29 C
Medan
Saturday, April 4, 2026
Home Blog Page 14553

Bayi Penderita Menginocele Ensefalokel Dipindah ke RS Adam Malik

MEDAN- Bayi berusia empat hari penderita Menginocele Ensefalokel atau tulang belakang kepala terbuka, tiba di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Medan. Bayi berusia empat hari itu kini terbaring dan mendapatkan perawatan intensif di Ruang Instalasi Rindu B, Ruangan Peritanologi (ruangan khusus untuk bayi), Selasa (1/11) siang.

Amatan Sumut Pos saat berada di dalam Ruang Instalasi Rindu B, terlihat bayi berusia empat hari itu menggunakan selang infus di hidung. Sedangkan ibunya, masih dirawat di Rumah Sakit Kesehatan Korem (RS Kesrem) 023 Binjai.
Menurut Poniman (45), ayah bayi empat hari tersebut berharap, agar kondisi anak ketiganya itu bisa seperti anak-anak lainnya. “Harapan saya, mudah-mudahan anak saya ini sehat dan normal kembali seperti anak-anak lainnya,” pinta Poniman.
Poniman juga berharap, agar pemerintah dan orang mampu perduli dengan keluhan mereka. “Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah dan dermawan,” harapnya.(jon)

Digoyang Pendukung Gatot Mengelak

Pengamat Politik UGM:  Ini Antiklimaks dari Proses Politik

MEDAN-Suasana politik di Sumatera Utara setelah adanya pencabutan dukungan 9 dari 11 partai pengusung pasangan Syamsul Arifin-Gatot Pujo Nugroho (Syampurno) memanas. Koalisi partai pendukung pun mulai retak.
Hal ini sontak menjadi pembicaraan hangat di kalangan politisi khususnya di DPRD Sumut. Pengamatan Sumut Pos di DPRD Sumut, beberapa politisi dan sejumlah wartawan tampak berkasak-kusuk sesaat dan sesudah digelarnya Rapat Paripurna Rancangan Perubahan-Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RP-APBD) 2011.

Terkait pencabutan dukungan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang dikonfirmasi Sumut Pos sesaat sebelum meninggalkan gedung DPRD Sumut, enggan menjawabnya. Ketika didesak untuk komentar, dia pun mengelak. “Nanti ya. Nanti kita bicarakan lagi,” katanya sembari menutup kaca mobil dinasnya BK 1 A dan langsung meninggalkan pelataran parkir Gedung DPRD Sumut, Selasa (1/11).
Namun, persis dengan sikap Gatot, beberapa anggota dewan juga tidak banyak bicara tentang pencabutan dukungan tersebut. Anggota DPRD Sumut dari Fraksi PKS Raudin Purba menilai secara datar, mengenai pencabutan dukungan terhadap Gatot oleh sembilan partai pengusung Syampurno. “Ya nggak apa-apa,” katanya singkat.

Bagaimana dengan partai pengusung lainnya seperti PPP? Tak ada jawaban yang jelas dan tegas, ketika hal itu ditanyakan oleh salah seorang anggota DPRD Sumut asal PPP Nurul Azhar. “Itu urusan Dewan Pengurus Wilayah (DPW), saya bukan di DPW. Jadi, saya tidak mungkin mengomentari itu,” katanya.

Sekjen Kemendagri Diah Anggraini yang hadir di Medan terkait kegiatan Korpri membenarkan kalau Mendagri didatangi 9 pimpinan partai pengusung Syampurno. “Memang ada 9 parpol itu datang ke Mendagri,” ujarnya di Restoran Jimbaran, Jalan S Parman saat jamuan makan malam bersama Gatot, Wali Kota Medan Rahudman, dan unsur Muspida, Selasa (1/11) malam.

Saat ditanya apa mereka meminta Gatot dicopot dari Plt Gubsu menjadi Wagubsu, Diah membatahnya. “Oh tidak ada. Tidak benar seperti itu,” kata Diah lagi.
Dan ketika ditanya apakah langkah Gatot dinilai tepat dalam memimpin daerah dan memiliki hak memutasikan pejabat, Diah hanya berkomentar singkat. “Wah, tidak etis kalau saya menjelaskan ke media. Tapi akan saya jelaskan ke Gatot,” ujarnya sambil buru-buru naik ke mobil untuk meninggalkan lokasi.

Sebelumnya, soal pencabutan dukungan ini juga terkait dengan kinerja Gatot yang dianggap tidak maksimal. Bahkan Gatot dianggap tidak mampu dalam “menertibkan” para bawahannya yakni, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Menyikapi hal itu, pengamat Hukum Tata Negara asal Universitas Sumatera Utara (USU) Mirza Nasution, mengatakan Gatot sejatinya harus lebih bijak.

“Plt Gubsu merupakan perwakilan pemerintah pusat dan tertinggi di daerah. Kepala-kepala dinas itu, sama artinya merupakan menteri pada kabinet. Ada hak prerogatif dari Plt Gubsu untuk melakukan pergantian dengan catatan adalah orang-orang yang akuntabel, profesional dan sebagainya. Kemudian, sesuai jabatan Plt agar meminta persetujuan dari Mendagri. Jadi hak Plt Gubsu untuk mengganti dan mempertahankan SKPD-nya,” urainya kepada Sumut Pos, Senin (31/10) lalu.

Mirza menambahkan, unsur politik memang cenderung mempengaruhi kebijakan. “Hanya saja, dengan perkembangan yang ada banyak SKPD yang dinilai masyarakat tidak mampu dan bermasalah, kemudian banyak juga kepentingan politik atas jabatan itu. Tapi, kembali ke dasarnya Gubsu atau Plt Gubsu memiliki hak untuk melakukan pergantian atau tidak. Jadi, kalau memang harus diganti dan ternyata ada yang menghalang-halangi, itu berarti persoalan berani atau tidak. Namun harus digarisbawahi, semestinya jangan takut atas tekanan-tekanan politik itu. Karena Gubsu itu pada prinsipnya adalah milik rakyat,” tambah Mirza.

Kenyataannya, banyak SKPD yang diduga terangkut masalah korupsi. Nah, Mirza menambahkan, jika persoalannya seperti itu, adalah wajar bila masyarakat menilai Gatot belum dan bahkan tidak mampu memimpin Sumatera Utara. “Wajar, jika pada kenyataannya masyarakat menilai kepala daerah yang ada tidak mampu memimpin Sumut,” tegasnya.

Bagaimana dengan persoalan serapan anggaran yang rendah? Menyangkut itu, pengamat ekonomi asal Universitas Sumatera Utara Jhon Tafbu Ritonga menilai, hal itu memang merupakan fenomena umum termasuk di Sumut. “Ini fenomena umum nasional, bukan spesifik Sumut. Banyak faktor atas Peraturan Presiden (Perpres) terkait pengadaan barang dan jasa. Kebiasaan lama dalam pengadaan, yang biasanya ada komisi. Pejabat SKPD yang ragu karena kondisi hukum kita yang sering membahayakan diri sendiri. Ya, termasuk komunikasi politik lokal. Saya belum bisa sampai pada kapasitas kepemimpinan, karena soal daya serap anggaran ini dimana dan sejak dulu ya begitu-begitu saja. Ke depan, harus dikoreksi Perpres yang ada. Dan Gubsu, bupati serta wali kota kita dorong berani bertindak untuk kemajuan bersama” terangnya.

Sementara itu, manuver sembilan dari 11 partai pengusung Syampurno saat pilgub 2008 yang meminta Mendagri Gamawan Fauzi mencopot Gatot dari jabatannya sebagai Plt Gubernur Sumut, mendapat tanggapan pengamat politik dari Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Arie Sudjito.

Menurut Arie, langkah sembilan partai pengusung Sampurno itu hanya dampak dari proses pencalonan pasangan cagub-wagub pada pilgub 2008 silam. Yakni, partai pengusung tidak cermat menentukan calon yang akan dimajukan di Pilgub. Pertimbangan-pertimbangan praktis-transaksional, kata Arie, sering kali mengabaikan kualitas calon. “Ini sebetulnya antiklimaks dari proses politik saat pencalonan yang tidak melihat kualitas calon. Akibatnya, ketika terpilih dan menjabat, ternyata tidak mampu,” ujar Arie Sudjito kepada Sumut Pos, Selasa (1/11).

Hanya saja, lanjutnya, partai pengusung juga harus menjadikan ini sebagai bahan pelajaran. Pada pilgub mendatang, mereka harus cermat menentukan calon, yang sekiranya mumpuni. (ari/sam)

Pascabentrok di USU, 172 Mahasiswa Diamankan

“Kak, Polisi Masih Ada di Situ…”

MEDAN-Bentrokkan mahasiswa yang terjadi di Universitas Sumatera Utara antara Fakultas Tenik dengan Fakultas Pertanian yang dibantu Fakultas Ekonomi berbuntut panjang. Sedikitnya 172 mahasiswa diamankan pihak kepolisiann
Ya, tampaknya pihak Polresta Medan tidak mau ambil pusing dengan aksi brutal mahasiswa. Polresta Medan dibantu Polda Sumut pun melakukan penyesiran di lokasi bentrokkan
Hasil penyisiran petugas mengamankan 172 orang mahasiswa Fakultas Teknik USU, Selasa (1/11) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Dari keseluruhan mahasiswa yang diamankan ikut juga diamankan seorang mahasiswi dari Fakultas Teknik.
“Kita amankan sebanyak 172 orang mahasiswa terlibat langsung dalam dan menetapkan 23 tersangka,” ujar Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga.

Penyisiran ini dilakukan oleh petugas bersenjata lengkap di sejumlah ruangan di gedung Fakultas Teknik. Petugas yang melakukan penyisiran pun sempat mendapat perlawan dari mahasiswa yang berada di dalam ruangan dengan batu. Tak pelak, petugas langsung melakukan pengepungan di areal Fakultas Teknik.

Setelah itu, petugas menemukan sejumlah mahasiswa yang kedapatan tengah bersembunyi. Sementara mahasiswa yang lainnya diamankan petugas saat berada di luar ruangan tanpa adanya perlawanan. Dari penyisiran, diketahui bentrokan tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa saja, alumni juga turut berperan.

Ratusan mahasiswa tersebut diboyong ke Mapolresta Medan untuk dilakukan pemeriksaan  Dari hasil pemeriksaan di dalam tas milik beberapa mahasiwa yang ikut dalam bentrok, petugas mendapatkan sejumlah kunci sepeda motor, tali pinggang, kayu balok, tong sampah, helm, besi, dan handphone. Menariknya, dari handphone yang diamankan polisi, ada sebuah pesan pendek yang berisikan peringatan. Hal ini seakan menunjukkan ada koordinasi yang baik antarmahasiswa dalam menyikapi tawuran. “Kak polisi masih ada di situ?” begitulah bunyi pesan pendek yang dimaksud.

Pihak kepolisian hanya melakukan penyisiran di kubu Fakultas Teknik lantaran kubu ini dikabarkan akan melakukan penyerangan kembali dan mengancam akan membakar ruangan Fakultas Pertanian.
Terkait dengan suasana panas di USU, pihak rektorat langsung meliburkan kedua fakultas tersebut selama dua hari terhitung sejak 1-3 november mendatang. Hal ini dilakukan untuk menjaga kondusivitas kedua kubu yang tengah bersitegang; yang mengakibat sejumlah mahasiswa luka-luka dan dua sepeda motor hangus terbakar.

“Rektor USU, Prof Syahril Pasaribu, melalui Purek III mengimbau kepada tiap fakultas agar meliburkan mahasiswanya dari perkuliahan . Hal ini sengaja dilakukan demi menjaga kondusifitas kampus. Namun karena bersifat imbauan, beberapa fakultas tetap menjalankan proses belajar mengajar, mengingat saat ini tengah berlangsung ujian tengah semester,” ungkap Kabag Humas USU, Bisru Hafi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (1/11).
Bahkan menurut Bisru, imbauan libur pihak rektorat itu juga mengharuskan pelaksanaan mid tes menjadi tertunda. Dengan diliburkannya mahasiswa selama dua hari, bilang Bisru, diharapkan aktivitas akan kembali seperti  normal semula. (mag-7/uma)

Tak Ada Kereta Api ke Rantauprapat

Jembatan di Merbau Ambruk Dihajar Banjir

MEDAN- Rute Kereta Api (KA) jurusan Medan-Rantauprapat dihentikan dalam waktu sekitar satu bulan. Penghentian itu karena jalur rel kereta api kawasan Merbau, Labuhan Batu, putus.
PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Sumut mengaku tidak menginginkan hal itu terjadi namun mereka tidak melawan kehendak alam. Jembatan di kilometer 98+885 ambruk karena diterpa banjir dan terpaksa tidak bisa dilewati. Jalur ini dilewati kereta api dari Medan, Sri Bilah, tujuan Rantau Prapat.
“Ya, pangkal pilar jembatan yang berada di perbatasan Merbau-Rantauprapat itu ambruk sekitar pukul 08.00 WIB tadi pagi (kemarin, Red),” kata Humas PT KAI Sumut, Hasri.

Hasri menuturkan, kepada para calon penumpang tujuan Rantauprapat sebaiknya menggunakan alat transportasi lain. “Butuh waktu 1 bulan untuk memperbaiki jembatan tersebut karena yang amblas itu pangkal pilar jembatan,” ujarnya.
Hasri mengaku, diminta kepada calon penumpang agar maklum akan hal tersebut dan itu merupakan kejadian alam. “Perjalanan kereta api hanya sampai Medan-Merbau atau Medan-Kisaran saja. Untuk tujuan Rantauprapat tidak bisa,” kata dia.

Ditegaskan Hasri, kepada calon penumpang terhitung mulai Rabu (2/11) besok KA Sri Bilah tidak bisa berjalan. “Terhitung mulai Rabu (2/11) besok (hari ini, Red) KA Sri Bilah tidak bisa beroperasi semestinya (tujuan Rantauprapat) dan calon penumpang harap maklum dengan hal tersebut,” tuturnya.

“Tidak ada alternatif lain selain bus atau angkutan umum. Kerusakan sudah kita cek dan berusaha benahi, ternyata tidak bisa,” tambahnya.
Wakil Kepala Stasiun KA Medan, ST Hutabarat juga menuturkan hal yang serupa. Untuk memberitahukan pada calon penumpang, pihak PT KAI Medan sudah menempelkan pengumuman di loket. “Sesuai instruksi dari kantor pusat PT KAI Sumut, surat imbauan itu kita tempelkan di loket pembelian tiket KA agar calon penumpang bisa membacanya dan memakluminya,” sebutnya. (jon)

Haji Asal Sumut Tiba 11 November

MEDAN-Persiapan pemula ngan jamaah haji Indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah sudah hampir rampung, hanya tinggal 13 persen lagi. Jamaah haji asal Sumatera Utara yang tergabung dalam Embarkasi Medan, dijadwalkan akan kembali ke tanah air pada 11 November 2011 sekitar pukul 22.15 WIB.

“Setelah Kemenag Pusat mengunjungi Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, diketahui persiapan pemulangan jamaah haji hanya tinggal 13 persen,” ujar Humas Badan Pengelola Asrama Haji Embarkasi Me dan, Drs HM Sazli Nasution, Selasa (1/11)n
Sementara itu, mengenai ruang tunggu jamaah haji, juga mampu menampung hingga 450 orang jamaah haji yang saat ini kondisinya sudah siap dan bersih. “Hanya toilet yang masih dalam tahap penyelesaian. Diharapkan pemulangan tahun ini tidak lagi mengalami keterlambatan seperti tahun lalu yang 4 sampai 7 jam, karena padatnya jamaah yang mau pulang ke negaranya masing-masing,” kata Sazli.

Nantinya, lanjut Sazli, pemulangan jamaah haji dibagi dalam dua gelombang. Gelombang I Kloter 01/MES hingga Kloter 11/MES diberangkatkan dari Makkah langsung ke Jeddah dan menginap lalu pulang ke tanah air. “Sedangkan gelombang ke II Kloter 12/MES sampai Kloter 19/MES dari Makkah ke Madinah, menginap baru ke Jeddah dan kembali ke tanah air,” ungkapnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pemulangan jamaah haji hanya melalui 1 pintu yaitu melalui pintu (gate) 22. Tahun ini direncanakan penambahan 1 pintu lagi yang berada di terminal barat bandara. “Setiap pintu mampu menampung 450 orang atau 1 kloter. Didalamnya terdapat pemeriksaan imigrasi,” urainya. (mag-11)

Ingin Bebas bak Wali Kota Bekasi

Wawancara Eksklusif dengan RE Siahaan, Terdakwa Korupsi Rp10,51 M

Dugaan korupsi Rp10,51 miliar, membuat RE Siahaan masuk jeratan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berstatus sebagai terdakwa di Pengadilan Tipikor Medan, Mantan Wali Kota Pematangsiantar ini berharap mengulang sukses Wali Kota Bekasi, Muhammad Mochtar, lolos dari jerat KPK, divonis bebas di pengadilan tipikor daerah.

Putusan hakim ad hoc Ramlan Comel yang membebaskan Wali Kota Bekasi nonaktif, Muhammad Mochtar, dari tuduhan korupsi, membawa angin segar bagi mantan Wali Kota Pematangsiantar Ir Robert Edison (RE) Siahaan. Sama-sama tersangkut korupsi yang ditangani KPK dan disidang di Pengadilan Tipikor di daerah, RE Siahaan berharap tuah kemujuran Muhammad Mochtar.

Wali Kota Pematangsiantar periode 2005-2010 ini meminta majelis hakim yang dipimpin Jonner Manik SH MHum yang menyidangkan perkara, untuk bertindak arif dan bijaksana. RE Siahaan berharaphakim mengambil putusan dengan memberikan vonis bebas.

Dia menganggap dakwaan Jaksa Penuntut Umum dari jaksa KPK, Zet Tadong Alo SH terhadapnya, kabur dan tidak mendasar.

Saat ditemui Sumut Pos di sel sementara di Pengadilan Negeri (PN) Medan, di Jalan Pengadilan Medan, Selasa (1/11), ia didampingi tiga pengacara hukumnya, Sarbudin Panjaitan SH MH, Kamaruddin Simanjuntak SH, dan Perry Cornelius P Sitohang SH. RE Siahaan meminta surat Dakwaan Penuntut Umum nomor: DAK-32/24/10/2011 tanggal 18 Oktober 2011 harus dinyatakan batal demi hukum dan tidak diterima, karena penuntut umum dinilai tidak cermat dan tidak lengkap dalam membuat surat dakwaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Partai Demokrat Kota Pemantangsiantar, usai persidangan, Selasa (1/11) dengan agenda eksepsi atas dakwaan JPU. Mengenakan kemeja biru tua lengan panjang, dan celana panjang warna hitam, RE Siahaan berharap bebas dari peradilan hukum yang menjeratnya dalam perkara dugaan korupsi.

Pria yang disangkakan atas tuduhan korupsi atas dana  APBD Pematangsiantar tahun 2007 senilai Rp10,51 miliar membantah tuduhan-tuduhan yang dilakukan penyidik KPK dan tidak berdasar.
“Karena tidak ada bukti otentik atau bukti yang mendasar bahwa saya terlibat langsung dalam perkara dugaan korupsi seperti yang disangkakan penyidik KPK. Semua tuduhan yang dilontarkan KPK itu tidak mendasar. Karena saya disangkakan dalam perkara ini, atas pengakuan orang lain.Tidak ada bukti yang konkrit soal keterlibatan saya secara langsung,” beber RE Siahaan.

Makanya, sambung RE Siahaan, ia membantah dalam perkara ini. Ia juga mengklaim dirinya tidak terlibat. Dalam hal ini KPK tidak mendasar dan membabi buta.
RE Siahaan juga berharap bahwa ketua majelis hakim yang menyidangkan perkaranya untuk bertindak objektif, dan segera menilai. Kalau memang ia dinyatakan tidak bersalah didalam peradilan, maka RE Siahaan meminta majelis hakim untuk membebaskan dirinya, seperti apa yang dilakukan oleh ketua majelis yang membebaskan wali kota Bekasi.

Sementara itu, Sarbudin Panjaitan SH MH, pada wartawan juga menegaskan agar majelis hakim Tipikor Medan untuk memberlakukan pembebasan terhadap klainnya.
“Saya berharap agar majelis hakim membuat terobosan baru di Sumatera Utara. Untuk berbuat hal yang sama terhadap pak RE Siahaan. Karena dengan adanya beberapa kepala daerah yang bebas murni oleh hakim, ini menunjukan bahwa KPK pun tidak sepenuhnya benar. Ini terbukti banyak kepala daerah yang bebas oleh hakim,” tegas Panjaitan.

Untuk itu Sarbudin Panjaitan SH juga mengharapkan hal yang sama terhadap dirinya (untuk memvonis bebas). Karena berdasarkan dakwaan-dakwaan yang dilakukan oleh jaksa penuntut umum semuanya tidak mendasar.
“Untuk itu saya berharap agar majelis hakim harus bijaksana dalam menyikapi persoalan perkara yang dihadapi. Karena dalam perkara ini klaian saya hanya menjadi tudingan oleh orang-orang, atas arahan dari KPK,” bebernya.
Usai wawancara dengan wartawan koran ini, mantan Walikota Pematang Siantar ini langsung diboyong petugas Waltah (pengawal tahanan) dari Kejari Medan, untuk dimasukan kembali ke mobil tahanan kijang warna hijau, untuk dibawa kembali ke Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Tanjunggusta Medan, dimana selama ini ia dititipkan oleh KPK.

Pada persidangan sebelumnya Mantan Wali Kota Pematangsiantar Robert Edison (RE) Siahaan didakwa melakukan korupsi dana  APBD Pematang Siantar tahun 2007 senilai Rp10,51 miliar untuk menguntungkan diri sendiri, 14 anggota dewan dan sejumlah rekanan, pada sidang di Pengadilan Tipikor Medan, Selasa (25/10)

Tim jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dibacakan Irene Putrie , dana APBD sebesar Rp10,51 miliar yang “dicuri” RE Siahaan itu terdiri dari Rp8,3 miliar anggaran rehabilitasi/pemeliharaan drainase, jalan, jembatan dan infrastruktur desa, dan Rp2,17 miliar dana bantuan sosial pada APBD Perubahan Kota Pematang Siantar tahun 2007.
Dari  Rp10,51 miliar tersebut, lanjut jaksa, Rp7,7 miliar digunakan terdakwa untuk memperkaya dirinya sendiri dan sisanya untuk memperkaya orang lain yakni, Johnny Arifin Siahaan Rp1,4 miliar, Maruli Silitonga Rp700 juta, 14 anggota DPRD Kota Pematangsiantar yakni Yusuf Siregar, Zainal Purba, Yusran, RTP Sihotang, Aulul Imran, Toga Tambunan, Marisi Jujur Sirait, Nursiana Purba, Otto Sidabutar, Dapot Sagala, Marzuki, Ronald Tampubolon, Aloysius Sihite dan Unung Simanjuntak masing-masing Rp30 juta.

RE Siahaan juga didakwa memperkaya suatu korporasi (rekanan) yaitu CV David Rp53 juta, UD Grace Rp16 juta, CV Armadiva Rp13 juta, CV Anwar Jaya Rp20 juta, CV Ervin Jaya Rp16 juta, CV Binduan Rp14 juta, UD Ayumi Wantina Rp9 juta, CV Binumbun Perkasa Rp13 juta, CV Morgatri Rp12 juta, UD Donni Rezeki Rp16 juta, CV Mas Ayu Rp10 juta, CV Greni Utama Rp18 juta, UD Tirta Sari Rp11 juta, CV Surya Tiara Mandiri Rp8 juta, CV Kirana Utama Rp1,8 juta, CV Bekasi Jaya Rp8,3 juta, dan CV Sarlin Nasipuang Rp4,1 juta.

JPU menjelaskan,  Rp8,3 miliar anggaran rehabilitasi/pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang dikorupsi terdakwa tersebut, adalah Dana Alokasi Umum (DAU) pada APBD Pematangsiantar 2007 sebesar Rp14,7 miliar yang dialokasikan untuk anggaran swakelola.

Dengan perincian, program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan Rp4,9 miliar, program pembangunan infrastruktur pedesaan Rp3,3 miliar, program pemeliharaan drainase Rp4,9 miliar dan program pemeliharaan rutin jaringan irigasi Rp1,4 miliar.

Untuk mempertanggungjawabkan penggunaan dana swakelola pada Dinas PU yang telah dipotong 40 persen tersebut, terdakwa memerintahkan W Bonatua Lubis, Kadis PU Pematangsiantar, yang kemudian ditindaklanjuti Johnny Arifin Siahaan, Holder Siahaan, Erwin Simanjuntak dan Suhartono membuat kontrak fiktif seolah-olah rekanan telah mengerjakan proyek dengan menggunakan dana rehabilitasi/pemeliharaan Dinas PU tahun 2007 tersebut secara penunjukkan langsung (PL), dimana rekanan mendapat fee sebesar 2,5 persen dari kontrak fiktif.
Penggunaan dana rehabilitasi/pemeliharaan Dinas PU sebesar Rp8,3 miliar dan dana bantuan sosial sebesar Rp2,17 miliar tersebut, mengakibatkan kerugian negara cq keuangan Pemko Pematangsiantar sebesar Rp10,51 miliar.
RE Siahaan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, subsider Pasal 3  jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. (rud)

Berharap Ada Implementasi Kebijakan yang Lebih Segar

Buah Tangan T Erry Nuradi dari Kuliah Singkat di Harvard (2/habis)

Sistem dan manajemen keuangan pada perusahaan yang diadopsi, pemerintahan kota dan kabupaten di Amerika Serikat berjalan sangat transparan dan akuntabel.

PANDA MT SIALLAGAN, Medan

City Manager sebagai pemegang otoritas penyelenggaraan pemerintahan, memiliki kewenangan penuh menyusun program lengkap dengan anggarannya. Program ini kemudian dikonsultasikan kepada Dewan Kota untuk selanjutnya disetujui sebagai program pembangunan atau pelayanan.

City Manager juga memiliki tugas dan kewenangan menjalin menjalin kemitraan atau kerja sama dengan pihak swasta atau perusahaan untuk menggalang dana. Pendapatan dari sektor pajak dan retribusi, juga sepenuhnya dikelola Dewan Kota. Federal hanya kebagian peran mengurusi pajak tambang dan kemudian dialirkan ke daerah. Jumlahnya sangat kecil, ha nya berkisar 5 persen dari total anggaran.

“Federal tak lagi mengurusi pendapatan dan pengeluaran daerah. Federal hanya mengurusi pajak tambang. Oleh karenanya, bantuan dana dari Federal hanya sekitar 5 persen,” ujar T Erry Nuradi.
Bincang-bincang dengan T Erry Nuradi berlangsung santai. Ia tampak memahami dengan baik materi yang diperoleh selama kuliah singkat di Harvard. Setelah berbagi cerita
tentang kepemimpinan strategis terutama relasi antara eksekutif dan legislatif, sistem pengelolaan keuangan, T Erry kemudian bicara materi lain dalam perkualian tersebut.

Terkait manajemen baru pelayanan publik, kata T Erry Nuradi, para bupati/wali kota memperoleh pembelajaran tentang reinventing pemerintahan (reinventing goverment), pentingnya alat analisis untuk pengambilan sebuah keputusan, kemitraan pemerintah dengan swasta, kerjasama dan persaingan antar pemerintah daerah dan lain-lain.

T Erry Nuradi menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan swasta. Dalam konteks ini, pihak swasta diberi kesempatan melakukan program pemerintah. Secara umum pemerintah daerah di Amerika tak lagi kesulitan dalam hal keuangan. Program dan kebijakan lebih fokus pada pelayanan yang transparan dan akuntabel.

Hal menarik lain adalah munculnya kompetisi antardaerah untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik. Citra teramat penting. “Hal ini dapat dipahami sebab wali kota dan anggota legislatif memang para tokoh dan secara finansial sudah sangat mapan. Jadi mereka memilih jadi wali kota atau anggota dewan bukan untuk mencari uang, tapi mengabdi dan melayani rakyat sebaik-baiknya,” ujar T Erry Nuradi.
Namun demikian, kompetisi antardaerah tidak berarti tidak terjalin kerjasama. Justru sebaliknya, selalu terjalin komunikasi dan kerjasama antardaerah sebagai perwujudan pembangunan lintas wilayah. Dia mengambil contoh antara Kota Tebingtinggi dengan Kabupaten Serdangbedagai. Selama ini, penanganan sampah antara kedua daerah belum terkordinasi secara baik. Mestinya, jika Pemko Tebingtinggi ingin membuang sampah di Sergei, harus ada kerjasama konkret, misalnya sama-sama membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan potensi keuntungan dari pengelolaan sampah tersebut bisa dibagi sebagai pendapatan asli daerah masing-masing.

Selanjutnya, terkait pembangunan berkelanjutan (sustanaible development), mereka diajarkan tentang pentingnya merencanakan program pembangunan berkelanjutan, bagaimana membangun sebuah kota atau daerah tanpa menyebabkan dampak buruk di masa depan.

T Erry menjelaskan, pembangunan berkelanjutan terkait dengan banyak hal, misalnya urbanisasi, globalisasi, sehingga kebijakan terkait hal itu harus visioner. Selain itu, tantangan menghadapi urbanisasi dan transportasi turut menjadi pembahasan penting. Maka, pembangunan sebuah kota juga harus direncanakan dengan konsep berkelanjutan. Pola pembangunan kota-kota di Indonesia, misalnya, kerap melupakan konsep berkelanjutan, sehingga tata kota kerap bongkar pasang dari waktu ke waktu. Penggusuran rumah-rumah warga untuk pembangunan fasilitas publik yang baru, antara lain menjadi indikasi lemahnya perencanaan pembangunan berkelanjutan.
Menariknya, kata T Erry Nuradi, meskipun Amerika sudah tergolong negara megapolitan, tapi mereka tak melupakan konsep pembangunan pedesaan, yang juga direncanakan secara berkelanjutan. Itulah sebabnya pedesaan negara superpower itu lebih terasa sebagai tempat yang nyaman dan indah, layak dijadikan destinasi wisata. Sistem pertaniannya juga sangat modern, jauh dari kesan kumuh sebagaimana umumnya kampung dan pedesaan di Indonesia.
T Erry Nuradi mengatakan, secara umum konsep pembangunan berkelanjutan diselaraskan dengan kampanye mengurangi pemanasan global (global warming). Oleh karena itu, dalam melaksanakan pembangunan, kawasan atau ruang terbuka hijau harus dipertahankan dan diperluas jika memungkinkan. Kawasan atau tak hanya berfungsi mengurangsi pemanasan global, tapi juga memperkuat daya serap tanah terhadap air. Semua ini pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas kota, terutama terkait penanganan banjir.

“Pembangunan berkelanjutan untuk mengantipasi global warming ini lebih serius penekanannya. Mereka mencontohkan, dulu ketebalan es di kutub utara sangat tidak memungkinkan untuk bisa cair. Tapi kini kutub utara sudah mencair. Itulah yang menyebabkan banyak pulau-pulau di Indonesia tenggelam. Maka itu, pembangunan tak bisa lagi dilakukan secara serampangan, tapi harus berkelanjutan dan mempertimbangkan aspek lingkungan,” ujarnya.
Akhirnya, T Erry Nuradi mengatakan, sangat banyak pelajaran menarik diperoleh selama kuliah di Harvard, meskipun waktunya hanya tingga minggu. Dan secara lebih rinci, hasil perkuliahan itu akan dirangkum dalam laporan ilmiah yang akan diserahkan kepada Gubernur dan Mendagri.

Dia berharap, mudah-mudahan dari laporan seluruh bupati/wali kota yang berangkat ke Harvard itu, ada implementasi-implementasi kebijakan yang lebih segar, baik soal hubungan antara eksekutif dengan legislatif, pelayanan publik dan pembangunan yang lebih manusiawi dan bermartabat. (***)

Rambah Musik Jazz

Nikita Willy

Nikita Willy (17), kembali mengeluarkan single. Perempuan yang namanya laris manis di dunia sinetron itu mengeluarkan lagu keempat, Pantas Untukku. Kali ini dia menyanyikan lagu tersebut dengan Oscar Mahendra. Musiknya bernuansa jazz. Sebelumnya, Niki lebih sering bermain di warna musik pop.

Kekasih Bara Tampubolon itu menjelaskan single terbarunya tersebut merupakan ciptaan Oscar. “Ini first time aku berduet. Kebetulan aku sudah kenal Oscar lumayan lama. Aku suka denger lagu-lagu dia juga. Ternyata Oscar punya lagu yang seharusnya dinyanyikan duet. Ya sudah, akhirnya dinyanyikan berdua,” terangnya kemarin (1/11) di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Kata Niki, menyanyi lagu jazz tidak sulit. Dia lebih sulit membawakan lagu-lagu pop. “Soalnya, di musik pop kan ada nada tingginya,” ucapnya. Nah, menurut dia, jazz lebih ringan. Jadi, dia merasa single keempat itu lebih fun. “Iya lho, musik jazz itu ringan. Musiknya sih memang nge-jazz ya. Tapi, kalau vokal, ya semampuku saja,” lanjutnya lalu tertawa.

Meski perempuan yang mendapat penghargaan Aktris Terfavorit Panasonic Gobel Awards 2010 dan 2011 itu eksis di sinetron dan menyanyi, fokus utamanya tetap akting di sinetron. Karena itu, dia belum berniat untuk membuat album dalam waktu dekat. “Kumpulin single saja dulu. Baru nanti dijadikan album. Jadi, albumnya ya dari single-single itu saja,” tutur bintang sinetron Putri Yang Ditukar tersebut.
Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di lokasi syuting. Sampai-sampai dia rindu dengan terik matahari. Kalau berada di lokasi syuting, biasanya dia selalu berada di dalam ruang. “Syutingnya kan sekarang di dalam ruangan terus, jadi aku jarang dapat sinar matahari. Padahal, aku pengen kulitku cokelat,” tuturnya. (jan/c8/ayi/jpnn)

Mabes Polri Ambil Alih Kasus Pencurian Pulsa

JAKARTA-Bareskrim Mabes Polri akhirnya mengambil alih kasus dugaan pencurian pulsa. Korps Bhayangkara itu menilai kasus tersebut terjadi di banyak daerah di Indonesia dan telah meresahkan masyarakat. Selain itu, tempat kejadian perkara (TKP) yang tersebar membutuhkan penanganan satu atap melalui Mabes Polri.

“Korban kasus pencurian pulsa tidak hanya terjadi di satu daerah saja. Tapi juga di banyak daerah dan ditangani beberapa Polda. Karena itu, penanganan akan diambil alih oleh Bareskrim Mabes Polri,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di Mabes Polri kemarin (1/11).

Saud menambahkan, kasus tersebut cukup spesial dan tidak bisa ditangani seperti menangani kasus kriminal konvensional. Sebab, modus yang digunakan cukup kompleks dengan melibatkan pakar teknologi informasi. “Masyarakat tidak perlu khawatir. Kami sudah bekerjasama dengan ahli IT untuk mencari modus yang dilakukan dan alat bukti untuk menjerat pelaku,” katanya.

Namun, Saud belum bisa mengatakan berapa banyak kasus yang terjadi. Bareskrim, kata dia, akan mengumpulkan data-data dari Polda-Polda di daerah. Sebelumnya, kasus tersebut ditangani Polda Metro Jaya. Kasus tersebut mencuat setelah banyaknya keluhan dari pengguna telepon genggam yang merasa tertipu dengan tawaran penyedia konten. (aga/agm/jpnn)

Tulis Buku Kesehatan

Bob Hasan

Di usianya yang sudah 80 tahun, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Bob Hasan meluncurkan buku tentang pengalamannya menjaga kesehatan. Buku pertama pengusaha kayu ternama itu bertajuk Mengapa Saya Sehat.

“Banyak teman minta saya untuk nulis buku. Mereka bilang, pengalaman hidup saya unik dan banyak orang ingin tahu. Tapi, saya nggak ingin bikin otobiografi. Saya nggak pengen muji-muji diri sendiri,”  ujar orang dekat mantan Presiden Soeharto tersebut.

Bob menuturkan, saat ingin menulis, dirinya teringat sebuah pepatah yang mengatakan, the winner writes history, the loser writes autobiography.

Berdasar pepatah itu, anak angkat Jenderal Gatot Subroto tersebut memutuskan menulis hal-hal yang dirasakan membawa manfaat bagi para pembacanya kelak. Yakni, pengalamannya menjaga kesehatan.
Ayah tiga anak tersebut juga menulis tentang sejumlah kiprah dokter Indonesia dalam menangani masalah kesehatannya. Lewat buku setebal 250 halaman tersebut, Bob juga mengikutkan keunggulan produk jamu dalam negeri.
“Saya ingin masyarakat mau berobat di dalam negeri. Karena di sini banyak dokter yang bagus. Jadi,  kenapa di luar negeri? Lalu, produk jamu kita juga khasiatnya nggak kalah kok,” imbuh Bob yang masih tampak segar di usianya yang sudah kepala delapan itu. (ken/c1/nw/jpnn)