27 C
Medan
Thursday, January 1, 2026
Home Blog Page 15317

Tropi HRC 2011 Bermotif Rumah Adat Batak

MEDAN-Kejuaraan balap motor berskala nasional Honda Racing Championship (HRC) yang berlangsung pada 28 – 29 Mei 2011 di Medan merupakan sarana untuk menguji kemampuan bagi para pembalap Kota Medan yang menggunakan motor Honda.

Rencananya even yang akan berlangsung di Sirkuit Buatan Lanud Medan ini memperebutkan piala tetap dan uang pembinaan senilai Rp18 juta. Uniknya, motif yang ada pada piala nanti menggunakan rumah adat Batak.
“Yang pasti even bertajuk Where Champions Are Born ini akan menimbulkan kesan yang mendalam bagi pesertanya,” ungkap Gunarko Hartoyo, Promotion Manager CV. Indako Trading Co.

Even ini sendiri berlangsung di sembilan kota besar yang ada di Indonesia dan memperlombakan kelas MP1 bebek tune-up 125cc 4-tak terbuka, MP2, bebek tune-up 110cc 4-tak terbuka, MP3 bebek tune-up 125cc 4-tak pemula, serta MP4 atau bebek tune-up 110cc 4-tak pemula. Tiga kelas lainnya adalah MP5 yaitu bebek standar 125cc 4-tak pemula, MP6 atau bebek standar 110cc 4-tak pemula dan MP7 yaitu motor matic bermesin standar sampai dengan 130cc .

Kota Medan menjadi kota ketiga penyelenggaraan HRC 2011, sebab sebelumnya even serupa juga berlangsung di Jakarta pada tanggal 3 April, serta seri kedua di Bandung berlangsung pada 15 Mei 2011.

Arifin Posmadi, General Manager CV. Indako Trading Co, main dealer Honda di Sumatera Utara mengungkapkan bahwa terpilihnya Sumatera Utara menjadi satu-satunya kota penyelenggaraan di wilayah Sumatera disebabkan prestasi pembalap Kota Medan yang mampu bersaing di tingkat nasional.

”Salah satu contoh yang kini menjadi perhatian adalah sukses yang diraih Eko The Red pada Kejurnas Motoprix  Sumatera Utara di kelas matikn,” ungkap Arifin Posmadi.

Eko The Red, pembalap pemula berusia 21 tahun memang  pembalap andalan Intrac Enduro Pertamina yang mampu mengukir prestasi di berbagai even yang diikuti. (mag-9)

Tenggelamkan Saja ke Dasar Laut

15 Unit Kapal Dikhawatirkan tak Ada Penawar

Kejaksaan Agung tetap menggelar lelang terhadap 15 unit kapal sitaan kasus illegal fishing (penangkap ikan ilegal, Red). Walaupun kondisinya rusak parah dan menyadari tidak ada yang menawar lelang, kapal disiapkan untuk ditenggelamkan ke dasar laut.

Untuk diketahui, sekarang ini kondisi 15 unit kapal sitaan kasus ilegal fishing itu mengalami kerusakan parah, selain kapal bocor, mesin kapal juga tidak ada. Dari jumlah itu, hanya ada 3 unit yang masih dalam keadaan baik dan utuh , kini diparkirkan di Lantamal I Belawan. Sedangkan 12 unit kapal  lainnya rusak parah. Bahkan, ada sejumlah kapal yang sebagiannya sudah tenggalam.

Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Belawan, Ranu Subroto menyatakan 15 unit kapal sitaan tersebut kondisinya cukup parah, tapi Kejaksaan tetap melakukan lelang. Apabila tidak ada yang berminat untuk membelinya, kapal tersebut akan dimusnahkan.

“Kami tetap lelang, silahkan saja nanti siapa yang akan menawarnya,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) ketika menemani rombongan perwakilan dari Kajaksaan Agung (Kejagung) yang diwakili Kepala Bagian Pendapatan dan Perbendaharaan (Kabag Patara), Sri Suhartini, Siti Wagiati dan juga Sri Ningsih untuk meninjau langsung keadaan kapal yang hendak dilelang, Rabu (11/5).

Ranu menyebutkan, pihaknya akan melakukan pelelangan terhadap 15 unit kapal tersebut. Tapi, hingga kini masih menjalani prosedur pelelangan. Sehingga, belum bisa dipastikan kapan akan dilelang 15 unit kapal yang akan dilelang tersebut. Sejumlah kapal itu ditangkap pada 2010 dan telah diputuskan untuk dilelang September 2010.
Hingga kini pihaknya masih menyiapkan dan terus koordinasi untuk pelaksanaan lelang tersebut. “Kami akan berkoordinasi dengan Syahbandar, Dinas  Perdagangan dan juga Balai Pelelangan Negara,” tegasnya.

Dia menganggap, koordinasi itu penting melihat kondisi kapal yang rusak parah. Misalnya, pihaknya menawarkan Rp100 juta per unit kapal, tapi kenyataannya tidak ada yang menawar, apakah bisa diturunkan harganya. Kemudian, apabila tak ada juga yang menawar apakah bisa langsung dilakukan pemusnahan fisik kapal.

“Bila diumumkan tapi tak ada peminat, kami musnahkan kapal dengan menenggelamkan saja kedasar laut, jadi tetap berguna sebagai tempat berkembang biaknya biota laut seperti ikan-ikan,” tukasnya.

Sementara itu, sejumlah rombongan Kejagung yang ditemani pihak Kejari Belawan dan juga PSDKP Belawan. Ketika itu,  pengunjung seketika terkejut setelah sampai  Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) saat melihat kondisi 10 unit kapal asal Thailand yang disita negara.

Uniknya, saat ditinjau ditemui ada ditemui seorang nelayan yang sedang mencuri kayu-kayu kapal. Seketika, pihak PSDKP langsung mengejar dan melempari pelaku. Akhirnya pelaku pergi meninggalkan kapal tersebut.

Di tempat yang sama, Sri Suhartini mengatakan tujuan kehadirannya untuk melihat kondisi fisik secara langsung kapal yang ingin dilelang. Namun, setelah ditinjau kondisi kapal sudah tidak layak dan sangat rusak.  “Kalau sudah begini mau kayak mana lagi, siapa yang mau membeli kapal seperti ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa kami ingin mencari solusi penyelesaian atas permasalahan tersebut. Apabila tidak laku dalam pelelangan maka kapal akan dimusnahkan saja. “Kehadiran kami ini sebagai bagian untuk meninjau langsung atas konsisi yang terjadi, selanjutnya kami bisa membawanya dalam keputusan bersama apabila nantinya tidak ada penawar lelang,” sebutnya. (mag-11)

PPLP Sumut Gelar Seleksi Siswa Baru

MEDAN-Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) cq Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Utara (Dispora Sumut)  akan melakukan tes bagi calon murid (atlet) baru Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga(Kadispora) Sumut Ristanto SpN selaku Pembina PPLP Sumut dalam keterangan persnya, Rabu (11/5) di ruang kerjanya menjelaskan, pelaksanaan tes akan digelar 13 hingga 16 Mei di Asrama PPLP Sumut Jalan Sekolah Pembangunan Medan Sunggal.

Ristanto didampingi Ketua Penjaringan Atlet PPLP Sumut 2011 H Sakiruddin SE MM, Wakil Ketua Drs Mazrinal MAP, Sekretaris Drs Darwis Siregar lebih lanjut mengatakan bahwa pelaksanaan tes memang merupakan salah satu tahapan yang harus dilewati calon siswa atau atlet baru PPLP Sumut.

Penerimaan siswa baru di PPLP Sumut ini kata Ristanto sudah diinformasikanmelalui surat resmi ke seluruh Bupati dan Walikota se-Sumut.

Mengenai materi tes, menurut H Sakiruddin meliputi psikologi, kesehatan, kemampuan fisik (VO2 Max, sprint, shuttle run, vertical jump, sit up, push uup dan kelenturan) serta tes keterampilan cabang olahraga.
Sakiruuddin membenarkan, serangkaian item  tersebut tersebut sudah meliputi test kebakatan. Artinya, calon siswa nantinya juga dites kecondongan anatomi tubuhnya, mendukung atau tidak baginya untuk menggeluti cabang olahraga yang dipilihnya.

Ditanya mengenai kelas atau nomor maupun spesialis atlet yang dibutuhkan, untuk gulat kelas 46 Kg, 50 Kg, 58 Kg, 69 Kg dan 76 Kg. Pencak Silat; Kelas A Putri. Sepak Takraw; fidder dan smash. Atletik; nomor lempar, sprint dan jalan cepat. Sepakbola; pemain bawah, tengah, penyerang dan kiper. Karate; atlet putri (Kelas 1 SMP), Panahan (pemanah putra dan putri). (jun)

PB Griya Dan Alwasliyah Juara

TEBING TINGGI –Perkumpulan Bulutangkis (PB) Griya dan PB Alwashliyah keluar sebagai juara umum pada kejuaraan bulutangkis Wali Kota Cup I yang berakhir Rabu (11/5).

Gelaran yang berlangsung selama sepekan itu ditutup oleh Kadisporabudpar Kota Tebing Tinggi Azhar Efendi Lubis SE di GOR Marahalim Jalan Thamrin.

PB Alwasliyah yang tampil di kategori sekolah tampil sebagai juara umum setelah mengumpulkan 3 medali emas, 1 perak dan 2  perunggu. Sedangkan PB Griya tampil sebagai juara umum di kategori dewasa.
Kepada para juara berhak atas  uang pembinaan yang diserahkan langsung oleh Kadisporabudpar Azhar Efendi Lubis SE.

Ketua PB Griya,Ogamato Hulu SE kepada Sumut Pos mengaku bangga dan senang atas keberhasilan atletnya.”Sejak tahun 2002 dan 2011 PB Griya sudah 3 kali meraih juara umum ketika bertanding untuk tingkat beregu dewasa. Ini sungguh membanggakan,” kata Ogamato.

Hal senada juga dilontarkan oleh pembina PB Alwasliyah Makmur Dani SE. ”Kalau kami sudah dua kali menjadi yang terbaik di ketegori pelajar,” bilang Makmur.

Kadisporabudpar Azhar Efendi Lubis SE mengatakan bahwa even kali ini diyakini dapat menggugah motivasi para atlet untuk tampil lebih percaya diri.

Terpisah, Ketua Pencab PBSI Tebing Tinggi Parlidungan SE mengatakan bahwa para  juara adi even ini akan kembali diseleksi untuk selanjutnya dibina secara intensif  untuk mengikuti Kejurda yang berlangsung pada November 2011 mendatang di Medan. (mag-3)

Tegakkan Disiplin Kepada Siswa

Yayasan Perguruan (YP) Immanuel Medan selalu menekankan, agar siswanya menjadi teknisi bertaraf internasioanl. Pasalnya, siswa Immanuel  khusunya program studi teknisi, selalu diberikan materi teori dan praktik. “Nah, dalam memberikan mata pelajaran, umumnya siswa kebanyakan diajarkan untuk mempraktikkan  mesin yang akan dikerjakan sesuai materi. Pasalnya, memberikan teori  dan praktik sangat cepat dicermati anak-anak,” ujar Ir Immanuel Munthe MSi Pemilik YP Immanuel kepada wartawan koran ini, di sekolahnya Jalan Gatot Subroto No 325 Medan, kemarin (7/5).

Dikatakannya selain menekankan agar siswa belajar serius, YP Immanuel Medan juga selalu mengajarkan kedisiplinan terhadap anak-anak. Pasalnya, kedisiplinan yang diterapkan pada siswa YP Immanuel merupakan kemajuan pada diri sendiri.

“Di sini siswa yang tidak mematuhi disiplin akan diberikan sanksi. Namun. Untuk sanksi hanya ringan, tapi yang jelas para siswa harus mematuhi peraturan sekolah seperti selalu memakai seragam sekolah serta terkadang memakai seragam mekanik,” ujar Immanuel.

Adapaun siswa YP Immanuel yang harus mematuhi disiplin yakni siswa  Akademik Teknologi Industri Immanuel yang meliputi program studi Mesin Otomotif, Elektronika, dan Komputer.

Lalu, siswa Politeknik Immamuel yang meliputi program studi Mesin Otomotif, Elektronika, dan Komputer. Namun untuk siswa Sekolah Tinggi Teknologi Immanuel yang meliputi program studi Teknik Mesin (otomotif pembentukan permesinan), dan teknik elektro (enegri listrik robotika elektronika industri). (omi)

Potret Guru dan Wajah Pendidikan Kita

Sebagaimana kita maklumi, ada dua hari paling istimewa dalam dunia pendidikan di Indonesia yang selalu diperingati setiap tahun. Yang pertama ialah Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2Mei, seperti yang baru saja kita rayakan beberapa hari lalu. Sedangkan yang kedua yaitu Hari Guru, yang jatuh pada tanggal 25 November mendatang.

Dapat dikatakan bahwa antara keduanya adalah saling berkaitan satu sama lain. Artinya, membahas masalah pendidikan tentulah erat hubungannya dengan sosok-sosok ibu dan bapak guru. Begitu juga sebaliknya, memperbincangkan para ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ itu akan berkorelasi pula terhadap hal-hal yang menyangkut persoalan pendidikan.

Terkait pembicaraan tentang guru dan pendidikan tadi kiranya masih menarik untuk menyimak kembali ucapan Kaisar Hirohito semasa terjadinya perang dunia kedua dahulu. Kala itu, setelah Jepang (kota Hiroshima dan Nagasaki) dijatuhi bom atom oleh tentara sekutu ternyata ucapan pertama yang terlontar dari mulut Sang Kaisar adalah sebentuk pertanyaan: berapa guru yang masih hidup?
Pertanyaan di atas jelas menunjukkan bahwa pemimpin ‘Negara Matahari Terbit’ tersebut begitu peduli terhadap pendidikan. Penguasa ‘Negeri Sakura’ ini berkeyakinan besar (optimis) bangsanya akan mampu dan segera bangkit lagi dengan eksistensi para guru.

Pada perkembangan selanjutnya, hingga kini memang terbukti Jepang berhasil menjadi salah satu negara maju. Keberadaannya sangat diperhitungkan dan termasuk paling disegani di dunia (terutama di kawasan Asia).
Sampai sekarangpun sistem pendidikan dan kualitas komunitas guru di Jepang benar-benar layak diacungi dua jempol, bahkan sepuluh jari. Menurut sebuah sumber yang pernah penulis baca, untuk setingkat SMA telah mempunyai tenaga pengajar bergelar profesor dalam setiap sekolah. Malah pada sekolah-sekolah semacam SMK-Teknik (STM) minimal sudah memiliki tiga orang profesor ahli. Di level perguruan tinggi , mayoritas universitasnya menggunakan model ‘multimedia classroom’ di mana pada setiap meja kuliah para mahasiswa tersedia komputer yang tersambung langsung ke jaringan internet.

Dengan model pembelajaran begini maka rata-rata dosen dan sebagian guru di Jepang melakukan kegiatan pembelajaran yang bahan ajar atau materi kuliahnya terdapat di ‘website’ pribadi si dosen atau guru yang bersangkutan. Selain itu, para pelajar dan mahasiswanya pun bisa mengakses sumber-sumber lain untuk materi pelajaran dan perkuliahan serupa yang juga dari internet.

Fenomena demikian tentu masih belum kita temukan di Indonesia. Kalaupun ada tentulah masih teramat langka. Jangankan sarana, mutu sumber daya manusia guru-guru di tanah air terkadang membuat kita terpaksa ‘mencibir’.
Tanpa bermaksud merendahkan rekan-rekan sesama guru, tetapi tipe guru dimaksud mungkin saja ada atau pernah ada di tengah-tengah kita. Lulusan SMA mengajar di SMP (terutama sekolah swasta atau  tenaga honorer di sekolah negeri) sempat menjadi hal biasa.   Padahal, sebagaimana kita maklumi, untuk menjadi seorang guru haruslah memenuhi kriteria layak dan mampu. Artinya, boleh jadi si guru dimaksud memang punya kemampuan. Namun secara kelayakan ia tidak memenuhi atau sebaliknya.

Ke depan, paradigma pendidikan harus lebih dipacu untuk semakin maju. Dan upaya ke arah itu memang mesti dimulai dari figur para guru, baru kemudian dibarengi dengan kom[ponen-komponen lainnya, semisal kurikulum, sarana dan prasarana serta berbagai perangkat yang diperlukan. Kemajuan dunia pendidikan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong kalau tenaga-tenaga pendidiknya masih terus terbelenggu oleh kepentingan-kepentingan birokrasi.(*)

Ingin Punya Betor

MEDAN-Akibat ingin punya becak bermotor (betor), Ibrahim (34), warga Jalan Amaliun, Kelurahan Kotamatsum, Medan dan Rusli (40), warga Jalan Bromo, Medan, nekat mencuri becak bermotor milik temannya, Amrizal (40),  yang sedang diparkir di garasi rumahnya di Jalan Amaliun, Medan Selasa (10/5) dinihari. Tapi, sial keduanya berhasil diringkus polisi di Jalan Utama saat sedang parkir menunggu sewa dengan becak curiannya.

Tersangka Ibrahim mengaku, nekat mencuri karena ingin memiliki betor. Sebab, betor miliknya telah diambil showroom karena tidak bisa membayar angsuran. Setelah berhasil, betor itu digunakan untuk mencari nafkah dan memakainya secara bergantian dengan Rusli. “Satu minggu Rusli yang pakai, satu minggu kemudian saya,” jelasnya.
Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandy Sinurat mengaku, polisi sudah mengamankan kedua tersangka bersama barang bukti satu unit bettor tanpa nomor polisi. “ Setelah korban membuat laporan, kita melakukan penyelidikan dan beberapa hari kemudian terlihat betor milik korban sedang parkir di Jalan Utama.

Saat itu juga, betor tersebut kita amankan sekaligus menangkap dua tersangka pencurinya yang berada tak jauh dari betornya, ” ujar Sandy Sinurat.

Dijelaskan Sandy, dari pengakuan tersangka, betor tersebut disatroni saat korban sedang tidur. Setelah kunci stang betor dicongkel menggunakan obeng, kemudian dihidupkan dan dibawah lari kemudian disembunyikan ke suatu tempat.

“Korban yang terbangun terkejut melihat betor miliknya tak lagi berada di tempat semula. Setelah mencoba mencari ke beberapa lokasi tapi tak kunjung dapat, akhirnya Amrizal membuat laporan ke polisi,” beber Sandy.

Menurut, kedua tersangka merupakan pencuri kambuhan yang sudah dua kali melakukan aksi yang sama bahkan tertangkap hingga dihukum penjara. (adl)

Buku Oegroseno Diluncurkan

MEDAN-Buku berjudul Oegroseno: Pengabdian Polisi tak Kenal Lelah akan diluncurkan di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Sabtu (21/5) mendatang.

Ketua Pelaksana, Farid Wajdi SH MHum mengatakan, peluncuran buku yang ditulis Yulhasni dan Arifin Saleh Siregar, keduanya dosen UMSU tersebut, juga akan dihadiri langsung oleh mantan Kapolda Sumut Komjen Pol Drs Oegroseno SH.

‘’Beliau sudah menyatakan kehadirannya pada acara tersebut,” ujar Farid Wajdi kepada wartawan, Rabu (11/5).
Dijelaskan Dekan Fakultas Hukum UMSU ini, buku yang dicetak oleh penerbit CV Perdana Jakarta tersebut berisi pandangan kedua penulis tentang pemikiran sosok Oegroseno yang sempat menjabat Kapolda Sumut beberapa waktu lalu. ‘’Dalam buku tersebut kita akan memperoleh rekaman tentang program dan pemikiran Oegroseno agar polisi lebih humanis,”papar Farid Wajdi, seraya menjelaskan Oegroseno juga akan memberikan sambutan pada acara itu.

Dijelaskan Farid Wajdi, dalam buku setebal 157 halaman, pembaca akan memperoleh sosok pemikiran Oegroseno yang dinilai banyak melakukan perubahan mendasar dalam usaha memperbaiki citra polisi di Indonesia. ‘’Penulis membagi empat bagian buku tersebut dan pembaca dapat memperoleh informasi-informasi penting dalam pemikiran sosok Oegroseno,”papar Farid Wajdi. Kempat bagian itu, kata Farid, yakni Polisi di Mata Masyarakat: Stigma Polisi yang Sulit Dihapus, Membumikan Citra Polisi Humanis, Oegroseno Berbakti tidak Harus Jadi (Ka) Polri, dan Mereka Bicara.

Secara terpisah, dua penulis buku Yulhasni dan Arifin Saleh Siregar mengatakan karena beragam keterbatasan, masih banyak yang masih luput dari sosok Oegroseno untuk ditulis.

‘’Pemikiran beliau kadang melampaui dari yang kita pikirkan. Kadang kita sendiri lupa dia itu Kapolda atau masyarakat sipil biasa. Bahkan kadang-kadang kita berpikir, dia bisa jadi aktivis LSM,”ujar keduanya.
Selain dihadiri Rektor UMSU, Drs Agussani MAP, peluncuran buku ini juga akan dihadiri Kapolda Sumut, Plt Gubsu, Wali Jota Medan, Wali Kota Binjai, Bupati Serdang Bedagai, pers, NGO, advokat, akademisi/aktivis kampus dan mahasiswa.

Peluncuran buku itu akan diisi juga dengan testimoni sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya War Djamil mewakili tokoh pers dan Ketua DPRD Sumut. ‘’Kita juga mengundang Ilham Wahyudi, penyair Sumatera Utara yang juga alumni UMSU untuk membacakan puisi-puisinya,”kata Farid.

Rektor UMSU, Drs Agussani MAP memberi apresiasi atas peluncuran buku ini. Agenda ini dapat membuka jalan bagi para penulis agar lebih kreatif dan produktif dalam mencerahkan pemikiran lewat tulisan. Apalagi sosok yang ditulis sudah begitu dekat dengan hati warga Sumatera Utara. Agussani berharap, seiring dengan itu, kiranya dalam waktu yang tidak terlalu lama, budaya tulis di semua kalangan dapat semakin berkembang. Dengan begitu, budaya intelektual lewat tulisan dapat tumbuh pula dengan baik.(ari)

Perhatikan Kerajinan Rumahan

Pembangunan di bidang ekonomi suatu daerah tak lepas dari peranan pengrajin rumahan atau home made. Namun kenyataan yang ada usaha home made di satu daerah masih kurang mendapat perhatian yang layak dari pemerintah bersangkutan. Keberadaannya cenderung menjadi ajang pencitraan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Berikut wawancara reporter Sumut Pos, Indra Juli dengan pengusaha konveksi di Kompleks Pusat Industri Kecil (PIK) Jalan Menteng VII Medan, Drs H Fahmi Ahmad.

Bagaimana perkembangan usaha konveksi yang Anda jalankan?
Alhamdullilah, dengan kerja keras dan pemasaran yang baik usaha ini bisa bertahan. Selain jumlah produksi yang lebih besar, saya bisa membantu masyarakat dengan memberinya pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Paling tidak perekonomian mereka akan lebih baik.

Apakah usaha home made berperan membantu pembangunan satu daerah?
Sangat besar dibanding keberadaan mal-mal dengan sistem investor asing itu. Usaha rumahan seperti ini pada umumnya tidak membutuhkan modal banyak sehingga siapapun bisa menjalankannya. Seperti saya, usaha rumahan ini juga dapat mengurangi angka pengangguran yang tentunya membantu pemerintah mengurangi cost untuk masalah tersebut.

Bagaimana kondisi PIK sekarang ini?
Kita di sini cuma pengerajin dan tidak berpikir yang lain. Pasalnya, pemerintah seolah lupa dengan keberadaan kita di sini. Mereka hanya memberikan fasilitas ini tapi tidak disertai dengan dukungan lainnya. Begitu juga dengan pertumbuhan industri besar yang terus menekan industri kecil. Tak heran banyak pengusaha kecil di sini yang gulung tikar karena tidak dilindungi oleh pemerintah itu sendiri.

Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?
Ya itu tadi, jangan hanya membangun ruko lalu melepasnya begitu saja. Seharusnya pemerintah tetap mendampingi pengrajin dengan memberi dukungan seperti modal dalam bentuk pinjaman. Atau bisa juga membantu melalui pemberian order untuk dikerjakan. Akan lebih baik pula pemerintah membantu dalam pemasaran sekaligus melindungi produk pengusaha kecil tadi.

Apa usaha yang sudah dilakukan pemerintah?
Kita sangat berharap rencana pemerintah untuk mengalihkan rute angkutan umum melalui PIK ini. Jadi dengan demikian masyarakat akan lebih banyak yang mengetahui keberadaan para pengerajin kecil ini. Terlebih sebagai salah satu cara mempromosikan produk-produk yang sebenarnya tidak kalah dengan produk import. Begitu juga fasilitas listrik yang sangat berpengaruh dengan proses produksi hendaknya juga diperhatikan. (*)

Emas dan Uang Rp500 Juta Hilang di Safe Deposit Box

Nasabah Bank Kesawan Mengadu ke Polisi

MEDAN-Seorang nasabah Bank Kesawan, Noni mendatangi Mapolresta Medan, Rabu (11/5). Wanita berusia 36 tahun warga Jalan Murai, Medan Sunggal itu mengaku, uang kontan senilai Rp500 juta dan perhiasan emas yang dititipkan dalam safe deposit box (penitipan barang) di Bank Kesawan, di Jalan Pemuda Kecamatan Medan hilang.
Keterangan korban, Noni kepada wartawan mengatakan, dia sudah puluhan tahun menjadi nasabah di Bank Kesawan Medan.

Dia juga selalu menitipkan harta benda miliknya di Bank Kesawan di Jalan Pemuda. Nah, sebulan yang lalu, Noni datang ke Bank Kesawan. Dia terkejut, saat mengetahui dari pihak bank kalau uang dan emas miliknya hilang. Noni sempat mendatangi bank beberapa kali untuk meminta ganti rugi, namun hingga kemarin tak juga diganti oleh bank. Akibatnya, Noni mengadu ke Mapolresta Medan.

Noni mengaku, harta benda miliknya yang disimpan dibobol maling. “Uang dan emas yang saya simpan di Bank Kesawan habis dibobol maling dari kotak penyimpanan barang yang berada di Bank Kesawan,” ujarnya.

Dijelaskannya, uang yang disimpannya terdiri dari 10.000 Dolar AS, 3.000 Dolar Hongkong, 3.000 Dolar Singapura, 500 Ringgit Malaysia (total sekira Rp500 juta) serta 900 gram emas berbentuk batangan. “Semuanya habis dan saya ingin pihak Bank Kesawan harus bertanggungjawab atas semuanya,” katanya.

Kasat Reskrim Polresta Medan, Kompol Fadillah Zulkarnaen saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, setelah mendapat laporan polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapat laporan. “Kita sudah melakukan identifikasi, dan tim kita sudah melakukan olah TKP,” ujar Fadillah Zulkarnaen. (mag-8)