Home Blog Page 15320

Sampah Cemari Laut Belawan

BELAWAN- Hingga saat ini persoalan sampah belum bisa diatasi Pemerintah Kota Medan. Bahkan, sampah dari inti Kota Medan sudah mencemari wilayah perairan Belawan. Akibatnya, para nelayan semakin sulit mendapatkan ikan karena air laut tercemar oleh sampah.

Menurut pantauan wartawan koran ini di lapangan, Selasa (3/5), tumpukan sampah memadati beberapa titik di Sungai Deli. Sekitar puluhan ton sampah dan limbah cair mengalir dari inti Kota Medan yang bermuara di Belawan.
“Saya yakin, berkurangnya tangkapan ikan karena banyaknya sampah dan limbah pabrik yang dibuang ke sungai,” ujar Ahmadi (32), seorang nelayan yang ditemui wartawan koran ini.

Menurutnya, hal tersebut sangat berbeda dengan keadaan beberapa tahun lalu. Kalau keadaan ini dibiarkan terus dan Pemko Medan tidak mengambil tindakan, maka tidak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi ke depan.
“Laut merupakan tumpuan hidup bagi nelayan di sini. Kalau keadaan terus memburuk, nelayan bakal kehilangan mata pencaharian karena hasil tangkapan terus berkurang,” katanya.(mag-11)

Bayi Tanpa Anus Dirawat di Pirngadi

MEDAN- Bayi tanpa anus (Atresiani) yang baru berumur dua hari dirujuk ke RSUD Pirngadi Medan, Selasa, (3/4) pagi pukul 08.00 WIB. Bayi yang belum diberi nama ini dirawat di Ruang IGD RSU Pirngadi Medan.

Bayi bungsu dari delapan bersaudara buah hati pasangan Arwan Nasution (44) dan Aisyah (39) warga Jalan Yos Sudarso LK VI, Tanjungbalai, Kabupaten Asahan ini terlahir dengan proses persalinan normal dengan berat badan 3,6 Kg.

Sebelumnya, bayi dan ibunya dirawat di klinik setempat. Karena tidak sanggup menangani bayi tersebut, pihak klinik merujuk ke RSUD Pirngadi. Sementara sang ibu masih dirawat di klinik terebut.

Arwan mengatakan, selama masa kehamilan, istrinya jarang memeriksakan kandungannya. Selain itu, istrinya tidak pernah meminum jamu-jamuan. “Selama hamil, istri saya nggak pernah jatuh. Memang kami jarang memeriksakan kandungannya ke dokter. Tapi saat diperiksakan ke dokter, katanya tidak ada kelainan dan masalah sama bayi kami,” jelas Arwan.

Sambungnya, saat melahirkan di klinik, anaknya terlihat sehat. Namun malamnya, bidan memberitahu bahwa bayi mereka tidak mempuyai anus. Oleh bidan, selanjutnya, bayi mereka dibawa ke RSU Tanjungbalai. (mag-7)

Polisi Buat Sketsa Wajah Perampok Bersenpi

MEDAN BARU- Dalam mengungkap pelaku perampokan rumah Haris (33) di Jalan Hangtuah No 5 B, Kelurahan Madras Hulu, Medan Polonia, polisi membuat sketsa wajah para pelaku berdasarkan keterangan korban.
“Kita udah ketahui ciri-ciri seorang tersangka perampokan yang memegang senjata api itu. Sketsa wajah tersangka juga sudah siap kita kerjakan dan akan disebarkan,” ujar Kanit Reskrim Polsekta Medan Baru AKP Andik Eko ketika dikonfirmasi wartawan koran ini, Selasa (2/5).

Namun sayang, Andik enggan membocorkan nama dan ciri-ciri pelaku kepada wartawan koran ini. “Jangan dulu Mas, anggota kita masih melakukan pengejaran. Takutnya pelaku keburu kabur ke luar kota,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Kapolsekta Medan Baru AKP Dony Alexander kepada wartawan koran ini mengatakan, saat ini pihaknya sudah membentuk tim khusus untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku yang ciri-cirinya sudah diketahu itu.
“Kita juga diback-up Polresta Mas. Pokoknya pelaku utamanya sudah kita pegang ciri-cirinya. Sekali lagi, mohon doanya Mas, supaya cepat tuntas. Ini ‘PR’ berat bagi saya,” ujar AKP Dony. (mag-8)

Berbagai Lomba di Pameran Pendidikan

MEDAN- Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara menggelar pameran pendidikan di Plaza Medan Fair, Selasa (3/5) hingga Minggu (8/5). Dalam acara ini, juga digelar perlombaan untuk para pelajar mulai tingkat SD hingga SMA.

“Pameran ini mengangkat tema, peningkatan pendidikan karakter di Sumut. Karena seperti diketahui, pendidikan karakter kurang diminati masyarakat,” ujar Setiawan, panitia pameran pendidikan kepada wartawan di sela-sela acara.
Berbagai lomba yang digelar diantaranya pidato Bahasa Inggris, festival baca puisi perjuangan, festival tari etnis Sumut, festival pakaian daerah berpasangan dan lomba folk sing lagu perjuangan di adakan untuk semua tingkatan sekolah. Dan tidak tanggung-tanggung, total hadiah yang diberikan panitia puluhan juta rupiah.

Selain perlombaan, berbagai stan pendidikan juga mengisi acara itu termasuk stan Dinas Pendidikan Sumatera Utara. Di stan Disdik Sumut ini, selain memamerkan hasil kreatifitas sekolah karakter, juga dibuka stan khusus untuk tes kepribadian dan juga simulasi ujian. Tentu saja semua hal tersebut gratis untuk umum. (mag-9)

Rekonstruksi A Wie Diundur Hari Ini

MEDAN- Gelar rekonstruksi penembakan pasutri, Kho Wie To alias A Wie (34) dan Lim Chi Chi alias Dora Halim (30) di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Jalan Akasia I/Bambu III No. 50, Kelurahan Durian, Kecamatan Medan Timur, Selasa (3/4) kemarin batal dilaksanakan.

Pasalnya, Jaksa Peneliti Kejari Medan tidak dapat hadir dalam rekontruksi tersebut karena mengikuti persidangan perampokan CIMB Niaga di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Karenanya, Polresta Medan mengagendakan kembali rekonstruksi pembunuhan A Wie dan istrinya tersebut hari ini, Rabu (4/5).(adl)

Oknum Perwira Poldasu Dipropamkan

MEDAN- Oknum Polisi Berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) JP pejabat Identifikasi Direktorat Reskrim Polda Sumut dilaporkan ke Propam Poldasu dengan nomor STPL/60//IV/2011/Propam tertanggal 29 April 2011, Selasa (3/5). Hal ini merupakan buntut dari kasus perusakan warung dan pengancaman yang dilakukan AKP JP terhadap Brinawati Br Manurung (41) Warga Jalan menteng 7, Kecamatan Medan Denai, Senin (25/4) lalu.

“Kemarin aku masih takut memberitahukannya kepada wartawan, saya sudah mengadukannya ke Propam. Sekarang aku tidak takut lagi biar kapok dia, karena dia selaku Polisi beraninya cuma sama wanita,” ujar Brinawati kepada wartawan Sumut Pos, kemarin. Sebelumnya Korban juga telah melaporkan kejadian itu ke Sat Reskrim Polresta Medan dengan Nomor STPL/1078/IV/SU/Resta Medan tertanggal 30 April 2011.

Sementara itu Kabid Propam Poldasu Kombes Pol Edi Napitupulu saat dikonfirmasi wartawan koran ini  belum bersedia memberikan keterangan terkait pengancaman yang dilakukan AKP JP tersebut. (mag-8)

Upaya Meningkatkan Kualitas Penduduk

Koalisi Kependudukan Sumut Dikukuhkan

Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho ST  dalam hal ini diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Pertanahan dan Aset Drs Alexius Purba Mengukukan Koalisi Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan Provinsi Sumatera Utara di Hotel Madani Medan.

Acara ini dihadiri Ketua Koalisi Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan Dr, Sonny Harry B Harmadi, Kepala BKKBN Sumut H Nofrizal SP, MA, Gus Irawan Kepala BPDSU, Ir Syabrina, Drs Jumali MAP, Drs Temazaro Zega, MKes, Dra Rabiatun Adawiyah MPHR dan Kasi Advokasi dan KIE BKKBN Sumut Anthony Ssos.

Gubernur dalam sambutannya yang dibacakan oleh Staf ahli Bidang Pertanahan dan Aset Gubernur Sumut Drs Alexius Purba mengatakan, hasil sensus Penduduk tahun 2010 di luar perkiraan pemerintah bahkan para pakar kependudukan, bahwa pertumbuhan Penduduk Indonesia 1,49% rata-rata pertahun selama priode 2000 – 2010. Berarti terdapat kenaikan dari keadaan 1990 – 2000 yang hanya sebesar 1,45%.

“Hal ini berarti peringatan kepada kita semua bahwa Program Pengendalian Penduduk mengalami stagnasi dan jelas akan memberi pengaruh kepada upaya-upaya percepatan Pembangunan Kesejahteraan, khususnya dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia,” kata dia.

Program keluarga berencana, lanjutnya, yang pada mulanya dilaksanakan dengan pendekatan kesehatan ibu dan anak, Kemudian berkembang menjadi pendekatan kesejahteraan dan pemberdayaan keluarga dan dengan pendekatan pemenuhan hak-hak azasi manusia.

“Ketiga pendekatan ini harus tetap konsisten dilaksanakan. Sehingga program keluarga berencana tidak hanya berhenti pada saat pasangan usia subur menggunakan alat dan obat kontrasepsi, akan tetapi terus dikembangkan upaya-upaya pemenuhan memperoleh kebutuhan pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan,” tambahnya.
Sementara, Dr Sonny B Harmadi mengatakan, adapun misi dari pembentukan koalisi ini adalah untuk menjadikan penduduk sebagai pelaku dan sasaran pembangunan sehingga diperoleh pembangunan dari, oleh, dengan dan untuk penduduk.

Disamping memiliki misi menggalang kemitraan di dalam dan di luar negeri dengan semua unsur baik pemerintah maupun masyarakat dalam pembangunan kependudukan. Kemudian, melakukan advokasi kependudukan dan pembangunan, sehingga menjadi lumbung bagi peningkatan kapasitas semua pemangku kepentingan terkait dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Tujuan mutlak koalisi kependudukan adalah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas penduduk dan memperkuat koordinasi serta keterpaduan berbagai kegiatan kependudukan.  Sedangkan peran dan fungsi koalisi kependudukan merupakan suatu badan advokasi atau jejaring yang memiliki peran dan fungsi utama untuk membangun aliansi diantara berbagai pihak dan organisasi yang mempunyai visi dan misi yang sama.

Susunan Kepengurusan Koalisi Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan Propinsi Sumatera Utara periode 2011-2014 adalah, Ketua Umum Dr Heru Santoso MS, Wakil Ketua Dr Linda Trimurni Maas MPH, Sekretaris Umum Drs Wahyu Pratomo MA, Wakil Sekretaris Drs Datang Sembiring MPHR dan Bendahara Rabiatun Adawiyah MPHR dengan dilengkapi sejumlah bidang. (*/ila)

Paket Blueberry Me Telkomsel Hanya Rp 1.000 Perhari

Telkomsel bersama CSL Blueberry meluncurkan paket Blueberry Me. Kini pembeli paket bundling Blueberry Telkomsel bisa menikmati layanan chatting, mengirim foto dan voice note, push email, penerjemah bahasa, serta meng-update status di Facebook dan Twitter sepuasnya hanya dengan Rp 1.000 perhari.

GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro mengatakan, “Paket Blueberry Me Telkomsel merupakan solusi layanan social networking terlengkap bagi pengguna ponsel Blueberry. Konektivitas dengan keluarga dan kerabat secara mobile tetap terjaga berkat dukungan jaringan berkualitas Telkomsel.”

Pengoperasian aplikasi Blueberry Me sangat mudah, di mana pelanggan cukup menekan keypad spasi untuk membuka aplikasi tersebut. Sedangkan untuk mengakses fitur-fitur menarik di dalamnya, pelanggan bisa menggunakan tombol navigasi. Tombol tengah untuk chatting, tombol atas untuk penerjemahan, tombol kanan untuk mengakses email, tombol kiri untuk sharing foto dan voice note, dan tombol bawah untuk pengaturan.

Untuk mengaktifkan fitur chatting di Blueberry Me, pelanggan tidak perlu melakukan sign in, cukup tekan tombol Me-Chat. Seperti aplikasi chatting lainnya, aplikasi chatting dalam Blueberry Me sudah mendukung penggunaan foto untuk profill, meng-update status, serta mengirim pesan suara, foto, dan emoticon bergerak. Pelanggan juga bisa mengatur tema tampilan layar chatting dengan berbagai pilihan warna menarik, serta mengatur nada dering chatting sesuai selera.

Keunggulan lain Blueberry Me adalah fitur Me-Translator, yakni layanan penerjemahan bahasa yang tidak sekedar mampu menerjemahkan kata dan mengartikan kalimat, tetapi juga bisa mengakses SMS yang masuk. Pelanggan dapat memanfaatkan fitur ini untuk menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, Spanyol, Thailand dan Mandarin, begitu pula sebaliknya. Fitur ini tentunya memudahkan pelanggan yang ingin belajar bahasa asing dengan mudah.

Di samping paket Blueberry Me, Telkomsel juga menyediakan berbagai pilihan paket ponsel Blueberry yang di-bundle dengan perdana Kartu As dengan harga Rp 399.000 (Blueberry 6100, 6200, 910t) dan Rp 575.000 (Blueberry 5800). Pembeli paket bundling Blueberry Me dapat menikmati harga spesial paket data TELKOMSELFlash sebesar 70 MB perbulan selama 6 bulan hanya dengan Rp 20.000 perbulan. Cukup hubungi *363*20000# atau kirim SMS ke 3636 dengan format: flash<spasi>sub<spasi>20k.

Kenyamanan pelanggan dalam memanfaatkan fitur-fitur menarik dalam paket Blueberry Me serta paket data TELKOMSELFlash dalam paket bundling Blueberry didukung jaringan berkualitas Telkomsel melalui lebih dari 38.000 base transceiver station (BTS) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Masfar Dituduh Selingkuhi Istri Rahudman

Motif Dugaan Wali Kota Medan Aniaya PNS Pemprovsu

MEDAN-Dugaan perselingkuhan antara Yusra Siregar atau sering disapa Yusra, istri wali kota Medan Rahudman Harahap, dan Ir Masfar Sikumbang memang belum bisa dibuktikan. Tetapi sejumlah fakta dan kesaksian menyebutkan Masfar dan Yusra sering bertemu. Dalam rekaman kesaksian Masfar yang diperoleh Sumut Pos terungkap, pria  yang diperbantukan di PKK Pemprov Sumut itu kerap bersama Yusra dalam kegiatan perkumpulan ibu-ibu tersebut.

Masfar juga sadar, Rahudman Harahap mencurigainya berselingkuh dengan Yusra. Tetapi Masfar berdalih, ia dan ketua tim penggerak PKK Kota Medan itu memang berteman.

Masfar sengaja mendekatkan diri kepada Rahudman dan Yusra. Sebagai ‘orang kecil’, Masfar yakin suatu saat ia akan membutuhkan bantuan Rahudman atau Yusfar.

Kutipan wawancara dengan Ir Masfar Sikumbang

Kita Sering Bertukar Pikiran
Kalau saya mengantar istrinya (Rahudman, Red) itu ke rumahnya, itu karena kami memang berteman. Kami pernah satu profesi pada saat dia (dengan Rahudman) asisten 4 di kantor gubernur, istrinya sebagai anggota tim penggerak PKK provinsi. Saya juga anggota tim penggerak PKK. Jadi kadang-kadang kita bercakap, nyambung kan begitu. Akhirnya kita berteman.

Ada gak dugaan dia bapak selingkuh dengan istri dia?
Nah… dugaan dia itu, saya itu selingkuh dengan istrinya. Begitu dugaan dia.  Kita itu cuma teman-teman aja. Saya pun sih, yang namanya saya orang kecil, saya berusaha dekat sama dia (Rahudman), kan begitu. Ya suatu saat mungkin kita perlu pertolongan, dan juga sama istrinya sendiri kita sering bertukar pikiran.(*)

Kabar dugaan perselingkuhan sebagai latar belakang penganiayaan yang dialami staf PNS di Pemprovsu tersebut juga menyita perhatian Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho. Secara khusus, Gatot mengaku akan menugaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Provsu Rahmatsyah untuk mengkroscek dan konfirmasi langsung kabar tersebut kepada Wali Kota Medan itu.

“Akan saya tugaskan Sekda untuk mempertanyakan hal ini kepada yang bersangkutan (Rahudman Harahap, Red),” ungkap Gatot di Lantai 9 Kantor Gubsu Jalan Diponegoro Medan, kemarin.
Ditanya sikapnya sebagai Plt Gubsu terhadap persoalan ini Gatot berkilah dan beralasan belum mengetahui duduk persoalan kasus tersebut.

“Bagaimana saya mengambil sikap, latarbelakang kejadiannya saya tidak tahu,” tuturnya.
Gatot bahkan belum berniat menjenguk Masfar di rumah sakit dengan alas an dirinya tidak memahami permasalahan penganiayaan tersebut. “Orang saya nggak tahu kasusnya. Jadi sebenarnya gimana. Nantilah saya tanyakan dulu yang ke berwenang,” jawabnya.

Mendagri: Rahudman Bisa Dicopot

Mendagri Gamawan Fauzi sendiri memastikan, sangat mungkin bagi pihaknya untuk mencopot Rahudman dari posisi sebagai wali kota Medan dengan menerbitkan surat keputusan (SK) pemberhentian sementara. Keputusan itu pasti diambil bila proses hukum yang berjalan menetapkan Rahudman menjadi terdakwa.

“Kalau memang itu pidana, itu urusan aparat kepolisian. Harus ada proses hukumnya dulu. Kalau proses hukumnya jalan dan itu menjadi terdakwa, tentu prosesnya jalan (proses administrasi pengeluaran SK pemberhentian (sementara, Red),” ujar Gamawan Fauzi kepada Sumut Pos di kantornya, kemarin.

Tetapi hingga kemarin, Gamawan belum mau mengambil tindakan apa pun terkait kasus dugaan penganiayaan yang dialami Masfar. Gamawan menjelaskan, saat ini ranahnya masih dalam kewenangan pihak kepolisian.
Gamawan mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus di Medan ini. Dari sejumlah laporan kasus di daerah yang masuk ke meja kerjanya, Gamawan menyebutkan tidak ada kasus Medan ini. “Kita kalau dapat laporan dari masyarakat, kita bisa proses. Kalau terkait pidana, kita tunggu dari pemeriksaan kepolisian,” terangnya.
Lantaran belum menerima laporan, Gamawan mengatakan pihaknya belum punya rencana mengirim tim ke Medan.
Keterangan Gamawan ini sekaligus meluruskan pernyataan Kapuspen/Jubir Kemendagri, Reydonnyzar Moenek, Minggu (1/5), yang menyebutkan kemendagri akan mengirimkan tim guna menelisik kasus yang sudah menjadi perbincangan hangat ini.

Kata  Reydonnyzar, tim yang akan dikirim merupakan tim gabungan dari inspektorat jenderal (itjen), direktorat jenderal otonomi daerah (dirjen otda), dan Biro Kepegawaian. “Tim ini untuk meneliti benar tidaknya kasus ini,” terang Reydonnyzar saat itu.

Kabar kasus di Medan ini sudah menyebar ke tingkat nasional. Buktinya, aktivis LSM yang sudah lama berkiprah di Jakarta, Ray Rangkuti, mengaku sudah mendengar kabar itu. “Saya mendapat SMS dari kawan mengenai kasus ini. Katanya, kawan saya itu baru saja melihat pemberitaan di MetroTV,” ujar Ray.

Pimpinan Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) itu mengatakan, apa pun sumber masalahnya dan apa pun kelakuan Masfar, petinggi Pemko Medan yang diduga sebagai pelaku penganiayaan, tidak boleh main hakim sendiri. “Mestinya jika Masfar dianggap merugikan, si pejabat lapor saja ke polisi, bukan main kekerasan. Ini mesti diusut tuntas hingga ke pengadilan,” ujar Ray.

Ray mengaku mendapat kesan, pihak kepolisian enggan mengusut kasus ini lantaran diduga melibatkan pejabat tinggi di Pemko Medan. “Kesan saya, polisi justru enggan mengusut kasus ini. Padahal, setiap warga negara kedudukannya sama untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan hukum,” ujar pria asal Madina ini.
Menurutnya, saat ini yang perlu dilakukan publik di Medan adalah mendorong aparat kepolisian agar berani mengusut tuntas perkara ini. “Kita dorong polisi tidak takut sekalipun misalnya melibatkan orang penting,” cetusnya.

Pelaku Masih Diselidiki

Hingga kemarin (2/5), penyidik polisi masih mencari yahu pelaku penyiraman soda api ke bagian wajah serta tubuh Ir Masfar. Pemeriksaan sejumlah saksi telah dilakukan penyidik.

Minimnya saksi yang melihat penganiayaan itu, membuat polisi kesulitan untuk menjerat pelaku penyiraman soda api tersebut. Kendati demikian, polisi yakin mampu mengungkap kasus yang dialami PNS Pemprovsu itu.
“Kita masih menyelidiki pelakunya, sejumlah saksi telah diperiksa. Dalam laporan kasus itu, pelakunya juga disebut lidik (tidak dikenali), sehingga polisi harus menyelidikinya,” ujar Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Raden Heru Prakoso melalui Kasubbid Dokliput AKBP MP Nainggolan.

Nainggolan tidak membantah kemungkinan aktor intelektual di balik kasus itu. Namun, semua itu harus dibuktikan dengan fakta hukum dan fakta logika. Seluruh oknum yang terlibat akan diungkap. “Semua yang terlibat akan bisa dibuktikan apabila kasus ini sudah terungkap,” ucap Nainggolan.

Pihak kepolisian juga telah memeriksa Darwin, pemilik rumah makan Sundari di Jalan Adam Malik, korban Ir Masfar Sikumbang dan istrinya Sri Listrikaningsih (41). “Semua pihak masih bekerja. Jadi tunggu saja proses penyelidikan yang berjalan,” tambah Wakasat Reskrim Polresta Medan Ruruh Wicaksno.
Dari keterangan para saksi, para pelaku diperkirakan tinggi 170 cm dan berbadan tegap. Disinggung soal dugaan keterlibatan Rahudman sebagai dating penganiayaan dan keterlibatan putrinya, pihak kepolisian Ruruh berkilah. “Tidak ada, jangan dipancing ya teman-teman, saya sudah tahu maksud kalian semuan. Ha… ha… ha…,” ujarnya sembari tersenyum.

Sebelumnya, tim penyidik Unit I Jahtanras Sat Reskrim Polresta Medan, telah memeriksa saksi pelapor Sri Listrikaningsih dan korban, Ir Masfar dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Pemeriksaan dilakukan di RS Columbia Asia Medan, tempat korban dirawat.

“Penyidik sudah mem-BAP pelapor dan korban. Pemeriksaan masih fokus pada pelaku penyiraman soda api ke wajah dan tubuh korban. Menurut pengakuan korban, pelaku dua orang mengendarai sepeda motor. Ciri-ciri yang menyiram soda api, kata korban, berambut gondrong dan tinggi lebih kurang 170 cm,” ujar penyidik.
Sementara Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga sebelumnya, mengatakan bahwa pihaknya bakal memeriksa seorang pria berinisial DS. Dengan dimulainya pemeriksaan (BAP) pelapor dan korban, tindaklanjut kasus penganiayaan yang diduga melibatkan pejabat tinggi di Medan itu bakal mengarah pada tersangka. (adl)

Para Saksi Syamsul Ketakutan Diperiksa KPK

Bantah Keterangan BAP di Persidangan

JAKARTA-Sidang perkara korupsi APBD Langkat dengan terdakwa Syamsul Arifin kemarin (2/5) menghadirkan tujuh saksi. Tiga saksi kompak membantah keterangannya di depan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sudah dituangkan di berita acara pemeriksaan (BAP).

Ketiga saksi itu adalah anggota DPRD Sumut Yan Syahrin, dan dua mantan anggota DPRD Langkat yakni Sutopo dan Aswin Nasution. Poin yang dibantah menyangkut jumlah uang yang pernah diterima dari Syamsul. Alasannya, saat diperiksa tim penyidik KPK di Mako Brimob Binjai, mereka ketakutan sehingga mengiyakan saja pertanyaan penyidik KPK.

Yan Syahrin misalnya. Di BAP yang dibacakan anggota Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhibuddin, mengakui sering menerima uang dari Syamsul. Pemberian dari Syamsul itu dilakukan di sejumlah tempat, baik di rumah Syamsul maupun saat bertemu di jalan. Total Yan menerima Rp30 juta hingga Rp40 juta.

Namun, Yan kemarin membantah keterangannya yang dimuat di BAP itu. “Tidak benar. Saat diperiksa di Brimob, saya disodori saja catatan Buyung Ritonga. Terus terang, begitu dengar KPK, kami sangat takut,” kilah Yan.

Muhibuddin, anggota JPU, gemas. Dia kembali membacakan BAP yang menjelaskan kronologis pemeriksaan oleh penyidik. Kata jaksa asal Aceh ini, penyidik tidak menyodorkan catatan pengeluaran di buku Buyung Ritongan “Di BAP ini keterangan saudara. Apa ini keterangan bohong!” bentak Muhibuddin. “Lupa saya Pak,” jawab Yan. Setelah itu, Muhibuddin membacakan lagi materi lain di BAP terkait penerimaan uang dari Syamsul.

Sikap Aswin Nasution sama saja. Dia membantah pengakuannya yang ada di BAP mengenai uang Rp100 juta. Di persidangan kemarin, dia mengaku hanya terima Rp50 juta. “Saya diperiksa di kantor Brimob. Lima puluh yang saya terima,” ujarnya.

“Takut juga ya?” cetus ketua majelis hakim, Tjokorda Rae Suamba. “Setengah pak,” jawab Aswin.
Mantan anggota DPRD Langkat, Sutopo, juga membuat gemas Tjokorda. Pasalnya, dia mengaku tidak pernah terima uang dari Syamsul. “Yang bener?” cetus Tjokorda. “Bener,” jawab Sutopo, dengan gaya memelas.
Lantas hakim membacakan BAP, dimana pria kelahiran 1960 itu mengaku beberapa kali menerima uang dari Syamsul, yang totalnya Rp37,5 juta.

“Itu saya agak lupa karena saya di-BAP di kantor Brimob Binjai. Saat itu orang tua saya sakit, saya ketakutan,” ujarnya, masih dengan gaya memelas. “Kok mau mengakui?” tanya Tjokorda. “Namanya takut pak,” Sutopo menjawab.

Saksi lain, Edi Sutrisno. Mantan pemegang anggaran kepala daerah Pemkab Langkat ini mengakui memark up biaya kegiatan, misal biaya penerimaan tamu. “Misal ada rapat 100 orang, menjadi 125 orang. Harga seratus, jadi 120,” ujarnya.

Sementara saksi lain Yafiz Ham, seorang PNS, mengaku pernah mencairkan cek dari Amril dan uangnya diserahkan lagi ke Amril. “Ajudan (ajudan Syamsul, Red) Pak,” jawabnya.

Dua saksi lain perempuan, yakni Golina (swasta) dan Anggraeni Duana Putri Nasution (pegawai Bank Mandiri). Anggraeni memberikan keterangan singkat bahwa dia pernah menerima transfer dari Syamsul sebesar Rp250 juta. Dengan uang itu, Syamsul dibukakan rekening. “Kalau saya ke Medan, setahun sekali, saya diberi Rp5 juta,” ujar warga Cinere, Depok, yang mengaku kenal dekat Syamsul sejak SMA.

Pada persidangan Senin mendatang (9/5), jaksa akan mengajukan satu saksi ahli. Sedang Syamsul mengajukan dua saksi ahli, masing-masing ahli administrasi keuangan daerah dan ahli keuangan negara. (sam)

Para Saksi Kompak Ngaku Takut Diperiksa KPK di Mako Brimob