28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 15103

Bocah 4 Tahun Dianiaya hingga Buta

MEDAN- Kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Tasya, bocah berusia empat tahun dianiaya bibinya sendiri, Suryani (35). Penganiayaan tersebut terjadi di rumah bibinya di Pematang Siantar, Selasa (7/6) lalu. Kini, anak dari pasangan Wagiran (65) dan Marini (35) ini dirawat di RSUP H Adam Malik Medan, karena mengalami luka serius dan matanya mengalami kebutaan.

Menurut Wagiran, selama ini Tasya tinggal bersama Suryani, yang merupakan adik kandungnya. Pasalnya, Suryani tidak memiliki anak. “Dulu, adik kandung saya itu datang ke rumah dan meminta untuk merawat anak saya ini. Setelah saya rembukkan dengan istri saya, akhirnya kami izinkan Suryani merawat Tasya. Mereka meminta anak kami karena tidak punya anak” ungkap Wagiran kepada wartawan Sumut Pos di Lantai II RS Adam Malik, Sabtu (11/6).

Lebih lanjut Wagiran mengatakan, berdasarkan informasi dari para tetangga Suryani, penganiayaan terhadap Tasya telah berlangsung sejak dua bulan lalu. Namun, Wagiran mengaku tidak tahu apa motif penganiayaan yang dilakukan adik kandungnya tersebut.

“Warga lah yang menyelamatkan anak saya ini dan menyerahkan Suryani ke kantor polisi. Setelah itu, Suryani pula yang menghubungi saya dan mengatakan kalau tasya mengalami luka-luka. Adik saya sepertinya sudah tergganggu jiwanya. Tanpa alasan yang jelas, anak saya dipukul dan ditunjang,” katanya.

Disebutkannya, akibat penganiayaan yang dialaminya, Tasya kini harus dioperasi karena lukanya yang cukup serius di bagian kepala. “Kepala anak saya memar dan mengalami pendarahan di dalam. Matanya juga mengalami kebutaan akibat dipukul. Anak saya harus dioperasi agar bisa normal kembali,” katanya dengan nada sedih.

Namun, Wagiran mengaku tidak memiliki uang untuk biaya perobatan anaknya. Karenanya, dia berharap ada dermawan yang bersedia menanggung biaya operasi anaknya.(jon)

Karya Modern Bernuansa Etnik

Food and Fashion Festival 2011

MEDAN- Puluhan desainer Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Sumatera Utara unjuk karya pada Peragaan Busana dan Makanan Khas Sumatera Utara yang digelar di Merdeka Walk Medan, 10-12 Juni. Dengan memadukan corak kain tradisi seperti ulos maupun songket, rancangan berupa busana formal hingga casual yang dibawakan para model mengundang decak kagum para pengunjung.

Seperti busana mini yang mengadopsi corak kain khas Batak, ulos. Diikuti dengan busana mini lainnya yang mengangkat corak songket. Sementara corak khas Melayu diangkat seorang desainer untuk busana casual. Begitu juga busana malam yang memasang corak etnik di bagian depan yang cukup memukau. Corak khas dari Sumut ini juga tetap menarik ketika dipadukan untuk busana pesta dengan warna yang cerah.

Dalam sambutannya, Kadis Pariwisata Provsu Dr H Naruddin Dalimunte MSP mengajak desainer Sumut memanfaatkan potensi yang ada di daerah dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas sekaligus menjawab persaingan tidak hanya di tingkat lokal, nasional, juga internasional.

“Sumatera Utara memiliki potensi yang cukup besar. Baik di bidang kuliner juga busana karena masing-masing etnis yang ada memiliki ciri yang berbeda pula. Dengan kreatifitas semua ini akan menghasilkan karya yang modern dan bernuansa etnik,” ucap Naruddin usai membuka kegiatan.

Ketua Panitia Drs H Mukhlis menyampaikan Food and Fashion Festival ini merupakan kali kedua setelah 2010. Selain peragaan busana juga digelar pameran makanan khas Sumatera Utara. Kegiatan lainnya adalah peragaan busana, pameran tenun khas Batubara, lomba busana etnis cilik, dan festival band.(jul)

Gerebek Togel, Pistol Ditemukan

Medan- Sat Reskrim Polda Sumut membekuk 9 penulis dan pembeli togel, di Aji Jahe, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sabtu (11/6) siang. Saat penggrebekkan, ditemukan sepucuk pistol airsoft handgun yang diduga milik seorang petugas Bripka MM.

Para tersangka yang diringkus diantaranya, Efendi Pelawi (40), warga Aji Jahe, Tiga Panah yang juga sub agen togel, Kenedi Pelawi (38), Daniel Pelawi (30) dan Minton Pelawi (31), dibekuk di Aji Jahe, Tiga Panah.
Bandarnya, Kasman Ginting (45), warga Jalan Simpang Ujung, Tiga Panah, Tanah Karo bersama empat anggotanya Paulus Sinulingga (29), Malindu Tarigan (33), Kenedy Pelawi (32) dan Pipin Karo-karo (28) dibekuk dikediaman Kasman saat sedang merekap nomor togel.

Menyikapi ditemukannya sepucuk senjata api di lokasi penggerebakan, Kabid Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso didampingi Dir Reskrim Polda Sumut Kombes Pol Agus A dan Kasubdit III Kriminal Umum (Krimum), Kompol  Andry Setiawan SIK mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan.
“Kita sedang berkoordinasi dengan Polres Karo terkait penemuan senjata api milik petugas Bripka MM di lokasi penggrebekkan. Bripka MM sendiri melarikan diri saat dilakukan penggerebekan,” terangnya.
Diucapkan Andry Setiawan, pihaknya juga mengamankan tas milik Bripka MM yang tertinggal. “Untuk saat ini, kita masih menyelidiki kenapa bisa Bripka MM berada di lokasi,” ungkapnya.(jon)

Disemprot Racun Api, Koordinator Aksi Pingsan

Mahasiswa dan Satpam UMSU Bentrok

MEDAN- Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) melakukan aksi di halaman Kampus UMSU Jalan Kapten Mukhtar Basri, Sabtu (11/6). Aksi damai tersebut berakhir ricuh setelah petugas Satpam secara membabi buta menyemprotkan racun api kepada mahasiswa yang menggelar aksi bakar ban. Akibatnya, seorang mahasiswa pingsan dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Saat itu, mahasiswa menggelar aksi menuntut Kepala Biro Kemahasiswaan (Kabimawa), Rahmat Kartolo diganti karena dianggap tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tingkatan mahasiswa. Selain itu, mereka juga meminta agar Kabimawa dan pimpinan universitas lebih peka terhadap permasalahan kampus dan lebih intens di kampus, bukan sibuk urusan di luar kampus.

Selanjutnya, mahasiswa melakukan aksi bakar ban. Namun, Satpam kampus berusaha memadamkan api dengan menggunakan racun api. Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari mahasiswa.

Akhirnya, secara membabi buta, pihak keamanan kampus menyemprotkan racun api ke arah mahasiswa. Akibatnya, Juliandi Sumarlin selaku koordinator aksi yang mencoba menghalangi malah terkena semprotan racun api. Sumarlin pun pingsan dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Imelda Medan.

Melihat temannya pingsan, mahasiswa tidak terima dan  melakukan perlawanan terhadap petugas keamanan kampus sehingga terjadi aksi saling dorong dan berujung dengan baku hantam. Tak lama berselang, bentrokan tersebut berhenti setelah pihak rektorat turun untuk menenangkan mahasiswa dan pihak keamanan.

Wakil Rektor III UMSU Muhammad Arifin saat dihubungi melalui telepon selulernya membenarkan kejadian tersebut. Saat ini pihaknya sedang mencari solusi atas permasalahan tersebut. “Kami akan selesaikan masalah ini, untuk korban sendiri, pihaknya akan menanggung biaya perobatan di rumah sakit,” ujarnya. (mag-11)

Omzet Miliaran, Masuk Jaringan Internasional

Lagi, BNN Bekuk Bandar Narkoba di Nusakambangan

JAKARTA- Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali mengungkap bisnis penjualan narkotika di balik jeruji Lapas Narkotika Nusakambangan. Kali ini yang dicokok adalah Syafrudin alias Isap alias Kapten pada Jumat malam (10/6). Tim BNN yang dipimpin Direktur Narkotika Alami BNN Brigjen Pol Benny Mamoto tiba di Cilacap pada Jumat (10/6) sekitar pukul 10.00.

Sebelumnya ada tim yang tiba di Cilacap dan berhasil menangkap istri Kapten, Dewi, pada Kamis (9/6) saat akan menyeberangi dermaga. Ketika itu dia hendak menjenguk suaminya di Nusakambangan.
Diketahui, Kapten merupakan rekan sekamar Hartoni, narapidana yang ditangkap BNN pada Maret lalu dengan kasus yang sama, yakni bandar narkotika yang mengendalikan penjualan dari penjara. Kasus Hartoni beberapa waktu lalu juga menyeret nama Kepala Lapas Narkotika A  Marwan.

Penangkapan Kapten tersebut merupakan hasil pengembangan penyidikan BNN setelah menangkap Hartoni. Menurut Benny, banyak bukti yang memberatkan Kapten. “Jadi, dia (Kapten) ditangkap karena kasus narkoba di beberapa anggota jaringan yang sudah ditangkap BNN sebelumnya. Termasuk kasus Hartoni. Dalam kasus ini, Hartoni mengaku barang yang didapat berasal dari Kapten,” beber polisi dari Sulawesi Utara tersebut kemarin (11/6).

Selain ditangkap karena kasus narkoba, Kapten terjerat kasus pencucian uang (money laundering). “Dia juga bandar narkoba berkelas internasional. Ada beberapa bukti yang menyebut dia sering membeli mata uang dolar untuk membayar narkoba,” paparnya.

Dalam kasus ini, Kapten mengendalikan bisnisnya melalui si istri, Dewi, dan keponakannya, Syaiful, yang juga sudah ditangkap BNN. “Untuk pendistribusian, Kapten menggunakan jaringannya di luar penjara,” ungkapnya.
Kesaksian istri dan keponakan Kapten, lanjut Benny, jelas menyebutkan, meski berada di penjara, Kapten masih bisa menjual dan membeli narkoba. “Omzetnya bisa miliaran. Bahkan Kapten ini adalah saingan Hartoni di dalam lapas. Kapten dalam kasus ini mengendalikan semua jenis narkoba, sesuai dengan permintaan pasar,” ujarnya.
Dewi ditangkap bersama barang bukti enam ponsel dan lebih dari 20 SIM card berbagai operator. Ponsel dan SIM card itu diduga digunakan suaminya untuk menjalankan perdagangan narkoba melalui lapas.

Selain Dewi, Syaiful yang sudah dibekuk BNN disebut sebagai kaki tangan Kapten. Dia bertugas menghubungi Kapten untuk masalah penarikan dan transfer uang. Melalui dua kaki tangan Kapten tersebut, ditemukan pula print-out rekening bank. Ada pula rekening yang sudah ditutup untuk menghilangkan jejak.

“Syaiful berumur 29 tahun, tapi perawakannya seperti berusia 35 tahun. Dewi berusia 31 tahun dan memiliki tiga anak. Dua dari suami pertama dan satu dari hasil pernikahannya dengan Kapten,” jelas Benny.
Tim Kejar BNN mendatangi Lapas Narkotika Nusakambangan pukul 17.00. Tim diterima Kalapas yang baru, Lilik. Negosiasi penjemputan Kapten memakan waktu sekitar dua jam. Menurut dia, proses itu terkendala karena Kalapas masih harus menghubungi atasannya untuk mengonfirmasi penangkapan tersebut. “Tapi, kami sudah memiliki surat penangkapan. Jadi, mereka tak bisa berbuat banyak,” tegasnya.(gel/jpnn)

Kejagung Comot Dua Tersangka

Kirim 3 Penyidik ke Pemkab Batubara

JAKARTA-Pasca penetapan dua pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batubara, Sumatera Utara dan Direktur PT Pacific Fortune Management (PFM) sebagai tersangka kasus pembobolan dana kas daerah Pemkab Batubara Rp80 miliar, Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan dua tersangka baru dalam perkara ini.
Kelanjutan proses penyidikan kasus dugaan korupsi dana kas daerah Pemkab Batubara ditindaklanjuti Kejagung.
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Andhi Nirwanto menyebutkan, jajarannya kembali menetapkan dua tersangka dalam kasus tersebut. “Sesuai laporan, hari ini mendapatkan dua tersangka. Satu pejabat Pemkab Batubara dan satu dari swasta,” katanya.

Menurut Andhi, penetapan status tersangka diketahui setelah dirinya memerintahkan tiga penyidik kembali mendalami bobolnya kas daerah tersebut ke Pemkab Batubara, Sumut. “Sesuai laporan yang didapat, staf Pemda Batubara tersebut berperan untuk mencairkan uang fee,” tandasnya. Namun, Andhi belum memberi keterangan mengenai siapa nama dua tersangka tersebut.

Andhi mengaku belum ada penetapan tersangka terhadap Kepala Cabang Bank Mega Jababeka Bekasi, Itman Harry Basuki yang terindikasi terlibat perkara tersebut. Menurut Andhi, pihaknya tidak terburu-buru menetapkan tersangka terhadap Itman karena saat ini yang ber­sangkutan telah ditahan di Polda Metro Jaya. Itman dituding terlibat kasus pembobolan dana nasabah Elnusa di Bank Mega.

“Kepala Cabang Bank Mega sementara ini ditahan Polda untuk perkara lain. Sampai saat ini Kejagung belum menetapkan dia sebagai tersangka,” terangnya. Kendati demikian, Andhi memastikan bahwa Kejagung akan menindak semua pihak yang diduga terlibat kasus pembobolan kas daerah tersebut. “Ya pokoknya semua yang terlibat akan dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Sebelumnya, lembaga yang dikomandoi Basrief Arief itu telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini yaitu, Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Yos Rauke, Bendahara Umum Fadil Kurniawan dan Direktur PT Pacific Fortune Management (PT PFM), Rachman Hakim.

Dengan begitu, sampai kini Kejagung telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Tiga orang sudah ditahan, namun dua orang yang baru ditetapkan sebagai tersangka belum bisa dipastikan penahanannya.
“Kedua tersangka masih terus didalami keterangannya oleh penyidik,” katanya.

Seperti diketahui, Kamis 9 Juni 2011 lalu, Kejagung melakukan penyitaan aset terkait kasus ini. Dalam eksekusinya, Kejagung menyita empat mobil tersangka Rachman Hakim. Keempat mobil yang disita masing-masing ber­tipe Toyota Fortuner B 1954 PJA, Honda Freed B 1071 UKQ, Honda CRV B 805 PFM, dan Toyota Vellfire dengan nopol B 494 QW. “Mobilnya sekarang ada di Pidsus Gedung Bundar,” kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Ka­puspenkum) Noor Rochmad.

Ditambahkan Noor, penyitaan dilakukan karena diduga kuat uang yang digunakan membeli keempat mobil tersebut berasal dari hasil korupsi. Saat penetapan Rachman Hakim sebagai tersangka, diuraikan, para tersangka memindahkan uang tersebut dengan cara menyetorkan ke rekening Bank Mega beberapa kali. Penyetoran dideteksi dimulai pada 15 September 2010 hingga 11 April 2011.

Dana Rp 80 miliar tersebut disimpan dalam bentuk deposito di Bank Mega Jababeka, Bekasi. “Kedua tersangka telah menerima keuntungan dengan menerima cash back sebesar Rp405 juta,” ucapnya.

Selanjutnya, kata Noor, dana deposito tersebut dicairkan oleh kedua tersangka untuk disetor ke dua perusahaan yakni PT Pacific Fortune Management dan PT Noble Mandiri Invesment melalui Bank BCA dan Bank CIMB.
“Kedua tersangka telah ditahan Kejaksaan sejak 7 Mei lalu. Mereka dijerat pasal 2 ayat (1), pasal 3 Undang-Undang Tipikor jo Pa­sal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengungkapkan, hasil audit terhadap Bank Mega menyebutkan banyak temuan transaksi mencurigakan yang mengalir ke perusahaan dan perorangan.

“Dalam kasus dana Pemkab Batubara, dananya lebih banyak dialirkan kepada perseorangan atau individu,” ujarnya usai seminar nasional yang membahas mengenai implementasi UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana di Jakarta.

Menurutnya, hasil audit tersebut telah disampaikan ke DPR dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu. Yunus memastikan, dalam kasus ini diduga terdapat sindikat yang memang sudah dibina dan bermain lama. “Cuma sindikat ini kadang-kadang tidak semuanya disikat dan modus yang dilakukan pun cenderung sama dengan modus yang sudah-sudah,” ucapnya. (and/rm/jpnn)

Dilapori, KPK Selidiki Kolusi Fadel

JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kecewa kepada anggota Komisi IV DPR Rosyid Hidayat yang terus mengumbar pernyataan bahwa Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad serta istrinya, Hana Hasanah, terlibat kolusi dalam sejumlah proyek di kementerian tersebut. KPK berharap politikus dari Partai Demokrat itu mau membuat laporan resmi.

“Kalau dia (Rosyid) memang mengetahui adanya korupsi itu, langsung saja lapor ke KPK. Ngapain ngomong-ngomong ke media,” ujar Juru Bicara KPK Johan Budi kepada koran ini kemarin (11/6).
Dia menyatakan, siapa pun yang mengetahui dan memiliki data valid tentang adanya tindak pidana korupsi di mana pun diminta segera melapor ke KPK.

Menurut Johan, KPK tidak akan membedakan latar belakang si pelapor. Yang penting, data tersebut valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Seperti biasa, bila sudah menerima laporan, lembaga yang dipimpin Busyro Muqoddas itu akan menelaah laporan dan data-data yang disertakan.

Apakan nanti KPK memanggil Fadel dan Hana berdasar laporan itu? “Kami belum tahu. (Pemanggilan Fadel) itu masih terlalu jauh. Yang jelas, langkah pertama kami adalah menelaah laporan itu dulu,” tegasnya.

Sementara itu, si whistle blower, Rosyid Hidayat, belum berencana melaporkan kasus yang diendusnya ke KPK. Dia beralasan belum memegang dokumen yang bisa menjadi alat bukti materiil yang sah. “Bagi saya, ini bagian dari fungsi pengawasan (DPR). SMS (pesan pendek, Red) pengaduan dari masyarakat sudah cukup. Tidak membutuhkan bukti materiil,” ungkapnya di Jakarta kemarin. Dia menegaskan, dirinya bukan penegak hukum. Kalau bukti materil dibutuhkan, penyelidik KPK bisa menyelidiki. (pri/jpnn)

Sengketa Laut Cina, Vietnam Sambut Bantuan Asing

HANOI- Vietnam menyambut segala bentuk bantuan dari komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat (AS) dalam kasus Laut Cina Selatan. Pernyataan ini diucapkan oleh Kementerian Luar Negeri Vietnam.
Saat ini Vietnam tengah mengadakan latihan tempur dengan peluru asli di kawasan Laut Cina Selatan. Demikian seperti diberitakan oleh Reuters, Sabtu (11/6).

Ketegangan antara Vietnam dan Cina di daerah ini meningkat. Kedua negara tersebut saling menuduh dalam hal pelanggaran kedaulatan. Beberapa hari yang lalu, Cina juga telah mengirimkan kapal perangnya ke daerah itu.
Walaupun tidak akan terjadi bentrokan militer antara kedua negara tersebut, ketegangan akan menyulitkan proses negosiasi dan mengundang campur tangan AS. Cina juga tengah berargumen dengan Filipina dalam masalah sengketa pulau.

“Memelihara keamanan, stabilitas, keamanan dan keselamatan maritim merupakan kepentingan seluruh negara di dalam maupun di luar wilayah tersebut,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Nguyen Phuong Nga.
“Setiap tindakan yang dilakukan oleh komunitas internasional untuk memelihara keamanan dan stabilitas laut ini akan disambut dengan baik, Laut Cina Selatan adalah jalur perdagangan yang strategis dan kaya akan cadangan minyak dan gas,” tandasnya. Filipina, Malaysia, Brunei dan Taiwan juga mengklaim wilayah di Laut Cina Selatan. Namun, Cina mengklaim wilayah yang cukup besar di daerah tersebut, termasuk di antaranya Kepulauan Spratly dan Paracel.(rhs/jpnn)

Sekeluarga Hilang Misterius

MOJOKERTO – Satu keluarga yang terdiri dari suami-isteri dan dua anaknya, diculik oleh sedikitnya 12 orang tak dikenal di rumah kontrakannya di Dusun Gelang, Desa Mojosulur, Kecamatan Mojosari, Sabtu (11/6) pagi. Hingga kemarin petang, jajaran Polres Mojokerto masih di lokasi dan mencari penyebab hilangnya empat orang tersebut.
Warga sekitar mengenal kepala keluarga itu dengan sebutan Frank. Pria ini berusia antara 40-45 tahun dan baru seminggu menempati rumah kontrakan milik Sulaimin (45) warga Dusun Bajangan, Desa Kembang Ringgit, Kecamatan Pungging tersebut.

Menurut sejumlah saksi di sekitar rumah kontrakan Frank menyebut, sekitar pukul 09.00 pagi, pria berperawakan bersepeda motor matic, mendadak menanyakan rumah pria yang dikenal warga sebagai pebisnis mobil bekas ini. “Saya arahkan ke rumahnya,” terang Harun (40), tukang las karbit yang berada tak jauh dari rumah Frank.

Saat bertanya inilah, pria yang mengaku sebagai polisi ini menjelaskan jika Frank adalah seorang teroris.
Tak berlangsung lama setelah diberitahu, sebuah mobil Avanza mendekat dan sejumlah orang langsung masuk ke dalam rumah ini. Tak terdengar cek-cok atau teriakan apapun. Yang jelas. Frank dan isteri serta dua anaknya yang tengah libur sekolah langsung dilesakkan ke dalam mobil van itu.

Hilangnya sekeluarga ini sontak membuat geger warga sekitar. Mereka menyebut, Frank terlibat aksi terorisme yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu mengacu pada cerita salah satu pelaku dan kepribadian keluarga ini yang selalu tertutup dengan para tetangganya. “Sampai detik ini, orangnya belum lapor saya,” terang Jamali (36), ketua RT setempat.

Sejak menghuni rumah yang memiliki dua kamar ini, nama Frank hanya dikenal warga. Mereka tak pernah mengerti siapa nama aslinya.”Mereka tak pernah berinteraksi dengan warga. Bahkan, saya juga belum tahu anaknya sekolah dimana,” tukasnya.

Sejumlah warga lain menyebut, sejak malam hari, sejumlah orang menyanggong Frank dengan menggunakan mobil, dekat rumahnya. Mereka hilir mudik dan keluar masuk warung kecil untuk memesan kopi.

Warga yang lain justru mengira, Frank terlalu banyak hutang dan takut hidup di perkotaan. Sehingga, kampung kecil di kawasan Mojosari menjadi salah satu pilihannya. “Mungkin saja. Karena, lokasi kerjanya saja sampai sekarang tidak ada warga yang tahu,” cetus warga di warung kopi kampung ini.

Hingga kemarin petang, puluhan anggota Polres Mojokerto dan anggota Intel Kodim 0815 masih berada di lokasi ini. Walhasil, warga yang semula tenang, tiba-tiba terusik.

Namun, petugas keamanan ini tak satupun yang berhasil masuk ke rumah ini. Rumah ini dikunci rapat-rapat oleh para pelaku. Hanya jendela samping saja yang terbuka lebar. Sejumlah pakaian pemilik rumah awut-awutan.
Kapolres Mojokerto AKBP Prasetijo Utomo mengaku masih mengumpulkan data-data di lapangan.
“Kami masih memastikan kebenarannya. Apakah ada kaitannya dengan polisi ataukah bermotif bisnis,” ujar Prasetijo. (ron/lal/jpnn)

Bursa Ketua Umum PPP Mulai Panas

JAKARTA- Bendahara Umum DPP PPP Suharso Monoarfa memastikan tidak akan ikut maju dalam kontestasi ketua umum pada muktamar PPP yang dilangsungkan di Bandung, awal Juli 2011. Suharso yang juga menteri perumahan rakyat (Menpera) itu justru mendukung Suryadharma Ali.

SDA “sapaan akrab Suryadharma Ali” adalah ketua umum PPP saat ini sekaligus rekan sejawatnya di kabinet. Hampir pasti dia menjadi incumbent dalam muktamar mendatang. “SDA masih merupakan figur yang terbaik untuk dipercaya kembali mengantarkan partai ini kembali besar,” ujar Suharso dalam keterangannya kemarin (11/6).

Menurut dia, SDA patut didukung menjadi ketua umum PPP mendatang. Sebab, sebagai salah seorang pemimpin nasional, elektabilitasnya lebih tinggi daripada kader PPP lainnya. “Muktamar nanti harus bisa memunculkan figur yang  elektabilitasnya patut dipersandingkan di pentas nasional pada Pemilu 2014,” tutur Suharso.
Beberapa waktu terakhir, nama Suharso sempat disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat ketua umum. Dia disandingkan dengan calon lain, seperti, SDA, Ahmad Muqowwam, dan Muchdi Pr. Dua nama terakhir sudah menyatakan  siap maju dalam bursa pemilihan. Keduanya telah mengklaim mengantongi sejumlah dukungan cabang dan wilayah.

Di sisi lain, hingga saat ini, SDA belum secara resmi mendeklarasikan diri maju kembali sebagai ketua umum. Namun, belakangan menteri agama itu makin rajin road show dan silaturahmi ke sejumlah tokoh senior partai serta pengurus daerah PPP di berbagai wilayah.

SDA telah bertemu, antara lain, pengurus wilayah dan cabang se-Bali. Pertemuan yang dilangsungkan di Hotel Inna Sindhu Beach, Sanur, Bali, Jumat lalu (10/6) tersebut, kabarnya, juga merupakan bagian dari penggalangan dukungan. Saat itu SDA didampingi sejumlah petinggi PPP yang tercatat sebagai orang-orang dekatnya.(dyn/c3/agm/jpnn)