26 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 14507

Ditinggal Suami, Nyaris Bunuh Diri

MEDAN- Kecewa karena ditinggal suaminya, Kristina Lumbangaol (32), warga Jalan Perluasan, Kabupaten Simalungun, nyaris bunuh diri di Taman Stadion Teladan. Beruntung aksi bunuh diri ini berhasil digagalkan tiga pelajar SMK Yayasan Dwi Warna Medan yang menyaksikan kejadian itu. Selanjutnya, ketiga pelajar itu membawa Kristina ke Mapolsekta Medan Kota yang kemudian dibawa berobat.

Kepada wartawan Sumut Pos, ibu satu anak ini mengaku stres karena ulah suaminya Jun Lubis (35), yang sudah enam lalu merantau ke Medan. Menurutnya, suaminya ke Medan untuk mencari nafkah sebagai tukang beca di kawasan Percut Sei Tuan. Sementara dirinya, selama ini terus bergantung hidup kepada kedua orangtuanya karena sang suami tak pernah memberinya nafkah.

Selanjutnya, dia memutuskan untuk menyusul suaminya ke Medan. Sebelum berangkat ke Medan, dia sempat menghubungi suaminya melalui telepon dan mereka pun sepakat bertemu Senin (14/11). Sesampainya di Medan, tepatnya di Jalan Sisingamangaraja dia kembali menghubungi suaminya lewat telepon umum. Namun saat itu yang menerima telepon bukan suaminya, melainkan perempuan yang mengaku istri kedua suaminya. Mendengar perkataan tersebut, dia langsung mematikan telepon dan pergi ke Taman Stadion Teladan. Di sana, dia mengambil sebilah pisau lipat dari tasnya dan langsung menyayat tangan sebelah kirinya. Untung aksi itu diketahui ketiga pelajar yang langsung menolong Kristina.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Kota AKP S Simaremare saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Kristina adalah korban ketidakadilan suaminya Jun Lubis. Sementara sebilah pisau lipat yang digunakan untuk bunuh itu telah kita amankan,” jelasnya.(mag-10)

Sumut Akan Miliki Kota Baru

MEDAN- Sumatera Utara yang memiliki 33 Kabupaten/Kota, akan memiliki satu kota baru. Hal ini sesuai dengan MoU yang dilakukan kementerian perumahan rakyat (kemnpera) dan REI (Real estate Indonesia) untuk membangun 20 kota baru seluruh Indonesia.

“Sumut mendapat kesempatan untuk membangun kota baru, yang rencananya akan direalisasikan pada 2012 pada pembangunan awal,” ujar PLt Gubsu Gatot Pudjo Nugroho, pada pembukaan Musda REI Sumut di Grans Aston Hotel Medan Senin (14/10). Dengan salah satu syarat untuk membentuk kota baru tersebut harus menyediakan hamparan seluas 3 ribu Ha.

Walaupun belum diketahui dengan pasti Kab/Kota yang cocok untuk pengembangan kota baru ini, tetapi pemprovsu telah siap dan akan mendukung pengembangan kota baru ini.

“Kita siap untuk mendukung program kemenpera ini, dan nantinya diharapkan sinergi antara pengembang dan pemprovsu dapat berhasil dan menghasilkan energi positif,” tambah Gatot.

MoU antara Kemenpera dan pengembang, sebagai salah satu wadah dari REI, dilakukan 17 Juni 2011 lalu.
Awalnya, pemerintah mengharapkan akan terbentuk 20 kota baru di Indonesia, tetapi karena keterbatasan anggaran, REI hanya mampu memenuhi 10 permintaan tersebut, dan salah satunya Sumut. “REI hanya mampu memenuhi 10 kota, yaitu Sumut, Sumsel, Jatim, Jateng, DKI, Banten, Kalimantan,” ujar Ketua Umum DPD REI Sumut, Tomi Wistan.
Selanjutnya, Tomi menyatakan, daerah Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Tanah Karo, cocok untuk dijadikan tempat pengembangan kota baru ini. “Tetapi bukan berarti hanya bisa dibangun 1 kota saja, kota baru bisa dibangun pada 2 daerah sekaligus,” ucap Tomi.

Walaupun sudah dipastikan untuk pembentukan kota baru ini, tetapi anggaran untuk pembangunan ini belum bisa dipastikan besarannya, walau menggunakan dana APBN. “Kita belum tahu anggarannya, tetapi bisa mencapai puluhan triliunan rupiah, tetapi kalau untuk modal awal tidak mungkin,” ucap Tomi.

Dalam pengembangan kota baru ini, masalah klasik seperti perizinan dan pembebasan lahan tetap menjadi kendala utama, karena ditakutkan bila pembebasan lahan bermasalah dapat menambah biaya pengembangan. Karena itu, harapan dari REI nantinya ada tim khusus yang akan dibentuk dalam pembentukkan pengembangan ini.
“Pembebasan lahan merupakan masalah klasik yang biasa ditemukan oleh pengembang, jadi harapan kita agar ada tim yang dibentuk antara pemprovsu dengan REI agar dapat sharing terkait dengan pembebasan lahan,” ujar Tomi.
Karena ke depannya, dia berharap, agar pengembang, pemprovsu dan pemilik tanah dapat duduk bersama dalam menyelesaikan masalah ini. “Sharing akan memudahkan untuk mendapatkan kata sepakat,” tandas Tomi. (mag-9)

Wali Kota Lantik Pengurus TP PKK

Wali Kota  Medan Drs H Rahudman Harahap MM melantik kepengurusan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Medan untuk periode 2011-2016 di Hotel Emerald Garden Medan, Senin (14/11).

Pada pelantikan itu, Rahudman Harahap berharap TP PKK dapat melahirkan program-program kerja, yang semakin kreatif dan bermanfaat untuk meningkatan kesejahteraan keluarga, lebih harmonis dan memiliki keikhlasan bekerja.
Menurut dia, visi gerakan PKK diantaranya terwujudnya keluarga yang beriman dan bertakwa, berahlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan.
“Visi ini dapat diimplementasikan dalam misi-misi yang lebih operasional dan terukur. Selain itu diharapkan bisa menjadi landasan moral bagi segenap jajaran pengurus PKK,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan persoalan-persoalan pembangunan seringkali berbasis individu, keluarga dan lingkungan. Namun ada kalanya masalah-masalah itu tidak dapat sepenuhnya disentuh oleh kebijakan program kerja pemerintah yang dikelola di tingkat Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD).

“Saya memandang solusi-solusi pokok yang efektif justru bisa lebih diperankan melalui program-program pokok PKK yang dilaksanakan. Ini menunjukkan kedudukan dan peranan TP PKK sangat strategis guna melengkapi kebijakan pembangunan kota yang berbasis kesejahteraan keluarga,” ujarnya.

Dia mengatakan  keluarga besar TP PKK di semua tingkatan bisa memberikan perhatian khusus kepada beberapa isu dan program kerja pokok pembangunan kota yang saat ini tengah digerakkan.

“Seperti program revitalisasi posyandu, pengembangan PAUD, kebersihan lingkungan, penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk serta penataan lingkungan dengan pembuatan taman-taman PKK di setiap kelurahan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Medan Hj Yusra Rahudman Harahap mengatakan dengan pelantikan ini diharapkan kepada seluruh ibu-ibu, yang tergabung dalam pengurus PKK agar segera membuat program kerjanya dan bekerja untuk masyarakat.

Adapun susunan pengurus TP PKK Kota Medan periode 2011-2016 adalah Hj Yusrah  Rahudman Harahap (ketua), Ny Rita Maharani Dzulmi Eldin (wakil ketua), Ny Suti Syaiful Bahri (wakil ketua), Damikrot SSos (wakil ketua), Ny Tuti Khairil Anwar (wakil ketua), Ny Hj Bariah Hasan Basri (bendahara) dan Ny Fadillah Saleh (sekretaris).
Acara pelantikan ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Medan, Drs H Dzulmi Eldin MSi, anggota Dewan Kota Medan Drs H Afifuddin Lubis, Askesmas Drs Musaddad Nasution, Kepala Inspektorat Drs Farid Wajedi, pengurus Persit Kartika Chandra Kirana, pimpinan SKPD, camat dan lurah di lingkungan Pemko Medan. (mag-11)

Tak Terhalang Lapangan Becek

Minggu Sehat Bersama Sumut Pos

MEDAN- Meski kondisi lapangan yang becek, namun tidak menyurutkan minat sebagian warga Marindal untuk mengikuti Minggu Sehat Bersama Sumut Pos. Bertempat di Lapangan Sepak Bola Pasar VII Marendal I Jalan Besar Marindal, warga sangat antusias mengikuti senam aerobik dan jantung sehat.

“Minggu depan akan kita adakan lagi di lapangan sepak bola ini,” kata panitia, Adnan C Nainggolan, Minggu (15/11).
Lelaki yang akrab dipanggil Anang ini menambahkan kegiatan Minggu Sehat Bersama Pos didukungoleh Durol Multivitamin, Holisticare dan E-jus. Sebelumnya, kegiatan yang sama juga telah digelar di beberapa tempat seperti kawasan Helvetia dan Lapangan Merdeka.

Kegiatan ini dilakukan sebagai wujud kepedulian Sumut Pos terhadap peserta maupun pembaca setianya. Kemarin, kegiatan dibuka dengan senam sehat yang dipandu oleh beberapa instruktur yang tergabung dalam ASIAFI (Asosiasi Senam Instruktruktur Aerobik Fitnes Indonesia) dan dilanjutkan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan gratis dengan menghadirkan petugas medis dari Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin Tampukasih Marindal.

Kepala Lingkungan X Kelurahan Harjosari II Medan Amplas, Lasimin Adi Prayetno yang turut menghadiri kegiatan tersebut, sangat mengapresiasi dan mendukung agar kegiatan ini menjadi agenda rutin Sumut Pos. “Selain memberikan pemberitaan yang terbaik, hendaknya, kegiatan seperti ini terus dilakukan di wilayah Marendal. Apalagi ada pemeriksaan kesehatannya dan minat warga kita juga tinggi menghadiri kegiatan ini,” ujarnya.

Ya, peserta dari semua kalangan usia terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan senam Minggu sehat yang juga menyajikan berbagai doorprize. Salah seorang warga, Eli Dahliani mengaku sangat senang jika kegiatan yang diadakan Sumut Pos menjadi agenda rutin di daerah tersebut. “Saya datang berdua sama anak. Senang bisa ikut senam sehat ini. Apalagi kegiatannya kan gratis alias nggak dipungut biaya. Inikan untuk kesehatan kita juga, dan yang paling ditunggu itu door prize nya. Mudah-mudahan Minggu depan kegaiatan ini digelar lagi disini,” ungkap Eli. (mag-11)

Janji Tidak Main Mata

Garuda Muda Tegang Ditonton 60 Ribu Suporter

INDONESIA vs THAILAND

JAKARTA- Timnas U-23 membuat catatan baru dalam sejarah pertarungan tim sepak bola Indonesia dengan Thailand di ajang SEA Games. Pada laga ketiga grup A di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Minggu (13/11) malam, Egi Melgiansyah dkk berhasil membekuk Thailand 3-1. Dengan kemenangan ini, maka Garuda Muda bertengger di posisi teratas Grup A dan lolos ke babak semifinal.

Pelatih Timnas U-23, Rahmad Darmawan, memberi apresiasi positif terhadap mental pemainnya dalam mengatasi tekanan atmosfer lawan. Namun, ia tetap memberikan catatan terhadap permainan skuad Garuda Mudan

Duel Indonesia melawan Thailand disaksikan sedikitnya 60 ribu pendukung tuan rumah. Ini untuk kali pertama tim besutan Rahmad tersebut disaksikan langsung puluhan ribu penonton.

“Situasi seperti ini yang memang saya harapkan. Saya bersyukur situasi ini sudah kami dapatkan di babak penyisihan,” ujar Rahmad dalam keterangannya kepada wartawan, usai pertandingan.

“Para pemain terlihat tegang, dan Thailand justru lebih tenang. Ini disebabkan pengaruh hadirnya banyak penonton di stadion. Saya merasa bersyukur atmosfer ini sudah muncul di penyisihan, sehingga ini menjadi pengalaman berharga bagi pemain. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau atmosfer ini baru terjadi di semifinal,” kata Rahmad.

Mengenai pertandingannya sendiri, RD menyebut beberapa poin yang menjadi kelemahan tim. Salah satunya adalah terlalu terburu-buru melepaskan umpan-umpan panjang ketika ditekan oleh para pemain Thailand.

“Malam ini kami menghadapi satu tim yang bisa disebut tim matang, Thailand. Mereka memperlihatkan permainan bagus. Di babak pertama, walau main dengan sepuluh orang, mereka tetap mendominasi dan bermain menyerang,” ujar Rahmad.

Ditambahkannya, para pemain tidak menerapkan instruksi yang diberikan sebelum pertandingan. Menurut Rahmad, ia tak pernah menginstruksikan pemain untuk melepaskan umpan panjang.

“Anak-anak sering melakukan long passing. Saya sama sekali tidak memberikan instruksi seperti itu,” kata Rahmad.
Sang pelatih juga menggarisbawahi soal ketenangan para pemain. Dia mengharapkan para pemain untuk bisa membangun permainan dari lini belakang. Namun, yang terjadi di lapangan, para pemain kerap langsung melepaskan umpan panjang ke depan.

“Ketika mereka bermain dengan 10 pemain, kita malah tegang. Padahal selalu saya ingatkan untuk sabar main dari bawah. Tapi, beberapa kali kita malah melakukan long pass. Ini harus diperbaiki,” katanya.

Seblumnya, Malaysia membuka peluang lolos ke babak semifinal. Ini setelah kemarin sore sang juara bertahan berhasil menang 4-1 atas Kamboja. Dengan hasil ini Malaysia hanya butuh hasil seri untuk melawan Indonesia pada Kamis lusa (17/11). Tapi jelas tidak mudah. Sebab Indonesia sudah bertekad menyapu bersih semua pertandingan dan ingin memberikan yang terbaik kepada publik tanah air.

Malaysia bisa saja gagal lolos ke semifinal jika kalah dari Indonesia dengan skor telak dan di hari yang sama Singapura berhasil menang dengan margin besar atas Thailand. Jelas itu bukan pekerjaan mudah bagi Singapura. Sebab Thailand berjanji akan tampil all out di laga terakhirnya meski peluang lolos semifinal sudah tertutup.

“Kami tetap akan main fairplay melawan Singapura. Kami akan tampil dengan spirit tinggi,” cetus Kasem Jariyawatwong, manajer timnas Thailand dalam press conference tadi malam. “Kita semua negara sahabat. Kita harus menjunjung tinggi fairplay. Jangan kawatir kami akan tetap all out di laga melawan Singapura. Kami datang untuk tampil sebaik mungkin dan menyuguhkan tontonan bagus kepada penonton tak peduli hasil akhirnya kalah atau menang. Kami ingin fairplay,” sambungnya.

Dalam pertandingan kemarin sore tiga gol Malaysia dicetak Ramlan Izzaq Faris menit ketujuh, kapten bakhtiar Baddrol menit ke 36 dan 40 (penalti) serta Wan Zakaria Wan Zaharul menit ke-90. Satu-satunya gol Kamboja dicetak Chhin Chhoeun menit ke-60.

Ong Kim Swee pelatih timnas Malaysia menyatakan puas timnya kembali meraih tiga poin dan membuka peluang lolos ke semifinal. Menurutnya, dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, Malaysia terus menunjukkan perkembangan. Salah satu indikasinya adalah dari jumlah gol yang dihasilkan. Di laga pertama Malaysia hanya bisa bermain seri 0-0 melawan Singapura. Setelah itu di laga kedua juara bertahan bisa menang 2-1 atas Thailand dan kemarin sore menang 4-1 atas Kamboja. “Ini modal bagus untuk menghadapi Indonesia di laga terakhir nanti,” bebernya.

Kemenangan Indonesia atas Thailand kemarin malam adalah buah dari gol Titus Bonai, Patrich Wanggai dan Ferdinan Sinaga. Sementara satu-satunya gol Thailand dilesakkan Ronnachai Rangsiyo, melalui eksekusi penalti.(bbs/ali/jpnn)

Aksi Gatot Dipertanyakan

Plt Gubsu Dianggap Terlalu Sibuk dengan Kegiatan Seremonial

MEDAN-Tingkah laku Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) terus menjadi perhatian sembilan dari sebelas partai pengusung Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho (Syampurno). Bahkan, mereka menegaskan agar Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho jangan cuma ‘Omdo’ alias ‘Omong Doank’ tanpa aksi nyata.

Setidaknya hal ini diungkapkan Sekretaris Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) Sumut, Suaidi Pulungan, didampingi Sekretaris Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) Sumut Sukirman. Menurut mereka, individu yang saat ini berpredikat orang nomor satu di Sumut ini sebaiknya memperlihatkan kinerja terbaiknya dan jangan hanya ‘Omdo.’
“Selama ini, koalisi Sampurno selalu sejalan dengan program-program yang diusung Gubsu. Dalam artian sejalan untuk mendukung program yang berorientasi terhadap kemakmuran masyarakat Sumut. Tentunya sesuai dengan visi-misi Rakyat Tidak Lapar, Rakyat Tidak Bodoh, Rakyat Tidak Sakit dan Rakyat Punya Masa Depan,” ungkap Suaidi di sekreariat koalisi Syampurno Jalan Pelopor No 1 Medan, Minggu (13/11).

Ia mengatakan, secara moral dan politik hal tersebut juga menjadi tanggung jawab koalisi politik yang merupakan konstituen pemerintahan. “Dalam hal ini koalisi merupakan pihak yang memonitor dan mengarahkan agar semua target bisa dijalankan dengan tepat. Nah, untuk mencapai hal ini harus dibangun komunikasi dan koordinasi antar pejabat dan koalisi,” ujar Suaidi.

Menurut Suaidi, kepala daerah sudah seharusnya melakukan ‘take and give’ masukan dari berbagai pihak dalam mebangun Sumut ke depan. “Tapi tidak dengan Gatot. Ia kerap mencuatkan pemerintahan saat ini fokus membangun Sumut. Tapi nyatanya? Apa sih yang sudah dilakukan Gatot hingga saat ini?” tegasnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, jika diurut dan dirunut, menurut Suaidi, tak ada proyek yang diusung Plt Gubsu menuju pembangunan Sumut. “Dia (Plt Gubsu, Red) hanya dan terus saja menghadiri acara-acara seremonial yang notabene semua masyarakat tahu hal tersebut tak begitu bermanfaat atau sama sekali tak ada kepentingannya terhadap kemaslahatan masyarakat,” katanya dengan nada tinggi.

Suaidi juga menuturkan, hal tersebut bukan asal tuduh tanpa alasan dan data-data kongkret. Buktinya pada APBD 2010 Sumut memiliki Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) mencapai Rp400 miliar lebih. “Sedangkan PAPBD 2011 juga dalam masalah. Karena baru diajukan pada bulan ini (November, Red) dan mayoritas isinya hanya belanja aparatur pemerintahan. Yang artinya tak ada anggaran yang mengakomodir kepentingan masyarakat melalui pembangunan,” paparnya.

Parahnya lagi, sambung Suaidi, RAPBD 2012 hingga saat ini belum diajukan ke DPR dan dapat dipastikan pembangunan di Sumut akan semakin terlambat. Sehingga mengakibatkan program yang diajukan nanti realisasinya semakin minim. “Jadi, andai RAPBD diajukan pertengahan November ini dan diketok atau disetujui DPR pada Desember mendatang, maka kita akan pertanyakan ke DPR. Karena pembahasan RAPBD bukan merupakan satu hal yang mudah untuk dibicarakan. Ini menyangkut kepentingan masyarakat,” tegasnya lagi.

Sukirman menambahkan, koalisi bukan tendensius terhadap Plt Gubsu. Hanya sekedar mengingatkan untuk tetap berada di jalur yang benar dan lurus. “Kalau yang selama ini digembar-gemborkan Gatot tentang pemerintahan Sumut fokus terhadap pembangunan dapat dijalankan dengan benar, kami pasti mendukung bukan hanya 100 persen tapi hingga 1000 persen,” jelasnya.

Selama ini yang diketahui pihak koalisi, Plt Gubsu menciptakan suasana eksklusif di Pemprovsu. Ini ditandai dengan adanya para ‘punggawa’ yang menghalang-halangi untuk menemuinya. “Banyak SKPD mengeluh dan mengadu kepada kami (koalisi, Red) tentang sulitnya bertemu langsung dengan Gatot. Bagaimana bisa menyukseskan program pembangunan Sumut 2012 mendatang jika konsultasi dan komunikasi saja tak bisa?” kata Sukirman.

Sukirman malah membalikkan, dengan mengatakan untuk berkomunikasi dengan koalisi bisa dilakukan lain waktu. “Tapi berkomunikasi dengan SKPD itu sangat penting. Jadi jangan ditutup pintu koordinasinya. Gatot sebaiknya jangan membuat manajemen yang mengada-ada,” ujarnya.

Parameter adanya peningkatan pembangunan di satu daerah dapat diindikasikan dengan jumlah silpa yang tak mencolok. “Silpa menjadi parameter peningkatan pembangunan di daerah. Jadi kenapa masih tinggi (Silpa Sumut, Red)?” tegas Sukirman.

Pihak koalisi hanya meminta agar Plt Gubsu bekerja jujur. “Ibarat supir ALS, apabila supir pertama istriahat, maka supir kedua harus banyak tanya kepada supir pertama atau senior. Ini dimaksudkan agar tak terjadi seperti kasus di ‘Aek La Masuk Jur’ (Aek Latong Masuk Jurang, Red),” ujar Sukirman.

Hal tersebut terjadi akibat efek kurangnya komunikasi yang baik antar keduanya. “Nah, kita juga khawatir pemerintahan di Sumut itu layaknya kasus Aek Latong tadi. Dan pemerintahan di Sumut akhirnya jalan sendiri-sendiri antara pemimpin dan SKPD. Ini juga menunjukkan tak adanya kemampuan manajerial Gatot. Kemampuan manajerialnya diragukan karena sangat sulit berkoordinasi dengannya,” pungkas Sukirman. (saz)

Terlambat karena Jamaah tak Tertib

Kepulangan Kloter 03 Diwarnai Mendung dan Hujan

MEDAN- Meskipun cuaca mendung mewarnai pemulangan jamaah haji ke tanah air, namun pemulangan kloter 03 Debarkasi Medan dengan jumlah 454 jamaah haji asal Binjai dan Medan dipastikan berjalan lancar seperti pemulangan kloter sebelumnya. Sesuai jadwal, jamaah kloter 03 berangkat dari Bandara King Abdul Aziz (KAA) Jeddah Minggu (13/11) pukul 11.57 waktu setempat dan tiba di Bandara Polonia Medan pada Minggu dinihari pukul 00.15 WIB.

“Jumlah jamaah 454 berarti ada satu seat kosong. Kita doakan saja pemulangannya lancar seperti kloter sebelumnya. Meski cuaca mendung dan hujan deras menyambut pemulangan jamaah, mudah-mudahan berjalan lancar,” kata Kepala Bidang Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Abd Rahman melalui Humas PPIH Debarkasi Medan, Sazli Nasution.

Namun pada pemulangan kloter 02 Debarkasi Medan sebelumnya, seorang jamaah asal Medan, Kasni Mahidin Nasution Binti Mahidin (45) nomor manifest 448 dirujuk ke RS Haji Medan karena menderita terjepit tulang belakang. “Setelah diobservasi di Poliklinik Asrama Haji Medan, ternyata kondisinya tidak memungkinkan, lalu dibawa ke rumah sakit rujukan,” ujar Sazli.

Ditambahkannya, jumlah jamaah kloter 02 Debarkasi Medan sendiri sebanyak 451 orang diantaranya asal Padangsidempuan 361 orang, Medan 78, Deli Serdang 2 jamaah, asal Jakarta 3 orang dan ditambah petugas 5 orang. “Jadi ada jamaah yang mengisi seat kosong untuk kepulangan rombongan kloter 02 ini,” jelasnya.

Saat ditanyakan mengenai 3 orang jamaah haji asal Jakarta yang ikut pada pemulangan kloter 02 Debarkasi Medan ini, Sazli menjelaskan bahwa seat kosong dapat diisi oleh jamaah haji daerah mana saja asal memenuhi syarat. “Namun, risikonya, 3 jamaah ini harus menanggung ongkos sendiri untuk kepulangannya ke Jakarta. Jadi, bisa-bisa saja mereka minta pulang dengan kloter lain, tapi, ya itu tadi, biaya pesawat ke Jakarta dibayar sendiri,” ucapnya.

Selain itu seorang jamaah asal Padangsidimpuan, Cahyo Iman Binti Abu Sohob (58) nomor manifest 326 menunda kepulangannya ketanah air. “Kita juga belum peroleh informasi yang pasti kenapa jamaah ini menunda kepulangannya dan ke kloter mana dia dimutasi. Nanti akan kita cek lagi,” urai Sazli.

Mengenai keterlambatan proses pemulangan jamaah haji Indonesia, juga disebabkan karena tidak tertibnya jamaah haji. Menurutnya, jamaah haji Indonesia masih banyak ditemukan membawa barang-barang yang dilarang didalam tasnya. Saat dilakukan pemeriksaan oleh petugas keamanan Bandara Internasional KAA, dari tubuh jamaah haji masih mengeluarkan bunyi karena adanya benda logam. Maka, jamaah tersebut harus menjalani pemeriksaan ulang hingga benar-benar clean.

“Ada yang membawa air zam-zam di dalam tas, itu tidak boleh. Juga ada jamaah yang masih membawa barang-barang terlarang seperti gunting dan pisau yang disimpan di dalam kopiah jamaah. Ini kalau masuk detektor metal akan bunyi. Jadi, ini semua tidak boleh. Memang saat pemberangkatan ke tanah suci telah diperingatkan untuk tidak membawa barang-barang ini. Tapi tetap saja ada jamaah yang membawanya. Jadi pemeriksaan ulang pada tubuh jamaah ini memakan waktu,” jelasnya. (mag-11)

Plang Kepemilikan Tanah Bertambah di Sari Rejo

MEDAN-Warga Sari Rejo sadar untuk mendapatkan sertifikat tanah mereka sangat bergantung dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Medan. Karena itu, mereka tak henti-hentinya berjuang agar BPN luluh. Satu di antara cara perjuangan mereka adalah dengan memasang plang.

“Kami minta ketegasan dari BPN Kota Medan untuk adil terhadap warga Sari Rejo. Setidaknya dari hasil pernyataan Kakan (Kepala Kantor, Red) BPN Medan yang diketahui Kakan BPN Provinsi tertanggal 7 Januari 2008, di dalam poin 2 yang isinya kepada Kakan BPN Medan untuk tidak menerbitkan sertifikat kepada pihak lain, kecuali kepada masyarakat Sari Rejo,” kata Ketua Formas, Riwayat Pakpahan, usai pemasangan plang di Lingkungan IV dan VIII, Minggu (13/11) pagi.

Untuk itu, lanjut Riwayat, warga meminta kepada Kakan BPN Medan untuk memenuhi surat pernyataan oleh BPN untuk meneribitkan sertifikat tanah warga. Diyakini warga bahwa tanah seluas 260 ha yang dikuasai masyarakat tidak bermasalah dalam asset sesuai dengan register No 50506001. Sedangkan tanah seluas 302,78 ha tersebut yang menjadi asset sudah bersertifikat sesuai sertifikat No 1 tanggal 13 Juni 1997 seluas 35,25 Ha dan sertifikat No 4 tanggal 25 Juni 1997 seluas 267,53 ha. “Dengan begitu, kami minta agar BPN dapat menunjukkan batas-batas yang jelas terhadap tanah di Kelurahan Sari Rejo yang sudah disertifikatkan,” cetus Riwayat yang diamini seluruh pengurus Formas.

Warga sudah menyampaikan permasalahan ini ke presiden, Kemenham, Kemenkeu, BPN Pusat, DPR RI, DPD RI, gubsu, wali kota, Kakanwil BPN Provsu, BPN Medan, DPRD Provsu, dan DPRD Medan. Kini, mereka miminta keadilan serta ketegasan dari BPN yang sudah banyak mencari alasan. “Begitu juga dengan Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang berjanji akan menyelesaikan masalah tanah sari Rejo pada Desember tahun ini. Karena secara de facto de jure tanah Sari Rejo sudah dikuasi masyarakat sejak tahun 1948,” pintanya.

Warga lainnya, Misroy selaku Kordinator Lingkungan (Korling) IV menambahkan atas status tanah Sari Rejo adalah milik masyarakat yang bukan dimiliki TNI AU. Sedangkan Asep selaku Korling VIII menuturkan masyarakat mempunyai toleransi tetap menunggu bersabar dari janji permerintah. “Bila tidak ada penyelesaian, warga tidak akan menghargai pemerintah. Warga akan melakukan aksi besar-besaran,” terangnya.

Untuk itu, tambah warga lainnya, Sumantri selaku Sekjen Formas meminta agar melibatkan masyarakat dan DPRD Medan dalam penyusunan draf MoU antara Pemko Medan dan TNI AU.

Sebelumnya, warga juga memasang plang yang dibuat oleh masing-masing kordinator lingkungan (Korling), dari Lingkungan I sampai XI. Isi plang yang bertuliskan ‘Selamat Datang di Kelurahan Sari Rejo, Tanah Milik Masyarakat Berdasarkan Keputusan MA No.229 K/Pdt/ 1991 Tanggal 18 Mei 1995 dan Peraturan Pemerintah (PP) RI No.24 Tahun 1997’ berdiri tegak di setiap persimpangan yang strategis.

“Warga terus melakukan perjuangan dengan memasang plang di setiap persimpangan yang strategis. Warga sangat mengkhawatirkan penyelesaian tanah sari rejo yang bertele-tele, padahal kami terus berjuang,” kata Riwayat.
Kegiatan pemasangan tersebut dilakukan secara bergotong royong untuk menunjukkan eksistensi tentang keberadaan bahwa tanah ini milik masyarakat Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia. Dilakukan di beberapa titik persimpangan yang strategis di setiap lingkungan. Awalnya, seluruh pengurus Formas bersama korling memasang di Lingkungan VII di sekitar Titi Gantung yang dikoordinir oleh Muslim, Lingkungan V dipasang di Jalan Mawar yang dikoordinir oleh Aidal Fitri. (adl)

Mengaku Kawin Siri, Sebar Seribu Undangan

Pernikahan Ganjil 11-11-11, Pengantin Pria Diapit Dua Perempuan

Momen istimewa Jumat (11-11-2011) lalu dimanfaatkan Mujiono untuk melangsungkan resepsi pernikahan. Menariknya, warga Desa Lugosobo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu duduk di pelaminan bersama dua perempuan. Inilah kisah yang tak biasa itu:

HENDRI UTOMO, Purworejo

UMUR Mujiono tak lagi muda, 43 tahun. Karena itu, ketika kemarin dia duduk di pelaminan, sejumlah tamu yang hadir dalam acara resepsi pernikahannya bergunjing. Apalagi, Mujiono duduk di pelaminan bersama dua perempuan.
Dua perempuan itu adalah Siti Roisah (38) asal Madiun, Jawa Timur, dan Arieni Yuliastuty (35) warga Desa Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Di pelaminan, wajah Mujiono tampak sumringah. Dia seperti tak mempedulikan gunjingan para tamu yang datang dalam acara resepsi pernikahan tersebut. Wajah sumringah juga terlihat pada dua pengantin perempuan yang sama-sama mengenakan baju pernikahan adat Jawa itu. “Kami benar-benar nggak habis pikir, bagaimana pernikahan seperti ini bisa terjadi,” ujar salah seorang tamu undangan yang datang. Dia mengaku sebagai tetangga dekat Mujiono. “Banyak tamu di sini yang ngrasani (menggunjing) dia (Mujiono),” imbuhnya.

Bagi warga Purworejo, pernikahan dengan tiga mempelai memang baru terjadi kemarin di rumah Mujiono, kompleks perumahan Bhayangkara, Desa Lugosobo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Pagi itu, jarum jam menunjuk pukul 09.00. Satu per satu tamu berdatangan. Mereka dihibur permainan musik keyboard.

“Untuk menggelar acara ini, saya menyembelih kambing sendiri dan mengolah daging ayam lebih dari satu kuintal. Saya telah menyebar sekitar seribu undangan,” kata Mujiono kepada Radar Jogja (grup Sumut Pos), Jumat (11/11).
Dia mengungkapkan, acara yang dihelatnya itu disebut resepsi membangun pernikahan. “Ceritanya, sebelumnya, saya nikah siri dengan Arieni dan baru hari ini kami rayakan,” jelasnya.

Bagaimana dengan pengantin perempuan lainnya (Siti Roisah)?  “Karena Siti Roisah sudah akur dengan Arieni dan mau saya nikahi, sekalian saya ajak nikah siri. Jadi, kami bertiga duduk di pelaminan. Supaya adil lah,” tambah Mujiono santai.

Belakangan diketahui, sebelum menggelar penikahan dengan dua perempuan itu, Mujiono ternyata masih berstatus suami Karinem, warga Suren, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Bahkan, dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak.

“Jadi, pernikahan dengan Arieni itu merupakan pernikahan kedua saya (secara siri) dan Siti Roisah ini mau saya jadikan istri ketiga saya,” ungkapnya ketika dikonfirmasi.

Lebih lanjut Mujiono menjelaskan, pernikahan kali ini sengaja dihelat untuk menghindari pergunjingan orang. Sebab, sebelumnya dia sempat dituduh kumpul kebo. Mujiono juga ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berlaku adil.
Dari cerita beberapa tamu yang hadir, Radar Jogja mendapat informasi bahwa Siti Roisah masih berstatus istri orang. Yakni, istri Harun, warga Kutoarjo, Purworejo. Meski keduanya sedang dalam proses cerai, hingga kemarin putusan dari pengadilan agama belum turun.

Harun yang dikonfirmasi secara terpisah mengungkapkan, dirinya memang belum resmi bercerai dari Siti. Karena itu, secara hukum, Siti masih berstatus istrinya. Dia mengakui, perjalanan rumah tangganya yang telah diberi tiga anak itu memang sudah di ujung tanduk.

“Saya menikah dengan Siti pada 1994. Untuk proses cerai, kami baru sidang dua kali,” ujarnya.
Dia lantas menyebut pernikahan Siti dengan Mujiono hanya akal-akalan. “Istri saya kenal Mujiono di pasar. Dia (Mujiono) itu supir Kopada (sejenis angkutan kota),” kata Harun.

Dia menceritakan, hubungan rumah tangganya dengan Siti retak karena memang sudah tidak ada kecocokan. “Siti sering berkata kasar. Dia juga sering pulang malam dengan alasan kondangan. Kadang sering pinjam uang di bank tanpa memberi tahu saya,” tuturnya.

Kesaksian lain diungkapkan Ketua RT 02 RW 03, Desa Lugosobo, Sabikis (37). Menurut dia, terkait dengan perhelatan di rumah Mujiono, tuan rumah sudah langsung menghubungi Polsek Gebang. “Karena itu, kami sendiri lepas tangan karena sudah ada yang lebih berwenang mengamankan prosesi itu,” jelasnya.

Dia menyatakan, Mujiono memang mengaku telah menikah siri dengan Arieni. “Kapan nikahnya, saya tidak tahu persis. Tapi, intinya, dulu memang pernah menikah siri. Untuk istri ketiganya (Siti Roisah), putusan cerainya dengan suami terdahulu baru pada 27 Desember mendatang,” bebernya.

Dia memastikan, tidak ada ijab kabul antara Mujiono dan istri ketiganya (Siti), meski secara siri.
Hal itu diakui Mujiono. “Saya hari ini (kemarin, Red) sebetulnya akan menikahi Siti. Pak kiai yang menikahkan saya sudah datang tadi pukul 06.00. Pak kiai bilang, kalau wali dari Siti berani datang, akan dinikahkan. Tapi, ternyata walinya tidak datang,” jawab Mujiono enteng.

Dia juga tahu bahwa putusan cerai Siti baru keluar pada 27 Desember 2011. Tapi, mengapa pada resepsi pernikahan itu ada dua perempuan di pelaminan? “Saya nazar, pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, saya ingin membuatkan pesta pernikahan untuk Arieni. Supaya adil, sekalian Siti saya ajak,” katanya lantas tersenyum.

Ditanya secara terpisah, Arieni menilai, Mujiono adalah figur yang adil. Hal itulah yang membuat dirinya ikhlas, meski harus berbagi suami dengan Siti. Arieni kini bahkan sudah menganggap Siti seperti adik sendiri kendati usianya lebih tua.

“Saya ikhlas hidup serumah (dengan Siti). Kami juga selalu bersama dalam kesempatan apa pun. Termasuk, kalau papa mau ke istri pertamanya (Karinem) ke Suren, kami bertiga ikut diajak. Biasanya papa naik motor sendiri, kami berboncengan berdua. Tidak mau kalau hanya satu saja yang dibonceng. Pokoknya, papa selalu adil terhadap kami. Saya sendiri memanggil Siti diajeng, Siti manggil saya mbak,” ungkap Arieni. (*)

Negara Mau PLN Garap PLTA Asahan III

Kontraktor Asing Sudah Keluarkan Dana

JAKARTA- Berlarut-larutnya masalah  izin lahan proyek PLTA Asahan III juga mendapat perhatian khusus dari Komisi VII DPR. Komisi yang membidangi masalah energi ini sudah lama menunggu ada penyelesaian masalah ini, namun hingga mendekati pengujung 2011 masih nihil juga.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Sutan Batoegana mengatakan, sudah saatnya komisi VII DPR langsung terlibat dalam upaya menyelesaikan ganjalan proyek setrum  2×87 MW ini. Menurut Sutan, sumber persoalan yang menyebabkan buntunya masalah ini adalah adanya dua pihak yang sama-sama ngotot, tidak ada yang mau mengalah.

“Ini kan soal tanah yang jadi lahan. Pemda sudah membebaskan satu tempat untuk kontraktor yang lama itu yang bersama kontraktor dari China (PT Bajradaya Swarna Utama dan China Huadian Corporation/CHD, red). Tapi, PLN mau mengerjakan juga. Dan, negara maunya juga PLN yang mengerjakan. Ini masalahnya,” ujar Sutan Bathoegana kepada Sumut Pos di Jakarta, Minggu (13/11).

Sutan mengatakan, bagaimana pun, kontraktor yang lama sudah mengeluarkan dana. “Yang lama sudah keluar dana, tapi negara maunya PLN. Terus bagaimana? Maka harus dicarikan jalan tengah,” cetus Sutan.

Komisi VII DPR, kata Sutan, akan mendorong agar proyek ini dikerjakan PLN tapi kontraktor lama itu tetap dilibatkan. “Kasih sahamnya sedikit. Yang mayoritas tetap PLN,” kata Sutan. Dia mengatakan, tawaran ini nantinya akan disampaikan ke PLN lewat forum resmi di dewan.

Tanggapan lain keluar dari Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga. Persis dengan Sutan, dia pun menganjurkan jalan tengah. “Plt Gubsu bisa mengajak pihak PLN untuk duduk bersama mendiskusikan masalah ini. Apa yang menjadi kendala dan solusi apa yang bisa dilakukan,” jelasnya di Medan, Minggu (13/11).

“Dengan PLN yang saat ini sudah jauh lebih baik dan memiliki kemampuan yang cukup terukur, sudah barang tentu proyek ini tak perlu ditunda-tunda lagi,” tambahnya.

Menurut politisi Partai Golkar ini, Gatot harus mengambil sikap cepat dan sigap.

“Jangan jadi menimbulkan pemikiran-pemikiran negatif kepada masyrakat. Jangan ada dakwa sangka maupun praduga yang muncul, karena itu, Plt Gubsu harus menyegerakan pemberian izin pelaksanaan proyek PLTA Asahan III ini,” tutur Chaidir.

Dia menjelaskan, sebagai wakil rakyat, yang terpenting adalah bagaimana masyarakat bisa menikmati listrik tanpa ada kendala dan hambatan lagi seperti sebelum-sebelumnya.

“Yang penting PLTA ini segera terealisasi pengerjaannya. Jangan dibuat masyarakat berpikir ada permainan tarik-menarik antara pihak swasta dengan pemimpin daerah. Bagi kita rekomendasi izin ini baik masih di pihak swasta maupun sudah di tangan Plt Gubsu, sebaiknya proyek tersebut disegerakan,” ujar Chaidir.

Sebelumnya, anggota DPD RI Parlindungan Purba mengharapkan Gatot mengambil sikap terkait izin PLTA III. Dan, Manajer Proyek Asahan III Robert Aprianto Purba menyayangkan sikap Plt Gubsu yang hingga saat ini belum memberikan izin.

“Pemberian izin lokasi kepada PT Bajradaya Swarna Utama yang keluar tahun 2008 sudah berakhir pada Maret 2011 lalu. Nah, sesuai Perpres No 4 tahun 2010 dan Permen ESDM No 2 Tahun 2010, pemerintah menunjuk PLN langsung untuk membangun PLTA Asahan III. Tapi sampai saat ini, Plt Gubsu Gatot belum juga memberikan izin. Kami tidak tahu apa alasannya. Padahal, PLN telah memberikan surat permohonan izin lokasi PLTA Asahan III kepada Gubsu sebanyak 17 kali, sejak tahun 2004 hingga terakhir pada 28 Maret 2011,” tegas Robert. (sam/saz)