32 C
Medan
Thursday, April 9, 2026
Home Blog Page 15081

Kejagung Didera Isu Korupsi Rp1 M

Proyek Pengadaan Mobil Tahanan Dipecah-pecah

JAKARTA- Kabar tak sedap menerpa Kejaksaan Agung (Kejagung). Indonesia Corruption Watch (ICW) menuding lembaga penegak hukum itu me-mark up Rp1,3 miliar ongkos pengadaan 100 unit kendaraan tahanan.

Wakil Koordinator  ICW Emerson Yuntho mengungkapkan, total 100 unit itu diantaranya adalah 38 unit sasis Toyota Kijang Dyna Rino 4 ban kecil, 50 unit sasis Toyota Kijang Dyna Rino 4 ban sedang, dan 12 unit sasis Toyota Kijang Dyna Rino 6 ban besar.

Dokumen pengadaan itu tertuang dalam Surat Perjanjian/Kontrak Pengadaan Kendaraan Tahanan Kejagung Tahun 2009 No SP-02/PKLPH/7/2009 tanggal 1 Juli 2009 senilai Rp29.428. 475. 000. “Ini tidak melalui lelang melainkan penunjukkan langsung kepada PT Toyota Astra International,” kata Emerson.

Emerson menuturkan, berdasarkan penelusuran di Toyota Astra Internasional, terdapat selisih harga Rp1.301.425.000. Selain itu, imbuh Emerson, ada indikasi korupsi di biro perlengkapan Kejagung pada 2009 Rp1,4 Miliar. Yakni pada pengadaan barang inventaris kantor pada Sesjamwas (Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan) dalam 15 paket pekerjaan.

Emerson mengatakan, tidak ada alasan pekerjaan tersebut dipecah menjadi 15 paket dengan nilai masing-masing Rp100 Juta. Sebab, berdasarkan Keppres Nomor 80 Tahun 2003, pengadaan barang dapat menggunakan metode pilihan langsung.

Menanggapi itu, Wakil Jaksa Agung Darmono mengakui adanya kelebihan uang dalam pengadaan mobil tahanan. Namun, ongkos lebih itu telah diklarifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).(aga/jpnn)

Bakar Sampah, Hutan Terbakar

SIMALUNGUN- Sekitar 20 hektar lahan perbukitan Haranggaol dilalap si jago merah. sampai saat ini, api belum juga bisa dipadamkan.

Lurah Haranggaol Daniel Saragih, ketika di konfirmasi, Rabu (15/6) mengatakan, kebakaran terjadi sejak selasa (14/6) sekitar pukul 15.00 WIB.  Ketika ditanya penyebab kebakaran, Daniel menyatakan, tidak tahu penyebabnya dan dia mengatakan, hampir setiap tahun perbukitan Haranggaol terbakar.

“Saya juga heran, hampir tiap tahun bukit itu kebakaran, tapi tidak pernah ketahuan penyebabnya,” heran Daniel.
Namun Tondang, warga  Bangun Saribu, Kelurahan Haranggaol, mengaku, kebakaran disebabkan adanya pembersihan tanaman mangga oleh masyarakat dengan membakar sampah tanaman tersebut. “Jadi tanpa disengaja, api menjilat bibir perbukitan,” kata Tondang.

Tondang juga menjelaskan, akibat angin kencang di wilayah tersebut, sekitar 20 hektar hutan terbakar di kawasan yang menghubungkan Bangun Saribu dengan Siboro.(sp/smg)

Rp69 Juta tak Disalurkan

Sidang Dugaan Korupsi BLM-PUAP

MEDAN- Sidang perdana dugaan korupsi Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (BLM-PUAP) Tahun Anggaran 2009 dengan terdakwa Parmo (51) Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Rejeki, Desa Pasiran, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (15/6).

Sidang dengan agenda membacakan dakwaan, dipimpin majelis hakim Johny Sitohang SH dan Jaksa Penuntut Umum (JPI) Rehuli Purba. Dalam sidang itu, Parmo didakwa melakukan tindak pidana korupsi dana BLM-PUAP dari Departemen Pertanian RI sebesar Rp69 juta. Akibat perbuatannya itu, terdakwa diancam hukuman penjara maksimal 20 tahun.

Selain itu, JPU menyebutkan, terdakwa bersama rekannya Paimin, bendahara Gapoktan Sri Rezeki, mengambil dana BLM-PUAP sebesar Rp95 juta dari Rp100 juta yang diterima. Sedangkan Rp5 juta masih tersimpan di BRI Kantor Cabang Pembantu Tanjung Pura atas nama Gapoktan Sri Rezeki Desa Pasiran Kecamatan Gebang.
Dana BLM-PUAP tersebut, kemudian dikuasai sendiri oleh terdakwa tanpa melibatkan Paimin selaku bendahara. Setelah dana dikuasainya, terdakwa menyalurkannya kepada 11 orang anggota dengan total Rp25 juta, sedangkan sisanya Rp69 juta, digunakan sendiri.

Sementara itu, dalam sidang lanjutkan  dugaan korupsi pematangan lahan pasca banjir bandang Bahorok, Kabupaten Langkat, senilai Rp1,7 miliar, dengan terdakwa mantan bendahara Pemkab Langkat Taufik, majelis hakim menolak eksepsi terdakwa.(rud)

Wujudkan Diversifikasi Konsumsi Pangan

MEDAN- Ketergantungan masyarakat terhadap beras relatif tinggi, akibatnya harga beras berangsur-angsur naik. Padahal beras bukan satu-satunya bahan pokok yang dikonsumsi manusia untuk menghasilkan gizi.
Anggota Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kota Medan, Prof DR Posman Sibuea, Selasa (15/6) mengakui, setiap manusia memang membutuhkan gizi seimbang demi kesehatan dan perkembangan tubuhnya. Untuk memenuhi gizi bisa didapat dari makanan dan minuman yang dikonsumsi. Tapi, persoalannya tak ada satu pun jenis makanan yang mengandung unsur-unsur gizi lengkap seperti yang dibutuhkan tubuh manusia.

Menyiasati kekurangan itu, Posman menyatakan upaya yang bisa dilakukan yakni diversifikasi (penganekaragaman) konsumsi pangan. Diversifikasi layak dipercepat pelaksanaannya, sebab beras sebagai bahan pokok harganya berangsur-angsur naik.

Dalam melaksanaan diversifikasi ini, sebutnya ada dua cara yang harus dilakukan. Pertama difokuskan pada internalisasi penganekaragaman konsumsi pangan dengan gizi seimbang dan aman. Tapi, pemerintah harus melakukan sosialisasi, advokasi, dan promosi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan.
“Selanjutnya BKP Medan harus menggandeng Dinas Pendidikan dan memasukkannya dalam kurikulum sekolah dasar,” sebutnya.

Posma menambahkan, apabila seluruh makanan umbi-umbian nonberas dikemas dengan baik, dan bisa dinikmati dengan gaya hidup yang gaul serta kosmopolitan. Diyakini, kalangan eksekutif gemar mengonsumsinya.
Selain itu, sebutnya pola makanan nonberas ditujukan pula pada maskapai penerbangan sepertiGaruda dan Maskapai penerbangan swasta serta beberapa hotel berbintang.

Kepala BKP Kota Medan, Ir Hj Eka R yanti Danil MM mengatakan, rasa optimisnya akan keberhasilan startegi diversifikasi. Meski sampai sekarang sebagian masyarakat masih berasumsi makanan nonberas seperti umbi-umbian menjadi kelas dua yang biasa dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah.
Dia menambahkan, pola konsumsi pangan harus meninggalkan pencitraan diri, sehingga makanan nonberas yang bersumber daya lokal dapat naik kelas.

“Bisa dikatakan pola konsumsi kita sekarang ini berorientasi pada pencitraan diri, sebab semakin tinggi tingkat sosial seseorang, makan yang dipilih cenderung exotic food (makanan asing, red), sebagian orang beranggapan makanan itu menaikkan gengsi,” katanya. (ril)

90 Patroli Keamanan Sekolah Dilantik

TEBING TINGGI-  Sebanyak 90 pelajar yang tergabung dalam Patroli Keamanan Sekolah (PKS) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menegah Atas (SMA) se Kota Tebing Tinggi, dilantik setelah menyelesaikan pendidikan selama dua bulan di halaman Mapolres Tebing Tinggi, Rabu (15/6).

Waka Polres Tebing Tinggi Kompol Safwan Khayat dalam sambutannya mengatakan, PKS ini nantinya akan menjadi penyambung lidah kepada pelajar di sekolahnya, untuk memberitahukan pentingnya kesadaran hukum.
“Selepas dari pendidikan selama dua bulan di Polres Tebing Tinggi, hendaknya ilmu yang sudah didapat, disampikan kepada teman-teman di sekolah masing-masing,” harap Safwan. Indriani, salah seorang PKS mengatakan, sangat gembira dengan adanya kerjasama dengan Polri ini. “Kami bangga, dari sini saya banyak dapat ilmu yang berguna,” ucapnya.(mag-3)

Empat Pekerja Diperiksa Polisi

LANGKAT- Terkait kebakaran pipa gas PT Pertamina, EP Field Pangkalan Susu di Kelurahan Pangkalan Batu, Kecamatan Berandan Barat, Langkat, 4 pekerja diperiksa petugas Polsek Pangkalan Berandan, Rabu (15/6).

Menurut keterangan diperoleh, pemeriksaan terhadap keempat pekerja, terkait adanya indikasi kelalaian dilakukan oleh 8 pekerja dari Salamander Energy dan 4 pekerja PT Pertamina, hingga mengakibatkan kebakaran pipa gas.

Kapolsek Pangkalan Berandan AKP H Kosim saat dikonfirmasi mengaku, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap pekerja sembari menunggu hasil laboraturium kriminal (Labkrim). “Saat ini kita masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi sembari menunggu hasil Labkrim,” kata Kosim. (jok/smg)

Jalan Desa Sudah Mulus

LUBUK PAKAM- Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Deliserdang untuk tahun anggaran 2011, telah mengerjakan peningkatan ruas jalan di Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 18 titik jalan di  Desa Pardamean, Desa Sei Merah, Desa Bandar Labuhan, Jalan Bandar, Desa Wonosari, Desa Dalu X-B, Desa Dalu X-A, Desa Bangun Sari Baru, Desa Buntuh Bedimber dan Desa Bangun Rejo. Kini ruas jalan pedesaan itu sudah mulus.

Anggota Komisi A DPRD Deliserdang Siswo Adi Suwito, Rabu (15/6) mengungkapkan, perbaikan jalan tersebut merupakan hasil aspirasi masyarakat yang diterima saat dilakukan reses ke daerah pemilihan Tanjungmorawa.
Proyek tersebut, kata dia, merupakan kepedulian Pemkab Deliserdang dalam menyahuti Program Gerakan Deliserdang Membangun (GDSM) yang dicanangkan Bupati H Amri Tambunan. (btr)

Mantan TNI Ditangkap Polisi

KARO- Mantan anggota TNI AD Batalion 112 Matai, Nanggroe Aceh Darussalam, Indra H Ginting (40) warga Desa Tiga Panah, Kecamatan Tiga Panah, diamankan aparat kepolisian saat menulis rekapan togel, Rabu (15/6) siang.
Penangkapan pria berpangkat sersan mayor ini, setelah petugas  mengetahui keberadaan mantan Kompi Senapan Yon 112 menulis togel disebuah warung di kawasan tempat tinggalnya. Merasa cukup unsur, polisi segera mengamankan Indra dan barang bukti berupa uang hasil penjualan togel Rp24 ribu, 1 HP berisi nomor togel dan 1 buku tafsir mimpi.
“Saya  tidak tahu lagi mau bilang apa. Dulu setelah kembali kesini aku mulai bekerja di ladang, pekerjaan ini (juru tulis togel,red), baru 10 hari saya lakoni. Semua sudah terjadi, jadi harus kuhadapi bang,” papar Indra di Mapolres Tanah Karo.

Terpisah, tim Opsnal Reskrim mengamankan 3 pemain judi kartu dari salah satu kedai kopi di kawasan jalan Samura Kabanjahe, masing-masing, Rinto Naibaho (28), Efranto Sihombing dan Bondan Pinem (29). (wan)

Mengalir dari Laut ke Gunung

Belawan dan Kampung Nelayan Indah Terus Dilanda Rob

Air mengalir sampai jauh, kata Gesang dalam lagunya Bengawan Solo. Ya, lirik itu menggambarkan bagaimana air mengalir dari hulu ke hilir atau dari gunung ke laut. Menariknya, penggambaran Gesang ini malah mulai tak sesuai dengan Kota Medan. Kenapa?
Menurut ilmu alam, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Sederhananya, ketika mata air berada di gunung, maka dia akan berakhir di laut. Maka, lirik dalam lagu Gesang itu pun sangat tepat. Sayangnya, logika semcam itu semakin kabur. Di Medan, persis dengan Jakarta, air laut yang sejatinya berada di tempat rendah malah masuk ke daratan dan mengarah ke gunung.

Ini terbukti ketika air pasang perdani atau rob selalu datang di kawasan pesisir Belawan dan juga Kampung Nelayan Indah. Ratusan rumah terendam oleh banjir rob tersebut, pada Rabu (15/6). Tak pelak kondisi ini menimbulkan keresahan sebagian besar warga yang berdomisili di sana. Apalagi masalah tersebut hingga kini tidak kunjung teratasi oleh Pemerintah Kota Medan.

Pantauan Sumut Pos, air pasang sudah menerobos masuk ke hingga ke jalan bahkan masuk ke dalam rumah warga sekitar. Kondisi terparah yang terkena air pasang adalah di kawasan Pajak Baru Belawan, Jalan Serma Hanafiah Belawan dan juga Kampung Nelayan Indah Kecamatan Medan Labuhan. Sejauh ini belum ada warga yang mengungsi. Warga sekitar yang mau keluar rumah harus membuka sepatu ataupun mengendarai becak agar terhindar dari air pasang. Hal ini kontras dengan anank-anak. Mereka malah memanfaatkan air pasang tersebut sebagai arena bermain.
Ali (37), seorang warga, mengatakan bahwa banjir pasang kali ini tergolong besar. Di kawasan Pajak Baru Belawan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa sehingga sangat sulit untuk dilalui kenderaan bermotor. “Sehabis pasang biasanya rendaman air asin meninggalkan sejumlah sampah yang bisa menganggu kesehatan warga disini,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa pasang perdani kemarin dalam sehari terjadi dua kali. Pertama pada siang hari dan yang kedua terjadi pada malam hari. “Air laut mulai memasuki pemukiman kami menjelang siang dan setiap harinya berbeda jamnya di mana jaraknya sekitar setengah jam,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa dalam sebulan terakhir ini gelombang air pasang telah terjadi dua kali. Bahkan hampir setiap pekan pemukiman mereka terendam. Padahal sebelumnya pasang Rob ini hanya dirasakan warga dalam setahun dua kali yakni antara Juni dan Oktober. “Sudah empat hari belakangan ini ratusan rumah warga di Kelurahan Belawan Bahari terendam air pasang perdani,”tambahnya.

Hal senada juga dikatakan oleh, Rubiah (34) warga Kampung Nelayan Indah yang terkena dampak dari air pasang rob ini. Dia mengatakan bahwa masyarakat di Medan Utara khususnya di Kampung Nelayan Indah sudah resah dengan banjir air pasang yang selalu datang membanjiri rumah mereka. “Setiap banjir air pasang kami merasa takut karena kami harus mengungukian barang-barang kami ke tempat yang lebih aman,”ujarnya.

Lebih lanjut dia menambahkan bahwa tanggul penahan air pasang pun sudah tidak kuat lagi menahan air pasang yang datang. Apabila air pasang rob besar tanggul tersebut biasanya akan jebol, “Meskipun ada tanggul penahan namun setiap rob besar, air tersebut melewati tanggul tersebut hingga merendam rumah-rumah warga,” tambahnya.

Dirinya kecewa dengan sikap Pemerintah Kota Medan yang belum mengambil sikap atas permasalahan ini. Sebelumnya, memang sudah ada perbaikan tanggul,namun karena pengerjaannya hanya dengan cara manual dengan menimbun dengan tanah tanggul yang jebol tersebut, akhirnya apabila air pasang besar datang tanggul tersebut tetap jebol karena kontruksinya tidak kuat untuk menahan kencangnya air pasang,” tandasnya. (mag-11)

Tanggul Amburadul

Pembangunan tanggul penyanggah air di Kelurahan Kampung Nelayan Indah Kecamatan Medan Labuhan hingga saat ini masih amburadul. Tanggul penyanggah air sepanjang 3 kilometer masih ditimbun oleh warga sekitar dengan tanah timbunan.

Tak pelak, hal ini memunculkan wacana tentang ketidakseriusan Pemerintah Kota Medan untuk melakukan perbaikan tanggul tersebut. Salah seorang warga Kelurahan Kampung Nelayan Indah Dedek (39) mengungkapkan kekecewaannya terhadap pengerjaan tanggul penyanggah air yang sampai saat ini belum juga selesai. Apalagi kalau air pasang laut naik, pasti air melewati tanggul yang merendam pemukiman rumah warga.

“Kalau air pasang laut naik pasti tanggul ini jebol. Memang pengerjaan tanggul ini sedang dikerjakan tapi tidak secara keseluruhan. Bila air pasang laut naik saja baru dikerjakan. Itu pun pihak pimpinan proyek menyuruh saya dan warga lainnya untuk menimbun dengan diberi upah Rp50.000/harinya,” ujarnya.

Warga berharap pengerjaan pembangunan tanggul ini dapat dibangun secara permanen sehingga tidak ada bagian bawah tanggul yang bocor serta tidak ada lagi kekhawatiran rumah warga akan kembali terendam banjir air pasang laut.
Sementara itu Lurah Kampung Nelayan Indah Medan Labuhan, Aji Torop mengaku bahwasannya tanggul yang berada di kawasan kampung Nelayan Indah sudah diperbaiki semuanya. Sampai saat ini belum ada tanggul yang jebol. Aji Torup pun mengungkapkan, untuk mempermanenkan tanggul itu bukanlah hal yang gampang.

“Memang tanggul tersebut dikerjakan secara manual dengan menggunakan tanah timbunan saja. Untuk dipermanenkan sulit karena untuk mencari tanah timbunan untuk menimbun benteng sepanjang kurang lebih 3 kilometer bukan pekerjaan gampang,” ujarnya. (mag-11)

Dalam Lingkar Bahasa

Prof DR Robert Sibarani MS

Sekali memulai sesuatu, maka harus diselesaikan. Demikian prinsip Prof Dr Robert Sibarani MS
yang pernah tercatat sebagai Guru Besar termuda Pulau Sumatera 2001 silam.

Tak dapat dipungkiri pentingnya arti pendidikan bagi kelanjutan masa depan seseorang. Segenap daya upaya pun akan dikerahkan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Hal itu juga yang dirasakan pria kelahiran Laguboti Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) Sumatera Utara 47 tahun lalu ini. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA), dirinya melanjutkan pendidikan di Sastra Daerah Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sumatera Utara (USU).

Sesuai pandangan masyarakat awam waktu itu, kuliah menjadi penentu untuk mendapatkan pekerjaan, studi yang dipilih pun sangat berpengaruh. Tak heran selain studi eksak, studi ekonomi, hukum, dan keguruan menjadi pilihan paling besar. Alasannya jelas, yaitu lapangan pekerjaan yang sudah pasti. Dan di sinilah Robert muda menghadapi dilema. Dengan pilihan studi linguistik (ilmu yang mempelajari bahasa dan kajian-kajiannya) yang belum memiliki gambaran jelas akan lapangan pekerjaan.

“Waktu itu kami yang satu angkatan bingung juga mau ke mana setelah tamat. Tapi karena sudah masuk ya saya berpikir harus diselesaikan. Tidak mungkin sebuah studi dibuka kalau tidak memiliki prospek yang baik pula,” ucap Robert yang ditemui di Kantor Departemen Sastra Daerah FIB USU, beberapa waktu lalu.

Suami dari Dra Peninna Simanjuntak MS ini pun membuktikannya. Dia pun mantap hidup dalam lingkar ilmu bahasa. Ya, setelah menamatkan studi dalam tempo empat tahun, setahun kemudian 1987 dirinya diterima sebagai dosen di almamaternya. Setidaknya masa depan sudah tidak lagi menjadi pertanyaan. Cukup kah? Tentu tidak. Sebagai putra Batak, Robert pun memiliki tanggung jawab untuk kebahagiaan keluarga.

Untuk itu, dengan program beasiswa yang ada, dirinya melanjutkan studi di Universitas Padjajaran Bandung dengan konsentrasi ke filologi; ilmu yang mempelajari naskah klasik. Di universitas yang sama pula Robert menyelesaikan doktoralnya dengan disertasi berjudul Konjungsi Bahasa Batak Toba, Sebuah Kajian Struktur dan Semantik sebelum akhirnya menunaikan program Postdoktornya di Universitas Hamburg Jerman. Pengabdian yang terus menerus lalu mengantar dirinya menjadi Guru Besar dengan Surat Keputusan dari Presiden Megawati Soekarno Putri kala itu.
Dirinya pun dipercaya menjadi Rektor di Universitas Darma Agung untuk dua periode. Robert aktif di beberapa kegiatan di antaranya Ketua LPPM USU, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Sumut. Begitu juga tidak sedikit pemikirannya dituangkan lewat tulisan seperti Antropologi Linguistik Hubungan Bahasa dan Budaya dalam Batak Toba yang baru diterbitkan.

Pengabdian tadi dilanjutkan dengan mendirikan Institut Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (IPMI) di Jalan Ayahanda No.43 D-C Medan. Lewat lembaga tersebut dirinya pun seolah menjawab kekhawatiran masyarakat dengan lima studi yang ditawarkan. Yaitu Bahasa Inggris, Sekretaris, Industri Kreatif/Industri Budaya, Pariwisata dan Perhotelan, dan Bimbingan Studi/Bimbingan Test. “Pemberdayaan masyarakat terbatas akses ke kota. Untuk itu perlu diberdayakan, baik oleh diri sendiri juga pihak luar,” bebernya. (jul)