke tahap penyidikan, perkara dugaan penyelewengan dana APBD Simalungun yang diduga dilakukan Bupati JR Saragih, rupanya belum masuk tahap penyelidikan di Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK).
Sejak perkara ini dilaporkan anggota DPRD Simalungun Bernhard Damanik pada 30 September 2011, hingga kemarin laporan ini masih ngendon di Bagian Pengaduan KPK.

Kepala Bagian Informasi dan Pemberitaan KPK, Priharsa Nugraha, menyatakan, hingga saat ini kasus itu belum ditangani penyelidik KPK. “Nggak  nggak ada penanganan perkara APBD Simalungun itu,” ujar Priharsa kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin (20/12).

Bukankah perkaranya sudah dilaporkan? Arsa, panggilan Priharsa, mengakui, memang sudah ada laporan. “Tapi masih dalam proses telaah di Bagian Pengaduan,” ujar Arsa. Dia tidak menjelaskan kapan telaah akan kelar, sebab hal itu merupakan kewenangan Bagian Pengaduan.

Sesuai mekanisme yang biasa diterapkan di lembaga yang kini dipimpin Abraham Samad itu, begitu ada pengaduan, maka ditelaah di Bagian Pengaduan. Jika ditemukan indikasi tindak pidana korupsi, Bagian Pengaduan meneruskan ke pimpinan KPK untuk mendapat persetujuan masuk ke tahap penyelidikan. Namun, jika hasil telaah Bagian Pengaduan menyimpulkan tidak ditemukan indikasi korupsi, maka pengaduan tinggallah pengaduan.

Sebelumnya, Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Yuna Farhan menilai, kebijakan Bupati Simalungun JR Saragih dan Ketua DPRD Simalungun Binton Tindaon, pengalihan dana intensif para guru non PNS sebesar Rp1.276.920.000 miliar untuk membeli mobil anggota DPRD Simalungun, jelas menabrak setidaknya dua ketentuan. Menurut Yuna, perbuatan itu sudah memenuhi delik perbuatan tindak pidana korupsi.

Pertama, alokasi anggaran dana insentif guru sudah ada di APBD, yang ditetapkan dengan Perda APBD. “Bupati dan Ketua DPRD sudah melanggar perda,” ujar Yuna Farhan.

Ketentuan kedua yang dilanggar, dana insentif guru merupakan dana yang dikucurkan pusat ke daerah. Dana ini, mirip dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), peruntukannya sudah jelas, tak bisa dialihkan untuk hal lain.
Koordinator Monitoring Pelayanan Publik ICW Febri Hendri juga berpendapat sama. Dia menilai, pengalihan dana insentif para guru itu menunjukkan Pemda Simalungun dan DPRD-nya tidak peduli dengan nasib para guru. Jika ini dibiarkan, maka kejadian-kejadian serupa yang mendiskriminasi para guru bisa terulang lagi. Para penguasa lokal, lanjutnya, akan senantiasa meletakkan guru pada posisi yang lemah. Febri mendorong para guru untuk melakukan perlawanan, termasuk kepada DPRD Simalungun.

Seperti diberitakan,anggota DPRD Simalungun Bernhard Damanik sudah melaporkan ke KPK terkait dugaan korupsi yang dilakukan JR Saragih pada APBD Tahun Anggaran (TA) 2010 di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun, senilai Rp48 miliar, pada 30 September 2011.

Selain dugaan korupsi dana APBD, JR Saragih juga dilaporkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  Solidaritas Anak Bangsa (SAB), dengan No Surat 001/SAB/IX/2011 Tanggal 28 September 2011. JR Saragih diduga berkolusi dengan Ketua  DPRD Simalungun Binton Tindaon, untuk mengalihkan dana intensif para guru non PNS sebesar Rp1.276.920.000 miliar untuk  membeli mobil anggota DPRD Simalungun.

Kenyataan ini tak pelak membuat anggota DPRD Simalungun, Bernhard Damanik, kecewa. “Laporan pengaduan sudah diberikan, dan ditambah barang bukti baru yaitu testimoni yang saya berikan. Tapi, belum juga ada tanggapan sampai sekarang dari KPK,” tegasnya.

Agar kasus ini tidak mengendap, sambung Bernhard, dia akan menyurati pimpinan KPK yang baru di bawah naungan Abraham Samad. “Kita akan menyurati pimpinan KPK yang baru mengenai adanya laporan tersebut. Dan nanti kita akan memberikan barang bukti baru, dan data-data baru agar KPK bisa segera menindaklanjuti kasus itu. Jadi, kalau memang sudah kuat barang buktinya untuk ditetapkan tersangka maka sebaiknya seperti itu,” ungkapnya. (sam/ari)

Proses Pengesahan APBD Deli Serdang Juga Dikoreksi

JAKARTA-Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho, belum mau mengomentari detil persoalan keanehan proses pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Deli Serdang 2012 pada Kamis (15/12) lalu. Dia hanya menjanjikan akan segera mengevaluasi APBD yang proses pengesahannya hanya makan waktu sekitar 15 hari itu.

Gatot mengatakan, yang dievaluasi tidak hanya menyangkut materi atau item-item penganggaran di APBD. Namun, proses pengesahannya juga akan dievaluasi, untuk dilihat apakah menabrak aturan atau tidak.
“Yang kita evaluasi tahapan prosesnya sampai dengan substansi APBD-nya itu sendiri,” ujar Gatot menjawab pertanyaan koran ini usai acara Rakor Gubernur di Hotel Mercure, Ancol, Senin (19/12) menjelang tengah malam.

Dia mengatakan, evaluasi atau supervisi terhadap APBD kabupaten/kota memang sudah menjadi tugas dan kewenangan pemprov. Jadi, ada atau tidak ada indikasi pelanggaran proses pengesahan, tetap akan dilakukan evaluasi. “Yang dievaluasi nantinya tidak hanya APBD Deli Serdang,” ujar Gatot yang didampingi Sekdaprov Sumut, Nurdin Lubis.

Nurdin menambahkan, hingga kemarin baru dua kabupaten/kota yang sudah mengetok palu pengesahan APBD-nya. “Rata-rata yang lain masih dalam proses,” imbuh Nurdin.

Seperti diberitakan, pengesahan APBD Deliserdang bernilai Rp2,1 triliun tak dihadiri Bupati Deliserdang. Wakil Ketua DPRD Deliserdang Dwi Andi Syahputra Lubis pun mengaku tidak tahu kapan dan dimana RAPBD dibahas.
Ketua Fraksi PDIP DPRD Deliserdang, Apoan Simanungkalit senada dengan Andi. “APBD 2012 Deliserdang tidak pernah dibahas dan langsung disahkan karena tidak mampu menjawab pandangan fraksi PDIP terhadap rancangan peraturan daerah tentang anggaran pandapatan dan belanja daerah (R-APBD),” tegas Apoan Simanungkalit, Jumat (16/12).

Di acara Rakor Gubernur itu, Mendagri Gamawan Fauzi meminta para gubernur untuk terus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan di tingkat kabupaten/kota. Persolan-persoalan yang muncul di tingkat kabupaten/kota, pesan Gamawan, agar bisa langsung dituntaskan oleh gubernur.

“Saya harapkan, persoalan-persoalan di kabupaten/kota, bisa langsung selesai di tingkat gubernur,” ujar Gamawan.
Sementara itu, dijadwalkan hari ini DPRD Sumut menggelar sidang paripurna untuk mengesahkan R-APBD Sumut 2012. Begitu Perda APBD diketok palu, diyakini paling banter seminggu kemudian Mendagri Gamawan Fauzi sudah memberikan keabsahan terhadap Perda APBD dimaksud.

Gatot dan Nurdin Lubis, kompak menyatakan optimismenya tidak lewat 2011 Perda APBD 2012 sudah disetujui Gamawan Fauzi setelah melewati proses supervisi oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Keuangan Daerah Kemendagri, Yuswandi A Tumenggung.

Gatot menepis keraguan bahwa APBD 2012 bakal telat. “Saya yakin tidak terlambat. Tanggal 21 disahkan,” ujar Gatot, kemarin.

Dijelaskan, pihaknya sudah mensiasati agar nantinya proses supervisi di Kemendagri tidak memakan waktu lama. Caranya, pada saat masih masa tahapan pembahasan, berkas dan dokumen-dokumen R-APBD sudah dikirimkan ke Kemendagri. Koordinasi secara lisan juga dilakukan dengan petinggi Kemendagri.

“Dengan koordinasi dilakukan sejak awal, nanti proses (supervisinya) juga bisa cepat selesai,” kata Gatot.
Nurdin Lubis memperkirakan, supervisi di Kemendagri hanya butuh waktu sekitar sepekan. “Jadi akhir Desember sudah selesai. Tak akan lewat 2011. Begitu diketok palu, sepekan kemudian sudah disetujui mendagri,” kata Nurdin yakin.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga memperkirakan, APBD Sumut 2012 diperkirakan mencapai Rp6,3 triliun. Dia juga membenarkan pengesahan di dewan diagendakan 21 Desember 2011. (sam)

Panitia Pesta Danau Toba Kelimpungan

Samosir Art Festival 2011 Tawarkan Ragam Acara

JAKARTA-Ketua Umum Panitia Pesta Danau Toba (PDT) 2011 John Hugo Silalahi dirundung kecemasan. Pasalnya, sisa waktu kurang sepekan, tapi pembangunan panggung terbuka (open stage) di Paparat, belum juga rampung.
Kecemasan John Hugo langsung disampaikan ke Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho, melalui layanan pesan singkat, Senin (19/12) malam. Tidak mau jadwal PDT yang dimulai 27 Desember 2011 terganggu, Gatot pun bereaksi cepat.

“Ketua Umum Panitia, Jhon Hugo, SMS saya, minta pemprov memberikan perhatian untuk penyelesaian open stage di Parapat. Katanya, masih ada pekerjaan yang belum selesai yang dikhawatirkan tanggal 27 tak bisa sukses. Saya langsung telepon Kadis (Kadis Pariwisata Pemprov Sumut),” cerita Gatot saat ditemui usai mengikuti Rakor Gubernur di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Senin (19/12) malam.

Kepada Kadis Pariwisata, Gatot meminta agar memberikan perhatian terhadap pembangunan open stage di Parapat itu. Masalah dana sudah ada, yang sudah dianggarkan dari APBN.

“Pekerjaan untuk open stage itu dana dari APBN. Mudah-mudahan cepat selesai,” kata Gatot, tanpa menyebutkan berapa dana yang disiapkan untuk penyelesaian pekerjaan open stage itu.

Lalu, bagaimana dengan persiapan dana? “Itu resiko panitia”. Demikian jawaban Sekretaris Panitia Pesta Danau Toba (PDT) 2011 Nurlisa Ginting Senin (19/12), saat dikonfirmasi Sumut Pos mengenai kekurangan dana sebesar Rp800 juta dari Rp4,2 miliar dana yang dibutuhkan.

Saat ditanya mengenai optimisme panitia untuk menutupi defisit anggaran tersebut, Nurlisa terlihat berang. “Kok gitu pertanyaannya. Kita sudah sekitar 80 persen persiapannya. Ya kami tetap berusaha untuk memenuhi itu, dan semua tim yang tergabung dalam panitia juga mencari itu,” jawab mantan calon wakil wali kota Medan pasangan Sigit Pramono Asri pada Pilwalkot Medan 2010 lalu itu.

John Hugo Silalahi pun lantas menanggapi, persiapan pelaksanaan PDT 2011 sudah sekitar 85 persen. Untuk menutupi kekurangan, panitia sudah berusaha melakukan kerjasama dengan pihak sponsor. Namun, mantan Bupati Simalungun itu tidak menyebut nama-nama sponsor dengan alasan tidak ingat karena datanya tersimpan dalam file.

Ketidaksiapan panitia pun tampaknya mendapat perhatian dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu). “Diminta atau tak diminta, Poldasu siap untuk mengamankan PDT 2011. Untuk itu, tim akan segera meningkatkan koordinasi ke berbagai Polres di kawasan Danau Toba,” kata Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro saat menerima audensi Panitia PDT 2011, Jhon Hugo Silalahi, kemarin pagi di Mapoldasu.

Dalam audensi itu, Kapoldasu didampingi Dirlantas Poldasu Kombes Pol Bambang Sukamto, Dir Intel Poldasu Kombes Pol Bambang Soecahyo, Dir Pamobvit Kombes Pol B Tampubolon, dan Karo Ops Poldasu Kombes Pol Iwan H S. Sementara Ketum Panitia PDT 2011, Jhon Hugo Silalahi, didampingi pengurus Sophar Siburian, Marasal Hutasoit, Oloan Simbolon, Nurlisa Ginting (Sekum), dan Sulaiman.

Wisjnu mengingatkan, Panitia PDT 2011 juga harus memperkuat koordinasi dengan sejumlah Pemkab di kawasan Danau Toba dan Pemkab lainnya. “Karena ini menyangkut persiapan yang harus benar-benar mantap, meskipun panitia PDT dibentuk dalam singkat terbentuk,” ujarnya.

Menariknya, ketika Panitia Pesta Danau Toba resah hingga melapor kepada Plt Gubsu dan Kapolda, di sisi lain even Samosir Art Festival 2011 malah yakin sukses. Digelar sehari setelah pembukaan PDT, even ini diharapkan mampu menjaga eksistensi nilai-nilai luhur orang Batak. Ketua Panitia Samosir Art Festival 2011 Maria R Tampubolon menuturkan, acara tersebut akan dihelat di Pantai Pasir Putih Parbaba pada 28-29 Desember 2011 mendatang.

“Nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh nenek moyang orang Batak merupakan warisan yang sangat bernilai. Karena di dalamnya diajarkan tentang hidup dan berkehidupan yang baik. Olehnya, kami merasa berkepentingan menggelar acara semacam ini, karena generasi muda Batak harus terus diajak melestarikan budaya dan nilai luhur nenek moyangnya,” ungkap Maria, Selasa (20/12).

Mengusung tema ‘Generasiku Berbudaya,’ Samosir Art Festival 2011 akan menyuguhkan berbagai macam kegiatan, baik seni, budaya dan kampanye lingkungan hidup bernuanasa Batak. Berbagai macam jenis permainan tradisional, diantaranya Marsungkil, Margala, Marsiada, Marsudani dan Mariyeiye. Juga dimeriahkan dengn berbagai kegiatan tradisonal lainnya seperti ‘Turi Turian’ (Mendongeng), Puisi bahasa Batak, gondang anak anak, seruling Batak, Tari Tortor dan Pertunjukan Si Gale- gale.

Pihak penyelenggara, juga mendatangkan pemerhati lingkungan hidup untuk memberikan binaan kepada para siswa SMU yang juga berpartisipasi di acara ini. Dengan hal ini diharapkan dari generasi-generasi muda menyampaikan pesan tentang bagaimana menjaga alam dan lingkungan sebagai bagian kehidupan manusia kepada semua orang.
“Dukungan penampilan oleh artis Batak ternama seperti Yeppy Romero Pangaribuan dan Tongam Sirait, serta penampilan seni teater yang dipimpin Thompson Hutasoit serta artis dan pemain pendukung lainnya tentunya akan menambah semarak acara ini,” tambah Maria.

Ia juga berpendapat, dipilihnya Pantai Pasir Putih Parbaba di Pulau Samosir ini karena dianggap merupakan satu lokasi strategis. Selain memiliki potensi alam yang begitu indah pantai berpasir putih ini juga masih belum dikenal banyak wisatawan.

Pelaksanaan kegiatan di lokasi ini juga mendapatkan dukungan dari Yayasan Pomparan Ompu Raja Sihaloho. Selain dukungan dari masyarakat setempat, dukungan juga datang dari Yayasan Tona Toba Nature, sebuah yayasan yang konsen terhadap isu-isu lingkungan hidup. Bahkan Ketua Pengurus Yayasan Tona Toba Nature Olan Hutabarat dan Nalom Pangaribuan rencananya akan memberikan sumbangan lima ribu bibit pohon buah-buahan, yang akan diberikan secara cuma-cuma kepada setiap pengunjung yang datang di acara ini.

Pihak penyelenggara juga akan menggelar workshop mengenai Habatakon, seperti belajar menulis dan membaca aksara Batak, pameran pembuatan keramik asli dari putra daerah Pantai Pasir Putih Parbaba, mempelajari teknik membuat kain Ulos dan cara mewarnainya, yang berasal dari pewarna alami tumbuh-tumbuhan yang ditanam dan tumbuh di sekitar Pulau Samosir.

“Kami juga akan mendatangkan Victoria Renaux Abdoulaeva, seorang Spiritual Artis dari Rusia, yang akan mengajarkan langsung kepada peserta untuk melukis, dan di akhir acara tiga hasil lukisan terbaik akan dijual, dan hasil penjulannya akan disumbangkan kepada Syahruddin Harahap, seorang seniman Batak yang saat ini sedang sakit,” ujar Maria.

Lebih lanjut Maria mengatakan, bahwa untuk mendukung suksesnya gelaran tersebut, pihaknya didukung juga oleh Annette Horschman Sialagan, warga negara Jerman yang memilih menjadi Warga Negara Indonesia, karena kecintaanya kepada seni budaya Batak dan tentunya Danau Toba. Annette didaulat menjadi Koordinator Lokal, yang akan mempersiapkan dengan maksimal pelaksanaan acara Samosir Art Festival 2011.

Menurut Annette, pihaknya juga mendapatkan sumbangan empat ribu buku bacaan, yang diperuntukkan bagi anak-anak di Pulau Samosir, yang diberikan secara cuma-cuma oleh Sekjen Yayasan Samosir Cerdas Laris Naibaho. (sam/ari/saz)

Kaget Dunia Modelling

Endhita

Sejak menekuni karier di dunia model, Endhita belajar untuk menghargai waktu. Sebelumnya anak bungsu dari tiga bersaudara itu memang tak punya pengalaman sama sekali di dunia model.

“Sebelumnya saya kan anak rumahan, punya banyak waktu jadi banyak menunda pekerjaan. Kemudian (setelah terjun ke modelling) dihadapkan dengan pekerjaan yang padat,” kata Endhita.

Istri Onci ‘Ungu’ itu bilang, tak gampang ketika dia mulai belajar untuk berdisiplin. Namun, lambat laun dia merasakan buah dari kedisiplinannya terhadap waktu.

“Kalau saya nggak hargai waktu gimana saya bisa maju, semua itu ternyata ada hikmahnya,” kata perempuan yang namanya masuk dalam nominasi FFI 2011.

Endhita juga pernah mendapat pelajaran lantaran terlambat sepuluh menit ke tempat show-nya.

“Makanya sekarang siasatnya, diperhitungkan. Kayak jalanan di Jakarta kan susah banget, jadi harus takes time paling nggak dua jam. Atau saya kasih pemberitahuan sebelumnya kira-kira bisa hadir atau nggak,” ujar mantan finalis Wajah Femina itu.

Kini Endhita kembali menekuni dunia modelling setelah dua bulan cuti lantaran dia sedang berbulan madu dengan suaminya. Dia juga sedang sibuk membaca-baca sinopsis film.

“Ya kemarin sempat ada tawaran sebagai perempuan Jawa, tapi nggak bisa karena jadwalnya berdekatan dengan hari pernikahan,” ujarnya.

Setelah menikah, Endhita mendapat banyak wejangan dari suaminya.

“Dia sih bebasin aja, asal jangan capek,” ujar wanita berusia 35 tahun itu.

Sejak 2002, Endhita mulai banyak merambah dunia film. Tercatat sudah delapan film yang menguji kemampuan akting perempuan kelahiran Jakarta ini. Di antaranya Titik Hitam (2002), Bangsal 13 (2004), Missing (2005), Belahan Jiwa (2005), Untuk Rena (2006), Jatuh Cinta Lagi (2006), Cewek Gokil (2011), dan Tanda Tanya (2011). (ins/jpnn)

Kikuk saat Harus Kembali ke Mabes

Rahmad Darmawan setelah Mundur dari Pelatih Timnas

Mundur dari kursi pelatih timnas U-23 tidak malah membuat Rahmad Darmawan bisa santai. Selain harus kembali menjalankan tugas sebagai tentara, dia sibuk melayani permintaan wawancara dari wartawan.

M ALI MAHRUS, Jakarta

GERIMIS mengguyur kawasan perumahan Victoria Park Residence di Karawaci, Tangerang, Senin (19/12) siang. Salah satu di antara ratusan rumah di area menengah ke atas itu adalah milik Rahmad Darmawan, mantan pelatih timnas PSSI U-23. Dua mobil keren nongkrong di garasi. Masing-masing punya pelat nomor istimewa. Yakni, B 678 SFC dan B 678 DAF.

Seorang remaja lelaki menyambut kedatangan wartawan Jawa Pos (Grup Sumut Pos). “Silakan ditunggu, Mas. Pak Rahmad ada di dalam. Ada tamu wartawan juga. Sedang diwawancara,” katanya. Sayup-sayup terdengar tanya jawab antara wartawan dan Rahmad. Namun, bukan tentang sepak bola. Seputar bangunan rumah dan kamar. Tak lama berselang, wawancara itu rampung. “Maaf agak lama menunggunya. Tadi ada teman wartawan yang wawancara untuk rubrik griya,” tutur Rahmad.

Hari-hari Rahmad kini banyak bersinggungan dengan wartawan. “Setelah ketemu sampean, saya masih ada janji wawancara lagi,” katanya. “Meladeni wawancara teman-teman media adalah sebagian aktivitas saya sekarang.

Sebenarnya, saya tidak menginginkan mundurnya saya dari timnas menjadi isu sebesar ini. Tapi, ya sudah. Saya akan menjelaskan apa adanya,” lanjut pelatih yang membawa timnas U-23 meraih medali perak SEA Games XXVI/2011 itu.
Selain sibuk melayani wartawan, Rahmad harus kembali menjalankan kewajiban sebagai anggota TNI. Pelatih yang akrab disapa RD tersebut adalah anggota Marinir aktif berpangkat kapten. Lelaki kelahiran 28 November 1966 itu bertugas di Dinas Perawatan Personel TNI-AL (Diswatpersal) sebagai Kasubsi Oraum (olahraga umum).

“Sekarang tiap hari saya ngantor di Mabes TNI di Cilangkap. Beberapa di antara tugas saya adalah mengurusi olahraga dan penerimaan calon prajurit TNI-AL,” ungkap Rahmad.

Rahmad masuk militer pada 1990 dengan menggunakan ijazah dari Fakultas Pendidikan Olahraga IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Orang yang menyuruhnya mendaftar adalah Evert Erenst Mangindaan, manajer timnas kala itu yang kini menjadi menteri perhubungan.

Rahmad menjalani pendidikan di Akmil, Magelang, dan lulus pada 22 Juni 1991. Setelah itu, dia mengikuti kejuruan matra laut di Surabaya dan melanjutkannya dengan dinas pertama di Pangkalan Marinir Cilandak. Tujuh tahun bertugas, Rahmad dimutasi ke Markas Komando Marinir di Jakarta. Setelah itu, Rahmad pindah ke Lantamal III Jakarta, balik lagi ke Mako Marinir, hingga kini di Mabes TNI di Cilangkap.

Karena banyak berkutat di lapangan hijau, sampai saat ini pangkat Rahmad baru kapten. Padahal, sudah ada rekan seangkatannya yang berpangkat kolonel. “Itu risiko. Saya tetap bersyukur. Diberi izin berkarir di sepak bola saja, saya sudah sangat senang. Saya bangga menjadi bagian mereka (Marinir, Red),” papar dia.

Karena sebelumnya jarang ngantor, Rahmad mengaku agak kaku saat harus kembali menjalankan tugas di kesatuan. “Awalnya, saya merasa tidak enak. Saya rasa, itu wajar dan kita tidak butuh waktu lama untuk cair,” kata suami Dinda Eti Yuliawati tersebut.

Rahmad senang karena dukungan dari kesatuannya sangat besar. Selain memberikan dispensasi, pada saat-saat tertentu rekan-rekan dan pimpinannya memberikan dukungan istimewa. Misalnya, saat final SEA Games lalu. Di partai puncak melawan Malaysia, Rahmad mengenakan topi hitan bertulisan “Marinir”. Topi itu adalah kiriman langsung dari Komandan Marinir Mayjen TNI (Mar) M Alfan Baharudin. Di bagian dalam topi tersebut, tertulis pesan penyemangat dari sang komandan, “Coach RD, kita pasti menang! M 1.”

Meski gagal mempersembahkan medali emas, kemudian memutuskan untuk mundur, Rahmad tetap laris manis. Selain diburu klub dan media, ayah dua anak itu beberapa kali muncul sebagai bintang tamu di beberapa stasiun televisi. Tak melulu acara olahraga, tetapi juga acara humor.

Dalam sebuah acara, Rahmad sukses mengocok perut pemirsa dengan aktingnya yang konyol. Padahal, dia mengaku sama sekali tidak punya kemampuan teater atau semacamnya.

“Saya suka ngocol saja. Itu bawaan saya sejak SMP dulu. Saat timnas menjalani pemusatan pra-Piala Dunia 1989 di Jerman, saya didapuk melawak di depan duta besar Jerman dan para stafnya. Saya maju saja dan sukses membawa mereka tertawa,” jelasnya.

Lantas, apa rencana Rahmad ke depan? Ayah Febia Aldina Darmawan (19) dan Aldi Darmawan (12) itu belum memutuskan. Dia baru akan menetapkan pilihan pada awal tahun baru nanti.
Rahmad memiliki beberapa pilihan. Salah satunya adalah mengambil sertifikat pro license. Untuk itu, dia butuh waktu enam bulan dan dukungan dari PSSI. Pilihan lain yang kini dipikirkan oleh Rahmad adalah melatih salah satu klub di Indonesia. Ada empat klub yang berminat merekrut lelaki kelahiran Metro, Lampung, itu. Salah satu yang paling giat adalah Pelita Jaya, klub milik keluarga Bakrie.
“Saya ingin santai dulu sambil terus introspeksi. Saya masih ingin ngumpul bersama keluarga,” ungkap pelatih paling fair play versi Jawa Pos Group pada musim 2009 itu.
Putri pertama Rahmad, Febia, kebetulan kini berada di tanah air untuk menikmati liburan. Dia adalah siswa sekolah penerbangan di Filipina. Soal pendidikan buah hatinya itu, Rahmad menyatakan tidak pernah memaksa. “Itu atas pilihan sendiri. Saya tidak pernah mengarahkan. Mungkin ketularan ibunya yang dulu pramugari,” bebernya. (*)

Polda Turunkan 1.650 Personel

Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, Markas Besar Polda Sumatera Utara (Polda Sumut) akan menggelar Operasi Lilin 23 Desember sampai 1 Januari 2012. Operasi yang digelar di seluruh Wilayah Hukum Polda Sumut, untuk   menjamin kenyamanan, keamanan dan  keselamatan masyarakat.

“Keseluruhannya jumlah anggota yang diturunkan mencapai 1.650 personel,” ujar Kasubbid Pengelola Informasi dan Data (PID) Polda Sumut AKBP MP Nainggolan, kemarin (20/12).

Selain mengamankan jalur mudik, petugas juga mengamankan rumah ibadah, pusat keramaian, terminal bus, stasiun KA, bandara dan pelabuhan laut. “Personel tugasnya memberikan rasa aman bagi masyarakat,” terang Nainggolan. Polisi juga akan mel akukan razia miras, mercon dan kegiatan yang mengganggu kenyamanan dan keamanan warga Sumut.

Di sisi lain, Pemko Medan menempatkan 500 personel Dinas Perhubungan (Dishub) di seluruh Pos Pengamanan (PAM) Polresta Medan yang telah dibentuk termasuk terminal.

“Personel Dishub yang diturunkan akan menempati seluruh Pos PAM Polresta Medan serta Polsek,” kata Kabid Lalin Dishub Medan Toga Aruan.

Puncaknya pada malam Natal dan malam Tahun Baru, kata Toga, personel Dishub akan ditempatkan di seluruh gereja dan persimpangan untuk mengantisipasi kemacetan lalulintas.

Sementara, Sat PAM Obvit Polresta Medan akan meningkatkan pengawasan dan penjagaan dengan menambah personel di bank, dibantu personel Sabara Polresta Medan dan personel Polsek-polsek.

“Pengecekan menyangkut jumlah personel yang melakukan penjagaan. Terkait penampilan, kelengkapan, jam berapa mereka masuk dan pulang, itu lebih intens,” jelas Kasat Sat Pam Obvit Kompol Jean Calvin Simanjuntak.
Kasat Lantas Polresta Medan Kompol I Made Ary Pradana meminta pemudik mengantisipasi kemacetan menuju tempat wisata, seperti jalur wisata Medan-Brastagi.  “Kondisi jalan yang mulus mengakibatkan pengemudi terlena. Dalam sepekan ini ada 5 kasus kendaraan tergelincir dan terbalik. Ada yang memakan korban jiwa 4 orang. Dari semua kejadian rata-rata terjadi jam 2 pagi sampai jam 5 pagi,” jelasnya.

Ditambah Made, jalan licin karena hujan, kendaraan sering susah dikendalikan. “Imbauan sudah kami pasang dalam bentuk spanduk. Nanti akan kita koordinasi lanjut dengan unit lantas Polsek Pancur Batu untuk meningkatkan patrol,” jelasnya. (mag-5/adl/gus/mag-11)

HM Syafri Chap Lengser

TEBING TINGGI- Ketua DPRD Tebing Tinggi HM Syafri Chap lengser dan digantikan H Syarial Malik. Di saat bersamaan, Kornel Sihaloho diambil sumpahnya menjadi anggota DPRD pengganti HM Syafri Chap, Selasa (20/12) di ruang paripurna DPRD Tebing Tinggi.

Dalam penetapan Ketua DPRD Tebing Tinggi itu, sempat terjadi polemik panjang di kubu DPD Partai Golkar Tebing Tinggi. Pasca Syafri Chap dinyatakan bersalah dan terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Perjalanan itu semakin lama ketika Surat Keputusan (SK) Gubsu No 188.44/1007/KPTS/Tahun 2011 tentang peresmian pengangkatan ketua DPRD Kota Tebing Tinggi dan SK Gubsu  No.188.44/1006/KPTS/Tahun 2011 tentang pengangkatan Pergantian Antar Waktu (PAW) Kornel Sihaloho memakan waktu lama dalam penerbitannya.
Ketua DPRD Tebing Tinggi H Syarial Malik diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Elitya Ras Ginting. Setelah itu, dilaksanakan pengambilan sumpah Kornel Sihaloho sebagai anggota DPRD PAW HM Syafri Chap.
Pelantikan tersebut dihadiri Wali Kota Tebing Tinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan, forum komunikasi pimpinan daerah, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD),  samat, lurah, Ormas, OKP, masyarakat dan seluruh Anggota DPRD Kota Tebing Tinggi.

Pasca ada pergantian tersebut, Umar Zunaidi Hasibuan menyampikan H Syarial Malik menggantikan HM Syafri Chap dan pengambilan sumpah pengganti antar waktu anggota DPRD kepada Kornel Sihaloho.”PAW di lakukan bukan menggantikan hal yang baru, melainkan tuntutan dinamika perpolitikan di Kota Tebing Tinggi dan proses penegakan Hukum dan perundang undangan,”ucapnya.

Dengan adanya kebijakan tersebut, Umar menaruh harapan besar kepada seluruh wakil rakyat, untuk senantiasa  mengutamakan kewajiban sebagai wakil rakyat dan bukan sebaliknya, menuntut haknya dan mengabaikan kewajibannya. “Saya juga menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang setingginya kepada HM Syafri Chap atas pengabdian dan sumbangsihnya selama menjadi pimpinan legislatif,” katanya.

Sementara itu, H Syarial Malik mengungkapkan semua adalah implementasi dari aspirasi yang di wakili kepada wakilnya dan menjadi tolak ukur keberhasilan lembaga legislatif untuk mewujudkan clean goverment and good goverment (pemerintahan bersih dan pemerintahan yang baik,red). (mag-3)

Tim Pembebasan Jalan Tol Medan-Kualanamu Nyerah

MEDAN- Tim pembebasan lahan lahan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi menyerah untuk menyelesaikan pembebasan lahan akses tol tersebut pada 2011. Karena hingga kini, lahan baru bisa dibebaskan 46,75 persen dari total lahan yang harus dibebaskan seluas 441,53 hektar.

“Untuk tahun ini sudah habis, tapi akan melanjutkan pembebasan lahan pada tahun berikutnya,” kata Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Lahan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Fainir Sitompul, Selasa (20/12) ketika ditemui di Medan.

Dia menyebutkan, total lahan pembangunan jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi seluas 441,53 hektar, hingga saat ini lahan yang telah dibebaskan seluas 235,10 hektar. Artinya, tim sudah membebaskan lahan seluas 206,43 hektar atau setara 46.75 persen.

Fainir menerangkan, untuk seksi I yakni Jalan Tol Medan-Kualanamu, kebutuhan lahan yang diperlukan seluas 197,94 hektar. Tim berhasil membebaskan sekitar 74,15 hektar atau 37,46 persen. Adapun lahan yang dibebaskan di seksi I meliputi, lahan PTPN 2 seluas 39,97 hektar, kemudian lahan Departemen Pekerjaan Umum (PU) seluas 2,92 hektar serta sebagiannya lahan milik masyarakat.  “Lahan yang belum dibebaskan milik masyarakat dan PT Lonsum seluas 13,48 hektar,” sebutnya.

Sedangkan untuk seksi II Kualanamu-Tebingtinggi, dia merinci lahan yang berhasil dibebaskan yakni, seluas 132,28 hektar setara 54,30 persen dari total lahan yang dibutuhkan seluas 243,59 hektar. Lahan yang belum bisa dibebaskan diantaranya, lahan milik masyarakat seluas 82,20 hektar, lahan PT Socfindo seluas 6,82 hektar serta lahan milik PT Lonsum seluas 22,30 hektar.

“Bagi perusahaan sudah kami surati dan tinggal menunggu persetujuan pimpinannya, kemudian akan dilakukan pembayaran. Untuk lahan masyarakat, terus  diupayakan agar segera terselesaikan,” katanya.
Terkait anggarannya, Fainir menerangkan, sudah terealisasi sebesar Rp80 miliar dari Rp175 miliar, yang dianggarkan untuk pengalokasian pembebasan lahan di tahun 2011. Anggaran tersebut, tetap diberikan setiap tahun. (ari)

Warsito Minta SP3 Kasus Bom Molotov

MEDAN – Kasus pelemparan bom molotov yang menewaskan Salsabila Anggun Ningtyas alias Dedek (9) putri Warsito alias Anto Lembu ( 42) Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila (PP) Desa Sena, Batang Kuis, Deli Serdang, Februari 2010 bakal menemukan jalan buntu. Bukan itu saja, pembakaran rumah Warsito yang baru-baru ini terjadi terkesan tidak ditanggapi serius oleh Polres Deli Serdang.

Hingga kini dari dua rangkaian kasus tersebut, kepolisian belum menemukan otak pelaku pembantaian kediaman Warsito. “Buktinya, Polisi hanya menetapkan sejumlah tersangka sedangkan otak pelakunya belum ditangkap,”kata Andri Hasibuan, kuasa hukum Warsito, Selasa (20/12) di Medan.

Menurut dia, kasus ini sudah dilaporkan keluarga korban ke Mabes Polri dan langsung ke Kapolri. Instansi tersebut menyarankan kepada korban agar membuat laporan pengaduan ke Bareskrim. Tapi, sangat disayangkan pihak Polres Deli Serdang yang menangani kasus ini belum mengungkap dalang peristiwa tersebut.

“Kami sudah ketahui otak pelaku dari kejadian yang menimpa keluarga Warsito. Tapi, otak pelaku tersebut belum ditangkap dan polisi sendiri diduga kuat sudah mengetahui otak pelakunya, hanya tak mengambil tindak,” kata Andri didampingi Warsito dan keluarganya.

Dia menegaskan, apabila hingga akhir tahun 2011 ini pihak kepolisian belum mengungkap dan menangkap otak pelakunya, lebih baik Polres Deliserdang atau Polda Sumut mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

“Bila polisi tidak sanggup untuk mengungkap kasus ini lebih baik dikeluarkan SP3. Dan kami akan mengambil tindakan sendiri untuk mengungkap serta menangkap pelakunya,” tegas Andri.

Disinggung mengenai pembakaran rumahnya, Warsito tidak mengetahui apa motif dua rangkaian peristiwa yang dialaminya itu.

“Saya tidak tahu motif kejadian itu. Peristiwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan masalah lahan yang disebut orang, karena sejengkal tanah pun tidak ada saya miliki dari lahan tersebut kecuali lahan rumah saya sendiri. Intinya banyak kejanggalan-kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut. Aparat kepolisian kurang serius,” pungkasnya.

Warsito menyebutkan, polisi dinilai tidak serius menangani dua rangkaian kasus tersebut yakni kematian putrinya dan pembakaran kediamannya, karena mengabaikan keterangan sejumlah saksi mata yang melihat wajah pelaku saat terjadinya penyerangan. Bahkan, saksi hidup dari keluarga korban maupun masyarakat yang mengaku mendengar di antara pelaku mengakui perbuatannya, sama sekali tidak diproses.

“Polisi telah melakukan pelanggaran hukum. Bahkan polisi melakukan pelanggaran pidana karena sengaja menghilangkan sejumlah barang bukti diantaranya sandal pelaku dan juga melepaskan pelakunya yakni Eko Syahputera yang merupakan adik Kepala Desa Bantu Suprayet-no,”ujarnya. (gus)

Jambret Pasutri, Mahasiswa Dipukuli

TEBING TINGGI- Seorang mahasiswa Fakultas Hukum di satu universitas swasta di Simalungun, Hendra Pandiangan (22) warga Pematang Siantar ditangkap warga dan anggota Brimob Detasmen B Kota Tebing Tinggi saat kedapatan menjambret tas milik pasangan suami istri, Iswandi dan Nurhayati di Jalan Ahmad Yani depan Markas Brimob Detasmen B Kota Tebing Tinggi, Senin (19/12) sekira pukul 21.00 WIB.

Setelah tertangkap, Hendra langsung dihajar massa hingga babak belur. Beruntung anggota Brimob menyelamatkan tersangka dan dibawa ke Markas Brimob Detasmen B Kota Tebing Tinggi untuk diserahkan ke Mapolres Tebing Tinggi guna menjalani pemeriksaan.

Hendra mengaku dirinya datang dari ke Tebing Tinggi bersama tiga orang rekannya menggunakan sepeda motor, Okto, Edo dan Jenggot. “Saya tidak tahu mereka menjambret, makanya saya tidak melarikan diri. Saya datang ke Tebing ini mau jalan-jalan,” katanya.

Iswandi mengatakan malam itu hendak pulang ke rumahnya di Jalan Ahmad Yani, Kota Tebing Tinggi. Saat melintas di depan Asrama Brimob Detasmen B Jalan Ahmad Yani, empat pelaku menggunakan sepeda motor langsung mengambil tas milik istrinya, Nurhayati. “Saya langsung berteriak, ternyata langsung disambut warga, akhirnya pelaku ditangkap,” ucapnya.  (mag-3)