Home Blog Page 14713

Cegah Diabetes dengan Kulit Bawang

Kulit bawang merah sering dibuang sebagai sampah. Sebaiknya mulailah mengumpulkan kulit bawang ini. Karena kulit bawang ini ternyata mengandung banyak khasiat. Sangat bagus sebagai penangkal kanker dan berbagai penyakit serius.
Bawang merah merupakan salah satu bumbu dapur wajib dalam hampir setiap masakan. Namun, tidak sedikit orang mengupas kulit bawang dan membuangnya. Padahal, menurut sebuah penelitian terbaru, kulit bawang merah terbukti memiliki senyawa yang bisa menangkal kanker dan penyakit diabetes.

Bawang merah mengandung sulphur compound seperti Allyl Propyl Disulphida (APDS) dan flavonoids seperti quercetin yang dipercaya bisa mengurangi risiko kanker, penyakit jantung dan kencing manis. Bawang juga mempunyai unsur-unsur anti-kanker, anti bakteria, anti-viral, anti-allergenic dan anti-inflammatory.
Tidak hanya pada buahnya, kulit bagian luar bawang yang mengering dan berwarna lebih pekat dari buahnya juga memiliki kandungan serat dan flavonoid yang tak kalah tinggi. Seperti yang dinyatakan oleh sebuah studi Journal Plant Foods for Human Nutrition.

“Limbah bawang merah merupakan sumber bahan alami yang bernilai tinggi. Sebab, jenis sayuran ini kaya akan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia,” kata Vanesa Benitez, seorang peneliti di Departemen Kimia Pertanian Universitas Madrid, Spanyol.

Sebuah kelompok riset Benitez yang bekerjasama dengan para ilmuwan dari Universitas Cranfield Inggris, melakukan eksperimen laboratorium mengenai manfaat kulit bawang. Mereka mengidentifikasi zat dari setiap bagian bawang.
Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa, kulit bawang yang kering mengandung serat diet tinggi dan juga mengandung senyawa fenolik, seperti quercetin dan flavonoid, serta metabolit lain, yang bersifat sebagai obat. Dua lapisan bawang paling luar juga mengandung serat dan flavonoid yang juga baik buat tubuh.

“Maka banyak serat bisa memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit kardiovaskular, keluhan gastrointestinal, kanker usus besar, diabetes tipe-2 dan obesitas, dibanding mereka yang sedikit makan makanan berserat” tambahnya. (net/jpnn)

Kartini Br Regar

Ini bukan tentang pejuang perempuan yang hidup melawan buta aksara. Ini hanya tentang seorang perempuan, pekerja keras. Itu saja.

Cerita oleh Muram Batu

Kalaupun saya ceritakan kisahnya di sini tak lain karena kemarin sore dia berada tepat di depan pintu rumah saya sambil memaki, “Woi! Bujang! Sudah tak bisa juga kau sisihkan uang dua ribu untukku hari ini!”

Seandainya saya berada di Sumatera Bagian Selatan, tentunya kata ‘bujang’ tadi tidak begitu masalah, tapi kini saya berada di Medan. Langsung saja, ketika mendengar makiannya itu, terbayang dalam otak saya pikiran tetangga. Tentunya, karisma saya sebagai jurnalis ternoda. “Masa’ dua ribu saja nunggak, katanya wartawan andal,” seperti itulah kalimat dalam otak tetangga, bayangan saya.

Kisah ini bermula dari liputan saya beberapa bulan yang lalu. Saat itu, koran tempat saya bekerja, memaksa saya untuk mencari kisah seorang perempuan pekerja keras. Terus terang, saat itu saya ingin sekali menolak. Bagi saya, kisah itu sangat tidak propasar. Ayolah, di zaman sekarang, siapa lagi yang mau membaca kisah semacam itu. Zaman sudah susah, kenapa koran harus menambahi dengan cerita susah juga? Bah! Saat ini pasar butuh mimpi; bukan lagi kisah motivasi yang penuh air mata lalu berubah menjadi tokoh yang bergelimpangan harta. Basi!

Pun, meliput berita semacam itu sangat tidak ekonomis. Coba bayangkan, saya harus memasang telinga dan mata untuk mencari sosok semacam itu. Tentunya, itu butuh biaya. Lalu, saya harus membeli bensin untuk membuat  sepeda motor saya berjalan menuju alamat yang dituju (tentunya setelah saya temukan sosoknya). Dan, itu juga butuh biaya. Nah, bandingkan jika saya ditugaskan untuk menulis berita soal visi dan misi tokoh yang akan maju dalam Pilkada. Fiuh, selain wawancaranya di lobi hotel ternama, pulangnya saya juga dapat uang bensin. Nah, kalau tulisan saya bagus, ujung-ujungnya dia pasang iklan dan saya dapat komisi.

Tapi, begitulah, tugas tetaplah tugas. Setelah setengah hari sibuk berkeliling kota sambil terus mencari informasi melalui rekan-rekan melalui telepon genggam (pulsa habis uang tak kembali), saya bertemu dengan perempuan yang akan saya ceritakan ini.

Namanya Kartini Br Regar. Dia tinggal di Pasar 12 di daerah Amplas, tepatnya di Timbangan Deli. Bagi yang pernah ke Medan, bisa bayangkan jarak rumahnya ke rumah saya yang berada di Sei Sikambing. Gambarannya begini, kawasan rumahnya itu hanya beberapa kilometer dari Gerbang Selamat Datang di Kota Medan dari arah Lubukpakam, sementara rumah saya hanya beberapa kilometer dari Gerbang Selamat Datang di Kota Medan dari arah Binjai.
“Ibuku Jawa, bapakku yang Batak,” jawabnya ketika wawancara sudah mulai ke sekian pertanyaan.
“Mungkin karena itulah aku memiliki keuletan dan tekad yang keras,” tambahnya.

Saya senyum saja. “Aku lahir tepat 21 April, bapakku mau aku kaya’ Kartini. Tapi, kami melarat, jadi kekmana aku bisa berkirim surat dengan orang di luar negeri sana kan… “ mulutnya berbunyi lagi.
“Terus, Kak, bagaimana ceritanya sampai berbisnis ini?” saya balas dengan pertanyaan.

Lalu, dia pun bercerita. Katanya, setelah sekian kali gagal menjadi pegawai negeri sipil, dia putus asa. Harapan sempat membuncah ketika ada seorang lelaki yang melamar. Lelakinya seorang pengusaha kecil yang bergerak di pembuatan sepatu dan sandal. Menikahlah mereka. Ketika anak mereka masuk sekolah dasar, perekonomian berubah. Bisnis suaminya dikalahkan barang-barang dari China yang harganya jauh lebih murah. Tanpa menjual peralatan usahanya, sang suami pun beralih menjadi penarik becak motor. Memang, pendapatan suaminya bisa mencapai lima puluh ribu lebih per hari, tapi itu ternyata tak cukup. Belum lagi, pendapatan itu semakin berkurang ketika semakin menjamurnya penarik becak motor karena banyak usaha kecil yang bangkrut dan tidak ada ketegasan pemerintah soal pembatasan becak tersebut. Nah, dari situlah dia mengambil keputusan untuk membantu suami.

Dari hasil penjualan peralatan suami dan  pinjaman dari orangtuanya, Kartini Br Regar pun memperoleh modal. Tak banyak memang, namun cukuplah. Dari uang tersebut, dibelinya beberapa unit kompor gas tidak termasuk tabungnya. Lalu, dia pun mulai menawarkan kompor itu kepada tetangga dengan sistem kredit. Pembayarannya dua ribu rupiah per hari selama setahun. Dengan hitungan itu, untuk satu kompor gas seharga empat ratus ribu, modalnya bisa kembali dalam dua ratus hari saja. Dan, dia meraup untung sebesar tiga ratus tiga puluh ribu.

“Siapa yang peduli dengan uang dua ribu? Uang sebesar itu kan untuk anak beli jajan sehari, jadi mereka merasa tak keberatan. Apalagi tak kuminta mereka pakai uang muka apalagi agunan, cukup alamat jelas dan fotokopi KTP saja. Begitu kutawarkan, langsung mau mereka,” jelasnya.

“Terus, Kak, kabarnya sudah menyebar  hampir ke seluruh Medan?”
“Gak juga lah, tak sampai ke Belawan,” kekehnya.

“Jadi, tiap hari Kakak kutipi uang dua ribu itu dari semua pelanggan?”
“Iyalah. Harus tiap hari, itu perjanjiannya. Kalau pun dia kasih sepuluh ribu untuk lima hari, pasti kutolak. Perjanjiannya, sehari dua ribu. Jadi, tidak ada alasan menunggak karena dia bayar duluan pun aku tak mau. “
“Sendirian?”
“Awalnya iya, tapi karena semakin banyak yang berminat, sekarang sudah kuajak saudara dari kampung untuk membantu.”

Begitulah, setelah selesai wawancara (tetap saja tak dapat uang bensin) dan menulisnya di kantor, saya pulang. Sampai di rumah, sebagai suami yang baik, saya ceritakan hal itu pada istri. Maksudnya,  saya kagum dengan Kartini Br Regar itu. Ya, untung-untung kalau istri  bisa termotivasi. Bayangkan saja, dari dua ribu rupiah per hari, Kartini Br Regar, meski tidak begitu mewah kini telah memiliki sebuah mobil dan sebuah rumah.
“Memang sudah berapa tahun dia usaha semacam itu, Bang,” tanya istri saya.
“Sekitar sepuluh tahun.”
“Pantaslah.”
“Kok?”

“Iyalah. Memangnya sudah berapa banyak pelanggannya?”
“Katanya, kalau dihitung sejak awal sudah lebih dari seribu orang.”
“Itu dia, berarti dia sudah untung lebih dari tiga ratus tiga puluh juta kan?”
Dan saya, tersenyum saja. Entahlah, istri saya ini memang sangat konvensional. Bagi dia, sebagai kepala keluarga, lelakilah yang harus bekerja. Perempuan cukup mengurusi urusan domestik. Ya, sudah. Perbincangan kami pun beralih ke bidang lain. Biasalah, membicarakan tetangga yang baru saja membeli kulkas baru.
Beberapa hari berselang, setelah tulisan saya dimuat, masalah mulai datang. Ketika malam, selesai melakukan tugas mulia bersama istri di pembaringan, dia pun mulai merayu. Katanya, kompor minyak milik kami sudah mulai tak beres. Dan, tetangga juga sudah mulai meninggalkan kompor minyak. Singkatnya, dia minta dibelikan kompor gas.
“Belum ada uang kita,” jawab saya saat itu.

Mendengar jawaban saya, dia tidak merengut seperti biasa ketika permintaannya ditolak. Dia keluar kamar dan mengambil koran yang memuat tulisan saya tentang Kartini Br Regar itu.
“Cukup dua ribu per hari, Bang!” ucapnya dengan semangat.

Ya, sudah, selang dua hari Kartini Br Regar datang lengkap dengan kompor gasnya. Fotokopi KTP saya pun berpindah tangan, lengkap dengan uang dua ribu sebagai cicilan pertama. Besoknya dia datang lagi, kehadirannya tepat seperti kemarin. Benar-benar tepat waktu. Sumpah, salut harus saya berikan untuknya. Bagaimana tidak, dengan sepeda motor, dia hadir setiap hari dengan tatapan yang sama; penuh semangat. Terus terang saja, jika saya menjadi dia, tentunya saya tak akan sanggup. Ayolah, mengendarai sepeda motor dari kawasan Amplas ke Sei Sikambing demi dua ribu rupiah! Terbayang dalam otak saya kesumpekan Jalan Sisimangaraja, Jalan Juanda, Jalan Mongonsidi,  lalu masuk ke Jalan Iskandar Muda, Jalan Gadjah Mada, Jalan Sei Batanghari, belok ke kanan melintasi Jalan Sunggal,  dan berakhir dengan belok kiri memasuki Jalan Garuda tempat kediaman saya.  Bayangkan energi, waktu, dan biaya yang dia keluarkan untuk dua ribu rupiah itu.

“Tak hanya kau yang kredit kompor gasku ini, di Jalan Beo dan Kutilang ada juga,” jawabnya ketika saya utarakan kekaguman itu.

Nah, lepas dua ratus hari, cicilan saya mulai tak beres. Bukan karena saya tahu modalnya telah kembali, tapi karena keteledoran istri saya. Kebetulan saat itu saya sedang tugas ke luar kota. Entah karena alpa, istri saya tidak menyetor. Tiba-tiba saya ditelpon Kartini Br Regar. Dia marah-marah. Langsung aja saya minta maaf.
“Kalau bukan wartawan, sudah kuhabisi kau! Sudahlah, cicilan hari ini tak usah bayar, tapi ingat, besok tak ada istilah tak bayar!” ancamnya sambil mematikan telepon.

Malamnya, langsung saja saya marahi istri. Bukan karena takut dengan Kartini Br Regar, tapi saya ingin istri saya disiplin.

“Alah! Cuma dua ribu aja pun!” balas istri saya pula.
Bisa ditebak, setelah itu istri saya malah tak bayar. Untung saya wartawan. Lagi-lagi Kartini Br Regar hanya bisa mengancam. Terhitung sudah puluhan kali kami menunggak cicilan. Praktis, cicilan hanya terbayar hingga hari kedua ratus.

Maka, jangan salahkan Kartini Br Regar ketika kemarin dia menjadi beringas. Ya, sampai kata ‘bujang’ pun keluar dari mulutnya. Tak mau membuat heboh kampung, kemarin saya langsung mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Sekarang gini sajalah, sudah empat puluh lima kali kau menunggak. Mau kau apa sebenarnya?” buka Kartini Br Regar.
Saya tak bisa menjawab.

“Dua ribu pun tak bisa kau sisihkan untukku?”
“Sudahlah, Kak, kuselesaikan sekarang semuanya. Maaflah, kemarin-kemarin memang  ada yang tidak benar dengan keuangan kami.”

“Bah, wartawan tak punya dua ribu?”

Entah kenapa, begitu dia bicara seperti itu, emosi saya naik. “Gampang, Kak, kalau soal uang, tapi janganlah bawa-bawa pekerjaanku itu. Kakak juga makin hebat karena tulisanku itu kan?”
“Hati-hati kau bicara, kau pikir tulisan kau itu membuat usahaku makin maju? Kau lihat bukuku ini, sejak kau tulis aku, penambahan pelangganku cuma nama kau saja!” amuknya sambil mencapakkan bukunya di meja.
“Kasihan ya, padahal Kakak semakin terkenal.”

“Terkenal? Kau pikir itu yang kucari? Hu, harusnya aku yang minta uang sama kau karena setelah menulis tentang aku, kau menang lomba tulisan. Ya kan? Tulisan tentang aku yang kau menang kan?”
“Bagus-bagus Kakak cakap ya, aku menang bukan karena Kakak jadi tokoh ditulisanku! Itu karena tulisanku yang bagus!”

“Banyak gaya kau, dua ribu saja tak bisa kau bayar….”

“Sekarang mau Kakak apa? Nih kulunasi sekarang!” balas saya sambil mencampakkan uang tiga ratus tiga puluh ribu. Sumpah, saat itu saya begitu ingin tak mau berhubungan dengannya lagi.
Kartini Br Regar tertawa. “Tidak perlu, aku kemari hanya mau mengutip uang dua ribu.”
“Sudahlah ambil semuanya, biar tak perlu lagi kita jumpa!”
“Kontrak kita setahun!”
“Aku tak mau!”

“Jadi, tak mau kau bayar dua ribu!”
“Kubayar semuanya!”

“Sekali lagi, aku hanya mau mengutip dua ribu, mau kau bayar atau tidak?”
“Kalau mau semuanya ambil, kalau tidak ya sudah! Tak akan kubayar sampai kapanpun!” sengaja saya besarkan suara agar tetangga dengar. Ya, saya tak mau kalau dianggap sebagai orang yang tidak bisa bayar cicilan.
“Ya, sudah. Kalau begitu aku pulang. Tapi harus kau ingat, aku tidak bodoh!” kata Kartini Br Regar.
“Oh,  begitu ya. Mau menuntutku? Silakan, Kakak lupa kalau aku wartawan. Masalah pengadilan dan polisi, bukan masalah besar bagiku, Kak.”

Kartini Br Regar tak menjawab. Dia mengambil bukunya dan langsung pulang. Saya menang.

Sayangnya, kasus ini ternyata menjadi  berita seksi bagi koran kompetitor. Hari ini saya mendapati itu di halaman mereka. Ya, pengaduan Kartini Br Regar mereka liput. Bahkan, mereka jadikan berita utama.

‘Gara-gara tak Bayar Cicilan Rp2000 Oknum Wartawan Dituntut’ begitu judul besar mereka di halaman satu. Lalu, lead beritanya berbunyi: Kartini Br Regar (45), Selasa (29/3) melaporkan RB, seorang wartawan dari sebuah koran ternama di Medan karena menunggak cicilan kredit sebesar Rp2000. Kartini mengaku melaporkan hal itu karena sebagai wartawan seharusnya RB tak menjual profesinya untuk mendapat kemudahan.

Begitulah, saya ceritakan soal perempuan bernama Kartini Br Regar ini pada Anda. Dan, berharap ada yang simpati dengan apa yang saya hadapi kini.
Medan Maret 2011

 

Diminati Semua Usia

Mie Ayam Kumango

Makanan dengan bahan utama mie selalu menjadi favorit masyarakat Indonesia, terutama di Medan yang memang memiliki banyak etnis. Tidak heran, makanan dengan bahan dasar mie, selalu menjadi pilihan untuk disantap.  Selain bakso, makanan yang menajdi favorit masyarakat untuk disantap, adalah mie ayam. Makanan yang memadukan antara mie, ayam dan kuah kaldu.

Mie ayam kumango yang telah berdiri sejak tahun 1958 ini tetap diminati masyarakat dari berbagai usia. Baik yang muda maupun tidak. Walaupun memiliki nama yang sama, tetapi mie ayam kumango memiliki rasa yang berbeda. “Perbedaan terletak pada mie dan ayam kita. bahkan untuk bahan mentahnya merupakan bahan pilihan,” ujar Dedek, Supervisor Mie Kumango Plaza Medan Fair yang terletak di lantai 2.

Mie ayam kumango, dengan mie yang asli buatan sendiri. Selain itu, mie ini dengan bahan dan tekhnologi sendiri sangat cepat matang sehingga  nyaman untuk disantap. Dengan bahan dan buatan sendiri, mie pada makanan ini selalu diperhatikan baik untuk tingkat kebersihannya hingga tingkat ketahanan mie. “Mie kita asli dari bahan alami, kita tidak pernah menggunakan pengawet dalam makanan kita,” ujar Dedek.

Hal yang sama juga berlaku untuk ayam. Ayam yang digunakan untuk mie ayam kumango harus ayam tua yang telah memiliki daging yang alot (keras).

“Kalau ayam kita pilih ayam yang tua,” tambah Dedek. Walaupun merupakan ayam yang dipilih merupakan ayam yang telah tua, bukan berarti daging ayam saat disantap keras, melainkan sebaliknya. Ayam sangat lembut dan terasa  berbeda. “Ayam kita steam berjam-jam dengan berbagai ramuan, karena itu rasanya gurih, selain itu rasa daging ayam juga tidak keras melainkan lembut,” tambahnya.

Untuk menjaga kualitas makanan, terutama daging ayam. Setiap harinya ayam pada mie ayam kumango selalu berganti. “Kita tidak pernah menyimpan daging ayam lebih dari 2 hari. Walau pun daging ayam disimpan dalam pendingin,” ujar Dedek.

Hal yang membedakan mie ayam kumango dengan mie ayam lainnya yaitu campuran yang ada. Biasanya kita akan memakan mie ayam dengan campuran cabe, saus dan kecap. Tetapi hal itu tidak berlaku bila Anda menyantap mie ayam kumango. Di restoran yang berpusat di jalan mangkubumi ini, tidak menyarankan para penikmat mie ayam untuk memakannya dengan campuran tersebut, karena saus dan kecap tidak akan masuk dengan rasa kuah kaldu yang telah disedikan.  “Kita menyarankan, dalam menyantap mie ayam cukup dicampur dengan cabe ulek buatan kita dan cabe acar, karena kecap dan saus tidak masuk rasanya dengan kuah kaldu milik kita,” tambahnya.

Untuk cabe yang memberikan rasa pedas pada mie ayam, bahannya merupakan bahan asli dan segar. Bahkan dibuat dnegan tangan sendiri. “Semuanya kita buat sendiri tanpa pengawet. Karena kita menjaga kualitas, bukan kuantitas,” ujar Dedek.

Untuk menikmati makanan yang gurih, dan ras Mie Ayam yang berbeda dibandingkan Mie Ayam lainnya, silahkan anda mengunci Plaza Medan Fair lantai 2, dan dengan membayar Rp20 ribu, Anda dapat menikmati mie ayam kumango dengan rasa  yang sulit Anda lupakan.(mag-9)

Tifatul Mantu, SBY dan Wapres Hadir

JAKARTA- Rasa gembira nampak dari raut wajah Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring. Soalnya, kader PKS ini mantu anak putri pertamanya. Acara resepsi digelar di Sasana Langen Utomo, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (8/10). Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono ikut hadir untuk memberi ucapan selamat.
Presiden SBY beserta Ibu Ani Yudhoyono hadir,  sekitar pukul 19.30 WIB. SBY datang dengan menggunakan mobil berplat umum. Mobil ini dikawal ketat Paspampres.

SBY yang tampak mengenakan jas hitam dan Ibu Ani yang mengenakan kebaya warna biru langsung memasuki gedung resepsi. Tampak juga cucu kesayangan mereka, Amira.

SBY tak lama berada di dalam gedung. Setelah memberi selamat kepada mempelai, sekitar 10 menit kemudian, SBY dan Ibu Ani tampak keluar dari gedung resepsi dan tampak Menteri Sosial Salim Segaf mendampingi. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lokasi resepsi dengan kawalan ketat.

Sementara itu, Wakil Presiden Boediono beserta istri, Herawati telah hadir terlebih dahulu. Boediono dan istri tiba sekitar pukul 19.05 WIB menumpang mobil RI 2 dengan kawalan ketat. Sama dengan SBY, Boediono hanya sekitar 5 menit di dalam. Sekitar pukul 19.15 WIB, Boediono dan istri meninggalkan lokasi.

Tifatul menggelar hajatan putri pertamanya, Nur Shabrina Sembiring yang menikah dengan Fathan Lasthalani. Pernikahan yang digelar kental dengan adat Minang dan nuansa ungu. Tampak ikut hadir para menteri, politikus dan sejumlah tokoh dalam resepsi ini. Di antaranya Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Jaksa Agung Basrief Arief, Agum Gumelar, anggota DPR Roy Suryo.(net/jpnn)

Taliban Gempur Pos Tentara AS, NATO Balas Serang

KABUL – Pemerintah Afghanistan dan tentara asing yang berada di negeri itu boleh saja melewatkan peringatan satu dekade perang pada Jumat lalu (7/10). Tetapi, tidak demikian dengan Taliban. Kelompok militan Afghanistan yang menjadi alasan utama pemerintah Amerika Serikat (AS) melancarkan invasi militer pada 7 Oktober 2001 itu tidak tinggal diam.

Taliban melancarkan serangkaian serangan di sepanjang perbatasan Afghanistan dan Pakistan pada Jumat lalu. Mulai aksi bom bunuh diri sampai tembakan roket. Yang menjadi sasaran adalah pos-pos pemeriksaan militer yang dikelola militer AS. Sedikitnya, tiga pos pemeriksaan rusak akibat serangan Taliban. Tetapi, serangan di tiga pos yang terletak di Provinsi Paktika itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

“Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan sebuah mobil sarat bahan peledak di pintu masuk Combat Outpost Margah,” kata reporter Associated Press yang kebetulan berada di lokasi kejadian pada Jumat lalu. Pos pemeriksaan itu juga dihujani tembakan sedikitnya 22 roket. Selain Combat Outpost Margah, dua serangan lainnya terjadi di Combat Forward Operating Base Tillman dan Forward Operating Base Boris.

Kemarin (8/10) pasukan NATO mereaksi tiga serangan Taliban di perbatasan Afghanistan dan Pakistan itu dengan aksi militer terkoordinasi. Tak tanggung-tanggung, sekutu AS dalam Perang Afghanistan itu melancarkan serangan di tiga distrik Provinsi Paktika secara sekaligus. Yakni Distrik Gormal, Distrik Sarobi, dan Distrik Barmal di tenggara Afghanistan. NATO mengklaim berhasil menewaskan 25 militan Taliban dalam tiga serangan tersebut.

Namun, bersamaan dengan itu, Taliban mendeklarasikan kemenangannya terhadap AS dan sekutunya dalam Perang Afghanistan. Kemarin media merilis pernyataan resmi Taliban melalui jubirnya Zabihullah Mujahid terkait klaim kemenangan itu. Taliban menegaskan bahwa pihaknya telah berhasil membuat militer AS dan para sekutunya kewalahan. Dokumen berbahasa Inggris itu bertanggal 7 Oktober 2011.

“Meski tak selalu menyandang senjata dan peralatan perang, aksi kami (Taliban) telah berhasil memaksa para penjajah yang berniat menguasai negara ini selamanya untuk mempertimbangkan kembali rencana mereka,” papar Mujahid dalam pernyataan tertulis itu. Dia menambahkan bahwa Taliban tak akan berhenti memerangi militer AS dan sekutunya sampai mereka meninggalkan Afghanistan.

“Rakyat Afghanistan tak lelah berjihad selama 10 tahun terakhir. Ini menjadi penyemangat bagi kita semua bahwa kemenangan sudah di tangan,” tegas Mujahid. Taliban juga mengajak seluruh rakyat Afghanistan untuk tetap hidup sesuai syariah Islam.

Presiden Afghanistan Hamid Karzai telah bersepakat dengan AS dan para sekutu Baratnya bahwa misi tempur asing akan berakhir saat dia meninggalkan kursi presiden pada 2014 mendatang. Namun, AS dan NATO bakal tetap mempertahankan militernya di Afghanistan untuk misi nontempur. Sama dengan strategi yang sudah lebih dulu diterapkan di Iraq. (AP/AFP/RTR/hep/dwi)

Desak Renovasi

MEDAN- Tak hanya Stadion Teladan yang mesti direnovasi maksimal. Home ground yang punya sejarah panjang, Stadion Kebun Bunga juga harus diperhatikan. Kondisinya kini mengenaskan.

Maka tak jarang kita dengar jika beberapa uji coba PSMS yang akan digelar di Stadion Kebun Bunga sering batal digelar lantaran masalah teknis. Seperti rencana uji coba kontra Bank Sumut Sabtu (8/10) kemarin.

Hujan deras yang mengguyur Medan kemarin membuat laga itu dibatalkan lantaran Stadion Kebun Bunga tergenang. Padahal sedianya kedua tim sudah bersiap untuk bertarung. Namun hujan yang tak kunjung reda hingga pukul 17.00 sore membuat kedua tim sepakat menunda laga.

Selain itu seratusan suporter SMeCK Hooligan yang hadir di Kebun Bunga juga terpaksa menelan kecewa dengan ditundanya uji coba ini. Meski berbasah kuyup, mereka tetap menanti.
“Uji coba kita lanjutkan besok sore jam 4. Tidak memungkinkan uji coba digelar sekarang dengan kondisi saat ini,” kata Calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto.

Namun pertimbangan menunda laga bukan hanya karena cuaca buruk, kondisi lapangan juga tak memungkinkan. Lapangan semakin memburuk saat hujan. Beberapa sisi lapangan tergenang dan akan membuat laju bola terhambat. Akibatnya tim yang bertanding tak akan bisa mengembangkan permainan.

“Jika dipaksakan takutnya malah membahayakan pemain. Pemain bisa cedera. Lebih baik dijadwal ulang besok,” lanjut pria berkepala plontos itu.

Bukan kali ini saja kondisi ini terjadi. Belum lama ini laga PSMS kontra Gumarang juga hanya bisa berlangsung satu babak karena kondisi yang sama.

Padahal jika ditilik Stadion Kebun Bunga yang terdaftar sebagai home ground PSMS juga termasuk aspek penilaian AFC. Setali tiga uang dengan Stadion Teladan, Kebun Bunga tak kalah buruk.

“Diperbaikilah. Terutama rumput di pinggir lapangan. Kayak mana pemain bisa latihan bagus. Apalagi lapangan kan rentan membuat pemain cedera,” seru demisioner Ketua Umum SMeCK Hooligan Wahyudinata Simangunsong.
Sebelumnya wacana renovasi Kebun Bunga dikoarkan pengurus. Dalam hal ini meliputi pemugaran gedung, mess tempat tinggal pemain dan pelatih serta lapangan. Namun pembenahan baru dilakukan terhadap gedung dan mess pemain. Sedangkan lapangan tak tersentuh pembenahan.

“Untuk Mess kita lihat sudah bagus. Yang terpenting lapangan ini diperbaiki,” sambungnya. Di sisi lain, aktivitas suporter SMeCK dan PFC yang hendak mendukung PSMS sempat bentrok kecil. Pantauan wartawan, beberapa anggota dari kedua suporter yang hadir terlihat sedikit beradu mulut dan argumen. Namun tak ada hal anarkis atau kontak fisik yang terjadi. (saz)

Ingin Wisata Gratis, Panjat Dinding Kastil

NANJING – Aksi Ma Jei (48), benar-benar telah membuat tercengang para pengunjung Zhonghau Castle pada Jumat lalu (7/10). Dengan cekatan perempuan paro baya tersebut memanjat salah satu sisi dinding kastil kuno yang terletak di Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, timur Tiongkok, itu tanpa alat bantu apapun. Ma sama sekali tak menggunakan tali. Dalam hitungan menit, dinding setinggi sekitar 21 meter itu berhasil dia daki. Tepuk tangan para pengunjung pun langsung membahana.

“Dia memanjat dengan sangat cepat layaknya kambing gunung. Tanpa hambatan sama sekali,” komentar seorang pengunjung yang menyaksikan langsung aksi perempuan yang dijuluki si Gesit (Nimble) itu seperti dilansir Daily Mail kemarin (8/10).

Ma yang merupakan warga asli Kota Nanjing tersebut mengaku sudah terbiasa memanjat dinding kastil. Dia pun mengaku sudah melakukan kebiasaan itu sejak kecil atau usia belia. Dia sengaja memanjat dinding kastil karena tak mau membayar biaya masuk ke lokasi wisata itu sebesar GBP 2,5 (sekitar Rp 34.500). Dengan cara itu, perempuan yang juga dijuluki si Hemat tersebut berkali-kali sukses masuk kastil tanpa harus membeli tiket.(hep/jpnn)
dwi/jpnn)

RUU Ormas Atur Keberdaan LSM

JAKARTA- Payung hukum untuk organisasi masyarakat (ormas) siap dievaluasi. DPR bersiap-siap membahas revisi RUU No 8 Tahun 1985 tentang Ormas. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) meaupun lembaga asing juga akan ikut diatur di dalamnya.

“Mereka (LSM, Red) ikut diatur karena termasuk bagian ormas, tepatnya yang tidak berbasis massa,” jelas Ketua Pansus RUU Ormas A. Malik Haramain kemarin (8/10). LSM, kata dia, nanti ikut diatur bersama ormas yang berbasis massa seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, atau lainnya.

Dia mengungkapkan, sekitar minggu ketiga bulan ini pihaknya akan mengundang pemerintah untuk mulai melakukan rapat kerja. “Kami berupaya membahas RUU ini agar lebih partisipatif dan inklusif. Karena itu, (pembahasan) juga akan melibatkan sekian kelompok dan ormas,” lanjut politikus PKB tersebut.

Ada beberapa poin krusial yang nanti dibahas dalam revisi RUU Ormas kali ini. Fasilitasi pemberdayaan dan pengaturan ormas/lembaga asing, penyelesaian sengketa ormas juga akan dibahas. Termasuk pengaturan larangan dan sanksi.
“Prinsipnya, RUU ini akan tetap menjamin kebebasan berkumpul, berserikat, dan berpendapat sesuai dengan HAM (hak asasi manusia),” ujar Malik.  (dyn/c4/agm/jpnn)

SBY Rampungkan Reshuffle Pekan Ini

JAKARTA- Finalisasi pembahasan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II dijadwalkan rampung hari ini (9/10). Sebab, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono telah melakukan pembicaraan secara maraton dan intensif selama empat hari, mulai 6 hingga 9 Oktober.

Dalam rentang waktu itu, SBY lebih sering berkantor di kediaman pribadinya, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, dengan kegiatan yang bersifat intern. Selanjutnya, ada tiga agenda dalam rangkaian tata ulang kabinet yang direncanakan diumumkan sebelum 20 Oktober tersebut.

Yakni, pertemuan dengan pimpinan parpol koalisi, pemberitahuan kepada menteri yang diganti atau digeser, dan pemanggilan calon menteri. “Semuanya secara simultan akan terjadi mulai minggu depan,” tutur Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa kemarin (8/10). “Presiden SBY punya keinginan kuat untuk merampungkan semua tahap reshuffle minggu depan,” imbuhnya.

Daniel mengatakan, komunikasi dengan beberapa pimpinan parpol koalisi dalam sepuluh hari terakhir ini tidak terkait dengan reshuffle. “Hingga akhir minggu ini, tidak ada percakapan yang membutuhkan konfirmasi politik dari para pimpinan parpol terkait dengan simulasi nama-nama yang tengah dirampungkan oleh Presiden SBY dan Wapres Boediono,” urainya.(fal/pri/jpnn)

Lebih Mudah, Lebih Murah

Si Kawat Gigi Bongkar Pasang

Behel atau kawat gigi telah menjadi tren beberapa tahun belakangan ini, bukan hanya kaum wanita yang memakainya, tetapi kaum pria pun mulai pede untuk menggunakan behel ini. Padahal, pemakaian behel atau kawat gigi ini, pada dasarnya sebagai pengobatan untuk merapikan gigi, rahang dan mulut untuk mendapatkan senyum dan bentuk wajah yang propersional.

eberapa tahun belakangan ini, trend pemakaian kawat gigi bukan lagi untuk pengobatan, melainkan digunakan untuk aksesoris. Walaupun hanya menjadi aksesoris, bukan berarti harga untuk pemasangan behel ini murah, melainkan sebaliknya harganya termasuk mahal, bisa mencapai jutaan rupiah.

Pemakaian kawat gigi ini bisa meningkatkan prestige pemakainya. Hal ini karena harga pemasangan behel yang mahal serta kesan yang ditampilkan dari pemakaiannya lebih metropolis dan gaya. Jadi tidak heran, bila kawat gigi masih digemari oleh masyarakat kita terutama bagi para remaja.

Nah, Saat ini muncul behel gigi yang bukan permanent saja, tapi juga bisa dibongkar pasang lengkap dengan bracketnya. Harganyapun terjangkau. Padahal selama ini, kita mengenal kawat gigi untuk aksesoris biasanya dijual hanya melalui media online, dengan harga yang lumayan di kantong.

Kawat gigi aksesoris dengan harga terjangkau ini dijual bebas, terutama di Pajus (pajak USU) yang terletak didaerah padang bulan. Dengan berbagai model bracket yang menghiasi kawat gigi bukan hanya bentuk bracket yang bervariasi, tetapi warna juga. Kawat gigi ini, terbuat dari kawat elastis, sedangkan untuk bracket ada terbuat dari plastik, ada juga terbuat dari manik-manik.

Harganya juga sangat terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu sepasang. Dengan harga tersebut, dipastikan kawat gigi ini laku keras dipasar. “Banyak yang beli, per harinya kita bisa menjual hingga 100 kotak kawat gigi aksesoris,” ujar Nina, penjual aksesoris di Pajak USU Padang Bulan Medan.

Dengan bahan yang disediakan, aksesoris kawat gigi ini aman untuk digunakan. “Kawatnya kan dari stainless steel, jadi aman. Sementara untuk bracket terbuat dari bahan karet atau manik-manik, jadi sangat aman,” tambah Nina.
Sementara untuk menempel kan kawat pada gigi, pada kawat aksesoris disediakan kawat bagian yang bengkok agar dapat ditempelkan pada bagian gigi. “Ini bisa menempelkan bagian gigi,” ujar Nina sekalian menunjukkan bagian kawat yang dibengkokkan.

Banyaknya permintaan akan aksesoris ini, bisa dilihat pada bagian penjual aksesoris di Pajus yang rata-rata menyediakan behel ini. Selain digantung di depan toko, terkadang sebagian behel itu dijual dan diletakkan di keranjang depan.

“Banyak sekali yang menjual behel ini, semua toko aksesoris disini pasti menjual behel,” tambah Nina.
Indah, salah satu mahasiswa Medicom yang di Jalan Batam Medan mengaku sudah memiliki 5 behel dengan berbagai aneka warna. Awalnya dirinya menggunakan behel tersebut untuk menunjang penampilannnya. Behel ini juga dijadikannya sebagai salah satu aksesoris. “Aku sudah punya 5 pasang dengan aneka warna, harganya murah jadi lebih enak untuk digunakan,” ujar Indah.

Walaupun awalnya dirinya tidak terlalu nyaman menggunakannya, tetapi untuk menunjang penampilan, Intan menahan rasa sakit tersebut. “Awalnya tidak tahan, apalagi saat makan, si behel naik turun karena tidak ditempel, tapi karena sudah terbiasa jadi tidak ada masalah dalam pemakaian hingga sekarang” tambah Indah.

Sementara itu, menurut drg Lira Fasyamuju Lubis mengatakan, kawat gigi aksesoris yang digunakan jangan sampai merusak gigi, karena gigi yang ditempel secara langsung dengan kawat. “Bahkan dikait bisa merusak lapisan depan gigi, jadi hati-hati saja,” ujar nya.

Karena kawat gigi tersebut terbuat dari stainless steel dan memiliki jenis yang elastis, kata Lira, hendaknya jangan terlalu dipercaya aman digunakan, tapi harus dipastikan keamanannya pada gigi demi menghindari gigi terkena infeksi. “Kawatkan bisa berkarat, dan karat ini bisa menimbulkan infeksi pada gigi bila bersentuhan secara langsung,” ujarnya.
Kawat gigi yang bisa dibongkar pasang tersebut, lanjutnya, usahakan agar rajin dibersihkan. “Bahkan pada bagian sela-sela bracket harus diperhatikan, biar tidak karatan,” saran Lira. (juli ramadhani rambe)

Seperti Aksesoris Mainan

Penampilan merawat gigi saat ini bukan lagi menjadi sesuatu yang wah. Kawat gigi (behel) bukan lagi identik dengan sakit gigi, karena sekarang semakin mudah dijumpai pemakai behel beraneka warna untuk mempercantik penampilan. Bahkan, harga yang mahal bukan lagi menjadi sandungan dalam menggunakan behel.

Perubahan fungsi kawat gigi kini semakin terlihat. Tak hanya digunakan sebagai alat kesehatan, tapi kawat gigi menjadi trend yang sedang digandrungi saat ini, khususnya yang mampu terjangkau harganya seperti kawat gigi bongkar pasang. Penahan kawat giginya didesain untuk bongkar pasang layakya mainan.

Karena desainnya sederhana, behel jenis ini bisa dibongkar pasang sendiri oleh pemiliknya di rumah. Harganya pun jauh lebih murah ketimbang behel asli, mulai harga puluhan ribu dan paling mahal tak sampai lima ratus ribu.
Behel aksesori ini jelas diburu anak-anak muda. Bergaya pun jadi semakin mudah. Tak perlu pula melakukan berbagai jenis perawatan seperti halnya memasang behel sesungguhnya.

Peminatnya semakin menjamur. Bahkan, kawat gigi bongkar pasang ini kian ramai diiklankan di online. Begitu juga di pasar, tak sulit mencarinya. Hhhm, silahkan mencoba jika ingin tampil beda. (ila/net)