30 C
Medan
Saturday, January 3, 2026
Home Blog Page 15345

Buru Para Pelaku, Polisi Sebar Sketsa

Mengungkap Kasus Penganiayaan Ir Masfar

MEDAN-Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga menegaskan keseriusan pihaknya menangani kasus penganiayaan yang menimpa Ir Masfar Sikumbang. Bahkan penyidik telah membuat sketsa wajah seorang pelaku dan menyebarkannya kepada masyarakat melalui sejumlah wartawan.

“Kita sudah buat sketsa pelaku penyiram soda api ke wajah korban (Masfar). Tentunya sketsa yang kita buat itu berdasarkan keterangan saksi-saksi,” kata Tagam, kemarin (5/5).

Ciri-ciri pelaku berusia 25 hingga 30 tahun, tinggi sekitar 170 cm, badan tegap atletis, muka lonjong, warna kulit sawo matang, rambut lurus panjang seleher dengan model belah tengah di bagian depannya.

Wakasat Reskrim Polresta Medan AKP Ruruh Wicaksono menambahkan, sketsa itu langsung disebar ke sejumlah pihak. “Sketsa wajah pelaku itu sudah dibuat, kan sudah dapat toh Mas…? Itu dibuat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan hasil pemeriksaan saksi-saksi,” ujar Ruruh.

Kanit Jahtanras AKP Yudi Frianto menambahkan, tenaga ilustrator akan membuat sketsa wajah pelaku lainnya. Sketsa ini akan dimanfaatkan petugas untuk mengejar pelaku tersebut. “Kita telah membentuk tim khusus mengejar pelakunya,” lanjutnya.

Kabid Humas Polda Sumut AKBP Raden Heru Prakoso ketika dikonfirmasi soal identitas lengkap para saksi yang sudah diperiksa, hanya menyebut inisialnya saja. “SL, Ir MS, MT, SS, SP, LH, DJP, DS dan KN,” tulis Heru melalui pesan singkatnya.

Sebelumnya, Raden Heru menyebutkan penyidik Polresta Medan telah memeriksa sembilan saksi, termasuk putri Rahudman Harahapn Menurut informasi di lingkungan Polresta Medan, dari sembilan saksi, hanya empat diantaranya yang dibuatkan ke dalam berita acara pemeriksaan (BAP), yakni saksi korban, saksi pelapor, DS pengantar korban ke rumah sakit dan pemilik rumah makan di Jalan Adam Malik, Medan.

Sementara itu, pimpinan Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM) akan segera mempertanyakan perkembangan kasus dugaan penganiayaan yang dialami Masfar kepada Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro.

Wakil Ketua Komnas HAM, Hesti Ami Wulan, menjelaskan saat ini Komnas HAM saat ini hanya bisa sebatas mempertanyakan perkembangan penanganan kasus. Alasannya, pihak kepolisian sedang dalam proses menangani perkara yang sudah menjadi perbincangan hangat di tingkat nasional ini.

“Kita akan tanya ke Kapolda Sumut untuk menanyakan sejauh mana itu penanganan memproses kasus ini. Langkah-langkah apa yang sudah dilakukan. Komnas HAM tidak boleh mengintervensi ketika kasus sedang berjalan,” terang Hesti Ami Wulan kepada Sumut Pos, kemarin (5/5).

Dijelaskan, Komnas HAM baru bisa turun tangan jika ada indikasi pelanggaran HAM. Sementara, perkara di Medan ini menurut Hesti, murni merupakan tindak pidana. “Karena merupakan pidana, bukan delik aduan, polisi harus cepat menanganinya,” tegasnya.

Hanya saja, tidak lantas Komnas HAM tidak bisa terlibat. Dikatakan, jika proses hukum terhadap kasus ini berlarut-larut, maka ada indikasi pelanggaran HAM. “Kalau penanganan tidak lancar karena ada dugaan orang kuat, kita bisa masuk. Tapi untuk saat ini kita tunggu dulu bagaimana proses penanganannya oleh kepolisian setempat,” terangnya lagi.

Disebutkan, hingga kemarin dia belum tahu persis apakah korban sudah mengadukan kasus ini ke Komnas HAM.  Pasalnya, Hesti hingga kemarin masih sedang bertugas ke Bangka Belitung. Jika pun sudah lapor, lanjutnya, Komnas HAM tidak bisa langsung bertindak. “Ya karena itu tadi, karena ini tindak pidana, biar diurus polisi dulu,” ujar Hesti.
Penegasan yang sama diutarakan anggota Komnas HAM RI, Jhoni Nelson Simanjuntak, saat melakukan sosialisasi HAM yang dilaksanakan Dit Binmas Polda Sumut di Mapolda Sumut, kemarin.

“Polisi dengan segala keahlian dan kewenangannya pasti bisa mengidentifikasi pelaku penyiraman. Peristiwa, itu bukan ujug-ujug (tiba-tiba, Red) tapi peristiwa berkelanjutan,” ujar Jhoni yang berada di Medan sejak Selasa (4/5) lalu.

Jhoni juga belum mengetahui apakah keluarga korban sudah melapor secara resmi ke Komnas HAM.(tim)

Amri Tambunan Kembali Didemo

MEDAN-Bupati Deli Serdang Amri Tambunan kembali didemo massa di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Jalan AH Nasution Medan, Kamis (5/5). Massa mengatasnamakan NGO (non government organization/LSM) Komando meminta aparat penegak hukum mengusut dugaan korupsi melalui kegiatan pembangunan infrastruktur pada 2007 senilai Rp10 miliar di dinas Kimbangwil yang melibatkan Kadis PU  Bina Marga Sumut, Ir Marapinta Harahap.

Selain itu dugaan lainnya berupa addendum perpanjangan waktu pekerjan renovasi gedung kantor bupati senilai Rp2,4 miliar. Selanjutnya pelaksana pembangunan gedung workshop pencegahan penanggulan kebakaran senilai Rp900 juta terindikasi proyeknya fiktif.

Massa berteriak-teriak dan mengusung berbagai spanduk yang intinya mendesak Kajatisu memeriksa dugaan korupsi Amri Tambunan. Koordinator aksi, Iwan Kabaw dalam orasinya mengatakan pelaksanaan sejumlah kegiatan di Dinas PU Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Seperti dugaan korupsi proyek pemeliharaan Jalan dan Jembatan dengan anggaran Rp224 miliar tahun 2007.

“Proyek swakelola oleh Dinas PU misalnya, tidak sesuai ketentuan dan dokumen pembayaran hingga berpotensi merugikan negara sebesar Rp1,8 miliar,” teriak Iwan diikuti puluhan massa.

Iwan Kabaw juga mengungkapkan perihal, kejanggalan proyek itu bisa dilihat dari kekurangan fisik pekerjaannya. “Selain itu, dugaan korupsi soal pengadaan mobil dinas tahun 2008 di lingkungan Dinas PU Deliserdang juga dinilai merugikan negara sebesar Rp126 juta,” ungkap Iwan Kabaw lagi.

Iwan Kabaw berani menyebutkan, semua proyek dan pengadaan di Dinas PU Deli Serdang tidak sesuai ketentuan dan dokumen pembayaran sehingga  berpotensi merugikan daerah sebesar Rp1 miliar.

Dalam aksi itu, mereka juga menuntut penuntasan kasus dugaan korupsi di Biro Perlengkapan Sumut dalam pengadaan komputer dan printer yang merugikan negara Rp221 juta. “Bantuan di biro Binsos juga harus diusut,” tegas Iwan Kabaw.

Dengan semangat berkobar, Iwan dan rekanya mengharapkan ketegasan Kajatisu untuk memproses kasus tersebut. “Jangan lakukan pembiaran kasus, karena itu memalukan wajah hukum Sumatera Utara,” ujarnya.

Kedatangan massa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian yang dari pagi melakukan pengawalan di gedung Kejatisu. Mereka lalu diterima  Kasubsi Humas Kejatisu, Andre Simbolon. Dia mengatakan, pengaduan dan aspirasi pengunjukrasa disampaikan ke pimpinan. “Kami minta kerjasama yang baik sebagai masukannya untuk menuntaskan kasus korupsi di Sumut,” ujar Andre Simbolon.

Rp81 M Sulit Diawasi

Sementara itu, data BPK-RI yang diperoleh wartawan koran ini, pekerjan di Dinas PU Bina Marga dengan biaya Rp81 miliar disiyalir bermasalah. Dana sebesar itu bermasalah karena tidak pernah mendapat persetujuan DPRD Deli Serdang priode 2004-2009.

Meski belum disetujui, anggaran Rp81 miliar di sebelas pos anggaran Dinas PU Bina Marga itu tetap mengalir.
Bahkan dananya tidak masuk dalam buku rencana kerja anggaran (RKA) serta rincian. PU Bina Marga, tidak melampirkan Rencana Kerja Anggaran (RKA) sesuai permendagri 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan PP nomor 59 tahun 2007 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah. Anehnya dana Rp81 miliar itu, dibuat membayar utang pada pos pembiayan sekira Rp9, 5 miliar. Padahal pos utang itu belum mendapat persetujuan DPRD.

Terkait tudingan dugaan korupsi itu, Kepala Dinas Infokom, Pemkab Deli Serdang Drs Neken Ketaren menganggap tudingan tersebut kurang beralasan. Menurutnya, apa yang disangkakan para demonstran tersebut merupakan hasil laporan audit BPK-RI yang telah ditindak lanjuti Pemkab Deli Serdang.

Kadis Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Ir Faisal belum bias dikonfirmasi terkait hal ini. Ketika dihubungi melalui ponselnya tadi malam, yang mengangkat hanya staf rumah tangga yang biasa dipanggil No. “Ini Si No, Bang. Bapak udah tidur, ga enak badan. Besok ajalah.”

Sedangkan Kepala Bidang Peningkatan Jalan dan Jembatan Dinas PU Bina Marga Pemkab Deli Serdang, Khairum Rizal, mengatakan semua temuan BPK-RI telah ditindaklanjuti dengan perbaikan pelaksanan pembangunan atau melengkapinya secara adminitrasi.

“Dalam LHP BPK-RI bupati disarankan agar memberikan hukuman kepada oknum pelaksana tugas. Bupati telah menyurati berupa teguran,” ungkapnya.

Khairum Rizal menegaskan, pihaknya siap dan terbuka bila dikritik masyarakat. “Silakan kritisi Pemkab Deli Serdang. Untuk perbaikan serta kemajuan bersama, kami siap,” jelasnya.(rud/btr)

Sumut Bisa Jadi Empat Provinsi

Diparipurnakan Pekan Depan

MEDAN-Rapat paripurna DPRD Sumatera Utara (Sumut) kembali akan membahas rencana pemekaran provinsi dan sejumlah kabupaten/kota di Sumut. Rencananya, rapat tersebut digelar Senin (9/5) pekan depan. Agenda rapat membahas pandangan fraksi-fraksi terhadap hasil Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran DPRD Sumut. “Itu jadwal yang diketahui,” ujar anggota Pansus Pemekaran DPRD Sumut Marasal Hutasoit kepada Sumut Pos, Kamis (5/5).

Saat ini, tiga calon provinsi pemekaran yang dibahas pansus, kesemuanya telah memenuhi syarat untuk direkomendasikan. “Kita ada Provinsi Tapanuli (Protap) Sumatera Tenggara (Sumtra) dan Kepulauan Nias (Kepni). Ketiga calon provinsi pemekaran ini layak. Ini lah nanti yang akan kita bahas, apakah semuanya diajukan ke pemerintah pusat atau hanya satu diantaranya. Kita tunggu paripurna nanti,” terangnya.

Bila paripurna DPRD menilai ketiga calon provinsi itu layak dan pusat menyetujuinya, wilayah Sumut akan dimekarkan menjadi empat provinsi.

Bagaimana dengan Provinsi Tapian Nauli? Marasal menyatakan, tidak ada lagi wilayah cakupan untuk wacana Provinsi Tapian Nauli. “Tapian Nauli kemungkinan tidak, karena wilayah cakupannya sudah masuk ke Protap atau Sumtra dan Nias,” tegasnya.

Wakil Ketua Pansus Pemekaran DPRD Sumut Taufik Hidayat menjelaskan, dalam pembahasan pandangan fraksi-fraksi tersebut, diharapkan semua fraksi bisa objektif, tidak mengedepankan kepentingan politik semata.
“Kita tahu, bahwa kita anggota dewan adalah politisi. Tapi kita juga dituntut untuk proporsional dalam menyikapi masalah pemekaran ini. Ada aturannya yaitu PP No 78 Tahun 2008 tentang pemekaran daerah dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang otonomi daerah,’ tegasnya.

Politisi asal PKS DPRD Sumut ini melihat ketiga rencana pemekaran tersebut memiliki peluang yang sama untuk direkomendasikan ke tingkat pusat. Hanya saja, yang perlu diikuti apakah nantinya rekomendasi DPRD Sumut itu akan langsung ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau melalui Komisi II DPR RI. “Kalau ke DPR RI itu namanya hak inisiatif, kalau langsung ke Mendagri itu normalnya,” katanya.

Bila pengajuan melalui DPR RI, maka usulan akan dibahas di tingkat wakil rakyat itu, kemudian mereka menurunkan tim ke daerah baru, lalu usulan diajukan ke mendagri dan ke presiden. “Kalau yang normal, langsung ke Mendagri kemudian ke presiden lalu diserahkan ke DPR RI untuk dibahas.” Sebelum ke presiden, Kemendagri akan menurunkan tim ke daerah rencana pemekaran baru ke presiden. Setelah dari presiden, baru diajukan ke DPR RI. “Dari situ, DPR RI akan membentuk tim ke daerah lagi. Baru disinkronkan,” terangnya.(ari)

Timbang Badan Oke, Mau Bertanding Alasan Diare

Yani Malhendo, Petinju yang Pernah Ditakuti Juara Dunia Manny ‘Pacman’  Pacquiao

Petinju Filipina Manny “Pacman” Pacquiao boleh saja merasa paling sukses saat ini. Dia adalah penyandang gelar juara dunia di delapan kelas yang berbeda dan lusa (8/5) akan bertanding di Amerika Serikat (AS). Tetapi, siapa sangka dia ternyata sempat keder menghadapi petinju Indonesia. Bagaimana ceritanya”

SIDIK M. TUALEKA, Surabaya

Petinju Indonesia yang pernah membuat keder Pacman itu adalah Yani Malhendo. Kini pria 43 tahun itu sehari-harinya adalah pelatih tinju di Sasana Rokatenda.

Ketika ditanya soal sosok Pacman yang lusa akan mempertahankan gelar kelas welter (66,6 kg) melawan Shane Mosley di Las Vegas, ingatan Yani melayang pada peristiwa 15 tahun lalu.

Kala itu Pacman memulai karirnya dalam tinju profesional. Peristiwa itu terjadi pada 24 Oktober 1996, dalam pertandingan perbaikan peringkat World Boxing Organization (WBO) di Filipina.

Saat itu Pacman dipersiapkan melawan Yani Malhendo, yang tercatat sebagai petinju asal Sasana Pirih, Surabaya. Yani berada di peringkat kelima dunia kelas bantam junior (52,2 kg) di badan tinju dunia itu.

Sayang, pertarungan yang bisa menjadi sejarah dalam karir dua petinju tersebut gagal berlangsung. Padahal, semua tahapan sebelum pertarungan telah dilewati dua petinju. Termasuk general check-up dan proses timbang badan. Namun, Pacman takut melawan Yani Malhendo. Dia meminta mundur dari pertarungan tersebut dengan alasan mengalami infeksi pencernaan.

Saya juga kaget mendengar pengumuman tersebut. Katanya, dia (Pacman, Red) salah makan dan mengalami diare hebat. Tapi, saya tidak percaya bila dia sakit. Tapi, rupanya dia takut dengan saya. Sebab, sebelumnya para dokter menyatakan tidak ada gangguan pada kesehatan kami berdua,” kenang Yani.

Dia menceritakan, pembatalan secara sepihak itu membuat berang mendiang Eddy Pirih, manajer Sasana Pirih. Dia tidak terima dengan pembatalan pertarungan dengan total bayaran USD 3.500 itu. Eddy merasa sudah mengorbankan banyak uang.

“Pak Eddy merasa sudah habis banyak. Akhirnya semua ngamuk-ngamuk dan memaksakan agar pertarungan tersebut harus tetap diselenggarakan,” lanjut Yani.
Nah, untuk menghibur Yani dan rombongannya, pihak promotor sengaja mengganti posisi Pacman dengan petinju yang lain, Jats Maecad, yang juga dari kelas yang sama. Tapi, untuk menyemangati dan menutup kesalahan mereka, pihak promotor kala itu menaikkan total bayaran menjadi USD 4.500.

“Karena telanjur panas, saya berhasil memukul KO Jats pada ronde kedua. Itu adalah pertandingan tercepat yang terjadi saat itu di Filipina. Kalau lawannya Pacman, mungkin nasibnya juga sama,” koar suami Sri Mulyani itu.
Wajar saja Yani sesumbar seperti itu. Sebab, saat itu Yani berada dalam usia emasnya dalam dunia tinju, yaitu 28 tahun. Sementara Pacman baru menanjak usia 18 tahun, sepuluh tahun lebih muda daripada Yani. Itu pun Pacman baru setahun berkecimpung di dunia tinju profesional.

“Ya, saat itu saya memang melihat dia masih sangat imut dan polos. Rupanya jam terbang dia di tinju profesional juga belum banyak. Jadi, wajar saja bila dia mengambil keputusan mundur dari pertarungan saat itu,” lanjut petinju kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, 43 tahun lalu itu.

Padahal, tiga bulan sebelum pertarungan tersebut, Pacman sempat menganvaskan petinju Indonesia lainnya, Ippo Gala. Pada pertarungan yang berlangsung di Mandaluyong, Filipina, Ippo dinyatakan kalah technical knock out (TKO) pada ronde kedua.

Nah, setelah gagalnya pertarungan tersebut, Pacman baru merebut gelar kali pertama dalam kejuaraan tinju dunia kelas terbang (50,8 kg) versi WBC pada 1998. Dia menang KO atas petinju Thailand Chokchai Chockvivat.

Sementara itu, pada tahun yang sama, Yani berhasil menempati peringkat pertama kelas bantam Junior WBO. “Sebenarnya saya harus menjalani mandatory fight melawan juara sebenarnya, Erik Morales, dari Meksiko. Namun, saat itu kondisi politik negara Indonesia tidak stabil, memaksa pertarungan itu gagal berlangsung,” ujar Yani.
Kini kehidupan Pacman dan Yani berbeda jauh. Pacman, petinuju 33 tahun itu, saat ini sedang berada di puncak karir. Dia telah sukses menjadi juara dunia di delapan kelas, mulai kelas terbang (51 kg) hingga welter super (69 kg).
Di sebuah majalah olahraga internasional disebutkan, pendapatan Pacman tahun lalu sekitar Rp 276 miliar.

Sedangkan Yani, meski enggan menyebutkan penghasilan selama setahun, hanya mempunyai sepeda motor bebek, Yamaha Vega R, yang dipakainya setiap pergi melatih. Rumah yang ditempatinya di Sidoarjo merupakan pemberian Menpora pada era Adhyaksa Dault.

“Ya, mungkin garis tangan kami berbeda. Tapi, saya tetap bersyukur dengan keadaan yang ada,” lanjut Yani.
Tetapi, dia masih menyimpan ambisi. Yani berharap, dari polesan tangannya akan lahir juara dunia. Meskipun petinju binaan Yani itu susah menyaingi Pacman, petinju yang di masa mudanya pernah takut menghadapinya. (c4/kum/jpnn)

Banjir Show di Luar Negeri

Pinkan Mambo (30), rupanya, mendapatkan banyak tawaran manggung di luar negeri. Bulan lalu dia baru saja kembali dari Belanda dan Selandia Baru. Penyanyi yang melejit sejak bergabung dengan Duo Ratu itu mendapatkan tawaran show di sana.

Selain dua negara tersebut, sebelumnya janda dua anak itu juga manggung di Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Pelantun Kau Tercipta Untukku tersebut menyatakan sangat senang. Sebab, sebagai penyanyi, bisa tampil di negara lain adalah sebuah kebanggaan.

Memang masih terlalu dini jika itu disebut sebagai langkah Pinkan untuk go international. Tapi, bagi dia, itu merupakan langkah baik untuk melebarkan sayap perjalanan karirnya.

“Kalau bicara go international, siapa sih yang nggak mau. Pasti semuanya mau. Tapi, kalau buat saya pribadi, bisa mendapatkan kesempatan nyanyi di luar negeri itu sangat menyenangkan. Kalaupun nanti ada tawaran untuk benar-benar berkarir di sana, kenapa tidak,” jelasnya kemarin (5/5), saat ditemui di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Pinkan bilang, ketika berada di Belanda dan Selandia Baru, dirinya hanya menjadi bintang tamu di sebuah acara pasar malam Indonesia. Di acara tersebut, ada hiburan berupa konser mini dan Pinkan menjadi pengisinya.

Sedangkan di Hongkong, Taiwan, dan Singapura, pertunjukan Pinkan lebih besar jika dibandingkan dengan helatan di dua negara tersebut. Pun, sebagian besar penonton aksi Pinkan adalah orang-orang Indonesia. Jadi, kebanyakan yang dibawakan justru lagu Indonesia.

“Biasanya, kalau manggung di luar negeri, kan harus nyanyi banyak lagu berbahasa Inggris. Tapi, saya kemarin justru sebaliknya. Soalnya, memang lebih banyak orang Indonesia yang nonton. Pun, mereka justru kangen dengan lagu-lagu Indonesia,” terangnya.

Nah, jika ingin benar-benar berkarir secara internasional, salah satu persiapan yang harus dilakukan oleh mantan istri Sandy Sanjaya itu berkaitan dengan bahasa.

“Bahasa kan penting, ya. Paling tidak, pernah menyanyikan lagu berbahasa Inggris di album. Tapi, saya juga belum pernah, tuh. Di album terbaru yang akan rilis, sebenarnya ingin disisipkan satu atau dua lagu berbahasa Inggris, tapi telanjur dibungkus. Mungkin lain kali,” ucapnya.

Sembari menanti kesempatan itu datang, Pinkan lebih memilih memperkuat karirnya di tanah air. Sebab, di tanah air saja dia masih harus bekerja keras dan terus memperbaiki kualitas. Sebab, banyak sekali pendatang baru potensial yang siap bersaing di industri musik. (jan/c11/ib/jpnn)

Osama Dikhianati Orang No 2 Al Qaeda

Obama Tolak Umumkan Foto

RIYADH – Lima hari sudah Osama bin Laden tewas di tangan pasukan elit Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), Navy SEAL. Namun, kematiannya tetap misterius.

Penyergapan yang dilakukan mengundang tanya, bagaimana persisnya disergap dan akhirnya ditembak. Tapi, bagaimana pemimpin Al Qaeda itu mulanya ditemukan di persembunyiannya di Abbottabad, Pakistan.
Teori terbaru diajukan koran terbitan Riyadh, Arab Saudi, Al Watan. Sebagaimana dikutip AFP, Kamis (5/5), Al Watan yang mengutip “sumber regional” menyatakan, terbongkarnya persembunyian Osama itu merupakan buah pengkhianatan orang nomor dua di Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri.

Kurir Osama yang ikut tertembak bersamanya saat penyergapan, Arshad Khan, merupakan orang Zawahiri yang disusupkan. Si kurir yang menurut Al Watan berkebangsaan Pakistan, bukan Syekh Abu Ahmed yang berkewarganegaraan Kuwait sebagaimana diklaim AS itu sebenarnya tahu bahwa dirinya terendus intelijen AS. Tapi, dia berpura-pura menutup mata dengan tujuan menuntun AS ke persembunyian Osama.

Itu semua merupakan buntut per pecahan di internal Al Qaeda. Ada dua faksi yang bersaing, Arab Saudi yang dipimpin Osama dan Mesir yang dinakhodai Zawahiri. Sejak Osama sakit parah pada 2004, Zawahiri cs ingin mengambil alih kontrol Al Qaeda. “Sejak Osama sakit, faksi Mesir-lah yang secara de facto menjalankan Al Qaeda,” ungkapnya ke Al Watan. Zawahiri pula, klaim Al Watan, yang berhasil membujuk Osama agar keluar dari persembunyiannya di kawasan perbatasan Pakistan? Afghanistan dan beralih ke Abbottabad.  Meski banyak  mempertanyakan kebenaran tewasnya Osama, Presiden AS Barack Obama tetap bersikukuh tak mau merilis foto jenazah Osama yang diklaim telah dikubur di  laut. Alasannya, hal itu bisa membahayakan keamanan nasional karena bisa digunakan sebagai alat propaganda.

“Sangat penting bagi kami untuk memastikan bahwa foto seseorang yang tewas tertembak di kepala beredar yang bisa digunakan baik sebagai tontonan maupun alat propaganda untuk melakukan kekerasan,” katanya dalam acara 60 Minutes di kanal televisi CBS sebagaimana dikutip New York Times.

Menurut Obama, yang penting untuk digarisbawahi dari kematian Osama ini adalah dia mendapat hukuman setimpal atas apa yang telah dilakukan selama ini. Untuk mereka yang masih meragukan kematiannya, Obama yang kemarin juga menghadiri acara di New York bersama keluarga para korban teror yang dilakukan Osama dan Al Qaeda itu menegaskan, “Anda tak akan pernah melihat Bin Laden berjalan di atas muka bumi ini.”

Tapi, tetap saja penolakan politikus Partai Demokrat itu menimbulkan pro-kontra. Kubu Partai Republik dengan tegas meminta foto jenazah Osama diperlihatkan agar tak lagi ada pertanyaan.

Apalagi alasan keamanan nasional yang disampaikan Obama itu terkesan sumir. Sebab, tak lama setelah dia tampil di CBS, Gedung Putih merilis tiga foto korban pria lain yang tewas bersama Osama dalam penyergapan di Abbottabad tersebut. Mereka adalah Arshad Khan, si kurir Osama; Khalid, anak Osama; dan seorang pembantu Osama.

Foto-foto yang dirilis Reuters itu memperlihatkan kondisi ketiganya yang mengerikan setelah tewas tertembak. Mereka tergeletak berlumuran darah tanpa senjata. Menurut Reuters, foto-foto tersebut diambil sekitar sejam setelah penyergapan.

Masih dari AS, sejumlah pejabat keamanan nasional Negeri Paman Sam itu kemarin mengakui bahwa AS memang tak berniat menangkap Osama hidup-hidup. Dua puluh anggota Navy SEAL yang menyerbu kediaman Osama di Abbottabad sudah dibrifing sebelum melancarkan operasi yang diberi nama Operasi Geronimo itu. Kecuali Osama dalam kondisi telanjang, dia harus ditembak.

LA Times, mengutip sumber di Gedung Putih, menyatakan, Osama harus ditembak karena dikhawatirkan memakai rompi bom bunuh diri. Direktur CIA Leon Panetta juga mengakui pada Selasa lalu (4/5), Osama bahkan mungkin tak mengucapkan sepatah kata pun sebelum dihabisi. (c5/ttg)

Menlu AS: Usir Kadhafi dari Libya

ROMA – Kelompok Kontak mengenai Libya menggelar pertemuan di Roma, Italia, Kamis (5/5). Pertemuan itu membahas dukungan terhadap Dewan Transisi Nasional dan memerintakan penangkapan bagi para pejabat Libya atas tuduhan kejahatan kemanusiaan.

Seperti dilansir Aljazeera, pertemuan kontak itu dilaksanakan sehari setelah deklarasi Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan perintah penangkapan bagi para pejabat Libya. Pada kesempata itu juga terungkap, Dewan Transisi berharap dapat memperoleh tiga miliar dolar setelah dikurangi dari penjualan minyak nanti untuk menyokong keuangan yang dapat memenuhi kebutuhan Libya.

Jurubicara Dewan, Abdel Hafiz Gogha mengatakan tujuannya di Roma untuk menentukan langkah-langkah rakyat Libya agar dapat menggunakan aset-asetnya yang dibekukan di seluruh dunia, mereka yakin memperoleh antara 2 dan 3 miliar dolar yang diminta Dewan Selasa lalu.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini mengumumkan bahwa pertemuan kedua Kelompok Kontak akan berusaha menegaskan bahwa intervensi militer bertujuan untuk mencapai gencatan senjata dan mekanisme bantuan keuangan kepada pihak oposisi.

Sementara itu,  Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clinton menyatakan, pengusiran pemimpin Libya, Muammar Kadhafi adalah cara terbaik untuk melindungi warga sipil Libya.

Sumber Associated Press melaporkan, menlu Clinton menyerukan Kadhafi untuk menghentikan serangan kejam dan brutal terhadap penduduk sipil, menarik pasukannya dari seluruh kota yang dikepung dan meninggalkan kekuasaan. Ini merupakan hasil yang dicari. Pertemuan Group Kontak Libya di Kementerian Luar Negeri Italia, pada Kamis ini (5/5) diharapkan menemukan cara untuk memberikan dukungan keuangan kepada para pemberontak.
Amerika Serikat sendiri telah mengumumkan bantuan dana sebesar dolar US 25 juta dalam bentuk surplus, sejumlah barang non militer dan sejumlah komoditas untuk mendukung dan melindungi pemberontak.
Pada prinsipnya dana tersebut didasarkan terhadap penggunaan dana beku Kolonel Muammar Kadhafi dan keluarganya. Dana itu juga digunakan sebagai jaminan mem buka jalur untuk kepentingan pemberontak Libya. (bbs/jpnn)

Harta Gbagbo Diblokir

JENEWA –  Setelah berhasil melacak dan membekukan kekayaan pemimpin Libya Muammar Kadhafi serta mantan Presiden Mesir, Hosni Mubarak serta mantan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, republik federal di Eropa Barat memberlakukan kebijakan sama kepada mantan Presiden Pantai Gading, Laurent Gbagbo.

Kementerian Luar Negeri Swiss membeberkan, Kami (5/5) bahwa mantan orang nomor satu Pantai Gading memiliki aset atau kekayaan dolar US 82 juta atau sekitar Rp701 miliar yang disimpan di wilayah mereka.
“Saat ini aset-aset berharga yang bersangkutan sudah kami blokir,” kata jubir kemenlu Swiss, Adrian Sollberger.
Menurutnya, pemblokiran tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang ditetapkan sejak revolusi bergolak di Pantai Gading pada Januari lalu.

Sama seperti alasan pemblokiran aset Ben Ali, Mubarak, dan Ka/dhafi, seluruh harta atas nama Gbagbo atau istri dan anak-anaknya pun sengaja dibekukan untuk menghindari penarikan secara diam-diam. Pasalnya, harta tersebut bisa jadi bagian dari tindak kejahatan.

“Sambil menunggu kepastian status hukum harta milik Laurent Gbagbo, pemerintah sengaja membekukan seluruh aset yang ada. Baik itu harta bergerak atau tak bergerak,” terang Sollberger. (ap/rtr/hep/dwi/jpnn)

Indonesia Tunggu Singapura

Pembebasan ABK Kapal Gemini

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapannya ikut dalam operasi penyelamatan awak kapal MT Gemini yang dibajak di perairan Somalia. Tapi, menurut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, langkah tersebut harus menunggu kerjasama dengan pemerintah Singapura sebagai pemilik kapal.

“Jadi sifatnya lebih multinasional karena dibandingkan kapal Sinar Kudus yang 100 persen WNI. Ini ada warga negara lain yang terkait, terutama Singapura sebagai negara bendera kapal,” kata Marty di sela Asean-Uni Eropa Business Summit di Jakarta Convention Center, Kamis (5/5).

“Seperti diketahui, kapal Gemini yang dibajak itu, terdapat 13 orang WNI yang menjadi awak kapal. Marty membantah jika pemerintah tidak memberi perhatian dalam kasus pembajakan itu. Justru pemerintah Indonesia mendorong agar awak kapal Gemini segera dibebaskan. “Tapi kita ini harus kerjasama dengan negara lain,” ujarnya.
Marty tidak menjawab saat ditanya tentang kemungkinan melakukan operasi militer untuk membebaskan kapal Gemini dari para perompak. Sama seperti saat membebaskan kapal MV Sinar Kudus. Pemerintah sangat mengutamakan keselamatan dalam membebaskan awak kapal tersebut.

“Apakah Indonesia akan menawarkan bantuan dalam operasi pembebasan kapal Gemini, menawarkan atau diminta, faktanya kita bekerja sama,” jawab mantan dubes RI untuk PBB itu.

Saat ini, lanjut Marty, pihak Singapura sudah melakukan komunikasi dengan pihak kapal. “Dikonfirmasi bahwa ABK semua dalam kondisi selamat dan baik,” kata mantan juru bicara Kemenlu itu.

Kapal Gemini berisi muatan 28.000 ton minyak sawit mentah dari Indonesia. ABK kapal berjumlah 25 orang yang terdiri atas 13 WNI, 5 warga Tiongkok, 4 warga Korea Selatan, dan 3 dari Myanmar. Insiden pembajakan kapal Gemini itu hanya beberapa hari setelah kapal MV Sinar Kudus berhasil dibebaskan, juga dari perompak Somalia. (fal/ken/jpnn)

Mantan Mendagri Mesir Dihukum 12 Tahun

KAIRO- Mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Habib al-Adly dihukum 12 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencucian uang. Keputusan itu adalah yang pertama terkait kasus korupsi yang melibatkan mantan pejabat negara Mesir.

Selain kasus pencucian uang, Al-Adly menghadapi tuntutan soal keputusannya memerintahkan pasukan militer untuk menembaki pengunjuk rasa.

Putusan pengadilan yang menghukum mantan Mandagri di zaman kekuasan Hosni Mubarak itu tetap diawasi warga Mesir, sekaligus hendak mengetahui keterlibatannya terkait tindakan aparat keamanan kepada warga sipil saat aksi unjuk rasa.

Al-Adly, yang juga bekas kepala badan keamanan negara yang ditakuti, karena sekutu penting mantan Presiden Hosni Mubarak. Seperti diketahui, Mubarak digulingkan Februari lalu lewat gerakan aksi massa. (bbc/bbs/jpnn)
Setidaknya 846 orang tewas dalam aksi unjuk rasa selama 18 hari. Sebagian besar mereka tewas dengan luka tembak di kepala dan dada. Sekitar 20 orang menteri dan pengusaha yang terkait dengan Mubarak ditahan. (bbc/ril/bbs)