28 C
Medan
Monday, April 6, 2026
Home Blog Page 15475

Tim Pra PON Sumut Semakin Bergairah

Pegawai Bank Sumut Datangi Mes Pemain

Suasana penuh gairah kini melanda tim sepak bola Pra PON Sumut. Ini terjadi karena pada beberapa hari ke depan seluruh pemain sudah bisa menerima uang saku seperti yang dijanjikan KONI Sumut,
beberapa waktu lalu.

Kondisi ini tentu saja bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya, yang mana para pemain hanya menerima uang makan ala kadarnya yang bersumber dari hasil patungan para pengurus.
Selain itu, proses penerimaan uang saku yang sempat dijanjikan itu pun sempat membuat para pemain merasa terkejut. Pasalnya, kemarin (30/3) tiga karyawan Bank Sumut datang langsung ke mes yang berada di Kompleks Stadion Teladan Medan.

Saat mobil dinas Bank Sumut tadi berhenti tepat di depan mes, beberapa pemain mengaku sempat heran. Namun, dibalik rasa heran yang mereka rasakan, terselip sebuah asa jika mobil yang membawa tiga karyawan Bank Sumut tadi akan membawa kabar gembira kepada mereka.

Ternyata apa yang mereka harapkan terwujud. Pasalnya, kedatangan ketiga karyawan Bank Sumut tadi karena ingin mengambil berkas pemain yang akan menerima uang saku dari KONI Sumut yang nantinya disalurkan lewat rekening Bank Sumut.

“Hebat kali pelayanan orang ini (pegawai Bank Sumut, Red). Semoga ini menambah motivasi pemain untuk lebih giat berlatih. Dan saya yakin itu akan mereka lakukan, sebab sebelum ini, tanpa uang saku pun mereka telah berlatih serius sehingga menghasilkan dua gelar, yakni juara Piala Bank Sumut dan juara Inalum Cup,” bilang pelatih Rudi Saari didampigi asistennya Subono AT dan Mardiyanto yang setiap saat berada di mes pemain.
Hanya saja, sebelum menyerahkan berkas-berkas kepada ketiga karyawan Bank Sumut tadi, para pemain sempat kelimpungan, sebab nyaris seluruh pemain tidak memiliki uang sebesar Rp100 agar dapat membuka rekening di Bank Sumut.

Untungnya, pengurus segera mengambil inisiatif dan mengatasi masalah tersebut. “Jadi siapa lagi yang mau ngurusi masalah ini? Bagaimana pun mereka harus tetap kita pikirkan, karena mereka akan menjadi duta masyarakat Sumut ditingkat nasional. Yang pasti, besok (hari ini, Red) mereka tinggal datang ke Bank Sumut untuk mengambil buku rekeningnya masing-masing,” bilang Plt Ketua PSSI Sumut H Idrus Junaidi.

Selanjutnya Idrus membeberkan bahwa tim sepak bola Pra PON Sumut telah berlatih sejak bulan Agustus lalu. Nah, dalam rentang waktu lebih kurang delapan bulan, biaya operasional ditanggulangi secara patungan oleh para pengurus, hingga akhirnya selepas menjuarai Inalum Cup pada awal Februari lalu, latihan sempat terhenti karena pengurus kehabisan dana.

“Selama ini Bank Sumut terkenal memiliki komitmen turut meningkatkan pembinaan olah raga di Sumut. Nah, karena tim ini adalah wakil Sumut yang akan berlaga pada babak Pra PON nanti, kami berharap ke depan mereka bersedia bekerja sama dengan tim ini,” bilang Idrus yang diiringi anggukan kepala Sekretaris Tim Alwi Lubis dan Bendahara Azzam Nasution.

“Kami maklum jika Bank Sumut menjalin kerjasama dengan PSMS, karena PSMS memang telah memiliki nama besar dan nilai jual. Tapi saya yakin ke depannya anak-anak Pra PON ini lah yang menjadi cikal bakal kebangkitan sepak bola Sumut,” pungkas Idrus. (jun)

Rose Herlinda Masih Yang Terbaik

SURABAYA-Atlet pelatnas sekaligus pemegang rekor nasional lontar martil putri Rose Herlinda Inggriana meraih medali emas dengan lontaran sejauh 50,31 meter di Kejuaraan Atletik Jawa Timur Open 2011 di Lapangan Oentoeng Poedjadi FIK Universitas Negeri Surabaya, Selasa (29/3). Dia mengungguli Yurita Ariani A (DKI Jakarta) dengan 44,26 meter serta Nia Meilani Usnia (Jabar) dengan 44,19 meter.

“Saya sudah bekerja sehingga hanya dapat latihan rutin sebulan sebelum Jatim Open,” kata Yurita, yang sebelumnya memegang rekornas tersebut.

Sementara atlet pelatnas Ni Putu Desy Margawaty gagal meraih emas nomor loncat tinggi galah putri. Dia meloncat setinggi 3,50 meter dan harus mengakui keunggulan Lisa Yunita (DKI Jakarta) yang meloncat setinggi 3,60 meter.
Lain halnya dengan Indah Lisa, dia baru seminggu latihan di lari gawang dan finis di urutan kedua nomor lari 400 meter putri dengan catatan waktu satu menit 44,66 detik. Dia kalah cepat dari Maryati (NTB) yang 1:40,40.
“Saya baru pindah ke nomor lari gawang karena mungkin di nomor itu saya masih bisa berkembang dan berpeluang juara,” ujar Lisa,  yang semula turun di 100 meter putri. (net/jpnn)

Venue Sea Games Selesai Akhir Juli

PALEMBANG-ubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin menyatakan keoptimistisannya, bahwa seluruh tempat pertandingan (venues) SEA Games XXVI selesai akhir Juli 2011.

“Kalau mengenai persentasenya saya tidak tahu, sebab selalu berubah, karena progressnya cepat sekali,” ujar Alex ketika ditanya mengenai persentase pembangunan venues SEA Games di Palembang, Rabu (30/3).
Menurut dia, pihaknya yakin kalau seluruh venues yang akan digunakan untuk pesta olahraga dua tahunan itu selesai akhir Juli 2011. Bahkan, lanjutnya, untuk tenis pada akhir April 2011 ini sudah selesai pembangunannya. Hanya aquatic mungkin akan molor satu atau dua minggu.

Namun yang pasti, seluruh venues akan selesai tiga bulan sebelum SEA Games ke-26 dilaksanakan pada 11 November 2011, ujarnya. Tiga bulan sebelum SEA Games semua venues selesai, karena harus diujicoba kejuaraan nasional, syukur-syukur semi internasional,” kata pejabat nomor satu di lingkungan pemerintah provinsi Sumsel itu.
Ia mencontohkan, untuk voli, pada 23 Juli 2011 akan digunakan untuk kejuaraan Asia dan lapangan tenis juga untuk kompetisi tenis dengan mengundang beberapa negara.
Sejumlah venues SEA Games yang dibangun di kawasan Jakabaring antara lain stadion atletik, kolam renang, wisma atlet dan lapangan tembak.

Smsel selain ditunjuk sebagai tempat pembukaan dan penutupan ng olahraga. (net/jpnn)

Hadi Nasri Mengaku Siap

JAKARTA-Menduduki jabatan baru bukanlah pekerjaan yang ringan. Namun begitu, Hadi Nasri yang ditunjuk sebagai Kabid Binpfres PBSI mengaku siap mengemban tugas itu.

“Saya siap meski saya juga menyadari bahwa ini bukanlah tugas ringan, mengingat kondisi bulu tangkis nasional saat ini yang sedang terpuruk,” kata Hadi di Jakarta, Selasa (29/3), seusai bertemu Ketua Umum PBSI Djoko Santoso.
Hadi yang juga mantan anggota Tim Monitoring Kementerian Pemuda dan Olahraga itu dipercaya menggantikan posisi Lius Pongoh, yang mengundurkan diri sejak Januari 2011.
Dalam pertemuan dengan Djoko, Hadi menegaskan bahwa diperlukan kerja ekstra keras untuk mempertahankan tradisi medali emas di Olimpiade London 2012.

“Dengan materi pemain yang hampir tidak ada perubahan dalam beberapa tahun terakhir, sulit untuk berharap banyak kalau tidak diiringi dengan kerja ekstra keras,” kata Hadi, yang menjadi Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi (Wakil Ketua Binpres) saat Indonesia meraih dua emas Olimpiade 1992 Barcelona melalui Alan Budikusuma dan Susi Susanti.

Karena baru dipercaya sebagai ketua di bidang yang strategis tersebut, Hadi mengakui bahwa ia belum bisa menjanjikan apa-apa. Pasalnya, tidak mungkin untuk menyulap prestasi dalam waktu singkat.
“Apa yang bisa saya lakukan dalam waktu dekat adalah melakukan konsolidasi dengan para pemain, pelatih, dan para pengurus, serta berdiskusi dengan mereka mengenai apa yang harus dikerjakan,” katanya.
Hadi juga menegaskan bahwa situasi pada Olimpiade Barcelona 1992 berbeda dengan situasi yang dihadapi bulu tangkis Indonesia kini. (net/jpnn)

Masih Ada Asa PT LI Tolak Wacana 12 Besar

MEDAN- Asa menuju Indonesian Super League (ISL) masih terbuka untuk PSMS. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya memenangi semua laga sisa, baik kandang maupun tandang.
PSMS tertekan sebab upaya finish di peringkat tiga besar berpotensi terganjal.

Persaingan menuju posisi aman untuk melaju ke babak delapan besar memang ketat. Dua penghuni papan atas, PSAP dan Persiraja sudah hampir pasti sulit dikudeta. Satu-satunya harapan adalah finish di posisi tiga di akhir musim, dan memastikan diri masuk delapan besar. Masalahnya babak delapan besar pun bakal sulit karena kompetisi dibagi tiga wilayah. Kalau masing-masing wilayah diambil dua klub terbaik peringkat pertama dan kedua klasemen akhir, maka baru terkumpul enam klub.

Nah, dua kontestan lagi untuk melengkapi kuota delapan besar maka diambil dari posisi tiga terbaik dari tiga wilayah itu. Artinya ada satu wilayah yang hanya mengutus peringkat satu dan dua saja. Semoga hal itu tidak terjadi di wilayah I tempat PSMS bernaung.

Dengan sistem seperti itu, tampaknya tidak cukup adil karena bakal ada tim yang dikorbankan.
Maka itu, sejumlah klub di dua wilayah I dan II mewacanakan agar babak selanjutnya 12 besar, bukan delapan besar. Sayang PT Liga Indonesia (LI) menolak mentah-mentah wacana itu.

Direktur PT LI, Djoko Driyono yang dihubungi Rabu (30/3) menegaskan kompetisi Divisi Utama akan memakai babak delapan besar untuk persaingan menuju ISL. “Wah saya baru dengar ada wacana 12 besar. Kami akan tetap memakai sistem delapan besar, itu sudah sesuai dengan regulasi,” kata Djoko.

Disinggung soal kompetisi yang mungkin terhenti akibat kisruh PSSI, Djoko terlihat gusar.
Djoko menegaskan bahwa masalah PSSI tidak berarti baginya. “Itu orang saja yang menganggap masalah itu (kisruh PSSI) besar. Bagi kami tidak. Kami yakin kompetisi akan terus berjalan,” bebernya.

Di lain pihak, Asisten Manajer PSMS Benny Tomasoa tampak kecewa jika aspirasi sejumlah klub yang menginginkan babak 12 besar jadi pilihan kompetisi tidak diterima. Selain akan lebih adil bagi klub yang berhasil finish di empat besar, babak 12 besar juga akan lebih ramai. “Kami berharap PT LI mau mempertimbangkan usulan peserta kompetisi. Ini demi kebaikan peserta liga juga, bukan demi kepentingan pribadi,” ujarnya.
Namun begitu, Benny lebih senang mengurus kesiapan PSMS sendiri dibanding berharap pada sistem. “Yang penting PSMS harus bisa tampil bagus di sisa laga dan tak sekalipun kalah. Itulah satu-satunya cara untuk bertahan dan berharap bisa melaju ke babak selanjutnya,” bebernya.

“Peluang kita sekarang tinggal finish di peringkat tiga. PSAP dan Persiraja sudah sangat sulit dikejar karena ketinggalan poin kita cukup jauh,” pungkas pria berdarah Ambon itu.(ful)

Motivasi tak Selalu Soal Uang

Akhirnya seluruh skuad plus offisial PSMS merasakan indahnya gajian. Setelah menanti nyaris tiga bulan, para pemain dan staff menerima hak dari keringat yang dikeluarkannya selama ini. Rabu (30/3) sore kemarin dua bulan gaji dicairkan pengurus.

Hal itu tentu saja disambut antusias oleh para pemain. Apalagi pemain yang baru masuk di pertengahan musim seperti Doni Fernando Siregar, Ade Chandra Kirana, Novianto dan pemain asing Almiro Valadares.

“Lega kali rasanya. Hak sudah terpenuhi, sekarang saatnya seluruh skuad membuktikan kepada masyarakat bahwa PSMS bisa melakukan yang terbaik di laga selanjutnya,” kata Doni Fernando Siregar kemarin.

Dijelaskan Doni, cairnya gaji merupakan elemen penting untuk motivasi. Namun lebih dari itu, Doni juga menilai bahwa uang tak selamanya jadi alasan soal motivasi itu sendiri. Menurutnya motivasi dengan cara lain terkadang dibutuhkan pemain. Arahnya tentu saja lebih kepada soal dorongan moral dan dukungan luas dari berbagai pihak pecinta sepak bola di kota ini termasuk fans setia PSMS di manapun berada.

“Terkadang motivasi itu tak melulu soal uang. Kita juga butuh dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, termasuk pengurus, masyarakat, pemimpin dan lainnya. Kalau kita didukung tentu akan menjadi motivasi tersendiri, karena kami juga akan merasakan bahwa kami ternyata tidak berjalan sendirian,” terang mantan pemain Persijap Jepara dan Persiba Balik Papan itu.

“Yang terpenting adalah kemenangan untuk menjamin lolos ke delapan besar,” pungkas Doni.(ful)

Faisal Batal Disidang

Wakil kapten PSMS, Faisal Azmi batal disidang Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Rencananya sidang soal dugaan kasus pemukulan yang dilakukan Faisal terhadap pemain PSSB Bireuen akan digelar hari ini.

Pembatalan itu dikabarkan karena kantor PSSI disegel sejumlah demonstran terkait kisruhnya PSSI.
“Kantor PSSI diambil alih, Faisal tidak jadi sidang. Kami belum mendapat informasi kapan sidang Faisal akan dilakukan,” kata Benny Tomasoa kemarin.

Benny mengaku terus menjalin komunikasi dengan pihak Komdis PSSI, yakni Lauren. Dari koordinasi dengan Lauren didapat jawaban, sidang Faisal ditunda hingga keadaan kembali normal.

Namun menurut Benny, Lauren tidak memberikan jawaban pasti. “Katanya tunggu kondisi membaik,” beber Benny.
Dari pembicaraan dengan Lauren,  Benny menyatakan, Faisal tetap akan diturunkan saat PSMS menghadapi PS Bengkulu di Stadion Teladan Medan  6 April mendatang. “Saya juga sudah memastikan kepada Lauren, katanya Faisal tetap bisa main di pertandingan berikutnya,” pungkas Benny. (ful)

Tak Jadi Belanja

Dari rumah, Peratmiati br Barus (49), warga Jalan Jamin Ginting Gang Serasi, Padang Bulan sudah merencanakan akan membeli segala kebutuhannya usahanya. Namun, rencana tersebut pupus, karena tas miliknya yang berisi uang jutaan rupiah raib dirampas dua pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor Mio warna putih tanpa plat polisi, Rabu (30/3).

Ceritanya, saat itu Peratmiati menumpang becak bermotor hendak berbelanja ke Pusat Pasar. Namun di perjalanan, tepatnya di Jalan Sumatera/Jalan Tapanuli, tiba-tiba dua pria mengendarai sepeda motor Mio memepet becak motor yang ditumpanginya. Peratmiati kaget, tas yang disandangnya dirampas. Spontan dia menjerit minta tolong. Namun sayang, kedua pria tersebut berhasil melarikan diri.

“Saya dirampasnya dari samping saat di dalam becak bermotor. Isi tas saya sekitar Rp5 juta untuk belanja. Mereka naik sepeda motor warna putih,” jelasnya kepada wartawan koran ini dengan nada sedih.

Kanit Reskrim Polsekta Medan Area, AKP Jonser Banjarnahor SH mengatakan, pihak sudah menerima laporan korban dan akan melakukan penyelidikan. “Laporannya sudah kita terima. Anggota sudah kita perintahkan untuk memburu pelaku,” katanya.(jon)

Kadishub Sumut Bakal Diperiksa

Pungli Jembatan Timbang

MEDAN- Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) kembali melakukan pemeriksaan terhadap tiga pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut yang tertangkap tangan melakukan pungutan liar (Pungli) di Jembatan Timbang Sibolangit pada Kamis (24/3) lalu. Bahkan, Kajatisu telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Sumut, Razali.

“Sudah dijadwalkan pemeriksaan terhadap Kadishub Sumut untuk mengetahui apakah dia terlibat dalam kasus pungli tersebut,” ujar Kepala Seksi Penyidikan (Kasidik) Pidana Khusus (Pidsus) Kejatisu, Jufri SH di kantornya Jalan AH Nasution Medan, Rabu (30/3).

Namun, Jufri tidak bersedia memberitahukan kapan pemanggilan tersebut akan dilakukan. Dikatakannya, jika Kadishub Sumut tidak mau menghadiri panggilan maka pihaknya akan mengambil tindakan tegas.
“Jika dia tidak hadir, berarti ada perbuatan menghalang-halangi penyelidikan dan bisa juga dikenakan pidana,” katanya.

Pada kesempatan itu, Jufri juga mengatakan, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap tiga tersangka oknum pegawai Dishub yang melakukan pungli. “Hari ini (kemarin, Red) kami kembali melakukan pemeriksaan untuk lebih menyempurnakan BAP,” paparnya.

Menurut Jufri, ketiga oknum pegawai Dishub itu masih akan terus menjalani pemeriksaan, selain untuk penyempurnaan BAP, juga sekaligus menggali keterangan dan bukti baru apakah ada keterlibatan pimpinan mereka dalam kasus itu.

Memang sejauh ini, lanjutnya, pihaknya belum mendapat informasi lain, tentang keterlibatan pihak lain selain ketiga oknum itu. “Belum ada penambahan tersangka, masih yang tiga kemarin,” tegasnya.

Diketahui, ketiga oknum Dishub yang ditangkap di Jembatan Timbang Sibolangit tersebut yakni Marlon Sinaga, Ahmad Sofyan, dan Panal Simamora. Dari TKP tim penyidik menyita barang bukti uang senilai Rp16 juta diduga hasil pungli.

Sebelum melakukan penyergapan, tim intelijen Kejatisu lebih dulu melakukan pengintaian selama beberapa hari. Mereka dijerat dengan UU No 31 tahun 1999 diubah UU No 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. (Rud)

Layanan Jampersal Bisa tak Maksimal

Petunjuk tekhnis (juknis) dari Kemenkes RI tentang program Jaminan Persalinan (Jampersal) sudah turun. Di Sumatera Utara, anggarannya sebesar Rp110.846.366.000 untuk 33 kabupaten/kota. Sehingga kaum ibu yang ingin melakukan persalinan sudah bisa menikmatinya.

Namun, anggota DPRD Sumut dari Fraksi PKS, Siti Aminah mengaku khawatir jika pelayanan dari program Jampersal ini bakal tak maksimal. Pasalnya, klaim yang diterima tim medis maupun rumah sakit sangat minim yakni, untuk persalinan normal Rp350.000, pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali per ibu hamil Rp10.000 sekali pemeriksaan, dan pelayanan setelah persalinan (nifas, bayi baru lahir dan KB) Rp10.000 sebanyak tiga kali kunjungan serta pelayanan pasca keguguran, persalinan per vaginaan dengan tindakan emergensi dasar sebesar Rp500.000.
Berikut petikan wawancara wartawan Sumut Pos Bagus Syahputra dengan Siti Aminah, beberapa hari lalu.

Seperti apa Anda menilai program Jampersal yang bakal dilaksanakan?
Saya menilainya, petunjuk teknis (Juknis) dari program Jampersal ini harus dikaji ulang. Sebab, Jampersal hanya berlaku persalinan ibu hamil untuk anak pertama dan kedua saja. Bagaimana bagi ibu yang sedang menjalani persalinan anak ketiga? Pasti dia tidak bisa merasakan manfaat dari program ini. Seharusnya, Jampersal untuk semua anak.

Walau program Jampersal untuk mendukung keluarga berencana, tapi semua anak yang dilahirkan dari rahim ibu itu berhak mendapatkan pertolongan medis sewaktu bersalin secara maksimal. Nah, seharusnya Jampersal berguna bagi semua anak.

Lalu, apakah Anda yakin pelayanan yang diberikan dari program Jampersal ini dapat berjalan maksimal?
Saya kurang yakin, karena nilai klaim yang diberikan kepada tim medis sangat murah. Saya takut, pelayanan dari tim medis terhadap pasien Jampersal tidak maksimal.

Kemudian, pihak rumah sakit maupun klinik bersalin akan nombok akibat klaim yang sangat murah tersebut. Harusnya, Menkes memberikan tarif yang sesuai dengan biaya normal di masing-masing kabupaten/kota.

Menurut Anda, apakah program ini mampu menekan angka kematian ibu dan anak?
Harus dipahami, melahirkan tidak seperti kita bekerja, waktunya sudah diatur. Tapi, seorang ibu bisa melahirkan kapan saja. Bisa dini hari, malam hari maupun siang hari.

Saya pernah melihat seorang ibu yang akan melahirkan meninggal dunia karena dokter piket pada malam hari tidak ada. Harusnya ibu tersebut melahirkan dengan cara operasi, dipaksa normal. Akhirnya ibu dan bayinya meninggal dunia.

Dari pengalaman itu, program Jampersal harus didukungan dengan tim medis yang memadai seperti di rumah sakit umum harus siaga dokter jaga dan peralatan medis yang memadai.

Program ini belum diketahui masyarakat luas, lalu bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan program ini?
Program ini awalnya direncanakan berjalan sejak Januari 2011 lalu. Namun akhirnya molor, baru akhir Maret ini juknisnya turun dari Menkes. Agar program ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, Dinkes kabupaten kota harus mempublikasi melalui media massa, membuat brosur atau selebaran dan sebagainya.

Yang saya khawatirkan, program ini tidak menyentuh kaum ibu yang ada di perkampungan karena tidak mengetahui program Jampersal ini. Ditambah lagi, tidak ada publikasi yang memberitahukan akan program Jampersal ini.
Karenanya, ini menjadi tugas kita bersama untuk mensosialisasikannya kepada masyarakat, khususnya peran media yang paling vital. Karena melalui media semua akan cepat sampai ke masyarakat.(*)