32 C
Medan
Sunday, April 12, 2026
Home Blog Page 14990

Foto Syur di Majalah Pria Dewasa

Andi Soraya

Andi Soraya bisa dibilang bukan perempuan muda lagi. Namun, di usia yang menginjak 35 tahun, dia masih terlihat seksi. Dia memamerkan kemolekan tubuhnya di sebuah majalah pria dewasa.

Pose bintang film Hantu Puncak Datang Bulan itu juga dijadikan cover majalah yang terbit Juli ini. Di majalah tersebut artis yang pernah berseteru dengan Catherine Wilson itu berpose 13 foto mengenakan lingerie hitam, biru, putih, dan keemasan.

Terlihat pose-pose seksi ibu dua anak itu menghiasi halaman 57 hingga 71.
Semua posenya seksi dan menggairahkan. Mantan teman kumpul kebo Steve Immanuel itu tampil dengan pose yang mempesona serta terlihat anggun.

Di salah satu foto artis yang akrab disapa Aya itu hanya mengenakan bra dan celana dalam serta diselimuti bahan yang menerawang yang memperlihatkan kemolekan tubuhnya.(net/bbs/jpnn)

Pilih-pilih Pacar

Hemalia Putri

Hemalia Putri masih mencari-cari sosok pria yang terbaik untuk dijadikan pendamping hidupnya. Meski sudah memasuki batas usia layak menikah 27 tahun, pesinetron berhidung mancung itu berharap bisa mendapat jodoh secepatnya.

“Doain aja mudah-mudahan secepatnya. Karena urusan jodoh itu urusan Tuhan. Kalau sudah dikasih jodohnya besok pun aku nikah. Sampai sekarang belom. Masih mencari yang terbaik. Doain aja,” ucap Hemalia Putri di acara LSPR Walk Of Fame, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School, Thamrin, Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (8/7).

Artis sinetron yang populer lewat sinetron Sharmila itu, tidak ingin disebut sebagai perempuan yang pilih-pilih, ia memiliki kriteria pria yang sama dengan perempuan pada umumnya.
“Dibilang tipe pemilih, Belum sreg aja. Semua perempuan pasti menginginkan pria yang baik, seagama, ya gitu dah,” tuturnya. (net/jpnn)

Menanti Reformasi

MEDAN- Rabu (6/7) lalu fans PSMS ramai-ramai menyerbu Stadion Teladan. Padahal kompetisi liga tengah libur. Ternyata mereka ingin menonton laga uji coba tim sepak bola Pra PON Sumut melawan Medan All Star yang dihuni sejumlah mantan pemain PSMS. Sebuah kerinduan luar biasa.

Tentu saja. Jika ada seribu fans PSMS ditanya soal siapa pemain yang layak berkostum PSMS, mungkin 990 orang di antaranya akan menyebut beberapa nama yang masuk tim Medan All Star itu.
Apalagi jika nama yang disebut adalah pemain yang membawa PSMS jadi runner up Divisi Utama 2007 lalu. Coba sebut saja nama Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean hingga Markus Horison. Dengan sergah cepat, fans pasti ingin nama-nama itu kembali mengenakan kostum PSMS.

Ya, pada laga eksebisi itu nama-nama seperti  Usman Pirbadi, Fadly Hariri, Irwanto, Agus Cima, Ari Yuganda, Alamsyah, Jecky Pasarella, Donny F Siregar, Wijay, Saktiawan Sinaga, dan M Rizal Kajub kembali memberi atmosfer kejayaan sepak bola Kota Medan khususnya. Lewat sebuah media bernama PSMS, orang-orang di kota ini bahkan Sumut, merasa punya hiburan dan kebanggaan.

Tapi itu cerita masa lalu. Tantangan ke depan bagi PSMS makin mengenaskan. Selain APBD yang asli sudah tak lagi ditolerir penggunaannya bagi klub sepak bola profesional, PSMS juga masih disibukkan dengan masalah internal. Apalagi kepengurusan PSMS dinilai tak berhasil mengangkat prestasi PSMS.

Para mantan pemain tadi bukannya tak mau kembali ke PSMS. Hampir seluruh pemain menyatakan ingin kembali jika pengurus memang serius. Serius di sini tak semata soal urusan kontrak, namun lebih kepada kepentingan yang lebih besar lagi seperti pembenahan stadion hingga tekad masuk ke ISL.  Dan sayang sekali tampaknya hal itu masih jauh dari visi para pengurus.

“Sejak lama kami mimpikan PSMS menjadi klub profesional. Kami harap pengurus yang merasa gagal mundur, sebelum publik melakukan reformasi dengan caranya sendiri,” beber Nata Simangunsong Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan.

“Ke depan kami inginkan pembinaan pemain lokal. Pelatih dipilih publik. Seleksi digelar terbuka, dan tentu saja yang punya fanatisme,” sambungnya.

Bani Gultom yang juga pendukung setia PSMS dari bendera yang sama juga berharap demikian.
“Fanatisme masih dibutuhkan di PSMS. Putra daerah pasti banyak yang bisa jadi bintang di sini. Kalau pelatih, lebih baik putra daerah juga. Nama seperti Suimin Diharja masih kami inginkan. Beliau sosok yang keras dan tak sungkan mengkritik manajemen dan pengurus jika memang berjalan di jalan yang tak benar,” katanya. (ful)

Lebih Longgar Kembali ke Tahun 80-an

Seragam Anak Sekolah

Usia remaja merupakan usia untuk mencari jati diri. Masa peralihan ini yang membuat para remaja menjadi pangsa pasar utama terutama produk fashion. Trend fashion yang biasanya berganti setiap 3 bulan ini juga tidak luput dari perhatian para remaja kota.

Tren fashion bukan hanya pada pakaian glamour atau sehari-hari, seragam pakaian sekolah juga mengalami trend, khususnya seragam sekolah SLTP (SMP) maupun SMU (SMA). Tapi, tak hanya di Indonesia saja tren seragam sekolah ini mewabah, tapi juga di beberapa negara, mulai dari Jepang, Cina, Iran, Rusia, Korea dan lainnya.

Nah, jika ditilik, pada tahun 70-an, seragam sekolah ngetren dengan serba ketat, baik seragam sekolah laki-laki dan perempuan sehingga membentuk tubuh yang jadi terkesan seksi.
Lalu, melaju di tahuan 80-an, seragam sekolahnya beralih ke model serba gobrong. Misalnya, rok sekolah di bawah lutut, untuk celana seragam sekolahnya dengan model ukuran paha yang lebih lebar tapi dibagian kaki justru kuncup (kecil).

Namun, memasuki tahun 2011 ini, tren seragam sekolah justru kembali lagi ke zaman tahun 80-an, tapi lebih dimodif lagi. Seragam ini mengingatkan kita akan zaman ke emasan musik Pop, yang lebih mengedepankan komposisi pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan yang agak longgar. Dan biasanya siswi yang memakai seragam dengan model ini, akan menambahkan aksesoris berupa ikat pinggang sebagai pemanis. Tapi model inilah yang menjadi trend lagi.

Sesuai dengan trend pakaian yang sedang berlaku saat ini, dimana pakaian ala Pop juga sedang booming. Keunikan dari trend seragam ini, yaitu bawahan atau rok yang digunakan panjangnya di bawah lutut yang sesuai dengan aturan yang tetapkan oleh sekolah. “Biasanya anak remaja akan mengikuti trend yang sedang in atau sedang berlaku,” ujar Pengamat Mode dari KM Studia, Afif.

Menurutnya, trend seragam yang sedang berlaku saat ini yaitu kembali ke era 80an, dimana para siswi sekolahan akan memakai baju seragam yang sedikit longgar tetapi tidak body fit. Sedangkan bawahan atau roknya dikancing di pinggang. “Belakangan ini kita lihat rok anak SMA pasti di pinggul dan sepan, tapi batasnya di bawah lutut. Lebih sopanlah,” tambah Afif.

Bagi yang berbokong besar atau yang memiliki berat tubuh sedikit berlebih, lanjutnya,  seharusnya jangan mengikuti gaya seperti ini karena akan kelihatan aneh seperti badut.

Afif menjelaskan, seragam dengan model ini akan menunjukkan lekuk tubuh pada pinggang dan pinggul. “Jadi bagi yang memiliki perut yang sedikit buncit, usahakan untuk menghindari pemakaian ikat pinggang, dan bila perlu baju seragam sedikit dikeluarkan untuk mengelabui mata,” ujarnya.

Nike, salah satu siswi SMA Swasta Eria Medan mengaku, ia juga bergaya seperti itu. “Saya tidak tahu ini lagi trend, hanya saja banyak yang saya lihat teman-teman yang memakai seragam model gini,” ujarnya.

Begitu juga Fika, dari sekolah yang sama. Ia mengaku biasanya siswi sekolahannya merombak sendiri seragam mereka sesuai dengan trend yang sedang berlaku. “Tinggal ke tukang jahit, renovasi sebentar, jadilah model yang diinginkan,” ujar Nike.

Kalau Farah, mahasiswi Ekonomi USU menanggapi model trend seragam sekolah saat ini. “Waktu aku SMA, model seragam kayak begitu dibilang culun, hehehe,” ujarnya.

Staf Pengajar Psikologi Komunikasi Fakultas Fisip USU Emilia Ramadhani mengatakan, untuk trend paling mudah dipengaruhi adalah para remaja, karena cara berfikir mereka yang belum matang.

Menurutnya, seragam sebagai identitas pelajar haruslah disesuaikan dengan pendidikan. “Harus ada ketegasan pihak sekolah dalam mengatur seragam para siswa siswinya. Selain sekolah, keluarga juga bertanggung jawab atas cara berpakaian anaknya yang menjadi murid di sebuah sekolah agar berpakaian terpelajar,” tegasnya.

Menurut Emil, trend yang menjadikan para remaja sebagai sasarannya akan menjadikan trend itu cepat berkembang. “Karena pada dasarnya anak remaja yang cepat terpengaruh,” ujarnya.

Jadi dalam hal ini, tugas sekolah dan keluargalah untuk membuat anak sadar akan lingkungan sekitarnya, termasuk didalamnya trend. “Dukung yang positif dan sadarkan anak bila negatif. Baju seragam sekolah tidak layak dijadikan fashion model,” pungkas Emil. (juli ramadhani rambe)

Profesor Penakluk Rayap

Prof Dr Ir Darma Bakti Nasution MS, Dekan Fakultas Pertanian USU

Tak satu jalan menuju Roma. Pepatah ini agaknya cocok untuk melukiskan semangat perjuangan
Darma Bakti Nasution dalam meraih cita-citanya.

Dengan persaingan yang sehat dan kerja keras yang kuat, pria kelahiran Tanjung Balai 22 Januari 1956 ini mampu menyandang gelar profesor di bidang ilmu serangga (Entomologi) pada usia  48 tahun.

Bagi Darma Bakti Nasution, menjadi guru besar di bidang pertanian adalah cita-citanya. Belajar, meneliti dan meneliti hingga akhirnya ayah dua anak ini dijuluki ‘profesor penakluk rayap’. Tak hanya itu, sejak Juli 2010 hingga Juli 2015, dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (FP-USU) ini diberi tambahan tugas sebagai Dekan Fakultas Pertanian.
Berikut petikan wawancara wartawan koran ini Adi Candra Sirait dengan Darma Bakti Nasution, di ruang Dekan FP USU, Kamis (7/7).

Apa yang Anda rasakan ketika menjadi dekan, dibanding menjadi dosen?
Menjadi Dekan FP adalah tugas tambahan sebagai dosen. Meskipun prinsip kerjanya berbeda.  Dekan dituntut untuk mampu memanajemen fakultas dengan baik sehingga menghasilkan lulusan berkwalitas. Sementara dosen, fokus mengajarkan keilmuwan yang kita miliki kepada mahasiswa. Meski sudah jadi dekan, sesekali saya melihat-lihat laboratorium. Tapi sekarang tugasnya bukan meneliti melainkan membenahi sarana laboratorium. Saya diangkat jadi Dekan FP, Juli 2010 hingga Juli 2015.

Dimana Anda belajar manajemen sebelum menjadi Dekan FP?
Sebelum saya Dekan FP, saya dua periode diamanahkan jadi Rektor Universitas Negeri Asahan (UNA) dari tahun 2003 hingga Januari 2011. Di kampus milik Pemkab Asahan inilah saya awalnya belajar mengelola perguruan tinggi. Dulu ada MoU antara USU dan Pemkab Asahan, dan saya ditugaskan jadi Rektor UNA. Saya juga tidak tahu kenapa saya ditunjuk pada waktu, namun belakangan saya baru tahu. Selain kampung halaman saya di Asahan, ditunjuknya saya menjadi Rektor UNA lewat pemilihan senat, karena di Asahan butuh pengembangan tanaman pertanian. Jadi tugas saya selain mengelola administrasi kampus, juga mengembangkan tanaman pertanian Asahan.  Saat jadi Rektor UNA, saya pun tidak full  berada di Asahan, saya juga selalu pulang ke Medan.

Sejak kapan Anda menjadi dosen FP USU?
Saya diterima menjadi PNS USU tahun 1998, waktu itu ada penerimaan dosen dan pegawai besar-besaran di USU. Begitu diterima, saya tidak bisa langsung mengajar, tetapi menjadi asisten dosen dan bertugas di laboratorium. Dengan diterimanya saya sebagai PNS bukan berarti cita-cita saya sudah terwujud. Saya terus berjuang untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan pendidikan program magister (S-2) dan program doktor (S-3) dengan biaya pemerintah. Ini memang obsesi saya sejak tamat SMA, sebab begitu tamat sarjana pertanian dari FP USU, biaya pendidikan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dari orangtua tidak ada lagi. Maklum saya anak pertama dari sembilan bersaudara, sementara ekonomi keluarga pas-pasan.

Apa cita-cita Anda?
Waktu SMA, saya bermaksud begitu tamat SMA melanjutkan pendidikan ke IKIP Medan (sekarang Unimed). Saya ingin kuliah dan mengambil Jurusan Bahasa Inggris. Soalnya waktu SMA kemampuan Bahasa Inggris saya bagus. Bahkan antara saya dengan guru berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Di tengah perjalanan banyak teman-teman di Medan menyarankan agar saya jangan mengambil Jurusan Bahasa Inggris.

Alasannya, Bahasa Inggris hanya sebagai penunjang ilmu saja bukan pekerjaan yang menjanjikan. Kecuali memiliki cita-cita sebagai pemandu wisata. Lalu saya berubah pikiran dengan ikut testing di USU. Saat testing di USU saya mengambil pilihan pertama Fakultas Kedokteran, pilihan kedua Fakultas Pertanian dan pilihan ketiga Fakultas Teknik.

Kenapa Anda memilih ketiga fakultas ini?
Betul. Saya memilih Fakultas Kedokteran karena saat SMA saya suka dengan pelajaran Biologi. Hal ini sama dengan Fakultas Pertanian, karena kedua fakultas ini sama-sama berkaitan yang mengurusi tentang biologi, cuma objeknya saja yang berbeda. Fakultas Kedokteran objeknya biologi manusia, sementara Fakultas Pertanian merupakan biologi tumbuhan.

Sementara Fakultas Teknik hanya iseng-iseng, karena pada waktu itu saya mengambil program IPC yang membolehkan tiga pilihan sekaligus. Begitu pengumuman saya lulusan di pilihan kedua yakni Fakultas Pertanian. Saya mengambil Jurusan Proteksi Hama Tumbuhan. Cita-cita setelah lulus sarjana (S-1) saya harus melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar Ahli Peneliti Pertama (APP). Gelar ini pada waktu itu menjadi gelar tertinggi dalam bidang penelitian.

Bagaimana Anda mendapatkan gelar peneliti?
Begitu tamat S-1 saya melamar sebagai tenaga honorer di Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) Solok Padang Sumatera Barat. Karena untuk melanjutkan pendidikan ke S-2 dan S-3 tidak punya dana dari orangtua. Pada waktu itu setiap tahun BPTP selalu menyekolahkan pegawainya ke luar negeri.

Ini yang membuat saya tertarik bekerja di BPTP. Seiring berjalannya waktu saya diangkat menjadi Kepala Kebun Percobaan Pasar Miring Pagar Merbau Deli Serdang. Status saya waktu itu masih tenaga honor dan bekerja sebagai penelitia tanaman pertanian khususnya padi. Beberapa tahun berjalan saya tidak disekolahkan juga hingga akhirnya keluar kebijakan yang boleh disekolahkan ke luar negeri oleh BPTP adalah pegawai yang sudah PNS. Selain itu Kebun Percobaan Pasar Miring juga berubah status dari yang sebelumnya dibawah naungan BPTP Solok ke BPTP Suka Mandi Jawa Barat.

Ini juga menjadikan jarak semakin jauh. Waktu itu saya sangat kecewa, apalagi ada teman saya yang diberangkatkan ke luar negeri, sementara sepengetahuan saya kemampuan Bahasa Inggris nya jauh di bawah saya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti dan mengikuti testing PNS di USU.

Lantas apa yang Anda lakukan saat itu?
Setelah berdiskusi dengan mantan dosen di USU, akhirnya saya melamar masuk PNS dan Alhamdulillah diterima. Lagi-lagi keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak saya sia-siakan begitu saja. Tidak lama menjadi asisten dosen di USU, akhirnya saya mengajukan diri memperoleh beasiswa dari Dirjen Dikti untuk kuliah di luar negeri.

Tetapi belakangan, saya memutuskan melanjutkan S-2 di dalam negeri yakni di Universitas Gajah Mada (UGM). Selama kuliah di Provinsi DKI Jogjakarta itu, saya menyandang status tugas belajar dari USU karena saya harus aktif kuliah setiap hari.

Begitu tamat, saya kembali ke USU dan mengajar untuk selanjutnya menyiapkan diri mendapatkan beasiswa S-3 universitas yang sama. Lagi-lagi saya direkomendasikan USU hingga akhirnya dalam waktu tujuh tahun saya bisa menyelesaikan program S-3 dan mendapatkan gelar doctor dari UGM. Hanya saja saat S-3, saya tidak menetap di Jogjakarta karena jam belajarnya longgar.

Apa yang Anda rasakan begitu jadi propesor?
Kepuasan batin. Senang menjadi tempat bertanya banyak orang, suka dipanggil jadi pembicara di acara seminar. Begitu tamat pendidikan doktor saya terus melakukan penelitian dan disaat itu pullah tidak lama kemudian saya mendapatkan gelar profesor dari USU. Pada saat mengambil gelar profesor saya meneliti hama rayap pada tanaman kelapa sawit yang tumbuh di lahan gambut. Bagi petani, rayap menjadi bio terorisme yang sangat membahayakan. Soalnya rayap dapat mematikan tanaman kelapa sawit di lahan gambut. Namun, di lahan kering rayap tidak mengganggu tanaman kelapa sawit. Syukurnya gelar profesor yang saya dapatkan sejalan dengan kepangkatan PNS. Saya dapat gelar profesor tahun 2004 yang kala itu dilantik Rektor USU Prof Chairuddin P Lubis DTMH, Sp A (K).

Apa yang Anda dapatkan dari hasil penelitian itu, bagaimana memotivasi dosen FP?
Dengan hasil penelitian ini saya sering diundang perusahaan pestisida, terutama dalam menciptakan racun untuk rayap. Bahkan ada juga rekomendasi yang dibutuhkan dari saya sebelum perusahaan pestisida mengeluarkan produknya. Sementara itu pesan saya kepada seluruh dosen agar terus menimba ilmu. Sebagai dosen kita harus proaktif untuk mencari peluang-peluang baru. Keberhasilan fakultas ditentukan keberagaman disiplin ilmu yang dimiliki dosennya. Inilah yang terus saya motivasi. (*)

Terbiasa Ditinggal Suami

Memiliki suami yang punya segudang aktivitas, membuat Staf Pengajar USU Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Departemen Ilmu Komunikasi Dra Mazdalifah MSi terbiasa ditinggal suami ke luar kota.
Bahkan sejak menikah, ditinggal suami untuk bertugas sudah menjadi makanan sehari-harinya. Konsekuensi itu diterimanya dengan lapang dada, mengingat sejak beriklar menjadi suami istri, mereka sudah berkomitmen soal itu.

Bersuamikan Hendri Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia dan General Koordinator Lavia Champisina (NGO yang bergerak dalam bidang kesejahteraan petani) merupakan kebanggaan besar baginya. Makanya, ketika suami sering berpergian ke luar kota, ia sangat paham betul dengan kesibukan dan aktivitas suaminya. “Selama 20 tahun pernikahan kami, tidak pernah kami tinggal dalam satu kota,” tutur Dra Mazdalifah MSi.

Dirinya menyadari, pernikahan harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Karena itu dirinya terus berusaha sabar akan semua hal yang dihadapainya. “Untungnya saya diberikan rasa sabar,” kata wanita yang gemar berinovasi dalam menu masakannya.

Dirinya bercerita, pada akhir tahun 1990-an, sang suami yang selalu berpindah-pindah tempat tugas akhirnya ditempatkan di  Kota Medan. Tapi apa daya, pada tahun yang sama dirinya juga sedang mengenyam pendidikan S2 di IPB. “Pada akhirnya kami kembali harus berpisah tempat tinggal. Saya bertemu suami hanya Jumat malam, Sabtu dan Minggu pagi. Sisa waktu lainnya hanya saya bersama anak-anak,” kata dia.

Meski tak dipungkiri, sebagai wanita dan istri, ia terkadang merasa kesepian tanpa kehadiran suami yang bisa menemaninya sehari-hari. “Saat tahun 2000-an, saya mengandung anak ke 3 kami. Waktu memasuki bulan ke-8 kandungan saya, anak dalam perut meninggal. Di saat itu saya benar-benar sangat membutuhkan suami, walaupun beliau akhirnya datang keesokan harinya. Kehadiran suami memang mampu memberikan spirit dalam hidup saya,” tuturnya.

Pada kenyataannya, kata dia, baik dirinya dan suami sama-sama membangun kekuatan untuk tabah dan bersabar menghadapi kenyataan kalau harus berjarak jauh. “Ini menguatkan kami bahwa saya dan suami tidak perlu terlalu sedih, tak perlu mendramatisir kondisi yang ada. Saya jadi harus sabar jauh dari suami , begitu juga suami,” akunya.

Dengan pemikiran tersebut, Mazdalifah memberikan penuh kepercayaannya pada sang suami. Iapun tetap melakukan tugasnya sebagai  isteri dengan menjaga dan membesarkan anak hingga berhasil. “Berhasil  bukan berarti berpenghasilan tinggi, melainkan si anak memiliki ilmu, kepribadian yang baik dan mampu berguna bagi masyarakat,” harapnya.

Bagi wanita kelahiran Madiun, 3 Juli 1965 silam ini, jauh dari suami bukan berarti masalah besar. Apalagi, keluarga besar yang ada di sekitarnya ikut mendukungnya dalam membangun keluarga kecilnya. “Wanita karier identik dengan mandiri dan saya menjadi wanita mandiri. Tapi semandiri apapun saya, tidak akan berhasil bila tanpa dukungan keluarga dan suami,” bilangnya.

Dirinya juga ikut mendukung suami, termasuk dalam mengapresiasikan penampilannya. Sebab, posisi suami sebagi ketua dalam organisasi petani, mengharuskan dirinya tampil sederhana, seperti penampilan keluarga petani lainnya. “Kebetulan juga saya tidak suka tampil mewah, saya suka kesederhanaan,” jelasnya.

Selain dalam penampilan, salah satu yang dijaganya adalah sikap dalam pergaulan. Sebab, dirinya menyadari ia dikenal sebagai seorang isteri Hendri Saragih, Ketum Serikat Petani Indonesia. Tapi, kebanggan atas nama suami tidak membuat dirinya terlena, sehingga melupakan potensi yang ada pada dirinya.

Dirinya terus belajar dan mengembangkan kariernya. Bahkan untuk saat ini, ibu dari Izza Dienillah Saragih dan Muzzahid Widian Saragih ini sedang menempuh S3 di Universitas Sains Malaysia di Penang. “Ibu rumah tangga juga harus mampu mandiri. Tuntutlah ilmu seluas mungkin tanpa batas usia,” kata dia.

Untuk tampil menjadi sosok perempuan mandiri memang sudah ditanamkan Mazdalifah sejak masih di bangku SMA. Ia menyadari memiliki potensi yang mampu menganalisa masalah. Makanya tak salah kalau potensi kemampuan menganalisa itulah menghantarkan Mazdalifah menjadi seorang Dosen di Fakultas Fisip USU.

Dengan aktivitas yang ada, Mazdalifah menyadari dirinya tak hanya berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya, tapi juga menjadi ayah pengganti semantara di dalam keluarganya. Makanya ia tak mau terlalu padat mengambil aktivitas lain selain mengajar sebagai dosen. “Saya menyadari anak-anak saya tidak mendapatkan figur ayah sebanyak anak lain. Karena itu saya juga tidak ingin anak-anak kehilangan figur ibu karena kesibukan saya,” ujarnya.

Hal ini membuatnya menjadi lebih protektif kepada buah hatinya. Bahkan dalam mengurus anak ditangani sendiri olehnya. “Saya seorang pendidik, kenapa anak saya harus didik oleh orang lain?” pungkasnya. (juli ramadhani rambe)

Anak Butuh Didengarkan dan Dihargai

Anak butuh didengarkan. Anak menginginkan perhatian dan sikap menghargai dari orang dewasa ketika ia tengah berbicara.

Orang dewasa yang tidak mendengarkan dan menanggapi anak ketika sedang berbicara, maka anak merekam cara orang dewasa ini, dan akibatnya anak menjadi malas berbicara.
Lebih buruk lagi, apabila terus-menerus tidak diperhatikan dan dihargai ketika berbicara, anak akan merasa tidak berharga.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menunjukkan sikap menghargai saat anak berbicara. Menghargai anak yang sedang berbicara dapat dilakukan dengan cara:
* Membungkukkan badan bila perlu berjongkok sehingga lebih dekat dengan anak saat mendengarkan anak berbicara.

* Mengadakan kontak mata dengan anak.
* Tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan perasaan yang disampaikan anak lewat ceritanya.
* Menanggapi dengan nada bicara yang ekspresif dan menunjukkan antusiasme, tidak dengan nada datar.

* Tidak memotong pembicaraan anak, meski mungkin merasa tidak sependapat dengan anak atau menganggap bahwa apa yang dibicarakan anak bukan sesuatu hal yang penting.
Anak sering berbicara tentang hal-hal sederhana yang kurang menarik dan dianggap kurang penting oleh orang dewasa. Selain itu, ia juga kerap menunjukkan reaksi emosional yang berbeda dari orang dewasa, merasa kagum oleh sesuatu yang dianggap biasa oleh orang dewasa.

Atau khawatir dan takut terhadap sesuatu yang dianggap tak masuk akal oleh orang dewasa. Umpamanya saja, kagum melihat kereta api sehingga terus-menerus bicara tentangnya, atau menceritakan kekhawatirannya kalau-kalau ada monster yang bersembunyi di kolong.
Sekalipun demikian, orang tua tetap perlu menunjukkan penghargaan terhadap apa yang ia pikirkan dan rasakan ketika ia bercerita.

Anak yang dihargai orangtua saat ia berbicara, akan mengambil sikap serupa dalam merespons orang lain yang mengajak bicara. Ia akan menjadi pendengar yang baik, yang mampu membuat lawan bicara merasa dihargai.

Di samping itu, tentu saja ia akan berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bila hal itu Anda lakukan, niscaya anak Anda akan memiliki pribadi yang andal. (net/jpnn)

Istriku Pergi

Jefri al Malay

Entahlah! Belakangan aku kembali bertanya, akankah cinta juga bisa membunuh tuan pemiliknya?
Lama sudah ia tak menari. Sekitar enam  tahun begitulah. Mungkin ia rindu meliuk-lentukkan tubuhnya, melentikkan  jemari dan melangkah sesuai dengan rentak irama. Tarian demi tarian itu dulu pernah memanjakannya. Memberikan ruang untuk mengekspresikan hidup. Menari baginya adalah gerak kehidupan.

“Kenapa harus menari?’ tanyaku padanya ketika awal pertemuan dulu.
“Ada sisi dalam  kekehidupan yang harus diekspresikan dengan gerak tarian dan sisi itu adalah bagian yang sangat jauh di lubuk hatiku, sukar untuk diutarakan,” katanya sambil menyeka peluh yang masih tersisa di wajahnya.
“Sesukar apakah itu?” tanyaku ingin tahu.

“Tidak seperti yang kau bayangkan dan tak perlu diketahui. Mudahnya, hanya ingin menari dan menari selagi ada kesempatan,” jawabnya ketus dan kemudian meninggalkanku sendiri dengan segudang penasaran yang harus aku perjuangkan untuk mendapatkannya kelak.

Itu kisah yang lampau. Kisah di mana ia menguasai semua jenis tarian, langgam, joget, mak inang, zapin. Semua tarian Melayu ia kuasai bahkan beberapa tarian dari luar juga ia lahap sebisanya. Sedang aku dulu adalah penikmat setianya. Betapa aku terhipnotis bila melihat ia mulai menari di atas panggung. Persis sebuah ritual, ia melakukan gerakan demi gerakan secara total.

Dalam setiap gemulainya seolah mengandung pesona yang memabukkan. Di setiap langkah yang teratur rapi bagai menyulap kehidupan seharinya menjadi kehidupan yang penuh imaji di atas panggung. Kisah-kisah dalam tariannya itu menjelma hidup, seolah-olah berbicara dengan penonton yang hadir. Ah… sungguh aku terpesona.

Lalu, jadilah ia penari yang seharusnya patut diperhitungkan di negeri ini. Seorang penari yang benar-benar menari bila ia menari. Seorang penari yang tidak hanya mengandalkan kecantikan wajah, tidak hanya semata-mata memamerkan bentuk tubuh. Ia menari karena memang terpanggil untuk menari. Bagiku Ia adalah penari sejati.

Tapi perlukah aku jelaskan bagaimana kehidupan seorang penari setelah berada di luar panggung? Tentu saja tidak perlu karena semua pasti tahu, pekerja-pekerja seni di negeri ini semuanya hampir sama. Hanya dihargai bila ia diperlukan selebihnya tentu saja harus pandai-pandai untuk memenuhi kehidupannya sendiri. Sebuah gambaran yang miris bila dikaitkan dengan visi dan misi di negeri bertuah ini.

Sekali lagi, semua itu hanyalah kenangan yang terbingkai indah baginya. Saat ini, perempuan itu telah terkurung tanpa ampun. Rumah… ya, rumah telah mengurungnya dan ia pun harus jatuh dalam pelukan seorang suami dan dua orang anaknya. Apakah ia tidak menari lagi? Tentu saja tetap menari karena baginya tarian adalah setiap gerakan dalam kehidupannya tetapi ia hanya menari untukku dan untuk segala tetek-bengek anak-anak kami saja.

Sosok istriku dulu memang seorang perempuan dengan seribu imaji dan impian tetapi aku sungguh tidak mengetahui di mana ia menyimpan semuanya itu setelah ia sah menjadi istriku. Aku hanya berpikir, barangkali hal itu tak perlulah dipertanyakan sebab memang sudah lumrah istriku seseorang yang selalu menyimpan apa saja yang menurutnya sulit untuk diutarakan.

Maka bermulalah kehidupan yang baru baginya. Dari kemegahan panggung, silau cahaya lampu, tepuk gemuruh tangan penonton ke sebuah alamat yang dinamakan rumah tangga.

Apakah ia menyesal? Kukira tidak! segala keputusan dan tindak tanduk yang kami lakukan adalah atas nama cinta. Cinta yang dulu kupahami sebagai perisai kekuatan untuk memulai segala sesuatu tetapi akankah demikian halnya? Entahlah! Belakangan aku kembali bertanya, akankah cinta juga bisa membunuh tuan pemiliknya?

Kecintaan istriku terhadap keluarga tak bisa diragukan lagi. Hal itu terlihat dari kesungguhannya mengurus anak-anak dan setia mendampingiku dalam keadaan apapun. Tetapi kecintaan kepada kehidupannya yang dulu juga tak dapat dihapus begitu saja. Seringkali aku melihat ia menari di sela-sela menyelesaikan pekerjaan rumah. Tetapi tentu saja aku anggap itu adalah hal yang wajar.
Pernah suatu kali ketika aku baru saja pulang dari kantor, terdengar olehku senandung yang begitu lirih keluar dari mulutnya. Senandung yang sayup-mayup, seolah-olah ada getaran kerinduan di dalamnya.

Sementara itu istriku terlihat menggerakkan tubuhnya perlahan-lahan seiring dengan senandung yang menjadi musik pengiringnya itu. Aku menyaksikan sambil bersembunyi di celah pintu dapur. Pakaian yang sedang dicuci ditinggalkan untuk beberapa saat. Ia begitu larut dalam tarian tersebut. Entah kenapa kemudian dalam sekali sentakan ia seperti baru tersadar dan menghentikan keterpesonaanku beserta tariannya.
Malam ketika baru saja kami selesai berbagi kehangatan, aku pun bertanya pada istriku “Kamu rindu menari?”

Ia hanya tersenyum. Senyum yang menyimpan segudang makna. Lalu ia segera berdiri, meninggalkan aku sendiri di tempat tidur. Tak berapa lama aku mendengar suara televisi di ruang tamu. Aku pun bangkit berdiri, menyusul istriku. Ternyata ia sedang menonton CD koleksi tariannya. Tersandar ia di kursi, matanya sedikitpun tak bergerak seolah menelan bulat-bulat pertunjukan tari yang sedang ditonton. Aku pun maklum akan hal itu dan berniat untuk tidak menganggunya.

Kulangkahkan kaki kembali menuju kamar tidur tetapi kemudian aku mendengar suaranya.
“Apa salahnya kalau aku rindu?”
Aku mengurungkan niatku dan kembali duduk di sebelahnya. “Tentu saja tidak salah,” jawabku sambil memeluknya.

“Bagaimana kalau kerinduanku ini tak terbendung lagi dan aku sejujurnya ingin menari kembali?”
Aku tersentak. Terdiam untuk beberapa saat. Bingung harus mengatakan apa. “Maksudmu?”
“Aku… aku terpanggil untuk menari dan aku harus menari seperti dulu,” jawabnya.

Untuk sesaat aku memandangnya. Mencoba mencari kebenaran dan kesungguhan atas ucapannya. Dari matanya yang tak lepas memandang pertunjukan tari yang sedang berlangsung, aku berkesimpulan bahwa Ia sedang tidak bercanda.
“Tapi apa sudah dipikirkan masak-masak? Maksudku, bagaimana dengan anak-anak dan pekerjaan di rumah ini?”

Ia hanya diam. Dan sejurus kemudian ada yang tumpah dari kedua belah matanya. Ia menangis. Sungguh aku berusaha untuk menyelami kesedihannya, dengan raut wajah tanpa ekspresi, air mata itu keluar menetes begitu saja. Mungkin inilah air mata kerinduan sekaligus mengandung kepedihan yang menyayat hati.

“Aku tidak bermaksud melarangmu. Tapi, marilah kita sama-sama berpikir dengan jernih. Tentu saja kita tidak bisa mencari pembantu untuk menggantikan tugasmu mengurusi anak-anak dengan gajiku yang tak seberapa ini. Maksudku, ya…lagipula bukankah kita sudah punya komitmen…”
Ucapanku terputus karena tiba-tiba jemarinya memencet remote dan layar televisi pun padam.

Sejenak hanya diam. Air mata itu tak terbendung lagi, mencurah serupa air bah di pipinya. Ia segera bangkit berdiri menuju ke kamar. Aku tinggal sendiri menatap layar televisi kosong, sekosong pikiranku saat itu.

Meskipun sudah berusaha, ternyata aku gagal untuk memahami kerinduannya untuk menari. Tentu saja, karena aku bukanlah seorang seniman. Aku hanya seorang pegawai yang bekerja di sebuah instansi pemerintah. Mana mungkin aku tahu dan memahami lebih dalam hakikat kerinduan dari sudut pandang kesenian. Tapi aku selalu berusaha menjadi suami yang baik. Seingatku, malam itulah merupakan awal dari petaka dalam keluargaku. Istriku tak bisa lagi diajak bicara. Padahal selama ini, komunikasi adalah hal yang selalu kuutamakan dalam keluarga meski pada kondisi apapun.

Tak ada lagi tarian disela pekerjaannya. Ia menjelma menjadi robot yang hanya bekerja mengurus anak-anak dan pekerjaan rutinnya sebagai ibu rumah tangga. Tak ada suara dan canda tawa. Tak ada lagi kemesraan yang seharusnya menjadi pondasi di rumah tanggaku ini.

Hal ini tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Di samping membuat tidak nyaman, jangan-jangan nanti bisa mengganggu perkembangan dan pertumbuhan ke dua buah hatiku. Sebagai suami yang bijak, aku harus mencari jalan keluarnya. Maka pada suatu kesempatan kuajaklah istriku bicara.

Aku mengusulkan padanya untuk membuat sebuah sanggar kecil-kecilan. Kusuruh ia melatih anak-anak tetangga sekitarnya untuk menari. Setidaknya dalam pikiranku, kerinduannya itu sedikit banyaknya akan dapat terobati. Tetapi nampaknya usulanku itu tidak direspon dengan baik.
“Aku bukan pelatih, aku hanya penari,” katanya dengan tanpa ekspresi.

Aku tidak kehabisan akal. Selagi ada kesempatan kuulangi terus menerus usulanku itu dengan memeberkan berbagai alasan yang positif. Tetapi memang dasar istriku kepala batu. Ia hanya diam membisu, tidak menggubris sedikitpun saran yang kuberikan.

Hingga akhirnya aku betul-betul kewalahan, sesak dengan kondisi yang menimpa keluargaku ini. Tidak hanya pekerjaan yang terbengkalai akibat memikirkan semuanya malahan perhatian terhadap ke dua anakku pun menjadi berkurang. Padahal si Tasya yang baru berumur empat tahun dan adiknya si Maya berumur dua tahun seharusnyalah mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup.

Aku tiba-tiba menjadi sensitif, aku benar-benar sedih dibuatnya. Terkadang timbul juga keegoanku sebagai lelaki, sebagai suami yang sah. Bisa saja aku memerintah dengan paksaan kepada istriku untuk menjaga anak-anakku dengan baik. Lantas kalau ia tidak mau, berikan ia gertakan untuk mencerainya. Tetapi kemudian keegoaan itu padam seketika setiap kali Tasya dan Maya berhambur dalam pelukanku.

Saat kalut yang terus bergelayut inilah tiba-tiba aku teringat masa di mana aku dan istriku membuat komitmen untuk menikah. Ia yang mulai pesimis dengan dunia kesenian di negeri ini memutuskan untuk berhenti menari. Katanya butuh pengorbanan dan perjuangan yang besar untuk menjadi seniman. Sementara ia hanya seorang wanita yang tidak memiliki kedua hal tersebut.

“Ya… mungkin memang tidak mudah mendapat pengakuan untuk jadi seniman dan mempertanggungjawabkannya,” tuturku ketika itu sekedar berusaha mengikuti alur pembicaraannya meskipun tak sepenuhnya kupahami apa yang telah kukatakan. Tapi setidaknya setelah itu ia menguraikan satu persatu pesoalan kesenian yang timpang menurut versinya sendiri.

Ia menyebutkan kesenian di negeri ini bagi sebagian kalangan hanya dijadikan ladang untuk mengeruk keuntungan dalam hal memperkaya diri pribadi. Belum ada kesadaran yang hakiki dan matlamat yang jelas bagi kesenian itu sendiri, lebih banyaknya kesenian di negeri ini hanya berupa seremonial belaka, tak ada yang menyentuh sampai ke hakikat dan proses inti dari berkesenian itu.
“Proses berkesenian itu seharusnya mampu memanusiawikan manusia,” ujarnya mantap sementara aku hanya mengangguk dan melongo.

Sungguh, saat itu dengan berapi-api ia juga menyebutkan bahwa perhatian pemerintah terhadap pelaku seni dan seniman belum dilakukan dengan sepenuh hati. Terlalu besar ketelantaran ketimbang pengabdian yang diberikan. Sehingga seniman diibaratkan ada tetapi seperti tak ada. Kalaupun ada itu hanya mereka yang dekat dengan kekuasaan. Maka banyaklah lahir seniman yang sedikit berkarya tetapi pandai mencari muka.

“Ini krisis,” katanya. Ia terdiam sejenak kemudian dengan nada yang sedikit lunak ia melanjutkan. “Mungkin benar kata kawanku, tak usah terlalu banyak berharap kepada orang lain, kalau ingin berkesenian yang berkaryalah dan berkesenian dengan caramu sendiri,” lalu ia menggenggam tanganku erat seraya mengajak pulang. Genggamannya itu aku simpulkan bahwa ia akhirnya setuju dengan tawaranku yang tertunda selama ini. Bahwa sudah sekian lama aku menuggu persetujuannya untuk menikah. Ternyata benar, tak berapa bulan kemudian kami pun menikah.

Malam kian larut dalam gelapnya. Sementara mataku yang tak bisa terpejam sepicingpun masih terus bergenang dalam lintas kenang tentang pembicaraan antara aku dan istriku dulu. Berusaha mencari titik terang dari sekian ratus ucapan yang telah dimuntahkannya. Tetapi tetap kebuntuan semu yang kutemukan.

Apakah ini akibat dari istriku yang telah sekian lama memendam kecintaan dan kerinduannya untuk menari sehingga diibaratkan letusan gunung api yang tiba pada saatnya harus memuntahkan semua, membinasakan apa saja tanpa kenal ampun. Hampir tak bisa kupercaya dan tak sampai pada akalku bahwa ada cinta dan rindu yang mampu meruntuhkan segala bahkan menghancurkan impian-impian yang telah dibangun bersama. Mungkinkah juga akan membunuh dirinya?

Renunganku tiba-tiba saja terhenti setelah mendengar gaduh di ruang tamu. Baru aku tersadar bahwa istriku telah tidak ada di tempat tidur. Entah bila masanya ia keluar. Aku bergegas menuju sumber suara yang sangat mengganggu di malam hari begini. Tidak hanya mengganggu seisi rumah ini tetapi kukira juga dengan volume suara yang cukup keras tersebut dapat membangunkan tetangga sekitarnya.

“Astaga…!” Lidahku tercekat. Badan serasa hilang semangat. Hampir tak dapat dipercaya atas apa yang kulihat.

Sehelai tikar telah terbentang di ruang tamu dikelilingi puluhan batang lilin di sampingnya. Dengan lampu yang temaram sedemikian berdirilah seorang penari yang tak lain tak bukan adalah istriku. Musik yang keras itu ternyata keluar dari tape mini compo yang terletak di atas bofet sebelah televisi.

Ia menari, ya… ia benar-benar menari. Sejenak aku beridiri terpaku serupa patung menyaksikan setiap inci gerakan tarian yang sedang dipersembahkan oleh istriku. Tak dapat disangkal, ia memang penari. Penari sejati. Nyaris saja aku larut dan terpukau lebih jauh jika tidak segera anak-anakku menyadarkanku dengan memeluk dan menggenggam tanganku.

Tasya dan Maya yang ikut terbangun oleh suara musik yang cukup keras volumenya itu hanya melongo di sisi kiri dan kananku. Aku pun berlutut dan segera memeluk mereka erat. Ada rasa iba dan miris yang tak dapat kubendung lagi hingga tanpa terasa air mata itu tumpah jua. Meski tak bisa kusebutkan untuk apa aku menangis.

Sungguh tak dapat kutebak pula tatapan kedua anakku yang lugu bercampur bingung menyaksikan semua yang terjadi di tengah malam buta ini. Sementara istriku yang kian tenggelam dalam gerak dan langkahnya terlihat semakin sampai ke klimaks. Ia berputar-putar bagaikan gasing. Lalu dengan sisa kesadaran, kuhampiri tape seraya mematikannya.

Istriku tersentak, terduduk lemas sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa menunggu lebih lama, aku pun menyerangnya dengan sungut yang bertubi-tubi.
“Apakah sudah hilang akal sehatmu?”
Dia hanya tertunduk diam.

“Coba kau lihat, sudah jam berapa sekarang ini? Dengar! Aku tidak pernah melarangmu untuk menari. Berkali-kali sudah kukatakan itu. Tetapi bukan begini caranya. Seperti orang gila saja.”
Ia mendongakkan kepalanya. Menatap tajam padaku. Sejenak aku bagai tertikam oleh tatapannya. Tapi emosiku sudah tak terbendung lagi.

“Menarilah, jika memang itu kehendakmu. Silakan… menarilah! tapi jangan kau ikutsertakan kegilaanmu itu pada anak-anakku. Malu! Aku… aku benar-benar malu kalau begini caranya. Hei… dengarkan. Apa otakmu tidak bisa kau gunakan lagi sehingga tak terpikir olehmu bahwa kita punya tetangga. Dengan suara musikmu yang memekakkan telinga itu telah mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain dan yang paling pasti kau telah mengganggu anak-anakku. Anak kita… Aggghh..!”

Seiring dengan itu kuhempaskan tape ke lantai tepat di hadapannya.  Ia yang masih menatap tajam padaku tak menghiraukan kepingan-kepingan tape yang hancur beserakan itu. Ia tiba-tiba berdiri dan terus berlari ke arah kamar, tak digubrisnya Tasya dan Maya yang kini mulai sengugukan menahan tangis. Terakhir kudengar pintu kamar dibanting dan terkunci. Kuncilah pintu itu selama kau mampu seperti aku yang akan mengunci pintu maaf untukmu jika tak segera kau memohon ampun pada suamimu, bathinku dalam hati.

***
Paginya barulah kusadari bahwa istriku telah pergi. Istriku penari sejati telah meninggalkan rumah. Istriku yang bernama Alifya Nurinsania telah meninggalkan aku dan anak-anakku. Aku terduduk lesu. Haruskah aku diam, marah barangkali, atau haruskah aku kesal? Mungkin saja aku harus berteriak untuk mengimbangi isi kepala yang sedang bergejolak. Entahlah! Belakangan aku kembali bertanya, akankah cinta juga bisa membunuh tuan pemiliknya?

Akhirnya begitulah, aku melewati hari-hari bersama kedua anak-anakku yang mungil. Hingga pada suatu malam yang diliputi rasa kehilangan aku berharap istriku kembali di sini sambil menyaksikan Tasya dan Maya yang sedang menari-nari di depan televisi yang memutar CD koleksi bundanya menari.***

Pulau Rindu, 14-19 Agustus 2010

Atas Nama Sekolah, Dana Bukan Masalah

Ramadhan Batubara

Kini, apa yang dilakukan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 3 Juli tahun 1922 (resminya) adalah sesuatu yang aneh. Bagaimana tidak, bangsawan Jawa yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara itu berani mendirikan Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Saya awali lantun ini dengan kalimat di atas bukan tanpa sebab. Bermula dari kabar meningkatkannya biaya pendidikan di negeri ini tentunya. Ayolah, ketika biaya pendidikan begitu tinggi, apakah mungkin negeri ini bisa bangkit untuk menjadi bangsa yang pintar?

Perhatikanlah zaman terkini, di zaman yang katanya sudah merdeka ini, pendidikan menjadi sesuatu yang mahal. Setiap tahun ada saja kutipan tak jelas, baik atas nama pakaian olahraga, topi, dasi dan sebagainya. Lalu, nyaris setiap tahun buku pelajaran berganti; tidak bisa dipakai untuk tahun ajaran berikutnya. Belum lagi soal setoran atau uang pelicin yang kabarnya tak ada namun tetap saja terasa.

Menariknya, ketika berbincang dengan pengamat ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi USU, Jhon Tafbu Ritonga, saya malah diterangkan kalau soal uang tersebut belum seberapa. Jhon mengatakan kenaikan satu persen saja dari biaya pendidikan pada setiap tahunnya akan mempengaruhi daya beli warga Indonesia.  Dan, yang membuat saya terhenyak, jumlah itu bisa triliunan rupiah.

Penjelasannya begini, anggaplah pendapatan warga Indonesia selama setahun adalah 600 triliun rupiah. Ups, jangan terperangah dulu, anggap itu hanya jumlah dari tiga juta rupiah (pendapatan setiap warga selama setahun; terlalu kecil gak ya?) dikali 200 juta warga Indonesia. Nah, jika saja kenaikan biaya pendidikan di Indonesia per tahunnya mencapai satu persen, bukankah daya beli warga bisa berkurang hingga enam triliun! Fiuh.

“Jadi soal pungutan liar atau biaya lain-lain itu masih kecil,” kata Jhon pula sambil tertawa. Saya tertawa, tapi kecewa karena tidak berlogika semacam itu. Ha ha ha.

Tapi sudahlah, mungkin itu hitung-hitungan si Jhon saja, tapi yang menyangkut dalam otak saya adalah kenapa pendidikan harus mahal? Saya mencoba membayangkan, seperti apa pikiran Ki Hajar Dewantara di masanya. Bayangkan saja, di saat itu, di zaman kolonial, mereka yang berhak mengenyam pendidikan hanyalah kalangan tertentu; pastinya mereka yang dekat dengan pemerintahan kolonial. Maka, pendidikan adalah sesuatu yang mewah. Nah, di saat itu muncul Ki Hajar Dewantara dengan National Onderwijs Institut Taman Siswa-nya.
Memang terpikir juga oleh saya apa yang dilakukan Ki Hajar adalah sesuatu yang wajar.

Ya, bukankah dia berasal dari kaum bangsawan yang tentunya tidak berpikir lagi soal perut? Nah, apa yang dibuat olehnya bukan sesuatu yang istimewa bukan? Sayangnya, pikiran itu langsung saya jawab sendiri. Dia tetap hebat, karena di saat itu pemerintah kolonial sengaja atau alpa terhadap perkembangan warga jajahannya secara umum. Ki Hajar hadir dengan sekolah jelatanya itu; belajar di bawah pohon, tanpa seragam, dan segala tetek bengek sekolah pada umumnya. Intinya, transfer ilmu tetap ia lakukan demi kemajuan.

Nah, jika dihubungkan dengan sekarang, ketika pemerintah telah membangun begitu banyak sekolah, apa yang menyebabkan pendidikan jadi mahal? Bukankah semuanya ditentukan oleh negara? Ya, soal harga pendidikan kan juga wilayah pemerintah, kenapa terkesan tidak berkuasa hingga menggelontorkan beraneka program semacam BOS dan sebagainya.

Program semacam itu kan seakan membuat kelas kepada warganya, seperti Belanda yang hanya memberikan pendidikan bagi priyayi dan maupun orang-orang mereka saja. Ya, murid kaya dan murid subsidi tentunya bermental beda. Bukankah begitu?

Tapi tunggu dulu, saya teringat si Jhon Tafbu lagi, dia katakan jika manajemen negara bagus, maka soal pendidikan itu bukan masalah. Maksudnya begini, seandainya pemerintah serius memenej pendidikan dalam artian segala hal yang terkait, biaya pendidikan bisa ditekan. Selama ini yang terjadi adalah manajemen yang tidak tepat. Misalnya, ketika diberi beasiswa pada murid pintar, eh yang dapat malah murid dari keluarga kaya. Kenapa bisa terjadi? Jawabnya, karena murid pintar biasanya berasal dari keluarga yang kaya yang mampu memberikan fasilitas les, buku, dan sebagainya.

Lalu, ketika bangun sekolah gratis, apakah akan efektif? Yang ada hanya penumpukan murid di sekolah tersebut yang ujung-ujungnya bisa menimbulkan kecurangan lain. Bagaimana tidak, ada kecemburuan yang terjadi. Sekolah gratis baru efektif jika dilakukan secara serentak di setiap daerah. Nah, ujung-ujungnya, ke pemerintah lagi kan, siap tidak pemerintah memberikan itu?
Sudahlah, bicara biaya pendidikan memang sulit, terlalu banyak yang harus dikupas. Apalagi ketika budaya orang kita yang bangga menyekolahkan anak hingga ladang dan sawah rela dijual. Jadi, masalah biaya bukanlah masalah, bukankah begitu? (*)

Juli 2011

Jus Buah, Sehatkah si Kecil

Apakah si kecil suka sekali minum jus buah? Jus buah memang sangat baik karena bisa memberi asupan nutrisi dan vitamin buat si kecil. Tetapi pemberian jus buah harus dalam takaran yang benar. Karena jika terlalu sering justru membuat si kecil mengalami kegendutan. Yuk, intip riset terakhir tentang hal ini!

Mengkonsumsi jus buah segar ternyata tidak selalu menyehatkan. Apabila jumlahnya berlebihan, justru akan membahayakan kesehatan si kecil. Inilah yang baru-baru ini dilansir oleh The American Academy of Pediatrics. Menurut AAP, minum jus buah dalam porsi yang tidak seharusnya dapat membuat anak Anda kelebihan berat badan, kerusakan gigi, diare hingga konstipasi.

Dan menurut The American Academy of Pediatrics, ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk menyiasatinya, diantaranya berilah buah hati Anda jus buah yang berasal dari buah alami, bukan minuman yang memiliki rasa buah. Selingi dengan buah-buahan segar agar asupan sertanya juga terpenuhi secara maksimal, jangan berikan jus buah pada bayi berusia dibawah satu tahun kecuali memang disarankan oleh dokter,  dan jumlah yang diberikan sebaiknya sekitar 120-180 ml per hari, untuk anak usia 1-6 tahun.

Meskipun jus buah sangat baik untuk kesehatan, sebaiknya jangan perkenalkan Anak Anda dengan jus sampai dengan usia 6 bulan. Hal ini guna menghindari Anak Anda terbiasa dengan jus buah yang kandungan gula dan karbohidratnya lebih tinggi sehingga membuat ia mersa kenyang. Ini bisa mengakibatkan anak Anda menolak untuk minum susu.

Jus buah sangat membantu anak Anda yang mengalami kesulitan buang air besar, karena biasanya kandungan serat dalam buah ikuit larut bersama dengan air. Pemberian jus buah bisa menjadi solusi untuk anjuran konsumsi buah segar per hari yang dianjurkan yaitu 2-4 porsi untuk anak-anak. Satu gelas (180 ml) 100 persen jus buah asli sama (meskipun tidak persis sama) dengan satu porsi buah-buahan segar. Menurut anjuran AAP, sebagian dari porsi buah per harinya yang dianjurkan bisa diganti dengan jus buah asli.(net/jpnn)