27 C
Medan
Friday, April 10, 2026
Home Blog Page 15050

Sempat Kehilangan Semangat Hidup

DR Hj Yustini Amnah Lubis, MHum

Pahit dan manis kehidupan sudah dirasakan DR Hj Yustini Amnah Lubis, MHum, Ketua PGRI Sumut. Bahkan ia sempat kehilangan semangat hidupnya saat ditinggal suami tercinta, H M Dahlan AH (politikus dari PPP)untuk selama-lamanya.

Meski tertatih-tatih membangun semangat hidupnya kembali, tapi Dosen Pengajar Bahasa Inggris di UMSU ini akhirnya mampu melewati semua itu dan bangkit kembali menata hidupnya.

“Hidup merupakan pelajaran. Dan pelajaran yang paling penting dibagi adalah pengalaman dan berguna bagi orang lain,” kata DR Hj Yustini Amnah Lubis, Dosen Pengajar Bahasa Inggris di UMSU dan Ketua PGRI Sumut untuk periode 2009-2014.

Dalam hidupnya, tidak semua berjalan mulus. Terutama ketika selama 33 tahun membina rumah tangga dengan sang suami (sebelum meninggal), mereka tidak juga dikaruniani anak. “Itulah hidup, semua itu rahasia Tuhan. Kenyataannya Tuhan tidak memberikan kami keturunan,” ujarnya mengenang.

Baginya, sang suami yang telah meninggal pada 2004 silam telah membuka pikirannya, bahwa anak bukan suatu tujuan dalam rumah tangga. Rumah tangga adalah mencari kenyamanan dan teman yang dapat berbagi. “Sebagai wanita, saya tentu merindukan kehadiran buah hati. Padahal kata dokter kami berdua sehat wal afiat. Tetapi cara berfikir suami membuka fikiran saya bahwa segala sesuatu dalam hidup harus dinikmati dan diterima dengan ikhlas,” ujarnya.
Hal ini jugalah yang membuatnya ikhlas ketika ditinggal suami selama-lamanya karena sakit jantung koroner yang telah diidapnya selama 15 tahun. “Awalnya saya berfikir, saya pasti sakit-sakitan karena ditinggal suami. Alhamdulilah Tuhan masih memberikan kesehatan untuk saya meski duka saya sangat mendalam ditinggal suami,” ujarnya.
Pengalaman ini yang membuat dirinya tidak pernah menyesali apa yang terjadi padanya. “Saya tidak pernah mengeluh pada Tuhan dengan takdir yang diberikan Nya pada saya. Saya hanya ikhlas dan bersyukur serta intropeksi diri saja,” bilangnya.
Sejak tahun 1977 yang lalu, wanita kelahiran Perbaungan 1948 ini telah menjadi pendidik. Bahkan ia sempat ngikuti pertukaran guru di Australia selama 1 semester (6 Bulan) pada tahun 1996 yang lalu.

Menjadi pengajar adalah pilihannya karena sejak kecil dirinya sudah terlibat secara tidak langsung dengan dunia pendidikan ini, “Ayah saya seorang guru, makanya saya juga ingin menjadi seorang guru. Mungkin juga karena saya seorang perempuan, kodratnya untuk mendidik,” ujar anak kedelapan dari delapan bersaudara ini.

Bagi, menjadi tenaga pendidik adalah nikmat anugrah yang diamanahkan Tuhan kepadanya. Makanya, wanita yang suka berorganisasi ini memiliki visi untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan. “Pendidikan kita tidak balance. Pendidikan kita hanya memberikan pengetahuan atau dengan kata lain, sistem transfer. Pendidikan kita tidak didukung dengan praktik, pelatihan dan penelitian,” bilangnya.

Kesukaanya akan berorganisasi mengantar wanita ini menjadi Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumut. “Saya diberi suami yang juga suka berorganisasi, hal ini membuat saya lebih mudah untuk berbicara tentang apa saja ke suami saat itu,” bilangnya.

Yustini menyadari, kegemarannya berorganisasi membuatnya lebih terbuka dalam berfikir. “Saya sangat menyukai dunia yang saya geluti, mulai dari mengajar dan berorganisasi, bekerja akan membuat kita berguna untuk orang lain, dan organisasi dapat menjadi penyalur pemikiran kita,” katanya.

Selain itu, bekerja baginya untuk melupakan segala hal yang sedih dalam hidup. Karena itu, menjadi wanita karir adalah pilihannya sehingga ia sangat menikmatinya. “Bekerja membuat saya masih semangat hingga saat ini. Mengabdi menjadi tenaga didik adalah pilihan hidup saya. Saya hanya bisa berharap, kelak nanti anak-didik saya bisa menjadi orang yang berguna dan bisa mengabdikan dirinya untuk bangsa ini,” pungkasnya.  (mag-9)

Ini Dunia Nyata, Bukan Negeri Dongeng

Oleh: Ramadhan Batubara

Lalu, sang petani itu tersenyum. Rasa kejut karena sang ikan bicara langsung sirna ketika sesosok putri muncul dihadapan. Janji terbentuk, ada kepantangan yang tak bisa dilanggar agar senyum tadi tak menjadi kecut.

Singkat kata, petani dan putri itu menikah. Asal usul disimpan rapat jika tidak, bisa kualat. Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya  kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri petani melahirkan seorang bayi laki-laki; tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat. Menariknya, ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Dan, kisah ini menuju konflik. Pada adegan sang anak mengantarkan makanan ke si petani,  dongeng ini menyentuh isi kepala. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubuk. Si petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, dia melihat anaknya sedang tidur di gubuk.
Amarah tak bisa ditahan. Keluarlah kalimat yang wajib ditahan. “Tidak tahu diuntung! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!”
Seketika, sang istri yang jelmaan ikan menghilang berikut dengan sang anak. Dari bekas jejak kaki mereka menyembur air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan, akhirnya membentuk sebuah danau; yang akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Senyum petani pun menjadi kecut.

Terus terang saya kutip dongeng asal muasal Danau Toba ini terkait dengan Hari Anak yang jatuh pada 23 Juli. Pasalnya, dari dongeng atau cerita rakyat lainnya begitu banyak kebijakan (kebijakan, dalam arti kata ini belum mengalami pelebaran makna). Ya, kearifan yang muncul dari cerita masa lalu itu adalah sesuatu yang tak bisa dibantah. Sayang, hal ini kini semakin menghilang. Ayolah, berapa persen orangtua di negeri ini yang masih mendongengkan anaknya sebelum tidur? Di mana letak buku dongeng di toko buku yang bangga memajang buku cerita anak impor yang sejatinya kurang pas dengan budaya negeri ini? Ukh, ramalan si Belalang makin kalah dengan kemampuan sihir mahadahsyat milik Harry Potter kan? Ya, air di baskom tentunya sulit menandingi tongkat sihir kan?

Tapi sudahlah, kembali ke dongeng Danau Toba, kalau ditarik benang merahnya ke zaman kini, petani yang tidak bisa memegang janji adalah karakter yang begitu sering muncul dalam kehidupan. Padahal, sebagai petani yang sebatang kara, yang tidak memiliki istri, dan pemegang duka cerita telah tertolong oleh kehadiran putri ikan itu. Akhirnya, senyum mengembang ia gadaikan. Perhatikanlah sekeliling, bukankah kisah semacam itu begitu banyak di zaman sekarang?

Sederhananya begini, karakter petani tadi adalah karakter orang yang cenderung seperti kacang lupa kulitnya. Ya, dia lupa pada sesuatu yang telah membuatnya menjadi ‘orang’. Teringat itu, saya pribadi terketuk dengan kisah Nazarudin sang mantan bendahara umum Partai Demokrat. Ayolah, siapa yang kenal Nazarudin sebelumnya; dia hanyalah lelaki muda yang berasal dari Simalungun, sebuah kawasan yang begitu jauh dari ibukota negara. Nah, setelah menjadi ‘orang’ dia malah berulah, menjadi sebuah duri yang menancap partai. Tapi, muncul pula pertanyaan, siapakah Nazarudin itu? Maksudnya, diakah sang petani? Putri ikan? Atau malah, anak ikan? Pasalnya, si Nazarudin ini sejatinya bisa kita padankan dengan tiga karakter yang ada pada dongeng Danau Toba tadi.

Baiklah, anggaplah dia sebagai petani. Maka, sebagai anak Simalungun yang sebelumnya tidak dikenal, seharusnya dia bersyukur bisa merasakan kemewahan ibukota. Tentunya, untuk mencapai itu, ada semacam janji atau deal-deal yang memang harus dia pegang. Bak petani, Nazarudin malah menuhankan amarah ketika ‘nasi’ yang diantarkan padanya tak sampai. Hingga, dia pun bernyanyi. Maka, tunggulah akan ada ‘Danau Toba’ yang akan tercipta bukan?
Sebagai putri ikan, Nazarudin bisa dikatakan sebagai penolong Partai Demokrat. Di sini berarti Partai Demokrat menjadi petani. Nah, sebagai penolong, tentunya dia marah ketika Partai Demokrat tak menepati sebuah ‘janji’. Maka, dia pun bernyanyi. Dan, siap menyemburkan ‘air’ yang kemudian menjadi ‘Danau Toba’. Lalu, bagaimana jika Nazarudin sebagai anak ikan?

Hm, ini sedikit menarik karena sebagai anak ikan, Nazarudin adalah bentukan dari kesepakatan petani dan putri ikan. Maka, bisa dikatakan petani dan putri ikan adalah pengejawantahan elite politik yag bernaung di Partai Demokrat dan mungkin juga partai lain, juga pemegang kekuasaan. Sebagai anak yang memiliki lapar tak berkesudahan, tentunya Nazarudin pantang melihat makanan kan? Jadi, ketika sang putri ikan menyuruhnya mengantarkan makanan, fiuh, dia tidak bisa menahan diri. Dia tentunya sekadar menuntaskan rasa lapar. Sejatinya dia tidak tahu dengan janji atau deal-deal yang telah tercipta antara petani dan putri ikan. Tidak ada pendidikan yang diberikan orangtuanya terkait batasan agar janji tetap menjadi janji. Maka, ketika dia menghilang akibat palanggaran yang dilakukannya, tentunya dia menjadi korban. Dia pun bernyanyi. Dan, dari kepergiannya menyembur ‘air’ lalu membanjir hingga menjadi ‘Danau Toba’.  He he he….

Begitulah, dongeng maupun cerita rakyat secara umum memang menarik untuk dikaji lebih mendalam. Para pencipta di zaman dulu seakan telah meramalkan segala sesuatu di masa depan. Maka, tidak berlebihan jika orang pintar cenderung memandang ke masa lalu untuk mengambil langkah ke depan. Padahal, sekilas banyak orang memandang dongeng atau cerita rakyat sekadar cerita sebelum tidur saja. Fiuh. Lucunya, sisi otak saya yang lain malah menganggap petani, putri ikan, dan anak ikan sebagai pahlawan. Ya, bagaimana tidak, seandainya tak ada mereka, bukankah Danau Toba tak ada? Lalu, apa yang harus dibanggakan Sumatera Utara? Bukankah Danau Toba telah mengangkat nama provinsi ini hingga ke tingkat dunia? Ah… terserahlah.(*)
23 Juli 2011

Voli Yes, Polwan Oke

Sheila Maulidina

LUBUK PAKAM-Sebagai anggota tim bola voli remaja, Sheila Maulidina (16) terpaksa merelahkan waktu bermainnya ditukar dengan berlatih bola voli. Sepekan tiga kali jadwal latihan yang digelutinya di klub bola voli TVRI Medan. “Kalau mau berhasil harus kerja keras dan berusaha,” tutur siswa kelas III SMA Negeri 15 Medan itu, saat ditemui di sela-sela kejuaran provinsi bola voli junior PLN Sumut Cup-I tahun 2011 Se-Sumatera Utara yang digelar di GOR Baharuddin Siregar.

Bagi keluarga Sheila olahraga bola voli sudah tidak asing lagi. Pasalnya orang tuanya Sudantyo Muliadi pernah memperkuat tim bola voly PT Pusri Sumut. Sebelum didaftarkan menjadi anggota klub bola voli TVRI Medan, Sheila Maulidina bersama saudara kembarnya Sheili Maulidini dilatih dasar-dasar bermain voli dipekerangan rumahnya di Jalan Puskemas I Komplek Grand Amalia Medan Sunggal.

Setelah memahami dasar dasar bermain voli, Sheila Maulidina didaftarkan ke klub bola voli TVRI Medan pada usia 13 tahun. Klub yang ditanggani pelatih kepala Sugianto Asta mengemblengnya selama empat tahun.

Agar mematangkan kemampuanya diolahraga bola voli, Sheila Maulidina dipercayai memperkuat tim PBVSI kota Medan remaja putri. Semenjak masuk PBVSI berbagai kejuaran diikuti remaja yang memiliki cita-cita menjadi Polwan, dan  bermain voli sampai tua. ”Itulah cita-cita saya,” katanya. (btr)

Tanjung Balai Kandaskan Tapsel

Kejuaraan Provinsi Bola Voli Junior “PLN Sumut Cup-I”

LUBUK PAKAM- Tim bola voli putra Tanjung Balai terlalu tangguh bagi Tapanuli Selatan (Tapsel). Kejuaraan PBVSI tingkat junior “PLN Sumut Cup-I tahun 2011 se-Sumatera Utara ini, Tanjung Balai menang dengan skor 3-1 (25-12, 25-20, 18-25, 25-19) digelar GOR Baharuddin Siregar, Kamis (21/7) sekira pukul 17.00 wib.

Sejak awal tim Tanjung Balai sudah melakukan serangan bertubi-tubi. Smash tajam yang dilakukan pemain Tanjung Balai tak mampu dibendung tim Tapsel.

Waliardi kapten tim Tanjung Balai yang mendapat arahan dari pelatih Irwan Siujinto mampu menerapkan intruksi yang diberikan. Hasilnya tim Tanjung Balai menang pada set pertama dengan poin (25-21).
Set kedua keberuntungan kembali berpihak ke tim Tanjung Balai dan mengalahkan tim Tapsel dengan poin (25-20).

Dua kemenangan yang diperoleh Tanjung Balai tidak menyurutkan serangan Waliardi dkk. Smash tajam yang menusuk jantung pertahanan tidak mampu diblok Tapsel.

Namun Tapsel tidak menyerah begitu saja. Pelatih Tapsel Ardi Siswanto menginstruksikan anak didiknya agar berkonsentrasi menghadapi permainan lawan.  Hasilnya terlihat pada set ketiga, Tapsel mencuri poin dan unggul (18-25) dengan mengalahkan tim Tanjung Balai.

Berbekal kemenangan diset ketiga, Tanjung Balai tidak mau memperlama kemenangan buat timnya.  Waliardi dkk kembali menyusun serangan balasan dengan mengandalkan pukulan-pukulan keras yang langsung menusuk jantung pertahanan lawan.

Akibatnya  tim Tapsel yang dimotori kapten Zulharil, terpaksa jatuh bangun untuk menyelamatkan wilayah  dari serangan tim Tanjung Balai. Hasilnya tim Tanjung Balai menuai poin (25-19) atas kekalahan tim Tapsel.

Pertandingan sebelumnya, Kamis (22/7) sekitar pukul 20.00 wib tim Putra Medan versus Labuhan Batu juga berakhir dengan skor 3-1 (22-25, 25-23, 25-15,25-23). Kemudian pertandingan selanjutnya, Jumat (23/7),  tim Putri Medan kalahkan Labuhan Batu  skor 3-0 (25-18, 25-17, 25-21).
Tim putri Tanjung Balai tahkluk dari tim Pematang Siantar dengan skor 0-3 (15-25, 18-25, 14-25). Demikian halnya tim putri Deli Serdang tundukkan tim Asahan dengan skor 3-0 (16-25, 15-25, 14-25).

Pertandingan lainnya, tim putra Langkat harus mengakui keunggulan tim Asahan. Asahan menang dengan skor 0-3 (20-25, 20-25,23-25) dan tim putra Tapsel kalah melawan Tanjung Balai dengan skor 1-3 (21-25, 20-25, 25-18, 19-25). (btr)

Perbakin Sumut Gelar Safari Wisata Buru 2011

MEDAN-Kapoldasu Irjen Pol Drs Wisjnu Amat Sastro SH secara resmi membuka Kejuaraan Daerah (Kejurda) Safari Wisata Buru 2011 di ruang Tri Brata Lantai IV Mapoldasu, Kamis (21/7) siang. Peresmian ditandai dengan penyerahan senjata berburu oleh Kapoldasu kepada peserta berburu.

Pembukaan yang dihadiri oleh Penasehat Perbakin Sumut H Anif dan pejabat utama Poldasu tersebut juga dilanjuti dengan pelepasan peserta di halaman Mapoldasu menuju lokasi berburu yang akan berlangsung di kawasan hutan kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara.

Kapolda sendiri mengungkapkan rasa simpati dan bangganya dengan pelaksanaan Safari Wisata Buru ini. Menurutnya, event olahraga ini mewujudkan rasa peduli antar sesame karena bertujuan untuk meringankan beban petani. Safari Wisata Buru sendiri memang merupakan agenda tetap Pengprov Persatuan Olahraga Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Sumut yang tujuannya selain untuk mengasah dan meningkatkan prestasi berburu, juga untuk membasmi hama babi hutan.

“Even berburu sangat besar manfaatnya bagi para petani yang kerap mengalami kerugian karena lahan pertaniannya diserang babi hutan. Saya berharap, even seperti ini dilakukan juga oleh pengurus olahraga lainnya,” terang Kapolda saat memberi pengarahan kepada para peserta buru.

“ Para peserta harus benar-benar memahami, mempedomani, dan melaksanakan etika berburu. Saya berharap, even seperti ini dapat lebih sering digelar. Hasil yang bagus tentunya akan memberi manfaat kepada para petani,” tambah Kapolda.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Pengprov Perbakin Sumut Musa Idhishah mengatakan, Safari Wisata Buru tahun ini mendapat sambutan antusias yang  terbukti dengan jumlah peserta yang membludak sebanyak 58 atlet yang berasal dari klub Anugerah, Minas, Pecinta Alam, Hunter, Cakrawala Labuhan Batu, Rajawali, Pengcab Perbakin Langkat, Simalungun, dan Labuhanbatu.
Selain itu, pria yang akrab disapa Doddi itu pun mengungkapkan, pada gelaran kali ini pihaknya merangkai kegiatan bhakti sosial dan membagikan 500 paket sembako.

Kegiatan ini juga digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-65 Bhayangkara, yang akan memperebutkan tropi bergilir Kapoldasu. Ia juga menegaskan, setelah di Tapsel, Palas, dan Paluta, Safari Wisata Buru masih akan digelar jelang akhir tahun di kawasan hutan Madina. Doddi juga menjelaskan, pada even kali ini ada tiga petembak muda yang ikut ambil bagian, yakni masing-masing Firman, Rino, dan Rolan. Ketiganya diharapkan akan menjadi generasi penerus para atlet buru Sumatera Utara.

“Even kali ini cukup istimewa karena juga dihadiri tiga petembak senior dari DKI Jakarta. Mereka ikut dalam kelompok eksibisi, jadi tidak ikut bertanding. Hanya saja, mereka ingin meninjau lokasi buru di Sumatera Utara,” ungkap Doddy lagi.

Selain memperebutkan piala bergilir Kapoldasu, gelaran Safari Wisata Buru yang  berlangsung sejak 21 hingga 25 Juli ini menyediakan hadiah utama satu unit sepedamotor Yamaha Mio. Pertandingan sendiri akan dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok perorangan dengan penilaian berdasarkan jumlah beratnya dan beregu dinilai berdasarkan jumlah banyaknya. (jun)

Dispora Medan Gelar Fun Bike

MEDAN- Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Medan akan menggelar fun bike. Even itu digelar terkait HUT Kota Medan dan Yon Kavaleri dan menyambut bulan suci Ramadan 1432 Hijriyah.
Even yang akan digelar Minggu (24/7) mendatang akan diramaikan dengan aktivitas fun bike, atraksi sepeda fixi dan paint ball. Start dimulai di Jalan Sudirman tepatnya di rumah dinas Wali Kota Medan.

“Even ini juga diikuti atlet Aceh, Pekan Baru, dan lainnya. Selain itu juga akan diikuti Wali  Kota Medan Drs Rahudman Harahap MM, serta Wakil Wali Kota Medan Dzulmi Eldin MSi, Sekda Syaiful Bahri, Muspida serta unsur Yon Kaveleri Asam Kumbang,” kata Kadispora Medan, Hanas Hasibuan. (omi)

Petenis Sumut Mendominasi

 Tenis Remaja Sumut Bangkit 2011

MEDAN – Pertandingan hari pertama Turnamen Nasional Tenis Remaja Sumut Bangkit 2011, Jumat (22/7), belum menunjukkan persaingan ketat, seiring belum tampilnya para unggulan setelah langsung mendapat bye ke perempatfinal.

“Duel ketat bakal berlangsung di hari kedua, Jumat (23/7) ini, di mana semua nomor telah memasuki babak delapan besar dan akan dilanjutkan dengan pertandingan semifinal,” ujar Koordinator Pertandingan, HA Mulyadi, kemarin (22/7).

Di kelompok bergengsi U-18 putra, dua petenis unggulan pertama dan kedua asal Sumut Fernando Bangun dan Habibi Yasin memastikan tiket ke babak delapan besar setelah mendapat bye. Selain kedua petenis itu, Sumut juga meloloskan M Alfiansyah, Fiky Muzakir, dan  Mamvy Pratama setelah kemarin menang WO atas lawan-lawannya.

Petenis Sumut lainnya, M Yusuf Siahaan, turut melaju ke perempatfinal setelah menaklukkan Alfa Harryoga (Sumbar) 6-2, 6-0. Sukses Yusuf gagal diikuti rekannya Catur Mahendra yang harus menyerah dari petenis Sumbar Gamma Haddyoga 2-6, 4-6.

Di kelompok U-16 putra, petenis Sumut juga mendominasi babak delapan besar. Pada pertandingan hari pertama kemarin, lima petenis Sumut meraih kemenangan lewat M Rizky Hisyam, M Ridwan, Chairun Abdi, Hardiwa Anugrah, dan M Angga Maulana.

Sayang, sukses lima petenis Sumut di kelompok U-16 itu gagal diikuti atlet Sumut lainnya M Habib Akbar Daulay, yang dipaksa menyerah oleh Ragil Wahyudiono (Aceh) dengan skor telak 6-0, 6-0.
Turnamen Diakui Pelti (TDP) itu dibuka resmi Plt Gubsu Gatot Pujonugroho ST. Dalam sambutannya, Gatot berharap event yang diikuti 70 peserta dari Pulau Sumatera itu dapat meningkatkan graih pembinaan klub-klub di Sumut.

“Turnamen ini tentu menjadi moment penting meningkatkan prestasi atlet Sumut. Kepengurusan baru Pelti Sumut diharapkan bisa mengakomodir pembinaan di klub-klub lewat jalinan kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta,” ucap Gatot.

Ketua Pelti Sumut, Indra Alamsyah, mengatakan turnamen tersebut menjadi rangkaian acara pelantikan kepengurusan Pelti Sumut periode 2011-2016 di Medan Club, Sabtu (23/7) malam.
“Kita ingin sukses dalam pelaksanaan dan sukses dalam prestasi. Itu adalah target yang kita canangkan,” bilang Indra. (jun)

Pemko Medan Tantang Indian Football

MEDAN-Kesebelasan Pemko Medan berhasil melangkah ke partai final turnamen sepak bola old crack memperebutkan Piala Pangkosek Marskal Pertama H Bonar Hutagaol.
Itu terjadi setelah kemarin (22/7) pada babak semifinal, tim binaan Drs Azzam Nasution menang adu penalti atas tim unggulan DPRD Sumut.

Adu tendangan penalti terpaksa dilakukan karena saat wasit meniup pluit panjang tanda pertandingan berakhir, kedua tim berbagi angka imbang 2-2. Dua gol bagi Pemko Medan dilesakkan Nasib Rayadi dan Hamzah, sedangkan gol DPRD Sumut dilesakkan Mukhlis dan Alfinus.

Nah, untuk menentukan pemenang maka dilakukan adu tendangan penalti. Pada adu tos-tosan ini penjaga gawang Pemko Medan Aries Rinaldi mampu menghempang tiga tendangan yang dilakukan pemain DPRD Sumut. Sementara itu, empat algojo yang disiapkan Pemko Medan mampu menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga pada babak adu penalti ini tim Pemko Medan unggul dengan skor 4-1.

Dengan hasil ini maka pada partai final yang berlangsung hari ini (23/7) di lapangan sepak bola Kosek Medan, Pemko Medan akan menghadapi tim old ctack Indian Football, yang pada pertandingan sebelumnya menang 8-6 atas Bank Sumut.
Terkait peluang timnya pada pertandingan final nanti manejer tim Pemko Medan Drs Azzam Nasution mengaku optimis dapat menundukkan lawannya.

“Harus tetap optimis. Apalagi pada pertandingan sebelumnya kami juga mampu mengalahkan beberapa tim hebat, salah satunya kesebelasan Albatros. Jadi, tidak ada alasan untuk kalah dari mereka (Indian Football, Red),” bilang Azzam.
Rencananya, partai final akan dilaksanakan pada pukul 15.00 WIB di lapangan sepak bola Kosek Medan. (ful)

Adebayor Makin Dikucilkan

EMMANUEL Adebayor jelas tidak seberuntung Carlos Tevez sekalipun keduanya sama-sama masuk daftar lego Manchester City. Jika Tevez masih saja dimanjakan, tidak demikian dengan Adebayor. Setelah tidak disertakan dalam tur pramusim ke Amerika Serikat (AS), Adebayor kini dipaksa berlatih dengan tim junior.

Adebayor tidak bisa mangkir dari latihan itu karena masih terikat kontrak dengan City. Dalam draft kontrak yang diteken Juli 2009, striker berkebangsaan Togo bakal bertahan di Eastlands sampai Juni 2014. Selain itu, apabila mangkir, Adebayor bakal didenda dua kali gaji (300 ribu pounds atau Rp 4,1 miliar).

Situasi itulah yang membuat Adebayor sangat berharap Tottenham Hotspur segera merekrutnya. Ya, pelatih Spurs -sebutan Tottenham- Harry Redknapp baru saja mengatakan berniat mendatangkan Adebayor. “Saya sudah berbicara dengan chairman Daniel Levy tentang kemungkinan mendatangkannya dengan status pinjaman.” ujar Redknapp di sela tur pramusim Spurs di Afrika Selatan kepada The Guardian. “Tapi jika bisa mendatangkannya secara permanen, saya akan lebih senang,” imbuhnya. (dns/jpnn)

Semoga tak Jadi Lumbung Gol

Turkmenistan vs Indonesia

JAKARTA – Apa jadinya jika timnas Indonesia menjalani laga internasional dengan persiapan apa adanya? Hasilnya akan diketahui ketika malam nanti Firman Utina menjalani pertandingan leg pertama babak kualifikasi Piala Dunia zona Asia putaran II melawan tuan rumah Turkmensitan di Ashgabat disiarkan langsung  RCTI malam ini pukul 20.30 WIB.

Karena kisruh perebutan kekuasaan di PSSI, persiapan timnas menyongsong laga penting ini praktis hanya dilakukan lima hari. Tak hanya itu, mental pemain juga terganggu dengan diberhentikannya pelatih Alfred Riedl sebelum pemusatan latihan dimulai. Pelatih asal Austria itu digantikan oleh pelatih asal Belanda Wim Wijsbergen.

Timnas berangkat ke Turkmenistan dengan kondisi stamina tidak siap untuk bermain all out selama 90 menit. Fisioterapis Mathias Ibo menyebut jika kondisi stamina pemain hanya 80 persen. Itu karena saat dipanggil  menjalani pemusatan latihan di Jakarta pekan lalu, mayoritas pemain tengah berlibur dengan keluarga setelah menjalani kompetisi berat. Masalah baru menyusul setelah dua pemain yang tenaganya dibutuhkan untuk meladeni  Turkmenistan, Tony sucipto dan Wahyu Wijiastanto gagal berangkat karena visa nya tidak beres hingga keberangkatan.
“Persiapan kita memang seperti ini. Saya berharap pemain bisa tampil lepas tanpa tekanan apapun,” cetus Wim Rijsbergen usai latihan terakhir di Stadion Utama Gelora Bung karno (SUGBK)  Selasa sore lalu (19/7).

Berbeda dengan Indonesia, tuan rumah Turkmenistan memiliki persiapan jauh lebih bagus. Bahkan sejak awal Juli tim berjuluk The Green itu melakukan pemusatan latihan di Belarusia.
Selama pemusatan latihan Turkmenistan melakoni tiga kali uji coba. Tapi tiga-tiganya berakhir dengan  kekalahan. Pada ujicoba pertama The Green menyerah 0-1 dari tim Belarus U21 (14/7). Di uji tanding kedua  Turkmenistan menyerah dengan skor yang sama dari FC Torpedo (16/7). Dan pada uji coba (18/7) Turkmenistan menyerah 1-2 di tangan FC Naftan.

Turkmenistan memang kalah dalam tiga kali ujicobanya sebelum menjamu Indonesia.     Dalam situs FIFA yang terbaru tercatat jika saat ini Indonesia berada di peringkat ke-132 dan Turkmenistan di urutan 143.  Tapi itu bukan berarti Indonesia akan dengan muda mengalahkan mereka. Dengan tiga kekalahan itu bisa jadi kemudian mereka mendapatkan pelajaran berharga dalam meramu strategi untuk melawan timnas Merah Putih malam nanti.    “Target kami adalah lolos ke babak berikutnya selanjutnya dan anak-anak bertekad meraihnya,” ujar Yazguly Hojageldiyev, pelatih Turkemenistan  seperti dilansir situs AFC, www.the-afc.com.

Ditemui di lapangan C Senayan kemarin sore, asisten pelatih timnas Indonesia Widodo Cahyono Putro mengatakan hasl seri sudah sangat bagus bagi Firman Utina dkk. Dengan begitu tugas timnas di leg kedua yang akan digelar 28 Juli lusa di SUGBK akan lebih mudah. “Hasil seri di leg pertama akan menguntungkan kita. Sebab di leg kedua timnas akan main dengan dukungan ribuan suporter fanatik kita,” kata Widodo.

Secara khusus asisten pelatih yang bekerjasama dengan Alfred Riedl di Piala AFF 2010 itu berharap  bergabungnya pemain terbaik dan top scorer ISL 2010/2011 Boaz Solossa yang dipinggirkan dari skuad Piala AFF bisa menjadi senjata tersendiri untuk membuat kejutan di Ashgabat. Melihat persiapan saat latihan, malam nanti hampir pasti Boaz akan bertandem dengan Cristian Gonzales di barisan depan.  (ali/jpnn)