26 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 15446

Bintang Medan Berharap Menang Tandang

Skuad Bintang Medan FC direncanakan terbang ke Bandung hari ini untuk melakoni laga tandang menghadapi Bandung FC Sabtu (9/4), di ajang Liga Primer Indonesia (LPI).

Dengan persiapan yang telah digelar, Soldier Kinantan bertekad memecahkan mitos tidak pernah menang di partai tandang. Harapan itu wajar menjadi target yang harus diraih. Betapa tidak, tim besutan Michael Feichtenbeiner itu hanya meraih sekali seri ketika bertamu ke Stadion Baharuddin Siregar, markas Medan Chiefs Deli Serdang beberapa waktu lalu. Selebihnya, laga tandang selalu berujung kekalahan.

“Tentu saja kemenangan menjadi harapan kami. Rekor di laga tandang sangat tidak bagus. Kami ingin memperbaikinya, khususnya menghadapi Bandung FC Sabtu (9/4) nanti,” ujar Feichtenbeiner usai memimpin latihan anak asuhannya di Lapangan Thamrin Graha Metropolitan (TGM) kemarin pagi.

Michael selain terus membenahi mental bertanding skuad asuhannya juga tengah menggeber persiapan teknik. Dia bakal mengandalkan kemampuan fisik yang dimiliki pemain sebagai daya penggedor pertahanan lawan.
Selain itu, tidak berhasil dengan pola ofensif yang dilakoni di pertandingan tandang, Feichtenbeiner gantian akan menerapkan pola defensif di babak pertama.

“Selama ini kami berupaya mengejar perolehan gol cepat di babak pertama dengan menyerang.

Tapi kebobolan lebih dulu melemahkan mental pemain. Jadi untuk pertandingan nanti, kami akan mengintensifkan pola bertahan dengan counter attack, baru babak kedua menyerang,” sebut pria 50 tahun itu.
Itupun dengan catatan, skuadnya harus lebih disiplin menjaga pertahanan dari bombardir tim rival yang tentu saja akan tampil ngotot karena bermain di hadapan publik pendukung. “Harus dengan strategi bertahan yang baik. Itu yang saat ini sedang kami benahi,” beber pria kelahiran Stuttgart, Jerman itu.

Kemarin, Feichtenbeiner menggeber pola serangan dengan mengandalkan crossing-crossing. Beberapa pemain memainkan skema penyerangan cepat berawal dari operan pemain belakang yang diteruskan kepada pemain sayap untuk menerobos pertahanan lawan. Penyerang atau pemain yang paling dekat dengan gawang lalu melakukan tembakan ke gawang. Rencananya, Bintang Medan akan berangkat hari ini ke Bandung sekitar Pukul 12.00 WIB dengan membawa 18 pemain. “Tapi siapa saja, kami masih akan menunggu besok (hari ini).

Kami sedang menunggu kondisi terakhir Yoseph (Yoseph Ostanika) dan Herry Ihsanto. Mereka cedera kemarin. Kalau mereka sembuh mereka akan di bawa. Kalau tidak, terpaksa kami bawa 16 pemain,” tandasnya.(ful)

SMG FC Dapat Palajaran Berharga

MEDAN-Kesebelasan Sumut Media Grup (SMG) FC yang sedang bersiap menatap Rida Cup yang berlangsung di Pulau Batam, pada Juni mendatang, kemarin (6/4) mendapat pelajaran berharga dari kesebelasan Bank Sumut.
Itu terjadi saat kedua tim melakukan pertandingan ujicoba yang berlangsung di Stadion Mini USU. Unggul materi pemain membuat kesebelasan Bank Sumut, yang notabene juara Liga Instansi dalam dua tahun berturut-turut mendominasi pertandingan.

Serangan yang dilancarkan pemain Bank Sumut membuat lini pertahanan SMG FC yang dikordinir Dedi dan Ijal dipaksa bekerja keras, hingga akhirnya, ketika pertandingan babak pertama menyisakan tujuh menit jelang jeda, gawang SMG FC yang dikawal Wahidin dibobol striker Bank Sumut.

Kondisi tak berbeda juga terjadi di babak kedua. Namun begitu, meski secara keseluruhan Bank Sumut tetap mendominasi pertandingan, namun SMG FC tetap mendapatkan beberapa pelaung untuk untuk membobol gawang Bank Sumut.

Pada babak kedua ini, disebabkan stamina yang kurang mendukung akhirya Bank Sumut mampu menambah lima gol, sementara SMG FC hanya mencetak satu gol lewat aksi Riki.

Alhasil, hingga wasit meniup pluit panjang tanda pertandingan berakhir skor 6-1 untuk Bank Sumut.
Adapun enam gol kemenangan Bank Sumut dilesakkan Zulkarnain, Ismail, Hasanuddin, Syahrul, Hermanto dan Gus Irawan.

Menanggapi hasil pertandingan ini Khadafi, manejer tim SMG FC mengatakan bahwa pertandingan persahabatan kemarin merupakan ajang seleksi sebelum SMG FC berlaga di ajang Rida Cup.

“Jadi, kekalahan kemarin akan dievaluasi demi perbaikan tim ke depannya. Yang pasti, kita akan terus belajar dan melakukan pembenahan,” bilangnya.

Rencananya, usai menghadapi Bank Sumut, SMG FC akan terus melakukan pertandingan uji coba dengan tim-tim mapan yang ada di Sumut. (uma)

Bla Bla Bla Favorit Juara

Langkat Rally 2011

MEDAN-Ajang Langkat Rally 2011 yang berlangsung di Kab. Langkat Sabtu (9/4) dan Minggu (10/4) ini, dengan start dan finish di Alun-alun kantor Bupati di Stabat, bak magnet bari para pereli, baik yang berasal dari Sumut, maupun pereli dari daerah lain.

Dari Sekretariat Panpel di kantor Pengprov IMI Sumut, Medan, Rabu (6/4), didapat keterangan bahwa semua tim reli telah menyatakan ikut serta pada even reli pelang besar dan bergengsi di awal tahun 2011 ini.
“Semua tim di Sumut sudah mendaftar. Ini menggembirakan, karena event digelar Pengprov IMI sebagai wadah dari para pereli untuk menyalurkan bakat dan ketrampilan mereka. Tampilnya semua tim reli, kita representasikan sebagai bagian dukungan dari mereka untuk mensukseskan event,” ungkap Ketua Harian IMI Sumut John Lubis, didampingi Pimpinan Perlombaan Elwin Siregar.

Setelah tim Caprindo, Twenty, Suzuki, dan beberapa tim lain menyatakan kesiapan tampil, tim Bla Bla Bla, kemarin juga menyatakan kesiapan mereka untuk merebut prestasi tertinggi. Bla Bla Bla merupakan tim reli yang sangat disegani di kancah reli nasional, dan selalu menjadi perhitungan tim kuat lain di setiap ajang kejurnas.
Manajer Bla Bla Bla, Rudi Siregar yang ditemui di markas Jl. Sei Deli, Medan, mengatakan, di ajang Langkat Rally 2011 mereka menurunkan lima pereli, dengan empat diantaranya bermain di grup N dan satu lagi di grup GR 2.
Andalan utama tim, sebut Rudi, tentu ada dipundak pasangan Ijeck/Uche dan juga Doddy/Prihatin Kasiman, keduanya turun di atas Subaru Impreza STI. Kemudian ada juga Harun Nasution bersama navigator Julio Nurrahman, dan Kiky Desky/Fahri Hamid. Harun mengandalkan Mitsubishi Lancer Evo IV, sedangkan Kiky berama Lancer Evo IX.

Dikatakan Rudi, dengan kekuatan yang ada, tak ayal tim Bla Bla Bla begitu diunggulkan pada even kali ini. “Tetapi kita tidak boleh sesumbar. Persaingan pasti seru dan ketat, karena jika melihat entry list, di grup N ini saja jumlah pesertanya bisa 10,” ungkap Rudi.

Terpisah, Ijeck tak mau sesumbar soal peluang timnya. “Semua pereli yang turunmemiliki peluang yang sama besarnya.  Tinggal melihat tim mana yang paling matang melakukan persiapan. Pasalnya, bukan hal mudah menaklukkan rute berjarak lebih 100 km. Begitupun kita tetap harus optimis soal gelar juara,” ucap pereli nasional ini . (jun)

PSTI Medan Terkendala Dana

MEDAN- Pengcab Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Medan lakukan pemusatan latihan kepada 12 atletnya yang terjaring dari hasil Pekan Olah Raga Kota (Porkot) beberapa waktu yang lalu.

Niat dan tujuan untuk melakukan pemusatan latihan kepada para atlet tadi adalah agar mendapatkan hasil yang maksimal saat mengikuti berbagai even nantinya.

Husni, salah seorang pengurus PSTI Kota Medan mengungkapkan bahwa pemusatan latihan telah dilakukan sejak tiga bulan lalu. “Seharusnya waktu yang efektif untuk berlatih adalah empat kali dalam seminggu. Namun karena kita belum memiliki anggaran, maka anak-anak hanya berlatih dua kali saja,” ujarnya.

Masih menurut Husni, dalam waktu dekat, ke-12 atlet tadi akan memperkuat tim sepak takraw Kota Medan pada Piala Walikota di Banda Aceh. “Nah, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka pada pekan ini kita akan menggelar pertandingan ujicoba menghadapi tim sepak takraw Binjai,” ucap Husni.

Terkait masalah pendanaan yang menghambat program latihan para atlet, Heri, pelatih tim sepak takraw Kota Medan tak menampiknya. “Makanya, kami berharap, selain KONI Medan, hendaknya ada lagi pihak-pihak yang peduli dengan olah raga ini,” bilang Heri. (uma)

Penjambret Tekor

Tekor, itu yang dialami dua penjambret yang beraksi di Jalan Stasiun Belawan, Selasa (5/4), lalu. Lho, kok bisa? Ya, pasalnya, hasil jambretan yang mereka dapatkan hanya senilai ratusan ribu, tapi mereka harus kehilangan sepeda motor Vega R senilai jutaan rupiah.

Ceritanya, saat itu Dewi (25), warga Jalan Platina Raya, Kelurahan Titipapan, Medan Labuhan, hendak mengantar katering ke Belawan dengan mengendarai sepeda motor Scoopy BK 5708 ABB. Namun, di tengah jalan tepatnya di Jalan Stasiun Belawan, dia dipepet dua pemuda tak dikenal berboncengan yang mengendarai sepeda motor Vega R tanpa plat. Begitu mendekat, seorang pemuda yang dibonceng menjambret kalung emas yang melingkar di leher Dewi.

Menyadari kalung emasnya akan dirampas, Dewi berusaha melakukan perlawanan. Akhirnya, Dewi dan kedua penjambret tersebut terjatuh. Warga yang melihat mereka terjatuh, langsung berdatangan hendak menolong. Namun, begitu melihat warga berdatangan, kedua pemuda itu langsung melarikan diri membawa kalung emas hasil jambretan dengan berlari dan meninggalkan sepeda motornya di lokasi kejadian.

“Setelah kami terjatuh, warga langsung berdatangan. Pelaku yang ketakutan langsung melarikan diri dan tidak sempat membawa sepeda motornya,” kata Dewi kepada wartawan koran ini.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka ringan pada bagian kaki, tangan dan leher. Dan kerugian yang dialmai sekitar ratusan ribu rupiah. Sementara kedua penjambret tersebut mengalami kerugian jutaan rupiah, berupa satu unit sepeda motor Vega R.(mag-11)

Kakek Sakit Ditahan Hakim

MEDAN- Hakim Pengadilan Negeri Medan menahan terdakwa lanjut usia, Husaini (68), warga Jalan Metal 6 Tanjung Mulia Medan yang sedang sakit. Penahanan kakek ini terindikasi untuk kepentingan oknum tertentu.

Pernyataan tersebut disampaikan A Madjid Hutagaol SH kuasa hukum Husaini kepada wartawan usai Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan yang diketuai Kawit Riyanto SH, Sabir SH dan Muhammad SH mengeluarkan penetapan penahanan terhadap Husaini, Rabu(6/4).

Menurutnya, penetapan penahanan itu sangat mengejutkan dan tidak berprikemanusian. Pasalnya terdakwa sudah tua dan sakit-sakitan karena menderita kelainan paru.

Tapi, harus meringkuk di terali besi. Ironis lagi, perkara Husaini belum pernah diperiksa di persidangan.
“Kita meragukan kepentingan apa Majelis Hakim melakukan penahanan terhadap terdakwa,” ujarnya.

Dia meragukan ada kepentingan oknum tertentu,agar terdakwa Husaini harus ditahan,walau proses perkaranya belum diperiksa dipersidangan.

“Jika ini dibiarkan, akan membahayakan bagi penegakan hukum,” ujarnya seraya menambahkan, hakim tidak lagi independen, melainkan mengadili perkara karena adanya kepentingan tertentu.

Bukti lain, kata Salmon Sipayung SH selaku pengacara terdakwa, indikasi kepentingan itu terlihat dari pengiriman berkas terdakwa Husaini ke PN Medan pada 26 Januari 2011 lalu. Tapi, dua hari kemudian Majelis Hakim langsung mengeluarkan penetapan penahanan terhadap terdakwa. “Itu tidak lazim dan perlu dipertanyakan,” ujar Salmon lagi.
Bahkan, penetapan tersebut bukan dibacakan di hadapan persidangan, melainkan di kamar hakim masing-masing. Bahkan, belum lagi dilaksanakan penetapan pertama, penetapan kedua kembali diterbitkan. Salmon juga meragukan hakim menegakkan keadilan dalam menangani perkara Husaini tersebut.

Indikasinya, hakim menghukum karena pelanggaran pasal, bukan karena perbuatannya. Buktinya, perkara belum diperiksa, hakim sudah menyatakan terdakwa bersalah.

Sebab, selama penyidikan dan penuntutan, terdakwa yang sakit-sakitan tersebut tidak pernah ditahan. Adanya keberpihakan Majelis Hakim PN Medan menangani perkara Husaini tersebut, pengacara A Madjid Hutagaol, Oemar Witaryo SH dan Salmon Sipayung SH melaporkan oknum Hakim tesebut ke Komisi Yudisial(KY) agar ditindak tegas.
Ternyata pengaduan direspon KY, dua petugas KY bernama Andri SH dan Iwan SH langsung memantau persidangan terdakwa Husaini tersebut. “Semua yang kita lihat, akan dilaporkan ke pimpinan KY,” ujar Andri SH kepada wartawan.

Tanpa menjelaskan, apakah proses persidangan Husaini sarat kepentingan atau tidak. “Semua yang kita lihat akan dilaporkan kepada Ketua KY,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Kawit Riyanto SH, Sabir SH dan Muhammad SH membantah kalau perkara Husaini sarat rekayasa dan kepentingan oknum tertentu.

“Nggak ada itu, semuanya berpedoman aturan hukum,” ujar mereka.

Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum(JPU) Iwan Ginting SH mengajukan terdakwa Husaini ke PN Medan didakwa melakukan penipuan dan penggelapan soal penerbitan Sertifikat Tanah. Jaksa sulit menghadirkan terdakwa, karena Husaini sakit-sakitan dan butuh pertolongan medis di RS. Tapi, begitu terdakwa diajukan ke persidangan, terdakwa langsung ditahan hakim dengan alasan mempermudahkan pemeriksaan.

Terdakwa Husaini ketika ditanya wartawan soal penahanannya, nggak banyak komentar. “Inilah kekuasaan dan bukan hukum yang bicara,” ujarnya sambil menuju mobil yang akan membawanya ke Rutan. Sidang dilanjutkan Rabu mendatang, untuk mendengarkan eksepsi terdakwa.(rud)

Tertibkan Bangunan di DAS

Pemerintah Kota Medan seharusnya belajar dari kesalahan. Banjir yang terjadi beberapa hari lalu salah satu faktorn
penyebabnya adalah tata ruang kota yang semrawut dan banyaknya bangunan tinggi berdiri di daerah aliran sungai (DAS).

Karenanya, Wali Kota Medan harus tegas dengan membongkar bangunan di kawasan DAS sehingga tidak terjadi penyempitan sungai.

Demikian dikatakan aktivis lingkungan sekaligus Dirut Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Utara Syahrul Isman kepada wartawan Sumut Pos, Bagus Syahputra. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda melihat kondisi Kota Medan saat ini?
Kondisinya memprihatinkan. Tata ruang kota masih semrawut. Ini tak terlepas dari peran Pemerintah Kota Medan yang mempunyai wewenang memberikan Izin Mendiri Bangunan (IMB). Pemko ingin melakukan percepatan pembangunan dengan memberikan izin terhadap bangunan-bangunan megah, namun mengabaikan aspek lingkungan.
Seperti DAS yang merupakan daerah hijau, tidak boleh mendirikan bangunan dengan jaraknya 20 sampai 25 meter dari tepi sungai, tapi hal ini diabaikan. Kita lihat bangunan di Kota Medan masih ada di bantaran sungai. Seharusnya bantaran sungai dilestarikan dengan ditamani pepohonan agar tidak terjadi penyempitan aliran sungai.

Mengenai banjir yang dialami warga Medan baru-baru ini, Apa yang harus dilakukan pemko?
Ya, dalam catur wulan pertama 2011 ini, sudah dua kali Medan dilanda banjir. Seharusnya pemerintah sudah bisa berpikir untuk menertibkan bangunan yang berdiri dibantaran sungai. Jangan pemukiman warga saja yang ditertibkan, kalau berani pemukiman warga yang menengah ke atas dan banguna besar yang berada di bantaran sungai juga harus ditertibkan.

Kemudian pemerintah Kota Medan boleh membangunan bangunan yang berdiri tinggi dan besar tetapi sesuai pola pembangunan tetapi harus memikirkan pola perubahan Iklim yang setiap saat berubah, kalau itu tidak diikuti pemerintah Kota Medan, saya yakin kota Medan dilanda hujan dengan potensi rendah akan selalu banjir.
Selanjutnya pemerintah jangan gampang mengeluarkan izin mendirikan bangunan di bantara sungai yang nota bene dijadikan lahan bisnis seperti perumahan dan pusat perbisnisan. Kalau pemko terus membangun di bantaran sungai, pada 2030 kota ini akan tenggelam.

Bukankan persoalan banjir bukan cuma tugas pemerintah, tapi tugas kita semua. Menurut Anda, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi banjir?
Masyarakat harus ambil andil dengan kondisi Kota Medan yang menjadi langanan banjir. Di sini, masyarakat harus pedulilah dengan alam sekitar. Sadar akan keadaan alam yang semakin memprihatin dengan melakukan Go Green. Jangan lagi membangunan bangunan di bantaran sungai dan bagi masyarakat menengah ke bawah setindaknya maulah kalau direlokasi pemerintah dari bantaran sungai.

Pemerintah juga harus melindungi warga di bantara sungai dengan memberikan tempat tinggal yang layak sehingga masyarakat menengah ke bawah yang yang tinggal di bantara sungai selalu menjadi korban bankir selalu.(*)

Rahudman: Saya Masih Optimis

Hari Ini, Wali Kota Terima Warga Sari Rejo

MEDAN- Dalam upaya penyelesaian sengketa tanah Sari Rejo, Wali Kota Medan Rahudman Harahap akan menerima masyarakat yang diwakili Forum Masyarakat Sari Rejo di Balaikota, hari ini (7/4). Hal tersebut dikemukakan Rahudman Harahap saat ditanya Sumut Pos, ketika mengunjungi jembatan Sari Rejo yang roboh, Rabu (6/4).

“Besok (hari ini, Red), masyarakat Sari Rejo akan mengirimkan surat kepada saya, untuk minta penjelasan langsung dari saya. Supaya meraka tidak mendapat penjelasan dari pihak-pihak lain,” kata Rahudman. Dijelaskannya, dalam pembicaraan nanti, akan dibahas mengenai langkah-langkah apa yang telah diambil dan dilakukan Pemko Medan dalam upaya penyelesaian sengketa tersebut. “Yang jelas, sampai sekarang saya masih optimis, masalah ini akan segera kita selesaikan,” terang Rahudman.

Ketua Forum Masyarakat Sari Rejo Riwayat Pakpahan yang hadir pada kesempatan itu, dengan segenap masyarakat Sari Rejo lainnya menyambut baik rencana itu. Karena, ini bisa menepis anggapan selama ini karena setiap pertemuan Pemko Medan dengan pihak-pihak terkait yang membahas mengenai Sari Rejo, selalu berlangsung tertutup dan tidak melibatkan masyarakat Sari Rejo.

“Besok (hari ini, red), kita akan mengirimkan surat ke wali kota dengan didampingi 30 warga. Nanti akan kita bahas, bagaimana langkah ke depan supaya persoalan ini bisa segera selesai dan masyarakat mendapatkan haknya yaitu sertifikat,” tegasnya.

Dikatakannya, sebenarnya masyarakat Sari Rejo melalui Formas telah lama menginginkan itu dan telah lama pula mempersiapkan surat tersebut. Namun, baru kali ini terwujud.

Sebelumnya, Riwayat juga sempat menuturkan kepada Sumut Pos, Selasa malam (5/4) sejak pukul 20.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB, masyarakat Sari Rejo berkumpul di rumahnya di Jalan Teratai No 45 Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia.

Pertemuan itu membahas rencana aksi yang akan digelar pada awal Mei mendatang. “Kemarin malam yang hadir sebanyak 40 orang, dan 8 perwakilan lingkungan dari 9 lingkungan yang ada. Pembahasannya adalah rencana aksi di awal Mei nanti. Meskipun demikian, kami masih menunggu perkembangan dari Wali Kota Medan dan pihak DPRD Sumut khususnya Komisi A yang akan melaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Wali Kota, BPN dan Tim Asset TNI AU,” jelasnya.

Adapun nama-nama Koordinator Lingkungan (Korling) yang hadir pada pertemuan tersebut Selain Riwayat Pakpahan dan pengurus Formas Sekum Formas Oest Sumantri, Ketua II Formas Asep Suhendar, Koordinator Lapangan Ir John Piter Naiborhu yakni, Aidil Siregar, Ir Sudarso, Sugiat, Sugito, Mahyudin, Ali Nafiah, Hermanto, Nuredi, Sikumbang, Sami, Saga Dewan, Wawan SH, Usman Jauhari, Husen, Wijianto, BB Sumantri, Misroy dan lain sebagainya.(ari)

Tetap tak Akui Barang Bukti

Tan Alipin Dikenakan Dua Berkas Terpisah

MEDAN- Pemilik home industri ekstasi di Jalan Sekip, Medan Petisah, Tan Alipin (44), hingga kemarin masih menjalani pemeriksaan. Tersangka dikenakan dua berkas, karena selain memproduksi ekstasi juga memiliki senjata api secara illegal. “Tersangka kita kenakan dua berkas.

Selain undang-undang narkotika, juga kita jerat dengan Undang-undang Darurat atas kepemilikan senjata api soft gun illegal,” ujar Direktur Reskrim Narkoba Polda Sumut Kombes Pol John Turman Panjaitan kepada wartawan di Rumah Makan Ojo Lali di Jalan SM Raja, tepatnya di depan Mapoldasu, Rabu (6/4).

Di jelaskan Jhon, dalam pemeriksaan, tersangka tetap tidak mengakui kalau barang bukti pil ekstasi tersebut miliknya. Padahal, bungkusan pil ekstasi tersebut jatuh dari dalam gulungan celana pendeknya saat rumahnya digerebek.

“Selama diperiksa, tersangka tidak mengakui barang bukti tersebut miliknya. Tersangka tetap mengatakan kalau bungkusan itu dilemparkan kepadanya. Tapi kita sudah punya saksi yang menguatkan, yaitu Sofyan, Kepling X yang ikut dalam penggerebekan tersebut,” ucap Jhon yang sebentar lagi menjabat Dir Res Narkoba Jawa Tengah.
Sedangkan untuk alat produksi yang digunakan untuk mencetak butir ekstasi tersebut, hingga kemarin belum ditemukan. “Meski begitu, kita tetap sidik untuk menjerat tersangka,” terangnya.

Kemudian, lanjut Jhon, mengenai senjata api yang disita dari Alipin, hingga kemarin tersangka belum dapat menunjukkan surat izin kepemilikannya. “Tersangka bilang, keluarganya akan membawakan surat izin kepemilikan senpi soft gun itu, tapi sampai sekarang tidak ada,” ungkapnya lagi.

Ketika disinggung batas waktu penunjukkan surat izin kepemilikan senpi tersebut, guna mengantisipasi jika adanya upaya memanipulasi dari keluarga tersangka, Jhon kembali menegaskan, hal tersebut sangat kecil kemungkinan terjadi. Karena data kepemilikan senjata api tercatat di Dit Intelkam Polda Sumut yang membidangi soal itu dan akan ditindaklanjuti. “Kalau tidak mampu menunjukkan surat izin senpinya, tersangka akan diproses dua berkas terpisah. Tentang pembuatan ekstasi dan kepimilikan senjata api ilegal,” tuturnya.

Keterlibatan istri Tan Alipin, Jhon juga mengatakan, pihaknya sedang mendalami keterlibatannya. Dalam hal ini, beroperasinya pembuatan pil ekstasi tersebut di dalam rumah yang pastinya diketahui sang istri. Namun, pekerjaan haram itu tidak dilaporkan kepada petugas. Juga terkait menghalangi petugas saat akan masuk ke rumahnya dengan menutup pintu selama 30 menit, setelah suaminya dibekuk.

“Iya, itu bisa saja kita duga. Kita masih mendalaminya. Kalau hasil penyidikan menunjukkan seperti itu, maka istrinya juga akan kita proses,” tegasnya.(adl)

31 Kali Masuk Hotel Prodeo

Pahala PS Napitupulu, Aktivis Buruh Sumut

Kekayaan materi maupun jabatan mapan tidak menjadi ukuran bagi Pahala PS Napitupulu (52), dalam menjalani hidup ini. Dengan menikmati pekerjaan yang ada, dirinya terus berjuang demi satu ideologi.

Indra Juli, Medan

“Hidup harus bertahan dan pekerjaan ini yang diberikan Yang Kuasa sama ku. Yang penting kita harus tetap semangat, harus terus PD (Percaya Diri). Macam betul saja mereka itu,” ucap Pahala yang ditemui Sumut Pos di tempat usahanya seputaran Jalan Djamin Ginting/Padang Bulan Medan, Rabu (6/4).

Menyewa salah satu rumah toko (ruko) tiga lantai, dirinya membuka biro jasa untuk membantu masyarakat. Tidak hanya dalam pengurusan izin juga membantu pembukuan satu perusahaan. Sebagai alumni Sarjana Muda Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) dan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ekonomi USU, pekerjaan tadi pun memberinya kenikmatan tersendiri.

Dengan menikmati pekerjaannya, Pahala dapat menyisihkan sedikit demi sedikit pendapatan untuk membangun rumah tempat bernaung di Jalan Sejati Gang Kasih No 23A Karang Sari Polonia Medan. Bahkan bersama sang istri Yuliawati Maduwu dirinya menghantarkan kedua buah hatinya Bani Praseto Napitupulu (23) dan Melati Elisabet Napitupulu (21) mengecap pendidikan tinggi di universitas yang menjadi barometer pendidikan di Sumatera Utara (Sumut).

Namun di balik kesuksesan tadi, ada kisah pilu yang pernah dialami pria kelahiran Balige ini. Sebuah konsekuensi dari keinginan memperjuangkan ideologi yang diyakini sebagai kehidupan ideal bagi kaum buruh. “Seperti mengurusi pembukuan perusahaan yang tebal itu, saya juga menikmati saat berjuang membela kaum buruh yang terus dianiaya. Setengah dari penghasilan kubagi untuk dana pergerakan,” tegasnya.

Seperti yang dituturkan Pahala, pergerakan dalam memperjuangan nasib buruh sudah dimulai sejak duduk di bangku kuliah. Tak jarang dirinya turun seorang diri demi mempertahankan ideologi perjuangannya. Hingga akhirnya memutuskan bergabung dengan Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992 pada 1996 silam.

Sebenarnya setelah menamatkan pendidikan dengan gelar sarjana muda (1984), putra ketiga dari enam bersaudara ini sudah bekerja sebagai honorer daerah di Kantor Wilayah Kehutanan Sumut. Satu bulan menjelang pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dirinya justru keluar dan memilih bekerja di PTP V. Lima tahun mengabdi, dirinya menempati posisi Acounting Pembukuan Inti. “Ketika itu masuk PNS gampang. Cukup jadi honor enam bulan bisa langsung diangkat,” kenangnya.

Keputusan untuk keluar membuatnya harus memulai dari nol lagi dan selama satu tahun bekerja serabutan. Tahun 1995, merupakan masa yang paling berkesan baginya saat merintis usaha biro jasa yang kini dikelolanya. Menunggu permintaan, Pahala menunggangi sepedamotor Honda Astuti 79 peninggalan sang Ayah untuk menjajakan kacang tojin, es ganepo, dan makanan ringan ke warung-warung makanan Kota Medan.

Namun dengan moto mempertahankan semangat di dalam diri, Pahala berhasil melewati masa sulit tersebut. Apalagi keputusan keluar dari kenyamanan tadi memberinya ruang dan waktu untuk terus menyuarakan harapan kaum buruh. Bahkan untuk itu dirinya membayar dengan 31 kali masuk hotel prodeo. Selain teror yang terus dirasakannya hingga saat ini. Seperti saat rumahnya diberondong peluru November 2010 silam.

“Banyaklah. Yang ban mobil dikoyak setengah, jadi kalau kita jalan di tikungan bannya pecah dan kita bisa terguling. Knalpot kereta pun pernah dipatah-patahkan. Ya saya cuma tersenyum saja. Terusterang saja, saya memang suka berkelahi untuk membela orang yang dianiaya,” beber Pahala.

Dirinya tak memungkiri bila dukungan anggota keluarga baik istri dan kedua buah hati merupakan kekuatannya. Apa yang bagi Pahala lebih berharga dibanding undangan dari pimpinan partai terbesar di masa orde baru dan tawaran komisi puluhan juta tiap bulannya. Dan hingga kini dirinya tetap berteriak hingga jeritan kaum buruh tidak lagi terdengar. (*)