24 C
Medan
Saturday, January 3, 2026
Home Blog Page 15338

Bangga Menjadi Polwan

Kapolsekta Medan Area AKP Aries Setyaningsih Sik.

Tak banyak wanita yang berpenampilan feminim memilih karir sebagai polisi wanita (Polwan) atau militer. Ini karena wanita feminim takut dibilang sebagai wanita perkasa bila memasuki dunia polisi atau militer. Begitulah kata Kapolsekta Medan Area AKP Aries Setyaningsih Sik.

Bukan itu saja, wanita kelahiran Pati-Jawa Tengah, 16 April 1975 silam ini juga berpendapat kalau wanita feminim takut masuk Polwan dan militer karena takut dibatasi penampilan feminimnya. Tentu saja berbeda dengan wanita yang bekerja di kantoran yang justru berlomba-lomba berpenampilan feminim.

“Mungkin wanita tidak banyak yang berminat menjadi Polwan karena sisi feminimnya takut dibatasi. Contoh kecilnya saja seperti rambut. Kalau Polwan tak diperbolehkan berambut panjang. Kita semua tahu kalau rambut itu mahkota wanita yang menunjang penampilan. Tapi bukan berarti rambut pendek itu tidak bisa tampil cantik dan anggun lho,” ujar anak pasangan dari Subagio  dan Wakirah ini.

Wanita yang hobi jogging, menembak, bola volly dan golf ini mengaku sebagai wanita dirinya sangat bangga bisa menjadi Polwan. Baginya menjadi Polwan tak menghalanginya untuk tampil sempurna sebagai seorang wanita, khususnya dalam hal penampilan. “Tinggal bagaimana menyesuaikan penampilan itu sendiri. Tentu saja setelah selesai bertugas bisa kok tampil se-feminim mungkin atau saat ada acara formal,” ujar anak kedua dari lima bersaudara ini.

Malah, wanita yang masih melajang ini  ingin para wanita muda yang tamat sekolah untuk bisa mendaftarkan diri sebagai Polwan. Sebab, jumlah Polwan masih sedikit. “Polwan juga diharapkan mampu mengangkat citra polisi kita dengan memberikan senyum ramah kepada masyarakat yang datang ke kantor polisi. Jadi kesan ‘angker’ masuk ke kantor polisi bakal hilang bila para Polwan menyambut ramah masyarakat yang datang,” ujarnya.

Sebagai Polwan, Aries mengaku sudah bertugas 16 tahun di kepolisian. Selama bertugas, ia pernah ditempatkan di Jakarta, Jawa Barat, Aceh dan Medan. Bahkan, ia juga pernah menjadi ajudan Menteri Perdagangan RI, Dr Mari ELK Pangestu tahun 2005 sampai tahun 2006 sebelum melanjutkan pendidikan kepolisian di PTIK.

Ia tak menampik kalau ia bangga melihat teman-teman wanita seprofesinya bisa berkarir tinggi di dunia polisi. Contohnya saja, Kapolresta Binjai juga wanita, Kanit Binmas Polsekta Percut Seituan dan Kanit SIM Sat Lantas Polresta Medan juga wanita. “Sayabangga jika wanita mampu berkarir tinggi dan maju seperti pria. Artinya, kemampuan wanita untuk memimpin tak bisa dipandang sebelah mata lagi. Dan saya berharap gender tidak ada lagi di manapun karena wanita memiliki kemampuan yang tak bisa diperhitungkan pria,” kata dia.

Maka dari itu, AKP Aries yang suka akan kesederhanaan ini mengatakan sudah selayaknya perempuan bisa sederajat dengan pria tanpa mendeskriditkan perempuan agar bisa memiliki hak yang sama. “Wanita itu tangguh, bisa berkarir sebagai pemimpin dan bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Peran wanita sudah banyak terbukti. Jadi, wanita harus maju terus, jangan takut untuk meraih masa depan dan prestasi,” serunya.

Saat ini, AKP Aries tengah merindu kampung halamannya. Ia pun bertekad untuk pulang kampung dan mengabdikan diri sebagai aparat polisi di tanah kelahiran. “Saya sangat merindu kampung halaman, rindu dengan orangtua serta saudara-saudara saya. Jika Tuhan berkehendak, pasti saya bisa pulang kampung untuk melepaskan kerinduan ini,” harapnya. (jhon)

Jejak Salib di TWI Dairi

Merayakan paskah dengan berwisata di Taman Wisata Iman (TWI) di Kabupaten Dairi memberi nuansa rohani seperti di Jerusalem. Di tempat ini ada situs-situs rohani seperti Taman Getsemane, perjalanan salib (Via Dolorosa) dan Bukit Golgota. Terdapat pula kandang domba Betlehem yang telah dibangun menjadi sebuah gereja. Termasuk Gereja Oikumene yang berdiri megah di perbukitan Sitinjo berlatar belakang lembah dan perbukitan lengkap dengan air terjun.
Selain itu perjalanan Musa saat menerima sepuluh perintah Allah, patung Abraham saat menyerahkan anaknya Ishak sebagai kurban persembahan dan Gua Bunda Maria dan situs perjalanan Tuhan Yesus ketika mengadakan mukjizat 5 roti dan 2 ikan melengkapi kenangan perjalanan umat pilihan Tuhan.

Dalam rangka paskah, Maranatha Christian Assembly (MCA) Etnis Tamil di Medan menggelar jejak salib di TWI Dairi, Minggu (8/5). Rombongan dipimpin Pastor Surya Kumar didampingi Pendeta Andreas dari Gereja Kristen Protestan Anugerah, Medan. Napak tilas perjalanan salib tersebut akan diikuti puluhan jemaat, pemuda dan anak sekolah minggu dari MCA etnis tamil. Acara tersebut dihadiri pula oleh sejumlah undangan hamba Tuhan dan jemaat dari Sidikalang, Dairi dan Humbang Hasudutan.(rahel sukatendel)

Lari tak Harus Pakai Kaki

Oleh: Ramadhan Batubara

Sebut saja anak Adam dan Hawa yang murtad, apa yang dia lakukan ketika menghadapi amarah bapak dan ibunya serta saudara lainnya. Lalu, apa yang dilakukan oleh manusia purba ketika mengejar binatang buruannya atau juga ketika jadi buruan binatang buas di jamannya. Lari bukan?

Lari, sepertinya sesuatu yang biasa saja jika kita tidak sedang di posisi terdesak. Maksudnya, posisi ketika harus lari, jika tidak kita akan menghadapi sebuah kerugian. Ketika di posisi tersebut, tidak ada yang terpikirkan lagi keculi lari. Bukankah begitu? Ada sebuah pertanyaan yang asyik, apa sebenarnya lari itu?

Lari merupakan sebuah tindakan yang dilakukan secara sadar atau tidak untuk meninggalkan sesuatu, berpindah tempat dengan cepat, bahasa lainnya. Kenapa dikatakan cepat? Jawabnya jika pelan berarti jalan, gampang kan? Hehe.

Dalam olahraga, lari dimasukan dalam cabang atletik dan dibagi atas beberapa kelas seperti lari jarak jauh atau maraton, lari jarak menengah, dan lari jarak pendek. Ini pembagian yang diambil dari jaraknya, ada juga varian lain seperti lari rintang, estafet, dan sebagainya. Dan sebagai pengingat, lari jarak jauh atau maraton termasuk olahraga tertua di dunia. Coba lihat olimpiade pertama, maraton adalah salah satu olahraga yang bergengsi bukan? Selain itu, sebelum ada ajang olimpiade, lari juga telah dilakukan sejak zaman dahulu kala. Bisa dikatakan, tidak ada yang tahu siapa yang menemukan lari pertama kali. Untuk gampangnya, lari berumur sama dengan umur manusia pertama di dunia ini, juga binatang pertama di dunia. Selesai.

Hm, di atas kita melihat lari sebagai sebuah kegiatan fisik – berpindah tempat dengan cepat itu – lalu bagaimana jika kita melihat dari sudut lainnya. Maksudnya tidak seperti dalam olahraga atau menghindari bahaya yang terlalu mengandalkan kekuatan kaki melesat di atas tanah. Mari kita coba lihat lari yang dilakukan tanpa menggunakan kaki, tapi lebih kepada lari sebagai sebuah tindakan yang dilakukan oleh otak dan hati. Mungkin secara fisik, ia tetap berpindah tempat, tapi bukan itu yang kita cari. Menghindar pintar atau menghindar bodoh, kata tepatnya.

Begini, jika dalam olahraga, lari merupakan perlombaan untuk mencapai sebuah titik tertentu, siapa yang lebih dulu maka ia yang menang; di sini kekuatan fisik menjadi taruhannya. Untuk lari dalam artian lain (baca: menghindar) tentunya tidak seperti itu. Dibutuhkan sebuah kemampuan otak berpikir dan pilihan hati dalam mengambil sikap. Contoh, jika ada warga negara yang minta perlindungan dari sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya (hehehehe, mencontek sebutan untuk musuhnya Harry Potter) berarti lari juga kan?
Untuk kasus ini, di mana letak pikiran otak dan pilihan hati dia yang minta perlindungan? Baiklah kita coba menjawab kasus ini. Kita mulai dengan sebuah pertanyaan, mengapa dia menghindar dengan minta perlindungan? Untuk gampangnya, dia menghindar karena merasa ada yang mengejar.

Nah, sehebat apakah kejaran itu hingga ia harus menghindar? Begini,yang kita bicarakan ini bukan masalah fisik; kekuatan kaki dan stamina menjadi taruhan. Namun, ini adalah kejaran dari sesuatu yang berotak dan sesuatu yang menjerat. Seandainya saja ini masih berkaitan dengan olahraga, tentunya warga tadi akan lebih sportif; dia akan menerima kekalahan dan mengakui kalau kecepatan larinya masih kalah dengan sang lawan. Ayolah, bukankah olahraga menuhankan sportivitas? Sekali lagi, kasus lari di masalah ini berbeda. Sang warga harus lari dari sesuatu yang bisa membuatnya takluk hingga dia harus menghindar dengan meminta perlindungan.

Sayangnya, lari di kasus ini tak mengenal garis finish. Pelarian akan berhenti jika sang pengejar memang kalah dalam menggunakan otak. Sejatinya, sang pelindung tak begitu penting di sini. Mungkin, bagi sang warga, dengan berlindung pada sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya adalah garis finish. Namun jangan salah, itu belum selesai. Sebesar apakah kekuatan yang dimiliki sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya itu? Untuk pertanyaan terakhir hanya bisa dijawab pada kemampuan otak dan keteguhan hati sang warga bukan? Ya, sebelum meminta perlindungan, dia memang harus tahu lebih dulu siapa yang dia minta perlindungan itu. Salah pilihan, maka yang ada hanya kerugian, begitu juga sebaliknya.

Begini, kasus ini adalah sesuatu yang mengawang-awang. Pasalnya, dia bermain di pikiran; tidak fisik yang nyata-nyata terlihat. Nah, karena dia mengawang, maka kekuatan perlindungan dari si sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya tadi pun tak membumi. Sekali selip, maka sang warga dan sesuatu yang tak bisa disebutkan namanya pun bisa terjerat. Apalagi, jika sesuatu yang mengejar adalah sebuah kekuatan yang tak terhingga. Bah…, memusingkan lantun kali ini ya?

Tapi sudahlah, intinya ini hanya soal lari. Artinya, lari secara fisik dan juga nonfisik, itu saja. Pertanyaan sederhana yang mengilhami lantun ini pun hanya: kenapa orang harus lari? Ya, kenapa harus menghindar jika berani berbuat?
Hm, bagaimana jika terdesak karena sesuatu terjadi  di luar perkiraan? Lho! Kok masih tanya? Lari sajalah….(*)
6 Mei 2011

Narkoba Renggut Semua Kesuksesan

Kesaksian Michael Sie

Senjak ditinggal sang ayah, kondisi perekonomian keluarga Michael Sie hancur, tidak hanya itu, hidup Michael pun hancur. Teman-temannya meninggalkannya, ibunya terlibat hutang, dan ia merasa sangat minder. Akhirnya Michael mencoba mencari jalan keluar dengan menggunakan narkoba.

“Saya lari ke narkoba, saya terjerat lebih dalam lagi dan malah saya tidak bisa lari ke mana-mana,” demikian pengakuan Michael.

Hingga suatu saat mamanya bertanya, “Kamu mau gini-gini aja, hidup di Jakarta?” “Ya ngga mi, tapi mau gimana lagi?”

Saat itulah terlontar sebuah penawaran menarik, “Mama mau kerja ke Amerika, kamu mau ikut ngga?”
“Saat itu saya cuma mikir, kalau saya cari uang saya bisa jadi kepala rumah tangga yang baik. Sebagai anak yang baik untuk orangtua saya, saya melihat ini suatu kehidupan yang baru. Saya bilang, “Mam, saya ikut.” Amerika man.. Amerika, kapan lagi..”

Di tahun 1998 itu, Michael mengambil kesempatan yang ditawarkan mamanya itu. Mereka berdua pergi ke negeri Paman Sam itu dengan banyak harapan. Michael menjejakkan kaki di Los Angeles, Amerika dan memulai kehidupan baru. Namun kenyataan yang dihadapinya tidak seindah harapannya.

“Akhirnya saya mulai kerja, cuci piring. Sambil nyuci piring, saya menangis. Tuhan, sesusah-susahnya saya di Jakarta, ngga pernah sampai disuruh nyuci piring 14 jam sampai tangan biru-biru semuanya.”
Merasa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya di kota itu, Michael mencoba peruntungannya ke Florida. Di sana ia kerja sebagai pelayan restoran, namun dengan penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Kerja kerasnya membuahkan hasil, setelah tiga tahun bekerja di restoran itu, di tahun 2001 Michael dipercayakan untuk menjadi manajer.

“Saya dipromosikan menjadi manajer dan dipercayakan untuk mengepalai waiter-waiter. Ada suatu kebanggaan dan diposisi manajer itu saya penghasilannya cukup baik. Saya sempat bilang sama mama saya, “Udah mam, lebih baik mami pulang. Mami sudah waktunya istirahat, nanti biar aku yang beresin soal rumah dan biaya hidup.”

Michael ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa menjadi kepala keluarga yang baik kepada mamanya dan juga adiknya, dan hal itu berhasil, mamanya percaya kepadanya dan kembali ke Indonesia. Tapi di tengah kejayaan, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Peristiwa penyerangan teroris 11 September 2001 ternyata berpengaruh kepada kondisi perekonomian saat itu, dan ia terpaksa harus berhenti bekerja dan kembali ke Los Angeles.
“Ternyata di hari pertama saya di Los Angeles saya langsung bertemu dengan saudara-saudara saya. Dia tanya, “Mike, mau putaw ngga?” Langsung deh nyobain, gimana sih rasanya putaw Amerika.”

Apa yang telah ia tinggalkan di Indonesia dulu, ternyata mengejarnya kembali. Iapun kembali terikat bahkan hingga kehilangan semua harta hasil kerja kerasnya. “Pikiran saya cuma narkoba dan narkoba.. Saya ngga mikir lagi kalau saya punya orangtua, punya adik. Seperti dibutakan..”

Hingga akhirnya semua harta Michael ludes semua, namun kebutuhannya akan narkoba tidak bisa ia kendalikan lagi. Ia nekad tinggal di jalanan dan mulai menjadi calo penjual narkoba untuk mendapatkan penghasilan. Keberhasilannya mendapatkan banyak pembeli, membuat Michael di lirik oleh seorang bandar besar.
“Saya seperti dapat promosi, dulu cuma calo sekarang megang barang. Dijalanan saya seperti dapat respek dan diterima.”

Namun uang, penghormatan dan narkoba yang melimpah tidak bisa memuaskan Michael. “Saya teriak sama Tuhan, tapi saya ngga tahu Tuhan yang mana. Saya cuma bilang, “Tuhan saya cape, cape begini. Harus bangun pagi, makai. Siang makai. Tuhan tangkep aja deh, lebih baik saya dipenjara aja deh. Saya capai begini.””

Doa Michael itu dijawab dengan segera. Saat ia sedang memakai narkoba, seorang polisi datang dan menangkapnya. Dipenjara itu, untuk sementara ia bisa berhenti menggunakan narkoba. Namun dengan alasan hanya sebagai pemakai, ia hanya sebentar berada di penjara. Sekeluarnya dari penjara, Michael mengalami kebimbangan apakah ia harus kembali ke keluarganya atau pada si bandar narkoba. Namun karena takut ditolak oleh keluarganya, Michael memilih kembali ke bandar narkoba.

“Terakhir kondisinya sedang panas, banyak polisi segala macam. Saat itu tidak ada yang berani jualan, tapi saya tetap jualan. Duitnya saya ambil, kami jalan berlawanan arah.”

Namun saat Michael sedang menghitung uang yang di dapatnya, seorang polisi menangkapnya. Di tahun 2003 itu, Michael harus menjalani pengadilannya dan dijatuhi hukuman selama satu tahun delapan bulan dan harus di deportasi ke Indonesia.

“Tujuh tahun ke Amerika, pulang hanya bawa 120 US dolar. Saya cuma berharap orang sudah tidak kenal lagi sama saya. Saya pikir saya akan dihakimi, tapi adik saya cuma peluk saya dan terima saya apa adanya. Dia cuma bilang, “Koko.. I miss you..” Pada hal dia tahu saya mengecewakan. Saat itu saya sadar bahwa semua hal yang saya takuti tidak terjadi, ternyata keluarga saya tidak mengecewakan saya. Keluarga saya mengasihi saya, itu hal yang diluar dugaan saya.”

Namun saat Michael sedang menata kembali kehidupannya, tawaran narkoba kembali datang. Kebiasan buruk Michael akhirnya diketahui oleh sang adik yang kemudian meminta bantuan dari sebuah panti rehabilitasi. Namun Michael melakukan perlawanan dan tidak mau dibawa ke panti rehabilitasi, hingga akhirnya tindakan keras pun dilakukan.

Tindakan pemaksaan ke tempat rehabilitasi itu, membuat Michael merasa dikhianati oleh keluarganya. Amarahnya memuncak.

“Saya benci semua orang!” demikian ungkap Michael. Ia merasa di khianati dan di tolak oleh keluarganya. Namun ia tidak dapat berbuat banyak. Hingga suatu saat seorang mentor dipanti rehap itu berkata, “Kunci satu-satunya kamu keluar dari tempat ini adalah kalau kamu menghafalkan firman Tuhan.”

“Dia kasih saya Hagai pasal 1 dan pasal 2. Saya mulai baca Hagai itu dan hafalin. Lama-lama keasikan. Saya merasa ada sesuatu yang masuk. Sesuatu kayak ketenangan. Saya mulai menyadari kalau yang salah itu bukan dari luar. Yang salah itu saya. Tuhan itu panjang sabar, saya sudah ditolong begitu banyak. Saya baru sadar kalau Tuhan itu selalu ada buat saya. Tuhan sendiri bicara, “Mike, mereka itu mengasihi kamu, makanya itu kamu disini. Mike, Aku ini mengasihi kamu, karena itu Aku mau kamu mengenal Aku.””

Kasih Tuhan yang Michael rasakan saat itu membuatnya menyadari tujuan hidupnya. Enam bulan di tempat rehabilitasi itu, mencelikkan mata hatinya akan semua kesalahannya di masa lalu. Kini ia telah bebas dari narkoba, bahkan memberikan hidupnya untuk melayani anak-anak muda yang mengalami masalah seperti dirinya.  (sol/jc).

Pertarungan Terakhir

Cerpen : Hermawan Aksan

Pada suatu malam gerimis, ketika dedaunan bugenvil menampar-nampar jendela kaca rumah, aku kehilangan tokoh utama ceritaku. Tiba-tiba alur kisah yang tengah kurangkai menjadi buntu, seperti menumbuk bidang datar yang pejal. Tema, konflik, deskripsi suasana, segalanya menjadi tanpa arah, tak ubahnya tersesat di hutan antah-berantah.
Ke mana dia? Padahal aku tengah bergairah menjadikan dia seorang bramacorah. Aku hendak mempertemukan dia dengan seorang musuh bebuyutan dalam pertarungan terakhir di sebuah lembah yang basah di kaki Gunung Salak dan akan menjadi penentuan siapa sebenarnya bramacorah yang paling hebat dalam sejarah. Sang musuh sudah menghadang, dengan baju dan celana hitam komprang serta golok panjang di pinggang, dan sekarang tokoh utamaku menghilang. Apakah ia mendadak menjadi lelaki tanpa nyali?

Kubongkar tumpukan kertas buram yang biasa kupakai untuk merancang-rancang secara kasar cerita-cerita pendek. Barangkali ia terselip di sana, menyembunyikan diri dari angin dingin yang menyelinap melalui ventilasi, atau sengaja bertemu dengan tokoh-tokoh lain rekaanku. Tak ada.

Kubuka folder demi folder di komputerku, siapa tahu ia menyelimpat pada salah satu di antara puluhan file naskah jadi atau setengah jadi. Barangkali ia ingin sejenak jalan-jalan membuang kejenuhan, lagaknya pengarang yang kadang dilanda kekeringan gagasan. Tak juga kujumpai di sana.

Beberapa waktu lalu, dua kali ia menghilang. Pertama, ia lenyap ketika aku menjadikannya seorang pejabat yang ketahuan mencuri uang negara. Cerita ini terinspirasi oleh fakta mutakhir di sebuah kabupaten bahwa bupati, wakil bupati, sekretaris daerah, dan anggota dewan, semuanya menjadi tersangka korupsi. Tak tersisa. Dia kutemukan di saku bajuku, tokohku itu, pada secarik kertas kwitansi honor dari sebuah media.

Kedua, ia raib dari bidang layar komputer ketika cerita hampir mencapai klimaks dan ia harus menghadapi istrinya yang montok macam timun suri selingkuh dengan bosnya. Ia kutemukan pagi hari tengah mematung di kolam kecil di depan rumahku, memandang ikan-ikan yang kedinginan. Aku memintanya masuk karena udara mengandung embun yang membekukan, tapi ia bergeming seperti patung salju. Aku menduga ia tengah berangan-angan menjadi kodok jantan, untuk menemani kodok betina di balik batu di sudut kolam.

Namanya Surandil, tokohku itu. Sulit aku memerikan sosoknya. Ia pernah kupakai menjadi banyak karakter. Ketika menjadi mahasiswa, ia berwajah biasa-biasa saja sehingga terbiasa patah hati karena selalu mendambakan mahasiswa yang cantik luar biasa, kerap berlagak sebagai pencinta binatang tapi membenci tak alang-kepalang kucing milik ibu kos karena selalu membikin gaduh di genting kamar tatkala ia berkonsentrasi mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Ketika menjadi pengemis, Surandil bertubuh kumuh seperti patung jerami pengusir burung, bertopi pandan dan berkaki pengkor, dengan baju berwarna campuran segala benda kotor dan bau seperti got mampat.

Ketika menjadi anggota DPR, ia memakai jas, dasi, dan sepatu pantofel mengkilat, pintar berjanji tanpa perlu menepati, duduk nyaman di jok mobil Alphard yang menguarkan harum magnolia seraya jemarinya sibuk mengubah-ubah status Facebook dan Twitter, kemudian menyandar tenteram di kursi empuk ruang sidang dengan mata lelap terpejam, atau menitip tanda tangan dan meluncur ke sebuah ruang yang samar dan temaram.

Aku menyukai nama Surandil tanpa sebab. Di dunia nyata, pastilah yang ada Suranto, Suratno, Suharto, dan yang sejenisnya, tapi aku tak yakin apakah ada nama Surandil. Nama ini muncul begitu saja seperti putik bunga di pagi hari dan berseminya putik tidak perlu karena sebab tertentu. Tentu saja Surandil tidak tampil dalam setiap cerita. Tapi seperti Seno Gumira dengan Sukab-nya, AS Laksana dengan Seto-nya, dan Mahwi Air Tawar dengan Madrusin-nya, Surandil seperti belahan jiwa bagiku. Soulmate.
***

INGIN kutanya istriku di mana gerangan Surandil. Tapi risikonya terlalu tinggi. Pertama, ia tengah lelap dan dengkurnya hilang-timbul di tengah desau angin malam. Oh, istriku cantik dan seksi. Jadi, tak ada hubungannya antara dengkur dan kecantikan. Ia akan marah, atau setidaknya cemberut berat, kalau kubangunkan di tengah mimpinya. Ia sekretaris sebuah perusahaan penerbitan buku dan ia harus bangun pagi karena selalu berangkat pukul tujuh dari rumah. Kami sudah hampir lima tahun menikah dan kami saling mencintai, setidaknya aku yakin kami saling mencintai, meskipun belum dianugerahi sesosok bayi. Kedua, ia akan bertanya macam-macam, siapa itu Surandil. Akan makin runyam kalau ia menyangka Surandil adalah manusia nyata.

Esoknya, kusambangi rumah temanku sang komponis lagu. Rumahnya hanya berselisih satu rukun warga dengan rumahku. Sesekali aku mampir jika hendak menjemput inspirasi di taman kompleks. Kadang jalan kaki, tapi kali ini menunggangi motor bebekku. Rumahnya menghadap taman, asri seperti iklan-iklan perumahan elite.
Lagu-lagunya sedang digandrungi anak muda, memadukan rock, blues, keroncong, tarling, dan orkes gambus seperti adonan Ketoprak Betawi. Bagaimana lagu-lagu acakadul seperti itu digemari, ah, selera anak-anak muda tak pernah bisa kita duga.

Beberapa kali aku membawa serta Surandil ke rumah sang komponis, tanpa sengaja, karena tahu-tahu ia menyembul dari kepalaku, atau kadang lepas dari lepitan dompet. Kami, maksudku aku dan sang komponis, kerap bertukar gagasan mengenai proses kreatif. Tak jarang aku bertemu berbagai tokoh baru dari lagu-lagu gubahannya. Sebaliknya, dari karya-karya yang kutunjukkan, ia kerap menciptakan lagu.

“Kamu lihat Surandil?” tanyaku, tanpa basa-basi melumat sepotong donat.
Sang komponis menghentikan petikan gitarnya. Keningnya berkerenyit, lapisan kulitnya membentuk gelombang sinus-cosinus sejajar dari tepi ke tepi. “Siapa Surandil?”
Ditanya seperti ini, kelabakan juga aku menjawab apa.

“Rasanya kamu tinggal berdua saja dengan istrimu. Adikmu? Atau keponakanmu? Seperti apa rupanya?”
Nah, pertanyaan ini juga sama sulitnya dijawab. Tak mungkin aku bilang dia anggota dewan berjas wangi. Sama musykilnya kalau aku bilang ia pengemis berbau penguk dengan kaki pengkor.

Karena aku diam saja, sang komponis kembali memainkan jemarinya di kawat-kawat gitarnya. Terdengar genjrengan musik acakadul yang tengah digemari anak-anak muda.

Aku lebih baik permisi saja.

Setelah menyusuri jalanan tanpa tujuan, tahu-tahu aku sudah berhadapan dengan gerbang besi tempa rumah sahabatku sang pelukis. Rumahnya lebih mewah dibanding rumah sang komponis. Luas, dan sekilas menyerupai kastil dengan halaman yang seluas lapangan sepakbola. Seorang pelayan membuka rantai gerbang dengan suara berkelontang, membawaku ke studio sang pelukis di bangunan pinggir —lebih besar dibanding rumahku. Kalau siapa pun ingin menemukan sebuah kontras yang paling ekstrem, di sinilah tempatnya: gedung itu istana, sang istri bak permaisuri, tapi sang pelukis tak lebih dari lelaki kurus, bungkuk, hidung bulat, bibir maju, kulit gelap kusam. Tapi itulah, itu, satu lukisannya minimal seratus juta rupiah. Objeknya gadis-gadis cantik molek tanpa busana. Dan ke sinilah aku masuk kalau sedang suntuk.

Tapi kali ini tujuanku bukan memuaskan dahaga penglihatanku. Aku coba menyisir setiap sudut studionya, tapi tak kujumpai Surandil.
“Kamu cari apa tho?”

Aku tergeragap beberapa kejap. “Ya… melihat-lihat lukisanmu…”
“Tapi matamu tidak menatap lukisan-lukisan.”
Aku menoleh dan tertawa. Sang pelukis bukan orang yang tepat untuk berdiskusi tentang Surandil.
Jadi, aku memutuskan pergi ke rumah sang novelis. Betul, siapa tahu Surandil sedang berkumpul dengan teman-temannya sesama tokoh fiktif. Aku tahu sang novelis memiliki koleksi tokoh yang tak terhitung. Ia tak suka memakai tokoh yang sama dua kali. Satu judul saja menceritakan puluhan tokoh. Dan ia sudah menerbitkan puluhan novel. Berarti ada ratusan tokoh di sana.

Novel-novelnya bak kue bronis. Laris-manis. Royaltinya ibarat Bengawan Solo, mengalir sampai jauh. Jadi, untuk ukuran Indonesia sang novelis tergolong kaya. Rumahnya tingkat dua, sangat menonjol di antara rumah-rumah di sekitarnya. Mobilnya dua. Meskipun jarang ke rumahnya, aku mengagumi sang novelis karena ia tetap bersahaja.
“Ada angin apa seorang cerpenis berlabuh di sini?”

“Ah, saya bukan cerpenis, baru senang menulis cerpen, dan tahu-tahu sudah terdampar di pelabuhan ini.”
Sang novelis berbalik dari laptop-nya, mengangguk-angguk dengan senyumnya yang seteduh pohon beringin.
“Kamu lihat Surandil?”

Kedua alis tebal sang novelis bergerak hendak menyatu. Tapi sejenak menjauh lagi seiring dengan senyum di sudut kanan bibirnya yang lagi-lagi meneduhkan.
“Bukankah dia tokoh kesayanganmu?”

“Benar. Aku sedang membutuhkan peran dia.” Lalu kuceritakan cerpen yang sedang kubuat.
“Hmmm…” sang novelis manggut-manggut macam perkutut. “Mungkin ia tidak menyukai perannya. Mungkin ia ingin menjadi tokoh lelaki muda yang tampan, kaya, rajin salat, dan punya kekasih perempuan cantik, juga kaya dan serba modern.”

“Sinetron sekali….”
“Bukankah itu yang digemari?”
“Seperti novel-novelmu?”
Sang novelis tertawa.

“Di mana aku harus mencari dia?”
“Tak perlu kamu cari. Tunggulah, dia akan kembali. Rumahmu adalah rumahnya.”
***
PADA malam yang persis sama, gerimis, ketika dedaunan bugenvil menampar-nampar jendela kaca, samar-samar terdengar ketukan di pintu rumah. Ketika kubuka pintu, di bidang remang seorang lelaki muncul dengan penampilan yang membuatku terpana: berambut panjang yang diikat di belakang, berbandana hitam, celana jins belel, dan kaus berlogo klub Liverpool bertulisan You’ll Never Walk Alone. Aku merasa tak asing lagi. Aku selalu melihatnya di cermin. Sosok itu adalah diriku sendiri!
“Siapa kamu?”

Lelaki itu memberikan sorot yang menusuk melalui hitam matanya. “Boleh aku masuk?”
Aku memberinya jalan meskipun di dada berjejalan tanda tanya.
“Kamu tak mengenalku?” tanyanya sambil melewatiku. Menguar bau udara basah dari tubuhnya.
“Melihatmu sekilas, aku serasa sedang becermin. Tapi kamu bukan aku. Aku di cermin tak pernah memiliki raut menyeramkan seperti kamu.”
“Aku Surandil.”

Kalau saja tidak tertahan pintu yang kututup di belakangku, aku pasti sudah terjengkang.
Logika fiksi pun tidaklah berjumpalitan seperti ini. “Tidak mungkin.”
“Kamu tak bisa mengingkari kenyataan yang kamu lihat.”

“Surandil adalah tokoh ciptaanku. Akulah yang bisa menentukan dia mau menjadi apa. Dan aku tak pernah menjadikan dia sebagai aku.”

Lelaki itu tertawa.

Ia menghampiri meja di sudut ruang tengah. Meja dekat jendela kaca yang masih ditampar-tampar dedaunan bugenvil. Ia duduk menyandar sebentar di kursi, lalu memandang layar komputer yang masih berupa bidang putih menyala. Dua jarinya sekaligus menekan tombol CTRL + HOME dan layar memperlihatkan barisan-barisan kalimat cerpenku yang belum tuntas.

Kemudian ditekannya CTRL + H.

Aku menyerbunya. “Apa yang kamu lakukan?”

Tapi tangan kirinya seperti palang besi. Aku tertahan dan hanya bisa menatap layar komputer ketika semua nama Surandil dalam cerpenku itu digantinya dengan namaku.

Kucoba mendorongnya dari kursiku. Tapi aku merasakan kekuatan yang lebih dahsyat ketika aku malah terjengkang dan bagian belakang kepalaku menghantam tembok.

Mungkin sejenak aku kehilangan kesadaran. Ketika kubuka mata, tiba-tiba aku berada di sebuah lembah yang basah di kaki sebuah gunung. Gunung Salakkah?
“Akhirnya kamu datang juga.”

Aku berbalik. Di hadapanku menjega sosok lelaki berbaju dan celana hitam komprang dengan golok panjang di pinggang.***
Bandung, 2010

PSY War Dimulai

MEDAN-Meski laga babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia baru akan digelar 12 Mei mendatang, namun perang urat syaraf alias psy war antar pendukung sudah menggema.

Perang urat syaraf mulai dilancarkan di sejumlah situs jejaring sosial. Salah satunya dari fan page Facebook berjudul:Babak 8 Besar Divisi Utama 2010/2011. Menarik, karena masing-masing suporter tim yang lolos ke babak delapan besar mengutarakan minat besar lolos ISL. Dukungan kepada PSMS juga mengalir deras. Pendukung PSMS di manapun berada, saling sindir kekuatan tim asuhan Suharto itulah yang akan melaju ke babak selanjutnya.
Namun pendukung tuan rumah Mitra Kukar juga tak kalah eksis. Sejumlah postingan terkait dukungan terus diumbar. Begitu juga dengan Persiba Bantul. Bahkan ada yang melisting dua klub ini sebagai favorit juara. Saling bantah dan saling unjuk fanatisme antar pendukung pun terjadi. Tak jarang komentar kadang menjurus rasis meski tidak begitu parah.

Dari ujung Sumatera nada ingin lolos ISL juga digumamkan oleh pendukung Persiraja dan PSAP Sigli. “Aceh Telah Lama Memimpikan ISL… Sudah Sekian Lama Kita Di Anak Tirikan dari Kancah Sepakbola Nasional.. Inilah Saatnya Aceh Kembali Berjaya.. Persiraja dan PSAP Sigli Siap Mempertaruhkan Nama Aceh Di Papua dan Kutai,,, Selamat Berjuang Pahlawan Kami,” begitu tulis salah satu pendukung dari NAD.

“Spirit of rap-rap siap mengantarkan PSMS jadi kampiun. Dan pastinya dengan menjungjung tinggi sportivitas dan fairplay,” timpal komentar pendukung PSMS.

Kekuatan grup B juga diulas. Adalah ketajaman striker yang bakal jadi momok masing-masing tim. Di Mitra Kukar ada Franco Hita yang sementara sudah mengemas 18 gol. Striker berkebangsaan Argentina ini pernah bermain di Liga Chile (Santiago Wanderers).

Tak tanggung-tanggung, memang persaingan antar striker di grup B cukup mengerikan. Semua striker asing di grup ini masuk jajaran top skor. Di PSAP ada Osas Saha yang sudah mengemas 29 gol. Mantan striker PSMS musim lalu itu bakal kembali melawan mantan klubnya di laga pembuka 13 Mei mendatang.

Sedangkan di Persiba Bantul, bercokol pencetak gol terbanyak sementara dengan torehan 31 gol. Dia adalah Fortune Udo. Pemain impor asal Nigeria ini terbilang sangat tajam musim ini. Mantan pemain Selangor FC itu diyakini mampu menambah pundi-pundi golnya. Maka, PSMS  patut waspada ekstra ketika berjumpa dengan Persiba.
Nah di PSMS juga ada nama yang masuk jajaran top skor. Dia adalah kekasih artis Julia Perez. Siapa lagi kalau bukan Gaston Castano. Meski baru mengemas 14 gol, pemain asal Argentina ini tidak bisa diremehkan begitu saja.
Yang jelas, laga babak delapan besar layak dinanti. Terlebih 10 laga dijamin akan disiarkan langsung oleh ANTV. Dengan demikian diharapkan kualitas pertandingan dan fairplay mampu dijunjung tinggi. “Semoga dengan disiarkan langsung bisa lebih jujur,” harap Kapten PSMS, Affan Lubis. (ful)

Khas Gurami Bakar

Warung Halimah Jalan Bima Sakti

Rumah makan yang berdiri tahun 2002 ini, awalnya didirikan Sukati orangtua Halimah. Rumah makan yang menjadi usaha keluarga ini, dulunya berada di kawasan Iskandar Muda tepatnya di Jalan Dewa Ruci. Belakangan tahun 2006, rumah makan itu pindah  ke Jalan Bima Sakti No 11 A Medan.

Warung  Halimah ini menjagokan aneka ikan bakar, diantaranya gurami bakar, bawal bakar, pare bakar, gembung bakar dan lele bakar. Seporsi ikan bakar dibanderol Rp8 ribu hingga Rp45 ribu.

Saat tim, Electra Publisher yang beranggotakan, Inda Fitrina, Sity Ardiyanti, Evo Dhiva dan Aritas Puica, berkunjung ke Warung Halimah, gurami bakar menjadi salah satu makanan favorit. Sebelum disajikan,  ikan gurami ini dicelupkan ke dalam bumbu rempah hasil racikan sendiri. Kemudian dibakar hingga setengah matang. Setelah itu, dioleskan dengan bumbu yang sama untuk kedua kalinya agar bumbu tersebut meresap ke dalam. Lalu gurami itu dibakar sampai masak. Gurami bakar ini sangat pas disajikan dengan nasi urap.

Warung Halimah sendiri kapasitasnya 100 orang pengunjung. Bahkan sejauh ini, pelanggannya berasal dari berbagai kalangan semisal eksekutif, legislatif dan masyarakat umum lainnya. Tak hanya itu, public figure  juga pernah mengunjungi Warung Halimah ini diantaranya, Benu Buloe, Bondan Winarnoe, Jamal Mirdad, Lidya Kandow, Gita Gutawa dan Erwin Gutawa. (*)

Final Digelar di Stadion Manahan

Babak semi final dan final delapan besar akan digelar di Stadion Manahan Solo mulai 22-25 Mei mendatang. Perebutan tempat ketiga juga akan digelar di sana. “PT Badan Liga Indonesia (BLI) telah mengirimkan surat kepada panitia lokal Persis Solo, melalui faximile dengan nomor 0559/A-02/BLI-3-1/V/2011 ditandatangani Joko Driyono,” kata Ketua Panpel Persis Solo Paulus Haryoto kemarin.

Berdasarkan surat tersebut Panpel Persis Solo siap menjadi mitra kerja BLI, untuk menyelenggarakan pertandingan partai semi final dan grand final tersebut. Sesuai manual Liga Indonesia untuk laga semi final yang akan digelar 22 Mei 2011, akan mempertemukan juara grup A dan juara dua grup B, dan pertandingan tersebut akan dimulai pukul 15.30 WIB.

Pertandingan semi final kedua mempertemukan juara grup B melawan juara dua grup A, pada pukul 19.00 WIB. Sementara untuk perebutan juara tiga dan pertandingan grand final digelar 25 Mei 2011. Semua pertandingan akan disiarkan langsung oleh ANTV. Menyinggung mengenai persiapan stadion Manahan Solo yang akan dijadikan ajang pertandingan tersebut, Paulus mengatakan tidak ada masalah.
“Stadion Manahan Solo itu sering dijadikan ajang pertandingan tingkat nasional maupun internasional. Jadi selalu siap digunakan,” katanya.

Panpel Persis Solo dalam pertandingan ini selain menyiapkan stadion Manahan Solo juga menyiapkan Stadion Sriwedari sebagai cadangan. Sedangkan sarana latihan akan diarahkan di lapangan Kota Barat dan Kartopuran. Menanggapi hal itu, Asisten Manajer PSMS Benny Tomasoa tampak setuju.
“Memang harusnya digelar ditempat netral jadi lebih fair dan jujur. Saya pribadi sebenarnya ingin mulai babak delapan besar sudah digelar di tempat netral jadi tidak ada kecurigaan,” bebernya. (ful/bbs)

Intai Kekuatan Lawan via Rekaman Televisi

PSMS serius mempersiapkan diri menatap babak delapan besar. Selain berlatih tekun dan mulai meracik strategi sejak dini, PSMS juga sudah mengintai pertandingan dua pesaing berat di Grup B antara Mitra Kukar kontra Persiba, lewat rekaman televisi. Hal itu disampaikan Asisten Manajer PSMS Benny Tomasoa di Mess Kebun Bunga kemarin. Dia mengatakan, rekaman tersebut didapat dari seorang staf ANTV.

“Saya sengaja meminta rekaman pertandingan Mitra Kukar dan Persiba. Tujuannya jelas agar tim pelatih dan pemain bisa menganalisis laga tersebut. Apalagi kita memang belum tahu kekuatan kedua tim itu,” terang Benny.

Kebetulan, pertandingan kedua tim tersebut pernah disiarkan langsung oleh stasiun televisi pemilik hak siar Liga Indonesia itu. “Mitra Kukar dan Persiba pernah disiarkan langsung oleh ANTV. Nah, rekaman pertandingan itu yang akan kami terima. Mungkin di hari keberangkatan nanti (Selasa 10/5), rekaman itu sudah akan saya terima saat transit di Jakarta, dan bisa langsung saya berikan kepada pelatih,” sambung Benny.

Di sisi lain, pemanggilan Benny menghadiri sidang Komisi Disiplin (Komdis) yang dijadwalkan Jumat (6/5) lalu mundur sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Saya sudah konfirmasi ke PT LI. Katanya sidangnya ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Saya siap datang tapi nanti setelah delapan besar,” sebutnya.

Namun, Benny menegaskan, dirinya tetap akan menuntut orang yang melaporkannya ke Komdis tanpa alasan yang jelas tersebut. “Di laporan pertandingan saya dibilang memukul pemain Persiraja. Terus terang saya akan menuntut orang yang menuduh saya memukul pemain Persiraja. Akan saya tuntut dan laporkan ke polisi tuduhan itu karena sudah masuk pidana pencemaran nama baik,” pungkasnya. (ful)

Latihan ala Militer Berakhir

Skuad PSMS baru saja melakoni laga keras untuk menggenjot kekuatan fisik. Berhubung pelatih kepala PSMS berdarah militer, latihan fisik pun mirip-mirip latihan militer.
“Sudah tiga hari pemain digeber latihan fisik yang cukup berat. Selanjutnya latihan akan fokus kepada strategi,” terang Suharto.

Selama tiga hari itu, para pemain PSMS tampak menikmati latihan yang disajikan Suharto dan asistennya Edi Syahputra dan pelatih kiper Doni Latuperisa. “Kita pergunakan separuh lapangan saja untuk latihan kecepatan dan kekuatan,” timpal Edi Syahputra.

Affan Lubis dkk menggeber secara full serangkai menu peningkatan ketahanan fisik pemain hingga menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Sebagai menu pembuka, pemain langsung dihadapkan menu small game, satu dua sentuhan bola.
Kemudian pemain berlanjut ke sprint-sprint pendek berbalik arah dari patokan yang telah ditentukan jaraknya. “Mereka lari cepat selama beberapa menit, 70 sampai 80 persen intensitasnya dapat 5 kali bolak-balik,” jelasnya.
Instruksi yang diberikan kepada pemain antara lain berlari lebih cepat dari patokan-patokan yang telah ditentukan, dikombinasi dengan interval sambil menerima bola agar feeling ball tidak hilang.

“Pelatih sengaja menuangkan menu bervariasi agar pemain tidak bosan dan tak merasa berat,” pungkas Edy. (ful)