Home Blog Page 14703

Uang Rampokan untuk Bayar Utang

Pelaku Perampokan Toke Sawit Diamankan

BINJAI- Masih ingat dengan kasus perampokan dialami Hendra (27) warga Jalan MT Haryono, Kecamatan Binjai Utara, yang terjadi Senin (25/7) sekitar pukul 17.30 WIB lalu. Kini, satu dari dua pelaku perampokan terhadap tokeh sawit tersebut, berhasil diamankan petugas Polres Binjai, Sabtu (8/10), sekitar pukul 07.00 WIB.

Pelaku yang berhasil diamankan itu yakni, Maruba Sitorus (29) warga Lingkungan IX, Sei Mati, Medan Labuhan. Selain pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti berupa sepeda motor Yamaha Mio warna merah BK 5368 HX yang diduga baru dibeli pelaku dengan menggunakan uang hasil rampokannya.

Selain itu, barang bukti lainnya yang berhasil diamankan yakni, buku tabungan Bank Sumut berisikan uang sekitar Rp5 juta, satu buah lemari dengan harga sekitar Rp1,5 juta, dan satu AC merek Sony dengan garga sekitar Rp2,5 juta.
Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan Sumut Pos di Polres Binjai menyebutkan, sejak terjadinya perampokan tersebut, petugas Polres Binjai yang dipimpin Kanit Ekonomi Ipda H Tobing beserta anggotanya, terus melakukan penyidikan terhadap peristiwa itu.

Akhirnya, penyidikan yang dilakukan selama kurun waktu sekitar 3 bulan tersebut membuahkan hasil. Dimana, satu dari dua pelaku perampokan berhasil diamankan di rumahnya saat sedang tidur dan sempat bersembunyi di dalam lemari.

Untuk selanjutnya, petugas membawa tersangka ke Polres Binjai beserta barang bukti. Di Polres Binjai, Maruba Sitorus mengaku, kalau ia tidak mengetahui dimana sisa uang hasil rampokannya tersebut.

“Uang hasil rampokan itu, kami bagi dua. Saya dapat Rp30 juta, sementara sisanya diberikan kepada pelaku lain berinisial AN,” ungkap Maruba Sitorus.

Maruba Sitorus, kepada wartawan Sumut Pos mengatakan, uang hasil rampokannya itu, digunakan untuk membayar hutang, memberi orangtua, membeli sepeda motor, lemari, dan menebus tanah. (dan)

Politeknik Harus Evaluasi Lulusan

MEDAN- Belakangan ini, kebutuhan dunia industri terhadap sumber daya manusia (SDM) yang bersifat tenaga ahli (alumni D-3 politeknik ) semakin tinggi. Untuk itu, diharapkan perguruan tinggi memperbaiki mutu lulusan.

Anggota Kopertis Wilayah I Sumut-NAD, Sederhana Sembiring menganjurkan, lembaga politeknik untuk melakukan evaluasi  dengan ketat, mengingat sebagian besar dunia industri sering menggunakan tenaga ahli dari lulusan politeknik (poltek). “Selama ini kompetensi politeknik sudah diakui oleh dunia industri. Namun demikian, seiring perkembangan zaman kompetensi yang diminta oleh dunia industri juga turut berkembang,” ujar Sederhana Jumat (7/10).

Sehingga bilang Sederhana, diminta kepada seluruh politeknik khususnya di Sumut dan NAD terus meningkatkan kompetensinya.  Mengingat salah satu permintaan dunia industri, adalah setiap lulusan harus melek teknologi atau dalam bahasa lain tidak gagap terhadp teknologi.

Sederhana juga mengatakan, salah satu bukti politeknik itu memiliki kompetensi yang bagus ditandai dengan akreditasi.
Untuk itulah, sambungnya politeknik harus terus menjaga akreditasi yang sudah baik dan terus meningkatkan akreditasi yang dinilai masih cukup.

“Ciri-ciri poltek yakni selalu memiliki laboratorium dan bengkel untuk melatih skill mahasiswanya,” paparnya.
Menyikapui hal itu staf ahli Politeknik MBP, Miduk Purba ketika dikonfirmasi mengatakan laboratorium merupakan salah satu penentu kompetensi itu bagus. Selain itu, katanya kualitas dan pemilihan dosen juga penting untuk mendukung skill mahasiswa yang nantinya terjun ke dunia kerja.

“Jadi bukan hanya mahasiswa yang mengerti dan menguasai teknologi modern, dosen juga harus menguasi teknologi, sehingga jalannya akan beriringan. Percuma fasilitas canggih tapi dosennya tidak memahami teknologi,” sebutnya.(uma)

Berawal Dari Menonton Acara Televisi

Gadis Cacat Tekuni Usaha Tas Manik-Manik

Meski mengalami cacat kaki sejak kelas II Sekolah dasar (SD), tak membuat Sumaria (42) berkecil hati bahkan sampai prustasi. Berbekal semangat tinggi, gadis yang mengalami penyakit kaki mengecil ini, mampu menghasilkan karya nyata dengan memproduksi tas manik-manik. Seperti apa kisahnya?

SOPIAN, Tebing Tinggi

Dengan kondisi kaki mengecil dan tidak bisa berjalan selayaknya orang biasa, namun dia tidak menyusahkan orang lain dan terus menekuni pembuatan tas dari manik-manik dan sudah berjalan empat tahun ini.
Saat ditemui Sumut Pos, Minggu (9/10) di kediamannya di Jalan Gunung Arjuna, Lingkungan II, Kelurahan Mekar Sentosa, Kecamatan Rambutan, Kota Tebing Tinggi, Sumaria mengaku, menekuni profesi pembuatan tas manik karena dirinya ingin mandiri.

“Empat tahun sudah saya tekuni pembuatan tas manik-manik, dari pada duduk-duduk menyusahkan orang lain, dengan usaha ini kita jadi hidup mandiri tidak mengharapkan pemberian orang lain,” kata Sumaria yang tinggal di ruangan 3×3 meter.

Anak ke empat pasangan almarhum Muhammad Yusuf dan Rosmini ini, menderita kelumpuhan sejak kecil, saat itu dia menderita sakit panas, setelah dibawah berobat keberbagai rumah sakit, malah sakitnya tidak kunjung sembuh hingga sampai sekarang.

“Walaupun kaki saya cacat dan tubuh ku kecil seperti ini, tetapi semangat untuk hidup dan mandiri tak menjadi pantangan bagi saya. Saya terus bekerja keras untuk memenuhui kebutuhan hidup saya yang ditinggal orang tua (ibu) merantau ke Medan,” sebutnya.

Sementara untuk menghidupi dirinya sehari-hari karena tinggal bersama kakaknya Mila, Sumaria terus membuat tas manik-manik yang dijual kepada pemesan terlebih dahulu. Tas manik-manik dengan berbagai macam corak, warna dan bentuk ini, dikerjakannya tanpa kenal lelah baik siang dan malam, untuk tas manik cantik paling murah dipatok dengan harga Rp15.000 hingga harga Rp100.000 untuk ukuran besar. Untuk model dan jenis, tas manik bisa dipesan sesuai kebutuhan, seperti, tempat handphone, tas sandang melancong dan sofenir lainnya. Untuk bahan manik-maniknya, dia memesan di Kota Medan dengan dibantu ibunya sebulan sekali.

“Ibu saya yang membelikan bahannya, untuk bahan-bahan membuat tas manik terdiri dari manik-manik, benang nilon, jarum jahit dan kain lapis,” kataSumaria.

Sementara untuk pemasaran, Sumaria mengalami kendala, pasalnya untuk pemasaran dirinya hanya punya teman yang menjualkan dengan cara dikreditkan kepada tetangga dan orang lain.

Dia pun sangat berharap, Pemerintah Kota Tebing Tinggi bisa memfasilitasi pemasaran tas manik-manik buatannya untuk dipasarkan di dalam kota maupun luar kota. Sementara untuk bantuan dari pihak Pemko, dirinya mengaku sudah pernah menerima bantuan walupun nilainya dirasa masih cukup kecil.

“Bantuan pernah diterima, tapi untuk penambahan modal masih kurang. Yang lebih penting, pemasarannya mas, pemerintah diharapkan bisa membantu,” harap Sumaria dengan duduk terpaku merajut manik-manik dengan sabar di dalam kamar tidur sekaligus tempatnya bekerja.

Sebelum Sumaria menekuni pembuatan tas manik-manik ini, dahulu dia  tidak punya kegiatan dan hanya duduk-duduk di rumah. Bermula melihat tontonan di televisi, dirinya berinspirasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri.

Dan ilmu yang didapatkan itu, mendapatkan dukungan penuh dari ibunya hingga dia terus menekuni usaha tas manik-manik sampai sekarang.

“Sebenarnya untuk ilmu ini diperoleh secara alami (otodidak), ditambah sokongan dari orang tua (ibunya) dan buku,” jelasnya.

Masih Sumaria, untuk menyelesaikan satu tas ukuran kecil, butuh waktu satu hari merajut manik-maniknya. Untuk tas yang sedang, butuh waktu selama empat hari, sedangkan yang besar bisa memakan waktu hingga setengah bulan lamanya. Dalam pembuatan tas rajut manik-manik ini, dibutuhkan kesabaran.

“Kalau orang yang tidak sabar, tidak akan bisa merajut tas manik ini. Kita harus merajut satu persatu manik-manik hingga menjadi sebuah tas,” bebernya.

Untuk keperluan makan, dia memberikan uang belanja kepada kakaknya setiap minggu dari hasil penjualan tas manik-manik. Untuk mandi, Sumaria bisa berjalan ke kemar mandi dengan cara merangkak dan duduk di kursi roda dia juga melakukannya sendiri.

“Semuanya kalau masih bisa, saya lakukan sendiri, tapi kalau tak mampu baru minta bantuan kakak,” cetusnya sembari memasukkan manik-manik ke dalam benang nilon.

Penjualan tas manik untuk satu bulannya belum memuaskan. Penjualan tas manik dalam sebulan hanya lima belas buah ukuran kecil dan sedang. Parahnya, penjualan tas manik-manik ini dilakukan secara kredit sehingga putaran uangnya lamban.(*)

Budaya Bersih Belum Beres

Bagi sebagian orang mungkin soal sanitasi adalah sesuatu yang sepele. Padahal, selain sangat berpengaruh pada lingkungan, sanitasi yang bermasalah juga bisa menghilangkan nyawa.

Ya, penyakit terkait air, sanitasi, dan  masalah kebersihan  (hygiene) berdasar  kan data World Health Organization (WHO) 2008 menyumbangkan 3,5 persen dari total kematian di Indonesia. Sedangkan salah satu penyakit akibat ketiga hal tersebut, yaitu diare, menyumbang kematian nomor satu pada balita di Indonesia—sebesar 25 persen sesuai data Riset Kesehatan Dasar 2007.

Masalah utama yang mempengaruhi adalah masalah sanitasi. Meliputi banyak faktor sanitasi seperti selokan tersumbat, mencuci dan mandi di sungai tercemar, buang air besar sembarangan, jamban yang asal-asalan, pembuangan limbah industri di kawasan pemukiman, dan pembuangan liar lumpur tinja.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan fasilitas seperti seperti mandi cuci kakus (MCK) masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan jamban dengan pembuangan yang tidak benar.

Selain penyakit terkait air, sanitasi dan kebersihan, angka kematian juga sangat dipengaruhi oleh perilaku orang Indonesia. ‘’Penyakit-penyakit ini sebenarnya bisa dihindarkan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),’’ kata Tjandra.

Penyakit seperti diare, cacingan dan typus bisa menular dari tangan yang tidak bersih. Sayangnya, perilaku cuci tangan masih jarang dilakukan orang. Secara umum perilaku cuci tangan pakai sabun orang Indonesia masih sangat rendah. Data perilaku cuci tangan Kementerian Kesehatan 2010 mencatat hanya 23 persen orang yang mencuci tangan dengan sabun. Meningkat dua kali lipat dibanding 2007 yang sebesar 11 persen.

Meski begitu, kajian morbiditas diare tahun 2010 oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan penurunan penderita diare dari 423 per seribu penduduk menjadi 411 per seribu penduduk. Menurut Tjandra, cuci tangan pakai sabun adalah cara sederhana menjaga kesehatan dan bisa menurunkan kasus diare hingga 47 persen, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan flu burung hingga 50 persen. (bbs/jpnn)

Galian Parit Jalan Tombak Dihentikan

081375613xxx

Yth Bapak Wali Kota Medan, kami tahu Bapak perduli dengan drainase tapi kenapa galian parit di Jalan Tombak dihentikan? Sementara yang sudah digali paritnya masih bagus. Sekarang kami yang tinggal di Jalan Tombak arah Pancing sering kebanjiran walaupun hujan hanya sebentar karena air parit meluap. Tolong kami diperhatikan Pak.

Dikoordinasikan

Terima kasih informasinya, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait yakni Dinas Bina Marga. Selanjutnya, melalui instansi tersebut akan mengecek langsung ke wilayah yang telah disebutkan. Kemudian, kami meminta agar kelurahan dan aparatur kecamatan juga melaporkannya kondisi terakhir mengenai wilayah tersebut.

Khairul Buhari
Plt Kabag Humas Pemko Medan

Lebih Gampang Diingat

Ayu Ting Ting Ganggu Dominasi Boyband dan Girlband

Belum habis kata menyoal Ayu Ting Ting. Lewat ‘Alamat Palsu’ dan sosok polosnya, Ayu mampu membuka mata bahwa dangdut belum ‘habis’. Maklum saja, musik tanah air belakangan terlalu disesaki kalangan boyband ‘berwajah’ Korea.

Ayu bahkan disebut-sebut berhasil menggeser kepopuleran para boyband dan boygirl yang baru-baru ini berhasil menarik perhatian masyarakat pecinta musik Indonesia. Lalu apa kata selebritas soal fenomena Ayu Ting Ting di tengah-tengah maraknya grup boyband dan girlband?

Mantan VJ MTV, Nirina Zubir, dan penyanyi Rossa tertarik untuk menanggapi hal ini. Bagi Nirina kehadiran Ayu Ting Ting di tengah-tengah maraknya grup boyband, semakin menambah variasi dunia musik Indonesia. “Nggak apa-apalah. Semakin banyak penyanyi, semakin banyak variasi dalam musik Indonesia,” kata Nirina saat ditemui di Jakarta.
Bahkan, artis muda Rina Diana menilai kesuksesan yang diperoleh Ayu Ting Ting saat ini bukanlah suatu keberuntungan semata. Namun, berkat kegigihan Ayu yang luar biasa di usia yang masih belia. “Aku salut sama dia, kesuksesannya ini hasil dari kerja kerasnya. Bukan karena instan atau aji mumpung, tapi emang kerja keras dari nol,” kata Rina.

Si cantik berdarah Manado-Yunani ini mengaku bangga dengan Ayu Ting Ting yang mau berkiprah di musik dangdut. Padahal, kata dia, kebanyakan masyarakat menganggap dangdut itu musik kelas bawah dan susah ngehits.
“Dia hebat, mau berkarier di musik dangdut. Lagunya emang bagus. Padahal musik dangdut jarang dilirik. Meski kata orang kampungan, tapi menurut aku lagu dangdut itu keren,” paparnya.

Diva cantik Rossa juga merasa bangga industri musik tanah air diramaikan oleh para pendatang baru yang berhasil menyedot perhatian. Ia senang, perkembangan musik Indonesia kini dipegang oleh kaum musisi muda.
“Aku pikir persaingan antar mereka fair dan sehat. Baik Ayu Ting Ting dan para boys atau girlband itu bersaing sehat di genre musik  mereka masing-masing. Ayu dengan dangdutnya, sedangkan mereka (boyband) di jalur pop. Mereka berkompetisi di blantika musik Indonesia secara profesional untuk merebut hati masyarakat dan pangsa pasar industri,” katanya.

Mantan istri Yoyo Padi ini pun merasa sudah kepincut dengan penampilan Ayu Ting Ting. Menurutnya, meski baru berusia 19 tahun, Ayu berhasil menyihir perhatian publik. Tidak hanya piawai dalam menyanyi, Ayu juga mulai merambah ke dunia lain.

“Yang aku tahu juga di salah satu acara, dia sudah pintar jadi host juga. Nah, kalau boy atau girlband itu, banyak yah, aku saja sampai sulit menghapal  nama dan lagunya. Malah antar mereka itu yang berkompetisi, bukan sama Ayu,” uajar Rossa menanggapi.

Presenter Olla Ramlan juga memberikan komentar tak jauh berbeda. Sebabnya, dangdut dengan segala keterbatasan dan cap jeleknya, terbukti mampu bertahan di tengah kepungan aliran musik modern.

“Lagunya enak didengar dan liriknya gampang diingat, jadi wajar saja menjadi hits. Walaupun itu musik dangdut, nggak ada masalah. Selama lagu itu enak didengar, pasti bisa jadi hits,” kata Olla.

Kenapa lagu milik Ayu Ting Ting meledak di pasaran? Menurut janda Alex Tian ini, itu karena dangdut sangat mengakar di blantika musik tanah air. Dangdut, kata dia, lebih simpel dan cenderung peka terhadap kondisi sosial masyarakat.
“Dangdut itu kan musik negeri sendiri. Wajar kalau lagunya meledak karena orang sudah akrab mendengarnya. Ya meskipun selera orang itu masing-masing beda ya,” paparnya.

Ke depan, Olla bahkan yakin dangdut bisa merajai chart musik Indonesia. Syaratnya, musisi dan pencipta lagu dang­dut terus kreatif mencari tahu apa yang mau didengar oleh penikmat musik. Makanya itu, tak perlu khawatir dangdut bakal tergerus aliran boyband atau girlband yang belakangan ikutan booming. “Kadang-kadang kita tidak perlu lihat yang lagi trend apa. Kita harus jadi leader dalam satu hal, bukan hanya jadi follower. Me­nurut saya gebrakan itu penting,” tegasnya.

Lalu, bagaimana dengan penyanyi dangdut Dewi Perssik? Hm, rupanya Si ‘goyang gergaji’ itu mengaku kaget saat mengetahui Ayu Ting Ting mengidolakannya. “Kalau saya disukai sama se­seorang, sesama profesi saya bangga. Seperti saya suka umi Elvi Sukaesih dan Bang Haji Rhoma Irama,” kata janda Saipul Jamil itu.

Depe juga tak merasa tersaingi dengan kehadiran Ayu Ting Ting. “Rezeki tidak ada yang menyaingi, biar orang yang menilai. Rezeki nggak bisa dipilih. (Misalnya) suara dan goyangan yang lebih bagus dari saya itu banyak,” pungkasnya. (rm/jpnn)

Jadikan Korea Kiblat Kreatif

Pedangdut fenomenal Ayu Ting Ting rupanya ingin mengembangkan dangdut modern gaya baru. Menariknya, ketika seakan ‘dikepung’ boyband dan girlband ‘berwajah’ Korea, dia malah ingin memadukan dangdut dengan Korea Pop.
“Saya ingin ciptain style Korea. Orangnya ganteng dan cantik, mereka suka pakai baju simple dan lucu,” ucap Ayu Ting Ting di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Penyanyi yang populer lewat lagu ‘Alamat Palsu’ ini mengaku sangat mencintai film dan lagu Korea. Jika tak ada hambatan, Ayu Ting Ting berencana akan pergi ke Korea Selatan untuk sebuah pekerjaan.

“Filmnya suka, ceweknya cantik dan imut. Akhir tahun mau ke Korea ada kerjaan” akunya.

Ya, nama Ayu Ting Ting belakangan melonjak begitu lagu ‘Alamat Palsu’ dalam album disukai semua golongan anak-anak hingga dewasa. Tapi siapa sangka saat masih duduk di bangku SMP atau SMA, saat mengawali menyanyi amatiran dia sempat ragu apa musik dangdut disukai anak sebayanya saat itu.

“Waktu jaman SMP atau SMA musik dangdut kan jarang disukai anak-anak sebayaku. Juga belum ada penyanyi dangdut yang heboh,” ungkap Ayu.

Tidak hanya itu, ada beberapa teman memandang sebelah mata penyanyi dangdut bahkan ada yang sinis sama musik dangdut. “Tapi aku jalan terus dan berusaha memberikan nuansa yang beda syukurnya berhasil,” tambahnya. Penyanyi yang konon bertarif Rp30 juta sekali manggung itu, mengaku bersyukur kehadirannya dalam kancah musik dangdut Indonesia disukai masyarakat.

“Saya senang kalau memang semua kalangan usia menyukai lagu yang dinyanyikan Ayu. Pokoknya senang bisa menghibur,” ungkapnya genit. (bbs/jpnn)

Bandar Sabu Berkeliaran di Deli Serdang

081361458xxx
Pak Kapoldasu kenapa di wilayah hukum Polres Deli Serdang pemakai dan kurir sabu ditangkapi? Sedangkan bandarnya bebas berkeliaran mencari mangsa di Kecamatan Beringin Pantai Labu. Ada dugaan bandar sabu  dipelihara oknum-oknum Polres Deli Serdang dan dijadikan kibus. Tak heran peredaran sabu merajalela saja. Berani nggak Kapoldasu menindak oknum Polres yang membekingi? Soalnya sangat meresahkan warga.

Sampaikan Data Lengkap Anggota

Terimakasih atas laporannya. Sebagai musuh bersama, kami sangat mengharapkan kerjasama dari masyarakat. Untuk itu kiranya warga masyarakat agar menyampaikan kepada kami data lengkap anggota yang terlibat untuk kami lakukan penyelidikan.

AKBP Raden Heru Prakoso
Kabid Humas Poldasu

Jangan Hanya Tingkat Kurir

Mengenai keterlibatan oknum polisi membekingi kegiatan para Bandar sabu memang sangat disayangkan. Begitu pun kita tidak baik juga menunjuk tanpa dibarengi bukti dan fakta yang kuat mengenai keterlibatan anggota polisi tersebut. Untuk itu, kami berharap warga masyarakat menyampaikan bukti yang ada ke Komisi A DPRDSU agar kita tindaklanjuti ke Kapolda. Untuk penangkapan di tingkat kurir saja, tentunya itu untuk pengembangan mencari siapa yang mengirim kurir tersebut.

Hasbullah Hadi
Komisi A DPRDSU

Tunjangan Guru Delitua

0813973553xxx

Yth Kabid Humas Infokom Deli Serdang Bapak 3 kali buat pernyataan. 1 minggu ini akhir agustus,  2 bulan ini akhir Septmber 3 dan pertengahan bulan ini tanggal 6 Oktober 2011. Coba Bapak sebut tanggal lah jangan omong saja tentang insentif dan tunjangan SBY. Dari guru Delitua Deli Serdang.

APBD Sudah Cair

Untuk insentif dan tunjangan dari APBN sudah mulai diterima guru. Mengenai tunjangan dan insentif dari APBD mohon para guru untuk menunggu. Kami tidak bisa memastikan tanggalnya kapan. Mohon maaf atas keterlambatannya dan terimakasih.

Drs Umar Sitorus
Kabid Humas Infokom Deli Serdang

Maling Berkedok Jaga Malam

081375839xxx

Sindikat pencurian mobil di ujung jalan Merak Sunggal, tolong ditangkap atau di tembak mati saja mereka yang berkedok jaga malam padahal maling. Trima kasih Pak Polisi.

Pengumpulan Bukti dan Saksi

Terimakasih atas laporannya. Saat ini kami masih mengadakan penyelidikan dan pengumpulan saksi dan bukti yang lain. Secepatnya akan kita tangkap apabila sudah memenuhi bukti permulaan yang cukup.

Kompol Budi Hendrawan Sik
Kapolsek Sunggal