28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 15539

Hanya Mau Meneror Saja

Biaya Satu Bom Buku Cukup Rp100 Ribu

Banyak tanggapan atas teror bom buku yang belakangan merebak. Namun, pernyataan pengamat intelijen
Dynno Chressbon ampaknya menarik disimak. Pasalnya, dia mengungkapkan,
materi bom jenis ini, banyak ditemukan di Ambon dan Poso.

Selain itu, menurut Dynno, materi dan bentuk rakitan bom dalam bentuk kiriman paket buku adalah jenis bom booby trap atau bom jebakan. “Bom jenis ini juga sudah diproduksi sekaligus sesuai jumlah target sasaran. Jadi mereka tidak akan membuat bom sambil lari” katanya akhir pekan lalu. Karenanya, Dynno menduga, bom-bom itu telah tersedia dan mungkin telah terkirim kepada masing-masing sasaran.

Khusus materi bom booby trap atau bom jebakan, biasanya dibuat dalam berbagai bentuk. Di Ambon dan Poso, bentuknya bisa diubah menjadi bom senter, bom termos dan bom petromak.

Bom senter biasanya diletakkan di jalanan dalam kondisi senter menyala. Bom akan meledak jika senter dimatikan. Atau sebaliknya, dalam kondisi padam saat dinyalakan bom itu meledak. Demikian juga bom jebakan dalam bentuk termos dan petromak.

Kelompok yang kerap menggunakan bom jenis ini, menurut Dynno adalah kelompok Abdullah Sonata. Sonata menjadi pimpinan kelompok Jihad di Ambon dan Posso. Abdullah juga disinyalir menjadi pimpinan pelatihan di Pegunungan Jantho Aceh.

Di sisi lain, pelaku bom buku diduga tidak mempunyai modal yang kuat untuk menebar teror di masyarakat. Karena itu pelaku menggunakan bom buku yang memang mengeluarkan biaya murah hanya Rp100 ribu. “Mereka cuma mau meneror saja. Itu biayanya nggak sampai Rp100 ribu. Karena itu kan bom low explosive,” kata mantan kombatan Afghanistan Farihin, Minggu (20/3).

Farihin mengatakan, rakitan bom buku tersebut merupakan persedian lama jaringan Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Tujuan jaringan ini menebar teror tidak ada kaitannya dengan memberi kode kepada pemberi modal untuk berjihad di Indonesia.

“Oh tidak. Nggak gitu. Itu sudah terputus (dengan pemodal luar). Karena ada kesempatan saja berbuat itu,” ungkapnya.

Mulai Selasa 15 Maret 2011, teror bom mengancam di beberapa wilayah Jakarta. Bom pertama yakni paket bom buku untuk Ulil Abshar Abdalla.

Bom ini juga melukai 4 orang, salah satunya Kasat Rekrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan. Kompol Dodi bahkan harus kehilangan lengan kirinya karena terkena bom buku tersebut.
Selain bom buku untuk Ulil, bom buku juga diterima oleh Kalakhar BNN, Gories Mere dan Ketum PP Japto Soerjosoemarno, Ahmad Dhani, dan lainnya.

Dampak dari rangkaian teror tersebut aadalah rasa cemas dan curiga masyarat terhadap barang-barang tergeletak yang tidak mereka kenal, seperti yang terjadi sepanjang Sabtu (20/3).  Laporan temuan bungkusan mencurigakan muncul di Medan, Denpasar, Makassar dan Jakarta.

Setelah bungkusan tersebut diledakkan oleh polisi diketahui isinya sama sekali bukan benda berbahaya, yaitu hiasan pohon natal, alat pertukangan, boneka dan sepatu.

Menurut Koordiantor Kontras, Haris Azhar, efek dari teror bom buku yang ternyata murah itu adalah sangat besar. Ya, meski paket bom ditujukan ke individu, namun aksi teror itu lebih bertujuan untuk menciptakan ketakutan kolektif.

Tujuan itu mudah dicapai lantaran aparat keamanan tidak maksimal menjalankan tugasnya. “Siapa pun pelakunya pasti ingin menciptakan ketakutan, kita terus melawan rasa takut itu,” katanya. (bbs/jpnn)

Masyarakat Jangan Takut

Rentetan aksi teror bom yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab belakangan ini setidaknya akan bisa mengalihkan isu dan persoalan bangsa yang seharusnya menjadi perhatian lebih oleh masyarakat. Hal ini diyakini beberapa kalangan.

Setidaknya soal pengalihan isu ini diungkapkan oleh Franz Magnis-Suseno di sela-sela acara ulang tahun ke-13 Kontras di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, siang ini, Minggu (20/3). “Saya belum bisa mengatakan siapa pelaku (teror bom) ini, masih ada beberapa macam kemungkinan. Tidak terlalu jelas pesan yang disampaikan, targetnya bukan suatu kelompok tertentu. Tapi tentunya ini berhasil mengalihkan perhatian,” ujar tokoh lintas agama tersebut. Romo Magnis, demikian ia akrab disapa, mengingatkan, sebaiknya masyarakat tidak perlu takut atas teror yang dilakukan orang-orang pengecut tersebut. Karena, terang rohaniawan Katolik ini, kalau masyarakat takut atau resah, berarti tujuan peneror tercapai.”Namun di satu sisi, kita harus terus waspada dan berhati-hati,” kata Gurubesar Ilmu Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarikara ini.

Selain soal pengalihan isu, anggota Dewan Syuro PKB, Maman Kholilurrahman Ahmad jug menekankan teror bom tersebut juga bisa muncul karena adanya ketidaktegasan pemerintah. Karena itu, sejatinya aksi teror bom buku mungkin saja dilancarkan oleh kelompok keagamaan radikal yang memiliki pandangan keagamaan yang sempit. “Pemerintah tidak tegas dan tidak bisa mengontrol. Pemerintah bicara tapi tidak sampai ke bawah. Hal-hal seperti itu (radikalisme agama) hanya dianggap sebagai lelucon saja,” ujarnya saat diskusi bertajuk “Teror Wikileaks dan Teror Bom Mengguncang Stabilitas Negara: Fakta Kagagalan dan Kebohongan Presiden SBY” di Doekoen Caffe, Jakarta, Minggu (20/3).

Senada dengan Gus Maman, Koordiantor Kontras Haris Azhar, mengatakan teror bom yang marak terjadi belakangan ini menunjukkan pemerintah tidak mampu melindungi dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat. Teror ini secara tidak langsung menutupi isu yang sedang berkembang pada masyarakat. “Kami sudah lelah dengan isu kekerasan semacam ini,” kata Haris Azhar di kantornya, Minggu (20/3).

Haris menegaskan, bahwa dalam menanggulangi aksi-aksi kekerasan, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena itu, dia meminta, pemerintah melibatkan masyarakat dalam pemberantasan aksi kekerasan tersebut. (zul/ono/jpnn)

Membuka Diri dengan Masyarakat

Suasana meriah tampak di halaman SMA Negeri 2 Medan, Minggu (20/3). Soalnya, di sekolah milik Pemko Medan itu digelar gerak jalan santai sekaligus aneka macam perlombaan yang diikuti guru dan masyarakat se- Kecamatan Medan Polonia.

Kepala SMA Negeri 2 Medan, Drs Abdu Siregar mengatakan, sebenarnya SMA Negeri 2 Medan hanya sebagai penyedia tempat. Sementara pelaksana kegiatan adalah pihak Kecamatan Medan Polonia. “Tetapi, sebenarnya bisa dikatakan bekerjasama, sebagai bukti kekompakan antara sekolah dengan aparat pemerintahan di kecamatan,” ungkap Abdu.

Mantan kepala SMA Negeri 7 Medan ini menjelaskan, di tingkat siswa, SMA Negeri 2 Medan melibatkan utusan dari Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka dan Paskibra untuk mengikuti gerak jalan. Para siswa itu berbaur dengan masyarakat luas yang menjadi peserta gerak jalan. Sementara itu, guu-guru SMA Negeri 2 Medan dilibatkan untuk mengikuti lomba memasak nasi goreng, tarik tambang dan karaoke.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, sambung Abdu hari libur siswa dan guru bisa diisi dengan kegiatan bermanfaat. “Selain suasana hiburan, kegiatan keolahragaan juga bisa didapatkan guru dan siswa. Apalagi untuk kalangan guru diperbolehkan membawa anggota keluarganya,” tutur Abdu.

Pria yang mengenakan kaca mata ini juga menjelaskan, di kepemimpinannya Abdu berusaha untuk membuka diri dengan siapa saja, terutama bagi warga sekitar sekolah.

Sebab, SMA Negeri 2 Medan merupakan bagian dari masyarakat yang tidak bisa dipisahkan. “Kegiatan kali ini saja contohnya. Kita istilahnya jemput bola, agar kegiatan ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Medan. Dengan demikian masyarakat sekitar dan aparat kecamatan akan merasa memiliki sekolah ini,” ungkapnya. (dra)
Dengan demikian sambung Abdu, maka akan timbul sikap saling menjaga dan merawat sekolah ini dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, pelaksanaan berbagai lomba berlangsung meriah. Camat Medan Polonia Ali Nafiah terlihat berbaur dengan masyarakat dan warga sekolah. Acara itu juga dimeriahkan dengan hiburan dan kegiatan dipadu MC dari atas panggung yang telah disediakan.(dra)

Tak Gentar Meski Kerap Diteror

Randa Habib, Jurnalis yang Dicekal karena Tulisan tentang Ratu Rania

Randa Habib diboikot dan terancam dituntut karena menulis pernyataan para tokoh suku yang mengecam ibu negara Jordania, Ratu Rania. Padahal, kepala biro AFP di Amman itu merupakan orang kepercayaan mendiang Raja Hussein dan sudah 25 tahun lebih berkiprah di istana.

DI komputernya, sebuah artikel baru tertulis beberapa paragraf. Atasannya di kantor pusat AFP di Paris memberikan deadline satu jam. Tetapi, tetap saja dengan ramah Randa Habib menyambut kedatangan Jawa Pos (grup Sumut Pos) di kantornya, di 2nd Circle Jabal Am man, Amman, pada suatu sore pekan lalu. “Saya terkenal ya sekarang,” kata perempuan Prancis berdarah Lebanon yang lahir 58 tahun silam itu.

Wanita yang sejak 1987 menjadi kepala biro AFP di Amman itu terkenal karena diprotes keras sekaligus terancam dituntut Kerajaan Jordania karena tulisannya tentang sang ibu negara, Ratu Rania.

Tulisan itu didasarkan pada pernyataan 36 kepala suku di Jordania yang selama ini menjadi pendukung setia keluarga Hashemite (dinasti yang berkuasa di Jordania). Para kepala suku itu, mengecam tindakan nepotis yang diduga diotaki Ratu Rania dengan menghadiahkan tanah dan lahan pertanian di sejumlah kawasan di Jordania kepada keluarga Al Yassin, keluarga sang ratu.

Padahal, selama ini ada semacam “kontrak budaya” antara kerajaan dan para tokoh suku yang menyebutkan tanah dan lahan itu hanya boleh gunakan untuk kepentingan publik. Para kepala suku tersebut menuding Rania berada di balik naturalisasi 78 ribu keturunan Pakistan di Jordania.

Randa pertama menulis artikel yang mengebohkan itu pada 6 Februari, tapi dalam versi singkat. Ketika itu, para tokoh suku yang mengeluarkan pernyataan tidak menyebutkan nama. Versi panjangnya baru muncul tiga hari kemudian setelah ada nama ke-36 penanda tangan pernyataan. Versi kedua itulah yang langsung direaksi keras kerajaan.

Sehari setelah artikel terbit, rezim berkuasa di Jordania langsung melayangkan surat protes resmi tiga lembar yang diserahkan duta besar Jordania di Paris kepada kantor pusat AFP. Isinya mengecam habis Randa: bias, tidak profesional, menulis tidak berdasar fakta.

“Saat saya menulis artikel itu lagi diterbitkan pada 9 Februari, saya kenal sebagian nama-nama mereka yang mengeluarkan pernyataan. Mereka kredibel. Mereka juga bilang punya bukti atas semua tudingan yang mereka lontarkan,” tuturnya. Tetapi, Randa santai menyikapi semua perkembangan itu.  Sebab, dia didukung penuh pihak AFP dan pengalaman panjangnya sebagai jurnalis yang berkiprah di Timur Tengah, wilayah paling rentan konflik di dunia.(*/c4/jpnn)

360 Siswa SMA Negeri 7 Ikuti Ujian Akhir Sekolah

MEDAN- Sesuai jadwal, hari ini (21/3) SMA Negeri 7 Medan mengikuti ujian akhir sekolah (UAS) selama seminggu ke depan. Hasil UAS ini tak seperti tahun-tahun sebelumnya, karena akan memberikan bobot pada penambahan nilai bagi kelulusan siswa.

“Ujian ini sangat berpengaruh dan menentukan kelulusan mereka. Bobot UAS 40 persen dan UN 60 persen. Jadi UAS tahun ini juga harus serius mereka ikuti,” ujar Kepala SMA Negeri 7 Medan M Daud, Sabtu (20/3).
Lebih lanjut Daud menjelaskan, jika siswanya serius mengikuti UAS, maka itu akan membantu dalam mempermudah kelulusannya pada tahun ini. Jumlah siswa kelas III yang akan mengikutu UN 360-an orang.

“Tentunya ini akan sangat membantu mereka, selama ini kekhawatiran siswa menjelang lulus-lulusan adalah UN yang menjadi satu-satunya penilaian untuk lulus. Dan kini mereka mengaku bisa lebih lega,” katanya.

Namun, menurutnya, dengan sistem baru ini, siswa malah harus lebih giat dan serius belajar. “Karena jika mereka merasa lega dengan dipengaruhinya kelulusan dengan nilai UAS, kesannya mereka akan lebih santai belajar kan? Nah, ini persepsi yang harus dihilangkan. Karena percuma mereka mengendurkan aktivitas belajar mereka, toh jika mereka tidak bisa mendapat nilai maksimal pada UAS ini, mereka akan lebih berat lagi nanti saat menghadapi UN,” tegas Daud.

Sementara itu, bentuk dukungan sekolah dalam memberikan yang terbaik bagi para siswanya yakni, memfasilitasi siswa dengan layanan internet. Tak hanya di laboratorium komputer, tapi juga di ruang tunggu sekolah. “Jadi mereka bisa membahas soal-soal UAS juga UN tahun lalu untuk menambah pengetahan dan pengalaman mereka,” terang Daud.

Menurut Daud, pihaknya menerapkan layanan ini juga demi memfasilitasi siswa dalam penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah tersebut. “Tak lain ini dibuat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan siswa,” katanya.

Sekolah yang mendidik sekitar 1.110 orang siswa ini juga memiliki 76 guru yang telah sarjana, 7 orang diantaranya sudah S-2 dan 4 orang sedang menyelesaikan S-2. “Diharapkan dengan SDM yang kami miliki saat ini dapat mendukung program pemerintah dalam percepatan peningkatan mutu pendidikan di daerah, khususnya di Kota Medan,” ujar Daud.

SMA Negeri 7 Medan memiliki visi untuk menciptakan siswa yang mampu menguasai IPTEK, mengutamakan moral, menghargai keindahan dan memperkaya praktik. Serta menumbuhkan upaya dan sikap kompetitif dalam meraih prestasi. “Untuk itu kami memiliki misi agar siswa meningkatkan disiplin dan menumbuhkan moral budi pekerti untuk menjauhkan siswa dari sikap tercela,” jelas Daud.

Pihaknya juga berusaha meningkatkan rasa percaya diri siswa, dengan menguasai materi pelajaran. Dengan begitu, siswa akan merasa bangga pada almamaternya.

“Dalam hal ini kami juga akan membangkitkan sikap ingin maju dan rasa bersaing dengan sehat pada diri siswa. Ini dapat dioptimalkan dari daya nalar siswa sebagai upaya meraih prestasi yang tinggi,” papar Daud.(saz)

Jowshe Cheers Buat Anggota Terkenal

Ekskul yang satu ini menjadikan setiap personelnya selebritis di sekolahnya. Kalau lewat di depan teman-teman, semua mengelu-elukan mereka. Dia adalah Jowshe Cheers SMA Negeri 7 Medan.

Jika mendengar nama Jowshe Cheers, setiap siswa seperti terkagum-kagum dengan aksi-aksi yang kerap mereka pertunjukkan di sekolah maupun di even-even tingkat Kota Medan.

Tim cheerleader yang kini memiliki keseluruhan anggota 30-an orang ini kerap meraih prestasi. Disinyalir, keakraban dan kekeluargaan antar personel menjadi satu motivasi mereka mendapatkan prestasi tersebut.
30-an anggota Jowshe Cheers ini dibagi lagi menjadi 2 menurut jenjang pendidikannya. Untuk kelas X dipimpin seorang leader dan untuk kelas XI juga dipimpin seorang leader. Sementara anggota yang kini sudah berada di kelas XII hanya menjadi koordinator.

Untuk kelas XI Jowshe Cheers dipimpin Mentari Ferdini sebagai leader. Ia memiliki sekitar 15 orang termasuk dirinya sebagai personel. Namun, menurut Dini, panggilan akrabnya, kendala yang kerap terjadi pada timnya adalah kesulitan ngumpul untuk latihan. “Kami latihan tiga kali seminggu, dan itu membutuhkan waktu untuk kumpul. Karena sebelum latihan biasanya ada personel yang pulang dulu atau mengikuti les dulu di luar, jadi sulit ngumpul. Jadwal latihan kami pada pukul 15.00 WIB, jadi kadang semu personel baru bisa kumpul lengkap pada pukul 16.00 WIB,” terangnya, Sabtu (19/3).

Tapi menurut Dini, sekolah memberikan fasilitas juga sarana prasarana yang cukup untuk mendukung latihan mereka. “Kami juga memiliki dua orang pelatih khusus. Satu orang dari UMSU untuk melatih dance dan satu orang lagi berasal dari Bandung untuk melatih piramid,” katanya.

Untuk prestasi, Jowshe Cheers baru-baru ini meraih Juara 3 Dance pada DBL Competition 2011. Pada 2010 lalu juga sempat meraih Juara 1 Cheerleader pada Honda School Matic 2010.

Dalam waktu dekat ini, Dini membeberkan, timnya sedang berlatih dan bersiap untuk mengisi acara pada pentas seni yang akan digelar di sekolah tersebut pada 14 Pebruari 2011 mendatang.

“Kami akan mempersembahkan satu tampilan, tapi masih rahasia, suapaya surprise nantinya,” jelasnya seraya menambahkan pada tampilan itu nantinya akan dimeriahkan oleh 13 orang personel.(saz)

Kunjungi SMA Negeri 2

MEDAN- Ini bisa dikatakan terobosan baru bagi SMA Negeri 2 Medan. Soalnya, akhir Februari lalu, pihak sekolah mengundang Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga datang ke sekolah itu. Orang nomor satu di Polresta Medan itu, didaulat menjadi pembina upacara dihadapan ratusan siswa dan guru SMA Negeri 2 Medan.

“Kami rasa, mengundang pak Tagam  waktu itu sangat perlu, apalagi sedang marak-maraknya pembicaraan tentang geng motor,” ungkap Abdu Siregar, Kepala SMA Negeri 2 Medan.

Terbukti, saat menjadi pembina upacara, Tagam mengingatkan kepada seluruh siswa agar jangan ikut-ikutan dan terjerumus kepada penyakit siswa geng motor. Bahkan, Tagam juga mengancam jika ada siswa SMA Negeri 2 Medan yang terlibat, maka Polresta Medan tidak segan-segan untuk menindaknya.

Tagam memberikan nasihat, agar sebaiknya siswa lebih memperbanyak geng-geng diskusi. Bahkan kalau bisa lanjut Tagam, setiap mata pelajaran yang ada di sekolah harus ada kelompok-kelompok atau geng diskusi. (dra)

Awas Manufer Oknum Penjegal

KPK Tidak Ingin Kewenangan Dipangkas dan Digantikan SP3

JAKARTA-Wacana pemangkasan kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) oleh DPR, terus mendapat tentangan dari pihak yang bersangkutan. Meski hanya merupakan pihak pelaksana Undang-Undang, lembaga antikorupsi tersebut menyatakan dengan tegas, tidak ingin kewenangannya dipangkas, terutama penindakan.
KPK juga tidak berkenan memiliki kewenangan untuk mengeluarkan Surat Pemberhentian Penyidikan Perkara (SP3). “KPK tidak ingin kewenangannya sesuai perintah UU No 30 Tahun 2002, itu dipangkas,”ujar Wakil Ketua KPK Mochammad Jasin, ketika dihubungi koran ini, kemarin (20/3).

Jasin memaparkan, saat ini kinerja KPK telah berjalan secara efektif dengan 100 persen conviction rate. Artinya, tidak ada terdakwa kasus korupsi yang ditangani KPK, diputus bebas di Pengadilan Tipikor. Sehingga, pemangkasan kewenangan penindakan tersebut justru akan menganggu kinerja KPK.

Alasan pembentukan KPK, lanjut Jasin, adalah untuk meningkatkan hasil daya guna dalam memberantas korupsi. Menurut dia, sebelum KPK berdiri, seringkali berkas kasus korupsi mengalami tahapan-tahapan yang tidak jelas. Tidak jarang, berkas-berkas perkara tersebut bolak-balik dari Kejaksaan ke Kepolisian atau sebaliknya. “Sudah P21 (berkas lengkap dan dilimpahkan ke penuntutan), belum lengkap diturunkan lagi jadi P19,”lanjutnya.

Terkait wacana diberikannya kewenangan baru berupa kewenangan menghentikan perkara (SP3), pimpinan bidang pencegahan tersebut mengungkapkan kewenangan tersebut malah berpotensi disalahgunakan oleh oknum penegak hukum yang memiliki kepentingan. SP3 bisa digunakan oknum tersebut untuk menghentikan kasus yang sebenarnya telah memiliki cukup bukti. “Atau malah sebaliknya, (SP3) bisa untuk mentersangkakan orang yang tidak cukup bukti. Masyarakat harus waspada dengan manufer penjegalan oleh oknum-oknum yang tidak setuju dengan usaha pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK,”urainya.

Jasin menambahkan, selama ini KPK sangat berhati-hati dalam menetapkan tersangka berdasarkan alat bukti yang cukup.  Sehingga, terdakwa benar-benar terbukti melakukan pidana korupsi. Karena itu, SP3 dinilai tak dibutuhkan KPK.

Sebelumnya, anggota komisi hukum DPR RI Eva Kusuma Sundari menyatakan bahwa sejumlah politisi telah membicarakan pemangkasan kewenangan KPK di bidang penindakan. Kewenangan penindakan KPK yang diatur dalam UU No 30 Tahun 2002 terlalu besar, sehingga dikhawatirkan akan disalahgunakan. Rencananya, pemangkasan kewenangan tersebut akan dilakukan dalam revisi UU KPK yang masuk dalam prioritas legislasi nasional (prolegnas) tahun ini. (ken/jpnn)

Jawa Barat Digoyang Gempa 5,3 SR

SUKABUMI-Gempa bumi kembali melanda wilayah Indonesia. Kini wilayah Sukabumi (Jawa Barat) dan sekitarnya digoyang gempa berkekuatan 5,3 SR. Meski sempat membuat warga panik, gempa tersebut tidak menimbulkan kerusakan apapun. Masyarakat tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa berkekuatan 5,3 skala Richter terjadi pada Minggu (20/3) pukul 08.20 WIB. Pusat gempa berada di 113 km barat daya Sukabumi, dengan kedalaman 10 km. BMKG menyebut gempa tersebut tidak berpotensi menyebabkan tsunami.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Perry A Furqon mengatakan, sampai saat ini tidak ada laporan ataupun informasi adanya kerusakan akibat gempa tersebut. “Baik dari aparat desa sampai camat tidak ada laporan kerusakan. Mudah-mudahan seterusnya tidak akan ada kerusakan yang terjadi,” katanya.
Masyarakat Sukabumi pun tidak tampak menghentikan aktivitasnya. Bahkan sebagian tidak merasakan gempa bumi itu. “Waktu gempa sedang tiduran di rumah. Cepat sekali, tidak sampai 10 detik. Saya langsung bangun, terus keluar rumah,” kata salah seorang warga, Taufik (31).

Gempa juga terasa di Tasikmalaya. Di Kampung Cihaji, Purbaratu, Kota Tasikmalaya, misalnya. Di daerah tersebut, warga yang tengah menikmati liburan akhir pekan, memilih keluar rumah. Dan berkerumun di tempat yang aman. Beberapa pengguna jalan juga sempat kaget dan memberhentikan kendaraannya. Meski gempa mengguncang beberapa detik, tapi sangat terasa. (zul/jpnn)

ABG Mesum di Aceh Dimandikan dengan Air Parit

LHOKSUKON-Sepasang muda-mudi masih ingusan ND (17) asal Desa Hueng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara bersama teman wanitanya MY (14),  yang masih duduk di bangku kelas II SMPN Tanah Luas asal Blang Tuphat, Kecmatan Muara Satu, Lhokseumawe, kedapatan warga sedang bermesum ria di cafe milik  Abdullah (45) paman MY di jalan Diponegoro, Lingkungan V, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Sabtu (19/3) sekira pukul 01.30 Wib dini hari.
Malam itu juga kedua pasangan belia tersebut diarak keliling kampung dan dimandikan dengan air parit, kemudian keduanya dibawa ke meunasah setempat untuk ditindak sesuai aturan agama dan adat. Perangkat desa setempat menyebutkan, keduanya  diamankan di meunasah setempat guna menunggu kedatangan orangtua kandung MY, yang menetap di Blang Tuphat, Kecamatan Muara Satu.

Informasi yang dihimpun Metro Aceh (Grup Sumut Pos), semula ND yang masih duduk di bangku kelas I SMA bersama pasangannya, gelagatnya sudah dicurigai warga. Lantas dilakukan penggerebekan pada malam itu dan ternyata benar. Saat ditangkap mereka baru saja selesai melakukan perzinahan, terbukti saat akan ditangkap ND berusaha sembunyi di dalam lemari dan ditemukan dalam kondisi bugil, hanya pakai celana dalam. “Warga sering menegur keduanya agar tidak melakukan hal-hal yang melanggar agama sebelum menikah di lokasi itu, tapi tetap saja terjadi. Malah malam sebelumnya kita juga dapatkan keduanya mesum, namun tidak kita hukum dan kita lepaskan kembali karena ND berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Namun janji itu diingkari dan warga terpaksa menggerebek kembali,” ujar salah seorang warga. (sjm/jpnn)

Tak Perlu Mobil Mewah

Lily Chadijah Wahid

Belakangan ini nama Lily Chadijah Wahid mengemuka di Nusantara. Pasalnya, adik kandung almarhum KH Abdurrahman Wahid ini dipecat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Terlepas dari itu, ada yang menarik dari hidup mantan Anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa. Ya, sebelum dipecat partainya dan menjadi anggota dewan, ternyata dia bukan termasuk orang yang suka bermewah-mewah ria dalam berkendaraan.

Perempuan ini lebih suka memakai mobil jenis Kijang kemana pun dia pergi. Menurut Lily, kendaraan dilihat bukan dari merek tetapi lebih kepada fungsinya. “Bagi saya yang penting fungsinya. Saya di rumah hanya tinggal berdua, jadi tak perlu pakai mobil mewah segala,” kata Lily, Senin (7/3) lalu.

Selain itu, keluarga Lily Wahid kerap mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. Padahal, ayah Lily (KH Wahid Hasyim) adalah mantan Menteri Agama dan ibunya (Hj Sholehah) adalah anggota DPR selama empat periode. “Lihat saja Gus Dur. Dia sederhana karena memang kami diajari seperti itu. Kami selalu diajarkan sama keluarga untuk mensyukuri apa yang ada,” jelasnya.

Bahkan, secara blak-blakan Lily mengaku sempat memiliki usaha reparasi mobil. Jadi, mobil sederha seperti apapun dapat “disulap” menjadi mobil mewah di bengkel milik Lily Wahid. “Jadi sudah bosan saya pakai mobil seperti itu. Tapi biarlah kalau memang mereka suka menggunakan mobil mewah. Itu privasi mereka dan saya tak mau ikut campur,” pungkasnya. (net/jpnn)