Home Blog Page 15365

Meninggalkan Gedung dan Bising Jalanan*

Oleh: Ramadhan Batubara

Sekarang semua tlah kutinggalkan
Gedung-gedung dan bising jalanan
Di hatiku kugenggam kerinduan
Pada bukit pedesaan.

Kumpulan kalimat di atas tak lain sebuah lirik lagu. Ya, ‘Pada Bukit dan Pedesaan’ karya Franky Sahilatua. Perhatikan bait itu, Franky memang telah meninggalkan gedung dan bising jalanan, mungkin dia pun sudah sampai ‘Pada bukit Pedesaan’.

Sayang, ini bukan tentang lelaki yang setia di jalur balada itu, juga bukan tentang Rosihan Anwar yang telah berlalu. Semacam dahsyatnya sajak karya Rama Prabu untuk Rosihan: gelatik itu terbang pagi ketika fajar membuka terali membawa kabar dari senja putaran katakata // ada kicau yang dulu jadi cerita tentang sejarah kecil orangorang tepi tentang mereka yang mengobarkan api revolusi menuntun jalan menegakan negeri (Sajak Sejarah Kecil untuk Rosihan Anwar;2011)

Lantun kali ini hanya sekadar menyapa seorang polisi yang mendadak top. Hm, siapa lagi kalau bukan Briptu Norman Kamaru. Maksud hati bukan untuk menjadikan Norman lebih hebat dari Franky dan Rosihan, kisah si brimob ini memang lumayan menarik untuk dibahas. Begini, kita lihat lagi lirik laku karya Franky yang berujud ‘Pada Bukti dan Pedesaan’ tadi:

Bukit.. lama sudah kita tak pernah jumpa
Hari-hari pun tenggelam di sela-sela bis kota
Jiwaku beku gelisah

Kerinduan. Ya, seperti kerinduan Franky terhadap bukit pedesaan, lirik ini cukup pas untuk Norman. Dia yang dikenal karena youtube tersebut juga merindukan kampungnya setelah sekian waktu ‘diperkosa’ kota. Dia pulang ke Gorontalo dan langsung tumbang!
Jujur, menyaksikan Norman yang terus dipajang televisi hingga satu pekan lebih tanpa henti, ada sebuah rasa curiga menyergap kepala saya. Begitu rindukah negeri ini dengan sosok yang bisa menyegarkan kepala? Ayolah, Norman adalah seorang polisi dan selama ini instansi tersebut memiliki warna yang cenderung tetap; ketat, serius, tegang, dan banyak cakap di televisi; contohnya kasus-kasus teroris, cicak dan buaya, dan sebagainya yang membuat polisi berulang cakap di layar kaca.

Ya, selama ini adalah sesuatu yang lucu melihat polisi melucu bukan? Sosok polisi adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap main-main, hingga seorang ibu pun menyebut kata ‘polisi’ agar anaknya mau makan. Lalu, sekian kampanye mengubah imej polisi yang seram tak kunjung berhasil. Nah, tiba-tiba muncullah seorang brimob menari ala India yang membuat penonton gemas, lucu, hingga tergoda.

Terus terang, saya ingin mencari sudut pandang lain, misalnya bakat Normanlah yang membuat dia tambah top. Ya, sepengakuannya sejak kecil memang gemar dan berprestasi di bidang seni vokal dan tari. Sayangnya, pikiran itu harus saya bantah. Setahu saya, dalam kehidupan polisi soal nyanyi dan menari bukanlah barang baru. Bahkan, sampai ada istilah tari komando di kalangan mereka. Nah, menyanyi dan menari ala Norman, seharusnya tidak seheboh ini kan?

Tapi, bukankah ini pengaruh youtube? Baiklah, fenomena fasilitas di dunia maya ini memang sangat gila. Norman bukanlah orang pertama yang hebat gara-gara itu, sudah cukup banyak. Masalahnya, tidak semua orang yang muncul di youtube bisa setenar Norman bukan? Yang terbaru, lihat saja Udin se-Dunia, Sinta Jojo, dan sebagainya. Untuk Norman, yang terlihat cenderung ada semacam gerakan untuk mengangkat Norman ke permukaan sedemikian rupa. Bayangkan, Kapolri memanggilnya khusus! Dia pun diserahkan tugas untuk tampil di televisi –di semua chanel—dan setiap tampil pakai baju dinas, komandannya pun tak pernah lepas.

Ayolah, apa yang ada di balik ketenaran Norman? Apakah hanya karena dia polisi yang menari dan menyanyi saja? Apakah karena dia dianggap berbakat? Hm, masih banyak yang seperti itu! Atau karena dia menyanyikan lagu India?
Terserahlah. Sekian banyak kepentingan jelas terlihat di balik ketenaran Norman. Tidak harus dicaci, tapi sadarilah, Norman tetap menjadi korban. Lihatlah dia terbaring setelah sepekan lebih menghirup udara Jakarta.

Seperti kata Franky: Sekarang semua tlah kutinggalkan//Gedung-gedung dan bising jalanan//Di hatiku kugenggam kerinduan//Pada bukit pedesaan.

Ah, (tiba-tiba muncul pula pikiran) mungkinkah Norman sakit gara-gara terlalu cepat kembali ke Gorontalo? Ya, bukankah nikmat dikawal oleh polisi yang pangkatnya jauh di atas. Lalu, segala kebutuhan dilayani dengan baik dan benar. Benar-benar dimanjakan, kenikmatan hadir tanpa henti. Belum lagi pundi-pundi menumpuk di saku, di rekening, dan di tempat-tempat lainnya. Ah, saya teringat lagi lagu Franky yang lain, Lelaki dan Rembulan:

Rembulan di malam hari//lelaki diam seribu kata//hanya memandang//hatinya luka hatinya luka//hatinya luka.
Hm, sudahlah, apapun itu Norman telah kembali ke kampungnya dan bersiap kembali ke Jakarta, entah untuk apa…. (*)

*Judul dikutip dari lirik lagu ‘Pada Bukit dan Pedesaan’ karya Franky Sahilatua.

22 April 2011

 

Orang Gila

Cerpen : Miftah Fadhli

Sudah tiga. Siang, pukul 12.05. Di rel yang sama. Penduduk sekitar bantalan rel berkerumun, dari atas, tampak seperti ribuan kantong sampah yang pecah berceceran di permukaan bumi. Bau tengik. Anyir. Panas seperti selimut yang berkarib dengan debu. Sepuluh menit setelah itu, polisi datang. Dua puluh menit setelahnya, mobil ambulan datang; ngiung-ngiung, membelah kerumunan kantong sampah yang pecah itu. Setidaknya perlu tiga petugas—seorang polisi, dan dua orang petugas rumah sakit—untuk mengumpulkan pecahan-pecahan tubuh itu. Kantong mayat tergeletak di samping rel, mereka harus bergegas sebab kereta selanjutnya akan datang.

Anak-anak bantalan rel sibuk memunguti kerikil yang bertebaran di sekitar rel. Berteriak. Menjerit. Saling lempar, tak peduli ada evakuasi di situ. Sebuah kerikil mengenai kepala seorang tukang sampah. Marah. Lalu mereka melarikan diri; lempar batu sembunyi tangan, semboyan yang tak asing. Saat itu memang banyak tukang sampah yang bergerobak-gerobak memarkirkan kendaraannya di samping rel.

Sekalian istirahat, mereka menyaksikan bagian-bagian tubuh itu dipungut dan disurukkan ke dalam kantong mayat. Tegang, bagai melihat pertandingan sepakbola. Ibu-ibu gembrot menyaksikan dari jauh sambil menutup hidung mereka dengan tangan—sesungguhnya bau mereka lebih tengik ketimbang potongan-potongan badan itu.
Empat puluh lima menit kemudian kereta selanjutnya lewat. Membubarkan kerumunan. Polisi dan petugas rumah sakit membelah kerumunan yang kembali ke rumah—ngiung-ngiung; anak-anak yang suka jahil mengejar mobil ambulan dan melemparinya dengan kerikil; sejam setelah itu penduduk sekitar bantalan rel tak habis-habisnya membicarakan orang gila yang bagian-bagian tubuhnya berserakan sejauh lima meter.

Di sepanjang rel itulah para penduduk ‘sederhana’ itu tinggal. Kebanyakan rumah mereka terbuat dari kardus. Kalau ada yang lebih bagus, tak lebih dari rumah yang dioplos dengan bata-bata sisa bangunan yang terbakar.
Di sepanjang gang kerdil di pemukiman anak-anak kecil mulai belajar bagaimana caranya menjambret tas ibu-ibu di pasar, atau belajar menyerampang anak-anak dari kampung sebelah dengan sandal atau kerikil. Di sepanjang gang kerdil itu juga, anak-anak belajar menjadi tikus-tikus yang suka mengerat bantalan rel, tidak jauh beda dengan bapak ibu mereka, lalu dijual kepada tukang panglong di kota. Juga lagi-lagi di sepanjang gang kerdil itu juga, anak-anak itu belajar menggodai orang-orang gila yang melintasi rel; pecahan-pecahan tubuh yang tadi itu, milik orang gila yang kemarin mereka serampang dengan kayu.

Masih terlihat bercak darah yang menutupi bantalan rel, atau jerejak kayu yang melintangi rel. Kering, telah masak sebagai kerak berwarna kecoklatan, seperti telah menyatu dengan warna besi dan kayu. Anak-anak itu masih berkerumun di situ.

Menyaksikan leleran darah kering perlahan sambil melemparinya dengan kerikil atau menyepakinya dengan pasir; kalau kereta melintas, mereka dengan segera bubar agak jauh ke samping rel, lalu memunguti kerikil dan segera melempari badan kereta yang bau besi berkarat itu.

Sebenarnya, terhitung sangat jarang kereta melintasi pemukiman padat itu. Sehari, paling hanya lima kali bahkan pernah cuma sekali. Karena pemukiman itu terletak di pinggiran bahu rel yang berkilo-kilo meter jauhnya dari stasiun, maka kereta yang melintaspun bagai lesat burung walet yang cuma bisa dilihat sekilas dengan citra yang kabur, kadang saking cepatnya, sering muncul percikapan api pada rel yang tergesek roda-roda kereta yang bergemericit itu. Jalur itu sudah tua, dan sebenarnya ada jalur baru yang jalurnya meliuk-liuk dan lebih dekat ke stasiun. Tapi beberapa masinis agak takut melewatinya sebab terhitung telah dua puluh kali terjadi kecelakaan di jalur itu, sejak pertama kali dibuka.

Masinis tidak mau ambil resiko. Lalu melesatlah mereka ke jalur yang lama; seperti kekasih yang sedang saling marah, ingin cepat bertemu akan tetapi ingin lebih cepat lagi berpisahnya—cerita lain dari jalur yang lama itu.
Dibanding jalur yang baru, jalur yang lama memang lebih aman karena didominasi oleh jalur yang lurus, atau belokan yang tumpul; meski terkadang agak was-was juga karena seratus  lima puluh meter ke depan adalah pemukiman padat penduduk; tak jarang ada penduduk yang suka menyeberangi rel meski kereta berada pada radius beberapa puluh meter sekalipun, tapi untung, sejauh ini memang tidak ada masalah selain hanya orang gila yang belakangan ini suka menyerobot jalur dan tiga di antaranya tewas. Tapi, siapa yang peduli dengan orang gila?
Setiap sore atau pukul sembilan malam memang banyak orang gila yang mendatangi pemukiman itu. Untuk sekedar mencari tempat tidur, atau beristirahat dari desing kendaraan di kota. Para penduduk sering memberikan mereka makanan basi, yang tadinya diperuntukkan untuk kucing peliharaan. Kadang beberapa orang dengan baik hati membiarkan orang-orang gila itu menginap di rumah mereka; beberapa orang gila terkadang masih mau membantu penduduk dalam hal-hal sepele seperti menyingkirkan sandal ke tempat yang lebih kering saat hujan turun, atau membantu membetulkan posisi kursi atau meja yang tak sesuai. Pagi-pagi buta, orang-orang gila itu lenyap dari tempatnya, tapi siapa yang peduli sebab sore hari mereka pasti akan kembali lagi.

Tidak hanya orang gila sebenarnya. Terkadang ada beberapa orang yang nyaris gila datang ke pemukiman itu untuk berteduh atau sekedar gelandangan berbaju lusuh yang mengais-ngais makanan di situ. Tapi, toh, semua penduduk menganggap mereka-mereka itu gila asal baju yang mereka pakai sangat jelek dan kotor atau tak memakai baju sekalipun dengan bau badan yang amat sangat busuk.

Kalau sudah dianggap gila, penduduk yang baik hati sekalipun membiarkan anak-anak mereka mengejar dan melempari orang-orang seperti itu dengan kerikil atau sampah sebab sesadar apapun mereka tapi kalau sudah gila, penduduk pikir rasa sakit sudah tak ampuh lagi karena orang gila telah hilang perasaannya, termasuk merasakan sakit sekalipun.

Beberapa orang gila memang suka mengejar, tapi tak ada penduduk yang kapok membiarkan anak-anaknya bersikap demikian karena orang gila memang punya naluri mengejar; tanpa ada perasaan sama sekali.
Masinis kereta juga tidak ambil pusing dengan orang gila. Kereta tetap tidak akan berubah kecepatannya meski orang gila tertidur nyenyak sekalipun di bantalan rel; memang ada rasa tidak enak ketika kereta melindas orang gila, tapi perasaan itu seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Tidak ada artinya. Masinis tidak akan menghentikan keretanya karena orang gila itu pasti akan ada yang mengurusi, ya polisi ya petugas rumah sakit. Lain lagi kalau yang tertabrak adalah penduduk setempat.

Seorang penduduk memang pernah tewas terlindas karena masinis keliru menganggapnya orang gila; kalau bukan karena teriakan histeris seorang ibu, masinis tidak akan menghentikan keretanya. Makanya, masinis yang ingin lewat jalur itu harus menyediakan teropong untuk jaga-jaga kalau ada orang yang melintasi rel; gunanya ya untuk membedakan mana orang gila mana yang cuma gelandangan.

Dari tiga orang gila yang tewas terlindas, dua di antaranya karena tidur di bantalan rel. Yang baru saja tewas adalah seorang perempuan hamil yang melintasi rel dengan mata terpejam. Tidak ada penduduk yang mau ambil pusing untuk sekedar berteriak memperingatkan kereta yang datang, apalagi membuat semacam tanda peringatan di sekitar rel. “Sia-sia,” celetuk seorang bapak, “orang gila tak pandai membaca.”

Perihal orang gila yang suka tidur di atas rel, sudah jadi pemandangan yang tak aneh bagi penduduk sekitar. Tidak ada penduduk yang mau membangunkan karena, ya itu tadi, “mereka itu orang gila, tidak mengerti bahasa manusia.” Ujar seorang gelandangan, tinggal sepuluh meter dari bantalan rel.

Pukul sebelas malam ke atas adalah waktu di mana puluhan orang gila tidur di atas rel. Berjejer-jejer seperti barisan semut mati, mencakung selayaknya udang beku. Kereta tak pernah lewat malam hari, berbahaya. Sebab selain orang gila, banyak gelandangan yang suka menjarah besi-besi rel saat malam. Tentu akan sangat sulit membedakan mana orang gila dan mana orang biasa dengan teropong, apalagi jika yang menjarah tidak hanya satu atau dua orang.
Tapi penduduk memang sudah maklum. Orang gila butuh tempat untuk tidur. Maka kalau terlalu pelit menyediakan rumah untuk para orang gila, mereka membiarkan rel menjadi tempat tinggal orang-orang gila selama beberapa jam saja, sebab kereta pertama yang akan lewat selalu pukul lima lewat sedikit.

Tapi malam itu, pukul satu pagi, terdengar bunyi kereta. Hujan turun sangat deras sehingga deru kereta dan deru hujan menyatu bagai erangan seekor monster. Orang-orang gila tidak tidur di atas rel, melainkan pindah ke tempat yang lebih hangat dan kering, agak jauh ke dalam pemukiman penduduk. Tapi, jauh di sepanjang rel, anak-anak sekitar pemukiman belum juga tidur. Seperti biasa, hujan tidak membuat nyali mereka ciut menjarah besi-besi rel tua. Gemuruh hujan juga tak membuat mereka cepat-cepat untuk menyelesaikannya, justru semakin liar bercanda dengan sesama—memercikan air hujan bagai ingus dan ludah.

Jauh, puluhan kilometer dari segerombolan anak-anak itu, masinis urung menurunkan kecepatan. Sepertinya itu kereta barang. Karena lampu lokomotif tidak berfungsi dengan baik, pandangan di depannya menjadi sangat kabur apalagi hujan menciptakan semacam kabut yang membuat penglihatan masinis agak terganggu. Masinis kereta sudah tahu reputasi jalur itu dan berpikir, bahwa hujan akan mengusir orang-orang gila itu dari rel kereta; maka, dia menambah kecepatan dan tidak membunyikan klaksonnya karena suara hujan pasti lebih besar.

Tapi beberapa kilometer ke depan, lampu lokomotif yang redup menangkap beberapa bayangan yang tak diam, mondar-mandir di tengah rel. Untuk jaga-jaga masinis membunyikan klakson namun bayangan itu tetap di situ, di tengah rel dan tak mau menyingkir. Masinis mendesah, enteng saja sebab dia pikir bayangan itu pasti orang-orang yang sangat gila yang sudah jelas tidak akan memahami hujan dan kereta.

Jadi, masinis cuma membunyikan klaksonnya sekali lagi, enteng, menyalakan rokok di mulutnya, dan agak merasa tidak enak saat keretanya melindas bayangan-bayangan itu. Tapi dengan cepat perasaan itu hilang sebab, dia juga tidak ambil pusing. Siapa yang peduli dengan orang gila?
Januari, 2011.

Sering Lupa Sekeliling

BBM BlackBerry

Sekarang ini, siapa sih yang nggak tahu ponsel BlackBerry? Smartphone ini memungkinkan kita mampu mengakses internet, email dan semua social network dengan mudah sepanjang hari, tapi harus berlangganan.

Ditambah lagi BlackBerry Messenger-nya yang akrab disebut BBM semakin membuat penggunanya tergila-gila dengan ponsel ini. Bahkan, banyak para pakar yang bilang kalau BB dikait-kaitnya dengan autis bila penggunanya asyik dengan BB-nya sendiri. Dan akhirnya kata-kata autis lebih dikaitkan dengan teknologi selular yang bernama Blackberry ini.

Banyak pengguna yang bilang, BB itu penting banget, terutama buat orang-orang sibuk yang mobile tapi dia harus bisa tetap dihubungi 24 jam by messenger, maupun email masuk yang memerlukan keputusan/jawaban cepat dan lain sebagainya.

Pengguna lainnya bilang, BB dipakai cuma untuk fashion, sekadar trend yang efeknya membuat seseorang terlihat ‘anti sosial’ (di baca autis). Memang, isu mengenai anti sosial ini sebenarnya dan pernah kita dengar 1-2 tahun yang lalu (bahkan pernah menjadi tajuk pembicaraan di sebuah talkshow serius di salah satu TV swasta yang bernotabene TV berita).

Saat itu yang menjadi  vehicle ke-anti sosial-an ini (katanya) adalah MP3/MP4 player (iPod dan sejenisnya). Masing-masing individu sibuk berjalan, membaca, bekerja, makan siang bahkan pada saat berkumpul/bersosialisasi, mereka melakukannya sambil mendengarkan MP3 player ini, sehingga akhirnya jarang melakukan kegiatan yang disebut berkomunikasi dengan sekitarnya.

Fenomena ini terus berlanjut dan berkembang sampai pada penghujung 2008 kemarin BB begitu mem-booming di Indonesia dan hampir sebagian besar negara-negara maju dan berkembang lainnya.

Memang, keautisan itu bisa terjadi karena fasilitas yang ada di ponsel itu. Mulai dari BBM, Facebook ataupun Twitter dan lainnya. Untuk fasilitas BBM ini, pengguna tidak dikenakan biaya, hanya tinggal membeli paket yang disediakan oleh operator.

Staff pengajar dari USU, studi Psikologi Komunikasi, Emilia Ramadhani mengatakan karena ini sebuah fenomena, maka ini tidak akan berlangsung lama. Fenomena ini ada karena adanya teknologi terbaru yang merupakan fasilitas dari BB itu sendiri.

“Pemikiran masyarakat Indonesia yang masih konsumtif berbeda dengan orang Eropa. Kalau di Eropa suatu produk harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Jadi, suatu produk bukan untuk gaya-gayaan atau pamer saja. Terutama untuk anak remaja, yang katanya enggak eksis bila tidak pake BB,” ujar Emilia.

Menurut Emil tak hanya BB, teknologi komunikasi telah membuat penggunanya sering terjebak dalam kawasan ‘autis’. “Ketika sedang kumpul sama teman atau keluarga, ada beberapa di antara kumpulan itu malah asyik dengan ponselnya sehingga sering membuat orang sekitarnya tersinggung dan lupa bahwa ada orang di sekitarnya. Ini sering kita temui saat ini,” kata Emil.

Untuk itu, Emil menyarankan pengguna ponsel pintar atau teknologi lainnya harus bijak dalam menghadapi teknologi tersebut. “Intinya jangan latah. Karena pada umumnya masyarakat masih lebih menyukai produk orang lain daripada produk yang sudah ada pada dirinya,” ujarnya. Emil berpesan segala sesuatu itu harus sesuai dengan kebutuhan, bila sesuatu tidak mengganggu kinerja, maka itu bukan kebutuhan. (mag-9)

Mobile Menjadi Alasan

Adi, salah satu resepsionis di salah satu hotel di Kota Medan ini juga sebagai penggunan ponsel BB.
Awalnya, ia tak tahu fungsi BB atau hanya ikut-ikutan memakai BB karena temannya banyak yang pakai BB. Namun akhirnya Adi baru menyadari kalau BB sangat penting bagi hidupnya yang sangat mobile. “Teknologinya membuatku tak bisa berhenti menggunakan BB,” kata dia.

Ia juga tak memungkiri kalau fasilitas yang ada membuatnya sering lupa dengan orang-orang sekelilingnya, terutama saat asyik membalas BBM-an dari teman-temannya. “Asyik banget sih kalau balas BBM teman karena nggak makan pulsa. Kita bisa ngobrol panjang sampe nggak menghiraukan orang di sekitar kita,” ujarnya.

Kelengkapan fitur yang dimiliki oleh BB, menjadi alasan kenapa seseorang memilih smartphone ini. Dengan BB seseorang bisa online seharian. Atau dengan kata lain lebih memudahkan untuk menerima dan mengirim e-mail, dan biasanya ini berlaku bagi seorang pengusaha atau pembisnis.

Tetapi, kelengkapan fitur lain yang tersedia di BB ini bukan hanya disukai oleh pengusaha ataupun pembisnis, masyarakat yang masih berusia muda  yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa juga memilih BB daripada ponsel lainnya. Padahal tidak semua fitur yang ada di BB merupakan kebutuhan mereka alias hanya untuk pencitraan diri saja. (mag-9)

Ajang Pemulihan

Bolton vs Arsenal

LONDON-Tak ada pilihan lain bagi dua tim asal Kota London yang akan saling jajal di  Stadion Reebok  Stadium malam ini, kecuali meraih kemenangan.

Tambahan tiga angka akan sangat berguna untuk mengatrol posisi kedua tim ini. Bagi The Gunners (julukan Arsenal), kemenangan atas Bolton berarti membuka peluang mereka untuk tetap membuntuti Manchester United yang saat ini kokoh di puncak klasemen.

Sedang bagi Bolton, kemenangan atas Arsenal bermakna ganda. Selain memelihara peluang untuk berlaga di ajang Europa League, kemenangan itu pun akan mengukuhkan dominasi mereka di Reebook Stadium. Pasalnya, sejauh ini bersama Manchester United dan Tottenham, anak asuh Owen Coyle merupakan tim yang paling sedikit menderita kekalahan jika tampil di kandangnya.

The Red Devils dan Spurs baru sekali kalah di hadapan pendukungnya, sedangkan Bolton hanya kalah 2 kali di Reebok Stadium.

Berkaca pada fakta di atas, tak ayal laga ini akan menjadi ajang pemulihan mental punggawa The Trotters (julukan Bolton) yang akhir pekan lalu dipermak  Stoke City dengan skor 0-5 di ajang FA Cup.
Sayangnya, meski malam ini Owen sudah dapat menurunkan Daniel Sturridge yang telah pulih dari cedera, namun beberapa pemain pilar seperti Sam Rickett, Stuart Holden, Martin Petrov, Johan Elmander, Ivan Klasnic dan Sean Davis tak dapat dimainkan karena cedera.

Masalah cedera pemain juga menimpa kubu The Gunners yang bakal tampil tanpa Abou Diaby, Lukasz Fabianski, Rosicky dan Thomas Vermaelen.

“Sangat penting bagi kami untuk menyelesaikan musim ini dengan hasil yang tak mengecewakan fans. Dan itu sesuatu yang wajar karena kami telah bekerja keras untuk meraihnya. Jadi, menjamu Arsenal nanti kami akan meraih kemenangan demi Europa League sekaligus menebus kegagalan di ajang FA Cup,” bilang Gary Cahill, bek Bolton.
Terpisah manejer tim Arsenal Arsene Wenger mengatakan pihaknya antusias dalam lawatan ke Reebok Stadium.
“Kami sangat percaya diri. Akan sangat membanggakan bila meraih kemenangan di sana (Reebok Stadium). Nah, untuk itu kami akan tetap tampil menyerang,” bilang Wenger.

Sah-sah saja bila Wenger sangat optimis menatap laga ini, karena pada delapan pertemuan terakhir dengan The Trotters, anak asuh Wenger selalu meraih hasil sempurna, termasuk tiga partai terakhir di Reebok Stadium.
Pertanyaanya, akankah kali ini mereka kembali mencuri kemenangan? Terlepas dari siapa pun pemenang pertandingan ini, yang pasti akan terjadi pertandingan seru disebabkan ambisi membubung dari kedua tim yang bertanding. (jun)

Getafe tak Dijual ke Royal Emirates

MADRID – Hanya berselang sehari setelah kabar penjualan Getafe ke perusahaan asal Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) Royal Emirates Group, kabar itu langsung dibantah. Presiden Getafe Angel Torres menyatakan klub asal Ibu Kota Spanyol itu belum dijual.

Dia mengakui, pihaknya memang sedang mencari investor ke Timur Tengah dan telah meneken beberapa kesepakatan penting. Namun, sejauh ini pembicaraan belum sampai pada tahap penjualan klub.
“Saya berada di Dubai untuk mencari sponsor. Kami meneken beberapa persetujuan. Tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Angel Torres. Tenang saja, Getafe masih belum dijual,” kata Torres saat tiba di Bandara Madrid Barajas, seperti dikutip AFP.

Namun, Torres enggan merinci kesepakatan apa yang telah dicapai sepulang dari Dubai. “Sebelum saya memberikan keterangan pers, saya harus terlebih dulu melakukan pertemuan dengan petinggi Getafe,” lanjutnya.
Sebelumnya, Royal Emirates Group yang diketuai salah satu anggota keluarga penguasa Dubai, Sheikh Butti bin Suhail al-Maktoum, menyatakan telah meneken persetujuan untuk mengakuisisi Getafe dengan kisaran harga 70-90 juta euro.
Kesepakatan itu diteken pada Kamis (21/4) di Dubai antara Torres dengan Kaiser Rafiq, direktur manajer Royal Emirates Group. “Kami merencanakan investasi besar untuk menyuntikkan darah baru dan mempromosikan kawasan,” begitu keterangan di situs resmi perusahaan yang dikutip Tribalfootball.

Rafiq menambahkan, mereka telah mengucurkan 70-75 persen dana yang bersumber dari pemerintah Dubai. Sisa pembayaran akan dilakukan setelah penyelesaian proses peralihan kepemilikan dari Torres ke Royal Emirates Group. (ham/bas)

Masih Bisa Bangkit

MILAN-Inter Milan mulai terbiasa dengan tekanan dan kembali ke jalur kemenangan. Setelah menang atas Roma di Semifinal Leg I Coppa Italia, Inter kembali meraih hasil bagus saat menjamu Lazio dengan skor 2-1.

Hasil ini cukup membakar semangat tim yang sempat lemah. “Lazio telah mengalahkan tim-tim bagus. Mereka melakukan banyak perubahan pada sistem bermain dan pemainnya. Lazio tetap Lazio. Bila mampu menurunkan semua pemain terbaik, Lazio sesungguhnya merupakan salah satu tim terbesar,” jelasnya.

“Dengan sisa lima pertandingan, sulit bagi kami untuk memutar situasi, tetapi kami akan mencoba memenangkan semua pertandingan,” tegasnya di hadapan jurnalis.

“Kami ingin meraih kemenangan beruntun hingga peluang juara tetap terpelihara. Jangan lupakan, tim ini masih berpeluang merajai Coppa Italia.”

“Kami berada di peringkat tiga klasemen. Tujuan utama saat ini adalah menang, menang dan menang. Kami hanya memikirkan kemenangan.”

Pada laga kontra Lazio, Inter ditinggal Julio Cesar akibat menerima kartu merah plus tertinggal lebih dahulu dari Lazio. Akan tetapi Wesley Sneijder menyamakan skor menjadi 1-1.

Kedua kubu memperlihatkan permainan terbuka sejak awal laga. Di menit 22, Cesar dipaksa meninggalkan lapangan lebih dini setelah diacungi kartu merah oleh wasit akibat mengganjal Mauro Zarate di kotak penalti.
Lazio pun berhak atas hadiah penalti. Di menit 24, Zarate membuat timnya memimpin sementara setelah tembakannya mengecoh kiper Lucas Castellazzi yang masuk menggantikan Diego Milito.

Meskipun bermain dengan 10 orang, Inter tetap mampu memberikan perlawanan. Sneijder sukses menyamakan skor menjadi 1-1 di menit 40 usai tendangan bebasnya bersarang di pojok kiri atas gawang yang dikawal Fernando Muslera. Gol kemenangan tuan rumah pun dikemas Samuel Etoo menit 53. Hingga usai laga, Lazio tak mampu menyamakan kedudukan.

Sementara itu, Napoli yang juga sedang berjuang memburu Scudetto kembali takluk atas tuan rumah Palermo dengan skor 2-1. Padahal Napoli sempat unggul lebih dulu lewat gol penalti Edinso Cavani menit ke 2. Namun Balzaretti menyamakan kedudukan menit 38. Akhirnya tuan rumah mengunci kemenangan lewat penalti di menit 45 lewat Bovo. (bbs/jpnn)

Perempuan Harus Percaya Diri

Perempuan itu harus penuh percaya diri dan mandiri untuk bisa mencapai apa yang diharapkannya, yakni karir dalam bidang apapun.

Begitulah kata Cindy Huang, salah satu siswi model di Andika Produktion di Jalan Pukat Banting IV Mandala By Pass Medan. “Semua orang punya mimpi dan masa depan, begitu juga saya. Tapi untuk mencapainya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Semua itu harus dilakukan dengan percaya diri, tanpa percaya diri tak akan bisa berjalan sukses,” kata siswi yang duduk di kelas satu SMU Sutomo Medan ini.

Bagi Cindy, menekuni dunia modeling sudah menjadi darah dagingnya. Dunia modeling dia lakukan sejak masih kanak-kanak. “Bagi saya, menekuni dunia apapun harus komintmen dan konsekwen, bukan setengah-setengah. Di dunialah yang membuat percaya diri saya tumbuh. Apalagi di Andika production juga dilatih acting, tari dan pengembangan diri,” kata wanita kelahiran 23 April 1996 ini.

Anak ketiga dari pasangan Melitan Jaya dan Ektoan ini berharap, dengan menumbuhkan rasa percaya diri, ia yakin mampu meniti karirnya di dunia modelling.  “Menurut saya, bila ingin menjadi perempuan penuh percaya diri, berarti harus mampu memandang diri kita sebagai pribadi yang kuat dan mandiri. Bukan berarti kita bisa hidup seorang sendiri tanpa bantuan orang lain. Makanya, saat ini orangtua saya selalu men-suport saya untuk tetap percaya diri dan berusaha menjadi mandiri,” kata dia.

Kata dia, bila seseorang dapat melihat banyak sisi positif dalam dirinya, ia cenderung akan menjadi pribadi yang tampil menarik dan percaya diri.  ”Sebaliknya, oleh karena anggapan bahwa ia tidak mampu, tak berharga, tak menarik, tak bisa bergaul, dan sejenisnya maka yang timbul adalah selalu merasa tidak percaya diri,” ujarnya.
Anggapan negatif terhadap diri sendiri yang terus-menerus kita pelihara, lambat laun akan kita yakini sebagai suatu kebenaran. Hal itulah yang akan menggerogoti rasa percaya diri. “Oleh karena itu, setiap pribadi harus memiliki penilaian positif terhadap dirinya sendiri. Ya jangan negatif thinking sama diri sendiri,” ujarnya.

Untuk menumbuhkan rasa percaya diri, lanjutnya, diperlukan juga peran dari lingkungan. Di mana lingkungan sekitar dapat membantu memberi masukan-masukan yang lebih bervariasi. “Ketimbang hanya melakukan pembenaran atas dugaan-dugaan diri pribadi yang tak sepenuhnya benar tentang diri sendiri,” jelasnya.
Nah, dengan percaya dirinya, Cindy mampu memenangkan beberapa kompetisi di dunia modeling. Mulai dari Finalis Ajang Celebrity 2010, Finalis Clar Model, Juara II Model Yamaha. Juara III Sofie Paris, Juara I Suzuya, Meraih Penghargaan Juri Award Ford Fiesta Sun Plaza, Jura 2 Cokelat managemen, Juara Favorit Oriental Wiyata Dharma dan lainnya. “Ini bisa diraih karena rasa percaya diri,” pungkasnya. (laila azizah)

SSB Kebun Bunga Taklukkan Albatros

MEDAN-Sekolah Sepak Bola (SSB) Kebun Bunga berhasil  menaklukkan Albatros dengan skor 1-0 pada lanjutan babak penyisihan turnamen sepak bola Kebun Bunga Cup ke III U-15 tahun 1997 memperebutkan Piala Walikota Medan Drs Rahudman Harahap yang berlangsung di Lapangan  Hoki Medan Petisah, Sabtu (23/4) sore.

Satu-satunya gol SSB Kebun Bunga diciptakan Parogi lewat tendangan pagar  yang dilakukannya dimenit ke -17.
Terkait dengan kemenangan itu Ketua SSB Kebun Bunga H Iswanda Nanda Ramli mengaku sangat bangga dan berharap kemenangan itu memotivasi anak asuhnya untuk terus tampil maksimal pada babak-babak berikutnya.
Hal senada juga diungkapkan pelatih SSB Kebun Bunga Muklis. Bahkan secara tegas Mukhlis mengku salut dengan mental bertanding anak asuhnya .

Terpisah, Ketua Umum Albatros Alexander GHO mengatakan bahwa kekalahan yang dialami atas SSB Kebun Bunga Medan diharap melecut semangat bertanding para pemain untuk lebih giat berlatih.

Pada pertandingan lainnya SSB Sinar Sakti bermain imbang 0-0 dengan SSB Mandiri. SSB Portis menang 3-0 atas SSB Generasi Medan A. Sedangkan SSB Sejati Pratama juga bermain imbang tanpa gol dengan SSB Karang Taruna Medan (KTM). (omi)

Bulatkan Tekad

MEDAN- PSMS akan melakoni laga berat. Kemenangan dibutuhkan untuk menjamin langkah ke babal delapan besar, untuk selanjutnya kembali ke kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional : Indonesian Super League (ISL). Kebulatan tekad untuk meraih itu semua merupakan jawaban untuk mimpi yang telah lama terkubur itu.
Ya, sejak terdegradasi dari ISL musim 2008/2009, PSMS tak kuasa langsung bangkit. Bahkan musim lalu, PSMS sempat terpuruk dan nyaris degradasi lagi ke Divisi Satu.

Musim ini, dewi fortuna mulai berpihak. PSMS kini berhasil duduk manis di peringkat tiga. Kalau hingga berakhirnya kompetisi, Affan Lubis dkk tetap di posisi tiga, maka langkah ke delapan besar terbuka. Dari tiga wilayah Divisi Utama musim ini, PSMS merupakan pemegang posisi terbaik sejauh ini dengan koleksi poin di atas 40.

Sudah ditetapkan PT Liga Indonesia yang mengurusi kompetisi, bahwa tim yang lolos ke delapan besar adalah dua tim teratas masing-masing klasemen plus dua tim di peringkat tiga terbaik.

Di atas kertas, PSMS antara mudah dan sulit melanggang ke babak selanjutnya. Satu-satunya cara aman adalah menang dua laga tandang terakhir sekaligus. Pertama kontra Persitara (26/4) dan Persikabo (30/4). Hal ini tentu saja tak mudah. Di samping itu, kejaran dari Persipasi Bekasi dan Persita Tangerang masih membikin PSMS tak nyaman.
“Memang bukan perkara mudah mencoba amankan tiga angka di kandang lawan. Tapi kita harus bulatkan tekad untuk meraih hal itu,” beber Benny Tomasoa, Asisten Manajer PSMS kemarin.

Benny berencana menularkan semangat berlimpah kepada para skuad untuk memberikan yang terbaik. Apalagi saat ini seluruh kewajiban pemain sudah dilunasi. Gaji sudah oke, bonus juga sudah dibagikan. Sekaranglah saatnya publik pecinta PSMS dan sepak bola di Medan meminta sesuatu dari para pemain. Yakni kemenangan dan kemenangan.
Gelandang PSMS, Donny Fernando Siregar setuju dengan hal itu. Suatu kali ia pernah menjelaskan bahwa ia dan rekannya harus membuktikan kepada masyarakat Medan untuk membalas kepercayaan selama ini. “Ini bukan beban tapi kewajiban. Kita harus memberikan sesuatu untuk fans PSMS di manapun berada,” kata Donny.

Kalau PSMS berhasil melangkah ke babak delapan besar, manajemen sebelumnya sudah mengajukan proposal menjadi tuan rumah. Dan artinya fans PSMS masih berkesempatan mendukung PSMS di Stadion Teladan yang merupakan stadion kebanggaan Warga Medan.

“Kalau kita lolos, mudah-mudahan kita diterima jadi penyelenggara babak delapan besar. Stadion Teladan sudah cukup baik untuk pelaksanaan pertandingan selama ini. Namun begitu pasti bakal ada pembenahan selanjutnya kalau kita memang ditunjuk jadi tuan rumah,” sambung Benny. “Yang terpenting saat ini adalah kembali ke Medan dari tur away terakhir itu dengan angka maksimal,” tutupnya. (ful)

Bolton Celtic Selangkah Lagi

NEW YORK – Boston Celtics terus melanjutkan dominasinya atas New York Knicks pada laga playoff NBA musim ini. Celtics berhasil merebut game ketiga dan tinggal selangkah untuk memastikan tiket semifinal wilayah timur (eastern) usai berlaga di Madison Square Garden, Sabtu (22/4) WIB.

Kemenangan 113-96 yang dicuri Celtics dari markas Knicks pada game ketiga, membuat skuad besutan Doc Rivers kini unggul 3-0. Dengan mengusung format best of seven, kini Celtics berada dalam posisi matchpoint, karena hanya membutuhkan satu kemenangan untuk bisa menyingkirkan Knicks.

Celtics yang sebelumnya sudah mengamankan dua laga kandang, tampil serius di hadapan publik Knicks. Trio Kevin Garnett, Ray Allen dan Paul Pierce langsung unjuk gigi dengan membawa Celtics unggul 52-44 di paruh pertama.
Dominasi Celtics kian tak terbantahkan di kuarter ketiga ketika mereka sukses memperlebar keunggulan menjadi 86-63. Knicks berjuang keras di kuarter penentuan dan berhasil mendominasi laga (unggul 33-27). Sayang, aksi Amare Stoudemire dan Carmelo Anthony tidak mampu menyelamatkan Knicks dari kekalahan. Dengan posisi ketertinggalan 0-3, Knicks pun diwajibkan melahap empat laga sisa untuk bisa melaju ke babak semifinal. Suatu misi yang sangat sulit direalisasikan, tapi bukan tidak mungkin dilakukan.

Sementara bagi Celtics, keunggulan ini membuat tugas mereka kian mudah, karena hanya membutuhkan satu kemenangan di empat laga sisa. Paul Pierce dan Ray Allen menjadi bintang bagi Celtics di laga kali ini dengan raihan 38 dan 32 poin. Sementara Rajon Rondo berhasil mencatatkan rekor di babak playoff NBA musim ini dengan mencetak 20 assist.

Rupanya, kesuksesan Celtics kali ini tidak lepas dari desakan sang pelatih Doc Rivers yang meminta timnya untuk memastikan tiket semifinal lebih cepat.

“Fokus utama saya di laga kali ini bukan untuk menghibur. Ini adalah kometisi dan saya pikir kami datang dengan mental yang tepat,” puji Rivers kepada anak asuhnya sebagaimana dikutip Yahoosports. (net/jpnn)
Rivers menambahkan, timnya harus bisa kembali memainkan performa apik seperti saat ini ketika kembali bermain di laga tandang pada game keempat. Bila menang, maka sudah pasti Celtics akan melaju ke semifinal.
Los Angeles Lakers dan Atlanta Hawks juga meraih kemenangan atas lawan-lawannya di game ketiga. Kondisi ini membuat kedua tim memimpin 2-1.

Lakers mengatasi tuan rumah New Orleans Hornets 100-86. Kobe Bryant menjadi top performer dengan 30 poin, enam rebounds, dan dua assist. Adapun Hawks yang tampil di kandang sendiri membekuk Orlando Magic 88-84. Jamal Crawford menjadi motor kemenangan tuan rumah dengan 23 poin, tiga rebounds, dan tiga assists. (net/jpnn)