Home Blog Page 15495

Dia Datang, Dia yang Dikenang

Ramadhan Batubara

Ruang redaksi Majalah Pandji Pustaka, suatu hari pada 1943, kedatangan seorang muda kurus pucat dan tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah tersebut.

Saat itu, sepertinya tak akan ada yang menduga kalau lelaki muda tersebut di kemudian hari menjadi sosok yang sangat berpengaruh. Apalagi, sajak yang dia bawa yang berjudul ‘Susunan Dunia Baru’ tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu membarat.

Hm, cerita di atas disampaikan oleh HB Jassin, cerita yang sudah populer di kalangan pecinta sastra. Tentu ini tentang Chairil Anwar; bapak revolusi puisi Indonesia. Dari kutipan cerita di atas, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Yakni, perhatikan usaha yang dilakukan oleh Chairil agar sajaknya bisa dibaca orang. Ya, dia datangi kantor majalah itu tanpa malu-malu. Ada sebuah kepercayaan diri yang kental dalam sosok ini. Seakan dia tak pernah merasa takut. Padahal dia tahu, di zaman itu, sajak semacam karyanya bukanlah pilihan media atau juga khalayak. Sajak yang berharga adalah sajak yang berima, berbait, mengandung sampiran dan isi, dan sebagainya. Intinya adalah sajak lama seperti dalam sejarah Sastra Indonesia. Tentu, sajaknya tak layak muat (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?).

Pertanyaan yang muncul dari kejadian tersebut adalah mental kuat yang dimiliki Chairil sejatinya berasal darimana? Apakah karena dia masih keluarga Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia? Hm, tampaknya terlalu picik melihat dari sisi itu walau sebenarnya bisa saja benar. Nah, setelah berusaha mencari tahu, dari beberapa literatur terungkaplah kenapa Chairil bisa memiliki mental semacam itu.

Begini, teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah. “Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam.”

Ya, Chairil dilahirkan di sini di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir. Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah. Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginan Chairil pasti dipenuhi termasuk mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela.

Bahkan kalau perlu ikut berkelahi. Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Tampaknya latar belakang kehidupan Chairil tersebut bisa dijadikan pembentukan mentalnya. Nah, setelah sajak ‘Susunan Dunia Baru’ dianggap tak layak, apakah dia putus asa atau malah membabi buta marah pada redaksi Pandji Pustaka? Jawabnya tidak  (bagaimana dengan sikap penyair dan calon penyair di zaman sekarang?). Dia malah sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan membarat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).
Setelah itu, siapa yang tak kenal Chairil Anwar?

Sayangnya, vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisik yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Begitulah Chairil, terlalu banyak yang bisa diceritakan tentang sosok ini, namun saya hanya ingin mengambil semangatnya saja. Setidaknya bagi saya, meskipun bukan berproses menjadi penyair ketika di Medan, dia adalah putera kelahiran Medan. Sayangnya, kenapa peringatan Hari Chairil Anwar yang jatuh pada 28 April tak hingar-bingar di tempat dia lahir? Ah, masih terekam di otak saya ketika masih di Yogyakarta beberapa tahun lalu. Setiap April, kampus dan lembaga kebudayaan lainnya seakan berebut untuk memanfaatkan momen itu. Fiuh.

Ah sudahlah, saya hentikan saja lantun ini. Saya ingin mencerna dengan benar beberapa kalimat yang ditulis Chairil di tahun kematiannya, 1949. Sajak yang berjudul ‘Yang Terampas dan Yang Putus’: Kelam dan angin lalu mempesiang diriku//Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin//Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu//Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin//Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang//Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang//Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku. (*)
28 April 2011

Daging Bisa Bikin Perasaan Tenang

Apakah akhir – akhir ini Anda mudah marah sepulang dari kantor? Bisa jadi disebabkan karena faktor beban kerja yang tinggi. Coba saja menyantap sepotong beefsteak. Bukan hanya rasanya gurih enak, tetapi daging ternyata juga membuat perasaan lebih tenang.

Mitos yang menyatakan makan daging merah membuat manusia bertindak agresif terbukti keliru. Pasalnya penelitian yang dipimpin oleh seorang psikolog bernama Frank Kachanoff menemukan bahwa daging merah memiliki efek menenangkan.

Makan daging merah banyak memberikan kandungan protein dan zat besi serta sejumlah nutrisi lain yang diperlukan oleh tubuh. Daging merah, merupakan sebutan untuk daging dari ternak seperti sapi, kerbau, domba, kambing, kuda, babi, dan lain-lain.

Seperti dilansir timesofindia, Kachanoff melibatkan sekitar 82 orang dalam penelitian ini. Ke-82 orang tersebut diharuskan untuk melihat berbagai gambar daging merah.

Setelah itu, mereka diberi pertanyaan mengenai perasaan mereka setelah melihat foto-foto daging merah tersebut.
Menurut penelitian ini, daging merah berkaitkan dengan menu makan malam keluarga. Partisipan ingat kehangatan keluarga di saat-saat menyantap daging merah bersama. Ini merupakan alasan mengapa daging merah memiliki efek menenangkan.

Temuan ini tentu saja bertolak belakang dengan mitos bahwa daging merah dapat membuat orang bertindak agresif.
Cobalah mulai sekarang menyajikan menu masakan dari daging dalam menu sehari-hari. Tidak hanya enak tapi juga bisa membuat perasaan santai dan tenang.

Kachanoff menambahkan, “Masuk akal jika daging merah memiliki efek menenangkan, karena sejak dulu nenek moyang selalu dikelilingi keluarga dan temana saat makan malam bermenu daging,’ ujar Kacahnoff dari McGill Unibversity seperti dikutip Daily Express.(net/jpnn)

Khas Sunda, Manis dan Pedas

Restoran Iga Bakeol Hideung

Bagi pencinta masakan daging sapi, bisa datang ke Restoran Iga Bakeol Hideung Jalan Thamrin No 88 Kota Tebing Tinggi. Restoran yang satu ini khusus menyajikanmenu masakan iga sapi bakar.

Masakan khas Sunda ini, memiliki ciri khas tersendiri, dimana daging sapi sengaja didatangkan dari Australia. Restoran yang buka setiap hari, mulai pukul 11.00-23.00 WIB ini juga menyajikan bumbu racikan yang didatangkan dari daerah Sunda, Jawa Barat. Dengan demikian masakan ini, memiliki ciri khas pedas dan manis.

Menejer Restoran Iga Bakeol Hideung, Samsuddin mengungkapan, iga sapi bakar ini adalah menu favorit di restorannya. “Kita tampil beda dengan yang lain. Di sini menu-menu yang disajikan semuanya bahan dasarnya daging sapi,” kata Samsuddin.

Selain iga sapi bakar, ada juga iga sapi kremes, oseng-oseng iga sapi, taucho iga sapi dan lada hitam iga sapi. Tapi yang paling favorit tetap iga sapi bakar .

Lantas bagaimana proses pembuatannya? Ditanya begitu Samsuddin menjawab, iga sapi bakar terlebih dahulu direbus hingga empat jam sampai rasa daging lunak dan lembut.

Kemudian daging ditiriskan agar kandungan air berkurang, selanjutnya iga sapi bakar dipanggang di atas bara api selama sepuluh menit dengan olesan bumbu racikan sepesial ala sunda.

“Untuk bumbunya rahasia, kita meraciknya sendiri dengan bumbu ala khas Sunda. Sementara untuk cita rasa kita tampilkan rasa pedas dan manis agar lidah pengunjung merasa nikmat,” bilangnya.

Biasanya iga sapi bakar ini disajikan dengan menggunakan sambal terasi, sambal kecap dan dihiasi dengan potongan mentimun, tomat serta daun seledri. Ada juga menu tambahan seperti tempa dan tahu goreng serta sepiring nasi putih hangat. “Bukan itu saja, pengunjung juga bisa memesan menu  lainnya seperti sea food serta aneka minuman berupa jus buah segar dan harganya pun tergolong standar untuk lapisan masyarakat menengah ke bawah,” jelas Samsuddin. Iga sapi  bakar ini dipatok dengan harga Rp20.000 per  porsi. Selain itu, menu ini juga bisa dipesan untuk merayakan ulang tahun atau acara keluarga lainnya, karena restoran ini menyediakan tempat untuk kapasitas 250 orang.

Rosminto salah seorang pengunjung, mengaku, hampir tiap Minggu datang ke restoran ini. Menurutnya, cita rasanya  cocok dengan lidahnya. (mag-3)

Perempuan Sukses Bukan karena Emansipasi

Dari Diskusi Peringatan Hari Kartini di Fakultas Ilmu Budaya USU

Emansipasi atau penyetaraan antara derajat wanita dengan laki-laki bukan lagi menjadi isu utama dalam setiap momentum peringatan hari Kartini yang jatuh pada 21 April setiap tahunnya.

INDRA JULI, Medan

Setidaknya hal itu yang coba dibangun Bidang Pemberdayaan Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam (PP HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) lewat kegiatan peringatan Hari Kartini di taman FIB, Selasa (27/4). Dalam hal ini panitia dilakoni seluruhnya oleh mahasiswi yang mengenakan  kebaya sebagai simbol feminismen

Sebagai kaum hawa, panitia sukses memperlihatkan kreatifitasnya dalam merangkul Pemerintahan Mahasiswa (Pema) FIB USU, Generasi Muda Pencinta Alam FIB USU, dan Teater O USU, yang juga didukung Pemerintah Kota (Pemko) Medan dalam menggelar diskusi memperingati Pahlawan Emansipasi Wanita itu. Pemahaman akan perjuangan Raden Ajeng Kartini akan kesetaraan antara pria dan wanita di muka bumi.

Seperti yang dinyatakan Elvi Sumanti SS MHum, staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), bahwasanya Kartini masa kini dituntut untuk lebih banyak berbuat sesuai kodrat dan fitrahnya sebagai perempuan, istri atau sebagai ibu. Lebih jauh, mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya itu mengatakan, bahwa kesuksesan wanita bukan karena emansipasi yang di tunjukkannya, tetapi dari kinerja dan kerja kerasnya.

“Suksesnya seorang perempuan itu bukan karena emansipasi, tapi lebih karena kita kerja keras melebihi dari apa yang dikerjakan oleh sesama wanita lainnya bahkan lebih dari laki-laki tanpa menafikan kodrat dan tanggungjawabnya pada keluarga,” ucapnya.

Sementara itu, pengajar senior di FIB USU, DR Pujiati mengakui Kartini termasuk wanita hebat yang yang sejajar dengan perempuan perempuan pengubah dunia lainnya. Sehingga ia mendapat penghormatan dari Negara Keasatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai pahlawan nasional.

“Momentum luar biasa didapat bangsa Indonesia ketika Kartini lahir dan tumbuh, sebab disaat kita sedang dijajah bangsa asing yang notabene bangsa asing itu tak mengakui wanita juga harus mendapat tempat yang sejajar dengan pria dalam berbagai bidang, Kartini lahir dan memengaruhi pandangan wanita di Belanda akan dirinya dan kedudukannya dalam kelas sosial masyarakat,” ungkapnya.

Mantan Ketua Korps HMI-Wati Cabang Medan ini juga menyebut bahwa dalam Islam peranan wanita tidak hanya dijamin kemerdekaannya juga dimuliakan. Ia lalu mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan keberhasilan seorang pria tak lepas dari pendidikan yang ia terima dari ibunya. Lebih tegas ia mengungkapkan, dalam Al-quran tercatat di surat Annisa, Allah SWT telah menempatkan wanita sebagai makhluk yang sangat disayanginya.

Terkait kesuksesan wanita di masa kini, Puji mengajak peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa perempuan dari berbagai organisasi yang ada di USU itu untuk memiliki KSV, yaitu Knowledge, Skill, dan Value. “Kalau di Indonesiakan menjadi, memiliki ilmu pengetahuan, keahlian dan nilai tawar,” ucapnya.

Ketua panitia diskusi tersebut, Sophia Mastura mengakui saat ini apatisme terkait permasalahan lingkungan dan sekitarnya terutama persoalan politik dan sosial, memenjara sebagian besar mahasiswa perempuan yang ada di FIB USU. “Sehingga keterlibatan mereka dalam kegiatan kemahasiswaan sangat minim, maka dengan memperingati harti kartini ini kita ingin lebih jauh mengajak kawan-kawan mahasiswa cewek untuk lebih banyak berbuat,” ucapnya.

Diskusi dengan tema perempuan dalam bingkai kemerdekan ini juga di hadiri Pembantu dekan II FIB USU, Yudi Adrian M.Hum serta sejumlah aktivis mahasiswa perempuan USU (*)

Tertibkan PKL di Pajak Palapa

083199026xxx
Pak kapan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Mayor pajak palapa ditertibkan, kami penghuni rumah mau masuk dan keluarin mobil saja mesti tiap hari ribut. Terimakasih

085260572xxx
Pak Pemko yang terhormat, tolong PKL palapa ditertibkan soalnya PKL pinggir Jalan Yos Sudarso masuk ke Jalan Mayor. Hal ini berakibat kemacetan.

Pemko Komitmen Menata PKL
Terimakasih informasinya, kami dari Pemko Medan memiliki komitmen untuk melakukan penataan di seluruh wilayah di Kota Medan. Termasuk untuk menata PKL di sejumlah titik di Kota Medan.

Bila ada kejadian pemilik rumah juga tak bisa masuk akibat terhalang PKL, tentunya hal ini tak boleh dibiarkan. Sudah seharusnya segera ditertibkan agar tidak terjadi keributan lainnya.

Penertiban yang kami maksudkan untuk dilakukan penataan yang lebih baik, rapi dan tidak mengganggu pemilik rumah tersebut.

Syaiful Bahri
Sekda Medan

Kami Bersihkan
Kami bersihkan segera, kemudian kami koordinasikan persoalan ini dengan Kasi Trantib Medan Barat. Sebab, setiap pedagang tidak dibenarkan berdagang dan menutupi rumah orang lain. Bila dalam dua hari ini tidak bersih, saya yang akan mimpin anggota untuk menata kawasan tersebut. Terimakasih.

Kriswan
Kepala Sat Pol PP Kota Medan

Tilang Sepeda Motor Knalpot Blong

085262722xxx
Kepada Yth Bapak Kapolresta Medan mohon diambil tindakan kepada pengendara sepeda motor yang memakai knalpot blong. Mereka sangat mengganggu warga yang lagi sholat berjemaah di Masjid pada waktu Mahgrib  dan Isya atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan. Terimakasih semoga harian Sumut Pos jaya

082166198xxx
Kepada Bapak Polri tolong ditertibkan kenderaan yang sengaja knalpotnya di racing-kan sama telah mengganggu lingkungan. Terimakasih

Kami Razia
Terimakasih, kami dari Sat Lantas Polresta Medan memiliki komitmen untuk menertibkan kendaraan yang tidak sesuai dengan aslinya dan tak memiliki dokumen. Kami rutin menggelar razia, kemudian kami ingatkan kepada para pemilik kendaraan untuk melengkapi kendaraannya sebagaimana mestinya.

Bila diketahui ada perubahan bentuk, seperti knalpot blong kami akan lakukan penertiban. Selanjutnya, kepada penjual accesoris agar tidak menjual produk tersebut.

Kompol I Made Ary Perdana
Kepala Sat Lantas Polresta Medan

Air PDAM Tirtanadi Mati

083197921xxx
Kepada Yth Pimpinan Tirtanadi kami masyarkat Jalan Langgar lorong Damai IV Kecamatan Medan Area telah 3 minggu air di tempat kami mati. Kami tidak bisa masak, nyuci dan lain-lain mohon dihidupkan kami resah atas kejadian ini. Terimakasih

Kami Teruskan ke Cabang
Informasi ini kami teruskan ke Cabang Medan Denai, segera mungkin kami cek, bila dibutuhkan perbaikan, maka kami segera melakukannya. Tapi, kami meminta kepada masyarakat untuk bersabar atas ketidak nyamanan ini, karena kami tetap ingin wujudkan pelayanan yang terbaik kepada warga.

Zaman Karya Mendrofa
Humad PDAM Tirtanadi

Komunitas Sendal Jepit Bangun Kemandirian Anggota

Tidak seperti komunitas kebanyakan yang hanya penyaluran hobi maupun ketertarikan yang sama, komunitas Sendal Jepit justru membangun kemandirian anggotanya.

Perkembangan dunia fotografi yang tidak lagi sebatas hobi menjadi pertimbangan Dudy Fazriansyah mengaktifkan kembali komunitas ‘Sendal Jepit’ 2007 lalu dengan fokus pada dunia desain grafis dan fotografi. Dengan merangkul beberapa fotografer di Kota Medan, mereka pun menggelar pelatihan untuk anggota yang ingin bergabung.

“Sampai saat ini kita sudah melaksanakan pelatihan dalam empat gelombang yang rencananya Mei ini kita buka gelombang kelima,” ucap Dudy ditemui di Studio Sendal Jepit Jalan Karya Wisata Blok III No.21 Johor-Medan, Rabu (27/4).

Sesuai dengan misi Sendal Jepit itu sendiri, anggota pun dikenalkan dengan dunia fotografi khususnya wedding photography dan model yang dimulai dari pengenalan kamera. Dengan delapan kali pertemuan setiap Rabu peserta pelatihan dipastikan sudah memiliki kemampuan fotografi juga desain grafis. Kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan.

Hebatnya, pelatihan yang sudah membuahkan banyak prestasi lewat anggotanya tersebut tidak mengenal uang kursus seperti di lembaga pendidikan fotografi kebanyakan. Peserta hanya membayar Rp150.000 untuk mendapatkan pelatihan yang berlangsung santai tapi serius. Bahkan, disertai dengan cemilan ringan tradisional Indonesia alias gorengan.

“Sebenarnya uang itu juga untuk mereka karena bukan (uang) tujuan kita. Tapi seluruh peserta bisa memiliki modal untuk menjadi fotografer maupun desainer grafis. Juga dari pengalaman saya yang begitu sulitnya untuk belajar padahal kita banyak kenal orang-orang yang paham bidang itu. Ya setelah tamat, seluruh peserta juga bebas mau bergabung atau jalan sendiri,” tambahnya.

Sebagai komunitas fotografi, Sendal Jepit juga aktif dalam kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan. Seperti aksi bersih-bersih di objek wisata air terjun dua warna di Sibolangit November 2009 lalu. Kegiatan yang mendapat apresiasi dari masyarakat ini diikuti 60 peserta dan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di kampus-kampus se-Kota Medan.

Sendal Jepit juga meramaikan pelestarian Jembatan Kebajikan Jalan Zainul Arifin dan aksi mencabut paku-paku reklame di Kota Medan. Maret lalu mereka juga baru menyelesaikan perburuan objek-objek wisata di Lau Kawar Karo. Beberapa prestasi yang sudah diraih seperti Juara I Gambaran Nias atas nama Arif, Juara I Imlek Fair atas nama Melisa, Juara I Yamaha School Matic atas nama Hafid, Juara III Terbaik Hunting Akbar, dan banyak prestasi lainnya.

Hal itu pun dibenarkan Rio yang bergabung di gelombang pertama. “Dulu saya tidak terpikir untuk mengabadikan momen-momen yang sebenarnya sangat menjual untuk dunia pariwisata. Setelah bergabung di Sendal Jepit ini semua itu bisa saya terapkan,” akunya.

Tak jauh berbeda dengan Sylvi yang bergabung akhir 2009 lalu. Di Sendal Jepit, wanita berambut sebahu ini memperoleh banyak manfaat untuk mengembangkan kemampuan fotografinya. Salah satunya mengetahui tentang foto studio. “Di sini saya mendapat banyak manfaat dimana anggota bisa saling mengisi. Itu yang tidak saya dapatkan selama ini,” ucap Sylvi. (jul)

Dahulukan Protap atau Sumtra, Tidak Masalah

MEDAN-Jatah satu provinsi baru di Sumatera Utara hasil pemekaran, diminta tidak dipolemikkan. Permintaan itu datangdari dua tokoh pemekaran Provinsi Tapanui (Protap) dan Sumatera Tenggara (Sumtra).

“Menurut saya, peluangnya sama. Semua persyaratan sudah diserahkan ke pemerintah untuk dibahas lebih lanjut,” kata Tahan Manahan Panggabean, salah seorang panitia pembentukan Protap kepada Sumut Pos, Jumat (29/4).

Yang pasti, pemerintah pusat akan melakukan pertimbangan teknis, pertimbangan administratif, pertimbangan kewilayahan, pertimbangan ekonomi, hukum beberapa hal lainnya. “Ini bukan persoalan, mana yang harus didahulukan. Maka dari itu, pemerintah pusat pasti dan harus merespon permintaan masyarakat,” ungkapnya.

Wakil Ketua Panitia Daerah Sumtra Syukri Daulay menyatakan hal senada. “Yang terpenting, pemerintah baik eksekutif maupun legislatif mau merespon.

Dua rencana pemekaran tersebut adalah keinginan dan berdasarkan hati nurani rakyat. Soal mana yang lebih dulu dimekarkan, keputusan pemerintah,” bebernya.(ari)

Tertibkan Ternak Babi

081370946xxx
Yth Bapak Wali Kota Medan, tolong ditertibkan ternak babi di lingkungan kami di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kecamatan Medan Area tepatnya Jalan AR.Hakim Gang Pendidikan Lingkungan XI, karena sangat menggangu warga setempat.

Kami Tertibkan Bertahap
Terimakasih, kami di Pemko Medan khususnya Dinas Pertanian dan Kelautan bersama dengan Sat Pol PP tetap melakukan penertiban di seluruh wilayah di Kota Medan. Hanya saja untuk melakukan penertibannya tetap bertahap, gunanya agar seluruh wilayah tetap bersih dari ternak babi.

Sekarang ini, kami masih fokus melakukan penertiban untuk wilayah Medan bagian Utara, selanjutnya akan kembali ke wilayah Medan Denai dan sekitarnya untuk penertiban lanjutan. Sebab, dilakukannya penertiban ini sebagai bagian penegakan aturan.

Ir Wahid M Si
Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan