Home Blog Page 14773

Bertengkar dengan Mertua, Dua Tahun Tinggalkan Anak dan Istri

Yosepa Hayat, Sosok yang Diduga Bomber di Solo

Jika memang benar pelaku bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Solo itu adalah Yosepa Hayat, dia merupakan menantu Kirmanto, warga Perumahan GKBI, Desa Plumbon, Kecamatan Plumbon, Cirebon. Sebelum meninggalkan istri dan anaknya, Hayat pernah bertengkar dengan mertua gara-gara berbeda keyakinan.

Laporan: M. JUNAEDI, Cirebon

Hayat menikah dengan Dewi, 23, pada 2005. Dewi adalah putri pertama pasangan Kirmanto, 50, dan Sri Astuti, 45. Sejak dua tahun lalu Hayat tak pernah mendatangi istri dan seorang anaknya yang tinggal di rumah Kirmanton
di Perumahan GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia), Desa Plumbon, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.
“Saya dengar, dia (Hayat) pergi karena sebelumnya bertengkar dengan mertuanya, bahkan sampai adu fisik,” cerita seorang tetangga dekat Kirmanto kepada Radar Cirebon (Grup Sumut Pos). Dia melanjutkan, Hayat memang sering bertengkar dengan mertuanya. Tapi, pertengkaran paling tajam terjadi menjelang pemilihan presiden pada 2009.

Hayat berkeyakinan, jika seseorang menggunakan hak pilih dalam pemilu itu, dia digolongkan orang kafir. Pendapat itu ditentang keras Kirmanto yang sehari-hari menjadi staf di Kementerian Agama Pusat. Hayat lantas bertengkar dengan ayah mertuanya itu. Puncaknya, Hayat pergi meninggalkan istri dan anaknya. Sejak saat itu dia tidak pulang. Apalagi, namanya kemudian dimasukkan ke dalam DPO (daftar pencarian orang).

Radar Cirebon sebenarnya ingin mengonfirmasi cerita itu kepada Kirmanto. Tapi, ketika tiba di rumahnya kemarin (26/9), dia tidak ada. Rumah itu bahkan dalam keadaan kosong. Kata beberapa tetangga, Kirmanto dan keluarga pergi meninggalkan rumah sejak Minggu (25/9).

Ketua RT 19 RW 7 Perumahan GKBI Elly Ermawati, 43, menuturkan, ibu mertua Hayat yang bernama Sri Astuti pernah beberapa kali mengungkapkan soal menantunya tersebut. “Saya hanya melihat Hayat ketika dia menikah sekitar 2005-2006. Setelah itu tidak pernah lagi. Jadi, saya tidak mengetahui kesehariannya,” katanya.

Elly hanya menuturkan, baik Hayat maupun istrinya tidak pernah keluar rumah untuk berinteraksi dengan tetangga. “Untuk berbelanja pun, bukan Dewi yang keluar, melainkan ibunya,” ujarnya.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Plumbon Yusuf menambahkan, sejak bom Cirebon meledak April lalu di kompleks Masjid Polres Cirebon, Hayat tak pernah terlihat di rumah mertuanya. Bahkan, jauh-jauh hari dia jarang pulang ke Plumbon.
Menurut Yusuf, sehari-hari keluarga Kirmanto berperilaku normal. Namun, Hayat dan istrinya memang jarang keluar rumah. Terlebih lagi, pekerjaan Hayat tidak jelas. “Di kartu keluarga, dia tercatat bekerja sebagai wisraswasta,” kata Yusuf.

Radar Cirebon kemarin juga mendatangi Marsiah, 60, nenek Hayat yang tinggal di Dusun Kidul RT 01/RW 02 Desa Astanalanggar, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. “Yang saya tahu, dia anaknya pendiam dan tidak nakal. Pernah saya mendengar cerita dari bapaknya bahwa preman pun selalu dibaiki olehnya dengan selalu memberikan semangkuk bakso ketika preman itu ingin usil terhadap usaha bapaknya itu,” kata Marsiah. Di mata Marsiah, sulit bagi dia untuk percaya bahwa Hayat adalah pelaku bom bunuh diri.

Dia mengatakan tidak bertemu Hayat sejak belasan tahun lalu. “Orang tuanya pergi merantau sejak Hayat masih kecil,” tuturnya.

“Saya tidak tahu Hayat ada di mana sekarang. Sejak dia SD, saya sudah berpisah karena Hayat bersama orangtuanya pergi transmigrasi ke Kalimantan,” lanjutnya.

Sejak saat itu Hayat tidak pernah kembali ke Astanalanggar, desa yang menjadi tanah kelahirannya. Padahal, Daud, ayah Hayat, yang bekerja sebagai penjual bakso di Jalan Pandesan, Kota Cirebon, sudah kembali dari perantauan.
Dia mengakui, setelah insiden bom di kompleks Masjid Polres Cirebon April lalu, nama Hayat sering menjadi pembicaraan warga karena dianggap terlibat. Hal itu membuat Marsiah cemas. Bahkan, rumahnya pernah digeledah polisi. “Tiap malam saya selalu berdoa agar dia (Hayat) selamat. Jika polisi datang, silakan saja geledah,” terangnya.
Dia mengatakan, yang dikatakan orang selama ini tentang Hayat yang diduga terlibat dalam rentetan kasus peledakan bom merupakan fitnah besar. Sebab, belum ada kebenaran yang jelas mengenai keterlibatan itu. “Cucu saya difitnah,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Ahmad Yosepa terakhir pulang mengunjungi neneknya sebelum bulan Ramadan kemarin. Yuli (46) tetangga Masriah, mengenal Yosepa. Menurut dia, terakhir kali pria yang dipanggil Hayat itu pulang sebelum bulan Ramadan lalu.
“Sebelum puasa saja, ke rumah Masriah neneknya,” ujar Yuli, Senin (26/9).

Yuli menambahkan, Hayat atau yang dikenal dengan nama Ahmad itu, sebelum itu beberapa kali ke rumah Masriah. Namun, dia datang malam hari. “Tapi tidak lama terus pergi lagi,” tambah Yuli.

Sementara itu, Ika teman sekolah Ahmad Yosepa, mengaku tidak menyangka jika Hayat adalah pelaku pemboman GBIS Kepunton Solo. “Ya tidak menyangka, orangnya kan sopan, dan tidak macam-macam,” kata Ika, yang mendengar kabar soal teman kecilnya ini dari televisi.

Ahmad Yosepa, menghabiskan masa kecilnya di Desa Astanalanggar, Kec Losari, Kab Cirebon. Setelah lulus dari SD Astanalanggar I, keluarganya pindah ke Pandesan, Kota Cirebon.

“Sejak itu, hanya sesekali saja datang ke desa ini. Warga sini sama sekali tidak menduga jika Hayat yang mengebom di Solo,” tambah Yuli. (jpnn/c2/kum)

Gatot Harus Ngaku Salah, Kalau tak Mau Dipaksa

Kebijakan Mutasi Pejabat Eselon

JAKARTA-Mendagri Gamawan Fauzi menekankan agar Pj Gubsu Gatot Pujo Nugroho sendiri yang mengambil inisiatif melakukan evaluasi terhadap kebijakan mutasi yang telah diambilnya itu. Maksudnya, kemendagri tidak sampai harus melakukan tindakan paksaan.

”Saya harapkan ada evaluasi sendiri dari Pak Gatot,” kata mantan gubernur Sumbar itu.

Jadi, tidak perlu sampai dipaksa seperti kasus mutasi yang dilakukan Pj Wali Kota Pekanbaru Syamsurizal? “Iya, Pak Gatot saya harapkan mengevaluasi. Kan saya sudah memberikan teguran,” ujar Gamawan.
Untuk kesekian kalinya, Gamawan mengatakan, langkah mutasi yang dilakukan Gatot salah. “Sedang tugas kita adalah meluruskan. Mengingatkan kalau ada yang keliru, ya harus diluruskan,” tegasnya.

Mendagri Gamawan Fauzi mengaku belum menerima laporan resmi dari Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho terkait pembatalan kebijakan melakukan mutasi besar-besaran di jajaran Pemprov Sumut, terutama terhadap para pejabat yang dinonjobkan.

Namun, berdasarkan informasi yang didapatkan Sumut Pos, Jumat (23/9) pekan lalu, Inspektor Pengawasan Provinsi (Irwasprov) Sumut, Nurdin Lubis, datang ke Kemendagri menemui Sekjen Diah Anggraeni. Tujuannya, menyerahkan laporan yang ditunggu Gamawan.

Hanya saja, lantaran kedatangan Nurdin Lubis Jumat petang dan kemarin (26/9), Diah Anggraeni sedang tidak ngantor karena tugas luar kota, laporan Gatot belum sampai ke meja Gamawan.
“Saya belum terima,” kata Gamawan Fauzi.

Sekda Definitif Terus Terkatung-katung

Sementara penetapan sekretaris daerah (sekda) definitif di Pemprovsu semakin tak tentu arah. Pasalnya, hingga kini tak ada tanda-tanda keputusan penetapan nama yang telah diusulkan Pemprovsu.
Usulan tiga nama calon Sekda Pemprovsu sudah diajukan sejak lama, bahkan sempat menuai polemik dualisme pengajuan. Tiga nama yang diajukan itu sempat ditolak dan bahkan dikirim ulang.
Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho menyebutkan tak ditetapkannya Sekda Pemprovsu definitif  merupakan beban bagi setiap orang di Sumut.

“Beban saya selaku Plt Gubsu, beban masyarakat Sumut dan beban DPRD Sumut. Ya, semoga diberikan kemudahan,” ucapnya singkat, usai menghadiri rapat paripurna di gedung DPRD Sumut, Senin (26/9).

Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri, Reydonnyzar Moenek mengatakan penetapan Sekda Pemprovsu masih menunggu surat keputusan presiden. Menurutnya, tim penilai akhir (TPA) telah selesai melakukan rapat finalisasi pembahasan terhadap enam usulan calon sekda yang diajukan Gubernur Sumut nonaktif Syamsul Arifin dan Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho.

“Tim penilai akhir sudah menyampaikan nama calon Sekda Sumut kepada presiden untuk mendapat persetujuan,” katanya. Menurutnya, hingga kini kepres tentang Sekda Sumut belum turun.

Pengamat pemerintahan dan kebijakan publik, Dadang Darmawan menegaskan penetapan Sekda defenitif sudah seharusnya digagas. Bila ada persoalan diantara dua usulan yang diajukan, sebaiknya ambil jalan tengah dengan menelaah aturan. Bukan dijadikan sebagai ajang saling menyerang.

Selanjutnya, Pemprovsu dan DPRD Sumut harus duduk bersama untuk sama-sama mendesak Departemen Dalam Negeri (Depdagri) untuk segera menetapkan nama sekda defenitif. Apabila kedua instansi tersebut tak melakukan desakan, artinya ada indikan keduanya tak memikirkan masa depan Sumut. “Jadi harus sama-sama mendesaknya ke Pemerintah Pusat, bila perlu langsung desak ke Presiden,” pintanya.
(ril/sam)

Pemerintah Lemah

Cathy Sharon

Artis Cathy Sharon meminta pemerintah untuk lebih serius mengantisipasi dan bertindak terhadap teror bom.
“Pemerintah harus lebih serius lagi, karena bukan hanya gereja yang kena bom,” tegasnya.
Kakak kandung Julie Estelle itu mensinyalir kemungkinan ada jaringan lain yang masih mencari sasaran lain dan mengganggu keamanan negara. Untuk itu ia mengingatkan perlu ada sikap kewaspadaan dari pemerintah dan masyarakat.

”Heran masih ada saja kejadian (bom) kayak gini. Mungkin di belakang pelaku, ada jaringan luas yang masih berkeliaran dan meresahkan Sudah saatnya kita semua waspada terhadap hal ini,” ujarnya.

Mantan VJ MTV ini mensinyalir ada motif politis di balik rentetan teror di negeri ini. Apapun alasannya, teror tak mengenal prikemanusiaan karena makan korban jiwa.

“Rangkaian motif teror harus ditemukan. Kalau nggak, buat apa ada pemerintah atau aparat keamanan. Masyarakat juga selayaknya membantu,” kata Cathy.

Cewek kelahiran Jakarta 8 Oktober 1982 itu secara tegas setuju pemberlakuan hukuman mati bagi pelaku terorisme. Pasalnya, kurungan bui atau sanksi moral masyarakat sudah nggak mempan lagi bikin jera para pelaku teror.
“Kasus bom kayak gini pasti akan terus terjadi, apabila penanganan dari pemerintah kita masih lemah. Yang pasti, harus lebih dalam,” tegasnya.

Khawatir teror bom susulan, bintang Dawai 2 Asmara ini mengaku mulai parno datang ke tempat keramaian. Lain cerita kalau aparat keamanan dan pemerintah bisa menjanjikan sesuatu agar masyarakat nyaman beraktifitas lagi dimana saja.

“Semoga kasus ini tidak berkepanjangan. Jujur aku agak parno ke fasilitas umum, kayak mal. Tapi ya mau gimana lagi. Aku pasrah, coba positif thinking saja, semoga kasus ini tidak terjadi lagi dan pemerintah bisa mengatasi,” tutupnya. (cr-4/rm/jpnn)

8.393 Calon Haji Siap Berangkat

MEDAN-Sebanyak 8.393 jamaah haji asal Sumatera Utara sudah melunasi ongkos naik haji (ONH) dan siap berangkat ke Tanah Suci, yang terbagi dalam 19 kelompok terbang (kloter).

Dari jatah kuota untuk Sumut sebanyak 8.404 jemaah, tinggal 11 jemaah yang terancam batal berangkat karena belum melunasi ONH. Jumlah kuota untuk Sumut yang semula hanya 8.234 bertambah menjadi 8.404. Tambahan itu berasal dari jatah kuota lokal 60 jemaah dan jatah kuota nasional 110 jemaah.

“Awalnya kuato jemaah haji sebelumnya hanya 8.234. Namun, saat ini calon jamaah haji bertambah menjadi  8.404. Sebanyak 8.393 calon jamaah haji siap berangkat dan sudah tidak akan berubah lagi,” bilang Kasubag Humas Kanwil Kemenag Sumut, Drs Chairul Syam kepada Sumut Pos, Senin (26/9).

Menurutnya, 8.393 calon jemaah haji nantinya akan mulai diberangkatan mulai kloter pertama 2 Oktober 2011 dengan menggunakan pesawat Garuda Indonasia.

“Sebelum berangkat calon jamaah haji yang tergabung di kloter pertama yang berasal dari Medan dan Labuhanbatu harus masuk Asrama Haji Medan,” bebernya.

Terkait pemondokkan untuk calon jemaah haji, Chairul menjelaskan tahun 2011 ini sangat dekat sekali jaraknya yakni berkisar 2 Km dari Masjidil Haram.

“Nah kalau pada tahun-tahun sebelumnya lokasi pemondokan jemaah haji berkisar 7 Km dari Masjidil Haram,” bilang Chairul.

Untuk itu calon jemaah haji yang ingin melaksanakan ibadah tidak terlalu capek lagi untuk pulang balik ke pemondokan.

“Pokoknya pada tahun ini calon jamaah haji kita servis dengan baik pemberangkatan serta pelaksanaan ibadah haji mereka,” kata Chairul. (omi)

Calo Gentayangan Manfaatkan Pengumuman Honorer Jadi CPNS

JAKARTA-Masa menunggu pengumuman 67 ribu tenaga honorer yang dijanjikan akan diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pada Oktober 2011, dimanfaatkan para calo untuk mengincar mangsa.

Buktinya, kemarin (26/9) ada salah seorang korban mendatangi gedung Kemendagri, mengecek ada tidaknya nama Dacos Kosasih, yang mengaku pegawai Bagian Litbang Kemendagri dan kenal dekat dengan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraeni.
Pria ini mengaku adik iparnya dijanjikan bisa diangkat menjadi CPNS oleh pelaku, dengan setor Rp70 juta. Sialnya, ada 13 korban lainnya yang diurus pelaku, dengan menyetor Rp70 juta hingga Rp100 juta.

Sejumlah petugas penerima tamu Kemendagri, termasuk salah seorang staf sekjen, langsung memastikan bahwa tidak ada nama Dacos Kosasih di Bagian Litbang Kemendagri. Petugas juga meyakinkan bahwa itu ulah penipu yang mengaku kenal Diah, lantaran korban juga diberi alamat yang ganjil. Korban menyantumkan alamat kerjanya di Kavling IV Kemendagri. Padahal, gedung-gedung yang dipimpin Gamawan Fauzi itu tidak mengenai pembagian dengan istilah kavling.
“Siapa pun bisa jual nama. Nggak ada itu, namanya saja penipu. Ini tak hanya sekali dua kali,” ujar Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek saat dikonfirmasi Sumut Pos.

Donny, panggilan Reydonnyzar, menduga, para calo beroperasi memanfaatkan masa tunggu pengumuman tenaga honorer menjadi CPNS. (sam)

158 Tewas di Thailand, 61 di Kamboja

Dua Bulan Banjir

BANGKOK- Sejak pertengahan Juli 2011 lalu banjir di Thailand telah menewaskan 158 orang. Sedangkan di Kamboja, sebanyak 61 orang tewas dalam 2 minggu terakhir.

Banjir yang menggenangi sebagian wilayah di Thailand selain merenggut korban jiwa, lebih dari 2 juta are atau setara 809 ribu hektarlahan pertanian di Thailand digenangi air.

“Dua pertiga provinsi di utara dan tengah Thailand digenangi air dan sedikitnya 2 juta warga telah menderita banjir bandang dan hujan deras,” ujar Departemen Mitigasi dan Pencegahan Bencana Thailand dilansir Reuters, Senin (26/9).
Banjir mempengaruhi ibukota Bangkok, yang berada 2 meter di atas permukaan laut, Sungao Chao Phraya juga meluap hingga ke jalan-jalan di sekitarnya, kendati pemerintah telah memperbaiki tanggul sungai.

Hadapi banjir itu, Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra gelar teleconference dengan para gubernur di wilayah yang dilanda banjir, pada pertemuan itu Thailand menyiapkan 40 milar baht sekitar 1,2 miliar dolar US.
Direktur Deputi Informasi Komite Manajemen Bencana Nasional Kamboja, Keo Vy mengatakan korban tewas akibat banjir di provinsi sepanjang Sungai Mekong dan Danau Tonle naik.

“Kekhawatiran sekarang adalah kekurangan makanan, kesehatan manusia dan hewan juga menurun,” ujarnya.(net/jpnn)

Jaringan Al Qaeda Serang Marinir Filipina

TALIPAO- Sekelompok orang yang diduga militan Islam menyerang tentara pemerintah yang menjaga sebuah bangunan sekolah di selatan Filipina tepatnya di Provinsi Sulu, Minggu (25/9). Baku tembak tak terelakkan, 17 orang dari kedua kubu dilaporkan tewas.

Seperti dilansir kantor berita Associated Press, gerombolan yang terdiri dari 50 pria bersenjata itu menyerang dua detasemen Marinir di kota Talipao saat fajar. Baku tembak berlangsung selama dua jam. Sebanyak 13 militan dilaporkan tewas, sementara dari kubu Marinir 2 orang tewas serta dua warga desa tersebut.

Para penyerang diduga merupakan anggota baru kelompok Abu Sayyaf yang selama ini dikenal sering melakukan aksi kekerasan. Kelompok baru yang dinamai Awliyah ini memang sudah diintai pasukan Marinir selama setahun.
“Ada orang-orang tertentu yang menentang rencana pembangunan negara, oleh sebab itu Wali Kota menjadi sangat marah,” kata Komandan Marinir Romeo Tanalgo.

Dia juga menyebutkan, sebagian besar militan dilengkapi senapan M16 dan sejumlah senjata lainnya.
Sementara itu, juru bicara militer Filipina Letnan Kolonel Randolph Cabangbang mengatakan, dua pasukan dan 13 orang militan tewas dalam insiden baku tembak tersebut.

Cabangbang mengatakan, militan yang melakukan serangan tergabung dalam kelompok Awiiyah. Kelompok ini merupakan organisasi yang berafiliasi dengan militan Abu Sayyaf. Para penyerang diduga dari kelompok Muslim bersenjata yang memiliki jaringan ke al Qaeda pimpinan Abu Sayyaf dan Moro National Liberation Front yang lebih besar di kota Talipao di provinsi Sulu.

Juru bicara Kedutaan Besar AS, Tina Malone menyebutkan bahwa kekerasan tersebut menyebabkan pekerjaan proyek harus dihentikan di lokasi sekolah.

Namun, Malone menegaskan, meski terjadi kekerasan, Washington akan terus bekerja sama dengan Manila untuk pembangunan Provinsi Sulu.
Akibat peristiwa itu, sebuah pernikahan Islam di Talipao terpaksa dibatalkan. Warga yang marah berencana membantu tentara menggempur para militan. Namun, niat mereka ditolak tentara Marinir.
Kelompok Abu Sayyaf telah dinyatakan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Filipina. Mereka memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris nomor wahid dunia Al-Qaeda dan dikenal pula sebagai anggota radikal dari kelompok pemberontak Front Pembebasan Moro.  (bbs/jpnn)

Baku Tembak di Markas CIA, Warga AS Tewas

KABUL – Insiden penembakan terjadi di markas CIA yang terletak di kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Kota Kabul, Afghanistan, Minggu malam waktu setempat (25/9). Pelaku berhasil menewaskan seorang warga AS dan melukai seorang yang lain sebelum akhirnya tewas diterjang timah panas petugas.

Suara tembakan terdengar kali pertama pukul 20.00 waktu setempat. Beberapa saksi mengatakan suara tembakan terdengar dari gedung bekas Ariana Hotel yang sejak 2001 beralih fungsi menjadi markas CIA. “Seorang pria asal Afghanistan yang menjadi pegawai di kompleks kedubes menembak mati seorang warga AS,” terang jubir Kedubes AS dalam pernyataan resminya kemarin (26/9).

Begitu mendengar tembakan, petugas keamanan yang sedang berjaga langsung mendatangi sumber suara. Sempat terjadi baku tembak di antara petugas dan pelaku. “Baku tembak di markas CIA itu berakhir setelah pelaku berhasil dilumpuhkan oleh petugas,” kata Kepala Polisi Kabul Ayub Salangi.

Menurut Jubir Kedubes Gavin Sundwall, pihaknya belum mendapat laporan soal motivasi pelaku. “Kami juga masih berusaha mencari tahu bagaimana cara pelaku menyelundupkan senapan di kompleks berpenjagaan ketat ini. Sebab, di kompleks ini, pegawai berkewarganegaraan Afghanistan dilarang membawa senjata,” ungkapnya
Seorang jubir Taliban di Afghanistan, Zabihullah Mujahid mengaku tidak tahu soal insiden tersebut. (afp/rtr/dwi/jpnn)

Giliran Inggris Larang Warganya ke Indonesia

LONDON- Setelah Australia mengeluarkan anjuran khusus (travel advice) bagi warganya untuk mengunjungi Indonesia, kini giliran Inggris. Pemerintah Inggris mengeluarkan kunjungan ke daerah rawan teroris.

Peringatan itu dikeluarkan menyusul insiden ledakan bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Jebres, Solo. Dalam halaman Indonesia pada situs Kementerian Luar Negeri Inggris, yang diperbarui 25 September 2011, London memperingatkan warganya berhati-hati ketika mengunjungi Indonesia.

“Terdapat ancaman besar dari teroris di seluruh Indonesia. Kelompok teroris merencanakan serangan dan memiliki kapasitas melancarkannya kapan saja dan di  mana saja di seluruh Indonesia,” tulis Kemlu Inggris.

Dalam situsnya, Kemlu Inggris menuliskan beberapa peristiwa teroris terbaru, pengeboman di Solo Minggu kemarin. Pemerintah Inggris meminta warganya tetap memonitor perkembangan di media-media Indonesia.
Kemlu Inggris meyakini ada serangan lanjutan dilakukan di beberapa lokasi di Jawa, termasuk Semarang, Surabaya, dan Surakarta. Karena telah ada bom bunuh diri di satu masjid di Cirebon. (net/jpnn)

Gadis Kecil Tewas, Israel Didenda Rp3,9 M

TEL AVIV- Pemerintah Israel diminta membayar ganti rugi sebesar 430 ribu dolarUS setara Rp3,9 miliar kepada keluarga seorang gadis kecil berusia 10 tahun yang tewas pada Januari 2007 lalu. Sebelumnya, kepolisian Israel mengklaim sang gadis tewas karena terkena lemparan batu.

Seperti dilansir harian Guardian, Senin 26 September 2011, pengadilan memutuskan pada 13 bulan lalu gadis bernama Abir Aramin tewas karena ditembak tentara Israel. Namun tak ada satupun pelaku yang disidang.

Hakim Orit Efal-Gabai dari pengadilan distrik Yerusalem memutuskan, Minggu 25 September 2011 lalu bahwa Israel bersalah dalam kematian Abir dan harus membayar ganti rugi kepada keluarga korban, serta untuk biaya pemakaman.
Abir tewas saat pergi membeli permen dengan saudara perempuan dan dua orang temannya di dekat sekolah mereka di Anata, dekat Yerusalem. Menurut saksi mata, ketika itu penjaga perbatasan Israel datang dengan menaiki kendaraan yang dilempari batu oleh sekelompok anak muda. Akibatnya kepala Abir terkena lemparan batu dan langsung dilarikan ke rumah sakit, tapi meninggal dua hari kemudian. (bbs/jpnn)