27 C
Medan
Sunday, April 5, 2026
Home Blog Page 14552

Disuruh Pulang Malah Menganiaya

Tak senang disuruh pulang, Zainal Tarigan (29), warga Desa Sei Glugur, Kecamatan Pancurbatu, menganiaya Lindawati (29), warga yang sama. Akibatnya, Linda mengalami memar di wajah dan mengalami sakit di bagian tubuhnya karena tubuhnya dibanting ke lantai sebanyak dua kali.

Kejadian ini terjadi di salah satu kafe di Desa Sei Gelugur, Pancurbatu, Deli Serdang, Senin (31/10) pagi pukul 06.00 WIB. Saat itu Linda baru bangun tidur dan mendapati Zainal masih tertidur di salah satu kamar di kafe tersebut.
Lantas Linda membangunkan Zainal dan menyuruhnya pulang. Pasalnya, pada hari sebelumnya, istri Zainal menemui Linda dan meminta kepada Linda agar menyuruh Zainal pulang ke rumahnya, karena sudah beberapa hari tak pulang dan selalu tidur di kafe itu.

Zainal yang baru terbangun tak senang disuruh pulang dan dia pun membentak Linda. Akhirnya pertengkaran pun terjadi. Sangkin emosinya, Zainal menarik kerah baju Linda. Tak mau kalah, Linda pun memberi perlawanan sehingga keningnya sempat terbentur meja. Tak sampai di situ, Zainal menangkap Linda dan membantingkannya ke lantai sebanyak dua kali. Belum puas, Zainal juga sempat melayangkan tinjunya ke wajah Linda hingga mengalami memar.
Tak senang dianiaya, Linda lantas membuat pengaduan ke Polsekta Pancurbatu. Kapolsek Pancurbatu AKP Ruruh Wicaksono Sik SH MH melalui Kanit Reskrim Iptu Gunawan SH yang mendapat pengaduan itu kini tengah melakukan penyelidkan atas kasus tersebut.(roy/smg)

Dua Kepsek Bertengkar di Ruang Guru

Buntut Mutasi Kepsek

BINJAI- Bunut mutasi kepala sekolah (Kepsek) dilakukan Wali Kota Binjai HM Idaham, beberapa waktu lalu, ternyata menjadi boomerang bagi para kepala sekolah dan dunia pendidikan Kota Binjai. Pasalnya, terjadi perebutan hak dan wewenang sebagai Kepsek antara Kepsek lama dan baru di SD Negeri No 024761, Rabu (2/11).

Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan Sumut Pos di SD yang terletak di Jalan MT Haryono, Kelurahan Kebun Lada, Kecamatan Binjai Utara itu menyebutkan, pertikaian Kepsek yang lama dan baru tersebut dipicu dari kedatangan Kepsek baru mengambil dokumen sekolah secara paksa di ruangan guru.

Hamidah Ermiati, Kepsek SD lama, kepada sejumlah wartawan mengaku, sebelum pertikaian itu terjadi, seorang guru yang mengaku Kepsek baru datang ke sekolah SD yang menurutnya masih dibawah pimpinannya.
“Saya belum menerima SK keluar dari sekolah ini. Sehingga, saya masih berhak menjabat sebagai Kepsek. Tapi, guru itu datang dan langsung masuk ke ruang guru sambil marah-marah dan mengambil berkas dokumen guru secara paksa,” ungkap Hamidah Ermiati.

Lebih jauh dikatakannya, kedatangan guru yang mengaku Kepsek baru tersebut, juga secara tiba-tiba. “Waktu itu saya sedang berada di ruang kepala sekolah. Tiba-tiba saja dia masuk ke ruang guru dan marah-marah. Sudahlah marah-marah, dengan enaknya saja mengambil dokumen resmi milik guru di SD ini,” kesal Hamidah.

Selain itu sambungnya, guru yang mengaku Kepsek baru tersebut, juga meminta dirinya mengganti fasilitas sekolah. “Sampai saat ini status Kepsek belum jelas. Tapi dia sudah menyuruh saya agar menganti semua fasilitas yang ada di ruang guru dan mengganti struktur organisasi guru,” ungkapnya.

Hamidah juga menegaskan, selama belum ada serah terima jabatan, dia tidak mau pindah ke sekolah lain sesuai mutasi yang sudah dilakukan Wali Kota Binjai, HM Idaham, beberapa waktu lalu.
“Saya tidak mau pindah dari sekolah ini. Karena saya belum pernah menerima SK Wali Kota Binjai atau SK Dinas Pendidikan Pemko Binjai untuk turun dari jabat kepala sekolah. Selama belum keluar SK, saya masih sah menjabat kepala sekolah di SD ini,” tegasnya.

Pantawan wartawan Sumut Pos di SD Negeri tersebut, akibat pertikaian Kepsek yang lama dan baru itu, aparat kepolisian Polres Binjai juga langsung turun ke sekolah. Hanya saja, saat petugas datang Kepsek yang baru sudah beranjak dari sekolah dan pertikaian juga sudah terhenti.

Akibat pertikaian kepala sekolah ini, aktivitas belajar mengajar juga sempat terhenti. Puluhan murid beranjak dari tempa duduknya melihat keributan yang terjadi di ruang guru dari depan pintu kelas mereka masing-masing.(dan)

Sindikat Penipuan Mobil Rental Ditangkap

KARO- Jaringan penipuan mobil rental ditangkap Sat Reskrim Polsekta Berastagi bekerja sama dengan Poltabes Medan. Dua dari tiga tersangka utama, ditangkap  dari tempat terpisah, sementara satu orang lainnya masih dalam pengejaran.
Sesuai keterangan Kapolsekta Berastagi, Kompol Sufiyatno, kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Rabu (2/11) menjelaskan, dalam menjalankan aksinya, jaringan penipuan mobil rental tersebut menggunakan modus operandi baru, dengan membuat CV, guna meyakinkan pemilik mobil di sekitar Kota Berastagi.

Yakin penyalur jasa rental memiliki perusahaan resmi, sejumlah pemiliki kenderaan percaya mobilnya di rentalkan kepada tersangka dalam jangka waktu tertentu. Tetapi dalam prakteiknya, uang rental mobil tidak disetorkan tersangka hingga beberapa bulan. Bahkan para tersangka melarikan diri.

Karena tersangka menghilang dan putus komunikasi dengan pemilik mobil, sejumlah pemilik kenderaan akhirnya mengambil inisiatif melakukan pencarian secara pribadi, dan membuat laporan ke polisi. Dari sekitar enam pemilik kenderaan, ada satu orang yang membuat pengaduan ke Polsekta Berastagi.

“Bekerjasama dengan jajaran kepolisian di luar Polres Tanah Karo, akhirnya kita mendapati titik terang. Ternyata satu dari tiga tersangka tersangkut kasus hukum di Poltabes Medan. Dari kawasan Deli Serdang, tersangka Edi Santoso (35) warga Kampung Asam, Berastagi, berhasil ditangkap  dan kemudian dibawa Polsekta Bersatgai,” ujar Sufiyatno.

Dari hasil pemeriksaan terhadap Edi Santoso, dia mengaku pada  tanggal 10 Juli 2011, meminjam satu unit mobil jenis Avanza nopol BK 1046 SE milik M Indra, warga Jalan Kolam, Berastagi. Namun Edi Santoso dan dua rekannya Supriyanto dan Purwanto, lalu menyewakan mobil kepada seorang dokter, yang bekerja di Puskesmas Simanyaman, Aek Kanopan, berinisial dr HP.

Khusus dalam kasus ini, Edi Santoso, merentalkan mobil tanpa sepengetahuan Indra senilai Rp8 juta untuk 6 bulan masa pakai. Selain itu, tersangka juga meminta uang jaminan mobil kepada dokter tersebut Rp30 juta. Dimana sesuai perjanjian, Edi dan kawan kawan akan mengembalikan uang jaminan setelah rentang waktu penyewaan mobil telah habis.

Keterangan Edi menyebutkan, adanya kerjasama dengan dua rekannya, membuat polisi segera menangkap Supryanto. Tersangka diciduk polisi di rumahnya, Pasar VII Tembung, Senin ( 31/10) sekira pukul 21.00 WIB. Sementara Purwanto masih diburon petugas. Sementara, dr Herry Pasaribu masih diamankan di Polsekta  Berastagi terkait dugaan penadahan.
Kapolsekta Berastagi, Kompol Sufiyatno didampingi Kanit Reskrim Iptu Rudi Hartono mengatakan, atas perbuatannya Edi dan kawan-kawan dikenakan pasal 372 KUHPidana. (wan)

Sempat Bangkrut, Bangkit karena Filosofi Kaca Spion

Mohammad Baedowy, dari Auditor Bank menjadi Pengusaha Sampah yang Sukses

Awalnya, pekerjaan Mohammad Baedowy cukup mentereng: auditor sebuah bank yang sangat mapan. Ketika karirnya menanjak, dia memutuskan untuk keluar. Dia memilih menjadi pengusaha sampah. Kini usahanya menjadi bosnya para pemulung itu kian maju.

Sugeng Sulaksono, Jakarta

SEHARI-hari Baedowy berkantor di sebuah bangunan yang luasnya sekitar 100 meter persegi. Bangunan yang dilengkapi AC itu terletak agak tersembunyi di antara tumpukan botol oli bekas, botol minuman, botol shampo, dan berbagai sampah plastik.

Bangunan tersebut berdiri di atas lahan seluas total seribu meter persegi, di kawasan Desa Cimuning, Bekasi Timur. Di tempat itulah, Baedowy meraup rezeki di bawah bendera CV Majestik Buana Group.
Kantor yang ditempati Baedowy itu tentu saja tak sementereng kantornya sebelumnya. Yakni, ketika dia masih menjadi auditor di Royal Bank of Scotland (RBS) yang berlokasi di kawasan elite Jakarta.
“Sekarang saya lihat teman-teman yang masih bertahan di bank tersebut. Saya tanya mobilnya apa dan gajinya berapa. Setelah tahu, saya bersyukur. Berarti keputusan saya keluar
dari bank itu sudah benar. Sebab, pencapaian saya sekarang jauh dari mereka,” paparnya. “Saya punya driver. Mobil ada beberapa, dan rumah sangat baik,” ucap pria kelahiran Balikpapan, 2 Mei 1973, itu.
Dia lantas menceritakan mengapa memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai auditor. “Saya menyadari bahwa kita bekerja baik pun tidak lantas berbanding lurus dengan prestasi dalam reward gaji,” ucapnya.
Akhirnya, setelah dipikir secara masak, Baedowy memutuskan untuk keluar dari tempatnya bekerja. Dia bekerja di RBS sejak 1997, setelah setahun lulus kuliah di Malang. “Jadi, saya bekerja di RBS hanya tiga tahun. Pada 2000 saya keluar,” ujar lulusan Universitas Merdeka Malang ini.

Di tempat kerja sebelumnya itu, Baedowy sebenarnya berprestasi. Dia bahkan dijuluki rising star karena dianggap berprestasi ketika usianya masih muda, sekitar 24 tahun.
Meski begitu, tekadnya untuk berwirausaha sudah bulat. Karena itu, dia memberanikan diri untuk berpamitan kepada bosnya. “Ketika saya berhenti, bos saya waktu itu bilang, asal kamu tahu ya, orang kayak kamu inilah yang nggak akan bisa sukses. You are so young, very emotional. Ingat kata-kata saya, kamu tidak akan bisa sukses. Kamu tidak sabaran,” papar Baedowy mengenang perkataan bosnya. Dia hanya ingat bahwa itu hari Kamis, pada pengujung 2000.
Menyandang gelar mantan karyawan, Baedowy sempat kebingungan. Dia mulai banyak berpikir harus berbisnis apa. Bayangannya saat itu, jika bisnis makanan, ada risiko basi. Buah-buahan risikonya busuk, tanaman ada hama, dan peternakan bisa mati.

Meski begitu, akhirnya dia nekat juga berbisnis ternak jangkrik. Dia pun merombak salah satu kamar di rumahnya. Tetapi, giliran musim panen tiba, bukannya bertambah, populasi ternaknya malah susut. “Mungkin kanibal atau apa saya tidak paham,” kisahnya.

Suatu saat dia melihat ada seorang pengusaha sampah. Dia punya mobil sedan untuk istrinya dan punya mobil Kijang. “Padahal, dia hanya lulusan SD,” tutur Baedowy.
Dia akhirnya bekerja dengan pengusaha sampah itu, sekaligus menggali ilmu dari lulusan SD tersebut. Dalam beberapa bulan, Baedowy merasa bisa membuka usaha sendiri. Untuk itu, dia memutuskan menyewa lahan. Kantornya saat itu hanya berdinding gedek. Dia pun memberanikan diri membeli mesin penggiling sampah.

Problem pertama, mesin bekas yang dia beli itu rusak. Pihak penjual tidak bisa membetulkannya. Ketika pengepul lain diminta tolong, mereka tidak mau mengajarkan bagaimana cara memperbaiki mesin penggiling sampah. “Akhirnya saya mencoba membetulkan mesin ini sendiri selama setahun. Saya bawa ke tukang besi dan las bubut,” kenangnya.
Gara-gara mengerjakan sendiri perbaikan mesin penggiling sampah itu, Baedowy jadi tahu seluk-beluk mesin. Dia bahkan sanggup mendesain mesin sendiri dengan mempelajari kesalahan dari mesin yang ada. Namun, saat itu modalnya semakin tipis.

Tepat setahun sejak membuka usaha sendiri, dia bangkrut total. Harta tinggal kontrakan rumah, sebuah kipas angin, dan TV. “Kipas angin itu satu buah, kalau saya terima tamu di pabrik, saya bawa kipas itu ke pabrik. Kalau pulang, ya bawa pulang lagi karena ditagih anak. Sebab, waktu itu anak saya sudah dua,” kata ayahanda Muhammad Fahrezi Fatahillah (14), M Fahrehan Fatahillah (12), dan M Fahrezi Husaini (9).
Dalam keadaan bangkrut, orangtua Baedowy dari Balikpapan datang. Kebetulan orang tuanya dari kalangan mampu. Begitu pula mertuanya yang kini tinggal di Malang. Baik orangtua maupun mertua Baedowy saat itu meminta agar pabrik dijual saja. “Waktu itu saya manut. Pabrik pun saya jual,” ucap suami Ririn Sari Yuniar itu.

Selama ditawarkan, tak ada yang mau membeli pabrik Baedowy. Lamanya hampir tiga bulan. Saat itu Baedowy juga sudah berancang-ancang untuk melamar pekerjaan.
“Tapi, belakangan saya sadari bahwa itu sebagai kesalahan. Kesalahan saya, menyesali keputusan masa lalu itu salah. Masa lalu itu kaca spion. Cukup sekali dilirik, tapi jangan kelamaan, nanti jadi nabrak,” paparnya.
Saat itu Baedowy masih bertahan di rumah kontrakan. Istri dan kedua anaknya (waktu itu) dipulangkan ke Malang. Sebab, uangnya semakin tidak memungkinkan karena dia bersikukuh untuk tidak mau meminta bantuan dana kepada orangtua.
“Waktu bangkrut, saya menangis dan berdoa. Di atas tempat tidur saya menangis sambil bilang, sempatkan saya bisa ya Allah, Kalau saya bisa, saya janji saya akan mengajari siapa pun yang ingin bisa,” kisahnya.
Pada saat uangnya semakin tipis itu, Baedowy yang kebetulan aktif di sebuah pesantren di Bekasi Timur didatangi seorang kiai yang meminta bantuan dana karena harus ada peletakan batu pertama pembangunan pesantren dan akan dihadiri wali kota.

“Saya tahu mereka butuh banget uang untuk membeli semen atau batu. Akhirnya saya kasihkan sisa uang yang ada, walaupun tidak semua,” ujarnya.
Namun, akhirnya dia menyadari bahwa efek sedekah itu luar biasa. Dia lantas meneruskan bisnis itu dengan modal mobil pick-up. Baedowy kembali belajar kepada pengepul besar. “Saya nongkrong saja di sekitar sana,” ujarnya.
Dari hasil nongkrong itulah Baedowy mendapat banyak pelajaran. Dia akhirnya bisa mendapatkan ilmu baru, bagaimana cara menetapkan harga agar disenangi para pemulung. “Kalau pengepul lain menerima dengan harga Rp1.500 per kilogram, saya berani menerima dengan harga Rp1.700. Akhirnya, para pemulung lebih suka menjual kepada saya,” ceritanya. Sejak saat itu usaha Baedowy mulai bangkit.

Kini Baedowy bukan sekadar menjadi penadah, tetapi juga pembuat mesin dan menjualnya kepada mitra. Mekanismenya mirip franchise. Sebab, selain diberi pelatihan setelah membeli mesin darinya, hasil penggilingan mitra bisnis juga ditampung.

Mitra Baedowy saat ini sudah lebih dari 100. Mereka tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, sampai ke Aceh. Bijih plastik hasil olahannya diekspor, terutama ke Tiongkok. “Pasarnya sangat besar. Kita tidak akan bisa memenuhi permintaan pasar,” akunya.

Usahanya juga berbuah banyak penghargaan. Di antaranya juara 1 pemuda pelopor tingkat nasional 2006. Dia juga menjadi tokoh terbaik pilihan majalah Tempo, Soegeng Sarjadi Awards on Good Governance, piagam penghargaan Kalpataru 2010, dan juara 1 wirausaha terbaik Indonesia versi Dji Sam Soe Awards.

Kini, Majestik Buana Group juga terbilang sukses. Di bawahnya ada Majestik Buana Cemerlang untuk penggilingan sampah plastik, mencari bahan baku, menggiling, dan mengeringkan sampah. Majestik Buana Cipta Kreasi bertugas mengkreasi mesin-mesin daur ulang sampah, mesin injeksi, blowing, dan kompos. Majestik Buana Cipta Guna membuat kepala sapu ijuk, celengan, dan sebagainya. Majestik Buana Cipta Selaras sebagai divisi nonprofit, menyelaraskan kepentingan para mitra.

Baedowy menerapkan prinsip keterbukaan kepada sekitar 30 karyawannya. Termasuk soal keuangan. “Nanti, usia saya 45 tahun kan pabrik ini punya karyawan, saya kasihkan karyawan. Itu obsesi saya. Nanti saya tidak akan mayoritas memiliki ini. Kan sekarang pemilik tunggal. Nanti saya 10 persen. Sisanya 90 persen untuk karyawan, dibagi proporsional menurut masa kerja dan jabatannya,” jelasnya. Tujuannya, untuk mengukur kesetiaan dan rasa memiliki. (*)

Masuk Babak Delapan Besar, Hadapi Promosi-Degradasi

Kompetisi Pengcab PSSI Deli Serdang

LUBUK PAKAM- Kompetisi Pengcap PSSI Deli Serdang sudah memasuki babak delapan besar. Persaingan kian ketat karena akan mempertaruhkan posisi, apakah promosi atau degradasi.
Wakil Ketua Pencab PSSI Bidang Pertadingan, Nurhady NP didampinggi Ketua Bagian pertadingan dan kompetisi, Jamil ketika ditemui di stadion Baharuddin Siregar, Rabu
(2/11) menjelaskan hal itu. Pertandingan ini merupakan lanjutan dari babak penyisihan yang telah digelar sejak tanggal 17 September silam.

Kompetisi ini menggunakan sistem setengah kompetisi, dan digelar bersama digelarnya divisi utama yang diikuti 24 klub dan divisi satu 30 klub. Saat babak penyisian divisi utama terdiri 4 grup, divisi satu 6 grup. Khusus divisi satu telah melalui babak 16 besar.

“Digelarnya secara bersamaan kompetisi ini, karena mempertimbangkan waktu serta biaya yang ditanggung Pengcab PSSI,” kata Nurhady.
Secara terpisah ketua PSSI Pengcab Deli Serdang, Mikail TP Purba, menjelaskan klub yang berlaga di divisi utama bakal terdepak ke divisi satu bila berada di posisi 4-5. Sementara sebaliknya, klub yang berada di babak delapan besar di divisi satu bakal masuk divisi utama untuk tahun depan. “Kompetisi ini merupakan ajang pembinaan, makanya dibuat dengan sistem berjenjang. Tidak ada kompromi, bila klub yang kalah siap- siap tersingkir,”tegasnya. (btr)

Hasan Basri Layak Dicopot

Dinilai Langgar Juknis PSB 2011

MEDAN- Komisi B DPRD Kota Medan kembali mengingatkan Pimpinan Dewan untuk segera menindaklanjuti rekomendasi mereka ke Wali Kota Medan. Apalagi dikabarkan, Hasan Basri termasuk salah satu dari tujuh kadis yang bakal dimutasi.
Ketua Komisi B DPRD Medan Roma P Simaremare mengatakan, Hasan Basri memang layak dicopot karena sudah melanggar petunjuk teknis (Juknis) Penerimaan Siswa Baru (PSB) 2011 yang sudah ditetapkan. “Kita sudah mengajukan rekomendasi untuk pencopotan Kadisdik Medan, harusnya ini segera direalisasikan. Apalagi dia telah melanggar Juknis PSB yang sudah ditetapkan,” katanya.

Sementara pengamat pendidikan Usman Pelly meminta Wali Kota Medan segera menindak Kadis Pendidikan Kota Medan terkait PSB 2011 yang terkesan amburadul itu. “Jangan sampai masalah ini membuatn
anak-anak (pelajar, Red) gelisah dalam menuntut ilmu. Untuk itu, saya meminta kepada Wali Kota Medan harus segera bertindak untuk mencari kebenaran,” kata Usman Pelly selaku pengamat pendidikan, Rabu (2/11).
Dikatakanya, dirinya sangat prihatin dengan para siswa yang masuk melalui jalur gelap. Apalagi, anak-anak itu sudah mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan jangan sampai mereka dicap sebagai penumpang gelap.
“Maunya mereka jangan dicap dengan kata-kata seperti itu, karena itu bukan salah mereka. Padahal, mereka yang lebih besar membayar dari pada anak lainnya,” cetusnya.

Dengan begitu, sesuai dengan aturan yang berlaku atau SOP, yang bersalah harus ditindak. “Kalau anak-anak yang dicap sebagai siswa siluman itu tak adil, karena anak-anak ini akan menjadi traumatik,” ungkapnya.
Sebenarnya, lanjut Pelly, adanya kelas siluman atau penumpang gelap di sekolah negeri tersebut tak lepas dari peran pejabat Kota Medan secara berjamaah. “Saya hanya prihatin agar masalah ini jangan dilimpahkan kepada anak-anak. Karena dari banyakanya anak-anak yang masuk dari kelas siluman, pasti dari sebahagian dari mereka ada yang pintar. Tapi jangan mereka dianggap lagi siswa siluman karena itu tidak mendidik,” jelasnya. (adl)

Camat Terapkan Sistem Jam per Jam

Disdukcapil Sidak Pelayanan e-KTP ke Kecamatan

MEDAN- Peringatan dari Wali Kota Medan Rahudman Harahap tampaknya membuat Kadis Kependudukan dan Catatan Sipil Darussalam Pohan kepanasan. Karenanya, kemarin (2/11), dia melakukan sidak ke beberapa kecamatan untuk mengetahui perkembangan dan kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program e-KTP.

Dari sidak tersebut, dia menilai, pelaksanaan pelayanan e-KTP sudah mengikuti standar operasional prosedur (SOP), terutama soal lamanya antrean dengan menerapkan sistem jam per jam.
Sidak tersebut diawalinya dari Kecamatan Medan Polonia. Di sana dia melihat, setiap warga dilayani selama tiga menit. Jadi dengan dua alar yang ada, petugas kecamatan sudah melayani 150 orang dari 210 warga yang diundang setiap hari. “Kalau untuk warga yang masih muda, untuk entri datanya tidak terlalu lama, hanya tiga menit saja. Yang agak lama kan orangtua lanjut usia yang memakan waktu sampai enam menit,” kata Camat Medan Polonia, Ody Dody, Rabu (2/11).
Dikatakan Ody, dalam satu hari pihaknya bisa melayani e-KTP hingga 285 orang. Berarti perhitungannya dalam satu jam ada 15 orang yang dilayani mulai pukul 08.00 WIB. “Kalo ada yang tidak datang sesuai jam undangan, akan diundur ke jam berikutnya lagi disesuaikan dengan waktu yang ada,” katanya.

Dijelaskannya, total penduduk wajib e-KTP di Medan Polonia tercatat 53.000 orang. Dimana, hingga 26 hari pelaksanaan, total sudah 6.200 orang yang sudah melakukan entri data. Dengan begitu, untuk warga yang belum terdaftar dalam database akan kembali didata setelah selesai wajib e-KTP yang sudah di database.

“Kalau untuk warga yang belum terdaftar, atau kita bilang pendatang dari kampung akan kita layani juga. Tapi setelah selesai melayani wajib e-KTP yang sudah terdaftar,” cetusnya.
Hal yang sama juga dilakukan di Medan Johor. Di kecamatan ini, satu jam bisa dilayani 30 orang dengan perkiraan paling lama empat menit satu orang. “Total dalam satu hari bisa dilayani lebih kurang 160 orang. Selama tujuh hari pelaksanaan ada 1.267 orang yang sudah mengentri data dari total 119.299 wajib KTP,” jelas Pelaksana Harian Camat Medan Johor, Khoiruddin Rangkuti seraya mengatakan, pihaknya pernah melayani masyarakat hingga pukul 23.30 WIB.
Begitu juga pada Kecamatan Medan Tuntungan. Di sini sudah dilayani 13.153 jiwa dari 77.000 wajib KTP. Camat Gelora K P Ginting mengatakan, sistem jam per jam dinilai cukup efektif menghindari penumpukan. Satu hari lebih kurang 300 orang yang diundang untuk entri data.

Sementara, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Medan Darussalam Pohan mengatakan, seluruh kecamatan sudah diminta menerapkan sistem jam per jam untuk menghindari penumpukan. “Masyarakat diundang dengan jadwal waktu yang telah ditentukan jadi hendaknya ditaati agar pelaksanaan program ini berjalan baik,” bebernya.
Dikatakannya, sejauh ini sistem jam per jam mampu menekan jumlah penumpukan. Meskipun kadang masih ada antrian yang disebabkan karena masyarakat tidak hadir sesuai undangan.
“Karena kadang diundang hari ini pada jam tertentu, tidak datang. Baru datang lagi beberapa jam kemudian atau besok hingga lusa. Itu menyebabkan penumpukan karena datang bersamaan dengan undangan yang dibagikan untuk datang pada hari tersebut,” bebernya.(adl)

TNI AL Upayakan Diplomatik

BELAWAN- TNI AL terus melakukan langkah diplomatik dengan Malaysia, terkait maraknya kasus penangkapan nelayan tradisional Indonesia oleh tentara laut negara tetangga tersebut.
Menurut Danlantamal-I Laksamana Pertama TNI Bambang Soesilo, masalah penangkapan nelayan tradisional, tidak layak dilakukan Malaysia. Sebenarnya cukup diusir saja, mengingat masalahnya sangat sederhana karena para nelayan tersebut terbatas dalam peralatan navigasi.

Hal itu disampaikan Danlantamal-I seusai upacara Serahterima jabatan (sertijab) Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Tanjung Balai Asahan dari Letkol Laut (P) R Firman Nugraha W kepada Letkol Laut (P) Retiono Kunto H SE, di Mako Lantamal-I Belawan, Rabu (2/11).

Tentunya, sambung Bambang, dalam mengatasi permasalahan nelayan tradisional ini, pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan unsur terkait lainnya seperti Guskamla dan Guspurla.
Danlantamal-I juga memaparkan, TNI telah siap melakukan pengamanan di periaran dari berbagai ancaman baik dari dalam dan luar negeri termasuk para nelayan. Namun saat ini kendalanya masih keterbatasan alutsista.(ril/smg)

Tiflatul Husna Juara Lomba Puisi Disbudpar

MEDAN- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan menggelar Lomba Puisi/Penyair dalam kategori cipta dan baca puisi di Taman Budaya Sumatera Utara, 22 hingga 23 Oktober 2011 lalu. Ajang baca puisi yang diikuti 150 peserta dari kalangan umum, pelajar dan mahasiswa ini merupakan program tahunan yang diselenggarakan Disbudpar Kota Medan.

Dalam lomba baca puisi/penyair ini dewan juri yang terdiri dari Afrion, Zuliana Ibrahim, Wahyu Wiji Astuti, Budiah Sari Siregar, Sartika Sari serta 20 juri Portlok menetapkan 6 pembaca terbaik yaitu  Juara I Tiflatul Husna, Juara II Winda Sriana, Juara III Rika Pebrianti, Harapan I Ardiani, Harapan II Robby Subrata, dan Harapan III Cut Cahyani.

Kepala Bidang Kebudayaan Drs Mansur mewakili kepala dinas yang saat bersamaan melakukan perjalanan dinas ke Surabaya mengatakan, lomba puisi/penyair ini merupakan komitmen dan perhatian pemerintah mensosialisasikan keagungan puisi di tengah masyarakat.

Istilah puisi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu poites, yang berarti pembangun, pembentuk atau pembuat. Dalam bahasa Latin berasal dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, dan menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata puisi diartikan sebagai hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan
Puisi menjadi salah satu media penyampai bagi penyair untuk mengungkapkan ekspresi jiwanya, yang mampu mengungkap hubungan antara manusia, hewan, dan alam lingkungan. Maka oleh sebab itu, puisi bisa juga dikatakan sebagai jiwa penyair yang direpresentasikan ke dalam teks bahasa kata-kata yang memiliki nilai-nilai estetika.(pms)

Kualitas Dokter dan RS Harus Diperbaiki

Biar Pasien Sumut tak Lari ke Malaysia

MEDAN- Tidak ada satupun rumah sakit di Sumut yang dapat dijadikan pilot project untuk mengimbangi baiknya pelayanan di rumah-rumah sakit luar negeri seperti Penang, Singapore maupun Malaka. Akibatnya, masyarakat terpaksa berbondong-bondong ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

“Kondisi rumah sakit di Sumut sangat jauh berbeda dengan luar negeri, baik di bidang pelayanan maupun profesionalisme dokternya. Rumah sakit kita juga terkesan angker dan tidak terawat,” ujar praktisi hukum senior DR Putra Kaban SH MH yang senantiasa mengamati persoalan-persoalan yang terjadi di tanah air, khususnya Sumut, kemarin.

Bahkan, bila dibandingkan dengan di Jawa, rumah sakit terbaik di Sumut ini pun tidak ada apa-apanya. Tidak ada satupun pelayanan yang bisa diandalkan, apalagi dibanggakan. Dengan kondisi seperti ini, maka pemerintah daerah akan mengalami kerugian besar dibidang kesehatan. Pasalnya, ratusan miliar rupiah biaya berobat masyarakat daerah ini akan mengalir ke luar negeri.
Hanya orang-orang susah dan yang kondisinya kritis atau nyaris mengalami kematian saja yang terpaksa berobat ke rumah sakit daerah setempat. Sedangkan orang-orang kaya sudah pasti memilih berobat ke luar, negeri dengan pelayanan dan kualitas para perawat serta dokternya yang jauh lebih baik.

Bila kondisi ini terus dipertahankan, lanjut Kaban, maka Sumut akan sangat merugi. Bahkan hal ini jelas-jelas telah mencoreng citra dan merupakan tamparan bagi Pemerintah Sumut, khususnya dinas kesehatan.  Untuk itu, Pempropsu harus segera mengambil sikap. Gatot Pujonugroho sebagai Pelaksana Gubsu harus segera melakukan kontrol.

Perbaikan pelayanan rumah sakit di Sumut hendaknya menjadi prioritas utama perbaikan, termasuk meningkatkan kinerja dan kualitas serta mental para dokter dan perawat. Bangun beberapa rumah sakit atau klinik yang benar-benar bonafit yang bisa menjadi contoh bagi rumah sakit lainnya di Sumut, sehingga nantinya akan terjadi persaingan pelayanan hingga menuju rumah sakit yang benar-benar bisa dibanggakan seperti di Malaysia, Singapore , maupun Malaka.(ton/smg)
Disamping itu, DPRD Sumut dan daerah-daerah tingkat II juga harus bekerja melakukan pengawasan. Jangan hanya melakukan study banding menghabiskan anggaran tapi tidak ada hasilnya. “Malu kita kalau masyarakat terus terusan berobat keluar negeri, sekalipun hanya untuk check up. Jelas sekali terlihat tidak ada kualitas yang baik di rumah sakit kita di Sumut ini,” papar putra daerah asli kelahiran Kaban Jahe, yang sekarang menjadi advokad senior di Jakarta ini.
Kaban berharap agar Pelaksana Gubsu bisa memperhatikan persoalan ini dengan baik. Perintahkan Kadis Kesehatan untuk melakukan terobosan dan perubahan bagi pelayanan rumah sakit di Sumut. Tingkatkan mental dan kualitas para dokter serta perawat.

“Bila perlu lakukan perombakan, lakukan mutasi dijajaran Dinas Kesehatan Sumut agar kedepan, Sumatera Utara dapat memperlihatkan mukanya terkait masalah dibidang kesehatan,” cetus Putra Kaban, SH, MH yang juga pengusaha taman wisata alam ini. (ton/rel)