31 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 15538

Pernikahan Krisdayanti-Raul Lemos

Anang Tak Hadir, Putrinya Bawakan Cincin Nikah

Krisdayanti (KD) dan Raul Lemos akhirnya menikah kemarin (20/3). Seluruh anak mereka dari pasangan sebelumnya hadir dan menyaksikan ijab kabul. Tetapi, mengapa Anang Hermansyah (mantan suami KD) dan Sechah Salem Syagran (mantan istri Raul) tidak hadir?

M DINARSA KURNIAWAN, Jakarta

Krisdayanti langsung melambaikan tangan kanan ke arah para wartawan yang menunggunya untuk memberikan komentar. Itu terjadi kemarin pagi, setelah KD, panggilan akrab Krisdayanti, melangsungkan akad nikah. Tak lama berselang, perempuan 36 tahun tersebut menghampiri para pemburu berita sembari bergelayut mesra di lengan Raul yang telah resmi menjadi suaminya. Mengenakan pakaian berwarna senada kelabu keperakan rancangan Anne Avantie, mereka terlihat sangat mesra.

Pasangan Raul-KD melangsungkan akad nikah di Masjid Sahid Nurul Iman, Grand Sahid Hotel, Jakartan
pada pukul 09.00 WIB. Dalam acara itu, media dilarang meliput secara langsung. Media hanya bisa melihat prosesi tersebut dari monitor yang dipasang di luar masjid.

Akad nikah KD-Raul dipimpin Ketua KUA Tanah Abang Ashrof Syahroni. Hadir sebagai saksi dari pihak mempelai perempuan adalah mantan Wakil Presiden Try Sutrisno. Sedangkan saksi dari pihak mempelai lelaki adalah Arif Abdullah, ketua Komunitas Masyarakat Muslim Timor Leste.

Berdasar pantauan lewat layar kaca, terlihat wajah tegang KD dan Raul saat melakoni prosesi sakral tersebut. Ijab kabul dilakukan secara langsung oleh ayah KD, Trenggono. Setelah dinyatakan sah oleh para saksi dan orang-orang yang hadir di sana, raut kelegaan terpancar di wajah mereka berdua.

Raul pun menyerahkan maskawin berupa seperangkat alat salat kepada KD. Sesaat kemudian, seperti yang kerap didemonstrasikan oleh pasangan tersebut, mereka berciuman. Bibir KD dan Raul saling bertaut, lantas dipungkasi dengan mendaratnya kecupan Raul di kening KD.

“Saya bahagia karena sekarang kembali menjalani peran sebagai seorang istri. Lahir batin saya mencintai Raul. Insya Allah kami selalu bersama,” ungkap KD saat memberikan keterangan kepada pers, didampingi Raul dan kakaknya, Yuni Shara.

KD menambahkan bahwa dirinya sudah yakin memilih Raul sebagai pendamping hidup. Raul pun mengucap syukur setelah akhirnya resmi menyunting KD sebagai istri. Akan berbulan madu ke mana? Raul maupun KD tidak memberikan jawaban jelas. “Baiknya bulan madu ke mana?” celetuk Raul.

Setelah memberikan pernyataan singkat, mereka lalu memamerkan cincin yang melingkar di jari manis masing-masing serta menunjukkan buku nikah. Kemudian, lagi-lagi mereka memamerkan aksi ciuman.
Raul mencium bibir KD, diakhiri dengan kecupan di kening personel 3Diva itu. Kemudian, manten anyar tersebut masuk ke mobil Toyota Alphard berwarna hitam bersama Yuni dan meninggalkan kerumunan puluhan wartawan.
Resmi menyandang sebutan Ny Raul, sangat mungkin KD akan menanggalkan statusnya sebagai diva populer di Indonesia dan mengikuti sang suami yang menjadi pengusaha di Dili, Timor Leste. Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, KD pernah menyatakan hal tersebut.

Kemungkinan itu diperkuat oleh pernyataan Trenggono, ayah perempuan kelahiran Batu, Jawa Timur, 24 Maret 1975, tersebut. “Kalau dia harus ikut Raul tinggal di Dili, kami sudah ikhlas. Sebab, seharusnya istri memang mengikuti suami,” ungkap lelaki 69 tahun yang tinggal di Bali tersebut. “Orang tua hanya bisa memberikan restu agar mereka bahagia sampai kaken-ninen,” tambahnya.

Lalu, mengenai kakak KD, Yuni, yang juga dikabarkan bakal melangsungkan pernikahan, Trenggono berharap sang anak segera meresmikan hubungan dengan sang kekasih, Raffi Ahmad. Soal berapa anak yang diinginkan dari Raul, beberapa waktu lalu KD bilang hanya menginginkan seorang anak.

Akad nikah KD dan pujaan hatinya itu memang berkesan personal. Sebab, hanya keluarga dan sejumlah kerabat dekat yang terlibat langsung dalam prosesi itu. Selain Trenggono, hadir ibu KD, Rachma Widadiningsih.
Titania Aurelie Nurhermansyah dan Azriel Akbar Hermansyah, anak-anak KD dari pernikahan sebelumnya dengan Anang, juga tampak di sana. Bahkan, Aurel yang mulai merintis karir sebagai penyanyi tersebut didaulat menjadi pembawa cincin pernikahan. KD resmi berpisah dengan Anang pada 18 Agustus 2009.

Empat buah cinta Raul dengan istri terdahulu, Sechah Salem Syagran atau yang biasa dipanggil Atha, juga terlihat di antara para undangan. Selain itu, sejumlah selebriti menjadi tamu di acara tersebut. Di antaranya, Maia Estianty, Desy Ratnasari, Silvana Herman, Iis Dahlia, dan Alya Rohali.

Kendati demikian, Anang maupun Atha tidak hadir dalam prosesi tersebut. Menurut Aurel, Anang sakit flu. Sedangkan Atha memang tidak hadir. Aurel mengatakan bahwa dirinya bahagia karena akhirnya sang ibu kembali menemukan kebahagiaan.

“Pipi (panggilan Aurel untuk Anang, Red) datang waktu resepsi nanti (24 Maret di Hotel Mulia, Jakarta, Red). Kalau nanti Mimi (panggilan Aurel untuk KD, Red) pindah ke Dili, saya pasti kangen karena tidak bisa sering bertemu,” ujarnya. Dari beberapa kali pertemuan dengan Raul, menurut dia, lelaki yang berprofesi sebagai pengusaha itu adalah sosok yang baik.

Aurel berharap, pernikahan KD dengan Raul bisa mendatangkan kebahagiaan bagi keduanya. Dia juga menginginkan KD tidak meninggalkan karir sebagai penyanyi. Sebab, papar dia, ibunya itu adalah seorang diva besar yang sangat terkenal.

Yang dikatakan oleh Aurel memang beralasan. Buktinya, meski baru melangsungkan akad nikah, KD dan Raul sudah menjadi pusat perhatian. Resepsi nanti pasti lebih heboh.

Salah satu indikasinya, KD bakal mengenakan gaun rancangan Vera Wang, seorang desainer tenar dunia. Ribuan undangan juga bakal hadir pada acara itu. Tanggal yang dipilih pun istimewa. Yakni, tepat pada hari ulang tahun KD.
Peresmian ikatan cinta di antara KD dan Raul menjadi momen yang indah bagi mereka berdua. Mengingat, perjalanan cinta mereka berdua terus diiringi kontroversi. KD dikabarkan kali pertama berjumpa dengan Raul pada peringatan sepuluh tahun kemerdekaan Timor Leste, September 2009.

Saat itu mereka mulai dekat. Namun, kabar tersebut disangkal Atha yang saat itu masih menjadi istri Raul. Awalnya, Raul juga membantah kabar kedekatannya dengan KD. Tetapi, pesona sang diva, tampaknya, tidak mampu ditampik lelaki berkulit gelap dan berbadan tegap tersebut. Kepada KD, saat itu Raul mengatakan bahwa hubungannya dengan Atha sudah karam. Lalu, pada awal 2010, hubungan KD-Raul menjadi renggang. KD kala itu merasa tertipu karena Raul ternyata belum bercerai.

Namun kemudian, KD-lah yang tidak sanggup berpisah lama-lama dengan Raul. Juni tahun lalu, mereka dikabarkan kembali mesra. Setelah itu, mereka tampak tidak terpisahkan. Bahkan, mereka pernah memancing kontroversi karena berciuman mesra dalam sebuah konferensi pers, tepatnya Juli tahun lalu di Jakarta. Atha yang merasa suaminya direbut pun melawan sekuat tenaga serta mengancam menuntut KD dan Raul kalau sampai mereka menikah.

Kemarahan Atha juga membuat Yuni harus berurusan dengan hukum. Saat itu Yuni dituntut Atha karena perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik. Raul dan KD yang sudah dimabuk cinta tidak memedulikan Atha. Pun, niat Raul meminang KD malah semakin serius.

Atha akhirnya menyerah dan memenuhi keinginan Raul untuk bercerai. Proses perceraian itu dimulai pada September 2010 di Pengadilan Negeri Dili. Mereka resmi bercerai pada 21 Desember 2010 dengan hak pengasuhan anak jatuh kepada Atha. “Mama sudah ikhlas melepaskan papa. Jadi, sudah tidak ada masalah di antara mama dan papa,” beber Fariz Ricardo (23), anak pertama Raul dengan Atha. (c11/kum/jpnn)

Gamawan: Koruptor tak Pernah Tenang

Kepres Penonaktifan Syamsul Belum Terbit

JAKARTA-Pada setiap kesempatan bicara di depan para kepala daerah, Mendagri Gamawan Fauzi selalu mengingatkan agar mereka jangan coba-coba korupsi. Sabtu malam (19/3), saat membuka orientasi bupati/wali kota baru yang memenangkan pemilukada, lagi-lagi Gamawan menekankan hal itu.
Kali ini, mantan gubernur Sumbar itu lebih banyak menggunakan pendekatan agama dalam pidatonya lebih dari satu jam itu.

“Tidak mungkin Allah lebih sayang kepada koruptor dibanding kepada yang bukan koruptor. Hidup tidak akan tenang. Hidup itu yang penting tenang. Yang korupsi ada-ada saja, anak bisa sakit enam hari dalam seminggu,” ujar Gamawan serius. Para bupati/walikota baru beserta wakilnya akan menjalani penataran atau orientasi selama 20 hari, dari 19 Maret hingga 9 April 2011, di gedung Badan Diklat Kemendagri, Kalibata, Jakarta.
Masih dengan nada serius dan disimak para peserta, Gamawan mengingatkan bahwa Tuhan menyanyangi umatnya yang pandai bersyukur. Jika sudah menang pilkada dan menjadi kepala daerah tidak mensyukuri tapi malah korupsi, Tuhan akan marah.

“Tuhan marah kepada orang yang tidak bersyukur. Jika dulu staf sekarang jadi bupati, ya harus bersyukur,” ujar mantan Kabag Humas Pemprov Sumbar itu.

Selain mengingatkan dengan pendekatan agama, pria yang kemarin berangkat umroh itu juga menekankan pentingnya kepala daerah berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Jika gegabah, bisa terjerat perkara korupsi. Sesibuk apa pun, lanjut Gamawan, kada tidak boleh asal tanda tangan di berkas yang disodorkan staf.
“Hati-hati masalah keuangan karena banyak jebakan, banyak salah tafsir. Kita sibuk, staf sodorkan, langsung tanda tangan. Eh, rupanya penunjukan langsung,” pesannya.

Dia meminta para bupati/wali kota agar membaca semua berkas yang disodorkan staf, sebelum diteken.
Jika sudah dibaca masih ragu, diminta konsultasi dulu dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Kalau ragu, minta pendapat BPKP,” cetusnya.

Gamawan juga mengingatkan agar para bupati/walikota yang baru, tidak terlena menuruti kepentingan sendiri dan kelompoknya. “Jangan rajin rapat dengan timses, pesta syukuran dengan timses. Saudara-saudara akan menyesal jika lima tahun ternyata tidak bisa berbuat apa-apa untuk rakyat,” tukasnya.

Sementara, terkait dengan nasib draf Kepres penonaktifan Gubernur Sumut Syamsul Arifin, hingga kemarin belum juga turun. Hanya saja, dipastikan sudah ada di meja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
“Belum. Tadi pagi kita kontak Setneg, sudah naik ke presiden. Kita juga minta Setneg untuk memprioritaskan ini,” terang Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek.

Hari ini, Senin (21/3), Syamsul untuk kedua kalinya akan duduk di kursi terdakwa di pengadilan tipikor. Agenda sidang hari ini adalah meminta keterangan saksi-saksi. (sam)

Suku Loyalis Makin Berani Mengkritik

Jordania, Terjepit Revolusi Arab dan Tekanan Internal

Kondisi perekonomia dan dugaan korupsi sang istri, Raja Abdullah II terpojok lantaran terlalu sibuk menjangkau Barat. Bagaimana nasib Jordania akan datang di tengah gejolak revolusi di kawasan sekitarnya?

DENGAN mata mendelik, kedua tentara bertopi kafiyeh merah mengibas-ngibaskan tangan ke arah Jawa Pos  (grup Sumut Pos) yang tengah bersiap memotret gerbang kediaman Ratu Noor di kawasan Zahran Street, Amman.
“Anda tidak boleh memotret di sini. Silakan pergi.” Begitulah kira-kira kata-kata dua pria kekar yang menjaga kediaman ibu tiri penguasa Jordania, Raja Abdullah II, dalam bahasa Arab sembari memeriksa kamera Jawa Pos.

Mereka bukan sembarang tentara, tetapi anggota pasukan elite Angkatan Bersenjata Jordania yang direkrut dari suku terbesar di Jordania yang terkenal tangguh, Bedouin. Karena loyalitas mereka, sepanjang sejarah Jordania, dari suku yang tersebar di berbagai penjuru gurun pasir di Jazirah Arab itulah pasukan pengawal raja dan keluarganya diambil.
Sebagai bentuk penghormatan, sebelum mengambil keputusan-keputusan penting, mendiang Raja Hussein, ayahanda Raja Abdullah, saat berkuasa selalu menyempatkan diri menyambangi wilayah hunian Bedouin terbesar di dekat kota kuno Petra. Lebih sering dilakukan untuk sosialisasi, tetapi tidak jarang pula guna penguatan legitimasi.

Itu menandakan betapa pentingnya posisi suku “peternak unta (demikian Bedouin dulu lebih dikenal, Red)” dalam konstelasi politik Jordania. “Hubungan kami dengan kerajaan itu kira-kira begini, kami ini selalu mendukung apa pun keputusan kerajaan. Dengan dukungan kami, apa pun keputusan kerajaan selalu bisa diterima seluruh elemen masyarakat Jordania,” kata Sameer Wahab, seorang warga Bedouin yang kini menetap di Amman.

Dengan latar belakang hubungan itu, tidak mengherankan kalau Jordania geger, Februari lalu sejumlah tokoh Bedouin melayangkan kritik terbuka kepada Ratu Rania, sekaligus menyindir Raja Abdullah. Lewat pernyataan bersama 36 tokoh, Rania dituding korup karena menjadi otak penghadiahan tanah “konsesi” yang selama ini diberikan kerajaan ke suku-suku pendukung kepada keluarga Al Yassin, keluarga asal Rania. Adapun Abdullah diminta tegas mengingatkan sang permaisuri yang keturunan Palestina tersebut.

Itu merupakan “serangan” pertama suku loyalis tersebut kepada kekuasaan monarki sepanjang sejarah negeri berpenduduk sekitar 6,4 juta jiwa itu. Hal itu juga menempatkan Raja Abdullah dalam posisi sulit dan terjepit.
Sebab, sebelumnya, raja berdarah Inggris itu sudah harus memecat Perdana Menteri Samir Rifai per 1 Februari karena desakan demonstrasi yang mulai menjalar tidak lama setelah Husni Mubarak tumbang di Mesir. Namun, sang pengganti, Marouf Al Bakhit, ternyata juga tidak sepenuhnya diterima karena dianggap konservatif dan antidemokrasi.  Akibatnya, aksi jalanan yang melibatkan pemuda, mahasiswa, serikat buruh, hingga para ulama tersebut terus berlangsung hingga sekarang. Terutama setelah salat Jumat.

Tidak semata soal pengangguran, kemiskinan, dan korupsi yang merupakan perkara laten di Jordania. Kewenangan raja yang dahulu merupakan isu tabu kini diteriakkan agar dibatasi. “Ibaratnya, kotak pandora kini telah terbuka. Semua orang menjadi tidak takut lagi untuk bersuara,” kata Randa Habib, jurnalis senior yang sejak 1987 menjadi kepala Biro Kantor Berita AFP di Amman.

Memang, belum ada yang meminta bentuk negara diubah menjadi republik seperti yang kini menjadi topik usungan demonstran di Bahrain. Itu berarti Abdullah belum akan bernasib seperti Zine Abidin Ben Ali di Tunisia dan Mubarak di Mesir yang sudah terguling, serta Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Muammar Kadhafi di Libya yang tengah berjuang mati-matian mempertahankan kursi.

Tetapi, kalau pengangguran yang mencapai 25 persen (versi sumber independen, sedangkan versi pemerintah hanya 14,3 persen) dan kemiskinan yang tercatat 31 persen (versi pemerintah hanya 14,7 persen) tidak segera diatasi, tidak ada yang bisa menjamin posisi Abdullah bakal seterusnya aman. Apa lagi Jordania, yang tak punya sumber daya alam, masih harus menanggung utang luar negeri dolar US 5,2 miliar. Bahkan, Abdullah kerap lebih memilih mendatangi calon investor di luar negeri ketimbang menghadiri konferensi regional.

Buntutnya, ekonomi memang bergerak. Infrastruktur dibangun di mana-mana untuk memuluskan langkah Jordania menjadi pusat layanan jasa di Timur Tengah. Namun, bukannya tanpa risiko.  Upaya Abdullah meliberalkan sepenuhnya perekonomian harus dibayar dengan dicabutnya sejumlah subsidi yang selama ini justru menopang kehidupan rakyat menengah ke bawah. Itu yang memicu keresahan karena roti dan bahan bakar menjadi mahal.
Munculnya pemogokan menuntut perbaikan kesejahteraan bergantian terjadi dalam tiga pekan terakhir.

Mulai pekerja perusahaan listrik negara, sopir angkutan umum, hingga dokter. “Bagaimana kami bisa bekerja dengan tenang kalau setiap bulan kami masalah keuangan,” kata Serikat Dokter Jordania dalam rilis resminya sebelum memulai pemogokan di Amman pada Minggu lalu (13/3).   Seorang dokter pegawai negeri di Jordania rata-rata hanya bergaji sekitar 500 dinar (1 dinar sekitar Rp 12.300) dengan hitungan harga bensin per liter 5 dinar itu.
Jordania adalah negeri yang 92 persen penduduknya muslim. Hampir 40 persen di antaranya merupakan pengungsi atau keturunan pengungsi dari Palestina dan Iraq.(c4/ttg/jpnn)

Negara Rahmat dan Kutukan

MANTAN Perdana Menteri Jordania, Wasfi El-Tall pernah menyebut posisi geografi negerinya sebagai rahmat sekaligus kutukan. Rahmat karena letaknya, menjadi negeri penghubung yang penting bagi negara-negara sekitarnya. Namun, menjadi kutukan karena posisinya, negeri monarki konstitusional terbebani pengungsian.

Kini rahmat itu belum sepenuhnya dirasakan Jordania. Mereka masih kalah oleh Dubai sebagai terminal pengoneksi dunia dengan Timur Tengah atau Jazirah Arab. Tetapi, sebaliknya, kutukan sudah tidak lagi menjadi sekadar beban, melainkan telah berubah menjadi masalah.

Banyak warga Jordania yang cemas kalau negara mereka bakal menjadi negara pengganti bagi warga Palestina “seperti yang diduga diskenariokan Israel dan Amerika Serikat. Sebuah kecemasan yang beralasan karena Israel terbukti terus membangun permukiman baru di Jerusalem dan tidak henti mendesak Hamas keluar dari Jalur Gaza.
“Saya kira masalah (imigran) ini tidak disampaikan orang-orang di sekitar raja kepada raja. Padahal, ini sudah sedemikian buruk,” kata Ali Habashneh, mantan jenderal yang kini memegang badan pensiunan tentara, dalam sebuah wawancara dengan The Independent.

Wajar kalau Habashneh menggunakan terminologi “memburuk”. Sebab, di antara 6,4 juta penduduk Jordan, 2 juta orang adalah warga Palestina. Di luar itu, masih ada 850 ribu warga Palestina yang mendapatkan kewarganegaraan secara ilegal. Sebanyak 950 ribu lainnya berasal dari Tepi Barat Sungai Jordan “sungai yang memisahkan Jordania dengan Palestina yang dikuasai Israel” yang berdiam di Jordania, tetapi tetap dengan kewarganegaraan Palestina. Sedangkan 300 ribu lainnya datang dari Gaza. Itu semua belum termasuk pendatang dari Iraq.

Mereka itulah yang turut memperebutkan kue perekonomian Jordania di level menengah ke bawah. Akibatnya, lowongan pekerjaan makin langka, pengangguran pun semakin banyak. Karena tingginya kebutuhan, properti menjadi sangat mahal. Terutama yang berada di tengah Kota Amman. Warga pun terdesak tinggal di pinggiran. Padahal, sistem transportasi Jordania dikenal tua dan lambat.

Posisi-posisi penting di lingkar dalam pemerintahan pun mulai dikangkangi keturunan Palestina. Salah satu di antara mereka adalah Bassem Awdallah. Dia pernah menjadi tangan kanan raja hingga 2007. Semua itu akhirnya berbuntut pada sentimen negatif di bawah permukaan antara warga Jordania “asli” dan keturunan Palestina. Di atas permukaan, mereka selalu mengaku bersaudara. Tetapi, secara bisik-bisik, kebencian itu terasa sekali.

“Apa yang saya bilang, hati-hati dengan warga Palestina. Mereka suka mengambil keuntungan dengan menghalalkan segala cara,” kata seorang rekan warga Jordania ketika Jawa Pos bercerita tentang upaya penipuan yang dilakukan seorang warga keturunan Palestina yang bekerja sebagai makelar visa. (c4/ttg/jpnn)

Dulu Tak Boleh Kritik, Kini Bisa Menyuruh

Konflik di Libya ternyata menyadarkan para penguasa di kawasan Arab dan Timur Tengah. Setelah Presiden Syria Bashar Al-Assad menyerukan kepada para kolega agar lebih mau mendengarkan dan menyerap aspirasi rakyat, hal serupa disuarakan pemimpin Jordania yang tengah terjepit, Raja Abdullah II.

Dalam pernyataan resmi dari istana yang juga diterima Jawa Pos berkat perantaraan seorang teman di kantor berita Jordania Petra, Abdullah menegaskan perlunya reformasi politik. “Undang-Undang Pemilu dan Undang-Undang Kepartaian harus ditinjau ulang agar bisa memenuhi konsensus semua lapisan masyarakat,” kata Abdullah dalam pertemuan dengan para petinggi partai di Amman.

Untuk itu, Abdullah mengagendakan dialog nasional dengan semua kalangan. Itu dilakukan agar semua kepentingan elemen masyarakat terwakili. “Kita harus memulai fase baru dan tak perlu takut karenanya,” kata pengganti sang ayah, mendiang Raja Hussein, tersebut.

Apa yang disuarakan Abdullah barangkali isyarat keterbukaan paling terang benderang dari seorang pemimpin di kawasan Arab dan Timur. Yang lain memang setuju melakukan sejumlah perubahan menyusul revolusi di Tunisia dan Mesir yang sukses mengulingkan diktator di kedua negara tersebut. Tapi, mereka masih tampak malu-malu dan belum jelas formulanya.

Bentuk keterbukaan lain yang ditawarkan rezim berkuasa di Jordania adalah dalam bentuk akun Facebook. Si ratu Jordania yang jelita, Ratu Rania, sudah lama punya akun di jejaring sosial paling digemari di dunia itu. Juga di Twitter.

Di kedua akun pribadinya itu, Rania rutin menuliskan berbagai aktivitas serta keprihatinan atau dukungannya terhadap sejumlah hal. ?Hentikan pembunuhan kepada rakyat Libya,? tulisnya di Twitter pekan lalu saat rezim Moammar Khadafi kian brutal menghadapi perlawanan rakyat Libya.

Lewat Facebook pula, siapa saja bisa menyampaikan keluhan langsung kepada raja atau ratu. Atau mungkin permintaan agar menindak aparat yang tak beres bekerja. Semuanya itu termasuk kemajuan luar biasa. Sebab, dulu, jangankan ?menyuruh,? sekadar mengkritik raja di muka umum bisa berbuntut penjara tiga tahun.
Kaum oposisi pun menyambut baik tawaran keterbukaan dari istana itu. Meski belum sepenuhnya menjawab tuntutan mereka, setidaknya itu sudah sejalan dengan yang mereka suarakan.

“Raja memang harus melakukan perubahan kalau tidak ingin revolusi di negeri ini kian membesar,” kata Hamza Mansour, ketua Partai Aksi Front Islam, kelompok oposisi terbesar di Jordania, yang juga punya akun Facebook itu. (c2/ttg/jpnn)

Hanya Mau Meneror Saja

Biaya Satu Bom Buku Cukup Rp100 Ribu

Banyak tanggapan atas teror bom buku yang belakangan merebak. Namun, pernyataan pengamat intelijen
Dynno Chressbon ampaknya menarik disimak. Pasalnya, dia mengungkapkan,
materi bom jenis ini, banyak ditemukan di Ambon dan Poso.

Selain itu, menurut Dynno, materi dan bentuk rakitan bom dalam bentuk kiriman paket buku adalah jenis bom booby trap atau bom jebakan. “Bom jenis ini juga sudah diproduksi sekaligus sesuai jumlah target sasaran. Jadi mereka tidak akan membuat bom sambil lari” katanya akhir pekan lalu. Karenanya, Dynno menduga, bom-bom itu telah tersedia dan mungkin telah terkirim kepada masing-masing sasaran.

Khusus materi bom booby trap atau bom jebakan, biasanya dibuat dalam berbagai bentuk. Di Ambon dan Poso, bentuknya bisa diubah menjadi bom senter, bom termos dan bom petromak.

Bom senter biasanya diletakkan di jalanan dalam kondisi senter menyala. Bom akan meledak jika senter dimatikan. Atau sebaliknya, dalam kondisi padam saat dinyalakan bom itu meledak. Demikian juga bom jebakan dalam bentuk termos dan petromak.

Kelompok yang kerap menggunakan bom jenis ini, menurut Dynno adalah kelompok Abdullah Sonata. Sonata menjadi pimpinan kelompok Jihad di Ambon dan Posso. Abdullah juga disinyalir menjadi pimpinan pelatihan di Pegunungan Jantho Aceh.

Di sisi lain, pelaku bom buku diduga tidak mempunyai modal yang kuat untuk menebar teror di masyarakat. Karena itu pelaku menggunakan bom buku yang memang mengeluarkan biaya murah hanya Rp100 ribu. “Mereka cuma mau meneror saja. Itu biayanya nggak sampai Rp100 ribu. Karena itu kan bom low explosive,” kata mantan kombatan Afghanistan Farihin, Minggu (20/3).

Farihin mengatakan, rakitan bom buku tersebut merupakan persedian lama jaringan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Tujuan jaringan ini menebar teror tidak ada kaitannya dengan memberi kode kepada pemberi modal untuk berjihad di Indonesia.

“Oh tidak. Nggak gitu. Itu sudah terputus (dengan pemodal luar). Karena ada kesempatan saja berbuat itu,” ungkapnya.

Mulai Selasa 15 Maret 2011, teror bom mengancam di beberapa wilayah Jakarta. Bom pertama yakni paket bom buku untuk Ulil Abshar Abdalla.

Bom ini juga melukai 4 orang, salah satunya Kasat Rekrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan. Kompol Dodi bahkan harus kehilangan lengan kirinya karena terkena bom buku tersebut.
Selain bom buku untuk Ulil, bom buku juga diterima oleh Kalakhar BNN, Gories Mere dan Ketum PP Japto Soerjosoemarno, Ahmad Dhani, dan lainnya.

Dampak dari rangkaian teror tersebut aadalah rasa cemas dan curiga masyarat terhadap barang-barang tergeletak yang tidak mereka kenal, seperti yang terjadi sepanjang Sabtu (20/3).  Laporan temuan bungkusan mencurigakan muncul di Medan, Denpasar, Makassar dan Jakarta.

Setelah bungkusan tersebut diledakkan oleh polisi diketahui isinya sama sekali bukan benda berbahaya, yaitu hiasan pohon natal, alat pertukangan, boneka dan sepatu.

Menurut Koordiantor Kontras, Haris Azhar, efek dari teror bom buku yang ternyata murah itu adalah sangat besar. Ya, meski paket bom ditujukan ke individu, namun aksi teror itu lebih bertujuan untuk menciptakan ketakutan kolektif.

Tujuan itu mudah dicapai lantaran aparat keamanan tidak maksimal menjalankan tugasnya. “Siapa pun pelakunya pasti ingin menciptakan ketakutan, kita terus melawan rasa takut itu,” katanya. (bbs/jpnn)

Masyarakat Jangan Takut

Rentetan aksi teror bom yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab belakangan ini setidaknya akan bisa mengalihkan isu dan persoalan bangsa yang seharusnya menjadi perhatian lebih oleh masyarakat. Hal ini diyakini beberapa kalangan.

Setidaknya soal pengalihan isu ini diungkapkan oleh Franz Magnis-Suseno di sela-sela acara ulang tahun ke-13 Kontras di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, siang ini, Minggu (20/3). “Saya belum bisa mengatakan siapa pelaku (teror bom) ini, masih ada beberapa macam kemungkinan. Tidak terlalu jelas pesan yang disampaikan, targetnya bukan suatu kelompok tertentu. Tapi tentunya ini berhasil mengalihkan perhatian,” ujar tokoh lintas agama tersebut. Romo Magnis, demikian ia akrab disapa, mengingatkan, sebaiknya masyarakat tidak perlu takut atas teror yang dilakukan orang-orang pengecut tersebut. Karena, terang rohaniawan Katolik ini, kalau masyarakat takut atau resah, berarti tujuan peneror tercapai.”Namun di satu sisi, kita harus terus waspada dan berhati-hati,” kata Gurubesar Ilmu Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarikara ini.

Selain soal pengalihan isu, anggota Dewan Syuro PKB, Maman Kholilurrahman Ahmad jug menekankan teror bom tersebut juga bisa muncul karena adanya ketidaktegasan pemerintah. Karena itu, sejatinya aksi teror bom buku mungkin saja dilancarkan oleh kelompok keagamaan radikal yang memiliki pandangan keagamaan yang sempit. “Pemerintah tidak tegas dan tidak bisa mengontrol. Pemerintah bicara tapi tidak sampai ke bawah. Hal-hal seperti itu (radikalisme agama) hanya dianggap sebagai lelucon saja,” ujarnya saat diskusi bertajuk “Teror Wikileaks dan Teror Bom Mengguncang Stabilitas Negara: Fakta Kagagalan dan Kebohongan Presiden SBY” di Doekoen Caffe, Jakarta, Minggu (20/3).

Senada dengan Gus Maman, Koordiantor Kontras Haris Azhar, mengatakan teror bom yang marak terjadi belakangan ini menunjukkan pemerintah tidak mampu melindungi dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Teror ini secara tidak langsung menutupi isu yang sedang berkembang pada masyarakat. “Kami sudah lelah dengan isu kekerasan semacam ini,” kata Haris Azhar di kantornya, Minggu (20/3).

Haris menegaskan, bahwa dalam menanggulangi aksi-aksi kekerasan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena itu, dia meminta, pemerintah melibatkan masyarakat dalam pemberantasan aksi kekerasan tersebut. (zul/ono/jpnn)

Membuka Diri dengan Masyarakat

Suasana meriah tampak di halaman SMA Negeri 2 Medan, Minggu (20/3). Soalnya, di sekolah milik Pemko Medan itu digelar gerak jalan santai sekaligus aneka macam perlombaan yang diikuti guru dan masyarakat se- Kecamatan Medan Polonia.

Kepala SMA Negeri 2 Medan, Drs Abdu Siregar mengatakan, sebenarnya SMA Negeri 2 Medan hanya sebagai penyedia tempat. Sementara pelaksana kegiatan adalah pihak Kecamatan Medan Polonia. “Tetapi, sebenarnya bisa dikatakan bekerjasama, sebagai bukti kekompakan antara sekolah dengan aparat pemerintahan di kecamatan,” ungkap Abdu.

Mantan kepala SMA Negeri 7 Medan ini menjelaskan, di tingkat siswa, SMA Negeri 2 Medan melibatkan utusan dari Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka dan Paskibra untuk mengikuti gerak jalan. Para siswa itu berbaur dengan masyarakat luas yang menjadi peserta gerak jalan. Sementara itu, guu-guru SMA Negeri 2 Medan dilibatkan untuk mengikuti lomba memasak nasi goreng, tarik tambang dan karaoke.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, sambung Abdu hari libur siswa dan guru bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat. “Selain suasana hiburan, kegiatan keolahragaan juga bisa didapatkan guru dan siswa. Apalagi untuk kalangan guru diperbolehkan membawa anggota keluarganya,” tutur Abdu.

Pria yang mengenakan kaca mata ini juga menjelaskan, di kepemimpinannya Abdu berusaha untuk membuka diri dengan siapa saja, terutama bagi warga sekitar sekolah.

Sebab, SMA Negeri 2 Medan merupakan bagian dari masyarakat yang tidak bisa dipisahkan. “Kegiatan kali ini saja contohnya. Kita istilahnya jemput bola, agar kegiatan ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Medan. Dengan demikian masyarakat sekitar dan aparat kecamatan akan merasa memiliki sekolah ini,” ungkapnya. (dra)
Dengan demikian sambung Abdu, maka akan timbul sikap saling menjaga dan merawat sekolah ini dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, pelaksanaan berbagai lomba berlangsung meriah. Camat Medan Polonia Ali Nafiah terlihat berbaur dengan masyarakat dan warga sekolah. Acara itu juga dimeriahkan dengan hiburan dan kegiatan dipadu MC dari atas panggung yang telah disediakan.(dra)

Tak Gentar Meski Kerap Diteror

Randa Habib, Jurnalis yang Dicekal karena Tulisan tentang Ratu Rania

Randa Habib diboikot dan terancam dituntut karena menulis pernyataan para tokoh suku yang mengecam ibu negara Jordania, Ratu Rania. Padahal, kepala biro AFP di Amman itu merupakan orang kepercayaan mendiang Raja Hussein dan sudah 25 tahun lebih berkiprah di istana.

DI komputernya, sebuah artikel baru tertulis beberapa paragraf. Atasannya di kantor pusat AFP di Paris memberikan deadline satu jam. Tetapi, tetap saja dengan ramah Randa Habib menyambut kedatangan Jawa Pos (grup Sumut Pos) di kantornya, di 2nd Circle Jabal Am man, Amman, pada suatu sore pekan lalu. “Saya terkenal ya sekarang,” kata perempuan Prancis berdarah Lebanon yang lahir 58 tahun silam itu.

Wanita yang sejak 1987 menjadi kepala biro AFP di Amman itu terkenal karena diprotes keras sekaligus terancam dituntut Kerajaan Jordania karena tulisannya tentang sang ibu negara, Ratu Rania.

Tulisan itu didasarkan pada pernyataan 36 kepala suku di Jordania yang selama ini menjadi pendukung setia keluarga Hashemite (dinasti yang berkuasa di Jordania). Para kepala suku itu, mengecam tindakan nepotis yang diduga diotaki Ratu Rania dengan menghadiahkan tanah dan lahan pertanian di sejumlah kawasan di Jordania kepada keluarga Al Yassin, keluarga sang ratu.

Padahal, selama ini ada semacam “kontrak budaya” antara kerajaan dan para tokoh suku yang menyebutkan tanah dan lahan itu hanya boleh gunakan untuk kepentingan publik. Para kepala suku tersebut menuding Rania berada di balik naturalisasi 78 ribu keturunan Pakistan di Jordania.

Randa pertama menulis artikel yang mengebohkan itu pada 6 Februari, tapi dalam versi singkat. Ketika itu, para tokoh suku yang mengeluarkan pernyataan tidak menyebutkan nama. Versi panjangnya baru muncul tiga hari kemudian setelah ada nama ke-36 penanda tangan pernyataan. Versi kedua itulah yang langsung direaksi keras kerajaan.

Sehari setelah artikel terbit, rezim berkuasa di Jordania langsung melayangkan surat protes resmi tiga lembar yang diserahkan duta besar Jordania di Paris kepada kantor pusat AFP. Isinya mengecam habis Randa: bias, tidak profesional, menulis tidak berdasar fakta.

“Saat saya menulis artikel itu lagi diterbitkan pada 9 Februari, saya kenal sebagian nama-nama mereka yang mengeluarkan pernyataan. Mereka kredibel. Mereka juga bilang punya bukti atas semua tudingan yang mereka lontarkan,” tuturnya. Tetapi, Randa santai menyikapi semua perkembangan itu.  Sebab, dia didukung penuh pihak AFP dan pengalaman panjangnya sebagai jurnalis yang berkiprah di Timur Tengah, wilayah paling rentan konflik di dunia.(*/c4/jpnn)

360 Siswa SMA Negeri 7 Ikuti Ujian Akhir Sekolah

MEDAN- Sesuai jadwal, hari ini (21/3) SMA Negeri 7 Medan mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) selama seminggu ke depan. Hasil UAS ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena akan memberikan bobot pada penambahan nilai bagi kelulusan siswa.

“Ujian ini sangat berpengaruh dan menentukan kelulusan mereka. Bobot UAS 40 persen dan UN 60 persen. Jadi UAS tahun ini juga harus serius mereka ikuti,” ujar Kepala SMA Negeri 7 Medan M Daud, Sabtu (20/3).
Lebih lanjut Daud menjelaskan, jika siswanya serius mengikuti UAS, maka itu akan membantu dalam mempermudah kelulusannya pada tahun ini. Jumlah siswa kelas III yang akan mengikutu UN 360-an orang.

“Tentunya ini akan sangat membantu mereka, selama ini kekhawatiran siswa menjelang lulus-lulusan adalah UN yang menjadi satu-satunya penilaian untuk lulus. Dan kini mereka mengaku bisa lebih lega,” katanya.

Namun, menurutnya, dengan sistem baru ini, siswa malah harus lebih giat dan serius belajar. “Karena jika mereka merasa lega dengan dipengaruhinya kelulusan dengan nilai UAS, kesannya mereka akan lebih santai belajar kan? Nah, ini persepsi yang harus dihilangkan. Karena percuma mereka mengendurkan aktivitas belajar mereka, toh jika mereka tidak bisa mendapat nilai maksimal pada UAS ini, mereka akan lebih berat lagi nanti saat menghadapi UN,” tegas Daud.

Sementara itu, bentuk dukungan sekolah dalam memberikan yang terbaik bagi para siswanya yakni, memfasilitasi siswa dengan layanan internet. Tak hanya di laboratorium komputer, tapi juga di ruang tunggu sekolah. “Jadi mereka bisa membahas soal-soal UAS juga UN tahun lalu untuk menambah pengetahan dan pengalaman mereka,” terang Daud.

Menurut Daud, pihaknya menerapkan layanan ini juga demi memfasilitasi siswa dalam penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah tersebut. “Tak lain ini dibuat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan siswa,” katanya.

Sekolah yang mendidik sekitar 1.110 orang siswa ini juga memiliki 76 guru yang telah sarjana, 7 orang diantaranya sudah S-2 dan 4 orang sedang menyelesaikan S-2. “Diharapkan dengan SDM yang kami miliki saat ini dapat mendukung program pemerintah dalam percepatan peningkatan mutu pendidikan di daerah, khususnya di Kota Medan,” ujar Daud.

SMA Negeri 7 Medan memiliki visi untuk menciptakan siswa yang mampu menguasai IPTEK, mengutamakan moral, menghargai keindahan dan memperkaya praktik. Serta menumbuhkan upaya dan sikap kompetitif dalam meraih prestasi. “Untuk itu kami memiliki misi agar siswa meningkatkan disiplin dan menumbuhkan moral budi pekerti untuk menjauhkan siswa dari sikap tercela,” jelas Daud.

Pihaknya juga berusaha meningkatkan rasa percaya diri siswa, dengan menguasai materi pelajaran. Dengan begitu, siswa akan merasa bangga pada almamaternya.

“Dalam hal ini kami juga akan membangkitkan sikap ingin maju dan rasa bersaing dengan sehat pada diri siswa. Ini dapat dioptimalkan dari daya nalar siswa sebagai upaya meraih prestasi yang tinggi,” papar Daud.(saz)

Jowshe Cheers Buat Anggota Terkenal

Ekskul yang satu ini menjadikan setiap personelnya selebritis di sekolahnya. Kalau lewat di depan teman-teman, semua mengelu-elukan mereka. Dia adalah Jowshe Cheers SMA Negeri 7 Medan.

Jika mendengar nama Jowshe Cheers, setiap siswa seperti terkagum-kagum dengan aksi-aksi yang kerap mereka pertunjukkan di sekolah maupun di even-even tingkat Kota Medan.

Tim cheerleader yang kini memiliki keseluruhan anggota 30-an orang ini kerap meraih prestasi. Disinyalir, keakraban dan kekeluargaan antar personel menjadi satu motivasi mereka mendapatkan prestasi tersebut.
30-an anggota Jowshe Cheers ini dibagi lagi menjadi 2 menurut jenjang pendidikannya. Untuk kelas X dipimpin seorang leader dan untuk kelas XI juga dipimpin seorang leader. Sementara anggota yang kini sudah berada di kelas XII hanya menjadi koordinator.

Untuk kelas XI Jowshe Cheers dipimpin Mentari Ferdini sebagai leader. Ia memiliki sekitar 15 orang termasuk dirinya sebagai personel. Namun, menurut Dini, panggilan akrabnya, kendala yang kerap terjadi pada timnya adalah kesulitan ngumpul untuk latihan. “Kami latihan tiga kali seminggu, dan itu membutuhkan waktu untuk kumpul. Karena sebelum latihan biasanya ada personel yang pulang dulu atau mengikuti les dulu di luar, jadi sulit ngumpul. Jadwal latihan kami pada pukul 15.00 WIB, jadi kadang semu personel baru bisa kumpul lengkap pada pukul 16.00 WIB,” terangnya, Sabtu (19/3).

Tapi menurut Dini, sekolah memberikan fasilitas juga sarana prasarana yang cukup untuk mendukung latihan mereka. “Kami juga memiliki dua orang pelatih khusus. Satu orang dari UMSU untuk melatih dance dan satu orang lagi berasal dari Bandung untuk melatih piramid,” katanya.

Untuk prestasi, Jowshe Cheers baru-baru ini meraih Juara 3 Dance pada DBL Competition 2011. Pada 2010 lalu juga sempat meraih Juara 1 Cheerleader pada Honda School Matic 2010.

Dalam waktu dekat ini, Dini membeberkan, timnya sedang berlatih dan bersiap untuk mengisi acara pada pentas seni yang akan digelar di sekolah tersebut pada 14 Pebruari 2011 mendatang.

“Kami akan mempersembahkan satu tampilan, tapi masih rahasia, suapaya surprise nantinya,” jelasnya seraya menambahkan pada tampilan itu nantinya akan dimeriahkan oleh 13 orang personel.(saz)