Home Blog Page 15572

Pembacok Warga Masih Kabur, Pemeriksaan Dihentikan

LANGKAT- Pelaku pembacokan terhadap tiga orang warga saat pihak perkebunan melakukan okupasi (pembersihan) lahan, Kamis (21/4), belum berhasil ditangkap Polres Langkat. Bahkan, pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dihentikan sementara.

“Karena hari ini (Jumat (22/4)) hari besar (Paskah-red) keagamaan, maka anggota disiagakan untuk menjaga tempat-tempat ibadah (Gereja), sedangkan pemeriksaan ditunda dan kembali dilanjutkan Senin (25/4) depan,” kata Kapolres Langkat AKBP Mardiono usai salat Jumat, kemarin.

Dalam kasus ini, pihak kepolisian Polres Langkat, akan memeriksa koordinator lapangan dari pihak PTPN II terkait penyerangan terhadap warga.

“Kita juga akan kembali memangil dan memeriksa Sembilan orang koordinator lapangan (Korlap) yang ikut saat kejadian,” sambung Kapolres.
Selain itu, tambah dia, pihaknya tetap memerintahkan kepada anggotanya untuk tetap melakukan penyelidikan dilokasi kejadian, guna menindaklanjuti  laporan korban pembacokan. Meskipun, sampai saat ini belum ada seorang tersangka yang ditetapkan.

“Untuk saat ini. belum ada yang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus itu, oleh sebab itu anggota terus melakukan penyelidikan dan mencari keterangan dari saksi-saki yang mungkin mengetahui atau melihat pelakunya,”sebut Mardiono.

Sulitnya menemukan pelaku pembacokan terhadap ketiga warga, disebabkan tidak adanya warga yang mengenali atau mengetahui persis siapa pelaku pembacokan tersebut. Bahkan, usai bentrokan terjadi, Polres Langkat mengangkut seluruh karyawan kebun ke Mapolres Langkat, untuk diperlihatkan kepada korban. Namun, ketiga korban tidak mengenali pelaku pembacokan tersebut.

Koordinator Lapangan (korlap) warga, Faidi S ditemani sejumlah temannya kepada koran ini mengaku, dirinya tidak dapat mengenali wajah pelaku pembacokan, karena saat peristiwa berlangsung, karyawan kebun membacok mereka secara membabi buta.
“Saya nggak tahu pelakunya, karena mereka membacoki kami membabi buta,” ujarnya.(ndi)

GP Ansor Ingin Perbaiki Citra Islam

Melalui Festival Kreasi Seni

Gerakan Pemuda Ansor mengutuk keras tindakan bom bunuh diri yang telah memakan korban ratusan nyawa yang tidak bersalah. Mengingat tindakan anarkis tersebut telah merusak tradisi islam yang dikenal sebagai agama yang mengajarkan kesantunan dan menolak bentuk teror terhadap sesama manusia.

“Tindakan bom bunuh diri selama ini kita ketahui selalu diidentikkan dengan Islam. Padahal ini sama sekali bukan tradisi Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Yang kita ketahui bahwa Islam tidak pernah memaksakan untuk mengikuti aqidah dan faham yang berbeda,” ungkap Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Pusat, M.Aqil Irham dalam sambutannya pada acara Harlah GP Anshor ke 77 di Halaman Istana Maimoon, Juma’t (22/4).

Hal itu juga menurut Aqil,  sesuai dengan salah satu visi kongres GP Ansor yaitu Revitalisasi tradisi Ahli Sunnah Wal Jamma’ah. Sementara saat disinggung mengenai sikap GP Ansor terhadap sejumlah teror bom,  Aqil mengatakan jika GP Ansor telah menginstruksikan kepada seluruh anggotanya dalam membantu aparatur keamanan negara untuk ikut menjaga keutuhan dan kedamaian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama Ketua GP Ansor Wilayah Sumut, H.Fadli Yasir menyebutkan, salah satu tujuan peringatan hari lahir GP Ansor adalah bentuk upaya dalam melestarikan Jamiatul Wasliyah di tengah masyarakat.

Selain itu acara Harlah GP Ansor juga bertujuan untuk menghilangkan stigma buruk terhadap peserta didik yang menimba ilmu di sebuah pesantren.

“Selama ini masih banyak orang beranggapan miring yang mengatakan jika pesantren merupakan sarang teroris. Padahal kita ketahui bahwa pndok pesantren adalah tempat menempah generasi muda lebih mandiri,” terang Fadli.

Untuk menghilangkan stigma buruk tersebut lanjut Fadli, GP Ansor melaksanakan berbagai festival kreasi seni Islam dalam menyambut hari lahirnya GP Ansor ke 77.

Diantaranya adalah pembacaan kitab kuning yang rata-rata peserta merupakan siswa pesantren yang kebanyakan berasal dari luar daerah. “Selain Medan, peserta dari Aceh dan Sumatera Barat turut hadir dalam memeriahkan festival yang kita laksanakan,” ungkapnya.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Kreasi Seni Islam Harlah ke – 77 GP Ansor Rusli AS mengatakan, minat peserta dalam mengikuti festival kreasi seni Islam ini cukup tinggi.

Terbukti sedikitnya 1500 peserta telah mendaftarkan diri dalam berbagai jenis perlombaan yang akan dilaksanankan. Selain pembacaan kitab kuning, dalam festival itu juga memperlombakan, shalawat badar, kaligrafi, mewarnai anak-anak, marhaban serta tulisan karya ilmiah.“Untuk kategori lomba, pembacaan kitab kuning merupakan jenis lomba yang memiliki peminat paling tinggi. Diantara para pesertanya, didominasi peserta didik, dan alumni  pesantren,” jelasnya.

Acara festival yang dihadiri sejumlah petinggi GP Ansor dan Naudhatul Ulama tersebut direncanakan akan berakhir pada Minggu (24/4) mendatang. (*/uma)

Wartawan Jadi Sasaran Petugas Keamanan PTPN 2

BINJAI- Persoalan lahan eks PTPN 2 Kebun Sei Semayang, sepertinya tak ada habisnya. Bahkan, masalah ini terus meluas.

Buktinya, karena tak ada solusi dan penyelesaian dari instansi terkait, puluhan warga Kota Binjai yang tergabung dalam sejumlah kelompok tani mencoba menguasai lahan eks PTPN 2 tersebut, Jumat (22/4).

Keterangan yang berhasil dihimpun wartawan koran ini, kejadian itu berawal, saat sekelompok warga yang berjumlah puluhan orang, sekitar pukul 20.00 WIB, mencoba mengauasai lahan eks PTPN 2 yang terletak di Afdeling 5 Kapling I, dengan cara menanami pohon pisang.

Melihat hal tersebut, pihak PTPN 2 tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk selanjutnya, Jumat (22/4) sekitar pukul 10.00 WIB, petugas dari PTPN 2 mencoba mengambil tindakan dengan turun langsung ke lokasi lahan yang ditanami warga dengan pohon pisang.

Setibanya petugas di lahan yang dimaksud, dengan membabi buta petugas PTPN 2 langsung menebangi pohon pisang yang ditanami warga. Bahkan, menurut keterangan warga setempat, aksi petugas dengan membawa parang panjang dan dengan jumlah mencapai puluhan orang, membuat warga menjadi ketakutan.

Dikarenakan tidak ada serangan dari warga, pohon pisang yang sudah ditanam akhirnya rata dengan tanah. Tak sampai di situ, petugas kembali kewalahan menghalau 20-an warga yang mencoba menguasai lahan eks PTPN 2 itu.

Tak hanya itu, J Srubakti, salah seorang wartawan terbitan Medan juga dipukuli sejumlah petugas PTPN 2 di depan aparat kemanan TNI/Polri yang sudah berada di lokasi.

Menurut keterangan J Srubakti, ketika petugas PTPN 2 membersihkan lahan dari pohon pisang yang ditanami warga, saat itu ia juga sudah berada di tempat guna mengambil foto.

“Saya dapat informasi, bahwa warga menguasai lahan PTPN 2. Untuk itu, saya meluncur ke lokasi. Setibanya di sana, saya melihat petugas sedang membersihkan pohon pisang yang ditanami warga. Untuk itu saya mengambil foto dengan kamera yang sudah saya bawa,”ungkap Surbakti.
Namun, begitu ia mengambil foto, sejumlah petugas PTPN 2 langsung menanyakan identitasnya.

“Awalnya mereka mempertanyakan identitas saya. Untuk itu, saya tunjukan tanda pengenal berupa kartu Pers dan kartu keanggotaan PWI. Tetapi petugas itu mengatakan, bahwa saya adalah wartawan palsu dan akhirnya saya dipaksa keluar dari areal sambil dipukuli,” jelasnya.

Akibat dipukuli oleh petugas PTPN 2, J Srubakti mengalami luka memar di bagian kepala. Bahkan, J Surbakti sempat merasakan pening dan muntah setelah dipukuli. Takut akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan, J Surbakti dilarikan ke rumah sakit di Medan, guna mendapatkan perawatan.

Menurut A Ginting, salah seorang warga yang menyaksikan J Srubakti dipukuli mengatakan, saat J Srubakti dipukuli petugas keamanan dari Polres Binjai dan TNI, sudah berada di tempat. Namun, petugas terkesan diam.
“Iya, saya lihat dengan jelas wartawan itu dipukuli. Bahkan, petugas PTPN 2 sempat meneriakan bunuh…bunuh. Sementara, petugas keamanan yang ada terlihat diam,”ungkap A Gintig.

Kepala Rayon C PTPN 2, P Samosir, saat dikonfirmasi terkait kejadian ini mengatakan, persoalan dengan wartawan yang dipukul sudah selesai. “Masalah itu sudah selesai, dan itu hanya kesalah pahaman saja. Sebab, wartawan itu masuk ke areal sambil membawa kamera. Sehingga, anggota kita mengira wartawan ini memihak kepada warga. Selanjutnya, wartawan itu diminta untuk keluar dari areal, dan tidak ada dipukul hanya disorong ke luar areal,”kilah P Samosir.

Mengenai lahan PTPN 2, P Samosir mengatakan, sesuai surat Badan Pertanahan Nasional (BPN), bahwa lahan PTPN 2 baik diperpanjang atau tidaknya Hak Guna Usaha (HGU), lahan ini masih tetap tanggung jawab PTPN 2. “Saya lupa nomor dan tahun surat tersebut. Yang jelas, surat itu ada di direksi,” ucapnya.

Kapolres Binjai, AKBP Dra Rina Sari Ginting, kepada wartawan koran ini mengatakan, terkait pemukulan terhadap wartawan sudah diselesaikan. “Kedua belah pihak sudah kita pertemukan, dan keduanya sudah sama-sama meminta maaf,” ujar Rina via selulernya.

Meski persoalan pemukulan wartawan ini dianggap sudah selesai oleh Polres Binjai, tetapi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Binjai, M Ginting, kepada wartawan koran ini mengaku, persoalan ini harus disikapi dengan tegas oleh pihak yang berwajib. (dan)

Mobil Masuk Jurang Nyangkut di Pohon Sawit

Diduga Karena Ngantuk, Supir Kabur

TEBING TINGGI- Sebuah mobil Daihatsu Zebra, warna biru dongker dengan plat B 8347 OU, masuk ke jurang sedalam sepuluh meter dan nyangkut di pohon sawit.

Peristiwa naas itu terjadi di Jalan Tebing Tinggi Pematangsiantar, Km 10 Desa Naga Kesiangan, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Jumat (22/4) sekira pukul 18.30 WIB.

Sejauh ini penyebab kecelakaan, diduga supir mengantuk dan mobil langsung oleng masuk kedalam jurang sedalam 10 meter di areal PTPN IV Kebun Pabatu.

Saat kejadian, sejumlah warga yang melintas sempat berhenti dan menyaksikan mobil yang masuk kedalam jurang tersebut. Tidak ditemukan korban jiwa pada kecelakaan dan sang supir diduga melarikan diri.

Menurut saksi mata, Sunandar (45) warga Afdeling IV, Kebun Pabatu, saat dilihat mobil yang masuk jurang itu dari dekat, ternyata tidak ditemukan korban jiwa, serta pemilik mobil (supir) tidak berada di tempat kejadian. “Tak ada supirnya, aku yang pertama melihat. Kucermati tak ada pengemudinya.

Mobil ringsek dan kosong ditinggal pemiliknya begitu saja,” kata Sunandar.
Dikatakannya, sempat terjadi kemacatan lalulintas dari Pematang Siantar menuju Tebing Tinggi dan sebaliknya. Setelah beberapa jam baru datang pihak kepolisian Satuan Lalulintas mengatur jalan raya agar tidak macet.

“Tadi sebelum polisi datang, macet sampai hampir satu kilometer. Pasalnya banyak warga yang mau melihat kejadiaan itu,” ujar Sunandar sambil menarik-narik daun sawit yang menutupi mobil tersebut.

Terpisah, Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi, AKP Juliani Prihatini ketika dikonfirmasi mengatakan, mobil tersebut baru bisa dievakuasi besok hari, karena hari sudah malam dan daerah TKP tempatnya tidak ada penerangan. “Kita sudah cek informasi dari anggota di lapangan, besok pagi mobil kita baru evakuasi. Keadaan TKP jauh dari pemukiman warga dan kurang adanya penerangan listrik,” terangnya.

Masih menurutnya, keterangan di lapangan masih kita kumpulkan dari keterangan warga yang melihat kejadian tersebut. Sementara di tempat kejadiaan perkara tidak ditemukan penumpang dan sopir. “Kita masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, diduga penumpang dan sopir melarikan diri.Untuk sementara kerugian ditaksir jutaan rupiah,” jelas Juliani.(mag-3)

Camat dan Kadisdukcapil tak Kompak

Rahudman ’Merepet’ Soal Sampah dan KTP

Masalah Kota Medan tampaknya tak habis untuk dibahas. Selain masalah banjir, kebersihan dan administrasi kependudukan pun terus mendapat kritik tajam. Menariknya, kritik itu malah muncul dari orang nomor satu di Medan, Wali Kota Rahudman Harahap.

Ya, sorotan tajam dari orang nomor satu di Kota Medan ini, terlihat dari beberapa kesempatan.

Kasus terbaru, saat pemaparan mendadak Rahudman kepada para camat dan lurah se-Kota Medan, serta seluruh Kepala Dinas di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Medan, Kamis malam (21/4).

Sorotan tajam dari mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Tapanuli Selatan (Tapsel) ini, juga diikuti peringatan keras, dimana para SKPD yang disorot tersebut harus sudah menunjukkan program kerjanya, sampai masa satu tahun pemerintahannya pada Juli mendatang.

Untuk masalah infrastruktur, Rahudman mengungkapkan, sampai saat ini masih banyak persoalan sampah dan administrasi kependudukan yang tak beres. Sehingga membuat masyarakat terus mengeluh. Rahudman menyatakan, koordinator kebersihan di setiap kecamatan dan kelurahan belum bekerja maksimal. Kondisi seperti itu, membuat sampah masih terlihat berserakan di Medan. “Nggak usah bohong kalian. Kalian pikir tidak saya pantau soal sampah ini,” tegasnya.

Lain halnya dengan masalah kependudukan. Dalam hal ini, Rahudman mengungkapkan, persoalan mutasi penduduk dari daerah lain ke Medan masih menjadi persoalan utama selain masalah Kartu Tanda Penduduk (KTP). Untuk masalah mutasi penduduk, Rahudman berniat akan menerbitkan Peraturan Wali Kota Medan (Perwal) mutasi penduduk, yang harus sudah ditandatanganinya awal Mei mendatang.

Mengenai KTP, Rahudman sempat menyinggung, dirinya mendengar adanya kepengurusan KTP yang tidak beres di salah satu kecamatan di Medan. “Saya dengar, ada pengurusan KTP yang tidak beres. Di mana itu?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu, para camat dan lurah serta kepala dinas seolah dikomando secara bersamaan mengatakan, persoalan itu terjadi di Medan Tembung. “Di Medan Tembung Pak,” jawab para camat dan lurah serta para Kepala SKPD.

Mendengar jawaban itu, secara spontan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Kadisdukcapil) Medan Darussalam Pohan, langsung angkat suara dan menyatakan persoalan itu terjadi di Deli Serdang. “Di Deli Serdang itu, Pak,” jawab Darussalam Pohan.

Mendengar jawaban itu, Rahudman langsung menimpali dan menyatakannya, jawaban Darusalam Pohan itu hanyalah sebuah pembelaan camat bersangkutan. “Kau bela pula camat kau itu,” tandas Rahudman.

Usai acara, saat ditanya Sumut Pos mengapa hanya dinas tersebut yang disorot dan apakah karena memang kinerja empat SKPD tersebut tidak maksimal, ternyata Rahudman hanya mengatakan, peringatan tersebut supaya membuat para kadis tersebut lebih maksimal kinerjanya.(ari)

Gatot tak Setuju Pemekaran

MEDAN- Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang mengeluarkan grand design pemekaran daerah dan memberikan jatah satu provinsi dan dua kabupaten/kota terhadap Sumut. Pembatasan ini menimbulkan reaksi penentangan di sejumlah kalangan di Sumut, termasuk Panitia Khusus (Pansus) Pemekaran DPRD Sumut.

Tetapi Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Gatot Pujo Nugroho berpandangan lain.
“Kita menunggu evaluasi dari Pansus pemekaran. Mimpi saya, untuk provinsi tidak ada pemekaran,” ungkap Gatot di kediamannya di Komplek Taman Setia Budi Indah (Tasbih) Blok YY No 29 Medan, tadi malam (22/4).

Gatot beralasan, Sumut memiliki keberagaman agama, etnis dan sebagainya sebagai sebuah keunikan. “Kalau dimakerkan, maka keunikan itu akan terbagi,” kata Gatot memberi alasan.

Dijelaskannya, substansi pemekaran adalah pelayanan publik, pemerataan infrastruktur dan ekonomi. Namun, saat ini dalam koridor ekonomi baik pusat dan daerah telah berupaya untuk mengintegrasi hal tersebut.

Gatot sendiri lebih setuju dengan istilah Karesidenan, yang popular dalam masa perjuangan dulu. Dari karesidenan ini lah dibentuk forum-forum kepala daerah.

“Sewaktu saya di Nias, saya menyatakan kepada para kepala daerah untuk membuat forum kepala daerah. Dengan adanya langkah itu, bias mengintegrasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Forum tersebut akan mengintegrasi kebutuhan daerah masing-masing. Layaknya karesidenan zaman dulu. Misalnya, ada karesidenan Tabagsel, Karesidenan Tapanuli dan sebagainya,” terangnya.

Ketua Komisi A DPRD Sumut Hasbullah Hadi yang ditemui di tempat yang sama menyatakan, seyogyanya pemekaran itu bukan didasarkan selera, tapi disesuaikan dengan grand design yang ada.(ari)

Tertambat di Istana Maimun

Tengku Moharsyah Nazmi

Tengku Moharsyah Nazmi memperlihatkan peran generasi muda dalam pelestarian budaya. Tak hanya sampai di situ, dia pun membangkitkan kesadaran masyarakat melalui kritik yang membangun.

Mengenakan kemeja kotak-kotak, celana panjang berwarna krem, dan bertelanjang kaki, Tengku Moharsyah Nazmi setia mendampingi pengunjung berkeliling Istana Maimun di Jalan Sultan Makmun Al Rasyid No 66 Medan.

Penjelasan yang gamblang meluncur dari bibirnya untuk tiap ruang, gambar, maupun sejarah tradisi sang leluhur. Begitu juga jawaban lugas untuk setiap pertanyaan yang datang.

“Ada kepuasan tersendiri ketika saya bisa menjelaskan kepada masyarakat pengunjung mengenai bangunan istana, foto-foto yang terpasang, juga peran sultan tidak hanya untuk Kota Medan juga dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” jelas Tengku Moharsyah Nazmi kepada Sumut Pos, Kamis (21/4).

Sebagai keturunan langsung, tepatnya generasi ke-5 dari Sultan Deli IX, Sultan Makmun Al-Rasyid, Tengku Moharsyah Nazmi sudah mendapatkan pengetahuan mengenai tradisi dan bangunan istana sejak usia dini.

Bagaimana  moral, adab, dan adat yang saling berhubungan harus terus dijaga di lingkungan istana sebagai potret bangsa Indonesia yang ramah dan sopan-santun. Salah satunya saat salam. Nah, ketika bersalaman dengan orang yang lebih tua, generasi muda harus menundukkan kepala sebelum menjabat tangan.

Namun, dirinya tidak melihat itu sebagai bentuk pemasungan ide untuk satu kondisi yang lebih baik. Apa yang banyak dijadikan oleh generasi muda sebagai pembenaran dari ketidakacuhan terhadap tanggung jawabnya sebagai pelaku satu kebudayaan. Untuk kemudian melupakan dan tanpa disadari kehilangan jati dirinya.

Suami dari Julidawati ini bahkan melihat hal itu sebagai cara belajar untuk lebih dewasa dalam bersikap. Maka ketika dipercaya terlibat di kepengurusan Yayasan Sultan Makmun Al Rasyid sebagai Wakil Sekretaris Umum, dirinya lebih bijak menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diemban. Lewat bahasa tubuh dan tata bahasa yang santun koreksi dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang ada.

Dengan cara itu kritik yang dilontarkan pun mendapat apresiasi dari masyarakat. Seperti dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta pada perayaan Idul Fitri 2010 lalu. Terhadap kondisi Istana Maimum saat ini, ayah dari tiga anak ini menyebutnya sebagai tanggung jawab Sultan Deli. “Namun sudah seharusnya ‘malu’ yang lebih juga dirasakan pemerintah sebagai pelaksana Undang-Undang mengenai cagar alam,” ucap pecinta otomotif ini.

Demikianlah pria berkulit putih ini menghabiskan kesehariannya memperkenalkan bagian demi bagian Istana Maimum kepada masyarakat. Untuk menunjang kegiatannya, Tengku Moharsyah Nazmi bertekad menyelesaikan pendidikan di Ilmu Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dalam waktu dekat ini.

Dilengkapi lagi dengan pengalaman selama berkelana sebagai pedagang yang pernah dilakoninya 1997-2002. Perjalanan yang memberinya pelajaran bagaimana pentingnya menjaga adab dalam kehidupan bermasyarakat.

Lakon pedagang itu masih dijalani setelah menikah dengan Julidawati yang memberinya tiga anak yaitu Tengku Nabila Syahira (8), Tengku Asmiranda Syakirah (4), dan Tengku Muhammad Ridwansyah (3). Begitu juga saat melakoni berbagai profesi sepanjang 2004-2006.

“Saya punya prinsip bahwa apa yang ada pada saya tidak ada pada orang lain, begitu sebaliknya yang ada pada orang tidak ada pada saya. Karena itu dalam bermasyarakat sudah seharusnya kita untuk saling mengisi satu dengan lainnya,” papar Tengku Moharsyah Nazmi. (jul)

BioData
Tengku Moharsyah Nazmi
Lahir    :     Medan, 6 Mei 1976
Istri    :     Julidawati
Anak    :    

– Tengku Nabila Syahira (8)
– Tengku Asmiranda Syakirah (4)
– Tengku Muhammad Ridwansyah (3)
Alamat    :     Jalan Sultan Makmun Al Rasyid No.66 Medan
Pekerjaan    :     Pemandu Istana Maimun
Pendidikan    :

– SD 060788/9 (1989)
– SMP N 2 Medan (1992)
– SMA UISU Medan (1995)
– Fakultas Hukum UISU (berjalan)
Organisasi    :     Wakil Sekretaris Umum Yayasan Sultan Makmun Al Rasyid

Jumat Agung Berlangsung Aman

Poldasu Kerahkan 8.600 Personel Polri

MEDAN-Rangkaian Jumat Agung yang pelaksanaannya berdekatan dengan Salat Jumat berjamaah di Sumatera Utara, berlangsung aman. Hal itu tidak terlepas dari peran aktif masyarakat serta pengamanan yang dilakukan 8.600 personel Polri di ruang lingkup Polda Sumut, dibantu personel TNI dari Kodam I/BB dan petugas keamanan lain.

Wakapolda Sumut Brigjen Pol Sahala Allagan mengatakan, pengamanan di Kota Medan mendapat porsi lebih dibandingkan daerah lainnya. Pihaknya menggunakan sistem pengamanan buka dan tutup, melibatkan petugas berseragam dan berpakaian sipil. “Pengamanan terutama terhadap gereja-gereja yang menjadi focus. Selain itu, personel ditempatkan di sejumlah objek vital yang ramai oleh masyarakat. Antara lain, pusat perbelanjaan, hotel dan juga tempat keramaian lainnya,” jelasnya.

Hingga tadi malam, kondisi keamanan dan ketertiban Kota Medan masih aman terkendali.Sedikitnya, 725 personil Polri mengawal pelaksanaan Jumat Agung di sejumlah gereja selama pelaksanaan Jumat Agung di wilayah hukum Polresta Medan. Mereka dibagi dalam beberapa titik, 405 personel berjaga di Gereja, 120 personel melakukan patroli dan 200 personel stand by. “725 personel Polri bersenjata lengkap,” ujar Kapolresta Medan, Kombes Pol Tagam Sinaga, Kamis (22/4) malam.

Seluruh gereja di Medan mendapat pengawalan dan pengamanan kepolisian. Tidak ada gangguan sepanjang pelaksanaan ibadah Jumat Agung, kemarin. Misa Perjamuan Kudus yang dilakukan sejumlah gereja di Medan, berlangsung tertib dan khidmat. Pantuan di Gereja Katedral di Jalan Pemuda No 3 Medan tampak dijaga ketat personel polisi. Demikian juga di Gereja Katolik Santo Paulus, Pasar Merah, Gereja Katolik Kristus Raja di Jalan MT Haryono, HKBP Pendidikan di Jalan Pendidikan Kecamatan Medan Area, dan Gereja GKPS Menteng II.

P br Pardede (52), Jemaat HKBP Pendidikan menegaskan tidak khawatir dengan isu bom. “ Tuhan itu berada di hati kita, umatnya. Jadi tidak perlu takut dan saya tetap menjalankan ibadah,” tukas warga Jalan Menteng II itu.
Petugas juga mengamankan sejumlah objek vital, termasuk memantau keamanan sejumlah masjid, terutama saat pelaksanaan Salat Jumat.

Bandara Polonia di Jaga Ketat

PT Angkasa Pura (AP) II Medan memberlakukan penjagaan super ketat di Bandara Internasional Polonia Medan. “Kita harus bekerja ekstra keras untuk menciptkan rasa aman dan menjaga keamanan kenyamanan para pengguna di Bandara Polonia,” tegas GM PT AP II Medan, Bram Bharoto Tjiptadi, kemarin. Pengamanan ini melibatkan pasukan dari TNI AU berseragam lengkap  ataupun berpakaian sipil.

Di Tebing Tinggi, setidaknya 500 personel pengamanan diterjunkan menjaga suasana kondusif. Petugasitu terdiri dari personel dari Polres Tebing Tinggi, unsur TNI, Linmas, dan Sat Pol PP.

Di Lubuk Pakam, 650 personel Polres Deliserdang disiagakan. Kapolres Deliserdang AKBP Pranyoto SIK melalui Kabid Humas AKP Abdul Hamid, mengatakan pengamanan Gereja dilakukan sejak Kamis malam, hingga dilangsungkannya Jumat Angung. (jon/adl/rud/btr/mag-3/mag-7)

Mimpi 11 Tahun

Man United Vs Everton

MANCHESTER-Peluang Manchester United untuk meraih tropi ke-19, alias menjadi pengumpul tropi terbanyak English Premier League (EPL) kian membesar.

Tiga kemenangan lagi sudah cukup bagi anak asuh Sir Alex Ferguson untuk menjadi  tim terbaik di tanah Inggris musim ini. Bahkan jika salah satu dari Chelsea atau Arsenal tergelincir akhir pekan ini,  maka The Red Devils hanya perlu menunggu kemenangan atas Arsenal saat keduanya bertanding di Emirates Stadium, pekan depan.

Tapi, bila hingga dua pekan ke depan baik Manchester United maupun Chelsea sama-sama meraih poin maksimal atas lawan-lawannya, maka Wayne Rooney dkk berpeluang menggelar pesta dihadapan pendukungnya yang memenuhi  Stadion Old Trafford, saat The Red Devils menjamu The Blues pada 7 Mei mendatang.

“Musim ini terasa sangat spektakuler. Meski sempat terseok-seok di awal musim, kini kami tinggal selangkah lagi meraih tropi ke-19. Dan akan lebih hebat bila tropi ke-19 itu diraih dihadapan para fans yang selalu setia memberi dukungan,” bilang Sir Alex Ferfguson, tactician Manchester United.

Kendati berani menghitung  peluang timnya, namun pria yang telah seperempat abad menangani The Red Devils itu tetap memandang serius laga yang telah ada di depan mata, seperti saat mempersiapkan tim untuk  menjamu Everton sore ini.

“Pada putaran pertama kami mampu mencuri satu angka di Goodison Park. Nah, mumpung kini pertandingan berlangsung di Old Trafford, maka saya tekankan kepada mereka (pemain, Red) untuk meraih tiga angka,” tandas pria yang akrab disapa Fergie itu.

“Setiap pertandingan terasa semakin penting. Meski kini tim tak pernah lagi tampil komplet karena selalu ada pemain yang absen akibat cedera” bilang Fergie lagi.

“(Darrent) Fletcher telah kembali berlatih. Mungkin besok (hari ini, Red), atau saat menghadapi Schalke, dia belum bisa dimainkan, tapi dia berpeluang mengakhiri musim ini dengan ikut berpesta di Old Trafford (dimainkan saat menjamu Arsenal),” kata Ferguson .

Sementara itu nuansa penuh gairah juga tercipta di kubu Everton. Hasrat untuk berlaga di ajang Europa League membuat anak asuh David Moyes siap tampil all out saat bertandang ke Old Trafford.

“Masih ada kesempatan untuk lolos ke kompetisi Eropa. Dengan performa kami yang sedang meningkat, maka semuanya menjadi serba mungkin,” ujar John Heitinga, bek Everton.

Heitinga boleh berharap, namun bek berkebangsaan Belanda ini tak boleh lupa bahwa sudah sebelas tahun lamanya The Toffes (julukan Everton) tak pernah menang atas Manchester United di Stadion Old Trafford.

Terakhir kali  tim ini mencuri kemenangan di sana pada 19 Agustus 1992. Saat itu tuan rumah dipermalukan dengan skor 0-3. (jun)

Fans Minta Potongan Harga

FANS Manchester United menuntut Joel Glazer, co-chairman Red Devils menurunkan harga tiket, seperti yang dilakukannya di Tampa Bay Buccaneers.

Sean Bones, vice chair Manchester United Supporter Trust (MUST), mengatakan bahwa dirinya yakin Jika Joel Glazer akan mendengar tuntutan fans Tampa Bay.

Glazer menurunkan harga tiket Tampa Bay Buccaneers, franchise National Football League (NFL), sampai 30 persen. Fans Tampa Bay mengajukan permintaan dengan alasan situasi ekonomi yang sedang sulit.

Pemotongan hanya dilakukan pada tiket musiman, bukan tiket pertandingan per pekan, sehingga fans fanatik Tampa Bay bisa menyaksikan laga sepanjang musim. “Joel Glazer juga harus merespon tuntutan kami,” lanjut Bones.

Menurut Bones, jika Joel Glazer tidak melakukannya, fans Manchester United akan merasa sedang mensubsidi Tampa Bay . Lebih serius lagi jika muncul tuduhan Keluarga Glazer mengeksploitasi Manchester United untuk menutupi hutang Tampa Bay .

“Kami seharusnya mendapat potongan harga tiket jauh lebih besar dari yang diterima fans Tampa Bay, karena selama ini Keluarga Glazers mengeruk jutaan pound untuk menghidupi franchise NFL-nya,” bilang  Bones.

Tidak disebutkan berapa besar pemotongan yang diinginkan MUST. Sedangkan juru bicara Manchester United mengatakan bahwa keluarga Glazer sedang menghitung-hitung berapa besar potongan harga yang akan diberikan kepada fans. (net/jpnn)