28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 14430

Hijrah Moral Untuk Kebangkitan Indonesia

Seminar Nasional dan Silakwil  ICMI Sumut

Perkembangan zaman dan modernisasi Iptek membuat permasalahan moral di masyarakat semakin mengarah kepada penurunan moral. Bentuk penurunan moral bangsa ini terangkum di berbagai tayangan televisi dan pemberitaan media massa lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua ICMI Sumut Prof Arif Nasution dalam kata sambutannya pada Seminar Nasional bertajuk ‘Hijrah Moral Untuk Kebangkitan Indonesia’ di Hotel Emerald Garden Jalan Putri Hijau Medan, Jumat (25/11). Menurutnya, hingga saat ini hijrah moral belum dilakukan mayoritas ummat Muslim. “Apakah kita mau berhijrah? Nah, ini yang harus kita tanamkan dalam hati. Sekarang kita harus berhijrah dari keterpurukan moral,” ujar Arif.
Indonesia sebagai negara dengan masyarakat pemeluk agama Islam terbesar di dunia, sudah tentu menjadi bidikan bangsa lain untuk memberikan goncangan dari berbagai segi, baik ekonomi, sosial dan lainnya.

“Diharapkan hari ini kita bisa berkomitmen untuk membangun negara dari segi moral dengan penyampaian yang ikhlas dan khusu’. Islam harus tetap bergandengan tangan,” jelas Arif lagi.

Sementara itu, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang hadir menuturkan, saat ini yang harus dibangun adalah moral tentang kesetiaan. “Mau dibawa kemana moral kita, kesetiaan kita? Mudah-mudahan kita tetap menjadi pribadi layaknya sosok nabi Ibrahim AS yang selalu menuju jalan Allah SWT dan berorientasi kepada kebenaran,” katanya.
Menurutnya, untuk mencapai tujuan seorang manusia tak bisa melakukannya sendiri. “Kita harus bersama-sama atau ditemani dengan orang-orang yang setia dan memiliki orientasi sama dalam perjuangan membangun komitmen,” jelas Plt Gubsu.

Hadir sebagai pembicara pada seminas tersebut adalah Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat Prof Jimly Asshiddiqie. Ia menerangkan hijrah merupakan semangat untuk berubah. Yakni berpindah dari satu kondisi kekinian ke arah kondisi yang lebih diidealkan di masa yang akan datang.

“Jika diperhatikan, Indonesia kini sungguh berada di tengah persimpangan jalan. Saat ini kita berada di tengah-tengah gelombang pengaruh kebudayaan dan peradaban yang demikian deras datangnya dari luar. Ini juga sebagai akibat cepatnya laju perkembangan Iptek yang menyebabkan terjadinya globalisasi dalam semua bidang kehidupan,” tuturnya.

Karena itu, lanjutnya, baik pendekatan struktural maupun kultural perlu digerakkan secara sungguh-sungguh dan simultan. “Ini untuk membangun watak dan karakter bangsa kita dengan cepat,” kata Jimly.

Jimly juga menuturkan, Indonesia perlu menyampaikan harapan kepada kaum cerdik dan cendikia khususnya para ahli pendidikan agar dapat memikirkan pelbagai alternatif solusi dalam memperbaiki sistem pendidikan nasional.
Narasumber lainnya yang merupakan Ketua Dewan Pakar ICMI Sumut, Prof Subhilhar dalam makalahnya menerangkan, diketahui dari berita yang diterbitkan koran nasional di Indonesia, Selandia Baru menempati urutan pertama negara paling Islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Menurutnya, pertumbuhan keimanan masyarakat di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan kemaksiatan dan tindakan kejahatan. “Kita ketahui bersama, jumlah jamaah haji dan umrah semakin meningkat tiap tahun. Tempat ibadah juga terus bertambah jumlahnya. Namun, di sisi lain, korupsi dan tindakan kejahatan juga meraja lela. Dan kesenjangan kesalehan individu dengan kesalehan sosial sangat tinggi,” jelas Subhilhar.

Karena itu, sambung Subhilhar, diperlukan penanaman etika dengan terus mengisi nutrisi moral agar diperoleh moral yang sehat. “Kita harus menemukan mana yang memperkaya dan mana yang meracuni moral bangsa dalam rangka mencapai kesehatan moral. Diharapkan pula, kita bisa bersama membangun jiwa dan badan untuk Indonesia Raya. Karena orang yang berkata jujur akan mendapatkan tiga hal, yakni kepercayaan, cinta dan kehormatan,” katanya.

Sebelumnya, ICMI Sumut juga menggelar Silaturahmi Kerja Wilayah (Silakwil) yang dihadiri 15 Organisasi Daerah (Orda). Silakwil ini merupakan program kerja ICMI Sumut.  Adapun Orda yang hadir adalah Medan, Deliserdang, Phak-Phak Barat, Sibolga, Madina, Pematang Siantar, Tanjung Balai, Padang Lawas Utara, Simalungun, Serdang Bedagai, Binjai, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan dan Langkat.

Silakwil bertujuan untuk saling tukar pikiran. Beberapa perwakilan dari daerah juga tak sungkan menyampaikan gagasannya langsung kepada Ketua Umum ICMI Sumut Prof Arif Nasution yang hadir dan didampingi Sekretaris Umum Drs Nuzirwan Lubis, MSP dan bendehara Syafrida Fitri MSP.

“ICMI Sumut sempat vakum beberapa tahun belakangan, maka di masa kepengurusan kita bersama harus kembali membangkitkan kegiatan yang membawa kebangkitan umat,” kata Prof Arif.

Nuzirwan Lubis juga mengingatkan pengurus Orda untuk bersiap menatap Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas), yang akan digelar 2012 mendatang di Kendari Sulawesi Tenggara. (*)

Tak Berdaya

Dua PSMS Bertarung Bersamaan

Minggu (27/1) tepatnya 1 Muharram 1433 Hijriyah, menjadi sejarah bagi PSMS Medan sepanjang berdiri sejak tahun 1950.

Pasalnya, ada dua tim PSMS bermain di dua lokasi berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan, yakni di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Stadion Teladan Medan. Sialnya, keduanya tak berdaya dan harus mengakui keungulan lawa-lawannya. Di Jakarta PSMS asuhan Raja Isa dikalahkan Persija dengan skor 4-5 melalui adu penalti serta Sriwijaya FC 0-3. Sementara di Medan, PSMS asuhan M Khaidir dikalahkan Persebaya dengan skor 1-2.

Di Stadion Teladan, PSMS yang berlaga dalam ajang IPL, PSMS harus mengakui Persebaya yang bermain apik, taktis dan sistematis.

Berbeda dengan permainan anak-anak asuhan M Khaidir yang hanya memiliki persiapan tiga hari sebelum pertandingan.

Sejak menit awal tim Bajul Ijo, julukan Persebaya, bermain menekan. Dengan formasi 4-4-2, anak asuhan Divaldo Alves mengandalkan serangan dari sektor sayap. Umpan-umpan lambung berseliweran di lini pertahanan PSMS yang masih terlihat canggung.

Tak ayal pada menit ke-31 PSMS dikejutkan dengan umpan matang yang dilesakkan Edi Gunawan dan diselesaikan dengan baik oleh Feri Irawan melalui tendangan kerasnya ke sudut tiang jauh gawang yang dikawal Decky Ardian. PSMS tertinggal 0-1.

Pada babak pertama, permainan PSMS yang dikapteni Fadli Hariri bermain bak tarkam (antar kampung). Seluruh pemain terlihat berebut bola. Tak pelak, lini pertahanan PSMS ketinggalan saat bola sudah berada di kaki gelandang serang dan penyerang Persebaya.

Akibatnya, Persebaya kembali melesakkan gol keduanya melalui Feri Irawan pada menit ke-40. Feri Irawan dengan mudah melesakkan bola tanpa pengawalan yang berarti dari pemain belakang PSMS. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum.

Pada babak kedua, permainan Ayam Kinantan sedikit berubah. Permainan lebih kolektif dan taktis. Praktis permainan lebih berimbang pada awal babak kedua. Namun, tetap saja anak-anak PSMS masih memperlihatkan permainan individu. Banyak giringan bola yang dilakukan gelandang yang harusnya bias dimatangkan jika melakukan umpan, tapi sangat jarang terjadi, dan malah menghasilkan salah komunikasi, dengan umpat-umpan yang salah dan tak terarah. Sedikit tertekan, permaian PSMS cenderung keras yang menghasilkan kartu kuning pada menit ke-55 bagi Denni Wahyudi.

Tak mau dipermalukan, pemain-pemain PSMS kembali menunjukkan permainan apik. Satu-dua sentuhan yang diperagakan penyerang dan gelandang PSMS menghasilkan gol perdana PSMS di menit ke-66 oleh Jecky Pasarela. Untuk mengamankan gawang, M Khaidir melakukan pergantian pada menit ke-70, Bambang Tri Sanjaya digantikan Heri Swandana. Diikuti pergantian kapten Persebaya Erol Iba yang digantikan Rivelino pada menit ke-73, setelah Erol Iba mendapatkan kartu kuning karena mengganjal pemain gelandang PSMS. Dan skor 1-2 bertahan hingga pluit panjang dibunyikan.

Pelatih PSMS, M Khaidir menuturkan, dengan persiapan yang minim dia mengaku tak kecewa dengan kekalahan dari Persebaya. “Anak-anak sudah bermain total. Memang, persiapan kita hanya tiga hari, dan pertandingan ini merupakan pertandingan keempat. Mudah-mudahan dengan menerapkan karakter permainan seperti ini, kita bisa jadi lebih baik ke depan,” tegasnya.

Sementara itu Pelatih Persebaya, Divaldo Alves tak mau euforia. Ia mengaku permainan PSMS akan bisa berkembang lebih baik. “Dengan kemenangan ini, kita tetap menghargai PSMS. Permainan anak-anak sudah cukup baik mengingat tenaga yang sudah terkuras pada laga sebelumnya. Kita tadi memang menerapkan strategi untuk menguasai ball possition dulu,” jelasnya. Sementara itu di waktu bersamaan PSMS Medan juga kalah atas rivalnya Persija Jakarta dengan skor 5-4, setelah melalui babak adu penalti dalam pertandingan pertama turnamen segitiga ulang tahun Persija di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu petang (27/11).

Tuan rumah Persija yang didukung ribuan suporter fanatiknya, berhasil mencetak gol terlebih dahulu melalui ikon Macan Kemayoran, Bambang Pamungkas. Striker tertajam di timnas Indonesia tersebut berhasil melepaskan tendangan voli setelah mampu memanfaatkan umpan dari Ramdani Lestaluhu.

Namun, pada menit ke-26, PSMS berhasil mengubah kedudukan menjadi 1-1 setelah Osas Saha lolos dari jebakan offside dan berhasil menaklukkan Galih Sudaryono.

Kedudukan imbang membuat pertandingan harus dilanjutkan ke adu penalti. Persija berhasil memasukkan empat dari lima kesempatan, sementara PSMS hanya dapat memasukkan tiga gol setelah Rahmad dan Wawan Widiantoro, gagal menggetarkan jala Persija.

Di pertandingan kedua PSMS Medan kembali dibabakbelurkan Sriwijaya FC Palembang dengan skor telak 3-0. Sriwijaya unggul melalui dua gol Rizky Novriansyah dan satu gol Ponaryo Astaman melalui titik putih. Dengan kekalahan tersebut, PSMS menduduki juru kunci, sementara Macan Kemayoran berhasil menjuarai turnamen setelah menaklukkan Sriwijaya FC Palembang dengan skor 5-3 melalui adu tendangan penalti.

Pelatih kepala PSMS, Raja Isa yang dihubungi usai laga menegaskan bahwa dirinya puas dengan penampilan timnya. Meski baru 10 hari menangani PSMS dan skuad yang dipasang pada segitiga merupakan pemain seleksi, setidaknya pelatih asal Malaysia itu sudah mendapatkan kerangka tim yang akan disiapkan untuk ISL.

Baca juga Penonton Hujat PSMS di Stadion Teladan

“Jujur saya puas dengan penampilan tim. Pemain asing yang memang akan kita lihat kemampuannya sudah ada yang cocok untuk tim ini. Kalau pemain lokal sudah bagus,” katanya.

Raja Isa pun meminta agar pendukung PSMS di manapun berada melihat tim ini secara sportif, bukan politis. “Kita ingin membawa PSMS tampil lebih bagus sesuai sejarahnya. Kami sudah sangat siap menatap ISL Desember mendatang. Tim ini punya potensi besar,” lanjutnya. (saz/ful)

Kasus JR Saragih Terlalu Banyak, Simalungun Memanas

MEDAN-Suasana pemerintahan di Kabupaten Simalungun, perlahan memulai memanas. Hal ini terjadi karena mencuatnya persoalan-persoalan riskan atau berisiko tinggi yang diduga dilakukan orang nomor satu di Simalungun, JR Saragih.

Beredar isu bahwa dalam jangka waktu dekat JR Saragih akan segera menyandang status tersangka yang diberikan oleh KPK. Kondisi itu dipicu banyaknya kasus yang diduga dilakukan JR Saragih yang saat ini penanganannya sudah berada di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK bahkan sudah mengirimkan sinyal akan menangkap salah seorang bupati di Sumatera Utara terkait dengan penyalahgunaan APBD yang mengarah ke Bupati Simalungun JR Saragih dan Ketua DPRD Simalungun Binton Tindaon. Di KPK sudah tahu ada perkara dugaan korupsi APBD Simalungunn

Tahun Anggaran (TA) 2010 senilai Rp48 miliar, yang dilaporkan ke KPK pada akhir September 2011. Terlebih, jarang ada perkara yang melibatkan ‘paket’ bupati dan ketua DPRD-nya. Sedang pernyataan Busyro gamblang menyebut bupati dan DPRD.

“Sudah ada isu itu di kalangan masyarakat. Jadi kita saat ini dalam posisi menunggu,” ungkap Ir Trulianto Sinaga Spd anggota DPRD Simalungun saat dimintai komentarnya oleh Sumut Pos, Minggu (27/11).

Namun sejauh ini, sambungnya, belum secara detil kasus JR Saragih yang mana yang akan menyeretnya menjadi tersangka. Maka dari itu, lanjut anggota Komisi 4 DPRD Simalungun ini, untuk memberikan kepastian hukum dalam kasus-kasus yang ditangani KPK tersebut. Sebaiknya KPK segera mempercepat proses hukum, baik dari mulai penyelidikan, penyidikan dan sebagainya hingga proses hukumnya selesai. Agar tidak terjadi kesimpangsiuran di masyarakat, terlebih di kalangan masyarakat Simalungun. “Belum tahu pasti kasus yang mana, karena dari informasi yang berkembang ada beberapa kasus, baik itu dugaan pengalihan dana insentif guru non PNS, dugaan penyelewengan APBD Simalungun dan yang soal dugaan suap kepada KPUD Simalungun begitu juga dugaan suap ke hakim MK,” lanjutnya.

Mengenai pernyataan dari Ketua KPK Busyro Muqoddas, dimana ada sinyalemen satu bupati dan satu Ketua DPRD yang akan segera ditangkap oleh KPK, tidak ditampik olehnya. Dikatakannya, penentu bersalah atau tidaknya dalam sebuah kasus korupsi yang ditangani KPK adalah pihak KPK. Dan KPK, tidak sembarangan mengumumkan seorang menjadi tersangka, bila tidak dibarengi bukti-bukti yang kuat. “Ini bolanya kan di KPK, jadi penentunya adalah KPK. Kembali lagi, dari kasus-kasus yang ada KPK lah yang memiliki kewenangan. Karena itu, KPK diharapkan sesegera mungkin memproses kasus-kasus yang ada,” timpalnya lagi.

Pengamat hukum Sumut Dani Sintara SH kepada Sumut Pos juga menyatakan hal yang sama. Dikatakannya, KPK adalah lembaga penegak hukum yang professional dan kredibel. Jadi, ketika KPK menetapkan seseorang menjadi tersangka, terlebih pada kasus-kasus dugaan korupsi dan suap, pastinya KPK telah mengantongi bukti-bukti yang kuat. Dan hal itu merupakan cara yang mumpuni, bila endingnya terjadi pertarungan pada sidang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). “Kalau KPK telah menetapkan tersangka, 99 persen kasus itu benar terjadi dengan orang atau tersangka yang tepat. Jadi, jika kasus-kasus yang ditangani KPK dinilai lambat dan sebagainya, sebenarnya tidak seperti itu. Seperti yang saya katakan tadi, KPK itu tidak gegabah dalam menetapkan seseorang sebagai tersangka dan hingga menahannya,” terangnya.

Ketika disebutkan satu per satu kasus yang diduga dilakukan JR Saragih, pengamat hukum yang bernaung di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lentera Konstitusi (Lekons) sebagai Kepala Divisi Advokasi tersebut menyatakan, bila nantinya terbukti benar dalam persidangan JR Saragih sebagai koruptor, maka JR Saragih menjadi orang yang paling bertanggungjawab.

“Kalau nantinya terbukti benar, berarti JR Saragih adalah otak dari kasus tersebut,” bebernya.

Bagaimana dengan Ketua DPRD Simalungun Binton Tindaon, yang disebut-sebut berkolusi dengan JR Saragih dalam kasus dugaan pengalihan insentif guru non PNS untuk pembelian mobil dinas anggota dewan?

Dalam hal ini, dikatakannya, pembuktian kebenaran itu nanti adalah pada proses pengadilan atau dari adanya penetapan tersangka oleh KPK, maka orang tersebut berpeluang besar telah benar melakukan hal yang dituduhkan tersebut.

“Yang namanya korupsi itu, biasanya dilakukan secara berjamaah. Jadi yang menikmati hasil korupsi tersebut harus menanggung risikonya. Kalau nantinya ada penetapan tersangka terhadap Bupati Simalungun dan Ketua DPRD Simalungun dalam kasus pengalihan insentif guru itu, pasti bukan hanya orang itu berdua saja yang melakukan dan menikmatinya. Karena mobil dinasnya untuk beberapa anggota dewan. Nah, anggota dewan yang dapat mobil itu juga harus bertanggungjawab,” tegasnya.

Informasi yang diperoleh Sumut Pos dari sumber di Jakarta mengungkapkan, peluang JR Saragih ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam jangka waktu dekat terbuka lebar. Dan, kasus yang akan membuat JR Saragih menyandang status tersangka adalah pada kasus dugaan suap kepada oknum hakim MK.
“Ya, dalam jangka waktu dekat ini. Dan itu terkait kasus dugaan suap kepada hakim MK,” ujar sumber tersebut kepada Sumut Pos, Minggu (27/11).

Mengenai isu akan segera ditetapkannya JR Saragih sebagai tersangka dalam jangka waktu dekat, dalam kasus dugaan suap ke MK, Dani Sintara berpendapat hal itu bisa saja terjadi. Dan itu merupakan hal yang baik, dalam sebuah proses hukum karena akan menghasilkan kepastian hukum baik bagi yang bersangkutan maupun masyarakat.

“Ya, kasus yang ada menyebut-nyebut Raffly Harun (mantan pengacara JR Saragih, Red) kan. Dalam penegakan hukum adalah hal yang baik, ketika mengarah pada adanya kepastian hukum,” ungkapnya.

Masyarakat dan DPRD Simalungun Diimbau Buat Mosi Tidak Percaya

Anggota DPRD Kabupaten Simalungun, harus membuat mosi tidak percaya atas kepemimpinan JR Saragih. Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur LBH Medan Nuriyono SH, pada Sumut Pos Sabtu (26/11) di Jalan Hindu Medan.

“Bukan hanya itu saja (mosi tidak percaya) tapi anggota DPRD Kabupaten Simalungun, juga harus menyurati KPK untuk mendesak pengusutan dugaan korupsi Bupati Simalungun agar dilakukan secepatnya,” tegas Nuriyono.

Mosi tidak percaya ini, sambung Nuriyono, bisa dijadikan bukti ketidakpercayaan masyarakat Kabupaten Simalungun terhadap bupatinya yang terindikasi korupsi.

Kalau sudah masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap bupatinya, nanti ini akan menjadi sorotan KPK dan pemerintah untuk mempercepat menyelesaikan perkara dugaan korupsi JR Saragih.

“Masyarakat saat ini sudah menanyakan pada KPK sejauh mana penyelidikan terhadap dugaan korupsi terhadap JR Saragih, kalau memang hasil penyelidikan tidak terbukti KPK harus mengumumkannya.Namun kalau terbukti KPK harus melanjutkan perkara tersebut secara transparan,” tegas Nuriyono. (ari/rud)

Gatot Tetap Cuek Sembilan Partai

Pengusung Perlu Diskusi Tentukan Langkah

MEDAN-Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Plt (Gubsu) Gatot Pujo Nugroho tampaknya tak peduli dengan aspirasi Sembilan Partai Pengusung Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (Syampurno).

Bagaimana tidak, meski sembilan partai telah beraudiensi ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi di Gedung Kemendagri, Senin (31/10) lalu, kemudian disusul dengan beraudiensi dengan Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun di Gedung Dewan Jalan Imam Bonjol No 5 Medan, Kamis (17/11), dalam rangka ‘mengawal’ pemerintahan di Sumut, Gatot tetap saja cuek.

Hal itu diakui salah seorang Ketua Parpol Pengusung Syampurno, yakni HM Nasib Ketua Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) Sumut ketika dikonfirmasi Sumut Pos, Minggu (27/11). “Ya, belum ada respon positif dari Plt Gubsu. Kita tunggulah reaksinya seperti apa,” ujarnya.

Bila tetap saja Plt Gubsu tidak menggubris shock therapy yang mereka lakukan, apakah koalisi sembilan partai pengusung akan melakukan aksi lanjutan, misalnya aksi demo dan sebagainya?

Mengenai hal itu, HM Nasib tidak berkomentar banyak. Dikatakannya, segala sikap yang akan diambil tidak terlepas dari kesepakatan sembilan partai pengusung Syampurno.

“Belum ke arah situ. Dan kita masih tahap menunggu, kemudian sikap ke depan masih akan terus didiskusikan ke kawan-kawan lainnya,” jawabnya.

Apakah ada rencana menemui langsung Plt Gubsu? Mengenai hal itu, HM Nasib menyatakan, kemungkinan ke arah itu bisa saja dilakukan, hanya saja belum bisa dipastikan kapan waktunya. “Rencana ke situ ada. Tapi belum tahu waktunya kapan, nanti akan kita diskusikan dulu. Nanti pasti kami kabari kalau ada perkembangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Partai Patriot Sumut Rismanysah Siregar yang ditanya Sumut Pos mengenai rencana ke depan koalisi sembilan partai pengusung Syampurno, belum berani memastikan.

“Belum bisa dipastikan karena perlu ada kesepakatan semua elemen koalisi yang ada. Kita masih menunggu, dan kita lihat ke depan,” jawabnya.

Kenyataaan ini menjadi menarik mengingat sebelumnya sembilan partai cenderung ‘keras’ membicarakan Gatot. Setidaknya, pada Rabu (2/11) lalu, Rismansyah sempat mengatakan Gatot tidak luwes dalam berkomunikasi. “Kita tidak minta proyek, kita tidak minta apa-apa dan tidak ada kepentingan apa-apa. Kita hanya sekadar mengingatkan. Dulu zaman Bang Syamsul, hubungan komunikasi berjalan baik. Tapi sekarang, mau jumpa saja susah. Macam betol aja dia (Gatot, Red). Dia Plt, kenapa seperti itu. Komunikasinya tidak luwes,” tegassnya saat itu.

Tidak hanya Risman, lima hari setelah pernyataan itu, HM Nasib pun buka suara. Kata Ketua PKPB Sumut ini, sebaiknya Gatot eling (ingat). “Jadi kami harapkan, Plt Gubsu elingseperti pepatah orang Jawa, ingat siapa yang membesarkan atau siapa yang mengangkat untuk tim Syampurno itu. Jangan seperti kacang lupa kulit-nya. Jangan pula seperti pepatah orang Padang yang menyebutkan Malin Kundang,” tegas Nasib (ari)

Neraka dari ‘Manajemen Musyrik’

Catatan: Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN

Manufacturing hope tentu juga harus dilakukan untuk bandara-bandara kita. Selain mencarikan jalan keluar untuk hotel-hotel yang ada di Bali, selama mengikuti KTT ASEAN saya berkunjung ke pelabuhan perikanan Benoa, melihat aset-aset BUMN yang tidak produktif di Bali dan diajak melihat proyek Bandara Ngurah Rai yang baru.

Tanpa dilakukan survei pun semua orang sudah tahu betapa tidak memuaskannya Bandara Internasional Ngurah Rai itu. Semua orang ngomel, mencela, dan mencaci maki sesaknya, ruwetnya, dan buruknya. Bandara itu memang tidak mampu menanggung beban yang sudah empat kali lebih besar daripada kapasitasnya.
Memang, PT Angkasapura I, BUMN yang mengelola bandara tersebut, sudah mulai membangun terminal yang baru. Tapi, terminal baru itu baru akan selesai paling cepat dua tahun lagi.

Berarti selama dua tahun ke depan keluhan dari publik masih akan sangat nyaring. Bahkan, keluhan itu akan bertambah-tambah karena di lokasi yang sama bakal banyak kesibukan proyek. Bongkar sana, bongkar sini. Pindah sana, pindah sini. Membangun terminal baru di lokasi terminal yang masih dipakai tentu sangat repot. Lebih enak membangun terminal baru di lokasi yang baru sama sekali.

Menghadapi persoalan yang begitu stres, hanya hope-lah yang bisa di-manufacture! Karena itu, memajang maket bandara baru tersebut besar-besar di ruang tunggu atau di tempat-tempat strategis lainnya menjadi penting. Saya berharap, penumpang yang ngomel-ngomel itu bisa melihat gambar bandara baru yang lebih lapang dan lebih indah. Perhatian penumpang harus dicuri agar tidak lagi selalu merasakan sumpeknya keadaan sekarang, melainkan diajak merasakan mimpi masa depan baru yang segera datang itu.

Demikian juga, PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta harus membantu manufacturing hope itu. Caranya, ikut membantu memasangkan maket bandara baru Ngurah Rai di lokasi Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, maket baru Bandara Soekarno-Hatta sendiri juga harus lebih banyak ditampilkan secara atraktif.

Tentu, sambil menunggu yang baru itu, bandara yang ada harus tetap diperhatikan. Mungkin memang tidak perlu membuang uang terlalu banyak untuk sesuatu yang dalam dua tahun ke depan akan dibongkar. Tapi, tanpa membuat bandara yang ada ini lebih baik, orang pun akan kehilangan harapan bahwa bandara yang baru itu kelak bakal mengalami nasib tak terurus yang sama. Itulah sebabnya, khusus Bandara Soekarno-Hatta, manajemen Angkasapura II akan melakukan survei persepsi publik yang bakal dilakukan oleh lembaga survei yang kredibel dan independen.
Manufacturing hope kelihatannya juga harus lebih banyak diproduksi untuk industri rekayasa. PT Dirgantara Indonesia (pembuatan pesawat), PT PAL Surabaya (pembuatan kapal), PT Bharata Surabaya (mesin-mesin), PT Boma Bisma Indra Surabaya-Pasuruan (mesin-mesin), PT INKA (pembuatan kereta api), dan banyak lagi industri jenis itu sangat memerlukannya.

Semua BUMN di bidang ini sulitnya bukan main. Kesulitan yang sudah berlangsung begitu lama. Di barisan ini termasuk Dok Perkapalan IKI Makassar, Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta, dan industri sejenis yang menjadi anak perusahaan BUMN seperti jasa produksi milik PLN dan perbengkelan di lingkungan BUMN lainnya. Beberapa di antaranya bahkan sangat-sangat parah. PT PAL, misalnya, sudah terlalu lama merah dalam skala kerugian yang triliunan rupiah.

PT IKI Makassar idem ditto. Sudah dua tahun perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia Timur itu tidak mampu membayar gaji karyawan. Perusahaan tersebut terjerumus ketika menerima order pembuatan kapal penangkap ikan modern sebanyak 40 unit, tapi dibatalkan pemerintah di tengah jalan. Kini 14 kapal ikan yang sudah telanjur jadi itu mengapung mubazir begitu saja. Sudah lebih dari sepuluh tahun kapal-kapal modern itu berjajar menganggur.
Bahan-bahan kapal yang belum jadi pun sudah menjadi besi tua dan berserakan memenuhi kawasan galangan kapal itu. Peralatan produksinya juga sudah menganggur bertahun-tahun. Salah satu di antaranya bisa membuat ngiler siapa pun: crane 150 ton! Dok Perkapalan Surabaya yang ordernya begitu banyak dan sibuk saja hanya punya crane terbesar 50 ton!

Dulu, sekitar 15 tahun yang lalu, saya pernah mengkritik pemerintah di bidang itu. Saya menulis di media mengapa nasib industri rekayasa kita begitu jelek.Mengapa kita impor permesinan bertriliun-triliun setiap tahun, tapi industri rekayasa di dalam negeri telantar berat. Bahkan, tokoh sekaliber BJ Habibie pun tidak berhasil mengatasinya.
Waktu itu saya sudah membayangkan alangkah hebatnya Indonesia kalau semua potensi tersebut disatukan dalam koordinasi yang utuh. Kalau saja ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, dan apalagi sepeda, semua bisa dibuat di dalam negeri.

Sebagai orang yang kala itu sering mengunjungi pabrik-pabrik sejenis di Tiongkok, saya selalu mengeluh: alangkah lebih modernnya peralatan yang dimiliki pabrik-pabrik kita jika dibandingkan dengan pabrik-pabrik yang saya kunjungi itu. Peralatan yang dimiliki PT Bharata, misalnya, jauh lebih modern daripada yang saya lihat di Tiongkok saat itu. Ahli pesawat dari Eropa mengagumi modernya peralatan di PT Dirgantara Indonesia.

Kini, dalam posisi saya yang baru ini, saya tidak bisa lagi hanya mengkritik. Tanggung jawab itu kini ditumpukkan di pundak saya. Saya tidak boleh lupa bahwa saya pernah mengkritik pemerintah. Saya tidak boleh mencari kambing hitam untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab. Tentu saya juga menyadari bahwa saya bukanlah seorang yang genius seperti Pak Habibie. Saya hanya mengandalkan hasil dari manufacturing hope.

Tidak mudah perusahaan yang sudah mengalami kemerosotan yang panjang bisa bangkit kembali. Karena itu, saya harus menghargai dan memuji upaya yang dilakukan manajemen PT Dirgantara Indonesia (DI) belakangan ini. Rasanya, untuk bidang ini, DI akan bangkit yang pertama. Thanks to kesungguhan Presiden SBY yang telah menginstruksikan pengadaan seluruh keperluan militer dilakukan di dalam negeri. Kecuali peralatan sekelas tank Leopard, helikopter Apache, atau kapal selam yang memang belum bisa dibuat sendiri. Pesawat tempur sekelas F-16 Block 52 pun, tekad Presiden SBY tegas: harus diproduksi di dalam negeri meski harus bekerja sama dengan pihak luar.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga sangat serius dalam mengontrol pelaksanaan instruksi presiden itu.

Maka, PT DI kelihatannya segera ‘mentas’. Kegiatan jangka pendek, menengah, dan panjangnya sudah tertata. Dalam waktu pendek ini, sampai dua tahun ke depan, pekerjaannya sudah sangat banyak: membuat pesawat militer CN-295 dalam jumlah yang besar. Order ini akan berkelanjutan menjadi program jangka menengah karena PT DI juga sekaligus diberi hak keagenan untuk Asia Pasifik. Sedangkan jangka panjangnya, PT DI memproduksi pesawat tempur setara Block 52 bekerja sama dengan Korea Selatan.

Adanya kebijakan yang tegas dari Presiden SBY, komitmen pembinaan yang kuat dari Kementerian Pertahanan, kapabilitas personel PT DI yang unggul (terbukti satu bagian dari sayap pesawat Airbus 380 yang gagah dan menarik itu ternyata selalu diproduksi di PT DI), dan fokus manajemen dalam melayani keperluan Kementerian Pertahanan adalah kunci awal bangkitnya industri pesawat PT DI.

Instruksi Presiden SBY itu juga berlaku untuk PT Pindad. Maka, kebangkitan serupa juga akan terjadi untuk PT Pindad. Semoga juga di PT Dahana. Karean itu, tidak ada jalan lain bagi PT PAL untuk tidak mengikuti jejak PT DI. Kalau saja PT PAL fokus melayani keperluan pembuatan dan perawatan kapal-kapal militer nasibnya akan lebih baik.

Apalagi, anggaran untuk peralatan militer kini semakin besar. Menyerap semaksimal mungkin anggaran militer itu saja sudah akan bisa menghidupi. Dengan syarat, pelayanan kepada keperluan militer itu sangat memuaskan: mutunya dan waktu penyelesaiannya.

Lupakan dulu menggarap kapal niaga yang ternyata merugikan PT PAL begitu besar. Lupakan menggarap bisnis-bisnis lain, apalagi sampai menjadi kontraktor EPC seperti yang dilakukan selama ini. Semua itu hanya mengganggu kefokusan manajemen dan merusak suasana kebatinan jajaran PT PAL sendiri. Memang ada alasan ilmiah untuk mengerjakan banyak hal itu.

Misalnya untuk memanfaatkan idle capacity. Tapi, godaan memanfaatkan idle capacity itu bisa membuat orang tidak fokus. Dalam bahasa agama, ‘tidak fokus’ berarti ‘tidak mengesakan’. ‘Tidak mengesakan’ berarti ‘tidak bertauhid’. ‘Tidak bertauhid’ berarti ‘musyrik’. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik’. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative cash flow, rugi, dan akhirnya bangkrut.

Kalaupun PT PAL kelak sudah fokus menekuni keperluan militer, tapi masih juga rugi, negara tidak akan terlalu menyesal. Tapi, kerugian PT PAL karena menggarap kapal niaga asing sangatlah menyakitkan. Apalagi, kerugian itu menjadi beban negara. Rugi untuk memperkuat militer kita masih bisa dianggap sebagai pengabdian kepada negara. Tapi, rugi karena menggarap kapal niaga asing dan kemudian minta uang kepada negara sama sekali tidak bisa dimengerti.

Hanya kepada orang-orang yang bisa fokuslah saya banyak berharap. Hanya di tangan pimpinan-pimpinan yang fokuslah BUMN bisa bangkit. (*)

Mengajar Digaji Rp224 Ribu, Genjot Becak Rp900 Ribu

Gaji Guru tak Cukup, Sugeng Merangkap Jadi Tukang Becak

Nasib guru honorer di mana pun sama. Gaji jauh dari cukup dan guru terpaksa ngobjek untuk menutup kebutuhan hidup. Itu pula yang dijalani Sugeng, guru SMP Nusantara Bandar Lampung. Sudah 24 tahun dia mengajar. Namun, gaji yang diterima hanya Rp224 ribu. Untuk menambah penghasilan, dia rela menarik becak.

LIA APRIANDARI, Bandar Lampung

TINGGI mentari masih sepenggalah, menyinari bangunan SMP Nusantara di Jalan Jelantik No 16 Tanjungagung, Tanjungkarang Timur (TKT), Bandar Lampung. Saat itu seorang pria berpakaian batik berwarna cokelat kekuningan sedikit tergopoh-gopoh memasuki sebuah ruang kelas. Di tangannya, sebuah buku bergambar not balok tergenggam erat.

Tak lama kemudian, pria bernama Sugeng tersebut mengucapkan salam kepada siswa di sebuah kelas, yang sudah menunggu kehadirannya. Tanpa banyak bicara, pria yang tinggal di Jalan Bangau, Tanjungagung, TKT, itu menghampiri whiteboard.

Dengan cekatan, dia mulai menggoreskan spidol hitam di tangan kanannya untuk menggambar not balok. Sejenak kemudian, bapak tiga anak tersebut dengan suara halus mulai menerangkan cara membuat dan membaca lambang-lambang itu.

Ya, Sugeng adalah guru kesenian sekolah itu. Profesi tersebut dia geluti sejak 1987. “Awalnya, saya tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang guru. Nasib yang menuntun saya menjalani profesi itu,” ujarnya kepada Radar Lampung (grup Sumut Pos) setelah mengajar.

Pria 44 tahun tersebut merupakan alumnus SMP Nusantara. Dia lulus dari sekolah itu pada 1983. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) 1 Pahoman. Pendidikan tersebut berhasil dia selesaikan pada 1986.

Setahun kemudian, pria berkulit sawo matang tersebut melamar sebagai staf tata usaha (TU) di SMP Nusantara.
Dari situlah, karirnya sebagai guru dimulai. Karena sekolah kekurangan guru, Sugeng yang memiliki bakat seni lantas diberi amanah untuk mengajar seni-budaya. Sebagai bentuk keseriusannya menekuni dunia pendidikan, dia lantas berupaya melanjutkan pendidikan. Pilihan akhirnya jatuh ke pendidikan guru sekolah menengah tingkat pertama (PGSMTP) di Pahoman. Di lembaga pendidikan setara D-1 tersebut, dia berhasil lulus dengan nilai cukup memuaskan.
“Waktu itu kebetulan di SMP Nusantara tidak ada guru kesenian. Karena saya dipandang punya bakat, saya lalu ditawari menjadi guru. Tawaran itu kemudian saya terima,” tuturnya sembari menatap barisan siswa yang berlatih upacara.

Sayang, meski telah mengabdikan diri selama 24 tahun, embel-embel guru honorer hingga kini tidak juga lepas. Saat ini dia hanya menerima honor Rp224 ribu per bulan. Pada zaman ini uang sejumlah itu tentu sangat jauh dari kata cukup.
Meski demikian, di tengah impitan ekonomi karena harus menghidupi keluarga, Sugeng mengambil keputusan yang cukup mengejutkan. Sejak 1993, dia memutuskan untuk menjadi pengayuh becak.

“Mau bagaimana lagi? Kerjaan ini yang paling bebas karena tidak ada tekanan atau tuntutan dari mana pun. Kapan saja saya punya waktu, saya bisa narik (becak),” ungkapnya.

Bagaimana cara membagi waktu? Jika mendapat jam mengajar siang, Sugeng mengayuh becak sore dan malam. Demikian sebaliknya. Dari usaha itu, dia bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 30 ribu per hari atau sekitar Rp 900 ribu per bulan. Itu berarti sekitar tiga kali lipat penghasilannya sebagai guru. Meski kerap harus pulang hingga larut, dia tetap setia menjalani profesi tersebut.

Ketika guru lain bisa beristirahat, Sugeng masih harus menjalani profesi sampingan. Penampilannya pun berubah drastis. Jika saat mengajar mengenakan kemeja batik, ketika mengayuh becak baju itu dia ganti dengan pakaian ala kadarnya. Bahkan, dia sering mengenakan baju yang warnanya sudah pudar, celana selutut, sandal jepit, dan topi berwarna cokelat yang melindungi kepalanya dari sengatan matahari.

Itu pula yang terjadi saat Radar Lampung menyambanginya. Setelah mengecek kondisi becak kesayangan, dengan penuh percaya diri Sugeng mengayuhnya menuju Pasar Tugu TKT.

Terik mentari dan derasnya hujan sudah menjadi bagian hidupnya. Namun, itu semua tidak menjadi halangan berarti untuk terus mengayuh becak hitamnya. Tak jarang, ban becaknya kempis di tengah jalan. Jika sudah begitu, dia harus merelakan sebagian penghasilannya melayang ke tukang tambal ban.

Sugeng begitu telaten mengumpulkan uang dengan becaknya. Itu semua dia lakukan demi tiga buah hatinya yang membutuhkan biaya pendidikan. Yaitu Ratih Sepsilawan (17) yang kini duduk di bangku kelas XII SMA, Surya Galih (14) pelajar kelas VIII SMP, dan si bungsu Singgih Remili Darma (12) murid kelas VI SD.

Ya, Sugeng kini harus hidup dengan tiga anaknya tersebut. Sebab, sejak Maret 2011 sang istri memilih berpisah dengan alasan tidak mau hidup susah. Penderitaan Sugeng makin lengkap karena sejak beberapa tahun terakhir sebuah virus yang belum diketahui jenisnya menggerogoti saraf bagian belakang kepalanya. Akibatnya, sebagian wajah Sugeng pernah berubah bentuk. Meski kini kondisinya berangsur normal, bagian mata sebelah kirinya masih tampak merah.
Meski juga dikenal sebagai pengayuh becak, di mata siswa dan rekan kerjanya, Sugeng dipandang terhormat. Itu tidak lain disebabkan sikap disiplin yang senantiasa dia tunjukkan kepada para anak didiknya. Sekalipun dalam kondisi sakit, dia tetap bersemangat menularkan ilmu kepada para siswa.

Sugeng juga dikenal sebagai guru yang selalu datang tepat waktu. “Saya tidak ingin anak didik saya menunggu untuk diberi ilmu,” ucapnya, merendah.

Wakil Kepala SMP Nusantara Bidang Kesiswaan Kholinawati SPd juga mengakui hal itu. “Pak Sugeng merupakan seorang yang sangat tabah, sangat bertanggung jawab, dan disiplin. Walaupun dalam kondisi sakit, dia tetap mengajar. Datangnya pun tidak pernah telat. Pokoknya, sangat disiplin,” katanya.

Senada, Ratih, anak Sugeng, menyatakan bangga meski sang ayah menekuni pekerjaan yang kerap dipandang rendah oleh sebagian orang tersebut. “Saya justru bangga dengan bapak. Saya tidak malu punya bapak tukang becak,” katanya dengan yakin.

Di tengah kesibukannya, Sugeng masih menyimpan sebuah ambisi besar, yaitu melanjutkan pendidikan ke jenjang strata 1. “Biar saya bisa diangkat (jadi PNS). Sekarang kan harus sarjana untuk dapat sertifikasi guru. Semoga Allah mengabulkan harapan itu,” katanya sambil menunduk. (*)

Jembatan Runtuh Akibat Kelalaian

Saat Diperbaiki Kendaraan Dibiarkan Melintas

KUTAI KARTANEGARA- Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mengungkapkan bahwa bencana runtuhnya Jembatan Kartanegara terjadi saat sedang mengalami perbaikan. Perbaikan yang dilakukan Sabtu (26/11) itu merupakan kegiatan pemeliharaan yang dianggarkan hingga Rp2 miliar dan sudah mendapatkan persetujuan Bupati Kukar, Rita Widyasari.

Bupati Kukar Rita Widyasari melalui Kabag Humas Pemkab Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni, mengatakan pada hari pertama pemeliharaan itu petugas mulai melakukan penyetingan terhadap tali penahan jembatan. Namun, saat proses dilakukan petugas tak menghentikan arus lalulintas yang memasuki jam-jam sibuk. Petugas, katanya, hanya menutup sebagian badan jalan dan menjadikan jalur dua arah itu menjadi satu arah dengan sistem buka tutup.

“Nah, petaka terjadi ketika jembatan tak sanggup menahan beban maksimal. Ditambah lagi kekuatan jembatan berkurang lantaran tali penyangganya sedang mengalami perbaikan,” ujarnya dalam keterangan pers di Pemkab Kukar, Minggu (27/11).

Sri melanjutkan, badan jalan turun dan tiang penyangga kendor, sehingga mengurangi kekuatan jembatan. Dia menuturkan, sebelum terjadinya bencana memang sudah ada pergeseran dengan badan jalan. Sebab itu, dilakukan pemeliharaan jembatan untuk mengembalikan setingan jembatan seperti semula.

Sementara itu, Rita mengungkapkan, pihaknya terus melakukan pemeriksaan mengenai kondisi jembatan sebelum terjadinya runtuhan tersebut. Bahkan, dia menambahkan, pemeriksaan itu juga dilakukan oleh tim investigasi yang diturunkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Polisi juga menduga kuat akibat kelalaian pengerjaan perbaikan jembatan. Perbaikan dilakukan sesaat sebelum jembatan tersebut ambruk ke Sungai Mahakam.

“Ini faktor kelalaian. Apakah nanti kelalaian ini akan berkembang atau tidak, ya nanti kita lihat,” kata Kapolda Kaltim, Irjen Pol Bambang Widaryatmo, kepada wartawan di lokasi ambruknya jembataan, Minggu (27/11).

Terkait insiden tersebut, kata Bambang, Mabes Polri memberikan atensi khusus. Badan Reserse Kriminal Polri yang dipimpin langsung Kabareskrim Komjen Pol Sutarman juga turun ke lokasi untuk turut serta melakukan penyidikan.
“(Bareskrim) back-up kita melakukan penyidikan. Kita dalami terus. Kita tidak akan gegabah dan kita akan menjunjung tinggi profesionalitas,” tegas Bambang.

Akibat dugaan kelalaian itu, penyidik mengancam akan menjerat mereka yang telah berbuat lalai sehingga mengakibatkan orang lain meninggal dunia. “Pasal 359 dan pasal 363 KUHP. Karena juga kan ada korban yang luka-luka,” ujar Bambang.

Menteri PU Djoko Kirmanto yang juga tiba di lokasi menyebut ambruknya jembatan tersebut terbilang langka mengingat jembatan tersebut masih berusia 10 tahun. Sementara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan ada dua kapal feri yang siaga untuk mengangkut warga dan anak sekolah di Kutai Kartanegara. Sarana ini disiapkan agar kegiatan warga bisa terus berjalan.

“Begitu pula penyeberangan yang diperlukan sehari-hari oleh anak sekolah dan warga. Dari pihak Kemenhub dan gubernur setempat sudah diusahakan kapal feri untuk mengatasi itu, untuk penyeberangan dan lain-lain,” kata Menhub EE Mangindaan.

Politisi Demokrat ini menerangkan, ada dua kapal feri yang bisa mengangkut ratusan penumpang untuk meng hubungkan Kota Tenggarong dan Samarinda. Beberapa pengalihan jalur lintasan kapal feri juga sudah disiapkan. “Dialihkan ke situ sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Menurut Mangindaan, tim dari Kementerian PU sudah bekerja untuk menyelidiki penyebab rubuhnya jembatan. Yang jelas, jalur batubara di dua kota itu sudah terputus.

“Yang pasti sekarang jalurnya putus, baik kapal pengangkut batubara, tidak bisa melewati jembatan itu,” tambahnya. (net/bbs)

Bos Penipu CPNS Ditahan di Surabaya

MEDAN-Personel Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut sudah mengendus pelaku utama tersangka penipu CPNS. Polisi rencananya akan berangkat ke Surabaya, Senin (29/11) untuk menangkap bos penipu CPNS bernama Aminuddin, yang juga menjabat sebagai kepala bagian di Badan Kepegawai Nasional (BKN) Pusat.

Kasubdit III Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, Kompol Andre Setiawan menjelaskan, dari hasil pemeriksaan 4  tersangka yang telah ditangkap satu tersangka bernama Suroso, pegawai PNS di Dinas Pertanian Pusat, yang telah menerima  uang dari Marisi Tambunan sebesar Rp15 miliar.

“Katanya uang yang dia terima langsung diserahkan kepada Aminuddin,” terang Andre mengutip keterangan Suroso.
Menurut Andre, berdasarkan keterangan Suroso polisi akan melakukan pengembangan dengan berangkat ke Surabaya. “Informasinya tersangka Aminuddin sebentar lagi keluar dari rumah tahanan (rutan) ditahan dengan kasus yang sama. Jadi begitu dia keluar dari penjara akan kita tangkap dia,” tegas Andre.

Saat disinggung apakah ada pejabat di Medan yang terlibat dalam jaringan itu, Andre mengaku dari hasil pemeriksaan dan penyelidikan sementara belum ada. “Belum ada, siapapun yang terlibat dalam kasus ini akan kita sikat,” tegas Andre.
Andre juga mengatakan dalam kasus ini tidak tertutup kemungkinan adanya pejabat pusat yang terlibat. “Makanya kita akan tangkap dulu si Aminuddin, tidak tertutup kemungkinan di atas Aminuddin masih ada bosnya,” ujar Andre. (mag-5)

11 Rumah Hanyut, 2 Orang Tewas

Kampar Dihantam Banjir Bandang

PEKANBARU- Kabupaten Kampar, Riau dihantam banjir bandang sejak Jumat (24/1). Akibatnya, 11 rumah warga hanyut. Korban tewas untuk sementara 2 orang.

“Kita menerima laporan sementara ini 2 orang dikabarkan tewas. Satu orang sudah diketemukan jasadnya kemarin. Namun satu lagi dinyatakan hilang,” kata Karo Humas Pemprov Riau, Chairul Riski, Minggu (27/11).
Menurut Riski, kondisi banjir bandang ini menerjang Desa Aur Kuning Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau sejak Jumat (24/11) lalu.

Kondisi air bah ini, kata Riski dirasakan warga saat subuh. Banjir bandang akibat luapan suangi di desa itu, dilaporkan sementara ini ada 11 rumah warga hanyut. “Untuk sementara ini ada 11 rumah warga hanyut. Namun ini baru data sementara. Kita masih terus mendata perkembangan kondisi banjir di wilayah tersebut,” terang Riski.

Kondisi banjir yang menggenangi lebih dari 9 desa itu, telah membuat akses jalan tertutup. Akibatnya, untuk menjangkau ke desa-desa saat ini tim penanggulangan bencana Kabupaten Kampar dan Pemprov Riau mengalami kesulitan.
“Warga korban banjir sebagian masih terisolir, karena sulitnya menembus akses ke rumah penduduk,” ujar Riski. Masih menurut Riski, tim Dinas Sosial Pemprov Riau juga sudah berada di lokasi banjir. Hanya saja sampai saat ini jaringan komunikasi sangat susah dilakukan.(net/bbs)

Back to Basic

Suharso Monoarfa

Setelah dicopot sebagai Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa kembali menyibukkan diri dengan segala kegiatan partai.

Sebagai Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembagunan (PPP), Suharso saat ini berkonsentrasi membesarkan dan memenangkan PPP pada Pemilu 2014 mendatang.

“Ya sekarang ngurusin partai, terus kembali ke bisnis, karena memang dasarnya saya pebisnis jadi back to basic,” ujar Suharso, usai diskusi di ruang Fraksi PPP, Gedung DPR.

Suharso mengatakan, setelah lepas dari kabinet, dirinya langsung kembali beraktivitas dan berkonsentrasi untuk persiapan pemenangan partai di Pemilu 2014. “Karena saya waktu muktamar diminta untuk fokus di sini (pemenangan pemilu), saya lebih banyak datang ke daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Suharso mengatakan, pada waktu ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum bidang Pemenangan Pemilu, dirinya sempat meminta kepada Ketua Umum PPP Suryadharma Ali agar tidak dicalonkan menjadi menteri.

“Kalau saya mau fokus di situ untuk pemenangan pemilu, saya lebih bagus tidak di kabinet, karena itu lebih bagus kan nanti saya jadi kikuk. Lebih baik saya konsentrasi bagaimana mempertahankan suara dan meningkatkan suara,” terangnya. (net/bbs)