Karnaval Musik dan Ulos Ramaikan Temu Pusaka Indonesia 2011
Sebanyak 500-an peserta dari berbagai etnis, budaya dan agama meramaikan Karnaval Musik dan Ulos pada Temu Pusaka Indonesia 2011 yang digelar Badan Pelestaraian Pusaka Indonesia (BPPI) dan The Tjong A Fie Memorial Institute di Rumah Tjong A Fie Jalan Ahmad Yani Medan, Minggu (9/10). Kegiatan ini dikonsep untuk memperkenalkan beragam budaya Indonesia, dari seni tarian, musik,
kuliner hingga busana.
Direktur Eksekutif The Tjong A Fie Memorial Institute, Fon Prawira Tjong mengatakan, kegiatan yang juga melibatkan sejumlah model Kota Medan serta ratusan orang ini, sengaja dilakukan untuk mengangkat kembali budaya dan sejarah Indonesia khususnya Kota Medan. Selain itu, kata Fon, Temu Pusaka Indonesia 2011 juga dilaksanakan dalam rangka mengenalkan kembali ragam budaya dan etnis di Indonesia, khususnya peranakan Tionghoa Melayu yang begitu kental di dalam sejarah Tjong A Fie.
“Tahun ini sengaja kita konsep dengan mengangkat sejarah dan budaya ulos yang dipadukan dengan pakaian kebaya untuk mengangkat rasa kecintaan para generasi muda terhadap nilai budaya tersebut,” ujarnya.
Kegiatan itu juga dilakukan dalam upaya melestarikan nilai budaya yang mulai luntur di telan zaman, sehingga tahun berikutnya acara diharapkan bisa dikemas lebih bagus dan lebih kaya akan nilai budaya.
Dalam kesempatan yang sama, kordinator pelaksana kegiatan, Merdy Sihombing mengatakan, jika kegiatan Temu Pusaka Indonesia 2011 tak lain dilakukan dalam membangkitkan kembali kejadian-kejadian di Kota Medan yang sebelumnya pernah terjadi di rumah Tjong A Fie, yang kini bergelar sebagai cagar budaya nasional sejak 2010 silam.
“Diharapkan, dengan kegiatan ini bisa membangkitkan kecintaan atas nilai sejarah yang pernah terjadi di Kota Medan, khususnya Tjong A Fie sebagai tempat yang menyimpan banyak sejarah,” ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB ini, dimulai dari penyambutan para tamu atau temu karya, pagelaran busana, tarian, kuliner, serta mengunjungi museum Tjong A Fie, yang mana seluruh kegiatan dilangsungkan di Rumah Tjong A Fie.
Penutupan kegiatan itu mengambil lokasi di titik nol Kota Medan atau tepatnya di depan Kantor Pos Medan. “Titik nol sengaja kita ambil dengan maksud sebagai pengingat kembali untuk mengulang sejarah, sebagai wujud mempersatukan bangsa dari segala etnis lewat budaya, dan ini sejalan dengan tujuan Tjong A Fie,” sebut Fon Prawira sekaligus menutup pertemuan dengan waratan koran ini.(uma)

