28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 15104

Densus 88 Tangkap Ipar Dulmatin

JAKARTA- Menjelang pembacaan vonis Abu Bakar Ba’asyir pada 16 Juni nanti, Densus 88 makin bersemangat melakukan serangkaian penangkapan terhadap orang yang diduga teroris. Operasi korps berlambang burung hantu itu dilakukan di Jakarta, Pekalongan (Jateng), dan Kalimantan Timur. Orang-orang tersebut terkait dengan jaringan kelompok Palu yang menembak polisi.

Mabes Polri berjanji mengumumkan secara detail hasil penangkapan-penangkapan itu pekan depan. “Secara lengkap baru disampaikan Selasa (14/6),” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar kemarin.  Dia menyatakan divisi humas belum diberi tahu secara detail mengenai operasi itu.
“Masih di Densus,” katanya. Berdasar informasi yang dihimpun koran ini, enam orang ditangkap di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat. Yakni, STN, WTY, JMT alias QMD, UMR, PMN, dan BSP.

Enam orang itu rata-rata masih berusia muda, kelahiran 1977 sampai 1984. Selama ini mereka tinggal di Jakarta, mengontrak rumah di beberapa wilayah. Termasuk Kemayoran, Jakarta Pusat, Tambora, Jakarta Barat, dan Kramat Pulo Raya.

Dua orang lagi ditangkap di Pekalongan pada Kamis (9/6) menjelang tengah malam. “Ya, ada adiknya Dulmatin,” kata sumber Jawa Pos (grup Sumut Pos) kemarin. Adik Dulmatin itu bernama Hary Kuncoro. Dia adalah adik Istiadah, istri Dulmatin. Jadi, Hary merupakan adik ipar Dulmatin. (rdl/c5/nw/jpnn)

Sahabatku Irfan Sulaiman

“Dik Sunaryono, barusan tadi  saya kontak telpon Suhaili, antara lain dia bilang bhw Irfantelah meninggal pd tgl  7 April yg lalu  pd usia 73 thn. Dik  Sunaryono  sendiri  sehat-sehat  saja ya Dik. Salam  sejahtera unk  sekeluarga  di sini. Tetap  saja  dr ST &J.”
Aku terhenyak  dari berbaringku sore itu. Innalilahi  wa Inailaihi rojiun, bisikku. Jadi  Mas  Irfan  telah meninggal dunia. Ini berita tentang  seseorang yang tinggal  di Banyuwangi,  datangnya melalui SMS  dari Jerman. Walau aku tahu  SMS ke Jerman  lebih mahal tarifnya  dari tarif  SMS  di dalam negeri,  aku jawab  pula  SMS itu  dengan “Innalilahi”. SMS  datang  dari Sas Soeprijadi Tomodihardjo yang dulu sering menelepon dari Jerman.

Cerpen   Sunaryono Basuki Ks

Hanya dua  orang yang pernah meneleponku  dari luar negeri, yang seorang  lagi  adalah  Made Widana  dari Paris. Bekas  mahasiswaku itu  sekarang  sudah kaya-raya,  dan  selalu bercerita mengenai sukses  bisnisnya. Celakanya,  kalau dia menelepon bisa  setengah  jam lebih, padahal aku  lekas merasa capek  bila  harus  duduk menerima telpon  selama itu. Kata  Widana,  dia  membeli kartu telepon  delapan puluh Euro. Entah  berapa  rupiahnya dan  walaupun  andaikata  di Indonesia  ada kartu “murah”  semacam itu, aku  takkan mampu membelinya apalagi aku  tidak punya  telepon yang bisa  aku  hubungi. Walau  Widana dan Pak Soeprijadi menelpon, aku  tidak tahu  berapa nomor telpon rumahnya. Tetapi sayangnya, setiap  saat  Widana  menelepon bukan menanyakan keadaanku tetapi malah  menyarankan  aku berbisnis  buku  lewat internet.
“Bisnis  konvensional sudah ketinggalan jaman.”

Tetapi dia  tidak  mau tahu bahwa ongkos  kirim buku per pos  sangat mahal di Indonesia, bisa-bisa  harga  per-eks  buku lebih  mahal dari harga  di toko buku. Padahal kalau aku  harus  menjual  buku-bukuku,  aku harus membeli  lebih dulu dari penerbit,  dan hal itu perlu modal besar.

Jadi  aku sudah tua. Aku  tidak  tahu kalau Irfan ternyata lebih tua  dariku. Usiaku  hampir  tujuh puluh tahun, dan  Irfan ternyata sudah berusia  tujuh puluh tiga tahun. Kami  bertiga  teman akrab: Hermanadi, Irfan  dan diriku. Kebetulan Hermanadi  tinggal di Jalan Kaliurang  Barat  di rumah pakdenya,  dan  aku di Jalan Lebaksari  yang hanya  selangkah  dari Kaliurang. Sedangkan Irfan  mondok  di Jalan Nongkojajar Gang III. Jalan  Nongkojajar merupakan  cabang  dari Jalan Lebaksari. Karena pondokannya paling dekat  dengan rumahku, maka  aku pun  paling sering  berkunjung  ke pondokannya.

Pondokannya  terletak di ujung gang  dengan sebatang pohon besar, kalau tidak  salah pohon mangga. Dan bila malam tiba, pohon mangga itu berbuah ayam. Ayam-ayam peliharaan induk semang Irfan  tidak  dikandangkan tetapi secara “tahu diri” menempatkan dirinya  di cabang-cabang pohon mangga itu.
“Banyak ayamnya, Fan?”  pernah  aku tanya.
“Wah. Ibu  saja tidak tahu.”

Yang membuatku dekat  dengan Irfan  mungkin  kegemarannya  menulis puisi. Aku juga  dan aku berhasil mengajaknya mengirim puisi  ke ruang remaja  Majalah Trio. Pengasuhnya mula-mula  Mbak Surtiningsih  WT, istri Pak  Sukanto SA  sastrawan terkenal. Namun  kemudian  ruang itu  diasuh oleh  seorang mahasiswi Fakultas  Sastra UI yang bernama Edi  Sedyawati. Kak Edi panggilannya.1

Dan   beberapa sajaknya  dimuat juga  di ruang remaja itu. Aku  sendiri menulis  cerita pendek,  yang kuingat berjudul “Jambangan Bunga  Anyelir”  dan  juga menulis  komentar pendek mengenai tukang catut karcis  bioskop  di Malang.  Mungkin karena  sama-sama  menyukai  dunia karang-mengarang kami  akrab,  lebih akrab dibanding dengan Hermanadi. Tetapi  kelebihan Hermanadi, dia pemain bulutangkis yang hebat. Ini mungkin gara-gara rumah pak de-nya  berhalaman luas  dan  tiap  sore dia  bisa berlatih  bulutangkis  bersama  para  sepupunya.
Tetapi kami bertiga  pernah  terlibat  di dalam  satu peristiwa  sastra.  Pada  suatu hari libur kami bertiga melancong  ke Surabaya, menginap  di rumah kakak Irfan di Jalan Raya Gubeng. Bukan rumah  sebenarnya, tetapi  sebuah garase  yang  diubah menjadi tempat tinggal.  Rumah kecil itu  terletak di bagian belakang  sebuah rumah besar  yang penghuninya  bermacam-macam.

“Di depan  situ tinggal Pak Soeprijadi,” kata kakak Irfan.
“Oh, sastrawan terkenal itu. Saya tahu namanya,” kataku.
“Ayo  ke sana  saja berkenalan,” katanya.
“Malu, Mas.”
Aku  kenal  dengan Pak Soeprijadi melalui  surat saja. Dia menjadi  redaktur ruang budaya  sebuah koran  dan aku mengirim  sajak  ke  ruang itu  dan dimuat. Beberapa yang dimuat,  walau aku menggunakan nama samaran yang kemudian ditandai  oleh Dr Uriel  Kratz  di dalam buku bibliografi  sastra  yang diterbitkan  oleh UGM Press. Kebetulan   waktu  buku itu  sedang  disusun,  aku berkunjung  ke kantor Pak Kratz  di School of Oriental  and African  Studies,  di London. Dengan menyodorkan  calon buku yang  tebal sampai dua  jilid, Pak Kratz bertanya: “Apa  Bapak menggunakan nama lain?”

Lalu  aku menuliskan  nama-nama  samaranku  di atas  kertas  yang disodorkan  padaku dan kemudian Pak Kratz mencari di  konsep bukunya  dan langsung menandainya.  Karena itu  dalam bukunya nanti,  di mana  namaku muncul  diberi tanda: “lihat nama ini”.

Di Surabaya  aku tetap tak  berani bertemu Pak Soeprijadi, namun  aku berkunjung ke rumah Pak Lutfie Rachman,  seniman  serba bisa.  Dia penyair, pelukis, dan  redaktur  sastra,  dan bahkan kelak menjadi pemain  sandiwara  tv. Ternyata  di rumahnya di  sebuah gang,  dia  sedang  sakit  namun  sangat senang akan kunjungan kami.
“Bisa  minta tolong, ya?” pintanya.
“Apa, Pak?”
“Siaran di  RRI.”

“Lho kan  biasanya Bapak yang siaran?”
“Saya  sakit begini, kepala  cekot-cekot. Nanti  saya  kasih   surat pengantar  dan ini naskahnya. Pelajari dulu. Datang ke  studio  setengah  jam  sebelumnya.”

Lelaki itu  dalam posisi  duduk  di atas tikar menyodorkan  ketikan  sejumlah  sajak,  lengkap  dengan komentar  kritisnya. Komentar itu  tentu  telah  disiapkan oleh Pak Lutfie.

“Nanti  Dik Bas jadi pembawa  acara dan pembaca kritik,  sedangkan  adik  membaca puisi.”
Kulihat  Hermanadi  senyum-senyum. Seumur-umur dia  tidak  pernah berhubungan  dengan  puisi  dan malam itu  dia harus  berdeklamasi  di radio, tidak tanggung-tanggung: di RRI Surabaya. Pendengarnya  bukan  saja penduduk  Surabaya  sebab jangkauan  siarannya sangat luas.

Siang itu  di tempat tinggal kakak Irfan  kami tidak tidur  tetapi berlatih menjadi pembaca puisi dan aku  menjadi pembaca  acara. Aku mengisap  rokok  Bantoel biru yang baru  saja  kubeli di Malang. Aku bukan perokok, tetapi ingin merasakan sendiri  apa enaknya merokok. Irfan  dan Hermanadi ikut-ikutan menghisap  rokok. Malam itu kami serasa menjadi bintang. Entah siapa  di antara teman-teman kami yang mendengar siaran itu. Pasti mereka gempar.

Celakanya, sesaat  sebelum  sajak  habis  dibacakan, teryata  masih  ada  sisa  sepuluh menit.  Aku  pada akhir acara  menambahkan sajakku  sendiri (sajakku  memang  sering  disiarkan  dalam siaran ini oleh Pak Lutfie. Tentu  saja  operator  yang memegang naskah  bingung. Lagu penutup sudah  disiapkan hendak diputar tetapi masih  ada  suara pembawa  acara. Begitu kami keluar dari studio, kami disambut dampratan. Kami  hanya  diam  saja  karena  merasa bersalah namun di dalam  hati  bangga  sebab sudah berhasil mengudara lewat RRI Surabaya. Saat melintas  di  jembatan  di atas Kali Mas,  aku menghisap  rokokku  dalam-dalam. Tak tanggung-tangung, rokok cap Bentoel  yang  selalu dikejar pecandu  rokok. Mulutku hanya mampu merasakan  pahit. Tidak  ada  secuil kenikmatan pun.  Lalu,  rokok yang masih menyala itu aku lempar ke sungai. Bungkus  rokok yang masih berisi  juga kulempar.
“Selamat tinggal rokok!” dengan  gaya  seorang  deklamator. Dan  semenjak  saat itu aku tidak lagi merokok. Kalau  temanku  menawariku rokok,  aku hanya  mengambil kotaknya dan mencium baunya. Cukup  begitu.

Sejak  kami berpisah, aku menempuh kuliah  di Jakarta, kami tak pernah  bersurat. Aku benar-benar kehilangan jejak Irfan. Apakah dia pulang kampung  atau masih tinggal di  Malang  dan  mungkin menempuh kuliah, aku tak tahu. Sampai aku  sudah menjadi  sarjana  dan bekerja  di Bali. Pada  suatu hari  bus  siang yang kutumpangi  dari Surabaya-Singaraja  berhenti mengisi  bensin  di sebuah  pompa bensin  sebelum bus  masuk ke terminal feri Ketapang. Aku kebetulan  duduk  di  dekat  pintu  depan kiri. Kulihat  lelaki yang melayani mengisi  bensin  mirip Irfan. Aku tidak  yakin  itu dia, dan aku juga tidak  turun menanyainya apa dia Irfan. Peristiwa tersebut berlalu  dan  sejak itu dengan  dibukanya trayek  bus malam Jayakatwang  aku tidak lagi  tahu  di mana  bus berhenti mengisi bensin. Rasanya  di  pompa bensin yang jauh  sebelum bus masuk ke  wilayah Banyuwangi.

Lalu aku bisa  berhubungan dengan mas Soeprijadi  yang alamat e-mail-nya  kuminta  dari redaktur  sebuah koran yang memuat cerpennya. Dari alamat e-mail itu dia mendapatkan  nomor telpon rumahku. Dan  dari hubungannya  dengan Suhaili Cordiaz, kakak Irfan, akupun mendapatkan nomor  telpon Irfan di Banyuwangi. Ketika kutelpon  dia,  kudengar suara  kegembiraan  yang luar biasa karena bertemu  dengan teman lama. Aku juga  bertanya apakah  dia pernah bekerja  di  pompa  bensin dekat terminal feri Ketapang. Ternyata memang demikian. Aku merasa  sangat menyesal  kenapa  saat itu aku tidak turun  dari bus  dan menyapanya. Kalau begitu, pasti  kami bisa  bertemu lebih lama, apalagi ketika  aku sering pulang ke Malang membawa mobil  sendiri, pasti aku bisa menengoknya  di Banyuwangi. Konon,  dia juga menjadi mubaligh.

Sekarang, kami sudah benar-benr berpisah  dan aku hanya mampu mendoakan agar arwahnya  diterima  di tempat  sebaik-baiknya  di sisi Allah. Amin.***

Singaraja, 25 Mei  2011
(Kado ulang tahun ke-68 untuk istriku: I Gusti Ayu Made Darika, tepat pada 5 Juni 2011)

Banyak Cara Menjaga Nama

Oleh: Ramadhan Batubara

Beberapa hari lalu ada berita di media soal Ketua DPR RI Marzuki Alie yang tak puas dengan jejaring sosial. Katanya, jejaring sosial itu kejam;
dia bisa memutarbalikkan fakta dan penuh kebohongan karena akun di jejaring sosial banyak yang palsu. Fiuh. Kabar basi ya….
Tapi tunggu dulu, meski sudah basi, saya malah tertarik dengan pernyataan itu. Ayolah, yang beri pernyataan ini adalah seorang pejabat, bayangkan Ketua DPR RI! Ya, bukan barang baru juga kalau berita basi pun bisa menjadi hangat jika dikatakan oleh orang yang tepat; baik tepat secara buruk maupun tepat secara baik. Perhatikan kutipan berita yang dimuat beberapa media belum lama ini.

Ketua DPR Marzuki Alie akhirnya aktif di twitter dan facebook. Melalui jejaring sosial dia ingin memberikan informasi yang benar tentang dirinya. Karena dia tahu potensi yang dimiliki jejaring sosial. “Twitter baru beberapa bulan inilah. Waktu saya kena kasus TKW dihujat, Mentawai, saya harus buat pelurusan. Karena jejaring sosial ini luar biasa kejamnya. Di situ saya mulai buka twitter dan FB,” kata Marzuki.

Politisi Partai Demokat ini mengamini betapa dahsyatnya kekuatan jejaring sosial. Cuma yang dia sayangkan di ranah twitter misalnya, banyak yang memakai akun palsu. “Banyak yang di twitter itu namanya palsu, tidak terbuka, tidak ada keberanian. Makanya kalau saya bilang Anda pengecut tidak punya keberanian, kalau berani tampil seperti saya Marzuki Alie DPR, @MA_DPR apa adanya,” imbuhnya.

Sebenarnya apa yang dialami Marzuki banyak dialami orang lain. Melalui jejaring sosial, bukan sesuatu yang baru kalau ada orang lain yang memfitnah orang lainnya. Ayolah, di dunia nyata (bukan maya) saja soal memfitnah adalah sesuatu yang lumrah, apalagi di dunia maya bukan?

Seorang teman beberapa waktu lalu terpaksa membuang atau membatalkan pertemanannya dengan seseorang di jejaring sosial. Dia tidak suka dengan pernyataan-pernyataan mantan temannya itu. Terlalu fulgar. Terlalu ingin mencari perhatian. Terlalu menjijikkan. Kasarnya, ketika dia lagi baik, maka dia akan memuji habis-habisan, begitu juga sebaliknya. Masalahnya, tidak seperti di dunia nyata, di jejaring sosial, seluruh dunia bisa membaca. Misalnya, suatu hari mereka berdua terlibat masalah. Eh, di status mantan temannya itu langsung keluar kalimat: katanya lulusan universitas tingkat nasional kok mentalnya sarjana lokalisasi.

Perhatikan, kalimat di atas cukup menyakitkan kan? Pertama, mantan temannya itu telah mengabarkan kepada dunia tentang yang terjadi pada mereka. Hm, apa yang terjadi pada teman itu dengan orang lain dan mantan teman itu dengan orang lain kan beda, kenapa semua orang harus tahu? Lalu, gara-gara si mantan teman tidak tahu bahasa Indonesia yang benar, si teman pun mendapat cap jelek. Perhatikan kata ‘lokalisasi’, harusnya cukup lokal saja kan? Heheheh….

Tapi sudahlah, intinya lantun kali ini memang mau menyoroti soal bagaimana seseorang menjaga citra. Untuk hal ini, memang unsur media sangat penting. Karena itu, di zaman dulu raja dan kerajaannya selalu ‘memelihara’ seniman. Ini dilakukan agar seniman itu bisa menghasilkan karya adiluhung yang tak akan termakan zaman. Nah, dalam karya agung itu, tentunya sang seniman akan memasukan sang raja dan kerajaannya kan. Nah, di kemudian hari, karya itu pun menjadi saksi sejarah. Padahal, bisa saja sang raja tak sehebat aslinya bukan?

Saya teringat dengan terbitnya buku tentang Soeharto. Sebut saja Biografi Daripada Soeharto Dari Kemusuk Hingga Kudeta, terbitan Media Presindo oleh Yogaswara; Harta dan Yayasan Soeharto, terbitan Media Presindo oleh Indra Ismawan; HM. Soeharto Membangun Citra Islam, terbitan Asiamark oleh Mistah Yusuf; dan The Life and Legacy of Indonesia’s Second President oleh Retnowati. Nah, yang terbaru adalah ‘Pak Harto, The Untold Stories; buku ini berisi kesaksian 113 orang tokoh dalam dan luar negeri tentang sisi kemanusiaan Soeharto. Selain itu ada pula kisah-kisah yang dituturkan para mantan ajudan ataupun rakyat biasa.

Bagi saya buku yang terakhir ini sedikit menggelitik. Pasalnya, buku ini (sayangnya saya belum baca) hadir di saat yang sedikit mencurigakan. Ada kesan buku ini sengaja dikeluarkan untuk kembali membangkitkan kenangan baik untuk tokoh yang menjadi hujatan di akhir 1990-an hingga awal 2000-an itu. Kasarnya, karakter Soeharto yang sempat jelek ingin diharumkan kembali. Ujung-ujungnya kemana? Ya, tanyakan pada rumput yang bergoyang kata Ebit G Ade.

Tapi sudahlah, soal menjaga citra memang sesuatu yang pelik. Kita harus jeli melihat suatu fenomena dari sekian banyak sudut. Bahkan, untuk melihat berita yang benar saja, kata para ahli komunikasi,  kita wajib membaca sedikitnya enam koran. Intinya, kebenaran itu kan tergantung suara yang besar, kata orang Medan pula. Hehehe.
Jika sudah seperti itu keadaannya, saya sedikit miris dengan sejarah bangsa ini. Ayolah, siapakah pahlawan yang kita miliki pada zaman pra perang kemerdekaan. Bukankah kita ketahui mereka dari buku pelajaran yang dicetak dan dibuat oleh Belanda? Siapa mereka itu, bukankah mereka adalah pejuang daerah yang berhasil dikalahkan oleh Belanda? Ya, mungkinkah Belanda menuliskan tokoh-tokoh yang tidak berhasil mereka taklukkan untuk menjadi bahan pelajaran di sekolah yang diciptakan di negara jajahan mereka? Pertanyaannya, kemana pejuang yang berhasil menang dan tidak pernah ditaklukan oleh Belanda, adakah mereka menjadi pahlawan kita?

Karena itu, Ketua DPR RI Marzuki Alie, Anda sudah benar dengan membuat akun di jejaring sosial itu. Padahal, Anda kan bisa membuat undang-undang untuk melarang jejaring sosial di Indonesia. Bukankah begitu?
Tapi, kalau tetap sewot juga karena membaca akun yang aneh-aneh tentang Anda, tak perlu marah pula kan. Biarkan sajalah. Kalau marah, nanti bisa dicurigai. Seperti kata pepatah, marah tandanya cinta. He he he. (*)
10 Juni 2011

Kopi Cinta yang Mampu Atasi Penyakit

Kopi Dynamic Tribulus

Siapa tak kenal kopi, minuman yang kini terus berkembang menjadi satu minuman paling populer di dunia. Dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat yang disajikan di waktu santai.

Kalau Kopi Dynamic Tribulus? Nah, di  sini kita akan membicarakan khasiat dan manfaat meminum minuman yang dijuluki ‘Kopi Cinta’ ini.

Kopi Dynamic Tribulus merupakan produk asli buatan Indonesia yang diracik dan dipadukan dengan bahan herbal. “Jadi, kopi ini sangat baik untuk dikomsumsi masyarakat. Dengan resep warisan China kuno yang sudah berusia ribuan tahun, dijamin kopi ini akan memberikan banyak manfaat kepada peminumnya,” terang Distributor Kopi Dynamic Tribulus untuk Wilayah Sumut Henry Wieka, Jumat (10/6).

Henry menjelaskan, resep warisan China kuno ini dulunya merupakan resep untuk menyajikan minuman kepada para Raja China. “Fungsinya untuk menjaga stamina,” katanya.

Menurutnya, Kopi Dynamic Tribulus ini terbuat dari biji kopi pilihan yang dihasilkan dari tangan dan prosedur yang sangat terjaga prosesnya, sehingga mutunya cukup baik. “Kopi ini sangat baik dikomsumsi karena terbuat dari bahan herbal dan tak ada zat kimia,” jelas Henry.

Karenanya, sambung Henry, minuman hasil seduhan Kopi Dynamic Tribulus ini tak menimbulkan efek samping dan aman untuk jantung. “Sangat banyak masyarakat yang telah merasakan manfaat dan kehebatan kopi ini. Bukan hanya masayarakat biasa saja yang menyukainya, tapi juga dari kalangan pekerja keras, kantoran hingga pejabat juga telah merasakan manfaat besar dari kopi ini,” tuturnya serta menganjurkan, selain meminum Kopi Dynamic Tribulus masyarakat juga harus menjaga pola makanan sehat dan selalu banyak berolah raga.

Manfaat Kopi Dynamic Tribulus ini dapat meningkatkan fungsi vitalita organ sexual, membantu menurukan hipertensi, memaksimalkan fungsi hati, ginjal dan jaringan uriner. Tak hanya itu, kopi ini juga dapat mengurangi keputihan dan mempelancar haid. Meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah kanker prostat, menurunkan stres fisik dan mental.

Kopi Dynamic Tribulus mengandung 100 persen Lepidium Peruvianum Chacon organic. “Lepidium Peruvianum Chacon organik ini diproses secara gelatinisasi dengan standar GMP. Lepidium Peruvianum Chacon merupakan herbal sejenis umbi-umbian yang tumbuh di pegunungan Andes Peru pada ketinggian hingga 14.500 kaki di atas permukaan laut. Berada di bawah puncak salju glacial (Red),” jelas Henry.

Daerah tersebut, sambungnya, tempat spesies khusus Lepidium Peruvianum Chacon ditemukan. Dan tempat ini merupakan suatu wilayah dengan kondisi cuaca yang sangat ekstrim. Seperti, sering diterpa badai atau angin kencang, dingin atau beku di malam hari dan panas karena diterpa cahaya matahari terus menerus di siang hari.
“Tak ada tanaman makanan lain di muka bumi ini yang dapat tumbuh dan berkembang biak pada ketinggian serta kondisi cuaca yang seekstrim itu. Para herbalist telah lama yakin tanaman yang resistan dan kuat seperti Lepidium Peruvianum Chacon ini pasti memiliki manfaat medis yang sangat tinggi,” ungkap Henry.

Dengan demikian, Kopi Dynamic Tribulus memiliki karakteristik dan cara kerja yang sama dengan Lepidium Peruvianum Chacon. Ini berarti Kopi Dynamic Tribulus memiliki kemampuan menyeimbangkan hormon tubuh sekaligus efektif mengatasi berbagai gangguan kesehatan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon termasuk berbagai gangguan seputar menstruasi.

Untuk pembelian dan pemesanan, bisa langsung datang ke Jalan Nangka No 23 Medan. Atau dengan menghubungi nomor  0813 6246 3322, 0878 6824 2684. Atau dengan mengunjungi website resminya di www.kopicinta-xamtthone.com. (saz)

Melatih Kesabaran Lewat Permainan

Gebyar SMK di Lapangan Benteng

Ada yang berbeda di stan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 9 Medan dan SMK Panca Budi 1 Medan. Karenanya, stan kedua SMK tersebut berhasil mencuri perhatian pengunjung pada Gebyar SMK yang digelar di Lapangan Benteng, Jumat (10/6).

INDRA JULI, Medan

Cuaca terik yang menyelimuti Kota Medan siang itu tak mampu mengusik perhatian peserta satu permainan yang digelar di stand SMK Muhammadiyah 9 Medan yang berhadapan dengan Kantor Koramil. Di atas meja tampak dua tiang besi dihubungkan dengan kawat tembaga yang dibentuk dalam empat gelombang amplitudo. Sementara di ujung sisi tiang terhubung tongkat kayu (joystik) dengan ujung yang melingkari kawat tembaga tadi.

Permainan itu dilakukan dengan memindahkan joystik ke ujung lainnya dengan melalui gelombang amplitudo tanpa bersentuhan. Setiap sentuhan yang terjadi antara kawat dengan kepala joystik akan mengeluarkan bunyi dari speaker yang dihubungkan dengan baterai berkekuatan tiga volt. Untuk memotivasi peserta, sekolah menyiapkan hadiah sesuai dengan tingkat keberhasilannya.

“Mau coba yang teh botol kotak atau yang Vita Zone? Kalau yang teh botol berarti dua kali mencoba. Kalau berhasil dalam sekali coba, dapat Vita Zone,” jelas Muhammad Roni, yang juga staf di bidang elektronik SMK Muhammadiyah 9 Medan kepada Sumut Pos.

Setelah beberapa kali gagal, siswa SMK PAB 1 Medan Ikhsan akhirnya berhasil memindahkan joystik melewati kawan amplitudo tanpa menimbulkan bunyi. Untuk usahanya itu Ikhsan mendapatkan teh botol kotak. Didorong rasa penasaran yang tinggi, Ikhsan kembali mencoba tantangan untuk mendapatkan hadiah Vita Zone, artinya harus berhasil dalam sekali percobaan.

Hanya saja, rasa lelah yang belum pulih setelah beberapa kali mencoba, membuat Ikhsan tidak dapat mengendalikan getaran di persendian tangan. Memasuki gelombang amplitudo pertama, ujung joystik pun menyentuh kawat yang langsung mengeluarkan bunyi. “Memang susah juga. Kita harus menjaga konsentrasi dan harus tetap tenang. Masih bagus bisa dapat hadiah,” ucap Ikhsan yang langsung menikmati hadiahnya.

Rasa penasaran juga membuat tiga siswa SMK Swasta Teladan Medan terlibat dalam permainan ini. Hanya saja ketiganya seperti terburu-buru saat melakukan percobaan sehingga gagal memindahkan joystik ke sisi yang lain. “Betul-betul harus sabar bah,” ucap Lambok Mangatur Lumbangaol mewakili kedua temannya yang juga gagal.

Seperti yang disampaikan Roni, permainan itu memang ditujukan untuk melatih kesabaran. Dengan ujung joystik yang berdiameter satu sentimeter sebenarnya bukanlah hal yang rumit. Hanya tetap saja membutuhkan kesabaran dan konsentrasi yang tinggi untuk bisa menyelesaikan tantangan yang ada. “Ini program kita dari bagian elektro. Bahwa dengan dana yang kecil kita juga bisa membuat permainan yang bermanfaat khususnya melatih kesabaran,” jelasnya.

SMK Muhammadiyah 9 Medan sendiri memang memusatkan perhatian pada bidang-bidang yang sedang marak di tengah-tengah masyarakat. Selain permainan kesabaran tadi ada juga perakitan ampli untuk keperluan soundsystem. Ke depan mereka akan menyiapkan perakitan sound system untuk kebutuhan keyboard. Ada juga televisi trainer yang menggunakan boks transparan.

Sehingga pengunjung dapat melihat komponen-komponen yang digunakan. Televisi trainer ini dibuat 2006 untuk keperluan praktek siswa juga selalu ditampilkan di setiap kegiatan pameran.

Untuk bidang otomotif, SMK Muhammadiyah 9 Medan juga memajang air conditioner (AC) mobil yang sudah dimodifikasi dengan tenaga listrik sebagai pendingin ruangan di stand. Hanya saja karena kondisi stand yang terbuka membuat pendingin ruangan tadi tidak berfungsi maksimal.

Siang itu mereka juga menurunkan mekaniknya pada lomba tune up sepedamotor. Untuk kegiatan tune up sepedamotor ini, SMK Muhammadiyah 9 Medan berhasil meraih Juara Harapan 1 di Panca Budi, April lalu.

Stan SMK Panca Budi 1 pun menjadi pusat perhatian pengunjung dengan menggelar permainan yang sama. Hanya saja permainan yang dibuat berukuran lebih kecil dari sebelumnya dan tidak menggunakan alarm suara melainkan lampu yang menyala bila terjadi sentuhan antara ujung joystik dengan kabel rintangan.

Adapun Gebyar SMK ini diikuti 83 stan dari SMK se-Sumatera Utara yang dirangkai dengan beberapa lomba. Selain lomba tune up sepeda motor, lomba web, lomba tata rias multi etnis, lomba aransemen musik, Sabtu (11/6) ini juga akan digelar lomba film pendek, lomba busana multi etnis, lomba tari multi etnis. (*)

Kejagung Tetapkan Dua Tersangka Baru

Pembobolan Rekening Pemkab Batubara Rp80 Miliar

JAKARTA-Kejaksaan Agung (Kejagung) menambah dua tersangka baru dalam kasus pembobolan rekening milik Pemkab Batubara, Sumatera Utara (Sumut). Tersangka baru tersebut berasal dari pegawai Pemkab Batubara, serta seorang lagi dari pihak swasta. “Yang staf Pemda (Batubara) itu tugasnya mencairkan fee,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Andhi Nirwanto, saat dicegat wartawan selepas menunaikan salat Jumat (10/6).

Disebutkan Andhi, penetapan status keduanya merupakan hasil dari penyidikan tiga penyidik pada JAM Pidsus, yang sejak dua hari lalu  ditugaskan langsung ke Sumut, memeriksa kasus korupsi yang diduga merugikan negara mencapai Rp80 miliar tersebut. “Penetapan dua tersangka baru itu, ya, hasil penyidikan mereka,” sambung mantan Kajati DKI Jakarta ini.

Dengan begitu, sampai kini Kejagung telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Kepala Pengelola Keuangan Daerah Pemkab Batubara Yos Rauke dan Bendahara Umum Fadil Kurniawan, serta Rachman Hakim yang merupakan Direktur PT Pacific Fortune Management. Ketiganya kini sudah ditahan. Sementara untuk dua tersangka baru, Andhi belum bisa memastikan.

Keterlibatan Rachman dalam kasus Batubara ini, karena lewat dialah Yos dan Fadil kenal dengan Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Bekasi, Itman Hari Basuki, sekitar September 2010. Diduga, dari pertemuan ini kemudian diputuskan uang milik Pemkab tersebut  didepositokan di Bank Mega, setelah ada janji dari Itman akan mendapat bunga deposito di atas pasaran.

Akhirnya secara bertahap, dana Pemkab Batubara yang ada di Bank BPD Sumut, dipindah ke Bank Mega Jababeka. Dana kemudian dicairkan dan disetor ke dua perusahaan sekuritas, melalui Bank BCA dan Bank CIMB Niaga. (pra/jpnn)

September, Ganti Rugi Lahan Tuntas

MEDAN- Pembayaran tahap III ganti rugi lahan fly over (jembatan layang, Red) di Jalan Jamin Ginting telah dilakukan pada Selasa (6/6) lalu. Pada pembayaran tersebut, 11 persil tanah yang terbayarkan ganti ruginya dengan dana sebesar Rp2 miliar.

Diketahui, dari pembayaran tahap I dan II telah terbayarkan sebanyak 57 persil tanah. Jadi, secara keseluruhan dari 131 persil tanah yang dimiliki warga tersebut, sudah 68 persil yang terbayarkan. Sisanya tinggal 73 persil tanah lagi.

Jadi keseluruhan dana yang telah dialirkan kepada warga penerima ganti rugi, mulai tahap I hingga tahap III ini menjadi sebesar Rp12,5 miliar.

“Dana keseluruhan ganti rugi untuk warga sebesar Rp30 miliar yang bersumber dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), dimana masing-masing teralokasi sebesar Rp15 miliar. Saat ini, yang digunakan masih bersumber dari dana APBD.

Dana dari APBD kemungkinan akan dicairkan pada bulan ini juga. Dari total yang telah digunakan, semuanya bersumber dari APBD Provinsi, dan saat ini yang sudah dialirkan ke warga sebesar Rp12,5 miliar,” terang Ketua Tim Pembebasan Lahan Fly Over Jamin Ginting Thomas Sinuhadji saat ditemui Sumut Pos di Lantai II Balai Kota Medan, Jum’at (10/6).

Dijelaskannya, diperkirakan pembebasan lahan atau pembayaran ganti rugi tersebut akan selesai pada September mendatang. Namun, belum bisa dipastikan kapan akan dimulainya pembangunan fisik jembatan tersebut. Karena untuk urusan pembangunan fisik jembatan, menjadi tugas dan wewenang dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU).

“Dari Rp30 miliar itu, diperkirakan akan lebih anggaran sebesar Rp3-Rp4 miliar. Dan sisa tersebut, akan dialihkan pada pembuatan under pass di Jalan Brigjen Katamso. Kalau mengenai pembangunannya, itu sepenuhnya wewenang pemerintah pusat,” tegasnya.
Menyangkut pembayaran tersebut, kantor Lurah Kuala Bekala Kecamatan Medan Johor menjadi tempat pembayarannya.(ari)

Ical Jenguk Syamsul

JAKARTA-Hari pertama menjalani perawatan di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/6), Gubernur Sumut nonaktif Syamsul Arifin dibesuk Ketum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie alias Ical. Salah seorang Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani perkara dugaan korupsi APBD Langkat juga datang ke ruang rawat Syamsul di lantai II RS tersebut.

Hanya saja, tujuan Ical berbeda dengan tujuan kedatangan jaksa dari KPK yang enggan namanya ditulis di Sumut Pos. Ical datang dalam kapasitasnya sebagai pimpinan tertinggi Partai Golkar, membesuk Syamsul yang juga Ketua DPD nonaktif Partai Golkar Sumut. Sedang jaksa dari KPK datang untuk mengecek perpindahan perawatan Syamsul dari RS Jantung Harapan Kita ke RS Abdi Waluyo.

“Saya datang untuk mengecek saja, untuk kepentingan administrasi,” ujar jaksa itu. Dia tidak mau banyak komentar. Alasannya, yang punya kewenangan berkomentar adalah anggota JPU yang lain, Muhibuddin. Hanya dia menjelaskan, penetapan hakim pengadilan tipikor soal permohonan izin Syamsul berobat ke RS Gleneagles Singapura, memang belum keluar.

Sementara, Ical hanya sekitar lima menit berada di ruang rawat Syamsul. Pasalnya, kondisi Syamsul masih parah dan sama sekali belum bisa berkomunikasi. Syamsul masih tergeletak dengan mesin pernapasan yang masih terpasang. Ical ditemui menantu Syamsul yang juga dokter ahli jantung, dr Zainuddin, dan istrinya (putri Syamsul) Beby Ardiana. Lantaran kondisi Syamsul masih gawat, belum ada pembesuk yang diperkenankan masuk, kecuali Ical.

Kepada wartawan begitu keluar dari ruang rawat Syamsul, Ical mengaku sangat prihatin dengan kondisi mantan bupati Langkat itu. Dia berharap, hakim pengadilan tipikor mau mengeluarkan izin pengobatan Syamsul ke Singapura.

“Ini soal kebutuhan penanganan medis untuk penyelamatan Pak Syamsul. Keluarga sangat yakin dengan RS Gleanagles di Singapura, karena  Pak Syamsul dahulu pernah dirawat di sana sehingga keyakinan itu harus kita hargai. Saya berharap Pak Syamsul dapat segera pulih kesehatannya,” ujar Ical, yang datang ke RS hanya ditemani ajudannya.
Dulu, di hari-hari pertama Syamsul ditahan di Rutan Salemba, Ical juga datang membesuk. Saat itu, sejumlah pentolan Partai Golkar ikut menyertai Ical.

Sedang menantu Syamsul, dr Zainuddin, menjelaskan, keinginan pihak keluarga membawa berobat ke RS Gleneagles Singapura bukan lantaran pihak keluarga mendewakan RS Gleneagles. Namun, semata-mata lantaran di RS Gleneagles sudah punya rekam medis kondisi Syamsul.

Malahan, menurut menantu Syamsul yang setia mengawasi kondisi mertuanya itu, Syamsul pernah menjalani operasi jantung di RS Gleneagles dan mengalami infeksi paru. Saat itu Syamsul sempat tidak sadarkan diri selama tujuh hari. Syamsul ketika itu juga dipasangi alat bantu pernapasan selama 40 hari, tetapi kemudian secara perlahan-lahan alat pernapasan bisa dibuka dan kondisinya kembali normal.

Sementara, Beby Arbiana menjelaskan, jika diizinkan berobat ke Singapura, pihak keluarga yang akan menanggung semua biaya, termasuk biaya pengawalan yang berasal dari petugas kepolisian yang ditunjuk KPK. Beby juga memastikan bahwa ayahnya tidak akan melarikan diri dan tetap akan menjalani semua prosedur yang diberlakukan bagi tahanan yang dirawat di luar negeri.

Kemarin, Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu juga datang untuk membesuk Syamsul. Hanya saja, fungsionaris DPD Golkar Sumut itu tidak diperkenankan masuk ke ruang perawatan Syamsul. “Saya hanya datang untuk melihat kondisi beliau dan saya mendoakan semoga beliau cepat sembuh,” ujar Syahrul.

Seperti pernah diberitakan Sumut Pos, Syamsul Arifin kecewa berat atas keputusan DPP Partai Golkar yang memberhentikan sementara dirinya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sumut, awal Mei lalu.

Syamsul tidak terima atas keputusan DPP itu, namun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. ‘’Beliau (Syamsul, red) kaget, beliau kecewa, tapi beliau bisa apa?” ujar tim kuasa hukum Syamsul Arifin, Rudy Alfonso, Jumat (6/5).

Rudy menceritakan, Syamsul yang juga Gubernur Sumut nonaktif itu yang mengungkapkan rasa kecewanya itu kepadanya, begitu mendengar dirinya diberhentikan sementara sebagai Ketua Golkar Sumut. Lantas, langkah apa yang dilakukan Syamsul? Rudy mengatakan, Syamsul kecewa saja dan tidak melakukan reaksi berlebihan. “Karena beliau sosok orang yang bisa menyembunyikan kekecewaan. Tapi saya tahu, beliau sangat kecewa,” terangnya.

Syamsul kecewa lantaran merasa belum saatnya diberhentikan sementara dari jabatan politik itu. Pasalnya, kini proses persidangan perkara dugaan korupsi APBD Langkat masih berlangsung.
“Mestinya dijunjung asas praduga tak bersalah. Toh tak lama lagi persidangan selesai,” ujar Rudy, yang juga anggota Badan Hukum dan HAM DPP Partai Golkar itu.(sam)

Nanyang Ditenggat 7×24 Jam

Komisi D Desak Bangunan Dibongkar Sendiri

Tiang Penyangga Timpa Rumah Warga

MEDAN- Warga yang tinggal dekat dengan lokasi pembangunan gedung baru Nanyang Internasional School makin resah. Pasalnya, Jumat (10/6) malam, sekira pukul 19.45 WIB, tiang penyangga (eskapolding) untuk pembangunan sekolah tersebut jatuh dari lantai tiga dan menimpa rumah warga bernama Yeni dan Su wito.

Menurut Suwito yang ditemui di rumahnya, tiang penyangga berupa besi dan kayu balok tersebut jatuh saat hujan deras disertai angin kencang “Ini karena pembangunan tersebut tidak memakai jaring pengaman. Kejadian ini bukan yang pertama kali, namun tidak ada tanggapan sama sekali dari pihak Nanyang,” ungkap Suwito.

Selain itu, lanjut Suwito, pihak Nanyang seakan ingin menutupi peristiwa jatuhnya tiang penyangga yang menimpa rumahnya tersebut. Hal ini terlihat dari petugas Satpam Nanyang yang langsung mengutipi kayu dan besi tersebut. “Kami berencana akan melaporkan kajadian ini ke polisi. Karena pihak Nanyang tidak merespon keluhan kami. Ini dapat membahayakan keselamatan kami,” ungkapnya yang diamini Yeni.

Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat yang digelar di gedung dewan, Komisi D DPRD Kota Medan memberi tenggat waktu 7×24 jam bagi pemilik Nanyang Internasional School untuk membongkar sendiri bangunannya. Pasalnya, bangunan tersebut telah menyimpang dari SIMB yang dikeluarkan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (TRTB) Kota Medan.

Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat Komisi D DPRD Kota Medan dengan warga Kelurahan Darat Kecamatan Medan Baru, Dinas TRTB Kota Medan, Dinas Pendidikan Kota Medan dan Nanyang Internasional School yang diwakili penasehat hukumnya, Jum’at (10/6).

Dalam pertemuan itu, Dinas TRTB Kota Medan yang diwakili Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan dan Pengendalian Dinas TRTB Medan Ali Tohar mengungkapkan, perluasan satu unit bangunan sekolah Nanyang berukuran 15,5×32,5 M, menyimpang dari SIMB No.642/363.K tanggal 14 Februari 2011. Penyimpangan itu terjadi pada Gambar Situasi Bangunan (GSB) Roilen bagian sisi utara 1,2×13 M, sisi seletan 1,5×15 M dan sisi barat 3,7×1,5 M.

Selain mengultimatum, Komisi D DPRD Medan juga mengeluarkan rekomendasi agar Dinas TRTB Kota Medan untuk melakukan peninjauan ulang terhadap Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB), serta meminta Pemko Medan untuk menghentikan segala aktivitas pembangunan selama proses pembongkaran berjalan.

“Pembangunan Nanyang harus diberhentikan, Dinas TRTB harus berani memberikan sanksi tegas sekaligus memberikan contoh kepada pengembang lain yang terbiasa melanggar aturan,” tegas Sekretaris Komisi D DPRD Medan pada RDP tersebut.

Lebih lanjut Muslim berjanji, Komisi D serius menyikapi keluhan warga dan tidak akan peduli dengan pengaruh dari luar, seperti telepon-telepon yang masuk ke nomor ponselnya.
Anggota Komisi D DPRD Medan lainnya yang hadir pada RDP tersebut, Budiman Panjaitan juga meminta agar izin operasional sekolah untuk ditinjau kembali. Karena Budiman menilai, ada hal yang menyalahi tentang izin yang ada.

Menyahuti hal itu, pihak Nanyang yang diwakili penasehat hukumnya Julheri mengaku, pihaknya akan mematuhi ketentuan sesuai izin yang dberikan Dinas TRTB Kota Medan.

Namun, Julheri terkesan menolak pembongkaran terhadap pembangunan gedung yang telah sesuai aturan dan sudah mendapatkan IMB nya. “Kami setuju penghentian pembangunan hanya untuk bangunan yang menyimpang. Tapi kami tidak setuju dengan penghentian pembangunan secara keseluruhan,” tandasnya.

Nah, saat itu Kabid Pengawasan dan Pengendalian Dinas TRTB Medan Ali Tohar meminta dukungan Komisi D DPRD Medan, dalam rangka penghentian dan pembongkaran Nanyang Internasional School. Terkait hal itu, warga Kelurahan Darat Kecamatan Medan Baru melalui M Sianipar mengungkapkan, agar Pemko Medan segera menyahuti rekomendasi dari Komisi D DPRD Medan.(ari)

Keliling Indonesia dengan Moge

Berawal dari Angan-angan

Sebanyak 7 riders tangguh asal Medan telah berhasil mengelilingi Indonesia mengendarai Motor Gede (Moge). Mereka melintasi delapan kepulauan di Indonesia, selama 62 hari dengan jarak tempuh diperkirakan mencapai 15 ribu kilometer.

Ke 7 orang tersebut dipimpin Salimin Johan Wong, beranggotakan Basri Chen, Sumito, Chandra Putra, Nensy, Benny dan Hendra berkendara sejak Tanggal 9 April dan tiba di Medan disambut Wali Kota Medan Rahudman Harahap di Balai Kota Medan, Kemarin (10/6).

Penjelajahan 8 kepulauan yang ditempuh riders tersebut dimulai dari titik nol Medan yakni, Lapangan Merdeka Medan. Riders akan melintasi Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sulawesi,Kalimantan, Jakarta dan kembali melalui Lampung dan akhirnya tiba di Medan.

Salimin Johan Wong, pemimpin tour atau dalam bahasa para riders sdisebut Marshal menceritakan, setiap tiba di satu kota, tim selalu ditanya berasal dari mana. Dengan lugas dan tegas, mereka menjawab berasal dari Medan.

“Setiap tiba di satu kota, pertanyaan yang dikemukakan adalah kami dari mana. Dan pastinya, kami dengan bangga mengatak dari Medan. Dan apa yang mereka katakana, wow jauhnya,” ungkap Salimin Johan.

Saat perjalanan, tak jarang mereka harus menginap di teras-teras rumah warga, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan rumah-rumah makan yang mereka singgahi. Seolah menjadi kebiasaan, mereka tidak mandi selama dua sampai tiga hari karena jarak tempuh satu kota dengan kota lain cukup jauh.

“Inilah sisi adventurenya. Pada perjalanan itu memang, nyata kalau Indonesia begitu kaya, memiliki potensi yang sangat luar biasa. Pengalaman yang tak terlupakan kami bangga menjadi warga Medan dengan memperkenalkan Kota Medan dengan cara adventure seperti ini,” ungkapnya sembari mencontohkan saat mereka melintasi sebuah jalan yang mengubungkan Kalimantan Barat dengan Kalimantan Timur. Di sepanjang jalan, banyak ditemukan badan jalan yang rusak parah.

Dari asal muasal rencana touring ke seluruh Indonesia itu, Salimin juga mnegungkapkan, niat awal mereka untuk melihat Indonesia secara dekat. Dan dalam bayangan mereka, awalnya akan mengalami kesulitan. Namun, darah-darah petualang yang mereka miliki mengalahkan pesimisme-pesimisme seperti itu.

“Awalnya hanya angan-angan, melihat Indonesia dari dekat. Kami juga berpikir akan mengalami kesulitan. Tapi, jiwa-jiwa petualang kami mengalahkan itu semua. Akhirnya kami kembali lagi ke Medan. Tak terasa kami telah berjalan selama 62 hari, dan jarak tempuh yang tadinya diperkirakan selama 12 ribu Km, ternyata lebih sekitar 15 Km,” ungkapnya lagi.

Sedangkan itu, Wali Kota Medan Rahudman Harahap menyatakan, keberadaan atau perjalanan touring keliling Indonesia tersebut menjadi salah sarana untuk memperkenalkan Medan di khalayak ramai se nusantara.

Rahudman juga menyatakan, Pemerintah Kota (Pemko) Medan juga akan mengundang para pengendara Motor Gede (Moge) untuk memeriahkan Hut Kota Medan ke 421 pada 1 Juli 2011 mendatang.(ari)