Pasukan Kadhafi Kuasai Zintan
TRIPOLI- Kelompok oposisi di Libya untuk pertama kali membenarkan korban sipil telah jatuh akibat serangan udara pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di pinggiran Kota Brega, 800 kilometer timur Tripoli. Mendengar kabar itu, Pemerintah Libya langsung mengeluarkan rekaman video yang memperlihatkan korban sipil perempuan dan anak-anak di sebuah rumah sakit di Brega.
“Tak tahu saya mesti bilang apa. Ini gila!” kata juru bicara pemerintah, Mussa Ibrahim.
Disebutkannya, serangan udara NATO membantai warga sipil, “Beberapa perdana menteri dan presiden di Eropa yang gila dan kriminal itu telah melakukan pembantaian terhadap bangsa muslim Arab,”ucap Ibrahim
Seorang dokter di rumah sakit di Brega, Sulaiman Refardi kepada jaringan berita Inggris, BBC mengamini pendapat pemerintah. “Semua yang tewas berumur 12-20 tahun,” katanya.
Ia menuturkan, gempuran pesawat NATO itu menghantam truk-truk berisi amunisi. Tapi ledakannya menghancurkan dua rumah yang berdekatan. Akibatnya, belasan orang tak berdosa tewas.
Menyahuti serangan NATO itu, kelompok oposisi mengakui serangan itu dipicu pasukan Kadhafi. “Tentara pro-Kadhafi menyusup dan menembakkan senjata anti-pesawat ke udara,” kata seorang laskar anti-pemerintah, Mustafa Ali Omar seperti dikutip jaringan televisi Arab, Al-Jazeera. “Eh, tiba-tiba pesawat NATO datang dan membombardir kami,” ujarnya.
Serangan terhadap warga sipil itu juga terjadi di Khoms, 100 kilometer dari Tripoli, dan di Arrujban, kota di sebelah barat daya yang berjarak 190 kilometer dari Tripoli. Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen berjanji akan menyelidiki insiden itu. Namun pejabat Inggris dan Prancis yang memimpin serangan ke Libya, memilih bungkam.
Serangan terhadap penduduk sipil ini bakal memicu pertikaian antara Barat dan negara-negara Arab, yang sejak semula mendesak pemberlakuan zona larangan terbang dan melindungi warga sipil.
Pukulan balik itu membuat kelompok pemberontak menawarkan gencatan senjata. “Kami tak berkeberatan untuk meletakkan senjata,” kata Kepala Dewan Perlawanan Nasional, Mustafa Abdul Jalil, selepas bertemu dengan Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Abdelillah al-Khatibser di Benghazi. “Tapi kami tetap menginginkan Kadhafi dan anak-anaknya pergi,” tegasnya.
Terpisah, pasukan yang setia kepada Pemimpin Libya Muammar Kadhafi menembakkan meriam ke Kota Zintan, sekitar 160 kilometer di barat daya ibu kota, “Pasukan Kadhafi membombardir Zintan dengan tank-tank di Minggu pagi. Mereka masih mengepung kota itu,” kata penduduk, yang dipanggil Abdulrahman. Kelompok oposisi memasuki kota garis depan hanya beberapa jam sebelumnya. Mereka mundur setelah diserang pasukan Kadhafi. (bbs/jpnn)
Sekitar 300 sampai 400 anggota oposisi terlihat berkumpul di jalanan untuk kembali ke daerah yang dikuasai oposisi sekitar 10 kilometer di timur. Ledakan-ledakan kuat menggetarkan daerah gurun saat pasukan oposisi mundur itu dihantam tembakan artileri. Pasukan opisisi membalas dengan menembakkan roket-roket dan meneriakkan, “Allahu Akbar” diselingi tembakan serentak. (bbs/jpnn)