LONDON-Sebanyak 42 orang ditangkap terkait dengan kerusuhan di kawasan Tottenham, London Utara, mulai Sabtu tengah malam (6/8) hingga Minggu dini hari (7/8) waktu setempat (beda enam jam dengan WIB, Red). Tidak ada korban jiwa dalam amuk massa terburuk di ibu kota Inggris sejak kerusuhan serupa di Broadwater Farm, juga di sekitar Tottenham, pada 1985 itu.
Tetapi, 26 personel kepolisian luka-luka, delapan di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Salah seorang di antara mereka cedera cukup parah di kepala. Dua mobil polisi, sebuah bus tingkat, dan sejumlah toko juga ludes dibakar dan dijarah massa.
Downing Street, kantor perdana menteri Inggris, mengutuk kejadian itu.
Menteri Dalam Negeri Theresa May mengatakan, apa pun penyebabnya, insiden itu sungguh tidak bisa ditoleransi.
“Saya juga ingin menyampaikan rasa simpati mendalam kepada para petugas kepolisian yang telah menempuh segala risiko untuk mengatasi masalah tersebut,” kata May seperti dikutip Daily Mail.
Terpisah, seperti dikutip BBC, Wali Kota London Boris Johnson memastikan bahwa polisi akan menyelidiki hingga tuntas insiden yang dampak kerugiannya secara nominal belum diketahui itu. Johnson juga menjamin, pemicu massa sampai turun ke jalan hingga akhirnya berbuntut kerusuhan itu juga bakal diinvestigasi.
Sebagaimana dilaporkan Daily Mail kemarin (7/8), hingga Minggu pagi kemarin waktu setempat, aksi-aksi kriminalitas minor yang terhubung dengan kerusuhan itu masih terjadi. Namun, Scotland Yard “kepolisian metropolitan London” menyatakan mereka sudah berhasil melokalisir insiden-insiden kecil tersebut.
“Petugas sudah kami kerahkan ke area-area di Tottenham. Di sana masih terjadi aksi-aksi kriminalitas.” Demikian pernyataan resmi Scotland Yard, seperti dikutip Daily Mail.
Kerusuhan itu dipicu tewasnya seorang tokoh gangster lokal bernama Mark Duggan, 29, di tangan satuan elite Scotland Yard, CO19, yang membuntuti dia pada Kamis malam lalu (4/8). Duggan menembak dulu salah seorang personel Co19, tetapi petugas tersebut lolos dari maut karena peluru dari pistol ayah empat anak itu mengenai radio panggil yang dia taruh di saku baju. Para personel Co19 yang lain segera ganti memberondong Duggan yang langsung tewas di tempat.
Duggan berasal dari Broadwater Farm Estate, “zona merah” di Tottenham. Pada 1985, berawal dari penggeledahan ke rumah seorang warga tempat tersebut yang mengakibatkan si pemilik rumah, Cynthia Jarrett, 49, meninggal karena serangan jantung, meledaklah kerusuhan. Seorang polisi, Keith Blakelock, pun tewas karena ditikam pisau.
Nah, menyusul tewasnya Duggan pada Kamis lalu (4/8), sekitar 500 warga Broadwater Farm turun ke jalan di High Road, Tottenham, dekat markas klub sepak bola Tottenham Hotspur, Stadion White Hart Lane. Tujuan mereka mendatangi kantor Kepolisian Tottenham yang berada sekitar 200 meter dari High Road.
Tetapi, jalur menuju kantor polisi itu diblokade sekitar 100 petugas dengan melintangkan dua mobil polisi. Polisi berusaha menghalau massa, tetapi massa yang marah yang rata-rata mengenakan masker penutup ganti melempari polisi dengan berbagai benda dan mengakibatkan dua mobil penghalang tadi terbakar.
Kerusuhan itu dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru Tottenham. Apalagi, seperti dilaporkan The Guardian, dua mobil polisi yang terbakar tadi di-tweet ke Twitter hingga 100 kali.
Sejumlah kantor dan toko, mulai kantor bank, toko perhiasan, buku, hingga elektronik, di sekitar Tottenham jadi sasaran massa yang mengamuk. Mereka memecahkan jendela dan pintu, bahkan ada pula yang membakarnya.
Perusakan itu juga mengundang datangnya puluhan penjarah, termasuk anak-anak muda berusia belasan. Umumnya yang dijarah adalah tokok elektronik. Ada penjarah yang datang mengendarai mobil, tetapi sebagian besar berjalan kaki. Mereka mengambil troli dan memenuhinya dengan barang jarahan.
Lewat Twitter juga beredar kabar sebuah counter McDonald turut menjadi korban penjarahan. Para penjarah yang berusia muda sampai masuk ke dapur dan memasak sendiri makanan kesukaan mereka.
Para perusuh dan penjarah juga menyerang reporter dan fotografer yang meliput insiden tersebut. Dua fotografer Daily Mail dipukuli dan kamera dirampas. Ada pula beberapa reporter yang dikejar-kejar masa dan salah seorang di antaranya terkena lemparan batu di kepala.
“Kondisinya benar-benar kacau. Kami dipukuli dan peralatan kami senilai sekitar 8 ribu poundsterling (sekitar Rp 112 juta) dirampas oleh anak-anak muda yang mengenakan balaclava (masker penutup kepala, Red),” ujar salah seorang fotografer Daily Mail yang tidak disebutkan namanya dengan alasan keamanan.
Sementara itu, John Blake, salah seorang sahabat Mark Duggan sejak kecil, mengatakan bahwa temannya itu adalah korban pelecehan polisi. “Dia terus dibuntuti selama beberapa pekan (padahal dia tidak melakukan apa-apa). Polisi memang selalu begitu kepada siapa saja yang berasal dari Broadwater Farm,” katanya kepada Daily Mail.
Kekasih Duggan selama 13 tahun terakhir, Simone Wilson, juga tidak percaya Duggan membawa pistol seperti klaim polisi saat dibuntuti Kamis malam lalu itu. “Saya mengenal dia sejak lama dan saya tahu pasti dia tidak pernah membawa senjata,” ujarnya.
Salah seorang keluarga dekat Duggan yang mengaku bernama Nikki menambahkan, rekan dan keluarga Duggan-lah yang memang memelopori aksi jalanan pada Sabtu malam itu. “Sebab, kami merasa harus melakukan sesuatu. Kami menuntut keadilan atas keluarga kami. Mark bukan orang agresif dan tidak pernah melukai siapa pun,” ujarnya.
Jumlah mereka yang turun ke jalan bertambah banyak berkat bantuan Twitter. Tidak sedikit pemilik akun di jejaring sosial paling populer setelah Facebook itu yang turut memprovokasi untuk menyerang polisi dengan mem-posting mobil polisi yang dibakar. (c1/ttg/jpnn)

