26 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 15048

Kami Wong Ndeso, Masak Senekat Itu

Keluarga Anas Urbaningrum di Blitar ketika Badai Politik Menerpa

Badai politik yang menerpa Anas Urbaningrum tidak terlalu berpengaruh pada keluarganya di Blitar. Mereka tetap yakin Anas bersih dan semua yang terjadi merupakan ujian.

Abdul Aziz Wahyudi, Blitar

Suasana rumah di RT 2, RW 3, Dusun Sendung, Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, itu terlihat sepi. Di halaman rumah, seorang ibu sibuk mengorek-ngorek nasi yang dikeringkan di terpal warna biru. Tangannya masih terlihat kuat  memegang kayu seukuran alu atau penumbuk padi. Di depan rumah itu juga berdiri Musala Darunnajah, tempat warga dusun biasa salat berjamaah.

“Nasi ini tadi malam sisa kenduri megengan (selamatan menyambut Ramadan, Red). Daripada dibuang sia-sia, saya keringkan jadi karak dan saya simpan,” kata perempuan berjilbab putih itu, lirih.

Dialah Sriati, ibunda Anas Urbaningrum, ketua umum DPP Partai Demokrat yang beberapa pekan terakhir menjadi sorotan karena nyanyian Nazaruddin yang menudingnya menerima fee proyek hingga miliaran rupiah dan main politik uang saat kongres Demokrat di Bandung akhir 2010. “Saya sudah dengar kabar itu. Sebagai orang yang mengandung dan ngemong dia dan paham dengan  karakternya  (Anas)  tidak mungkin menerima uang seperti itu. Ada-ada saja,” ujarnya perempuan 65 tahun itu menanggapi berita tersebut.

Pantas Sriati tidak percaya dengan kabar menyakitkan itu. Sebab, menurut pandangannya, selama menapaki karir politik, anak kedua dari empat bersaudara tersebut tidak pernah neko-neko. Apalagi  menerima uang.

Rumah Anas di Ngaglik terdiri atas dua bagian. Rumah di belakang atau yang berdempetan dengan Musala Darunnajah merupakan rumah neneknya,  Sumilah, 90, yang kini masih terlihat segar. Rumah bergaya joglo itu jauh dari kesan mewah. Yang ada hanyalah kesan ndeso. Kursi reot masih teronggok di teras rumah, lantainya pun masih plester biasa. “Rumah itu ditinggali ibu saya sendirian. Tiap hari lebih banyak menghabiskan untuk salat bersama-sama,” kata Sriati.
Sementara, rumah bagian depan merupakan rumah keluarga Anas sendiri. Rumah itu kini ditinggali ibu dan adiknya, Kholis Fikri. Tidak ada yang istimewa pada rumah tersebut jika dibandingkan dengan rumah-rumah di kampung tersebut. Ukurannya sekitar 100 meter persegi. Kalaupun ada yang sedikit mencolok, itu adalah dindingnya.  Sebagian dinding itu dilapisi keramik warna kuning hasil renovasi sekitar sepuluh tahun lalu. Debu tebal menempel di tembok keramik tersebut.

Perbedaan lain, di rumah tersebut nongkrong Toyota  Kijang Innova keluaran tahun 2008 bernopol B 7411 WJ warna hitam. Lagi-lagi, terlihat debu tebal menempel pada kaca depan dan belakang. “Mobil itu yang nyetir ya Kholis. Jarang dipakai, wong  tidak ke mana-kemana, lebih banyak naik motor,” jelas Sriati.

Anas Urbaningrum merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sriati dan Habib Mughni (alm). Tiga saudara Anas semua laki-laki. Kakak Anas adalah Agus Nasirudin yang kini menjabat sekretaris desa Ngaglik. Kedua adik Anas adalah Anna Lutfi (wakil ketua DPW PAN Jatim dan wakil ketua komisi B DPRD Jawa Timur) serta  Kholisul Fikri (PNS di sekretariat DPRD Kabupaten Blitar).

Ayah Anas, Habib Mughni, semasa hidup merupakan guru agama di MTs Al Kamal, Kunir, Kecamatan Wonodadi, Blitar. Pendidikan Anas semasa SD  ditempuh di SDN Ngaglik hingga kelas V. Entah apa alasannya, ketika naik ke kelas VI, Anas pindah ke SDN Bendo I,   Kecamatan Ponggok, yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Untuk berangkat ke sekolah, dia berjalan kaki. Di SD tersebut, Anas sering didapuk sebagai pengibar bendera ketika upacara hari Senin.
Setamat SD, Anas melanjutkan pendidikannya ke MTs Al-Kamal, Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, kemudian melanjutkan ke SMAN  Srengat, Blitar. Sejak SD, dia dikenal memiliki otak encer dan juara kelas.  Namun, Sriati menganggap hal itu biasa saja. “Anaknya biasa saja, mungkin nurun bapaknya yang  juga guru ilmu agama,” tuturnya.
Selama menempuh pendidikan hingga SMA, Anas merupakan anak “rumahan”. Sesudah bersekolah, langsung pulang. Namun, ada satu kegemarannya yang menurut ibunya tidak pernah dilupakan. Yakni, mencetak batu bata di belakang rumah bersama ayahnya.  Batu bata tersebut digunakan untuk mendirikan masjid di kampungnya.

Saking asyiknya, Anas kadang malah dimarahi karena tangan dan kakinya berlepotan lumpur.  Tak heran, ketika pulang kampung, kadang Anas menyempatkan diri melongok dan ikut nimbrung tetangga yang mata pencarian membuat batu-bata. Maklum, selama ini Dusun Sendung  merupakan dusun penyuplai batu bata merah di Blitar.  “Dulu kan  tidak ilok  (pantas, Red) anak muda keluar di malam hari. Lebih banyak di rumah belajar,” kata Sriati. Lantaran ayahnya guru agama, membaca Alquran merupakan santapan wajib.

Setelah tamat SMA, Anas meneruskan pendidikan di Universitas Airlangga Surabaya, fakultas ilmu sosial dan politik. Sejak saat itulah, karir politiknya dirintis. Dia menjadi ketua umum pengurus besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kemudian anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Kini, untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sriati memilih mengandalkan hasil panen sawahnya daripada bergantung kepada anak-anak. Meskipun  anak-anaknya sudah sukses, baik karir maupun pekerjaan.  Sawah seluas sekitar 200 meter persegi merupakan harta yang sangat berharga bagi Sriati. “Hasil panennya sudah cukup untuk menghidupi saya dan  adik-adik Anas. Syukur, kami tidak kekurangan,” kata Sriati yang  aktif dalam kegiatan pengajian di kampungnya itu.

Sebenarnya, tiap bulan dirinya juga menerima uang pensiun suaminya. “Sudah bisa makan dan minum seadanya  bagi kami alhamdulillah,” tambahnya lagi. Terkait kabar buruk yang menerpa Anas, Sriati menganggap hal biasa dan sudah menjadi risiko. Dia sadar, ketika menduduki posisi penting, anaknya pasti akan kerap menjadi sorotan.

Dia mencontohkan ketika Anas terpilih menjadi ketua umum PB HMI dan anggota KPU. Fitnah terus bertubi-tubi  mendatangi anaknya. “Kami tidak kaget, dia itu sudah sering digitukan. Sama seperti saat kasus, siapa itu?,  si Nazar ya” Saya lebih percaya anak saya. Dia tidak neko-neko,” katanya.

Hantaman dan gencarnya pemberitaan tentang Anas dianggap Sriati sebagai risiko atau cobaan. Dia mengibaratkan Anas sebagai layang-layang. Semakin tinggi mengudara, semakin kencang anginnya. Bila benangnya tidak kuat menahan angin, sudah pasti putus dan jatuh. Tetapi, dia yakin, Anas tidak seperti yang disangkakan.

“Kami ini wong ndeso (orang desa, Red), masak sampai nekat seperti itu. Saya yang mengandung dan membesarkan dia dan paham dengan karakternya. Dia tidak berbohong dan ingat asal-usulnya sebagai kaum cilik,” katanya lagi.
Sampai saat ini, lanjutnya, keluarga besarnya di Blitar sama sekali tak terpengaruh dengan isu-isu atau kabar yang beredar di panggung politik nasional. Kabar bahwa Anas menerima uang miliaran dianggap sebagai  alat untuk mencemarkan nama baik putranya sebagai bocah Blitar yang hendak berbuat baik bagi negara dan bangsa.
Para tetangga pun tetap percaya dan menganggap Anas sebagai anak kampung yang baik. “Sudah menter (kebal, Red). Ya, mungkin ada yang iri anak yang dulunya pernah membuat batu bata merah kini menjadi orang penting di Partai Demokrat,” katanya.

Selama pulang, kata Sriati, Anas tidak pernah curhat tentang politik. “Ngomongnya cuma pingin dimasakin ibu sendiri. Terserah apa saja, katanya kangen dengan sayur-sayuran,” cerita Sriati.

Terakhir Sriati bertemu Anas ketika khitanan anaknya  di Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu itu, Anas pesan kepada keluarga di Blitar agar mendoakan dirinya tetap tabah dan sabar, istiqomah dan  tawakal. Bahwa ada kabar miring yang saat ini ramai dibincangkan  dianggap sebagai bumbu untuk sukses.

Menurut Sriati, terakhir Anas pulang ke Blitar ketika menghadiri pernikahan Kholis, satu bulan lalu. Saat itu, Anas menyempatkan diri berziarah ke makam ayahnya yang tidak jauh dari rumah.  Rencananya, Anas akan pulang lagi pada  Lebaran nanti bersama istrinya,  Atya  Laila, dan empat anaknya: Akmal Naseery, Aqeela Nawal Fatina, Najih Enayat, dan  Aisira Najma Waleefa. “Alhamdulillah, hubungan dengan  besan saya di Krapyak, Jogjakarta, juga serupa. Anggap ini adalah cobaan,” jelasnya.

Kakak kandung Anas yang juga sekretaris Desa Ngaglik, Agus Nasirudin,  juga mengatakan hal serupa. Dia mengibaratkan posisi adiknya laksana pohon yang kini lagi tumbuh  menjulang. Semakin tinggi dahan, semakin kencang anginnya. “Saya yang mewakili keluarga tetap percaya Anas. Dia tidak seperti yang disangka orang-orang, dia hemat bicara,” ujarnya.

Menurut dia, prinsip nerima ing pandum yang ditanamkan ayahnya  hingga kini masih melekat. Anas juga tidak lupa daratan meski telah menjadi orang penting di negeri ini. Itu terbukti ketika pulang kampung, Anas masih menyempatkan diri  untuk nimbrung dengan tetangga dan teman kampungnya. “Biarlah yang memfitnah itu diingatkan sama Tuhan. Kami ikhlas dan mudah-mudahan  saja tetap diberi ketabahan,” kata Agus.
Setiap pulang kampung, ujar Agus, ada satu ciri khas adiknya, yakni tidak pernah  bicara tentang politik. Agenda utamanya hanyalah pulang kampung sambang keluarga dan tetangga. “Dan tak lupa ziarah ke makam ayah,” katanya lagi.  Hingga kini, keluarga belum berencana untuk berangkat lagi ke Jakarta. “Kami masih percaya  bahwa dia baik-baik. Semoga,” harapnya. (c1/nw/jpnn)

Ramadan Tetap Sibuk

Atiqah Hasiholan

Sehari-hari beraktifitas sebagai artis yang nyambi sebagai aktivis seni, Atiqah Hasiholan mengaku sudah agak kerepotan. Tapi itu tidak berarti dia akan menjalani Ramadan dengan setengah hati.

“Kayaknya aku tetap kerja seperti biasa aja deh,” selorohnya. Bila terlalu dibayangkan, katanya bulan puasa pasti akan terasa berat. Berbeda saat sudah dijalani. Kekasih aktor Rio Dewanto ini menilai akan banyak kenikmatan batinn bila seseorang bekerja keras sambil berpuasa.

“Kayak begini aja. Saya tidak akan merubah diri. Bulan puasa atau nggak, saya tetap menyibukkan diri,” cetusnya.
Bintang iklan sabun mandi ini juga akan memperhatikan cara berpakaian. Meski di luar Ramadan dia bilang jarang memakai pakaian seksi, tapi sikap menjaga diri untuk tidak menggoda orang akan diperhatikan betul.

“Saya memang jarang pakai yang mini-mini. Paling kalau ada undangan penting aja agak seksi. Tapi saya tetap jaga-jaga lah,” ujarnya.

“Saya juga nggak sembarangan kok pilih-pilih pakaian. Pokoknya selama puasa ini saya akan lebih coba mencocokkan pakaian dengan situasinya,” sambung Atiqah.

Bagaimana dengan job Ramadan? Atiqah bilang sudah ada beberapa tawaran. Tapi dia belum memutuskan mau ambil yang mana. “Ada beberapa pertimbangan,” tandas pemeran Berbagi Suami ini. (cr-4/rm/jpnn)

Tuah Kostum Merah-Hijau

Indonesia  vs  Turkmenistan

ASHGABAT- Bermain di kandang lawan memakai kostum merah-hijau di Olympic Stadium Ashgabat, Sabtu (23/7) malam WIB, timnas Indonesia mendapat berkah, dengan berhasil membawa pulang hasil imbang 1-1 Turkmenistan, di leg pertama babak kualifikasi Piala Dunia zona Asia putaran II.

Bertandang ke Olympic Stadium Ashgabat, timnas yang hanya berbekal persiapan serba darurat, Firman Utina dkk berhasil meraih hasil positif. Hasil ini membuat peluang timnas Merah Putih lolos ke babak berikutnya terbuka lebar. Sebab leg kedua akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Kamis lusa (28/7). Dengan hasil positif di laga away ini pasti akan membuat pecinta bola tanah air akan berbondong bondong memenuhi GBK. Dengan hasil 1-0 saja  Indonesia akan lolos ke putaran berikutnya.

Saat berangkat ke Ashgabat tim yang kini dibesut Wim Wijsbergen dan asisten Rahmad Darmawan itu diragukan. Tapi perjuangan yang ditunjukkan timnas Merah Putih di lapangan layak diapresiasi meski secara permainan sama sekali belum terlihat bentuknya.

Dalam pertandingan tadi malam pola timnas Merah Putih tidak kelihatan. Strategi  4-3-3 dengan kombinasi 4-3-2-1 seperti yang dirancang sebelum berangkat tidak jalan. Itu karena kondisi lapangan yang sungguh sangat tidak layak untuk menggelar pertandingan internasional. Seperti yang pernah dikatakan mantan pelatih timnas Alfred Riedl saat membawa timnas pra Olimpiade di stasion yang sama  awal tahun lalu. Saat itu pelatih asal Austria itu mengatakan jika lapangan Olimpic Stadium, Ashgabat adalah lapangan terburuk yang pernah dia lihat di sepanjang karir.

Di babak pertama, tuan rumah yang unggul stamina dan postur langsung tampil dengan permainan cepat. Itu membuat barisan belakang Indonesia berjibaku dan beberapa kali membuat pelanggaran di dekat kotak terlarang. Berawal dari pelanggaran itulah The Green, julukan Turkmenistan akhirnya berhasil menjebol Indonesia yang dikawal Ferry Rotinsulu lewat free kick V Krendelev

Tapi Indonesia yang tampil penuh semangat berhasil menyamakan kedudukan lewat sonteken pemain asal Persija Jakarta M. Ilham di menit ke-29 memanfaatkan kemelut di depan gawang Turkmenistan.

Tanpa mengecilkan peran pemain lainya, kehadiran Boaz Solossa di lini depan membuat timnas lebih bertaji dan menakutkan. Bertandem dengan Cristian Gonzales, pemain terbaik dan top scorer Indonesia Super League (ISL) musim 2010/2011 itu berkali-kali berhasil merepotkan benteng pertahanan tuan rumah.  Di menit ke-76 Indonesia mendapat keuntungan ketika striker tuan rumah A Gevorkyan mendapat kartu merah langsung setelah memukul salah satu pemain Indonesia di saat Turkmenistan bersiap melakukan tendangan bebas di depan gawang Ferry Rotinsulu.  Sayang, keunggulan jumlah pemain tak mampu dimanfaatkan Firman dkk untuk memenangkan pertandingan. (ali/jpnn)

Seorang PSK Pingsan Saat Diamankan

Dinkesos Sumut Gelar Razia Jelang Ramadan

MEDAN- Puluhan Pekerja Seks Komersial (PSK) dan pasangan mesum, anak jalanan, pengamen dan gelandangan terjaring razia petugas Dinas Kesejahteraan dan Sosial (Dinkesos) Sumut dari berbagai tempat, Sabtu (23/7) sore. Razia ini digelar dalam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1432 Hijriyah.

“Razia ini untuk memberantas penyakit masyarakat menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan dan membina tuna susila,” kata Kadis Kesos Sumut Robetson di sela-sela pengarahan terhadap para PSK yang terjaring di kantornya, Sabtu (23/7).
Menurutnya, razia ini dilakukan dengan target PSK yang biasa mangkal di kafe remang-remang dan hotel-hotel kelas melati di lima lokasi yakni Tuntungan, jalan lintas Medan-Binjai, Marelan, Jalan Pancing dan kawasan Tanjung Morawa. Dari razia tersebut, sedikitnya 59 PSK dan 10 pasangan mesum diamankan.

Dalam razia yang digelar tersebut, seorang PSK yang diamankan dari Hotel Melani di Jalan Medan Binjai jatuh pingsan. Bahkan, seorang yang mengaku pengelola hotel, sempat menghalangi petugas ketika hotelnya digerebak petugas.
Setelah merazia PSK dan pasangan meseum, sorenya, Dinkesos kembali meraziapara  gepeng dan anak jalan di perempatan jalan seperti Jalan Karatau, Jalan Pancing, Jalan Jalan AR Hakim dan kawasan Sei Kambing. (mag-7/jon)

Terbukti Disiksa, Polisi Bisa Dituntut

MEDAN- Keluarga Arlen Manalu alias Edo Manalu alias Tulang, warga Jalan Pintu Air IV, Kelurahan Kwala Bekala, Medan Johor, diimbau untuk membuat visum. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui penyebab kematian Edo yang tewas saat ditangkap polisi.

“Kalau hasil visum rumah sakit menyatakan korban tewas karena dianiaya, keluarga harus menuntut pertanggungjawaban dan melapokan kasus ini ke Propam Poldasu,” kata Wakil Direktur LBH Medan Muslim Muis, Sabtu (23/7).
Muis mengaku heran, mengapa tersangka bisa tewas saat hendak ditangkap polisi. “Ini kan hal yang mustahil. Kalau tidak dianiaya, tidak akan mungkin korban tewas begitu saja,” duga Muis.

Jika benar korban tewas akibat dianiaya polisi, Muslim mengaku tak habis pikir, mengapa tindakan aparat kepolisian dalam melakukan penggerebekan dan penangkapan masih memakai pola lama dengan melakukan penyiksaan.
Diketahui, Sat Narkoba Polresta Medan mengamankan seorang pengedar narkoba jenis sabu-sabu di Jalan Pintu Air IV, Kelurahan Kwala Bekala, Medan Johor, Jumat (22/7) pukul 10.30 WIB. Namun naas, tersangka tewas saat akan ditangkap. Penangkapan ini berawal saat petugas yang memantau tersangka sejak pagi melihat tersangka keluar rumah mengendarai sepeda motor. Ketika tersangka akan pergi petugas langsung berusaha menyergapnya.

Mengetahui dirnya akan diamankan, tersangka lari kembali ke rumah, dan terjadi saling dorong pintu rumah antara tersangka dengan petugas. Tak lama berselang, tersangka tampak lemas dan terduduk di lantai dan langsung tergeletak.
Akhirnya petugas memanggil keping, petugas Polsek Deli Tua dan keluarga tersangka untuk melakukan pemeriksaan terhadap tersangka. Ternyata tersangka telah tewas.(rud)

Lima Hari tak Ditangani Dokter

Pasien Lakalantas Ditelantarkan di RSUD dr Pirngadi Medan

MEDAN- Orangtua pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan Winto Suwito alias Tatok (51) dan istrinya Mariana Sofyana (42), warga Jalan Syarifuddin, Kecamatan Air Putih, Batubara, kecewa dengan pelayanan rumah sakit milik Pemko Medan tersebut. Pasalnya, anak mereka, Yoga Bagaskara (13), sudah lima hari tidak mendapatkan perhatian dari dokter, terhitung sejak Selasa (19/7) hingga Sabtu (23/7).

Diterangkan Tatok, anaknya sudah dua minggu di rawat di RSUD dr Pirngadi Medan. Yoga terpaksa dilarikan ke RSUD Dr Pirngadi Medan karena kritis setelah mengalami kecelakaan lalulintas. Akibat kecelakaan yang dialaminya, Yoga mengalami luka serius di bagian kepala dan kakinya.

Sebelumnya, Yoga sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Horas Insani. Selanjutnya, dia dirujuk ke RSUD dr Pirngadi Medan pada Kamis (7/7) lalu. Namun, sudah lima hari belakangan ini, anaknya tidak diperhatikan dokter yang menangani luka pada kakinya.

“Memang saya akui kalau saya orang miskin. Tapi saya sudah mengurus Jamkesda dan yang menyuruh saya ke ruangan ini pihak rumah sakit sendiri,” ungkap Tatok saat ditemui di Ruang 510 Lantai V, RSU Pirngadi. Dia juga menjelaskan, anaknya ditangani oleh dua orang dokter, yakni dokter yang menangani syaraf otak atau bagian kepala dan dokter yang menangani luka pada kakinya.

“Yang kami sesalkan, dokter yang menangani luka pada kaki anak kami ini. Karena, sudah lima hari ini tidak pernah memperhhatikan anak kami,” ungkapnya. Melihat kondisi anaknya tidak ditangani secara serius oleh dokter, Winto mengaku lebih memilih pulang dari pada berlarut-larut di rumah sakit. Apalagi, saat ini mereka tidak punya biaya dan sudah tak sanggup lagi membayar biaya selama berada di rumah sakit tersebut.

“Mau ditahan setahun atau dua tahun di rumah sakit ini, kami tetap tidak akan membayar biayanya, karena kami sudah tidak punya uang. Kemarin sudah kami ajukan Jamkesda, tapi pihak rumah sakit tidak menerimanya,” ucapnya.
Hal senada juga dituturkan Mariana, istri Tatok. Menurut Mariana, sebelum masuk ke rumah sakit, mereka sudah mengatakan kalau mereka pasien Jamkesda. “Sebelum masuk ke rumah sakit, kami bilang kalau ini masuk dalam biaya Jamkesda dan kami juga bilang Jamkesdanya sedang dalam pengurusan. Malah pihak rumah sakit memasukkan anak kami ini ke pasien umum. Kami tidak sanggup membayar biayanya. Beli resep saja kami tidak punya uang lagi. Jadi, lebih baik kami diizinkan pulang,” ungkapnya.

Sementara, Humas RSUD dr Pringadi Medan Edison Peranginangin membantah tudingan itu. “Tidak benar itu, karena kami menangani pasien secara serius, baik itu pasien umum maupun pasien Jamkesda atau Jamkesmas. Tidak ada dibeda-bedakan,” ujarnya.(jon)

Pembunuh Massal Norwegia Tertangkap

Korban Tewas Jadi 94 Orang

OSLO- Pelaku pengeboman dan penembakan masal di Norwegia yang total menewaskan 94 orang tertangkap kemarin (23/7). Pria yang oleh media setempat diidentifikasi sebagai Anders Behring Breivik itu dibekuk di Pulau Utoya, tempat pria 32 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai petani organik tersebut menembak mati 87 orang yang sedang mengikuti perkemahan anak muda yang dihelat Partai Buruh.

Meski belum dipastikan, diduga kuat serangan ganda yang merupakan serangan terburuk di Norwegia pasca-Perang Dunia II itu bermotif politik. Yaitu, ditujukan ke Partai Buruh, partai asal Perdana Menteri Jens Stoltenberg. Partai tersebut berkoalisi dengan Partai Sosialis Kiri dan Partai Tengah.

Dalam akun Facebook-nya, Breivik menyebut dirinya sebagai “Kristen”, “konservatif”, dan sangat tertarik pada permainan komputer seperti World of Warcraft dan Modern Warfare 2. Foto di akun tersebut menampangkan Breivik berambut pirang dan alisnya ditindik.

Keterangan dalam akun jejaring sosial itu memperlihatkan bahwa aliran politik Breivik yang ultrakanan berseberangan dengan rezim berkuasa di bawah Stoltenberg yang cenderung sangat kiri. Keterangan tersebut juga sama dengan informasi yang dirilis polisi.

“Dia (Breivik) memiliki kecenderungan politik kanan dan antimuslim. Selama pemeriksaan, dia kooperatif,” ujar Komisioner Polisi Sevinung Sponheim kepada stasiun televisi NRK sebagaimana dikutip AFP.

Tertangkapnya Breivik itu mengakhiri spekulasi yang beredar sebelumnya bahwa pelaku terkait dengan Al Qaeda. Kebetulan, Norwegia tengah mengadili dua terdakwa perencana teror yang terkait dengan organisasi radikal yang didirikan mendiang Osama bin Laden tersebut.

Selain itu, pekan lalu, Negeri Skandinavia tersebut menyidang seorang ulama kelahiran Iraq yang mengancam politisi negeri tetangga Swedia itu. Dia mengancam akan membunuh mereka jika sampai dideportasi.

Aksi keji Breivik diawali pengeboman di dekat gedung berlantai 17 di Oslo tempat PM Stoltenberg dan Menteri Keuangan Sigbjorn Johnsen berkantor pada Jumat sekitar pukul 16.00 waktu setempat (beda lima jam dari WIB). Keduanya selamat. Tapi, bom berkekuatan besar itu menewaskan tujuh orang dan melukai belasan lainnya.
Selang dua jam berikutnya, di Pulau Utoya yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Oslo, Breivik yang menyamar sebagai polisi mendatangi tempat perkemahan kader muda Partai Buruh yang dijejali 700 orang dengan menaiki feri. Mereka yang hadir dalam acara pembinaan kader itu rata-rata berusia 16 sampai 22 tahun.

Di tempat terpisah Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengirimkan pesan belasungkawa. Dia juga menegaskan, kekejian di Norwegia membuktikan sekali lagi bahwa penanggulangan terorisme harus menjadi tanggung jawab semua pihak.(c5/ttg/jpnn)

Suami Cemburu, Gorok Istri Hingga Tewas

TAPTENG- Imelda br Manalu (21) tewas digorok suaminya Ilham Yahya Hutabarat (27), Sabtu (23/7). Peristiwa itu dilakukan tersanga di kediamannya Gang Prona, Kelurahan Sarudik Kecamatan Sarudik Tapteng.

Jenazah korban pertama kali ditemukan mertuanya, Alimin Hutabarat. Saat ditemukan, posisi korban tengah terlentang di bawah tempat tidur dengan luka menganga di leher dan darah berceceran.

Kepada METRO TAPANULI (grup Sumut Pos), suami korban Ilham Yahya Hutabarat di Mapolsek Pandan mengaku nekat menghabisi nyawa istrinya dengan alasan dipicu rasa cemburu. Sebab ia mendengar istrinya akan menikah lagi dengan orang lain.

“Aku membunuhnya karena cemburu, karena mau nikah dia sama orang,” aku Ilham.
Ia mengatakan, subuh sebelum melakukan penggorokan leher istrinya, dia berada di rumah sejak hari masih terang. Bahkan malam itu, si korban masih sempat membawa anak mereka pijat dan si korban masih sempat menonton di rumah salah satu famili mereka hingga pukul 23.00 WIB. “Kemudian dia tidur di kamar dan saya menyusul ikut tidur di kamar,” ungkapnya.

Namun saat hari sudah subuh, dia pergi ke dapur rumah kediaman mereka dan mengambil sebilah pisau dapur yang ada di sana dan kembali ke kamar, sementara istrinya masih tertidur lelap. Saat itu juga, dia kemudian menggorok leher istrinya dengan menggunakan pisau dapur yang ada di tangannya hingga menyebabkan istrinya tewas.  Selain karena cemburu, kata tersangka, dirinya nekat menggorok leher istrinya karena stres ,  akibat tidak mendapat pekerjaan.
Sebelum ditangkap tersangka nyaris dimassakan warga . Ratusan warga juga melontarkan caci maki dan emosi dengan kelakuan tersangka yang tega menggorok leher istrinya.  Bahkan saat tersangka sudah diamankan di mobil dinas Polsek Pandan, massa sempat menghentikan mobil tersebut dan memaksa membuka pintu mobil. (tob/leo/smg)

Cerita dari Gorong-gorong

Cerpe:  Hasudungan Rudy Yanto Sitohang

Senja kembali datang dari lorong sudut kota. Senja yang menawar luka, membawa air mata darah, dan bara menyala-nyala. Coba engkau saksikan sendiri, ketika tiba-tiba darah dan air mata itu tumpah, membiru berbau busuk. Lalu anjing-anjing malam yang lapar datang berlari, menjilat-jilat dengan rakus. Tak ada yang peduli. Sungguh. Semua begitu asyik mengambil bagian, sisa hasil pesta para petinggi kota tadi malam. Bahkan saat pagi meninggi, mereka makin menjadi-jadi, seperti takut kehabisan jatah yang tak selalu datang setiap masa. Penduduk kota menyebut mereka: binatang senja yang lahir dari bawah kota. Para penghuni gorong-gorong.

Inilah sebuah cerita yang telah melegenda di kota kami.  Manusia-manusia yang telah dijadikan ‘binatang’ oleh penduduk Negeri Cahaya. Manusia-manusia terbuang dari kota impian. Tersingkir dari tanah perjanjian.

Tersebutlah sebuah hikayat, cerita tentang manusia yang lahir dari gorong-gorong di lorong sudut kota. Mereka telah lama diasingkan dan dibiarkan berkembang di sana. Sebagian petinggi kota berharap, penghuni gorong-gorong, satu-persatu mati ditelan waktu, agar tidak menyusahkan sebuah masa. Namun sebagian lagi malah menyatakan bahwa kehadiran penghuni gorong-gorong itu justru membawa peradaban. Karena dengan adanya mereka, riset dan penelitian seputar penghuni gorong-gorong akan menjadi karya ilmiah untuk dijadikan perbandingan kehidupan generasi mendatang, anak-anak di kota kami.

Entah darimana awal mulanya, engkau bisa saksikan sendiri, pemandangan yang sampai hari ini masih terlihat jelas. Di sana, di lapangan kota, sebuah tontonan tersaji begitu menyeramkan diiringi teriakan dan gelak tawa para penjagal maupun petinggi kota. Benar-benar memuakkan. Tapi justru menyenangkan bagi mereka yang bersorak gembira. Engkau bisa saksikan manusia-manusia yang di karantina, dibungkam, lalu perlahan-lahan dibunuh. Satu-sama lain mulai diadu ke tengah lapangan. Inilah sebuah pertunjukan gratis dipertontonkan para petinggi kota bagi penduduknya. Sebuah parade aduan manusia dari gorong-gorong.

Mereka dipaksa dan diajarkan untuk saling menindas, saling membunuh, saling memakan, dan jadi tontonan para manusia serakah. Mereka pun harus tinggal di pinggiran, di gorong-gorong, di lorong gelap atau tempat di mana matahari tak pernah bersinar. Dan justru di sana pula akan engkau temui ratapan yang begitu menyayat, tangis yang tak berhenti, maupun air mata yang terus mengalir bak anak sungai. Karena di sana pula hikayat ini tak pernah lelah ditulis, digambarkan, lalu menjadi kesaksian. Entah bagi siapa.

Cerita penghuni gorong-gorong semakin pilu di antara sekat-sekat kardus bermata sendu. Malam pun menjelang.
“Besok anak ini harus segera kau serahkan,” sahut lelaki itu pada istrinya.
“Ke mana?”

“Terserah.” Perempuan itu terdiam, tak sanggup meneruskan. Dinginnya malam telah membuat kaku seluruh tubuhnya. Matanya nanar menatap bayi di pangkuannya. Bayi itu tertidur lelap, tenang, setelah lelah menangis seharian sejak senja tiba. Lelaki itu menatap bara api yang menyala di depannya. Panasnya begitu terasa serupa helaan napas yang tak habis membakar waktu, seperti nyamuk-nyamuk dari neraka tak pernah lelah menggigit. Lalu mati  terbunuh. Berkalang tanah.

“Serahkan saja pada Tuan Levi.”
“Aku tak setuju! Anak ini hanya akan jadi budak baginya”
“Dari mana kau tahu,” selidik lelaki itu penasaran. Matanya tajam menatap istrinya.
“Entahlah. Tapi kudengar nasib anak Pak Sarmin setelah dititipkan di sana.”
“Apa dijadikan budak?”
“Anaknya kemarin ditemukan mati. Isi perutnya sudah tak lengkap lagi. Hati dan jantungnya, katanya hilang. Aku tak mau anak ini bernasib seperti itu,” sahut perempuan itu penuh tekanan. Lelaki itu terdiam. Hanya suara-suara jangkrik terdengar parau di luar.

“Apa kau yakin?” tanyanya lagi memastikan. Dia pun ikut-ikutan cemas.
“Begitulah kata orang-orang. Tapi apa kau ingin anak ini jadi binatang seperti kita?”  Lelaki itu menghela napas. Lamat-lamat di ujung lorong terdengar gelegak tawa histeris. Memang tangis pilu dan tawa kerap silih berganti memenuhi sepinya gorong-gorong. Kali ini, tangis dan tawa itu, milik Mpok Sarmi yang dipasung di dalam rumahnya. Mpok Sarmi jadi gila setelah satu-persatu anaknya dijual suaminya dan tak tahu bagaimana nasibnya.
Lelaki itu menatap istrinya. Sejuta iba hilang sudah. Setiap penghuni tak lagi memikirkan satu sama lain. Karena hidupnya sendiri berada di ujung tanduk kematian.
***
Walau senja memancarkan bara, para penghuni berusaha tetap tegar keluar-masuk gorong-gorong. Bau sampah, tikus-tikus yang bersilliweran menjadi teman sejati mereka. Apalagi di luar tak ada tempat diberikan, karena label sebagai binatang malam sudah disematkan. Bahkan untuk bermimpi sekalipun, tak akan pernah diberikan. Sedikitpun. Karena mimpi hanya milik orang-orang beradab di kota. Mimpi hanya menjadi barang mahal yang tak terpikirkan sama sekali.
“Aku bermimpi, anak ini dipelihara orang-orang beradab itu,” ucap istrinya.
“Jangan berpikir aneh-aneh!” sahut lelaki itu. Keduanya rebah di atas karung yang dibuat jadi alas tidur berlantai tanah.

“Aku hanya berharap…”
“Pengharapan punya orang bermartabat.”
“Aku memikirkan anak kita. Seperti katamu, aku ingin dia menjadi manusia, bukan binatang malam seperti kita,” ujar perempuan itu menegaskan.
“Tidurlah!”
“Tapi bukankah kita berdua bisa membesarkannya sendiri? Walau sedikit, tapi hasil pekerjaanku sebagai peminta-minta sudah lebih dari cukup,” bela istrinya.

“Suatu saat kau pasti digusur. Kau ingat, ketika kau bawa anak kita mengemis di persimpangan itu? Kau digaruk petugas. Bahkan anak ini hampir dirampas. Kau ingin itu terjadi lagi?” keluh lelaki itu. Ia ingat, bagaimana sampai pontang-panting membawa istri dan anaknya kembali dari tempat penampungan, ketika keduanya diangkut petugas. Bagi mereka, tempat penampungan ibarat neraka, walau orang-orang mengatakan tempat itu adalah tempat memanusiakan para binatang, tempat memasyarakatkan orang seperti mereka yang tinggal di gorong-gorong.
Tapi bagaimana memanusiakan orang seperti mereka kalau petugas di sana membawa peluru? Apa memanusiakan manusia harus pakai peluru? Ah, walau mereka binatang malam, tapi mereka tahu bahwa peluru hanya membuat nasib lebih buruk daripada seekor anjing malam.

“Kalau gitu aku akan melacur.”
“Melacur?”

“Ya, demi anak kita,” pintanya berharap. Lelaki itu semakin gelisah.
“Itu keputusanmu. Tapi menjual dirimu berbeda dengan si-Inah, temanmu yang tinggal di seberang jembatan itu.”
“Loh…apa bedanya?”
“Kau lihat! Dia menjual diri di losmen kelas melati. Sedangkan kau, paling-paling menjajakan dirimu di pinggir Kali Atas. Aku yakin tak banyak lelaki melirikmu. Paling-paling laku sama tukang gali proyek.”
“Itu pun sudah cukup.”

“Ongkos gubuk di pinggir kali saja sudah berapa, belum sewa tikar, pembersih, dan seember air dari anak-anak kali itu. Jadi berapa yang kau bawa pulang untuk beli susu anak kita? Tak sebanding.” Lelaki itu bergumam. Ia sedang berhitung, untung ruginya.
“Jadi kau tak setuju,” sahut istrinya memaksa.

“Sudahlah, sudah malam. Kita tidur saja. Besok kita cari jalan keluarnya.” Lelaki itu mendengus panjang. Ia kehabisan akal melihat istrinya. Sepertinya tak rela berpisah dengan anaknya.

Ah, mengapa ia harus berharap? Bukankan pengharapan hanya milik manusia? Bukankah binatang malam seperti mereka dilarang bermimpi? Dalam sedu-sedan itu, mereka tampaknya hanya bisa menjalani hidup yang diterima, yang membelenggu setiap kali mimpi datang. Hidup sudah diperas oleh manusia-manusia kota dan hanya sisa-sisa yang tertinggal. Sisa-sisa yang menjadi rebutan seperti tulang. Kemudian mereka akan saling bunuh satu sama lain untuk mendapatkannya, karena demikianlah jalannya. Jalan para binatang malam, penghuni gorong-gorong.
Sudahlah. Mereka, para binatang malam harus segera tidur: jangan bermimpi apalagi berharap, karena senja akan pulang ke peraduannya. Karena mentari pagi pun tidak akan dibagi kepada mereka. Karena penghuni gorong-gorong tak terdata dalam peta harapan.

***
Lelaki itu bergegas melangkah pulang. Ia ingin secepatnya sampai di rumah, dan menemui istrinya. Pagi tadi sebelum pergi, ia dan istrinya telah sepakat siapa mengantar anaknya itu.
“Kau sendiri yang pergi, aku ada urusan,” pinta lelaki itu pada istrinya.
“Urusan apa?”
“Cari uang.”

“Kalau ditanya namanya, aku harus bilang apa,” tanya istrinya. Lelaki itu terdiam. Sejak anak mereka lahir, tak terpikirkan sama sekali untuk memberinya sebuah nama. Mereka terlupa. Tapi bukankah mencari nama saja sudah jadi persoalan baru bagi mereka, jadi tambahan beban yang seharusnya tidak mereka tanggung. Nama bukanlah penentu rejeki seseorang, jadi kenapa pula mereka harus repot memikirkan nama anaknya?
Lelaki itu berpikir keras.
“Terserah kau saja. Asal jangan diberi nama:Tikus,” sahutnya spontan. Ia merasa nama itu lebih rendah, lebih hina daripada nasib mereka, walau orang kota selalu memanggil  mereka dengan nama itu.
Tapi lelaki itu kembali bingung. Barusan ia membohongi takdirnya, karena ia telah memelihara harapan dalam dirinya. Huh…

Sejak ia tahu, bahwa gorong-gorong tempat mereka tinggal akan dibersihkan para petinggi kota, maka ia dan istrinya ingin anaknya diasuh orang kota. Mereka tidak ingin anaknya menjadi binatang malam. Dan berharap anaknya jadi manusia yang kelak dipandang layak punya mimpi.
Lelaki itu tiba di rumah. Istrinya tersenyum menyambutnya.
“Sudah kau serahkan anak itu?” tanyanya dengan wajah berpeluh.
“Aku tidak jadi pergi.”

“Loh…” Lelaki itu menatap khawatir, mengharap penjelasan dari istrinya.
“Aku berikan anak itu kepada perempuan yang menawarnya. Menurutku, justru di tangannya anak kita lebih berharga. Karena perempuan yang menawarnya itu telah menukarnya dengan uang sebanyak ini,” kata istrinya berbinar sambil menunjukkan segepok uang ratusan ribu yang terikat rapi. Lelaki itu terkejut.
“Kenapa…!” Matanya melotot kea rah istrinya.

“Aku…Aku tak yakin. Aku takut anak itu tak punya harapan di tempat itu. Sedangkan perempuan yang menawarnya, datang membawa harapan walau aku tahu, dia akan hilang dan kita tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi setidaknya anak itu menjadi manusia beradab. Tak seperti kita,” kata istrinya memelas.
Lelaki itu duduk terpaku. Kepalanya menunduk. Ia tahu, mereka tak boleh punya mimpi, apalagi berharap anaknya akan kembali. Karena mereka telah membiarkan takdir membawanya pergi. Direnggut sebuah masa yang memayungi mereka ketika saling memangsa satu sama lain, bagai binatang malam di dalam gorong-gorong.
Medan, Akhir Maret 2011

 

Herman Felani Ditangkap KPK

JAKARTA- Aktor film era 1980-an, Herman Felani, Sabtu (23/7) malam ditangkap tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejak pukul 20.00 Wib tadi malam, Herman menjalani pemeriksaan intensif di gedung KPK, Jakarta. Herman, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka perkara suap proyek penayangan iklan Biro Hukum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada pertengahan Februari 2011 itu, ditangkap di kawasan Pondok Gede.

“Ditangkap di Pondok Gede, sekarang sudah dibawa di gedung KPK,” ujar sumber koran ini yang menyaksikan penangkapan Herman, Sabtu (23/7) malam. Dia enggan menceritakan lebih detil bagaimana kondisi Herman saat ditangkap.

Sebelumnya, saat mengumumkan penetapan Herman sebagai tersangka pada 25 Februari 2011, Juru Bicara KPK, Johan Budi menjelaskan, Herman diduga  telah memberikan sejumlah uang suap kepada sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tujuannya, untuk meloloskan proyek iklan yang didanai APBD DKI tahun 2006-2007.(sam)