Home Blog Page 15294

Menggugah Siswa Mencintai Sejarah

Mengenal Situs Kota Cina Lewat Visual

Cerita masa lalu atau yang disebut sejarah selain memiliki kisah yang menarik juga mengandung nilai pendidikan yang sangat berharga. Namun perkembangan dinamika yang tidak diantisipasi cenderung menjauhkan generasi muda dari sejarah itu sendiri.

INDRA JULI, Medan

Tak dapat dipungkiri bagaimana metode pendidikan yang diterapkan saat ini sudah sangat usang. Hal itu membuat beberapa bidang studi sosial seperti mata pelajaran sejarah pun jadi menjemukan. Tak heran bila tak sedikit siswa yang kurang berminat terhadap mata pelajaran ini. Tentu saja fenomena ini mengundang kekhawatiran mengingat berhubungan dengan kelangsungan bangsa Indonesia.

Hal itu pun menjadi perhatian Museum Kota Cina Medan Marelan di Keluarahan Payah Pasir Kecamatan Medan Marelan yang turut meramaikan pameran pendidikan di Pusat Perbelanjaan Medan Fair Plaza. Di salah satu stand, Museum Kota China coba mengenalkan satu metode pembelajaran sejarah secara visualisasi. Tidak seperti metode belajar terdahulu, siswa diajak mengenal sejarah dengan mempraktikkan langsung.

“Dengan pengenalan visual seperti ini, siswa akan lebih tertarik untuk mempelajari sejarah. Makanya kita coba dengan pengenalan pembuatan keramik abad 12 hingga 14 yang menunjukkan keberadaan Kota Cina itu sendiri,” tutur penanggungjawab stand, Dini Wariastuti kepada Sumut Pos, Kamis (5/5).

Sehubungan dengan itu, Museum Kota Cina menggelar lomba pembuatan keramik dari abad 12 untuk tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Sumatera Utara. Di stand itu turut dipajangkan berbagai bentuk keramik dari abad 12 hingga 14 dalam berbagai ukuran. Pada spanduk yang dipasang juga dapat dilihat berbagai temuan dari situ Kota China baik prasasti, patung, maupun benda bersejarah lainnya.

Untuk lomba, panitia sudah menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan seperti tanah liat yang didatangkan dari daerah Hinai Kabupaten Langkat dan roda putar. Tiap sekolah akan diwakili oleh dua siswa yang bertugas membuat dua set dari tiga jenis keramik abad 12 berukuran kecil yang diwajibkan.

Ketiga jenis keramik yang diperlombakan memiliki perbedaan dari lebar leher dari yang kecil, besar, dan menjulang. Masing-masing peserta memiliki waktu selama 2 jam 30 menit untuk menyelesaikan pembuatan keramik. Hal ini membuat para siswa dapat fokus memberikan yang terbaik pada karyanya. Pemenang perlombaan akan diumumkan pada penutupan kegiatan sekaligus penyerahan hadiah dari panitia.

“Penilaian akan dilakukan oleh para juri yang merupakan pakar keramik dari Universitas Negeri Medan (Unimed). Yang paling menyerupai motif pada abad 12 akan menjadi pemenang. Kita sudah siapkan hadiah bagi pemenang dan cenderamata bagi asal sekolah peserta,” jelas Dini yang juga mahasiswi Pendidikan Sejarah Unimed ini.

Hingga hari ketiga pameran, sudah tercatat dua sekolah yang mengirimkan wakilnya yaitu SMK Negeri 1 Lubuk Pakam dan SMK Al Washliyah Negeri IV Medan. Jumat (6/5) ini, SMK Negeri 1 Tanjung Morawa akan mengirimkan wakilnya. “Karena ini kali pertama kita gelar di publik, peserta sengaja kita pilih dari lokasi penghasil keramik. Selama ini kegiatan seperti ini kita laksanakan di Museum Kota Cina dimana pihak sekolah yang datang,” tambahnya.
Harapan itu pun tampaknya mulai terwujud. Seperti yang diakui Muhammad Khairul dan Egi Aprianto siswi kelas 1 yang mewakili SMK Al Washliyah Negeri IV Medan. Dari kegiatan tersebut dirinya memiliki wawasan baru mengenai keramik itu sendiri. “Sebenarnya saya kerja buat keramik juga di dekat rumah. Tapi selama ini saya tidak begitu tahu sejarah keramik ini seperti bentuk keramik abad 12 dan abad 14 yang mencerminkan keberadaan Kota Cina,” ucap M Khairul yang menyelesaikan tugasnya dengan catatan waktu 10 menit.

Museum Kota Cina sendiri memiliki program pengenalan sejarah Kota Cina sebagai bandar internasional di Kota Medan pada abad 12-14. Di situ kita dapat melihat ribuan fragmen keramik dari Cina mulai dari Dinasti song (abad 12) sampai Dinasti Qing (abad 17), juga keramik Siam, Vietnam, Timur Tengah, India, dan keramik lokal. Di situ kita juga dapat melihat proses eskavasi (penggalian) arkeologis dan praktek repro pembuatan keramik dan tembikar kuno.

Ada pun koleksi Museum Kota Cina berupa ribuan fragmen keramik China, Vietnam, Timur Tengah, India dan Siam. Tiga replika arca Budha dan Hindu, puluhan kepingan uang kuno, bongkah besi bekas industri, batu bata kuno, tulang-belulang, kerang dan sampah dapur kuno, batu penanda, tiang rumah kuno, dan temuan-temuan arkeologis dari situs Benteng Putri Hijau, situs Pulau Kampai, situs Pantai Boga, dan situs Kota Rantang, Hamparan Perak. (*)

Bongkar Pajak Liar

08566291xxx

Kami mohon kepada Pemko Medan bongkar pajak liar Jalan Meranti Medan,  karena buat bau, macet dan kalau hujan banjir.

Kami Tertibkan

Terimakasih, kami sampaikan kepada pengirim SMS ini, laporannya akan kami tindak lanjuti dan segera kami tertibkan. Karena, pasar meranti sudah di pindahkan ke pasar khandak di Jalan Idris Gang Khandak. Apabila masih ditemukan berdagang di tempat yang telah dipindahkan, kami pindahkan segera.

Kriswan
Kepala Sat Pol PP
Kota Medan

15 Unit Kapal Sitaan Batal Dilelang

Negara Rugi Rp15 Miliar

Sebanyak 15 unit kapal sitaan kasus illegal fishing (penangkapan ikan ilegal, Red) di Belawan rusak. Akibatnya negara disinyalir mengalami kerugian mencapai Rp15 miliar.

Hal itu terungkap saat Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), AK Basuni M saat mengunjungi Kejaksaan Negeri (Kejari) Belawan yang berada di Jalan di Jalan Sumatera, Medan Belawan, Selasa (10/5).

Kehadiran AK Basuni yang disambut Kacabjari Belawan, Ranu Subroto, dan Kepala PSDKP Belawan, Mukhtar Api. Selanjutnya, Basuni diajak meninjau 15 unit kapal yang diletakkan di Dermaga Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan sebanyak 10 kapal, di depan gudang Sarwo sebanyak 2 unit kapal dan di Lantamal I sebanyak 3 unit kapal.
Pada saat meninjau 10 kapal yang berada di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dan juga 2 kapal di depan gudang sarwo, keadaan kapal tampak mengalami kerusakan. Bahkan ada satu unit kapal yang badannya sudah tenggelam setengah badan. Selain itu, peralatan kapal seperti mesin-mesinya pun sudah tidak ada.

AK Basuni M mengatakan, kehadirannya ke Belawan sebenarnya hendak melihat kondisi kapal hasil tangkapan illegal fishing. Peninjauan ini juga sebagai bagian untuk melakukan lelang terhadap 15 unit kapal tersebut. Lelang tersebut dilakukan setelah putusan pengadilan pada September 2010. “Kita harus melihat dulu secara fisik barang yang akan dilelang,”ujarnya.

Setelah melakukan peninjauan ke lapangan,  dia mengatakan kondisi fisik ke 15 unit kapal sangat memprihatinkan, keadaanya sudah tidak layak lagi untuk dilelang.

“Kalau sudah begini kondisinya mana laku lagi untuk dilelang, akibatnya ini berdampak kepada kerugian aset negara mencapai Rp15 miliar, apabila per kapalnya dijual dengan harga Rp1 miliar,”sebutnya.

Sebenarnya, sebutnya sejak dini kejaksaan harus cepat mengusulkan untuk dilakukan pelelangan dalam rangka mengamankan aset Negara. Hanya saja, akibat terbenturnya proses pengadilan, hal tersebut menunjukkan prosedur hukum yang seperti ini berdampak kepada akhirnya aset Negara tidak terselamatkan.

“Pengawasan yang kurang merupakan penyebab aset Negara ini tidak bisa terselamatkan, kapal yang dititipkan di gudang ikan di Gabion Belawan saja bisa dicuri mesinnya. Pemilik gudang sendiri diancam pelakunya,” imbuhnya.
Dalam penyelamatan aset Negara, paparnya sebenarnya ada alternatif yakni boleh melanggar hukum, artinya memang ada pasal yang mengatur bahwa proses pelelangan harus melewati masa inkrah terlebih dahulu, tapi pada pasal 45, dibenarkan untuk melanggar hukum dalam upaya pengamanan aset Negara. Semesetinya, dari penyidik dan penuntut umum berupaya untuk mengamankan aset dengan meminta persetujuan pelelangan tersebut. Namun itu tergangtung kepada hakimnya.

“Biasanya hakim tidak mau. Apabila menunggu sampai proses inkrah hasilnya nol. Kalau begini jadinya, dilelang pun siapa yang mau, kita melihat dalam kondisi demikian dikasih pun mikir dua kali, dan di sini dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan,”tambahnya. (mag-11)

Yonmarhanlan I Belawan Sertijab

BELAWAN- Keberadaan Yonmarhanlan I Belawan sangat strategis, berada di lingkungan perekonomia, sehingga tak memberi efek negatif dengan munculnya berbagai pelanggaran aturan kedinasan oleh pengawak organisasi.

Kondisi itulah yang menjadi tantangan dan harus disikapi Komandan Yonmarhanlan I yang baru dalam memimpin.
Pernyataan tersebut disampaikan Komandan Pasmar 2, Brigadir Jenderal TNI (Mar) Sturman Panjaitan dalam upacara Sertijab Danyonmarhanlan I Belawan dari Mayor Marinir Rinto Benny Sarana kepada Mayor Marinir Amir Kasman di Mako Lantamal I Belawan, Selasa (10/5).

Sturman mengatakan, sertijab merupakan peluang dan tantangan untuk membangun reputasi serta prestasi di mana kepemimpinan dan kreativitas serta kemampuan konseptual dapat dikembangkan.

Hal itu sebagai bagian untuk membawa manfaat dalam menyikapi fenomena perkembangan situasi saat ini.
Dia juga mengingatkan, Yonmarhanlan I Belawan merupakan satuan pelaksana Pasmar 2 yang bertugas pokok menyelenggarakan pertahanan Pangkalan TNI AL, kemudian melaksanakan tugas lain dalam rangka mendukung tugas pokok dan bertanggungjawab penuh kepada Lantamal I di Belawan.

Dalam acara sertijab tersebut, sejumlah prajurit Korps Marinir memperagakan kemampun bela diri di hadapan para undangan yang hadir. Pada saat itu, hadir dalam sejumlah unsur pimpinan Polri, TNI AD, TNI AU serta kalangan mitra kerja. (ril/smg)

Biaya Pengobatan Talasemia Mahal

MEDAN- Mahalnya biaya pengobatan penyakit Talasemia atau kelainan kromosom belum ada alternatifnya, hingga kini biayanya kian melejit diangka Rp100 juta per bulannya. Pasalnya, pengobatannya sampai saat ini masih dengan transfusi darah.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung ahli talasemia, Prof dr Bidasari Lubis Sp A (K) saat menjadi pembicara dalam acara seminar Talasemia yang diadakan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Medan, Selasa (10/5).   Bidasari menerangkan, talasemia adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak membesar karena pembengkakan limpa dan hati, apabila tidak diobati dengan baik akan terjadi perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit jadi hitam. Penyebabnya akibat kekurangan zat pembentuk hemoglobin (Hb) sehingga produksi Hb berkurang.
“Bagi para penderita Talasemia, hingga kini pengobatannya adalah transfusi darah yang memakan biaya sekitar Rp100 juta per bulan,” katanya.

Dia menuturkan, persentasi terjadinya talasemia semakin meningkat bila penderita talasemia minor menikah dengan talasemia minor juga, yakni kemungkinan sebesar 25 persen akan menurun pada anaknya. “Untuk itu diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan konseling pra nikah bagi para remaja yang ingin menikah,” ingatkannya.
Pengurus FSG (Family Support Group), Atika Rahmi AW S Psi mengatakan, pendampingan penderita talasemia sangat sulit, tapi saat ini penderita sudah lebih pintar  dalam pengaturan jadwal transfusi per bulan. (mag-7).

Gesit Bersama Mie Pansit

Chandra ‘Asiong’ Djohan

Chandra Djohan (28) memang hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun bukan berarti pria ini tak mampu berbuat banyak untuk diri dan keluarga. Buktinya, usaha mie pansit ‘AWAI’ yang ditanganinya terus berkembang.

Ya, dengan semangat tanpa menyerah untuk belajar dan mencoba hal-hal baru,  Chandra Djohan berhasil menunaikan tanggung jawab besar di keluarga. Keberhasilan yang diraih menjawab pandangan sebelah mata yang ditujukan kepadanya.

Ditemui di salah satu outlet Pansit A WAI Jalan S Parman Medan, Kamis (5/5) Chandra yang mengenakan kaos oblong hitam, celana jeans pendek terlihat sibuk dengan aktivitasnya di bagian dapur. Beberapa buah coba dieksperimenkan untuk membuat ramuan minuman segar (juice). “Coba-coba buat juice,” ucap Chandra sambil tertawa.

Seperti yang disampaikan Chandra, sebagai pelaku usaha di bidang kuliner, berbagai terobosan diperlukan untuk kelangsungan usaha. Baik itu dalam hal menu yang dapat memuaskan konsumen begitu juga di bidang managemen. Seperti menu Soto Surabaya yang baru diluncurkan, Kamis (5/5) itu. Dengan keunikan yaitu tanpa santan membuat konsumen yang datang mimiliki banyak pilihan untuk dinikmati.

Terobosan lain yang dilakukan Chandra adalah di bidang manajemen. Terobosan yang membuktikan kemampuannya untuk melanjutkan usaha warisan keluarga selama tiga generasi. Setelah mengantar ekspansi ke Kota Medan 2002 silam, kini Chandra mengembangkan usaha tersebut dengan caranya sendiri. Yaitu sistem waralaba, cara mengembangan usaha melalui sistem bagi hasil dengan penanam saham yang dimulai pada Mie Pansit A WAI di Simpang Perumnas Simalingkar Medan Januari 2011.

“Sudah tidak saatnya lagi pemilik usaha itu terlihat menerima dan mengembalikan uang pembelian dari konsumen. Kalau terus curiga kapan mau berkembang. Pencurian itu dapat diantisipasi dengan memberi kepercayaan kepada pegawai juga dari manajemen yang baik. Bahwa untuk membuka usaha juga tidak selamanya harus dengan uang pribadi,” tutur pria yang akrab disapa Asiong ini.

Begitu pun, budaya yang melekat sempat menjadi hambatan bagi ide sulung dari dua bersaudara ini. Terlebih lagi latar pendidikan yang hanya sebatas SMP. Ide-ide segarnya pun kerap berbenturan dengan pemikiran sang ayah yang masih konvensional. Namun dari pertemanan yang dijalin, Asiong pun belajar mengenai manajemen. Hingga, perlahan semua itu dibuktikan dari kerja yang diperlihatkannya.

Pengenalan terhadap masakan Tionghoa ini dimulai sejak duduk di bangku SMP. Namun seperti remaja pada umumnya, tugas mencuci piring menimbulkan rasa malu bagi Chandra. Hal itu menjadikannya ogah-ogahan untuk menjalankan tugas-tugas dari sang ayah meskipun di belakang hari semua itu merupakan proses penempaan yang harus dijalani.

Meskipun harus memakan waktu lama, ayah dari empat anak ini akhirnya menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul sebagai anak sulung. Apalagi usaha yang dirintis sang kakek sejak 1948 silam membutuhkan sentuhan untuk dapat berkembang. Tepatnya 2002 Asiong kembali untuk mengelola usaha di Pematang Siantar. Tidak hanya mempertahankan, dirinya mencoba mengembangkan usaha tersebut dengan penerapan manajemen yang baik.
Setelah sistem berjalan dengan baik, pada 2009 Asiong melakukan terobosan baru dengan membuka cafe di lantai II ruang usahanya. Sebagai hiburan, setiap Sabtu malam digelar live musik dengan konsep akustik. Di tangannya pula banyak artis dan tokoh yang sudah singgah di Pansit A WAI Pematang Siantar itu. Seperti Delon Idol, Tika Panggabean, Jack Marpaung, Rinto Harahap, Joy Tobing, Vicky Sianipar, dan sebagainya.

Hal itu juga yang siap dilakukan di Mie Pansit A WAI cabang S Parman. “Dalam bulan ini cafe di atas sudah bisa jalan. Ya, cuma kecil tapi bisa memberi suasana lain bagi konsumen. Jadi A WAI tidak lagi hanya sebatas mie pansit juga bisa jadi ajang bersantai,” bebernya.

Sistem yang terbukti efektif itu pun perlahan coba diterapkan di keempat cabang Mie Pansit A WAI yaitu di Jalan S Parman Medan, Jalan Wahidin Medan, Kompleks Cemara Asri, dan Simpang Perumnas Simalingkar Medan. Semua itu merupakan persiapan untuk obsesi yang siap diwujudkan yaitu membuka cabang di Bali. (jul)

Putus Sekolah karena Narkoba
Seperti manusia kebanyakan, Chandra Johan pun tak lepas dari kisah buram. Keterlibatan dengan narkoba bahkan membuatnya harus putus di tingkat SMP dan nyaris kehilangan banyak hal.

Bagaimana tidak, sejumlah besar uang sudah dikeluarkan untuk pengobatan yang nyatanya hanya penyembuhan sesaat di Malaysia hingga Australia. Begitu juga ketertarikannya di bidang musik khususnya rock membuat Asiong memiliki rambut panjang. “Saya delapan tahun gondrong dan sempat gimbal sampai sepinggang,” kenangnya.
Hingga dirinya memutuskan untuk berhenti berkenalan dengan narkotik10 tahun silam, Asiong benar-benar lahir baru. Demi kelangsungan usaha, Asiong pun memangkas rambut gimbal sebagai hadiah untuk sang ibu pada perayaan Imlek. Begitu juga dengan hasil jerih payah selama ini, Asiong membelikan anting berlian untuk sang ibu.(jul)

Tersangka Pencuri Sepeda Motor Dilepas

087768090xxx

Pak Polda bagaimana ini mengenai kasus pencurian sepeda motor yang terjadi di depan indomaret di Jalan dr Mansyur Medan pada hari Sabtu 23 April 2011 dengan tersangka Herdison Piliang. Kasus ini ditangani Polsek Sunggal, kenapa hari Selasa 3 Mei 2011 tersangka bebas ada apa dengan kasus ini Pak Polda?

Kami Cek

Terimakasih informasinya, kami akan dicek ke Polsek Sunggal atau siapa yang menangani kasus tersebut apakah yang disampaikan benar mengenai tersangkanya dilepas. Kemudian, kami mengimbau kepada masyarakat apabila merasa tidak puas terhadap penanganan Polri, masyarakat bisa melaporkan via SMS atau laporan tertulis ke Poldasu, tetapi jangan sifatnya memfitnah.

AKBP Raden Heru Prakoso, Kabid Humas Poldasu

Tolak Rujuk, Adik Ipar Dipukul

BELAWAN- Tak terima atas perlakuan abang ipar, Delima Ayu (23) warga Jalan Yos Sudarso, Lingkungan VIII Gang Pulau Tarakan, Medan Labuhan melaporkan abang iparnya, Nadin (30) ke Polsek Medan Labuhan.

Keterangan yang dihimpun POSMETRO MEDAN (Grup Sumut Pos) menyebutkan, Nadin yang telah pisah ranjang selama setahun dengan Ida (28) mendatangi kembali Ida untuk meminta rujuk, tapi permintaan itu ditolak keluarga Ida.

Penolakan itu disampaikan langsung Delima untuk membela kakak kandungnya. Saat menyampaikan itulah, emosi Nadin berada dipuncaknya, akibatnya langsung menghajar Delima dengan menumbuk dan memukuli wanita itu.  “Kami keluarga memang sudah nggak suka dengan Nadin itu, karena itu kerjanya nggak jelas, tak bertanggung jawab dengan kakak aku, makanya kami tak mau dia rujukan dengan kakak kami,” kata Delima di kantor polisi. (ril/smg)

Ciptakan Alumni Mandiri

Poltekkes Fisioterapi YRSU Dr Rusdi

MEDAN- Di usianya ke-23 tahun, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Yayasan Rumah Sakit Umum (YRSU) Dr Rusdi Medan Jurusan Fisioterapi telah menamatkan 20 angkatan. Dari seluruh angkatan itu, 95 persen lebih telah terserap dunia kerja baik di institusi pemerintah, swasta maupun membuka praktek sendiri yang tersebar di seluruh provinsi di tanah air.

Hal ini disampaikan Ketua Jurusan Fisioterapi, Poltekkes Dr Rusdi Medan, Harryjun K Siregar,Sst FT SPd, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa siang (10/5).

“Mengingat Jurusan Fisioterapi masih jarang dan hanya tersedia 20 institusi di Indonesia. Sehingga  membuka kesemptan  yang cukup besar bagi peserta didik untuk dapat bekerja di institusi pemerintah maupun swasta yang sangat membutuhkan tenaga SDM Physio terampil bagi program DIII, dan Physio Ahli, bagi program DIV, yang jarang tersedia. Bahkan tak jarang tamatan kita juga mampu mandiri dengan membuka praktek sendiri sesuai izin menteri kesehatan,” sebutnya.Dengan demikian, setiap alumni kita bisa juga hidup mandiri dengan membuka praktik, tanpa menjadi PNS.

Sesuai dengan kompetensinya, Poltekkes Dr Rusdi Medan masih terus konsen dalam menghasilkan lulusan fisioterapi yang handal dan siap bekerja.

Diantaranya yaitu dengan terus menjalin kerjasama dengan beberapa instansi pendidikan, rumah sakit, baik  di dalam maupun luar daerah Medan.

“Beberapa instansi yang masih menjalin kerja sama dengan kita, diantaranya Poltekkes Surakarta dan Fakultas Kesehtan Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam melakukan kegiatan praktek belajar,” sebutnya. Sehingga   dengan bentuk kerja sama itu, lanjut Harryjun, dapat menambah keterampilan mahasiswa sekaligus menyiapkan SDM yang handal professional.

Setidaknya hingga kini kampus yang berada di kawasan Jalan H Adam malik Medan, No 140-142 ini akan terus berusaha meningkatkan kegiatan belajar mengajar, produktifitas, dan kualitas lulusannya.
Sehingga ke depannya setiap lulusan Poltekkes Dr Rusdi Medan akan mampu menerapkan ilmu yang telah didapatnya sesuai dengan kapasitas ilmu yang telah didapatnya.(uma)

Selayang Pandang Tentang Alat Peraga

Telah sama kita maklumi bahwa minat peserta didik dalam belajar akan semakin besar apabila penyajiannya dilakukan dengan metoda-metoda yang menarik. Dewasa ini lazim disebut dengan istilah PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan serta Gembira dan Berbobot).

Satu diantaranya ialah melalui penggunaan alat-alat peraga. Dengan kata lain, di samping dapat mengkondisikan suasana KBM yang menyenangkan, maka alat-alat peraga juga akan berdampak ‘mendongkrak’ minat belajar dan daya nalar para siswa sehingga mereka pun memiliki kemampuan dalam melihat dan memahami hubungan antara ilmu yamg sedang dipelajari dengan lingkungan sekitarnya.

Maka sudah sepatutnya-lah kita selaku guru  menyadari sepenuhnya bahwa alat-alat peraga tersebut memang diperlukan dalam KBM yang akan kita lakukan, terutama untuk topik-topik (Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar) tertentu.

Menyikapi hal dimaksud tentunya kita harus pula berusaha mencari, membuat atau bahkan sedikit berkorban dengan ‘merogoh kocek sendiri’ guna memperoleh bahan-bahan ataupun benda-benda yang akan dijadikan alat-alat peraga.  Terlebih lagi para guru yang lokasi sekolahnya berada di pelosok desa dan pemerintah atau pihak sekolah belum menyediakannya.

Maka segala sesuatu yang kita gunakan untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang dibicarakan adalah berfungsi sebagai alat peraga. Malah jika situasi dan kondisinya memungkinkan maka sebenarnya alat peraga yang terbaik ialah benda aslinya.

Rabindranath Tagore (seorang tokoh terkenal dari India) pernah menulis sebagai berikut:  “Kita dipaksa melepaskan dunia dan menerima sebagai gantinya sebuah tas tempat buku penuh dengan petunjuk-petunjuk. Bumi kita rampas dari tangan anak-anak untuk mengajarkan Ilmu Bumi

Bahasanya kita rebut untuk mengajarkan Tata Bahasa. Mereka haus akan penghayatan tetapi yang diberikan hanyalah deretan kejadian dengan tahun-tahun yang tidak sedikit jumlahnya”.
Tentu kita mengerti apa yang tersirat pada puisi di atas. Namun, juga tentunya akan sangat berat dan ada kalanya mustahil untuk menghadirkan sesuatu yang asli di depan mata.

Oleh karena itu, kata kuncinya adalah kemauan yang tulus. Mau meluangkan waktu dan menyumbangkan tenaga untuk berkreatifitas serta ikhlas dan rela menyisihkan dana yang sebetulnya tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan banyaknya fungsi dan manfaat yang bisa didapat, baik untuk kita sendiri sebagai guru maupun bagi anak-anak didik kita.

Sehelai kertas atau karton bekas, misalnya. Gambar-gambar yang kita gunting dari majalah atau surat- kabar. Juga benda-benda lain yang mungkin sekilas nampak tak berharaga dan terbuang percuma, sesungguhnya bisa kita pergunakan langsung atau dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebentuk ataupun berbagai macam alat peraga. Dan kalau kita ‘telaten’ menyimpannya (dikeluarkan dan dipakai pada saat memang diperlukan saja) tentu barang-barang tersebut akan awet dan tahan lama. Singkat kata, sekali atau satu macan alat yang dibuat maka akan terus bermanfaat sampai kita pensiun nanti.  Sekadar demikianlah serba sedikit yang dapat penulis paparkan tentang alat peraga. Seperti tertera pada judul tulisan:” Selayang Pandang” saja.(*)

Oleh: Drs Halim Mansyur Siregar
Guru SMP Negeri-2 Pegajahan, Serdang Bedagai