31 C
Medan
Tuesday, April 7, 2026
Home Blog Page 14611

Pedagang Dikelewang Perampok Bersenpi

LABUHAN- Japar Ali (61), warga Dusun 9, Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, dikelewang dua kawanan perampok bersebo dilengkapi senjata api (Senpi) di rumahnya, Sabtu (22/10) dini hari pukul 04.30 WIB. Walaupun perampok gagal menjarah harta bendanya, namun bapak empat anak ini mengalami luka lima jahitan di bagian bibirnya.

Keterangan yang disampaikan Japar ketika membuat laporan ke Polsek Medan Labuhan menyebutkan, kejadian itu terjadi ketika Japar bangun dan hendak belanja ke pasar untuk membeli kebutuhan barang dagangannya.

Ketika keluar dari kamar menuju kamar mandi, dua kawanan perampok langsung mengarahkan pistol dan kelewang ke arah kepalanya, aksi pelaku membuat Japar tak berdaya. Tak berapa lama, istri Japar keluar dan menjerit melihat Japar telah diancam pistol dan kelewang oleh orang tak dikenal.

Jeritan itu membuat kedua perampok bersebo itu kebingungan dan berusaha menyerang istri Japar, namun dihadang Japar hingga terjadi pergumulan. Jeritan istrinya semakin keras membuat kedua pelaku yang masuk dari arah pintu belakang rumahnya, langsung melayang kelewang ke arah bibir Japar hingga berdarah.

Merasa kebingungan, akhirnya kedua pelaku itu kabur dari pintu belakang dan melompat pagar, lari ke arah persawahan tanpa sempat mengambil harta benda pedagang kelontong tersebut.

“Pokoknya saya sempat ditodong pistol dan diarahkan kelewang ke saya, rupanya istri saya menjerit mereka kabur,” kata Japar menceritakan kejadian dengan polisi. (ril/smg)

Medan Kota Pertahankan Juara Umum Porkot

MEDAN-Setelah melalui perjuangan tak kenal lelah, akhirnya juara bertahan Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan sukses mempertahankan gelarnya.

Kontingen Medan Kota mempertahankan gelarnya setelah merebut medali terbanyak usai acara penutupan yang berlangsung di Stadion Teladan, Medan, Sabtu (22/10).

Pada Porkot Medan III kali ini Medan Kota menjadi yang terbaik dengan mengumpulkan 36 medali emas, 24 medali  perak dan 30 medali perunggu. Di tempat kedua diraih Medan Helvetia dengan 29 medali emas, 31 medali perak dan 37 medali perunggu.

Sementara di posisi ketiga diraih Medan Denai, 27 medali emas, 25 medali perak dan 28 medali perunggu, disusul posisi keempat, Medan Timur, 27 medali emas, 24 medali perak dan 24 medali perunggu.

Sedangkan, di posisi kelima ditempati Medan Amplas, 24 medali emas, 24 medali perak dan 25 medali perunggu.
Wali Kota Medan Rahudman Harahap dalam kata sambutan, sebelum menutuk kegiatan mengatakan, ke depan Medan butuh atlet yang memiliki fanatisme dan semangat juang yang tinggi, bukan yang lebih mengejar materi.
Untuk itu, ia meminta kepada KONI Medan dan induk cabang olah raga agar lebih intensif melakukan pembinaan kepada atlet binaannya masing-masing. Dengan demikian atlet juga akan lebih terpacu untuk meningkatkan prestasinya.

“Kami juga meminta KONI Medan agar membuat program pembinaan terpadu dan berkesinambungan. Prestasi tidak bisa diraih dengan instan, melainkan dengan kerja keras dari semua pihak yang terlibat,” katanya dalam acara penutupan yang dihadiri Wakil Wali Kota Medan Drs. H. Dzulmi Eldin, MSi, Sekda Ir. Syaiful Bahri, MSi, Ketua KONI Sumut H. Gus Irawan SE Ak MM, dan undangan lain.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota, juga memberikan apresiasi kepada lifter angkat berat Daud Gowasa yang di arena Porkot Medan 2011 ini berhasil melampaui rekor nasional dan rekor dunia di kelas 59 kg. Daud berhasil melewati rekornas atas namanya sendiri di nomor squat dari yang sebelumnya 275 kg menjadi 280 kg. Sedangkan, di nomor deadlift dengan gagah perkasa ayah satu putra dan satu putri ini melampaui rekor dunia kelas 59 kg dari sebelumnya 295 kg menjadi 300 kg.

Ketua Umum KONI Medan Drs. H. Zulhifzi Lubis dalam kata sambutannya mengatakan, secara umum perkembangan olahraga di Medan, dewasa ini sudah cukup merata.Ini terbukti dengan perolehan medali dari setiap kecamatan.
Kepada atlet yang berhasil meraih medali, ia berpesan agar tidak terlalu berbesar hati karena Porkot ini hanya merupakan tahap awal untuk berprestasi ke tingkat yang lebih tinggi.

Bagi atlet yang belum meraih medali diminta juga untuk tidak patah semangat, dan jadikan kegagalan tersebut untuk mengevaluasi kelemahan-kelemahan sehingga kedepan dapat tampil sebagai juara.
“Jalan masih panjang untuk berprestasi, teruslah berlatih dengan lebih intensif tanpa kenal lelah,” kata pria yang akrab disapa Opung Ladon ini. (jun)

Tak Ingin Bangga dengan Dosa-dosa

Ramadhan Batubara

Saya pernah mengatakan kalau ketakutan terbesar dalam hidup saya ketika mengendarai kendaraan adalah bertemu polisi lalu lintas. Kini tidak lagi, saya telah memiliki Surat Izin Mengemudi dan kelengkapan lainnya. Sayangnya, setelah masalah polisi lalu lintas selesai, saya malah menyadari sebuah ketakutan yang lain. Saya takut menyanyi.

Tolong, jangan anggap menyanyi yang saya maksud adalah seperti yang dilakukan Nazaruddin. Ini soal nyanyi yang sebenarnya, seperti Krisdayanti yang fasih memegang microphone di Pendopo Rumah Dinas Walikota Medan beberapa malam lalu. Ya, ini tentang melantunkan nada dan lirik.

Ketakutan saya ini semakin menjadi karena beberapa hari ke belakang ada kecenderungan baru di kalangan kantor. Ya, apalagi kalau bukan soal menyanyi. Tapi sekali lagi, ini bukan nyanyian dalam tanda kutip –seperti pembusukan karakter pimpinan atau lainnya—ini hanya soal nada dan lirik. Tujuannya adalah pesta pernikahan dan karoke, heheheheh.

Hingga, karena terus didesak oleh keinginan untuk menyanyi, saya pun sibuk menyetel mp3 di komputer. Dan yang saya dapati hanyalah lagu Ebiet G Ade. Fiuh, hanya satu lagu pula! Lagu ini berjudul Berita Kepada Kawan. Sebagian liriknya seperti ini:

Barangkali di sana ada jawabnya//mengapa di tanahku terjadi bencana//Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita//yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa//atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita//Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
Entahlah, kenapa folder musik di komputer saya bisa hancur. Bayangkan saja, sebelumnya folder itu penuh dengan lagu Indonesia lawas hingga era 1990-an (maklumlah, saya hanya bisa menikmati musik Indonesia di era itu) dan musik barat (terutama genre musik rock era 70-an dan 80-an, blues, jazz, dan reagge).
Kenyataan ini sepertinya ada yang merekayasa. Hm, siapa lagi terdakwanya selain istri bukan? Ya, sudahlah. Saya tidak mau mengkonfirmasi hal ini pada istri, ya, takut terjadi perang dingin. Yang saya tahu, dia memang tidak begitu suka ketika saya sudah mendengarkan musik. Pasalnya, ketika kegemaran mendengar musik saya lakukan, durasinya bisa mencapai lima jam. Ujung-ujungnya saya tidak tidur. Sewotlah dia. Hm, meski begitu, rasanya tak mungkin dia menghapus koleksi lagu saya.

Tapi, siapa yang menghapus? Lalu, kenapa lagu Ebiet tadi saja yang dia tinggali? Adakah ini semacam pesan? Ya, bukankah lirik lagu itu seakan mengambarkan Indonesia kini?

Tak mau pusing memikirkan hal itu, saya dengari juga satu-satunya lagu yang tersisa. Hasilnya, makin lama lagu itu terus berulang, ada kalimat yang nyangkut di kepala saya; ya, yang baitnya saya kutip tadi. Saya terenyuh dengan kalimat yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Saya merasa tertusuk. Lirik itu seakan membawa saya ke ucapan-ucapan yang telah saya keluarkan.

Adalah sangat sering saya menceritakan dosa-dosa saya agar lawan bicara terus mendengar cerita yang saya tawarkan. Ukh, di warung kopi, di kantin kantor, mereka tertawa mendengar dosa yang sempat saya buat di masa lalu. Saya bangga. Saya jadi pusat perhatian. Pun, kawan-kawan seakan tak mau kalah, mereka bernyanyi tentang diri mereka sendiri; pernah bercinta dengan si A. Lalu bersama si B pernah ‘main’. Fiuh, langit kantin dan warung kota tebal oleh dosa-dosa kami.

Begitu pun ketika melihat televisi, berita di koran, dan kabar di radio. Ah, saya sadari dosa adalah sesuatu yang laris manis. Maka, dosa pun dikemas sedemikian rupa menjadi sebuah sajian yang menarik, yang ditunggu, dan yang diharapkan. Kadar dosa pun semakin menurun, dia semakin biasa. Persis kata orang bijak, ketika sebuah kata makian terus diulang dari waktu ke waktu, maka maknanya akan berubah. Makian itu pun hilang arti.

Lalu, jika begitu banyak dosa-dosa yang bertebaran, bukankah dosa itu bisa berubah makna? Dia kan menjadi biasa dan yang melakukannya pun semakin tiada beban. Bah, kalau soal ini agak sulit menjawabnya, dia menjadi wilayah kepercayaan dan saya tak mau menyinggungnya.

Hm, kita kembali saja ke soal nyanyi tadi.

Nah, akhirnya, karena menemukan satu lagu saja, saya pun tak jadi menghafal lagu tersebut. Pasalnya, lagu itu terlalu ‘mendayu’ untuk dinyanyikan di pesta pernikahan ataupun di karoke bukan? Maka, tetap saja saya tidak bisa menyanyi dan ketakutan saya masih tetap.

Tapi sudahlah, setiap orang memang memiliki ketakutan tersendiri. Dan, ketakutan itu pasti berkembang. Saya pahami, ketakutan itu tumbuh seiring pertumbuhan kedewasaan manusia. Jadi, ketika hingga kini masih ada yang tidak takut pada apapun, misalnya soal korupsi, suap-menyuap, memeras, atau apalah, maka dia akan menemukan ketakutannya sendiri di kemudian hari. Di sanalah kedewasaannya diuji. Seperti saya saat ini, takut menyanyi. Dan, ketika sisi kedewasaan memilih untuk belajar menyanyi, saya benar-benar diuji dengan hilangnya koleksi musik tadi. Bukankah begitu? (*)

Tim Ditambah, Pelaku Diimbau Menyerah

Polisi Terus Buru Perampok dan Pembunuh WN AS

MEDAN- Perburuan terhadap pelaku perampokan dan pembunuhan turis asing warga negara Amerika Serikat keturunan Korea, Samuel Hyuen Lee terus dilakukan. Bahkan, tim pemburu ditambah untuk mempersempit ruang gerak pelaku perampokan yang berakibat tewasnya turis asal AS tersebut.

“Penambahan tim ini untuk membantu tim yang sudah disebar dalam memburu pelaku perampokan WNA tersebut,” kata Kabid Humas Polda Sumut AKBP Heru Prakoso kepada wartawan, Sabtu (22/10).

Menurut Heru, Polresta Medan telah membentuk dua tim, Polsekta Medan Baru satu tim dan Poldasu satu tim.
Tim yang telah disebar, kata Heru, saat ini terus melakukan pengejaran dan memfokuskan pada pengungkapan kasus. “Selain mencari info tentang keberadaan para tersangka, kita juga sedang melakukan perburuan dari tempat persembunyiannya. Ini menyangkut penegakan hukum dan citra Sumut,” tegas Heru.

Heru juga mengatakan, Polresta Medan dalam perkara ini telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi, termasuk penarik betor yang membawa korban saat itu.

Ketika ditanya di mana perkiraan tempat persembunyian para pelaku, Heru hanya mengatakan, pengejaran masih dilakukan di seputar Kota Medan. “Namun, bisa saja pelaku kabur ke luar kota, karena pelaku sudah tahu kalau mereka sedang diburu. Untuk itu, saya imbau agar para pelaku menyerahkan diri,” kata Heru.

Dia juga menyebutkan, saat ini pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kapolres atau Kasatwil yang wilayahnya berbatasan dengan Kota Medan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Medan AKP Yoris Marzuki SIK ketika dikonfirmasi via ponselnya, Sabtu (22/10) sore mengatakan, jenazah Samuel Hyuen Lee masih di Ruang Instlansi Jenazah RSU dr Pirngadi Medan. “Masih di Pirngadi dan belum diotopsi. Lambatnya otopsi karena pihak konjen belum datang,” terang Yoris Marzuki.
Mengenai pelaku, Yoris mengaku optimis dalam waktu dekat tersangka akan diringkus.

“Nanti ya, kami masih bekerja, pelaku pasti ketangkap dalam waktu dekat ini, dan akan kita ketahui modus pembunuhan WNA tersebut,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakasat Reskrim Polresta Medan AKP Ronny Sidabutar mengatakan, belum dilakukan otopsi karena pihaknya masih menunggu izin dari keluarga korban melalui Konjen AS. “Katanya Jumat kemarin mau diambil jenazah korban oleh Konjen AS. Namun kami pun masih menunggu izin dari pihak keluarga melalui Konjen, apakah dilakukan otopsi atau tidak,” tuturnya.(rud/mag-7)

Medan Petisah Raih Emas Sepakbola

MEDAN-Tim sepakbola Kecamatan Medan Petisah memupuskan harapan Kecamatan Medan Kota menyempurnakan juara umum Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan untuk meraih medali emas sepakbola, setelah di babak final menang 2-0 di Stadion Teladan Medan, Sabtu (22/10).

“Ini merupakan prestasi menggembirakan bagi Medan Petisah khususnya cabang sepakbola,” kata Manajer Tim Medan Petisah Aminnurasyid, usai pertandingan. “Anak-anak bermain semangat tidak kenal lelah dan pantang menyerah,” tambahnya.

Tim sepakbola Medan Petisah yang ditangani mantan pemain Pelita Jaya Puspom dan penjaga gawang PSMS Sahari “Ucok” Gultom selama tiga hari terus bertanding mulai dari babak delapan besar, Kamis (20/10), semifinal Jumat (21/10) dan Sabtu (22/10).

Keberhasilan Medan Petisah memperoleh medali emas tidak terlepas dari dukungan Camat Medan Petisah Mohammad Yunus SPT dan unsur KONI Kecamatan yang dipimpin Suria Bakti dan Syaiful Syahputra. Emas sepakbola Medan Petisah sesuai target yang dicanangkan oleh Manajer Tim Aminnurasyid yang juga merupakan Ketua SSB Garuda Di Dadaku.

Menanggapi pertandingan kemarin yang disaksikan 2000-an penonton, Puspom mengakui bahwa kepercayaan diri pemain meningkat ketika unggul satu gol. Pemain berbakat yang menempati posisi striker Genta Surya membuat Medan Petisah leading 1-0 pada menit kesepuluh. Sebaliknya Medan Kota yang tertinggal satu gol, berupaya menyamakan kedudukan.

Namun, justru Medan Petisah yang menambah  gol pada menit ke-55 melalui gol menawan Irpan Lubis dengan mengecoh dua pemain belakang, termasuk penjaga gawang Medan Kota Amos Franco Sinaga. “Anak-anak sudah bermain maksimal. Ada beberapa peluang, namun gagal diselesaikan dengan baik,” kata arsitek Medan Kota Syahril WP yang juga pelatih SSB Patriot.
Perebutan medali perunggu yang digelar, Sabtu pagi di Stadion Teladan, Medan Tuntungan mengalahkan Medan Johor 2-0 melalui gol di babak pertama.
Yendi Sulistianto membuka gol pada menit kesembilan dan ditambah satu gol lainnya oleh Noviandi Syahputra menit ke-28. (jun)

Tuntungan unggul dalam penguasaan bola, dan menyulitkan bagi Medan Johor untuk mengembangkan permainan.
Ketua Umum KONI Sumut H Gus Irawan SE Ak MM yang turut hadir mengalungkan medali emas bagi tim Medan Petisah didampingi Ketua Umum KONI Medan Drs Zulhifzi Lubis. (jun)

Satu dari 13 Perampok Diamankan Dit Polair

MEDAN- Satu dari 13 pelaku perampokan diringkus personel Direktorat Kepolisian Air (Dit Polair) Polda Sumut di kawasan Belawan, Jumat (21/10) malam pukul 19.00 WIB. Tersangka yang diringkus yakni Rahmat Ali (42) warga Kampung Nelayan Belawan, saat akan menjual komputer hasil rampokannya.

Menurut Direktur Polair Polda Sumut Kombes Pol Ario Gatut melalui Kasi Penyelidikan Penegakkan Hukum (Lidik Gakkum) Polair Polda Sumut Kompol Den Martin Nasution, penangkapan tersebut dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi dan pengaduan dari korban di Polsek Perbaungan, Polres Deli Serdang.
Menurutnya, perampokan tersebut terjadi pada 8 Oktober 2011 pukul 04.00 WIB di PT ATP Desa Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).

“Perampokan yang dilakukan kawanan ini dengan cara mengikat 19 orang korban yang saat itu berada di lokasi kejadian. Kawanan perampok ini berhasil membawa 6 unit TV, 16 handphone, 3 buah HT, satu set komputer, satu mesin babat dan uang kontan Rp11 juta,” ungkapnya.

Menindaklanjuti pengaduan korban, Dit Polair Poldasu melakukan penyelidikan. Rabu (19/10) lalu, mereka mendapat informasi kalau seorang tersangka bernama Rahmat Ali, warga Kampung Nelayan Belawan akan menjual satu set komputer hasil rampokannya. Mengetahui hal itu, personel Polair langsung melakukan pengintaian dan berhasil menangkap tersangka pada Jumat (21/10) malam pukul 19.00 WIB.

Dari hasil pemeriksaan terhadap tersangka, Sabtu (22/10) dini hari pukul 01.00 WIB, tim memburu para tersangka lainnya di Perairan Belawan, Kampung Nelayan. Dari rumah Rahmat Ali, petugas menyita satu frezer dan satu HP dan sebilah parang.

Sementara itu, tersangka Rahmat Ali mengakui kalau dia melakukan aksinya bersama 12 temannya. “Iya kami ada 13 orang saat melakukan perampokan itu. Delapan orang warga Kampung Nelayan Belawan dan lima orang warga Karang Gading Medan Labuhan,” ujarnya.(mag-7)

Sore Ini, DBL All-Star Hadapi Unibraw

SURABAYA-Tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2011 kembali melakoni laga pemanasan sore ini (22/10). Tim putra dan putri akan menantang tim Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.

Pertandingan melawan Unibraw ini menjadi laga pemanasan kedua. Sebelumnya pada Jumat (21/10) lalu, DBL All-Star menghadapi tim perguruan tinggi lainnya yakni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

DBL All-Star mendapatkan hasil berbeda saat melawan Unair. Tim putri berhasil menang dengan skor 72-40 di DBL Arena Surabaya. Sedangkan tim putra menyerah (47-55) dalam game yang digelar di Sports Hall SMA Katolik Santa Agnes.
Walau hanya pertandingan uji coba, namun DBL All-Star tetap serius mempersiapkan diri. Sebab partai itu sangat penting sebagai persiapan intrenational game melawan Gold Coast Scody Junior All-Stars pada Kamis (27/10) dan Sabtu (29/10) mendatang.

Kemarin DBL All-Star menjalani dua kali sesi latihan pagi dan sore. Pada pagi hari, tim pelatih hanya memberikan program ringan yakni conditioning. Tujuannya adalah agar kondisi fisik dan sentuhan bola para pemain tetap terjaga.
Sedangkan pada sore harinya, tim pelatih memberikan program taktik dan strategi. Antara lain pola defense dan melatih tansisi antara offense dan defense. Latihan itu dilakoni selama hampir selama dua jam.

Pelatih kepala tim putra Koo Sri Padma Olanda mengatakan fokus utamanya sekarang adalah mempertahakan konsistensi permainan timnya. Jan Misael Panagan dkk ditekankan tidak melakukan kesalahan yang sama saat kalah melawan Unair.
“Terpenting anak-anak tidak bermain dengan emosional hingga instruksi pelatih tidak jalan. Soal teknis, sekarang kami konsentrasi penuh pada perbaikan defense,” ucap pelatih asal SMA St. Louis 1 Surabaya itu.

Pelatih tim putra Aditya Krisnha Permana menegaskan pihaknya tak akan membebani pemain dengan kemenangan. “Terpenting anak-anak bermain dengan semangat dan fight. Kalah dan menang tidak jadi soal, terpenting adalah cara bermainnya,” katanya. (nur/dra/jpnn)

Libya Disanksi Jika Khadafi Dibunuh

NEW YORK- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memerintahkan menyelidiki menyeluruh untuk mengetahui penyebab kematian mantan pemimpin Libya, Kolonel Muammar Khadafi, yang digulingkan karena dianggap diktator bertangan besi. Desakan itu diserukan setelah beredar dua rekaman video yang berbeda saat proses penangkapan Khadafi.
Dalam rekaman video pertama memperlihatkan sosok Khadafi yang masih hidup saat ditangkap. Namun, dalam video kedua, Khadafi sudah terlihat tewas dengan luka di bagian kepala akibat tertembus peluru.

Kedua video ini membuat PBB memerlukan lebih banyak lagi rincian data untuk memastikan kematian Khadafi. Pasalnya, jika Khadafi tewas dalam pertempuran maka itu adalah wajar sesuai hukum internasional. Tapi, jika Khadafi tewas karena dieksekusi setelah ditangkap maka hal itu bertentangan dengan hukum internasional.
Juru bicara Komisi Tinggi HAM PBB Rupert Colville mengatakan bahwa apapun situasinya, eksekusi tanpa pengadilan adalah hal yang dilarang berdasarkan Hukum internasional. Colville menegaskan tersangka kejahatan perang atau bahkan kejahatan terhadap kemanusiaan seperti Muammar Khadafi seharusnya dibawa ke pengadilan.

Hal senada juga dikatakan oleh Pelapor Khusus PBB Ekstrayudisial Christof Heyns. Ia mengatakan bahwa penyelidikan mengenai kematian Khadafi merupakan ujian pertama bagi Libya dalam mewujudkan negara demokratis dan akuntabel.

Dalam Konvensi Jenewa, lanjut Heyns, sudah sangat jelas bahwa ketika seorang tawanan sudah ditangkap maka mereka tidak dapat dieksekusi secara langsung. Jika itu terjadi, maka penjahat perang yang sesungguhnya adalah pihak yang mengeksekusi secara langsung dan seharusnya bisa diadili.

“Sangat penting bahwa pemerintah baru memiliki pondasi yang kokoh, dimana di dalamnya tidak terdapat akuntabilitas atas tindakan ilegal,” ujar Christof Heyns, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Sabtu, (22/10)
Jika hasil penyelidikan PBB tersebut menunjukkan Khadafi tewas setelah ditangkap maka tidak menutup kemungkinan akan adanya hukuman bagi NTC atau pemerintahan sementara Libya yang baru. Hal ini tentunya akan menodai reformasi Libya di mata dunia.

Sebelumnya, istri Khadafi, Sofia Khadafi mendesak PBB agar menyelidiki kematian  suaminya yang tewas setelah ditangkap pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC). “Kami mendesak PBB agar menyelidiki seluk beluk kematian dari mujahid Khadafi,” seru Sofia Khadafi dalam televisi Suriah, seperti dikutip SABC.

Para pejabat NTC hari ini juga mengatakan, pemakaman Khadafi akan ditunda sampai Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) melakukan pemeriksaan terhadap kematian Khadafi.

Colville juga menambahkan, para korban penindasan rezim Khadafi layak untuk melihat prosesi pengadilan terhadap para pelaku penindasan yang akan segera dibawa ke pengadilan.(net/jpnn)

KPK Minta Pengawasan Hakim Diperketat

Setiap Provinsi Punya Tipikor

JAKARTA-Harapan baru pemberantasan korupsi kembali dihembuskan Mahkamah Agung (MA). Ditengah sorotan terhadap ulah hakim Ad Hoc Bandung yang membebaskan Wali Kota (non aktif) Bekasi Mochtar Mohammad, Instansi pimpin Harifin A. Tumpa itu membentuk 30 pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) baru.

Rinciannya, Pengadilan Tipikor itu ada di 33 Pengadilan Negeri dan 30 Pengadilan Tipikor tingkat banding. MA berharap agar Tipikor menjadi tumpuan masyarakat terhadap pemberantasan korupsi. “ Hakim harus mengungkapkan kasus korupsi dengan tegas dan benar,” ujar Kepala Sub Bagian Humas MA Andri Tristianto.

Terkait polemik lembaga peradilan yang disorot, dia mengatakan jika pengadilan adalah tempat untuk mencari keadilan. Indepedensi Hakim ditentukan oleh tinggi rendahnya moral dan integritas hakim. Diakuinya, saat ini independensi hakim memang sedang dalam ujian berat. “Orang kalah perkara yang membentuk sebuah opini,” imbuhnya.

Opini tersebut, bertujuan untuk membuat hakim takut. Padahal, seharusnya hakim tidak boleh takut demi melaksanakan tugas negara yang diemban. Namun, kalaupun ada hakim yang termakan opini dan bertindak sebagaimana mestinya, hal itu kembali ke pribadi hakim masing-masing.

Sebab, menurut Andri, MA sudah berusaha keras untuk mencari calon hakim Ad hoc yang berkualiatas. Semuanya juga sudah disesuaikan dengan persyaratan undang-undang. Sayang, usaha itu masih dikritik oleh beberapa orang. “Kenyataanya, mereka tidak pernah memberikan masukan tentang calon-calon yang melamar jadi Hakim Ad Hoc,” keluhnya.

Juru bicara KPK mengatakan bahwa hadirnya Pengadilan Tipikor di seluruh provinsi itu harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat terhadap para hakim-hakimnya. “MA maupun KY  harus meningkatkan pengawasannya,” kata Johan. (kuh/jpnn)

Evaluasi Tim

MEDAN-Pertandingan uji coba PSMS kontra PS Kwarta berakhir imbang 0-0, Sabtu (22/10). Kendati PS Kwarta hanya merupakan klub yang berada di Divisi III PSSI, PSMS belum mampu melesakkan sebuah gol pun ke gawang lawan.
Artinya, masih akan ada perjalanan panjang dan sulit bagi bakal asisten pelatih Suharto dan Roekinoy untuk meramu permainan anak-anak asuhnya. Tentunya dalam mencapai performa terbaik, paling tidak bisa meraih poin maksimal di tiap pertandingan. Dan ini tentu sebelum kedatangan pelatih kepala yang sudah tinggal selangkah lagi bergabung dengan manajemen, yakni M Khaidir.

Tak sedikit pula masyarakat Kota Medan sebagai pecinta tim sepak bola yang berjuluk Ayam Kinantan ini hadir di Stadion Kebun Bunga untuk menyaksikan laga tersebut. Tapi apa hendak dikata, permainan apik jarang terlihat, walau dari menit awal kedua tim memperlihatkan permainan cepat.

Banyak mimik wajah kesal dari masyarakat yang sengaja datang ke sana. Dengan penampilan juga hasil yang diraih PSMS ini, banyak pula selentingan yang menyatakan PSMS tak layak ikut bergabung dalam kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, yakni Liga Primer Indonesia (LPI).

Pada pertandingan tersebut, PSMS yang mengandalkan Saha di lini depan untuk menggedor pertahanan lawan, tak bisa berbuat banyak. Namun, kiper PSMS yang baru Jumat (21/10) lalu datang bergabung, Edi Kurnia, juga tak mampu dibobol penyerang PS Kwarta. Hasil imbang 0-0 bertahan hingga turun minum.

Pada babak kedua juga tak banyak merubah keadaan. Dengan melakukan pergantian pemain di semua lini oleh Suharto, kedudukan masih tetap kacamata.

Tak berbeda yang dilakukan pelatih PS Kwarta Kustiono, yang juga melakukan pergantian di berbagai lini timnya. Namun, hasil imbang tersebut memang tak bisa terbantahkan. Hingga peluit panjang dibunyikan, hasil tak berubah.
Usai pertandingan Kustiono menjelaskan, hasil imbang ini akan memberikan motivasi kepada pemain untuk persiapan dalam laga berikutnya. “Kemampuan anak-anak menahan gempuran PSMS memberikan satu semangat bagi mereka. “Karena mereka juga tau PSMS akan berlaga di LPI,” ujarnya.

ementara itu, Suharto yang dikonfirmasi mengenai hasil imbang itu menerangkan, pertandingan uji coba bukan untuk menentukan siapa yang kalah dan menang.

“Dengan uji coba, kita bisa mengetahui progress latihan yang mereka terapkan. Dan dengan ini pula kita bisa mengevaluasi lini mana saja yang masih harus dibenahi,” katanya. (saz)