Home Blog Page 14697

Mulai Jaga Sikap

Happy Salma

Menikah dengan Cokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa membuat Happy Salma jadi salah satu bagian dari bangsawan Bali.

Perempuan asal Sukabumi itu mendapat gelar jero wanasari yang berarti gadis dari hutan-hutan.
Menurut Happy, jadi bagian dari bangsawan Bali membuatnya harus bisa menjaga sikap. “Harus jaga sikap pasti. Di mana pun harus jaga sikap tapi, bukan karena dapat gelar kebangsawanan aku jadi jaga sikap, sebelumnya pun semua orang memang harus bisa menjaga sikap,” tutur Happy.

Padahal, Happy mengatakan, sebelum menikah, dirinya termasuk perempuan yang tomboi. “Ya, suka panjat-panjat pohon. Tapi, itu masa lalu,” ujarnya, lantas tertawa.

Kini bintang film True Love tersebut memiliki tanggung jawab kepada keluarga. Karena itu, Happy menghentikan tawaran bermain sinetron. Happy tak lagi mengejar materi. “Kalau saya kurang waktu buat keluarga, jadinya bagaimana,” ungkap dia.

Happy mundur dari dunia sinetron stripping karena tak ingin terlalu banyak menghabiskan waktu di lokasi syuting. Dia pun memilih FTV saja. “Masalahnya, kalau sinetron, satu episode bisa beberapa hari,” imbuhnya. (c10/agm/jpnn)

RS Haji Akan Diambil Alih Pemprovsu

Adanya wacana pengalihan RS Haji Medan ke tangan Pemprovsu, tergantung keputusan pihak yayasan. Hal itu diucapkan Direktur RS Haji Medan dr HMP Siregar SKM, Jumat (16/9) siang,
di ruang kerjanya.

“Dikelola Pemda atau tidak (Yayasan), bagi saya itu tidak masalah. Yang terpenting rumah sakit ini tetap memberikan pelayanan terbaik bagi siapa pun,” kata dr HMP Siregar.
Lebih lanjut diterangkannya, yang memiliki wewenang atas pengambil alihan rumah sakit yakni yayasan. Selain itu tambahnya, pihaknya mengharapkan jika rumah sakit tersebut diambil alih Pemprovsu, seluruh pegawai yang berjumlah 493 orang, termasuk dokter dan perawat, diharapkan lebih sejahtera. “Memang, perhatian pemerintah dalam kemajuan rumah sakit dinilai minim. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya bantuan yang diberikan oleh Pemprovsu,” kata HMP Siregar.

Tahun lalu, sambungnya, ada sekitar Rp7 miliar bantuan yang diterima. Itu pun dalam bentuk alat kesehatan (Alkes, red) yang diterima dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut. Sedangkan untuk tahun ini, tidak ada sama sekali.

HMP Siregar menegaskan, perlu perhatian lebih dari Pemda, mengingat pengurus rumah sakit ini orang-orangnya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementrian Agama (Kemenag) dan IPHI (Ikatan Pesaudaraan Haji Indonesia).

Wacana pengalihan ini, sebutnya, sudah didengar pihaknya saat melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi E DPRDSU 23 Agustus 2011 lalu. “Mereka (Anggota Komisi E DPRDSU, red) mengaku sudah ketemu dengan Gubernur dan menerangkan wacana pengambil alihan rumah sakit ke Pemprovsu,” tuturnya.(jon)

Tewas dengan Leher Nyaris Putus

MEDAN- Sesosok mayat pria dengan kondisi membusuk ditemukan di pinggir jalan tepatnya di kebun sawit menuju Afdeling II Kebun PTPN IV Adolina, Pantai Cermin, Batang Terap, Perbaungan, Serdang Bedagai, Jumat (16/9).
Untuk keperluan penyelidikan selanjutnya, mayat pria itu dibawa petugas Polsekta Perbaungan ke RSUD dr Pirngadi Medan.

Informasi diperoleh, jenazah pria yang tidak diketahui identitasnya ini, pertama kali ditemukan warga yang melintas areal perkebunan, sekitar pukul 10.00 WIB pagi, dengan terbungkus tilam berwarna merah serta dimasukkan kedalam drum plastik viber warna biru dan ditutupi tanah. Tidak hanya itu, kondisi mayat ini juga ditemukan dalam keadaan tangan dan kaki terikat dan leher hampir putus karena terikat tali nilon warna hijau.

Brigadir A Marbun, petugas Polsekta Perbaungan mengatakan, diduga jenazah pria tanpa identitas diperkirakan berusia 35 tahun. “Diduga pria tanpa identitas ini korban pembunuhan, karena pada leher korban juga ditemukan bekas gorokan. Jenazah pria ini, diperkirakan sudah membusuk sekitar tiga hari lalu,” katanya ketika ditemui di ruang kamar mayat RSUD dr Pirngadi Medan.

Diterangkannya, warga dilokasi kejadian saat itu heboh dengan penemuan tersebut dan langsung menghubungi petugas saat itu. Brigadir Marbun, selaku penyelidik menuturkan, saat ini sudah tiga orang saksi yang diperiksa terkait penemuan itu. (jon/mag-15)

Pengusaha Elektronik Ditipu Pembeli

MEDAN-Modus penipuan melalui barang elektronik kredit kembali terjadi. Kali ini menimpa pemilik toko barang elektronik di Jalan Kol Yos Sudarso, Kelurahan Pulo Brayan, tepatnya di Pasar Brayan. Akibat penipuan ini, Ridwan (35) pemilik toko elektronik tersebut merugi hingga puluhan juta rupiah.

Menurut Ridwan, yang merupakan warga Jalan Rakyat, Medan Timur, kejadian ini terjadi pada Mei 2011 lalu. Saat itu dia didatangi dua orang yang mengaku akan membeli barang-barang elektronik secara kredit.

“Saya yakinnya, dia menunjukan semua kelengkapan adminisrasi dan sebagai penjual, saya tidak menaruh curiga, apalagi saat ia mengaku bekerja sebagai karyawan asuransi swasta,” ujarnya.
Setelah surat perjanjian kredit disetujui, korban memberikan barang elektronik yang dipesan pelaku. Dan yang lebih meyakinkan lagi, pembeli yang mengaku kepada korban tinggal di kawasan Helvetia ini, memberikan pembayaran cicilan pertama atas barang yang dibelinya.

Namun aksi penipuan ini, mulai terkuak tatkala di bulan kedua, pembeli ini sama sekali tidak ada kabar untuk membayarkan cicilannya, dan hal itu berlangsung secara terus menerus hingga bulan keempat. (mag-7)

Terus Melawan, Antasari Azhar Luncurkan Buku dari Balik Penjara

Dikawal Tiga Srikandi, Mengaku Dekat Keluarga Cendana

Perlawanan mantan Ketua KPK Antasari Azhar belum berakhir. Setelah mengajukan peninjauan kembali (PK), sosok kontroversial itu akan menerbitkan sejumlah buku karangannya dari balik penjara. Salah satu buku diluncurkan kemarin (15/9) di Jakarta. Judulnya: Testimoni Antasari Azhar untuk Hukum dan Keadilan.

AGUNG PUTU-SEKARING R., Jakarta

Antasari Azhar dan keluarga Cendana ternyata memiliki hubungan yang cukup baik. Bahkan, Antasari sangat menghormati sosok almarhum mantan Presiden Soeharto. Karena itu, tidak heran jika dia mendukung pembatalan semua proses hukum terhadap Soeharto dan menganggap biasa gagalnya eksekusi terhadap Tommy Soeharto.
Sebelum menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari malang melintang menjadi jaksa. Namanya mencuat saat menjabat kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Namun, mencuatnya nama Antasari bukan karena prestasi, tapi karena kegagalannya mengeksekusi Tommy Soeharto yang kabur duluan setelah grasinya ditolak Presiden Abdurrahman Wahid.

Tommy ketika itu menjadi terpidana kasus korupsi tukar guling Goro-Bulog  Pada 27 September 2000, Mahkamah Agung (MA) dalam putusan kasasinya menyatakan Tommy serta Ricardo Gelael bersalah dan dihukum 18 bulan penjara dengan ganti rugi Rp 30,6 miliar serta denda Rp 10 juta. Seminggu setelah itu, Tommy dan Ricardo mengajukan grasi, tapi ditolak.

Karena grasi sudah ditolak, putusan kasasi sudah berkekuatan hukum tetap alias inkracht. Tommy harus dibui. Namun, karena terlau sore mendatangi rumah Tommy, Kejari Jakarta Selatan gagal menyeret Tommy ke hotel prodeo. Antasari malah menyalahkan media karena terlalu cepat memberitakan penolakan grasi Tommy.

“Saya baru menerima putusan pengadilan atas perkara Tommy pukul lima sore. Sebelum pukul lima sore, koran sudah memuat Tommy dihukum. Sebelum saya turun ke lapangan, Tommy sudah tidak ada di rumah. Dia pergi karena koran sudah memberitakan duluan bahwa Tommy dihukum,” kata Antasari dalam buku tersebut.

Antasari kembali berurusan dengan keluarga Cendana pada 2001. Ketika itu, mantan Presiden Soeharto akan dibawa ke meja hijau terkait kasus-kasus korupsi. Namun, kasus tersebut akhirnya tidak dilanjutkan karena tim kedokteran yang ditunjuk Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan menyatakan Soeharto menderita kerusakan otak permanen.

“Saya melihat dan yakin apa yang dikatakan dokter tentang sakit permanen. Dokter menyatakan A, Pak Harto menjawab B. Saat itu, rasa keadilan saya tersentuh. Hukum tidak berhenti pada kebenaran, tapi bermuara pada keadilan,” tulisnya.

Antasari saat itu memang terlibat dalam pusaran kasus keluarga Cendana. Sebab, pada kurun 2000-2007, dia menjadi kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Bahkan, saat hendak memeriksa Soeharto, dia dipaksa Tutut (putri sulung Soeharto) untuk menandatangani surat kesediaan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa terhadap Soeharto.

“Di situlah saya melihat dan menyaksikan. Dari rumah di Jalan Cendana, saya didampingi Tutut. Saya jemput Pak Harto, saya ketok kamarnya. Setelah saya lihat kondisi Pak Harto, nurani saya muncul,” ungkapnya dalam buku tersebut.

Kedekatan dengan keluarga Cendana hanya sekelumit kisah yang dibeberkan Antasari dalam buku yang dia tulis. Buku setebal 539 halaman itu diluncurkan kemarin di hall Arifin Panigoro di Universitas Al Azhar, Jakarta Selatan. Antasari tidak hadir karena harus dibui di Lapas Kelas I Tangerang. Dia diwakili istrinya, Ida Laksmiwati, serta dua putrinya, Andita Dianoctora Antasariputri dan Ajeng Oktarifka Antasariputri.

Hadir pula dalam peluncuran buku tersebut advokat Maqdir Ismail, artis Pong Hardjatmo, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fachry Hamzah, politikus Hati Nurani Rakyat (Hanura) Akbar Faisal dan Permadi, serta Jimly Asshiddiqie.

Jimly menjadi satu-satunya pembicara dalam acara peluncuran buku tersebut. Dia kembali menegaskan bahwa Antasari tidak bersalah. Mantan jaksa kelahiran Pangkal Pinang, Bangka, itu adalah korban peradilan sesat. “Kalau saya jadi hakimnya, saya akan bebaskan Antasari karena memang dia sama sekali tidak bersalah,” tegas Jimly lantas disambut tepuk tangan hadirin.

Sayangnya, buku tersebut tidak ditulis Antasari sendiri. Buku itu ditulis Servas Pandur dengan menuliskan kutipan-kutipan dari Antasari melalui wawancara di Lapas Tangerang.

Ida Laksmiwati menyatakan, Servas hanya membantu menulis. Semua bahan dan draf tulisan berasal dari Antasari. “Sebab, kan di penjara tidak bisa membawa komputer. Semua bahan ditulis bapak di kertas selama enam bulan di penjara. Kertas-kertas itu kemudian diverifikasi dengan data dan ditulis ulang,” jelasnya.

Masih banyak kisah lainnya. Yang paling seru tentu saja dugaan rekayasa kasus pembunuhan bos PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Karena dianggap aktor intelektual, Antasari diganjar hukuman 18 tahun penjara.

Sebelum ditahan, ada beberapa kasus yang ditangani Antasari saat masih menjabat ketua KPK. Di antaranya, kasus pengadaan alat penghitungan suara cepat di Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta dugaan pejabat KPK yang menerima suap. “Saya tidak tahu yang terlibat dalam kasus IT KPU itu siapa. Tiba-tiba saja saya sudah ditahan,” tulisnya.

Buku tersebut menjadi media pembelaan Antasari. Selain kedekatan dengan keluarga Cendana, dia mengungkapkan kronologi rekayasa kasus Bibit-Chandra yang heboh dengan cicak versus buaya serta kejanggalan-kejanggalan pembunuhan Nasrudin.

Dalam kasus Bibit-Chandra, Antasari kembali menyatakan bahwa rekaman pembicaraan dengan Anggoro Widjojo di Singapura tidak menyebut nama dua komisioner KPK itu sebagai penerima suap, tapi oknum berinisial AR dan MJ.

Dalam wawancara Jawa Pos (Grup Sumut Pos) dengan Antasari di Lapas Tangerang, dia tidak menyalahkan saat Jawa Pos menyebut dua oknum itu adalah Ade Rahardja (deputi penindakan KPK) dan M Jasin, salah seorang pimpinan KPK. “Saya baru mau kumpulkan bukti, ternyata saya sudah ditahan,” kata Antasari.

Ida menuturkan, buku tersebut hanyalah awal. Suaminya masih menyiapkan seri buku-buku lainnya. Tapi, temanya tidak akan serius seperti buku yang sekarang. “Masih ada tiga lainnya. Tapi, nanti isinya tentang komedi,” ungkap perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, itu.

Peluncuran buku tersebut juga menjadi penanda kekompakan keluarga Antasari setelah sang kepala keluarga dipenjara. Sebab, hampir semua teknis penerbitan dan peluncuran dikerjakan dua putri Antasari, Andita, 27, dan Ajeng, 25. Mereka berdua harus hilir mudik mengurusi undangan, stok buku di toko-toko, dan launching kemarin (15/9). “Kami dibantu teman-teman papa juga. Kebetulan, yang punya penerbit ini teman papa,” kata Ajeng.

Ida, Andita, dan Ajeng kini menjadi tiga srikandi pembela Antasari. Mereka bertiga saling berbagi peran menggalang dukungan. Ida kebagian tugas urusan domestik seperti menyiapkan makanan dan pakaian untuk Antasari. “Ibu urusan domestik, saya sama kakak urusan luar negeri,” ujar Ajeng lantas terkekeh.

Andita menuturkan, Ajeng-lah yang paling banyak berperan dalam setiap kegiatan terkait dengan Antasari. Sebab, dia lebih punya waktu luang. Saat ini, kuliah S-2 dia di Universitas Trisakti hampir rampung. Tinggal menyelesaikan tesis. “Kalau saya, kan sudah bekerja,” kata Andita yang berprofesi sebagai dokter umum di sebuah perusahaan asuransi kesehatan itu.

“Kami sudah kangen papa kembali ke rumah bersama kami. Memang, setiap hari kami bisa mengunjungi papa di penjara. Tapi, semua dibatasi waktu dan tidak bisa leluasa. Semoga yang kami lakukan bisa membuat papa bebas,” tutur Ajeng. (c5/kum/jpnn)

Rumah Kos SPG Plaza Medan Fair Terbakar

MEDAN- Satu Unit rumah berlantai II di Jalan Iskandar Muda Baru, Gang Mesjid, Keluruhan Sei Putih II, Kecamatan Medan Petisah, ludes terbakar, Jum’at (16/9) siang sekitar pukul 14.30 WIB.
Rumah berlantai II ini, merupakan kos-kosan yang ditempati Sales Promotion Girls (SPG) Plaza Medan Fair. Dugaan sementara, api berasal dari kompor gas yang meledak dari dapur rumah tersebut.

Informasi yang dihimpun Sumut Pos dilokasi kebakaran menyebutkan, rumah tersebut milik Devi (38). Saat itu, pemilik rumah sedang memasak untuk keperluan berjualan bakso di depan Plaza Medan Fair. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba kompor meledak dan membakar sebagian bangunan rumahnya.

Selang beberapa menit, 5 unit mobil pemadam kebakaran Kota Medan, tiba dilokasi memadam api yang membakar rumah tersebut. Namun saat dilakukan pemadaman, pemilik rumah sempat adu fisik dengan petugas pemedam karena dinilai lamban tiba dilokasi, sehingga rumah mereka ludes terbakar. (mag-7)

Tolak Kepsek Baru, Wali Murid Diancam Tembak

Selain konflik di gedung DPRD Binjai, aksi teror dengan mengancam tembak seorang wali murid juga terjadi di Sekolah Dasar (SD) 024753, Jalan Teratai, Gang Pendidikan, Binjai Utara, Jumat (16/9).

Ancaman penembakan itu, dialami Erlina Wati Pasaribu (46) warga Pasar I Cendana. Akibat ancaman itu, Erlina pun syok dan trauma karena tak menyangka mendapat ancaman dari orang tidak dikenal (OTK).

Menurut Erlina, OTK yang mengancam akan menembaknya itu mengaku anak Kepala Sekolah (Kepsek) yang baru. “Apa kau, aku tembak kau nanti. Aku anak Kepsek yang baru disini,” ungkap Erlina menirukan ancaman OTK tadi.
Lebih jauh dijelaskan Erlina, pengancaman itu diterimanya saat ia datang ke SD 024753 guna melihat anaknya. Saat itu, anaknya lagi senam atau olehraga.

“Kami memang tidak terima jika ada Kepala Sekolah yang baru. Makanya, kami selalu ada di sekolah. Jika Kepsek baru masuk, kami membawa anak kami pulang. Nah, ketika saya bercerita dengan wali murid lainnya terkait Kepsek yang baru, pemuda itu datang dan marah kepada saya. Dia mengancam akan menembak saya,” kata Erlina.

Namun sambung Erlina, saat pemuda itu mengancam, ia tidak ada mengeluarkan senjata api. “Memang waktu itu senjata apinya tidak dikeluarkan. Apakah memang ada atau tidak saya juga tidak tahu. Makanya saya penasaran dan menjadi takut,” ucapnya, seraya menambahkan, akan membuat laporan atas kejadian ini.

Tak sampai disitu, Erlina menjelaskan, ia dan wali murid lainnya, sudah berkomitmen akan mengeluarkan anak mereka jika Kepsek baru tetap masuk. “Kepsek yang lama sama kami sangat baik. Keperluan sekolahan anak kami sering dipenuhinya. Makanya kami pertahankan. Lagian, kenapa Kepsek yang baik-baik dipindahkan,” kata Erlina.

Begitu juga halnya dengan Ketua Komite SD T Simbolon, ia dan wali murid sudah berkomitmen untuk tidak mengganti Kepsek yang lama. “Selama kepemimpinan Kepsek yang lama, sudah banyak perubahan. Diantaranya proses belajar mengajar di SD ini lebih aktif. Bahkan, nilai siswa/i semuanya tinggi,” kata T Simbolon.

Terpisah, Kepala Sekolah SD 024753 Erlina, saat mengadakan pertemuan di Dinas Pendidikan, mengeluarkan semua unek-uneknya saat ia ingin memasuki sekolah tersebut.

“Saya tadi mau masuk. Tapi saya dihalau wali murid. Bahkan, saya sudah berupaya memberikan arahan kepada wali murid itu, tetapi mereka tetap tidak ingin saya masuk. Makanya saya minta arahan dari Dinas Pendidikan,” ujar Erlina di Dinas P dan P.

Menanggapi hal itu, Pjs Dinas Pendidikan Binjai Ismail, menyarankan kepada Kepsek baru itu, untuk tetap masuk dan berkoordinasi dengan ketua Komite sekolah.
“Wali murid itu dapat ditenangkan oleh ketua Komite. Untuk itu, ibu harus berkoordinasi dengan ketua Komite sekolah tersebut,” saran Ismail.(dan)

Sandro Senang Bertahan

Gelandang tangguh Tottenham Sandro merasa gembira dapat memperpanjang kontraknya di White Hart Lane pada awal bulan ini.

Pemain berusia 22 tahun tersebut akhirnya menandatangani kontrak baru yang akan menahannya sampai tahun 2015 mendatang.

“Saya gembira dengan adanya pengakuan dari kerja keras saya. Ini menandakan bahwa saya telah melakukan hal dengan benar dan saya harap saya dapat berkembang lebih jauh lagi di sini. Sekarang saya ingin kembali ke lapangan dan membuat musim yang bagus,” ujar Sandro.

Sandro saat ini masih dalam tahap penyembuhan cedera lutut yang didapatkannya saat membela timnas Brasil di Copa America. (net/jpnn)

Jual ABG Rp800 Ribu, Mucikari Dibekuk

MEDAN- Operasi pemberantasan trafficking kembali digelar Poldasu. Dalam operasi tersebut, dua ABG diamankan saat transaksi seks terselubung di Hotel Semarak, Jalan SM Raja, Kecamatan Medan Kota, Kamis (15/9) sekira pukul 18.00 WIB.
Dari oprasi itu, petugas berhasil mengamankan Zulfani alias Uci (28), seorang mucika dari dalam hotel.

“Dari hasil operasi, kita mengamankan 2 orang korban berinisial SL (19) warga Jalan Skip, Medan dan AS (19) warga Nibung Utama, Medan, yang diduga akan dijual kepada pria hidung belang dan mengamankan mucikarinya,” jelas Kasubdit IV/Unit Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Poldasu AKBP Jiddin Siagian.

Hingga kemarin malam, kedua korban dan mucikarinya masih dalam pemeriksaan intensif. Sambil menutup wajah, kedua korban yang ikut diboyong ke Mapoldasu tertunduk malu menghindari jepretan kamera wartawan.

Keterangan diperoleh di Mapoldasu menyebutkan, pengungkapan kasus tersebut, berawal dari informasi warga. Saat itu, petugas menyaru sebagai pria hidung belang dan melakukan transaksi dengan tersangka Uci. Saat berlangsungnya transaksi, Uci menawarkan setiap gadis sebesar Rp800 ribu per show time (sekali main).

Merasa buruannya masuk perangkap, petugas tadi pun menyanggupi biaya yang ditawarkanUci. Usai transaksi harga, tak lama berselang, kedua ABG bersama Uci muncul menghampiri. Tanpa buang waktu, petugas pun meringkus Uci. Sedangkan kedua korban, diamankan petugas dari kamar Hotel Semarak lantai IV ke Mapoldasu.   “Tarifnya Rp800 ribu bang sekali main, entar dulu ya bang, mereka masih diperiksa,” terang seorang petugas.

Sayangnya, pemeriksaan terhadap kedua korban traficking ini, dilakukan secara tertutup, sehingga sejumlah wartawan tak bisa mengambil gambarnya.

Kasubdit IV/Renakta Poldasu AKBP Jidin Siagian ketika dihubungi mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap kedua korban.
“Saat ini kasusnya lagi kita dalami, kita akan terus gelar operasi mengungkap kasus serupa lainnya,” tegasnya.(mag-5)

Diduga Stres Dimutasi, Mantan Kepsek Meninggal

Kebijakan Wali Kota Binjai HM Idaham, melakukan mutasi besar-besaran terhadap Kepala Sekolah (Kepsek), ditenggarai penyabab terjadinya konflik di tubuh Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P) Kota Binjai. Bahkan, akibat mutasi tersebut, seorang oknum guru Dem Sriyati (57) meninggal dunia diduga stres, Kamis 15/9) sekira pukul 14.00 WIB.

Dem Sriyati yang tinggal di Jalan Binjai-Stabat, Pantai Pakam, Karang Rejo, Kabupaten Langkat itu, sebelumnya menjadi Kepsek di SD Negeri 024766 Jalan Datuk Bakar, Kelurahan Pekan Binjai, Kecamatan Binjai Kota. Namun, setelah dimutasi oleh Wali Kota Binjai beberapa bulan lalu, ia langsung jatuh sakit dan tak bersemangat.

“Iya bang, memang setelah dimutasi, almarhumah tidak bersemangat. Berbeda dengan sebelumnya, dimana ia tampak ceria. Perubahan itu terjadi saat memasuki hari Raya Idul Fitri kemarin,” ujar Sugeng (35), salah seorang keluarga almarhumah saat ditemui di rumah duka.

Lebih jauh dijelaskan Sugeng, ketika lebaran kedua, almarhumah tampak murung, seakan ada beban berat yang dipendam. “Saya lihat almarhumah selalu termenung. Lantas, saya tanya, kenapa buk? kalau ada masalah beri tahu, mana tahu saya bisa membantu. Tapi, almarhumah tidak mau menjawab. Mungkin, saya tidak perlu tahu apa masalah yang diembannya,” kata Sugeng menceritakan. Tak lama setelah almarhumah merenung, akhirnya dia sakit dan meninggal dunia kemarin.

Hal senada dikatakan Mareti Sihombing, guru honorer di sekolah almarhumah mengajar. Menurutnya, almarhumah memang nampak banyak diam. “Sebelum meninggal dunia, almarhumah sempat cerita kepada saya, kalau ia sudah tidak lagi menjadi kepala sekolah, tetapi menjadi guru biasa,” ungkap Mareti.(dan)