24 C
Medan
Monday, January 12, 2026
Home Blog Page 15356

Mandiri, Tetap Hormati Suami

Dewi Motik

Dari tahun ke tahun, jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah terus bertambah. Hal itu membuat Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dewi Motik Pramono waspada.

Dia berharap, meningkatnya peran perempuan dalam membantu ekonomi keluarga tidak sampai berdampak buruk terhadap keharmonisan rumah tangga. Apalagi perempuan sampai meremehkan laki-laki. “Ini salah satu kesalahan perempuan. Makin mandirinya perempuan secara ekonomi terkadang menyepelekan laki-laki (suami, Red),” ujarnya dalam acara Kowani Fair di Jakarta (2/5).

Pengusaha kelahiran 10 Mei 1949 itu menambahkan, perempuan tidak sepantasnya mengingkari kodrat sebagai makhluk yang penuh kelembutan. Karena itu, kelembutan tersebut sebaiknya digunakan untuk berkomunikasi dan saling menghormati sehingga dapat meredam gejolak perceraian dan konflik dalam keluarga. “Saya selalu tekankan kepada perempuan, be professional! Be professional!” tegasnya. (mug/jpnn/c6/nw)

Pepi Sukses Kecoh Polisi

Bom di Cawang Tak Ditemukan

JAKARTA-Pimpinan kelompok teror bom buku Pepi Fernando berhasil mengelabui petugas. Setelah disisir secara serius hingga sepekan, paket bom yang diklaim berkekuatan puluhan kilogram itu tak pernah ditemukan.

“Sejak hari ini (kemarin) dinyatakan selesai penyisiran. Tidak ada bom yang ditemukan,” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar kemarin (04/05). Pepi mengklaim menanam bom untuk meledakkan fly over Cawang saat rangkaian iring-iringan presiden lewat.

Pepi pun sempat dikeler oleh anggota Densus 88 Mabes Polri, Rabu (27/04) lalu. Petugas dari Gegana Mabes Polri bahkan menurunkan satu peleton (30 anggota)  untuk melakukan penyisiran intensif selama sepekan.

Boy mengatakan, pihaknya tengah menyelidiki mengapa paket bom tidak ditemukan. Saat dimintai untuk menunjukkan titik penanaman, kata Boy, Pepi dengan yakin mengarahkan tim Gegana Polri ke lokasi.  “Kami sedang pelajari kenapa tidak ditemukan. Apakah ada pihak yang terlebih dulu mengambil barang itu. Kan rentang waktu cukup lama ya. Apalagi itu tempat terbuka,” ujar Boy.

Menurut Polri, Pepi belum terbuka mengenai kegiatan kelompoknya serta target-target selanjutnya. Sebelum tertangkap, mereka telah menebar teror bom buku di empat lokasi, bom di Kota Wisata Cibubur, dan bom di Jalan Puspitek. “Ada kemungkinan dia berbohong,” katanya.  Kewaspasdaan terhadap aksi terorisme hingga kemarin tetap tinggi. Satuan tugas pengamanan VVIP ASEAN melakukan simulasi penanganan bom mobil di komplek Jakarta Convention Centre.   Proses penjinakan bom tersebut dilakukan secara serius dan tidak boleh ada orang mendekat ke arah TKP kecuali petugas Gegana Polri. “Kasum TNI Letjen TNI J Suryo Prabowo selaku Komandan Komando Operasi Pengamanan (Koopspam) KTT Asean ke 18 dan Wakapolri, Komjen Pol Nanan Sukarna selaku Wadankoopspam serta Kapolda Jaya, Irjen Pol Sutarman turut menyaksikan aksi penjinakan bom tersebut.

Dalam penjelasannya kepada media, Kasum TNI menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan latihan untuk menghadapi kontijensi. ?Tidak ada koordinasi terlebih dulu, sehingga tidak ada yang main-main. Jadi tidak ada ancaman bom yang sebenarnya,” kata Suryo.

Di bagian lain, Dubes AS untuk Indonesia Scot Marciel mengingatkan, masih ada kelompok-kelompok yang memberikan ancaman teror setelah Osama mati.  “Masih ada teroris di luar sana dan masih banyak yang perlu dilakukan oleh negara kami dan negara-negara lain,” kata Scot di sela Konferensi Internasional ketujuh Overseas Private Investment Corporation (OPIC) di Hotel Shangri-La, kemarin (4/5). Menurut dia, perlu kerjasama dari negara-negara untuk menangani permasalahan tersebut. Scot menyebut, mereka yang masih memberikan ancaman ini merupakan kelompok-kelompok yang lebih kecil. (fal/rdl/jpnn)

Sekeluarga Hangus Dibakar

Tiga Mayat Menumpuk di Jok Belakang

BANYUWANGI- Pembunuhan tragis terjadi di kawasan sepi tepi jalan Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi sekitar pukul 02.00 kemarin (3/4). Satu keluarga yang terdiri bapak, ibu dan anak diduga dibunuh dengan keji kemudian mayatnya dibakar di dalam mobil.

Korban yang meninggal secara mengenaskan itu adalah keluarga Rosan (43), warga RT 05/RW I, Dusun Dadapan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Selain Rosan, mayat yang hangus dan menumpuk di dalam mobil sisi belakang itu adalah istri Rosan yakni Jamilah (37) dan anak mereka yang masih berumur 14 tahun, Deri Pradana.
Awalnya, ketiga korban tersebut masih jadi misteri hingga pagi kemarin. Namun setelah ditelusuri jejak dan riwayat kepemilikan mobil tersebut, akhirnya diketahui bahwa kendaraan roda empat itu miliki keluarga Rosan dari Desa Karangsari. Polisi juga menemukan celana dalam dan sebuah kartu servis mobil sekitar lima meter dari lokasi mobil tersebut.

Hal ini juga diperkuat dengan temuan bercak darah yang masih baru di rumah korban. Akhirnya, polisi menyimpulkan bahwa tiga jenazah yang hangus di dalam mobil itu adalah keluarga Rosan.

Sementara itu, peristiwa tragis tersebut diduga terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari kemarin. Seorang warga yang akan menuju ke pasar sedang melintas di kawasan itu, mengaku melihat mobil terbakar. Saat itu, api masih membumbung tinggi dan melalap kendaraan tersebut. Sayangnya, warga tersebut tidak melaporkan kejadian mobil kebakaran di kawasan sepi itu kepada polisi.

Setelah itu, warga lain baru mengetahui peristiwa mobil dibakar tersebut sekitar pukul 05.00. Saat itu, kobaran api yang membakar mobil tersebut sudah padam. Nah, kali ini warga tersebut melaporkan peristiwa tersebut kepada Polsek Licin.

Mendapat laporan kejadian itu, Polres Banyuwangi langsung memberikan reaksi. Begitu dapat laporan dari Polsek Licin, jajaran Polres langsung datang ke lokasi sekitar pukul 07.00. Tim yang turun dipimpin langsung oleh Wakapolres Kompol Heru Prasetyo.

Wakapolres Kompol Heru mengatakan, setelah memastikan korban adalah satu keluarga, pihaknya terus melakukan upaya agar pelaku segera ditangkap. (mg6/bay/jpnn)

Pengunjung Pakai Topeng Nunun

Jakarta-Sekitar 15 orang pengunjung sidang Panda Nababan dan kawan-kawan, memakai topeng bergambar Nunun Nurbaeti dan membuat suasana riuh sembari meneriaki jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menyikapi hal ini, KPK menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim.

“Karena itu di persidangan, maka kami serahkan sepenuhnya kepada majelis hakim,” tutur Pimpinan KPK, Haryono Umar saat dihubungi, Rabu (4/5).

Haryono mengatakan, majelis persidangan merupakan tempat yang terhormat. Oleh karena itu dia berharap segala persidangan dapat berjalan tertib.

“Namanya juga pengadilan kan tempat terhormat contohnya di pengadilan MK, itu kan sangat tertib sekali. Ya mestinya pengadilan yang lain seluruh pengadilan di Indonesia seperti itu,” tutur Haryono.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tipikor kemarin, orang-orang ini berdiri di belakang ruang sidang, selama mengikuti persidangan, mereka terus memakai topeng gambar Nunun. Istri Adang Daradjatun memang menjadi saksi kunci perkara ini.

Bukan hanya memakai topeng Nunun, mereka juga terus bertepuk tangan atau mengomentari jalannya persidangan. Tidak jarang mereka juga sering nyeletuk saat hakim berbicara.

Jaksa M Rum sempat mengajukan keberatan terkait ketidaktertiban jalannya persidangan kepada majelis hakim yang diketuai oleh Eka Budhi Prijatna. Namun Eka cenderung membiarkan tindakan itu.
“Sidang memang terbuka untuk umum, tapi saya tidak tahu apa arti poster itu,” kata Eka.
“Supaya jaksa tidak lupa, supaya dikejar yang aslinya,” pekik pengunjung sidang.

“Jaksa, apakah lupa dengan muka itu?” tanya Eka kepada jaksa. “Tidak,” jawab M Rum.
Tidak hanya sekali ini saja, para pengunjung sidang juga sering meneriaki jaksa saat berbicara. Mereka terus bertepuk tangan dan berisik hingga sidang berakhir. (net/jpnn)

Lagi, Warga dan Petugas Bentrok

BINJAI- Masalah tanah eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 2 Sei Semayang terus memanas. Rabu (4/5), warga dengan petugas nyaris bentrok, gara-gara tanaman warga dicabut petugas.

Tanaman yang dicabut itu berada di Tunggurono, Kecamatan Binjai Timur. Akibatnya petugas PTPN 2 dan warga nyaris bentrok dan bahkan tangan kanan salah seorang petugas PTPN 2 sempat terkena pukulan oleh warga. Sebab, kedua belah pihak sudah ingin saling serang.

Tak sampai di situ, saat kedua belah pihak berada di lapangan, senjata tajam (sajam) yang sudah masing-masing mereka bawa, juga sempat dikeluarkan guna menghalau satu sama lainnya. Untung saja, aksi saling serang dapat dilerai petugas Polsek Binjai Timur dan Polres Binjai yang turun ke lokasi kejadian.

Mahmud Karim, Ketua Kelompok Tani Kota Binjai, mengatakan, ia akan tetap memperjuangan hak-hak rakyat sampai menemukan titik terang. “Kalau sudah begini, kami akan cari jalan lain, sampai perjuangan kami berhasil,”tegas Mahmud Karim.

Kepala Rayon C, PTPN 2 Sei Semayang, P Samosir, mengatakan, lahan yang digarap warga masih tanggung jawab PTPN 2. “Sudah saya katakan berulang kali, baik HGU yang diparpanjang maupun tidak diperpanjang, itu masih tanggung jawab PTPN 2. Sebab, belum ada penyerahan resmi dari menteri terkait kepada pemerintah. Kalau sudah ada penyerahannya, kita juga tidak mau seperti ini,” ujar P Samosir. (dan)

Orang Dekat Bupati Diduga Terlibat

Soal Pemotongan Insentif Bidan Desa

LANGKAT- Pemotongan dana insentif Bidan Desa (Bides) Pegawai Tidak Tetap (PTT) di  lingkungan Dinas Kesehatan Langkat, makin berkembang. Selain melibatkan instansi kesehatan, pemotong dana insentif juga disebut-sebut  melibatkan orang dekat bupati.

Menurut sumber terpercaya di Dinas Kesehatan Langkat,Rabu (4/5) menuturkan, otak pelaku pemotongan dana insentif dilakukan oleh oknum Bides PTT berinisial T yang bertugas di bawah naungan Puskesmas Tanjung Langkat, Kecamatan Salapian.

T dikenal sebagai kerabat atau orang dekat Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, sehingga aksi pemotongan dana insentif terhadap ratusan Bides PTT berjalan mulus. Bahkan, Dinkes sendiri harus meminta izin kepada Bupati untuk memanggil bersangkutan terkait persoalan dimaksud.

“Saya sebetulnya merasa terzalimi dengan persoalan ini, karena nama saya dan Dinkes dibawa-bawa pelaku untuk memuluskan aksinya, padahal, sedikitpun saya tidak pernah menyebut atau meminta imbalan kepada Bides itu,”ungkap sumber.

Dia juga menyebutkan, kalau pelaku termasuk kerabat Bupati, sehingga dirinya enggan untuk mempertanyakan prihal pemotongan dilakukan T.  “Gimana saya mau bertindak, dia termasuk dekat dengan Bupati, tapi ya sudahlah, biar dia makan uang potongan itu,” kesalnya.

Kabar kedekatan pelaku dengan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu, tampaknya sangat beralasan. Soalnya, pihak Dinkes sendiri, harus terlebih dahulu melapor ke Bupati Langkat untuk melakukan tindakan kepada pelaku terkait pemotongan tersebut. “Kita  lapor dulu ke Bupati, baru kita surati bersangkutan,” kata Kasubag Umum Dinkes Langkat Dimpu Sianturi.

Ketika ditanya lebih lanjut kabar kedekatan itu, Dimpu enggan mengomentari dan mengalihkan  pembicaraan. “Alah,  kalau itu saya nggak ngerti kali, tapi Kadis (Kepala Dinas,red) sudah berangkat menemui Bupati,” ungkapnya.
Dimpu juga membantah keterlibatannya dalam pemotongan dana insentif  tersebut. Untuk itu, dirinya berjanji akan memanggil bersangkutan (T) untuk dimintai keterangan dan memberikan keterangan sebenarnya kepada wartawan. “Besok (hari ini,red), kita surati secara resmi yang bersangkutan untuk dimintai keterangannya. Agar lebih jelas, wartawan dapat langsung meminta keterangannya bila dia datang ke Dinkes,” janjinya.(ndi)

Rusak Sekolah, 4 Pelajar Diamankan

PERDAGANGAN- Empat pelajar SMK yang diduga melakukan pengerusakan serta pencurian di Komplek Perguruan SMK Abdi Sejati Kelurahan Kerasaan Kecamatan Pematang Bandar, Senin (2/5) sekira pukul 23.00 WIB diamankan Polsek Perdagangan.

Keempatnya adalah NS (18) warga Sidaludalu Riau, DFG (18) warga Sei Bejangkar Batubara, RFP (17) warga Tanjung Balai, JP (18) warga Balam Pekan Baru.

Dari keterangan yang diperoleh di Mapolsek Perdagangan, ke-4 siswa ini sebelumnya ditangkap perguruan SMK Abdi Sejati, setelah mengetahui adanya pengerusakan dan pencurian yang dilakukan ke- 4 nya, baru mereka diamankan.
Sebelumnya ke-4 pelajar yang tinggal di asrama itu mencuri pakaian dan gitar milik pelajar lainnya dengan terlebih dahulu merusak pintu asrama, dinding kamar dan lemari.

Aksi ke-4  siswa ini ternyata diketahui pula dua orang temannya yang kemudian melaporkannya ke pihak perguruan dan selanjutnya memberiathukan kepada orangtua masing-masing untuk dilakukan pembinaan. Tapi ternyata tidak ada yang datang sehingga atas perintah yayasan perguruan k-e 4 siswa diserahkan kepada pihak yang berwajib guna pemeriksaan lebih lanjut.(bim/smg)

Sengketa Tanah, Satu Tewas

SAMOSIR- Warga Siduma-duma Desa Parbaba Dolok Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tiba-tiba heboh. Soalnya, Mangumbang Sihaloho (37) tewas di tempat, Mak Sentia/Esra Br Simbolon (40) kritis dan Manaek Sihaloho dirujuk ke rumah sakit di Medan guna mendapatkan perawatan, kemarin (4/5).

Purba, keluarga korban mengatakan, awal mulanya ada saling klaim kepemilikan tanah di Desa Parbaba antara keluarga Sentia/Jonata Sihaloho dengan Jabaru Sitindaon. Purba mengaku, Lae Simangumbang selain bertani dia membuka usaha kedai tuak untuk menambah penghasilan menghidupi keenam anaknya yang masih kecil-kecil. Kemudian terjadi pertengkaran sehingga membuat nyawa melayang.

Manurut Sitindaon Kepala Desa Parbaba Dolok membenarkan ada pembunuhan di Parbaba Dolok tepatnya di Dusun III Siduma-duma, dan motif pertikaian sampai sekarang belum jelas diketahui dari aparat pemerintah desa.
Kapolres Samosir AKBP Edward.Sirait membenarkan kejadian itu, akan tetapi pihaknya belum dapat memberikan penjelasan yang detail, karena para pelaku masih dilakukan pemeriksaan. “Mungkin Kamis, (hari ini red) akan kita berikan keterangan,’’ ujar Burju.

Burju menambahkan, Esra Simbolon (40) dan Naek Sihaloho (23) saat ini dalam kondisi kritis dan sudah dilarikan  ke RSU Adam Malik Medan untuk mendapatkan perawatan.(nsi/smg)

Kelainan Seks, Suami Pukul Istri

TEBING TINGGI- SH (32), warga Jalan Abadi, Dusun II, Desa Paya Lombang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (3/5) sekira pukul 22.30 WIB memukul istrinya, NR (28) hingga babak belur. Diduga penyebab ketidakharmonikasi pasangan suami istri itu dikarenakan persoalan seksual.

Akibat pemukulan ini, NR membuat pengaduan ke Mapolres Tebing Tinggi, Rabu (4/5). Laporan itu diterima petugas Mapolres Tebing Tinggi dan langsung mengecek ke tempat kejadian perkara.

Pengakuan NR ketika membuat laporan, dia dipukul di bagian bibir satu kali, muka dicakar dan menjambak rambut. Akibatnya, bibir atas pecah, pelipis luka gores serta bagian kepala mengalami luka memar.

Ibu dua anak ini mengaku, diduga penyebab penganiayaan tersebut karena suaminya SH mengalami kelainan seks. “Setiap mengajak berhubungan, suami saya selalu main pukul. Saya sudah tidak tahan terus disiksanya, hampir setiap hari mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” kata NR yang mengaku akan meminta cerai dengan suaminya.
Kasat Reskrim Polres Tebing Tinggi, AKP Lili Astono mengaku sudah menurunkan tim untuk mengungkap kasus penganiayaan tersebut. “Kita perintahkan anggota untuk melakukan penangkapan terhadap SH. Sayang pelaku sudah keburu melarikan diri, sementara kini, pelaku (suami-red) masih dalam pengejaran petugas,” tegas Lili.(mag-3)

Ulat Bulu Serang Pohon Sotul

SIDAMANIK- Ribuan ekor ulat bulu berwarna coklat menghabisi daun pohon Sotul, milik A Siburian di persawahan Dusun Manik Siantar, Nagori Bahal Gajah, Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Rabu (4/5).
Menurut Siburian kejadian itu sudah berlangsung selama satu minggu. Pertama melihat ulat bulu tersebut, Siburian menyebut jumlahnya masih sedikit, yakni sekitar lima puluh sampai seratus ekor. “Pas kami lihat, kami langsung membakarnya,” ujar dia sembari mengatakan dirinya heran melihat ulat bulu itu semakin bertambah dengan jumlah yang lebih banyak.

Kata dia, bulu ulat bulu berukuran kurang lebih enam centi meter itu, mampu menembus telapak kaki bila terpijak. “Ditembusnya telapak kita. Kalau kena kebadan, gatalnya minta ampun,” ujarnya. Kata dia, melihat warnanya coklat ke abu-abuan, warga tidak mengetahui keberadaan ulat bulu tersebut bila tidak diperhatikan dengan teliti.
Sementara itu, Asido Simaremare, warga setempat meminta agar pihak-pihak terkait segera melihat keberadaan ulat bulu itu, dan memusnahkannya. “Cemana tidak cemas, dalam waktu seminggu ulat itu bisa menghabiskan daun Sotul hingga botak,” ujarnya sembari memperlihatkan ulat bulu itu sudah menyerang pohon coklat yang berdekatan dengan pohon Sotul yang sudah gundul itu.

Ditegaskan Asido, melalui pemberitaan dikoran, dirinya berharap Pemkab Simalungun melalui instansi teknis dapat berkunjung ke daerah mereka.

, untuk memusnahkan ulat bulu tersebut. Kata dia, bila ulat bulu tersebut tidak segera diatasi, mungking seluruh tanaman yang ada di daerah mereka akan habis diserang.

“Uniknya, siang hari ulat bulu ini tidak beraktifitas dan hanya berkumpul-kumpul,” sambung Siburian menunjukkan kumpulan ulat bulu yang ada di batang pohon Sotul tersebut. Kata dia, ulat bulu itu menghabiskan daun Sotul tersebut dimungkinkan pada malam hari.(mag-01/smg)