Home Blog Page 14808

Utang Budi ke IPTN, Ikut Rancang Pesawat Tercanggih

Kebanggaan dan Kegundahan Orang-orang Indonesia di Boeing

Dari 30-an orang Indonesia yang bekerja di Boeing, banyak yang menduduki posisi vital. Berikut laporan SUHENDRO BOROMA, direktur Manado Post (Grup Sumut Pos) yang mengunjungi markas pabrik pesawat tertua di dunia itu di Seattle bersama Lion Air.

MIMPI buruk itu menghampiri Agung H Soehedi seiring dengan terjadinya serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 8 Mei 1963 tersebut harus kembali kehilangan pekerjaan.
Ya, tragedi yang menewaskan lebih dari tiga ribu jiwa itu membuat banyak orangn

menghindari transportasi udara. Akibatnya, permintaan pesawat menurun drastis dan itu memaksa Boeing, pabrik pesawat tertua di dunia yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, tempat Agung bekerja selepas dari IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, kini PT Dirgantara Indonesia, Red), mesti merumahkan banyak karyawan. Agung termasuk salah satunya.

Karena sudah membawa istri dan empat anaknya boyongan ke Seattle, Agung pun mesti memutar otak untuk bertahan hidup. Alumnus Itenas, Bandung, yang keluar dari IPTN sebelum pabrik pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara itu kolaps akibat krisis moneter, itu pun akhirnya rela bekerja apa saja untuk menafkahi keluarga.
Menjadi tukang cuci mobil, sopir shuttle bus, pengatur dan pembuat taman, tukang memperbaiki rumah, hingga mendirikan perusahan perumahan, semuanya pernah dia jalani. Nah, pada usaha terakhirnya itu Agung menemukan peruntungan. “Usaha saya dan partner maju,” katanya.

Tapi, tetap saja kesuksesan itu tak mampu menghapus kecintaan Agung kepada dunia aeronautika. Meski dua kali mengalami pengalaman pahit, ketika pada 2006 Boeing menawarinya untuk bekerja lagi seiring pulihnya pasar pesawat, Agung tak butuh waktu panjang untuk mengiyakan. “Partner saya tak mau melepas, tapi saya bersikeras kembali ke Boeing,” ujarnya.

Pilihan itu terbukti tepat. Di industri pesawat yang didirikan William Boeing itu karir Agung terus menanjak, meski bisnis bersama sang partner tadi tetap dijalankan. Kini alumnus SMAN 3 Bandung tersebut menduduki jabatan structural analysis engineer. Pesawat produksi Boeing yang pernah ditangani sektor stress analysis-nya adalah Boeing 737 dan Boeing 757.

Agung adalah satu di antara sekitar 30 orang Indonesia yang kini berkarir di Boeing. Mayoritas jebolan IPTN alias PT DI. Mereka tersebar di berbagai departemen. Bukan hanya di urusan teknis, tapi ada juga yang bekerja di bagian keuangan.

Dari ke-30 orang itu, tak sedikit pula yang menduduki posisi bergengsi atau berpengaruh karena skill yang mereka miliki. Agung, misalnya, ketika hendak dipindah ke pembuatan Boeing 777, dengan tegas menolak.
“Saya bilang mau keluar kalau dipaksa pindah,” kisahnya. “Bos saya bilang, sama sekali tak terpikirkan Anda keluar dari Boeing,” lanjutnya.

Itu menunjukkan kapasitas dan kualitas Agung yang sangat dihargai di Boeing. Sama halnya dengan Tonny Soeharto. Lulusan ITB 1982 itu menduduki posisi lead engineer-MB production support engineering Boeing 777. Pada pembuatan pesawat berbadan lebar untuk penerbangan lintas benua yang sangat diminati pasar itu, Tonny dipercaya menjadi pimpinan di salah satu bagian yang vital.

“Tak terbayangkan kita orang Indonesia membawahkan orang-orang Amerika di Boeing. Alhamdulillah, itu bisa kami capai di sini,” kata Tonny dengan mata berkaca-kaca.

“Mereka respek dan menghargai kemampuan kita, orang Indonesia. Saya juga dengan bangga bilang sebagai alumnus IPTN,” lanjut pria yang mempersunting gadis asal Bangkalan, Madura, itu.

Agung dan Tonny memang sama-sama mengakui bahwa apa yang mereka capai saat ini tak lepas dari latar belakang pengalaman mereka di IPTN. Bekerja di perusahaan yang identik dengan mantan Presiden BJ Habibie itu sangat berjasa dalam pembentukan kualitas dan kapabilitas. Dengan kata lain, IPTN telah menempa mereka hingga memiliki kualitas dunia untuk bidang teknologi pembuatan pesawat.

“Di sini (Boeing), menyebut IPTN tidak meragukan. Memudahkan untuk diterima,” kata Agung dan Tonny yang ditemui di tempat terpisah di Seattle.

Yang bukan alumnus IPTN pun tak kalah membanggakan prestasinya. Misalnya, Bramantya Djermani. Dia kini menjadi satu-satunya orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan pesawat Boeing tercanggih, Boeing 787 Dreamliner.
Dreamliner menggunakan bahan dasar komposit. Pesawat ini paling ringan di antara semua jenis pesawat komersial yang pernah ada dan paling hemat bahan bakar.

Meski belum dilepas ke pasaran, pesanan kepada Boeing sudah menumpuk, mencapai 800-an unit. “Untuk saat ini masih dalam tahap persiapan,” kata Bram yang langsung bekerja di Boeing begitu lulus dari University of Foledo, Ohio.
Di pembuatan pesawat berjuluk Boeing Next Generation itu, Bram memegang jabatan industrial engineer. “Saya berusaha menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Untuk karir saya dan mudah-mudahan menyumbang bagi nama baik Indonesia,” katanya.

Atas kemampuan masing-masing, orang-orang Indonesia di Boeing rata-rata sudah hidup mapan di negeri Paman Sam. Gaji pokok mereka berkisar USD 200.000 per bulan (sekitar Rp1,86 miliar). Itu belum termasuk tunjangan dan penghasilan tambahan lain-lain.

Agung, contohnya, punya dua rumah yang megah. “Rumah saya seperti jadi tempat berkumpul mahasiswa asal Indonesia dan tempat penitipan barang-barang mereka,” katanya saat menjamu penulis di salah satu rumahnya di kawasan Way, Kent, Washington.

Tonny juga sudah berhasil menuntaskan kuliah anak tertuanya di University of Washington (UW), Seattle. Si sulung yang beristrikan perempuan Vietnam itu kini mengikuti jejak ayahnya sebagai engineer.
Anak kedua memilih jurusan arsitek di perguruan tinggi yang sama. “Alhamdulillah, kami juga terus berusaha membantu siapa saja anak Indonesia yang kuliah di sini (Seattle dan sekitarnya),” ujar Tonny.
Di luar Agung, Tonny, dan Bram, masih ada Kholid Hanafi yang berada di bagian pembuatan Boeing 737 dan Maurita Sutedja yang berkarir di departemen keuangan. Sulaeman Kamil, mantan direktur teknologi IPTN dan pernah menjadi asisten Menristek-kepala BPPT, juga bekerja di Boeing.
“Intinya, kami semua bangga,” kata Bram. “Kami membuktikan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan warga Amerika atau bangsa-bangsa lain di dunia,” lanjutnya.
Namun, di balik kebanggaan itu juga tersembul kegundahan. “Sedih karena semua kemampuan iptek yang kami miliki tak bisa dikembangkan atau dipakai di tanah air,” kata Tonny.
“Potensi dan kemampuan anak-anak Indonesia tak kalah. Sayang ndak bisa diaplikasikan di tanah air. Tidak ada ruang dan wadah yang cocok bagi penerapan dan pengembangan teknologi dirgantara di Indonesia,” tambah Bram.
Bahkan, kalau saja IPTN tak kolaps akibat krisis moneter yang bermula dari mismanajemen dan konsistensi mengembangkan produksi mereka seperti CN315, N250, dan N2130, Agung yakin perusahaan pelat merah itu akan menguasai pasar yang kini dikangkangi ATR. ATR adalah anak perusahaan saingan Boeing, Airbus, yang bermarkas di Toulouse, Prancis.
“Saya prihatin dan sedih,” ujar Agung. Suaranya melemah dan matanya sayu. “Kita seharusnya kini raja di pasar seperti yang dikuasai ATR sekarang.”
Apalagi, BJ Habibie dulu menerapkan teknologi pesawat masa depan yang saat itu belum dimiliki pabrik pesawat lain: fly-by-wire. Boeing sendiri menggunakan teknologi ini untuk pembuatan B777 pada 1994.
Teknologi itu pula yang kini ‘dicuri’ Boeing dan Airbus dalam merancang pesawat-pesawat masa depan. Sesuatu yang lebih dulu diterapkan IPTN pada N2130. “Sedih dan prihatin. Itu tinggal kenangan,” kata Agung, Tonny, dan Bram. (*/jpnn)

Amrun Daulay Terancam 20 Tahun

JAKARTA- Mantan Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Kemensos Amrun Daulay menghadapi sidang dakwaan. Mantan bawahan Mensos Bachtiar Chamsyah itu didakwa melakukan tindak pidana korupsi dalam proyekn

pengadaan mesin jahit dan sapi impor di Kemensos pada 2004. Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat itu pun terancam 20 tahun hukuman penjara.

“Terdakwa secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan Bachtiar Chamsyah, Yusrizal, Musfar Aziz, dan Iken (Nasution, pada April 2003 hingga April 2005, telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan negara Rp15,13 miliar,” kata jaksa Supardi saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, kemarin (19/9).

Supardi menguraikan, terdakwa bersama rekan-rekannya telah memperkaya diri sendiri dan orang lain, melalui penunjukan langsung. Dia menunjuk PT Lasindo milik Musfar Aziz dalam proyek pengadaan Mesin Jahit merek JITU model LSD 9990 pada 2004. Penunjukan langsung tersebut disetujui mantan atasan terdakwa, Bachtiar Chamsyah yang kala itu menjabat Mensos. Sebagai penyelenggara negara, Amrun dinilai telah menyalahgunakan wewenangnya.
“Amrun bersama-sama Bachtiar juga didakwa telah melakukan penggelembungan harga atas 6000 unit mesin jahit, senilai Rp7,3 miliar, atau Rp1,22 juta per unitnya yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2004. Penggelembungan harga juga dilakukan atas pengadaan 4615 unit mesin jahit yang bersumber dari Anggaran Belanja Tambahan (ABT) 2004. Kedua pengadaan tersebut telah memperkaya Musfar Aziz sebesar Rp13 miliar.
“Perbuatan terdakwa memperkaya Musfar Aziz selaku Direktur Utama sekaligus pemilik PT Lasindo sebesar Rp7,3 miliar yang bersumber dari APBN 2004. Serta memperkaya Musfar Aziz sebesar Rp5,8 miliar yang bersumber dari ABT 2004,” jelas Jaksa Supardi.

Sementara, dalam pengadaan 2800 sapi impor yang bersumber dari dana APBN 2004, dikeluarkan anggaran senilai Rp19,4 miliar. Terdakwa melakukan penunjukan langsung atas PT Atmadhira Karya milik almarhum Iken BR Nasution sebagai rekanan, sesuai keinginan Bachtiar Chamsyah.

“Terdakwa memerintahkan bawahannya membuat nota dinas tertanggal 3 Desember 2009 perihal penunjukan langsung pengadaan sapi yang kemudian disetujui Bachtiar Chamsyah,” kata Jaksa Irene Putri.
Dalam pengadaan sapi, penggelembungan harga senilai Rp19,5 miliar dari harga asli Rp17,2. “Harga sapi yang seharusnya Rp6,1 juta per ekor, dinaikkan hingga Rp6,9 juta per ekor. Akibat perbuatannya, negara dirugikan sekitar Rp3,6 miliar.

Atas perbuatannya, politikus Partai Demokrat tersebut didakwa pasal 2 Ayat (1) UU Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP. Amrun pun terancam pidana penjara maksimal 20 tahun penjara.
Terhadap dakwaan tersebut, Amrun beserta penasehat hukumnya akan mengajukan nota keberatan (eksepsi). Amrun pun sempat mengungkapkan, tuduhan atas dirinya tidak tepat. Dia menuding mantan atasannya Bachtiar Chamsyah yang bertanggung jawab atas pengadaan mesin jahit dan sapi impor tersebut. “Saya tidak mengerti bisa jadi tersangka atau terdakwa. Saya ‘nggak mengambil kebijakan dan saya tidak menikmati uang negara. Mengambil kebijakan itu Bachtiar Chamsyah sebagai Mensos. Saya bingungnya disitu,” jelas Amrun, usai persidangan.

Amrun bersikukuh tak merasa melakukan korupsi, apalagi mengambil uang untuk kepentingan dirinya sendiri. Usai sidang, ia balik menumpahkan semua kesalahan semua ini kepada Bachtiar Chamsyah, mantan atasannya yang saat itu menjabat sebagai Menteri Sosial.

“Saya enggak mengambil kebijakan dan saya tidak menikmati uang negara. Pengambil kebijakan itu pak Bachtiar Chamsyah sebagai Menteri Sosial. Saya bingungnya di situ (kenapa jadi begini),” imbuh mantan sekdaprovsu ini. (ken/jpnn)

Kemendagri Siap Anulir Mutasi Pejabat Pemprovsu

JAKARTA- Para pejabat Pemprov Sumut yang dicopot dari jabatannya oleh Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, punya harapan besar untuk bisa kembali menduduki jabatannya. Pasalnya, Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) akan turun tangan mengevaluasi nama-nama pejabat yang dimutasi Gatot tanpa melalui konsultasi dengan Mendagri Gamawan Fauzi itu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendagri Diah Anggraeni menjelaskan, hingga kemarin pihaknya belum menerima penjelasan dari Gatot terkait kebijakan mutasi yang dinilai menabrak aturan itu. Diah mengatakan, pihaknya hanya mau menerima penjelasan tertulis dari Gatot. Laporan penjelasan dari Gatot itu harus disertai daftar nama pejabat yang dimutasi beserta alasan-alasannya.

“Laporannya bagaimana, nanti kita evaluasi. Ini nggak (layak dimutasi), ini nggak (layak dimutasi). Kalau nggak sesuai (aturan), ya batal,” tegas Diah kepada Sumut Pos di kantornya, kemarin (19/9).
Karena pentingnya laporan penjelasan tertulis Gatot itu, Diah menyesalkan sikap Gatot yang hingga kini belum juga membuat laporan dimaksud. “Belum dijawab surat teguran kita.

Harus ada laporan tertulis,” tegas birokrat karir asal Semarang itu.
Yang membuat Diah jengkel, banyak diantara pejabat yang dimutasi itu, tidak mendapat jabatan baru, alias non job. Menurut Diah, tidak semestinya pejabat langsung di-nonjob-kan, tanpa alasan yang jelas. “Non job itu kalau melakukan pelanggaran hukum berat,” kata Diah.

Diceritakan Diah, pada pekan silam, pihaknya sudah menyampaikan masalah ini kepada Irwasda Pemprov Sumut, Nurdin Lubis, saat kandidat kuat calon Sekdaprov itu bertemu dengannya di kantor kemendagri. “Saya sampaikan lewat inspektorat, Pak Lubis itu,” terang Diah.

Sebelumnya diberitakan, para pejabat yang dicopot Gatot enggan mengajukan gugatan ke  Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Alasannya, berdasarkan pengalaman, putusan PTUN tidak efektif dan seringkali tidak diindahkan oleh pihak tergugat.

Pernyataan tersebut disampaikan salah seorang mantan pejabat Pemprov Sumut yang menjadi ‘korban’ kebijakan Gatot, kepada koran ini di gedung Kemendagri, Jakarta, dua pekan silam. Dia enggan ditulis namanya di koran ini, lantaran meski sudah tidak punya jabatan, dia masih seorang PNS di Pemprov Sumut.

“Kami sudah bicara dengan kawan-kawan yang lain, jika menggugat ke PTUN, percuma saja. Nanti masih ada banding-banding segala, dan toh tidak efektif di PTUN itu,” ujar pria yang mengaku kini sudah non job itu.
Dia datang ke Kemendagri guna berkonsultasi masalah pemutasian tanpa konsultasi dengan Mendagri Gamawan Fauzi itu. Dia cerita, ada rencana ratusan pejabat yang dicopot Gatot membuat surat pernyataan bersama dan disampaikan ke mendagri. “Dalam waktu dekat kami akan membuat surat pernyataan bersama, yang ditandatangani oleh semua,” ujarnya. (sam)

Bayi Kembar Siam Menempel di Kepala Berhasil Dipisahkan

LONDON- Bayi kembar siam asal Sudan berhasil dipisahkan setelah menjalani serangkaian operasi berisiko di London, Inggris. Kedua bayi perempuan yang lahir dengan kondisi menempel di bagian kepala itu kini dalam kondisi baik setelah dipisahkan pada Agustus lalu. Operasi pemisahan kedua bayi berumur 11 bulan bernama Rital dan Ritag Gaboura tersebut sukses setelah melalui empat tahap operasi selama empat bulan.

“Itu benar-benar berisiko tinggi,” kata Dr James Goodrich dari badan amal Facing the World, yang membantu operasi pemisahan tersebut. “Sejauh ini hasilnya luar biasa,” kata Dr Goodrich seperti dilansir Sydney Morning Herald, Senin (19/9/2011). “Saya pikir kedua anak akan baik-baik saja,” imbuhnya.

Menurut Facing the World, operasi pemisahan bayi dempet di kepala tersebut berlangsung dalam empat tahap sejak Mei hingga Agustus lalu di Rumah Sakit Great Ormond Street, London.

Bayi dempet di kepala atau dikenal dengan craniopagus merupakan kasus langka yang terjadi dalam sekitar 1 dari 2,5 juta kelahiran. Operasi pemisahan bayi craniopagus bisa sangat berbahaya khususnya jika ada aliran darah yang signifikan antar kedua otak mereka.

“Insiden bayi kembar selamat dengan kondisi ini sangatlah langka,” kata ahli bedah David Dunaway yang memimpin operasi tersebut. Saat ini kedua bayi masih dalam penanganan medis di rumah sakit. Namun dalam waktu dekat, orangtua mereka akan bisa membawa pulang kedua bayi tersebut. (net/bbs)

Kebakaran di Penjara, 6 Napi Tewas

BAGHDAD- Api tampak menyelimuti sebuah penjara di Baladiyat, Irak. Enam orang narapidana dikabarkan tewas dalam peristiwa kebakaran di tempat itu. Kebakaran yang melanda menjelang pagi ini, menyebabkan kepanikan di dalam penjara. Beberapa dari narapidana tampak perawatan akibat menghirup asap yang diakibatkan oleh kebakaran.

Petugas medis memastkan enam orang tewas dalam insiden ini. Namun petugas medis yang bekerja di RUmaha Sakit Kindi dan rumah sakit Ibin Nafees, menolak untuk memberi keterangan. Demikian diberitakan Associated Press, Senin (19/9).
Hingga kini tidak jelas apa penyebab kebarakan tersebut. Pihak berwenang pun masih terus melakukan olah forensik di lokasi kejadian. Sementara petugas pemadam kebakaran dikabarkan membutuhkan watktu sekitar satu jam untuk memadamkan api. Kini tidak ada api lagi terlihat di sekitar lokasi kebakaran. (net/bbs)

WNI Ditangkap Gara-gara Bendera Malaysia

JOHOR BARU- Pemerintah Malaysia menahan awak kapal dari sebuah kapal milik Korea Selatan. Kapal itu kedapatan mengibarkan bendera Malaysia terbalik. Jalur Gemilang yang menjadi kebanggaan Malaysia, dikibarkan dengan posisi tidak sesuai di kapal yang bersauh di lepas pantai Tanjung Piai, Pontian.

Polisi Maritim Malaysia (MMEA) yang menyadari bendera negara mereka dikibarkan terbalik, langsung memeriksa kapal tersebut dan melakukan penyelidikan terhadap kapal tersebut.

“Cara mereka mengibarkan bendera nasional, mengundang petugas untuk menyelidiki kapal itu,” ungkap Kepala Polisi Maritim Laksamana Zulkifli Abu Bakar seperti dikutip The New Straits Times. Zulkifli menambahkan, awak kapal tersebut lalai memberitahu pihak berwenang mengenai kedatangan mereka di perairan Malaysia. Mereka pun akhirnya diselidiki karena mengibarkan bendera Jalur Gemilang dalam posisi yang tidak pantas. Kapal ini sendiri diawaki oleh 10 WNI yang menjadi awak kapal. (net/bbs)

Bom Bunuh Diri Hantam Polisi

Karachi – Lagi-lagi serangan bom di Pakistan. Sedikitnya delapan orang tewas setelah seorang pengebom bunuh diri Taliban menabrakkan mobil berisi bom yang dikendarainya ke rumah seorang pejabat senior kepolisian di Kota Karachi. Dari 8 korban tewas tersebut, enam di antaranya adalah polisi.

Saat kejadian, keenam polisi tersebut sedang berjaga di rumah pejabat kepolisian Karachi, Chaudhry Mohammad Aslam, yang menjadi target pengeboman. Aslam sendiri selamat dari pengeboman tersebut.

Selain menewaskan enam polisi, seorang wanita dan seorang anak juga tewas dalam kejadian itu. Menurut kepolisian setempat, bahan peledak seberat 300 kilogram digunakan dalam aksi pengeboman itu. Kepada wartawan, Aslam mengatakan, sebelum pengeboman itu dirinya menerima ancaman-ancaman dari kelompok-kelompok militan termasuk Taliban.

“Saya sedang tidur ketika mereka melakukan tindakan pengecut ini dan menabrakkan kendaraan yang dipenuhi bahan peledak ke rumah saya,” kata Aslam seperti dilansir Reuters, Senin (19/9). Kelompok Taliban Pakistan mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Disebutkan bahwa Aslam telah menangkap dan membunuh banyak pejuang Taliban.

“Kami akan menyerang perwira-perwira kepolisian lainnya serta mereka yang mengambil tindakan terhadap rakyat kami,” cetus juru bicara Taliban Ehsanullah Ehsan. (net/bbs)

Masih Tahap Penyelidikan Awal

MEDAN-Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) mulai mengusut dugaan penyimpangan dana operasional di RSUD dr Pirngadi Medan, senilai Rp19,142 miliar yang ditemukan oleh BPK Sumut.

Kepala Seksi Penyidikan Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Jufri Nasution SH MH mengaku, mereka sedang mempelajari soal penyimpanga dana opersional tersebut.

‘’Lagi dibuat penyusunan mulai penyelidikan. Saat ini kita sedang menelusuri untuk mencari tahu kebenaran soal penyimpangan dana operasional di rumah sakit itu (RSU dr Pirngadi Medan),’’ tegas Jufri.
Jufri Nasution mengaku untuk mengungkap kasus dugaan penyimpangan anggara operasional di RSUD dr Pirngadi Medan, membutuhkan kerja yang tidak sebentar.

‘’Kita berupaya akan mengungkap kasus ini. Penyelidikan yang kita lakukan dari tahap bawah. Dengan mengumpulkan bukti dan informasi begitu juga kita akan memanggil pejabat yang terkait dalam perkara tersebut, termaksud meminta informasi dari instansi yang mengaudit,’’ beber Jufri. Jufri Nasution juga menegaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan penyelidikan atas dugaan penyimpangan operasional di RSUD dr Pirngadi Medan.

Sebelumnya Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Sumut menemukan banyak penyimpangan yang berpotensi merugikan keuangan daerah di RSUD dr Pirngadi Medan.  (rud)

Kapolri Restui Briptu Norman Mundur

JAKARTA-Mabes Polri menyatakan Briptu Norman Kamaru masih punya sisa kewajiban dinas empat tahun lagi. Sebagai seorang tamtama polisi, Norman minimal harus bertugas selama 10 tahun.

“Dia masih enam tahun, jadi sebenarnya masih ada kekurangan masa tugas,” ujar Kadivhumas Polri Irjen Anton Bachrul Alam, usai menemui keluarga Norman yang datang dari Gorontalo di Mabes Polri, kemarin (19/9).

Pertemuan berlangsung akrab dan santai di ruang dinas Kadivhumas. Idris menyampaikan alasan bahwa Norman ingin berkonsentrasi dengan karir barunya sebagai penyanyi. “Jadi, kami minta restu dari Bapak,” katanya.

Selama ini, konsentrasi Norman, lanjut Idris bercabang dua. Selain masih sebagai polisi anggota Brimob Polda Gorontalo, Norman juga menerima banyak order sebagai artis baru. “Karena itu, lebih baik dia mengundurkan diri saja,” katanya.
Di Istana, Kapolri Jenderal Timur Pradopo memberi sinyal akan merestui pengunduran Norman. “Kalau mencari karir yang lebih baik tidak apa-apa,” katanya. Kapolri akan memerintahkan Kapolda Gorontalo untuk menindaklanjuti permintaan Norman. “Saya cek ke Kapoldanya,” kata jenderal alumni Akpol 1978 itu. (rdl/fal/jpnn)

Dapat Gelar Angku Majo Sadeo

Mahfud M.D

Ketegasan Mahfud M.D. sebagai ketua Mahkamah Konstitusi (MK) mendapat apresiasi dari masyarakat Magek, Sumatera Barat. Dia pun mendapat gelar Angku Majo Sadeo dari mereka.

“Saya sangat menghargai pemberian gelar itu. Bagi saya, itu merupakan apresiasi masyarakat Magek atas tugas yang saya emban selama menjadi ketua MK,” kata Mahfud.

Angku Majo Sadeo merupakan gelar adat kebesaran Ninik Mamak Nagari Magek Sumatera Barat yang diberikan kepada seseorang yang berjuang menegakkan kebenaran. Penganugerahan gelar untuk Mahfud itu dilakukan dalam acara Ninik Mamak, Alek Nagari Batagak Pangulu. (ris/jpnn/c5/nw)