30 C
Medan
Wednesday, January 14, 2026
Home Blog Page 14970

Jurang di Merek Telan 3 Nyawa

  • Lagi, Mobil Terjun Bebas
  • 3 Tewas di Tempat, 2 Kritis, 4 Jenazah Ditemukan di Aek Latong

KARO-Belum lagi usai kesedihan akibat kecelakaan maut bus ALS BK BK 7088 DL bernomor pintu 90 yang masuk telaga di Aek Latong Minggu (26/6) lalu, kecelakaan lalulintas kembali terjadi. Hanya berselang sehari, sebuah mobil rental masuk jurang sedalam 100 meter di kawasan tekongan Desa Naga Lingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Tanah Karo, Senin (27/6), pukul 05.00 WIB.

Kecelakaan kemarin menimpa mobil Daihatsu Xenia BK 1829 KQ bermuatan 5 penumpang, berangkat dari Meulaboh, Aceh Barat dengan tujuan Tebing Tinggi. Dalam peristiwa naas kemarin, tiga penumpang meninggal di tempat kejadian. Sementara dua orang lainnya mengalami luka.

Peristiwa terjadi di sekitar lokasi yang disebut warga setempat dengan nama Penatapan Atas Pertengkorakan itu, berada tepat di longsoran (beronjong, Red), perbatasan Merek Kabupaten Karo-Sidikalang di Kabupaten Dairi.
Korban tewas masing masing pengemudi bernama Zainal Aripin(45) warga Meulaboh Aceh Barat (NAD). Asmaidar (54) warga desa Kampung Semut Kotamadya Tebing Tinggi Deli dan Gian (17) warga yang sama. Sementara korban luka parah, M Diah (55) warga Meulabaoh, Reza (19) warga Tebing Tinggi Deli.

Keterangan yang diperoleh wartawan dari keluarga korban, Maisir (42), warga Meulaboh, saat ditemui di Puskesmas Merek mengatakan, mereka berangkat  dua mobil beriringan dari Meulaboh Minggu (26/6) sekitar pukul 20.00 WIB menuju Tebing Tinggi Deli.

Maisir mengatakan, dalam perjalanan,  mobil yang dikemudikan Zainal memimpin di depan. Namun  usai jalan lurus sepanjang 50  meter menjelang TKP, kendaraan naas itu masih tetap melaju lurus dimana semestinya harus menikung ke kiri. Kenderaan melaju cepat, membuat mobil Xenia tersebut melewati beronjong hingga akhirnya masuk jurang.

Melihat kejadian itu, rombongan yang berada di belakang segera membuat laporan ke pihak kepolisian. Tidak lama berselang rombongan Sat Lantas Pos Merek menuju lokasi, disusul Tim Satlantas Polres Karo di bawah pimpinan Kasat  Lantas AKP Anhar Rangkuti tiba di TKP.

Sementara mobil derek yang digunakan mengevakuasi mobil naas itu beserta korban tiba sekitar pukul 09.00 WIB. Sulitnya medan sekitar TKP membuat proses evakuasi menjadi lambat. Dalamnya  jurang ditambah kemiringan mencapai lebih dari 75 derajat, membuat proses penderekan berakhir pada pukul 15.00 WIB.

Kapolres Tanah Karo AKBP Ig Agung Prasetyoko SH MH, tiba di TKP sekitar pukul 11.00 WIB. Proses evakuasi korban meninggal dilakukan bersamaan dengan  mobil. Jenazah korban yang terpisah sekitar 20 hingga 30 meter dari bangkai mobil, dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam mobil untuk diderek secara bersamaan.

Hal itu dilakukan guna meminimalisir waktu evakuasi mengingat medan yang sulit. Sementara dua korban selamat langsung dievakuasi pihak kepolisian dibawah pimpinan langsung Kapolres Karo dibantu masyarakat. Evakuasi korban selamat dilakukan melalui lintasan hutan di sekitar beronjong (longsoran) berukuran 20X20 meter, selanjutnya dibawa ke Puskesmas Merek.

Ada tiga titik longsoran antara Desa Merek, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, hingga TKP. Longsoran terbesar berada di sekitar lokasi kejadian. Minimnya penerangan lampu jalan ditambah jalan berlubang dan longsoran disertai puluhan tikungan tajam dan tikungan manis, antara ruas jalan Karo- Dairi, diperkirakan menjadi faktor penyebab kecelakaan.

Lokasi kejadian, sekitar 1,5 Km dari  simpang pintu gerbang lokasi wisata PT MIL atau sekitar 3 Km dari atas kawasan Penatapan Dua Kecamatan Merek. TKP berada sebelah kiri jalur lintas Karo-Dairi. Puluhan tikungan manis dan tajam ditemui mulai ibu kota Kecamatan Merek hingga tempat Laka lantas. Ketiga korban meninggal di temukan terpisah 20-30 meter di luar mobil. Sebelum mencapai dasar jurang diperkirakan Xenia itu, tiga kali menabrak tebing jurang.
Setelah dievakuasi, mobil Xenia BK 1829 KQ diamankan di Pos Lantas Polres Karo, Kabanjahe.

Kapolres Tanah Karo AKBP Ig Agung Prasetyoko didampingi Kasat Lantas AKP Anhar Rangkuti, menduga penyebab kecelakaan akibat supir mengantuk. Pengemudi diperkirakan tidak dapat lagi mengendalikan mobil.

4 Jenazah Ditemukan

Sementara itu, empat korban bus ALS BK 7088 DL yang masuk ke telaga di Aek Latong, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel), kembai ditemukan. Tiga jenazah bernama Dinda Pratiwi (5) warga Bengkulu, ditemukan mengambang sekitar pukul 9.00 sebelum tim penyelamat melakukan penyisiran, Rizki Anugrah (5) warga Rao, Sumatera Barat, ditemukan pukul 10,00 dan dan Popy Mustika Rani (12) warga Lubuk Pakam ditemukan pukul 12.00 melalui penyisiran tim dari Brimob Detasemen C Polda Sumut. Sedangkan yang terakhir Siti Rahayu (30) warga Lupbuk Pakam ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB.

Penemuan keempat jenazah tersebut menambah jumlah korban menjadi 19 orang. Jumlah ini sesuai data korban hilang yang ada pada kepolisian dan RSUD Tapsel dan berdasarkan keterangan dan laporan para keluarga yang kehilangan.

Adapun data dari korban kecelakaan lalu lintas ALS di Aek Latong sesuai keterangan Polres Tapsel dan RSUD Tapsel adalah 4 laki-laki 15 perempuan.

Pantauan METRO Tapanuli (grup Sumut Pos) keseluruhan jenazah telah dijemput keluarga masing-masing. Terakhir, keempat jenazah yang ditemukan Senin (27/6), telah diberangkatkan setelah terlebih dahulu disalatkan di Mesjid Sri Alam Dunia, Sipirok Godang, Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapsel. (ran/smg/wan)

Jika tak Diperbaiki, Kita Demo Presiden…

Wakil Rakyat Ajak Perjuangkan Perbaikan Jalur Maut Aek Latong

MEDAN-Kecelakaan maut di Aek Latong Tapsel yang merenggut 14 korban jiwa, membuka mata banyak pihak perihal buruknya fasilitas jalan di provinsi ini. Khusus jalan negara di Aek Latong, Wakil Ketua DPRD Sumut Ir Chaidir Ritonga juga mendesak Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho membentuk gugus tugas dalam menangani kerusakan.

“Kita harus satu langkah tak ada alasan lagi jalur ini dibiarkan begini. Berapa korban yang sudah jatuh? Berapa kerugian yang sudah dialami warga pengguna jalan? Kejadian ini kiranya dapat membuka mata publik dan kondisi jalan ini menjadi manifestasi kesenjangan pembangunan di luar pulau Jawa dan luar pulau Jawa,” ucapnyan
Secara bersama, seluruh jajaran pemerintahan di provinsi secepatnya berupaya menggugat pemerintah pusat agar melakukan terobosan dalam percepatan pembangunan di jalur Aek Latong.

“Jika kita harus bersatu dan bahu-membahu untuk memperjuangkan itu, tentu tak begitu sulit. Mulai dari pimpinan DPRD Sumut dengan 100 anggotanya, 30 Anggota DPR Pusat asal Sumut, empat anggota DPD asal Sumut, bersatu dan bahu-membahu tentu tidak begitu sulit apalagi ini menyangkut kepentingan umum,” tegasnya.

Jika aspirasi tersebut tidak ditanggapi, bila perlu warga Sumut akan melakukan aksi demonstrasi ke Jakarta. “Bila perlu kita demo itu PU, keuangan, PU atau wakil presiden dan presiden. Namun, yang pertama kita minta dulu Gubsu membuat gugus tugas, jika Gubsu tak mau maka kita akan bertindak sendiri,” pungkasnya.

Anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar, Mulkan, menerangkan jalan negara di daerah tersebut memang sudah lama tak mengalami renovasi. “Sudah sekitar 16 tahun tak ada pembangunan jalan di sana. Dan akibat parahnya, sudah banyak pula menelan korban jiwa,” terangnya.

Anggota Komisi C DPRD Sumut Dapem VI ini juga menjelaskan, di sana sudah dibuat jalan alternatif, namun hingga saat ini belum bisa digunakan.

Ia juga setuju agar DPRD Sumut bersama Pemprovsu memperjuangkan pembangunan ini secepatnya ke pemerintah pusat.

Pemerintah pusat, menurut Mulkan lagi, memang terkesan kurang memperhatikan jalan-jalan di daerah. Pasalnya, kenapa jalan-jalan di Jawa mulus semua. “Nah, kita harus bersama-sama memperjuangkan hal ini ke pusat. Selain itu perbedaan jalan yang layak dengan yang tidak, baik di Pantai Barat dan Timur sangat jauh, tak ada perimbangan. Khususnya infrastruktur jalannya. Jika dibandingkan dengan Sumbar dan Kepri kita sangat jauh ketinggalan,” ungkapnya.

Pengamat ekonomi Sumut Jhon Tafbu Ritonga menjelaskan, Jalinsum di Pantai Barat dan Timur sudah tak manusiawi. “Jalan ini merupakan jalan yang lebar, lokasi dan kondisinya cocok untuk tahun 70-an, bukan untuk abad 21,” jelasnya.

Ia menceritakan, pekan lalu ia bersama keluarga sempat melihat sediri kondisi jalan di Batubara. “Pada saat itu ada bus yang tabrak lari warga setempat. Intinya, harusnya Jalinsum tak lagi melewati kota dan perkampungan, karena alasan lebar dan kondisinya tak cocok,” kata Tafbu.

Ironisnya lagi, sambungnya, kondisi jalan kabupaten ke pedesaan juga sudah tak layak. “Jadi saya berharap pemerintah daerah maupun pusat harus membangun jalan yang baru yang lebih manusiawi,” tegasnya.

2012, Jalur Alternatif Selesai

Menyikapi perbaikan jalur Aek Latong, Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho menargetkan pengerjaannya selesai pada 2012 mendatang. Pembangunan jalur alternatif itu sendiri menelan biaya sekitar Rp65 miliar.

“Pertama, kami atas nama Pemrovsu mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas persitiwa ini. Semua tidak kita inginkan,” ujar Gatot saat meninjau lokasi lakalantas di Aek Latong, Senin (27/6) sore.
Pihak Pemrovsu, tambah Gatot, akan berkoordinasi secepatnya dengan pemerintah pusat dalam percepatan perbaikan jalan Aek Latong tersebut.

Disinggung jalur alternatif yang dibuka sejak 2009 lalu, Gatot menyebutkan, dari laporan Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) ada sekitar 75 meter lagi jalan belum terbuka. Karena daerah tersebut daerah patahan, sehingga ada sedikit pengalihan lagi dari panjang sebelumnya.

Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Sumut-Aceh, Wijaya Seta, menambahkan, konstruksinya sebenarnya dimulai sekitar dua tahun lalu tapi masih sebatas pembukaan jalur. “Rencanannya memang single years. Namun, karena banyak kesulitan, karena daerah ini banyak hujan, waktu pengerjaan jadi terpotong. Maka kita pakai multy years. Target selesai tahun 2012,” ucap Wijaya.

Jalur alternatif yang dibuka, sambung Wijaya, sudah melalui tinjauan geologi dari Jepang dan lainnya. Selain daerah patahan bumi, ahli juga menyebutkan banyak kantong-kantong air. Sehingga, rencana jalur aternatif sepanjang 1,1 kilometer jadi sekitar 3 kilometer. “Jadi sudah menghindari dari tempat (kantong-kantong air, Red) itu,” ungkapnya.
Saat ditanya apa yang akan dilakukan sebelum jalur alternatif selesai 2012, Wijaya menyebutkan, jalan bagian bawah yang datar dilebarkan dulu sembari dinaikkan. Sementara bagian tanjakan (jika mengarah ke Sipirok) akan diturunkan. “Ini dilakukan untuk mengurangi ketinggian,” sebutnya.

Sementara soal lampu jalan di Aek Latong yang tidak ada, mengingat ketika kejadian, penumpang yang turun dari mobil sebelum bus ALS masuk ke telaga kesulitan karena gelap, ia mengungkapkan itu sudah dikoordinasikan dengan pihak PLN. “Kita akan pasang lampu. Kita sudah minta izin PLN. Kita siapkan lampu dan kabel-kabel dan segala macamnya,” terangnya.

Wijaya menegaskan, khusus jalan rusak parah Aek Latong, tidak ada anggaran khusus, hanya anggaran pemeliharaan rutin saja.. (ran/neo/smg)

Tanpa Harus ke Singapura, Syamsul Membaik

JAKARTA-Pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang menyidangkan perkara dugaan korupsi APBD Langkat, kemarin (27/6) menggelar sidang. Lagi-lagi, sidang singkat itu belum bisa menghadirkan Gubernur Sumut nonaktif Syamsul Arifin sebagai terdakwa.

Sidang yang dipimpin hakim Tjokorda Rae Suamba itu hanya mengagendakan laporan dari tim kuasa hukum Syamsul, terkait kondisi kesehatan mantan bupati Langkat itu. Laporan kondisi kesehatan berdasarkan cacatan medis yang diteken ketua tim dokter di RS Abdi Waluyo, Prof Dr Yusuf Misbach.

“Kondisi kesehatan terdakwa (Syamsul Arifin, Red) ada perbaikan. Namun, belum bisa menghadiri persidangan karena masih memerlukan perawatan intensif untuk proses rehabilitasi,” terang anggota kuasa hukum Syamsul, Samsul Huda.

Disampaikan Huda, selama tiga minggu dirawat di RS Abdi Waluyo, kondisi paru-paru Syamsul yang semula dikhawatirkan sulit diatasi lantaran terkena infeksi, sudah mulai membaik. Begitu pun, kondisi ginjalnya juga mulai membaik.

Hanya saja, untuk tekanan darah dan gula darahnya, masih perlu dipantau secara intensif.
Ditanya wartawan Sumut Pos ini apakah Syamsul sudah bisa diajak berkomunikasi, Huda mengatakan, sudah bisa. Hanya saja, masih terbatas. “Misal pas bangun, bisa diajak bicara, tapi tak bisa berlama-lama,” terangnya.
Hakim Tjokorda Rae Suamba menyatakan, persidangan akan dilanjutkan dua pekan lagi, sekaligus menunggu putusan lebih lanjut tentang pembantaran.

Sidang kemarin memang sekaligus memperpanjang lagi masa pembantaran Syamsul, untuk dua pekan lagi ke depan. Sebelumnya, sudah mendapat perpanjangan selama dua pekan. “Tadi lngsung mendapat penetapan perpanjangan masa pembantaran,” ujar Huda.

Sebelumnya, pihak keluarga minta izin agar Syamsul bisa dibawa berobat ke RS Gleneagles Singapura.(sam)

Orang Kaya Beli BBM Subsidi, Dosa!

MUI Keluarkan Fatwa BBM

JAKARTA-Pemerintah sepertinya mulai ‘putus asa’ dalam mengatasi masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang tidak tepat sasaran. Setelah berbagai cara tidak efektif, kali ini sosialisasi gerakan hemat energi dan subsidi untuk masyarakat kurang mampu akan dilakukan secara masif.

Itu merupakan hasil pertemuan antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Pusat KH Makruf Amien mengatakan, saat ini, MUI tengah memfinalkan fatwa tentang hemat energi, termasuk ketentuan bahwa masyarakat yang mampu/kaya, tidak boleh mengkonsumsi BBM bersubsidi.

“Ini terkait dengan hak. BBM bersubsidi adalah haknya orang yang tidak mampu. Jadi, jika ada orang yang mampu atau kaya, tapi tetap membeli BBM bersubsidi, maka hukumnya dosa, karena dia mengambil hak orang yang tidak mampu,’ ujarnya usai pertemuan di Kantor Kementerian ESDM kemarin (27/6).
Menurut Makruf, substansi BBM bersubsidi adalah diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu. Adapun bagi masyarakat yang mampu, maka pemerintah sudah menyediakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax. ‘Untuk itu, kami akan segera melakukan sosialisasi soal ini,’ katanya.

Menteri ESDM Darwin Z Saleh menambahkan, berdasar keputusan pemerintah dan DPR, subsidi memang hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu. “Nah, untuk mengetahui apakah kita termasuk golongan yang mampu sehingga tidak dibenarkan membeli BBM bersubsidi, tanyakan pada diri masing-masing. Ini butuh kejujuran,” ujarnya.

Darwin menyebut, jika seseorang sudah bisa membeli mobil, maka orang tersebut lebih pantas digolongkan sebagai orang yang mampu. ‘Lalu, jika beralasan, sekarang harga Pertamax mahal, maka ya batasilah penggunaannya, jangan boros-boros,’ katanya. Pertemuan antara Kementerian ESDM dan MUI kemarin merupakan tindak lanjut dari Musyawarah Nasional (Munas) MUI yang salah satu tema bahasannya adalah pemuliaan energi dan sumber daya alam.

Karena itu, lanjut Makruf, MUI ingin meminta masukan dari Kementerian ESDM terkait sektor energi, termasuk lingkungan dan kehutanan. ‘Jadi, soal BBM bersubsidi itu hanya salah satu hal, “selain masih ada banyak lagi,’ ujarnya. Makruf menyebut, poin lain yang juga menjadi perhatian MUI adalah kewajiban hemat energi, contohnya dalam penggunaan listrik. “Misalnya, jangan sampai karena dia mampu bayar, maka dia gunakan listrik berlebihan, tanpa batas, sehingga membuat jatah listrik untuk orang lain kurang. Kemudian tentang mencuri listrik, itu juga haram,” terangnya.

Darwin menyebut, saat ini, rasio elektrifikasi di Indonesia baru sekitar 67,7 persen. Artinya, masih ada 32,3 persen rakyat Indonesia yang belum bisa menikmati aliran listrik. Karena itu, masyarakat yang saat ini sudah menikmati listrik, harus berhemat. “Dengan begitu, subsidi bisa ditekan dan pemerintah punya dana untuk membangun infrastruktur listrik agar makin banyak masyarakat yang bisa menikmati listrik,” katanya.

Lalu, kapan fatwa tentang hemat energi, BBM bersubsidi, dan pengelolaan sumber daya alam (SDA) ‘akan dikeluarkan’ Menurut Makruf, saat ini draft-nya sudah selesai disusun. “Tinggal dilengkapi sedikit-sedikit, secepatnya akan kami keluarkan,” ujarnya. Sebagai langkah awal, lanjut Makruf, MUI mengajak jajaran Kementerian ESDM untuk bersama-sama tokoh masyarakat dan pemimpin agama, untuk mensosialisasikan bimbingan serta nasehat moral tentang pentingnya hemat energi. “Sosialisasi ini akan dilakukan melalui Masjid, Pesantren, Majelis Taklim, serta lembaga pendidikan secara nasional,” sebutnya.

Beberapa program aksi nyata yang akan dilakukan MUI di antaranya adalah Program Gerakan Nasional Eco Masjid dan Eco Pesantren, serta pilot project pengembangan energi terbarukan di pesantren dan pedesaan. Ditanya apakah fatwa MUI tentang BBM bersubsidi, hemat energi, dan pengelolaan SDA akan efektif, Makruf mengaku optimistis. Menurut dia, fatwa MUI masih sangat efektif di kalangan umat Islam. “Kan masih sering kita dengar masyarakat bertanya, apa fatwa MUI tentang hal ini, hal itu. Itu artinya, masyarakat masih memandang fatwa MUI sebagai pedoman,” ujarnya.

Pemerintah berharap, Fatwa MUI ini bisa menjadi angin segar dalam gerakan penghematan energi dan pengaturan konsumsi BBM bersubsidi. Pasalnya, khusus untuk pengaturan BBM bersubsidi, pemerintah seperti kehabisan akal karena berbagai cara yang diterapkan tak membuahkan hasil.

Misalnya, pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) sudah melakukan berbagai sosialisasi bahwa BBM bersubsidi hanya untuk masyarakat yang tidak mampu. Pertamina pun sudah menyebar berbagai spanduk di SPBU-nya, yang isinya “BBM Bersubsidi Hanya Untuk Masyarakat Tidak Mampu” serta beberapa seruan lain.

Bahkan, sejak awal tahun ini, Menteri ESDM Darwin Z. Saleh terlihat sering nongol di televisi untuk mengkampanyekan bahwa BBM bersubsidi hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu, adapun para pemilik mobil, diminta menggunakan BBM nonsubsidi. Namun, tetap saja, hampir di semua SPBU, antrian mobil tetap berjajar membeli Premium.

Data Ditjen Migas Kementerian ESDM menunjukkan, hingga akhir Mei 2011, konsumsi Premium mencapai 66,06 ribu KL per hari atau 3,9 persen di atas kuota 63,54 ribu KL per hari. Adapun konsumsi solar sebesar 37,75 ribu KL per hari, atau 5,3 persen di atas kuota 35,85 ribu KL.

Sampai saat ini, pemerintah memang baru bisa melakukan langkah persuasif dengan menebar himbauan agar masyarakat mampu tidak mengonsumsi BBM bersubsidi. Sebenarnya, pemerintah juga punya rencana untuk menerbitkan aturan yang sifatnya memaksa pemilik mobil untuk tidak mengonsumsi BBM bersubsidi. Misalnya, dengan skema Smart Card ada Radio Frequency Indentification (RFId) pada kendaraan pribadi, namun hingga kini cara itu belum terlaksana.

Sementara itu, pengamat Ekonomi Dradjad Wibowo menilai langkah pemerintah itu tidak smart. Menurut dia, MUI akan kehilangan kredibilitas kalau mengikuti langkah tersebut. “Karena penentuan berdosa atau tidak, halal atau haram, itu sudah ada kaidah syariah dan fiqih tersendiri. Tidak bisa sembarangan mengikuti keinginan pemerintah (umaroh),” tutur Dradjad.

Dradjad mengatakan pernyataan MUI yang menyatakan berdosa jika orang kaya menggunakan BBM bersubsidi belum tentu diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. “Fatwa bunga bank haram yang lebih jelas dasar syariahnya saja banyak diabaikan. Apalagi soal konsumsi BBM. Selain itu, bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang memeluk agama lain” Apakah mereka bebas memakai BBM bersubsidi?” kata Dradjad. (owi/iro/jpnn)

Besok, Sunat Massal di 30 Lokasi Digelar

MEDAN-Sunat massal yang digelar Sumut Pos bekerjasama dengan Laziswa Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan, Satgas Joko Tingkir, Presidium Pemekaran Medan Utara (PMMU), Fakultas Kedokteran UMSU, Fakultas Hukum UMSU, RSU Imelda dan lembaga lain yang akan digelar, Rabu (29/6).

Sunat massal bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj ini akan dilaksanakan secara serentak pada 30 lokasi di Kota Medan. Jumlah peserta mencapai 1.780 anak dimana jumlah terbanyak di Klinik As-Salam Jalan Flamboyan Raya Tanjung Sari dengan 150 peserta dan SD Muhammadiyah 25 Jalan Mandailing Pukat I Medan dengan 125 peserta.

“Mengingat besarnya animo calon peserta sunat massal, pendaftaran calon peserta masih dapat dilakukan hingga Selasa (28/6) hari ini jam 12.00 WIB,’’ kata Panitia Sunat Massal yang juga Dekan Fakultas Hukum UMSU Farid Wajdi didampingi Koordinator EO Sumut Pos Deddi Mulia Purba, Senin (27/6).

Dukungan terhadap pelaksanaan sunat massal bagi warga kurang mampu ini juga diutarakan Ketua Satgas Joko Tingkir Sumut, Soekirmanto SH, dan Kepala Klinik As-Salam yang juga Wakil Ketua Satgas Joko Tingkir Sumut, dr Tommi.
“Satgas Joko Tingkir telah mengumpulkan ratusan anak untuk disunat pada empat lokasi yakni SD Fajar Siddiq Jalan Pasar 3 Barat Marelan, Musala Al-Furqon Jalan Amaliun Medan IV Gang Jasa Tanjung Sari dan Klinik As-Salam Jalan Flamboyan Raya Tanjung Sari Medan,’’ terang Soekirmanto.

Calon peserta yang akan mendaftarkan Selasa (27/6) hari ini hingga jam 11.00 WIB dapat langsung menghubungi lokasi-lokasi sunat massal. “Lokasi yang dipilih umumnya yang paling dekat dengan domisili calon peserta. Kita harap pelaksanaan sunat massal dapat berjalan dengan baik. Peserta yang telah mendaftar dapat mengecek ke lokasi pendaftaran,” harap Farid Wajdi.(*)

Terapkan Hidup Sehat

Meisya Siregar

Menjadi ibu sekaligus entertainer, artis Meisya Siregar selalu berupaya menerapkan gaya hidup sehat kepada keluarga. Di sela-sela kesibukannya, Meisya selalu membiasakan berolahraga dan mengonsumsi asupan mineral yang cukup.
“Aktivitas aku dan suamiku yang sama-sama pekerja seni, jamnya kan enggak kayak orang kantoran. Jadi, kita biasakan menerapkan semua kegiatan sehat. Seperti olahraga, makanan, dan asupan mineral,” urainya saat ditemui di acara Opening Ceremony Establishment Aqua Water Research Center di The Metropolitan Theater of KidZania Pacific Place Mall, kemarin (27/6).

Di samping itu, istri musikus Bebi Romeo tersebut bekerja sama dengan orangtua serta pengasuh dalam menerapkan gaya hidup sehat di keluarga. Artis 32 tahun tersebut kerap mengingatkan keluarganya untuk minum air putih setidaknya sejam sekali.

“Enggak harus banyak, tapi sejam sekali asal rutin, jangan sampai dehidrasi,” tuturnya.
Meski begitu, Meisya mengakui bahwa anak-anaknya cenderung menyukai minuman berwarna daripada air putih. Dia pun berupaya membatasi konsumsi minuman manis anak-anaknya. “Anak yang pertama memang sudah bergaul. Jadi, aku selalu batasi sebisaku, tapi enggak frontal, sekali-sekali enggak apa-apa. Tapi, mineral yang seimbang harus,” ujarnya. (ken/c10/any/jpnn)

Cipeng Sempat Berupaya Selamatkan Istri dan Anaknya

Empat Korban Sekeluarga Dikubur Satu Liang di Pasar IV Tembung

Menyadari istrinya Desi Indriani dan ketiga anaknya Yuni Sipiani, Rendy dan Dimas terjebak di bus ALS yang naas di Aek Latong, Cipeng berupaya memberikan pertolongan. Tapi takdir berkata lain, keempatnya meninggal hingga dimakamkan dalam satu liang, kemarin (27/6).

Ari Sisworo, Medan

Pukul 11.06 WIB, bunyi sirene dua unit Mobil Ambulance BB 161 F dan BB 190 F sontak mengagetkan warga Gang Fajar Tasbih Dalam, Pasar III Tembung, Senin (27/6). Kedatangan Mobil Ambulance yang membawa empat korban kecelakaan bus maut bus Antar Lintas Sumatera (ALS), di Aek Latong Tapanuli Selatan (Tapsel) Minggu (26/6) lalu, disambut histeris warga.

Pihak keluarga korban yang semula berada di rumah duka langsung berhamburan keluar. Tatkala pintu ambulans pertama BB 161 F dibuka, dua jena zah berbalut kain kafan putih diangkat dengan menggunakan tandu. Para keluarga korban yang awalnya tenang, langsung histeris. Suara tangisan bersautan dari para pelayat. Saat pelayat melihat dua jenazah berbalut kain kafan putih yang diketahui, Desi Indriani dan anak pertamanya Yuni Sipiani masih terdapat bercak darah membuat suasana semakin pilu.

“Ya Allah, bagaimana kejadiannya ya? Kok bisa sampai seperti itu. Itu masih ada bekas darahnya. Apa mereka (korban, Red) terjepit-jepit,” ungkap seorang pelayat yang tak jauh dari Sumut Pos.

Kedua jenazah ibu dan anak pertamanya itu dibawa ke kediaman orangtuanya Ali Umar dan Nurbima. Mobil Ambulance tersebut pun sedikit bergeser, untuk memberi ruang bagi Mobil Ambulance kedua BB 190 F yang membawa dua jenazah kakak beradik, Rendy dan Dimas. Saat kedua jenazah bocah tersebut dikeluarkan, kembali suara-suara tangisan pihak keluarga pun pecah, begitu juga para pelayat yang datang. Saat dibawa ke rumah duka, kain kafan kedua bocah kakak beradik itu pun, juga tampak bercak darah yang telah mengering.

Sesampainya di rumah duka, keempat jenazah tersebut direbahkan di kasur yang telah disediakan di ruang tamu. Sudah bisa diduga, kembali suara tangisan seolah sahut menyahut. Bukan hanya pihak keluarga, hampir seluruh pelayat yang hadir menangis.

Tak lama berselang, pukul 11.24 WIB, suami Almarhumah Desi Indriani, Cipieng tiba. Dia dipapah beberapa kerabat, tatapan mata yang kosong dan langkah gontai Cipieng masuk ke ruang tamu. Perlahan Cipieng membuka kain kafan yang membalut almarhumah istrinya. Cipieng tak tahan, air matanya meniti di pipinya. Matanya memerah. Namun, ia tetap tabah meskipun bercucuran air mata, Cipieng tidak meratap.

Lalu, perlahan dibukanya kain kafan yang membalut putri sulungnya, Yuni Sipiani. Kembali, air mata Cipieng tertumpah. Beberapa kerabatnya, memberikan air mineral agar Cipieng kuat. Namun, kondisi Cipieng semakin melemah. Cipieng tak sempat membuka kain kafan putra-putra tercintanya, untuk melihat wajah mereka terakhir kalinya.

Kerabat yang di dekatnya mengambil inisiatif memapahnya ke rumah tetangga di samping rumah duka. Praktis, Cipieng berada di ruang tamu sekitar 14 menit.

Di rumah tetangga mereka tersebut, Cipieng sempat berkisah mengenai kronologis kejadian naas tersebut. Pria yang kental logat Padangnya ini menceritakan, saat bus hendak menaiki tanjakan di Aek Latong, karena mesin bus tak sanggup maka supir bus menginstruksikan agar para pria untuk keluar, dan membantu mendorong bus tersebut. Namun, sayangnya usaha itu tak berhasil. Bus malah berjalan mundur dan masuk ke parit besar berisi air.

Saat mengetahui kejadian itu, Cipieng sempat berlari mengejar bus dan berniat untuk memecahkan kaca bus guna menyelamatkan istri dan ketiga buah hatinya yang tengah tertidur dipelukan Desi Indriani. Namun upaya Cipieng tak berhasil, istri dan anak-anaknya tak bisa dikeluarkan dari bus yang kemudian terjun bebas ke parit berisi air tersebut.
“Saat saya berusaha menyelamatkan, seolah kaki saya ada yang menarik. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” tuturnya.

Usai bercerita, tanpa terasa matanya memerah. Air matanya pun turun membahasi pipinya. Suara tangisannya tak terdengar. Matanya kosong. Salah seorang kerabat yang didekatnya, berupaya meminta agar wartawan menghentikan wawancara karena kondisi Cipieng yang tak stabil.

Di rumah duka, persiapan untuk melaksanakan prosesi Fardu Kifayah terlihat. Namun, karena menurut keterangan bahwa keempat jenazah telah dimandikan, maka keempat jenazah langsung dibawa ke Masjid Nurul Iman Pasar III Tembung untuk disalatkan.

Tepat pukul 12.26 WIB, semua korban disalatkan oleh puluhan warga dan pelayat. Prosesi salat jenazahnya, dilakukan seusai Salat Zhuhur.

Pada pukul 13.05 WIB, keempat korban kembali ditandu keluar masjid untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di pekuburan Pasar IV Tembung menggunakan mobil ambulans yang masih menunggu.

Ratusan warga dan pelayat, bahkan orang yang tengah melintas pun ikut mengantarkan korban ke pekuburan. Pukul 13.12 WIB, dua ambulans yang membawa empat jenazah tersebut tiba di pekuburan.

Di pekuburan, satu liang lahat untuk keempat korban telah selesai disiapkan. Satu persatu, dimulai jasad Almarhumah Desi Indriani tepatnya pukul 13.15 WIB dimasukkan ke liang lahat. Kemudian disusul secara berurutan jenazah Yuni Sipiani, Rendy dan Dimas.

Saat ke empat jenazah tersebut satu per satu dimasukkan ke liang lahat, Cipieng tak kuasa menahan kesedihannya. Dia menangis, air matanya kembali keluar. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, akhirnya Cipieng didudukkan di sebuah gubuk di area pekuburan itu.

Di gubuk itu, Cipieng tak henti-hentinya menitikkan air matanya dan sesekali berbicara dengan bahasa Padang dengan kerabatnya. Dan sesekali kerabatnya menyeka air mata Cipieng dengan handuk kecil berwarna biru.
Sebelumnya, dari pantauan Sumut Pos di rumah duka, tak terlihat satu pun pihak ALS yang datang ke rumah duka. Untungnya, ada seseorang petugas Jasa Raharja Sumut mendatangi keluarga korban.
Kepada wartawan, petugas Jasa Raharja Sumut bernama Fauzi Rizal Lubis menjelaskan, pihak Jasa Raharja Sumut mengeluarkan klaim asuransi kepada setiap korban meninggal sebesar Rp25 juta. Untuk empat korban jadi Rp100 juta.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso menjelaskan, dari ke-14 korban meninggal, khusus Adinda Pratiwi ditemukan Senin (27/6) pukul 08.00 WIB dan Refki Anugerah pukul 10.30 WIB.
Dijelaskannya, korban didominasi perempuan dan anak-anak. Sebab, sebelum bus tersebut masuk jurang sebagian penumpang khususnya laki-laki dewasa diminta supir dan kernet agar turun supaya beban kendaraan tidak terlalu berat. Sebab, jalanan mendaki dan licin akibat baru turun hujan.

Dijabarkan Heru, kronologis peristiwa maut tersebut berawal sekira delapan kilometer sebelum Aek Lotung, bus sempat mogok, Sabtu (25/6) kira-kira pukul 01.00 WIB. Kemudian diperbaiki dan mendekati Aek Lotung, supir meminta sebagian dari 65 penumpang turun agar beban bus tidak terlalu berat sebab jalanan mendaki. Beberapa penumpang terdiri dari kaum lelaki dewasa turun dan bus mulai mendaki jalanan yang licin. Di tengah jalan, bus tak kuat melanjutkan perjalanan dan kendaraan mundur hingga tercebur ke sungai. “Seluruh korban tewas akibat tenggelam dan saat ini kita fokus mencari keberadaan supir dan kernet yang diduga melarikan diri pasca peristiwa itu,” tegasnya.

Informasi sebelumnya menyebutkan, kondisi mobil sudah mengalami kerusakan sebelum berangkat dari Medan tetapi sebelumnya telah diperbaiki. Selain itu, sparepart juga dibawa untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan terulang. Keterangan lain juga menyebutkan, bus tersebut mengalami kerusakan pada as roda belakang.(ari)

Mahkamah Internasional Perintahkan Tangkap Kadhafi

Terlibat Pembunuhan dan Penganiayaan

DEN HAAG – Misi udara pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Libya genap 100 hari, Senin (27/6). Bersamaan dengan itu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Pemimpin Libya Muammar Kadhafi dan dua kroninya. Yakni Saif al-Islam dan Abdullah al-Senussi.

Dalam dokumen resmi yang dibacakan saat sidang hearing kemarin, Hakim Sanji Mmasenono Monageng menyebut Kadhafi, Saif dan Senussi sebagai penjahat perang. Ketiganya diyakini sebagai dalang kekerasan yang mewarnai krisis politik dalam negeri Libya selama empat bulan terakhir. “Hari ini (kemarin), mahkamah internasional menerbitkan surat perintah penangkapan untuk Muammar Kadhafi dan dua orang dekatnya,” kata hakim perempuan asal Botswana tersebut.

ICC yakin, Kadhafi bersama putra kedua dan saudara iparnya  sengaja memerintahkan pembunuhan, penganiayaan, penangkapan dan pemenjaraan ratusan warga sipil pada 12 hari pertama Revolusi Libya. “Setelah itu, mereka berusaha keras menutupi kejahatannya dengan berbagai rekayasa,” ujarnya seraya menyebutkan sudah mengantongi bukti. Salah satunya adalah pernyataan dari orang dekat Kadhafi terkait revolusi sipil di Tunisia dan Mesir yang berhasil mendongkel rezim lalim. Konon, tokoh nyentrik itu menerapkan kebijakan keras untuk mencegah keberhasilan revolusi sipil Libya.  “Korban kebijakan represi itu mencapai ratusan jiwa. Semuanya warga sipil,” imbuhnya mengutip pernyataan tertulis Jaksa Ketua Luis Moreno-Ocampo.

Monageng yakin, Kadhafi pasti terlibat dalam pembantaian dan pembunuhan warga sipil Libya. Apalagi, Saif dan Senussi menjadi tangan kanannya, memegang peranan penting dalam pemerintahan. “Kadhafi adalah pemimpin Libya yang memiliki kekuasaan absolut atas militer. Dia pasti terlibat,” tegasnya.

Mendengar keputusan ICC kemarin, Perdana Menteri (PM) Inggris, David Cameron langsung bereaksi. Dia mengimbau seluruh politisi Libya dalam rezim Kadhafi untuk sesegera mungkin meninggalkan Sang Brotherly Leader. (ap/afp/hep/jpnn)

Setengah Jam Ikut Sidang, Langsung Keluar

PHNOM PENH- Sidang kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) dengan terdakwa sejumlah mantan petinggi Khmer Merah kembali dihelat di Kamboja, Senin (27/6). Empat terdakwa membantah semua tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka.

Beberapa tuduhan yang dialamatkan kepada mereka diantaranya, pembunuhan massal dan kejahatan perang terhadap 2 juta orang pada periode 1975-79. Korban tewas akibat kelaparan, kerja paksa, penyiksaan, dan dibunuh.  Semua terdakwa menolak semua tuduhan, termasuk pembunuhan massal, terkait dengan pembantaian rakyat Vietnam serta etnis Muslim, Cham.   Nuon Chea, tangan kanan pemimpin tertinggi Khmer Merah, Pol Pot meninggalkan ruang sidang setelah menolak hasil investigasi atas kasus tersebut dan memprotes proses hukum terhadapnya. Hanya 30 menit, Chea duduk di kursi pesakitan sebelum meninggalkan sidang.  “Saya tidak senang dengan persidangan ini,” sergah Nuon Chea (84), sebelum kembali ke ruang tahanannya. Terdakwa diperbolehkan tak menghadiri sidang jika tak mau bekerja sama.
Bekas menteri urusan sosial Ieng Thirith dan suaminya, mantan menteri luar negeri Ieng Sary, diijinkan meninggalkan ruang sidang karena alasan kesehatan. Tertinggal hingga sidang usai hanyalah, mantan kepala presidium Kamboja, Khieu Samphan.

Semua terdakwa, berusia antara akhir 70 an dan 80an, menderita berbagai penyakit. Ada kekhawatiran bahwa mereka tak akan mampu bertahan hidup hingga vonis dijatuhkan.  (cak/jpnn)

Thaksin Pulang, Abhisit Ketakutan

BANGKOK- Menjelang Pemilu pada 3 Juli mendatang, Perdana Menteri (PM) Thailand, Abhisit Vejjajiva mulai umbar kekhawatirannya. Pasalnya, negeri gajah putih itu akan kedatangan mantan PM Thailand dari partai oposisi yang selama ini hidup di pengasingan, Thaksin Shinawatra.

Kekhawatiran pemerintah Thailand lebih pada kemungkinan oposisi memenangkan pemilu dan Thaksin akan diampuni dari semua dakwaannya. Hasilnya, Thaksin bisa pulang dari pengasingannya dengan bebas dan penuh kemenangan. Dikutip dari wawancara dengan program BBC HARDtalk, Abhisit terang-terangan menuding Thaksin harus bertanggung jawab, karena telah menghasut kelompok kaus merah dalam bentrok berdarah dengan militer tahun lalu.

Abhisit menambahkan dalam kampanyenya oposisi selalu menyebut keterkaitan dengan Thaksin. Jika oposisi memenangkan pemilu tak serta merta mendahulukan kepentingan Thaksin ketimbang kepentingan rakyat dan negara. (bbc/bbs/jpnn)