Home Blog Page 2578

Keinginan Gubsu Hapus Zonasi, Abyadi: Tak Tepat dan Berdampak Besar

Abyadi Siregar.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keinginan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi menghapuskan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri dan SMK Negeri di Sumut tidak tepat dan tidak sesuai dengan Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 1 tahun 2021 tentang PPDB.

“PPDB itu, urusan pusat. Kemudian, muncul peraturan Kementerian Pendidikan, Pemerintah daerah harus melakukan (melaksanakan) itu,” kata Kepala Ombudsman Perwakilan Sumut, Abyadi Siregar saat dikonfirmasi Sumut Pos, Rabu (22/6).

Abyadi menjelaskan, penetapan PPDB melalui jalur zonasi ini, tentu pasti memiliki dasar hukum dan ada payung hukumnya. Ia menilai tidak semuda dibayangkan untuk menghapuskan zonasi. Karena, peraturan dibuat atau diciptakan oleh Pemerintah Pusat, harus dijalankan dan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. “Jadi, saya kira bahwa tidak semuda dibayangkann

Kita adalah Pemerintah Daerah, kebijakan pendidikan dari pusat yang muncul. Itu adalah keputusan dari Menteri Pendidikan,” kata Abyadi.

Abyadi mengungkapkan, adanya sistem PPDB jalur zonasi, prestasi dan lainnya. Hal itu sebagai bentuk Pemerintah Indonesia mengubah sistem penerimaan peserta didik baru dari jalur royanisasi dan juga ada beberapa faktor. Dengan tujuan untuk menghapus sekolah-sekolah favorit.

“Kita ambil contoh SMA Negeri 1 Medan, masuk ke situ syarat dengan kecurangan. Teman-teman kepala sekolah setiap penerimaan siswa baru. Kepala sekolah bisa ganti mobil baru. Itu pengakuan kepala sekolah kepada kita. Begitu luar biasa uang masuk untuk satu kursi di sekolah favorit,” ucap Abyadi.

Abyadi mengungkapkan terlalu besar dampak terhadap keinginan untuk menghapuskan zonasi. Karena, tidak memberikan keadilan bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan bagus. Semua itu, tidak terfokus dengan sekolah favorit.

Abyadi memberikan saran kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut dan Disdik Kabupaten/Kota untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas setiap sekolah negeri. Sehingga ada pemerataan kualitas pendidikan setiap daerah. Jangan terfokus dua atau tiga sekolah saja.

“Kenapa sekolah itu, favorit? Kenapa pemerintah tidak memfavoritkan semua sekolah. Harusnya begitu, konsep berpikirnya bagaimana pemerintah daerah memeratakan semua sekolah. Jangan terfokus kepada dua atau tiga sekolah saja disebuah daerah,” jelas Abyadi.

Abyadi menilai tidak menjadi dasar sekolah favorit diisi oleh siswa-siswi yang pintar. Kemudian, tidak ada korelasinya. Malah memberikan dampak buruk, untuk orang tua siswa dengan segala cara agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan di sekolah favorit.

“Ombudsman pernah menemukan masyarakat mempunyai Mobil Rubicon dan Kapolsek bisa mengurus surat miskin agar anaknya bisa masuk sekolah favorit. Bohong orang berprestasi masuk sekolah favorit itu. Selama ini, orang bertarung uang dan kekuasaan,” ucap Abyadi.

Abyadi mengatakan, Gubernur Sumut, harus berpikir ulang untuk keinginan menghapuskan jalur zonasi. Seharusnya, mantan Pangkostrad itu, menginstruksikan kepada Disdik Sumut memperkuat sekolah lain tidak favorit secara fasilitas dan kualitas. Sehingga menjadi pilihan masyarakat seperti sekolah favorit itu.

“Saya berpikir konsep pak Gubernur mau menghapus itu, saya pikir kurang tepat. Saya berpikir bagaimana pak Gubernur dan pemerintah daerah memperkuat sekolah – sekolah yang lain. Sehingga persepsi sekolah favorit itu hilang,” kata Abyadi.

Abyadi mengungkapkan, stigma sekolah favorit ini, memberikan dampak kepada sekolah swasta secara fasilitas dan kualitas pendidikan bagus. Tapi, tidak ada siswanya.”Ombudsman pernah, menerima keluhan Badan Musyawarah Sekolah Swasta. Ada kumpulan sekolah-sekolah swasta. Dengan sistem, sekolah swasta tidak ada muridnya. Ini lah, faktor-faktor pemerintah berubah itu,” sebut Abyadi.

Di sisi lain, Abyadi saat sidak ke Disdik Sumut, beberapa hari lalu. Ia menemukan sejumlah Kecamatan di Kota Medan belum memiliki sekolah SMA Negeri dan SMK Negeri. Hal ini, harus menjadi catatan Pemprov Sumut bagaimana mengcover itu semua melalui zonasi. Karena, melalui jalur mampu memberikan keadilan kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

“Saya sidak ke Disdik Sumut, banyak kecamatan di Kota Medan belum ada sekolah – sekolah negeri. Contohnya, Medan Amplas, Medan Baru dan Medan Selayang tidak ada sekolah. Ini harus diperjuangkan Pemprov, karena jalur zonasi mewakili itu semua,” pungkas Abyadi.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi berkeinginan pelaksanaan PPDB tahun 2023 tidak ada lagi melalui jalur zonasi, tapi jalur prestasi. Sehingga pelajar yang berprestasi dan pintar dapat bersaing dengan ketat di sekolah favorit dan bagus.

Gubernur Edy menilai keinginan menghapuskan jalur zonasi dikarenakan kouta jalur prestasi sangat kecil hanya 20 persen dibandingkan sisanya jalur zonasi.

“Saya masih mengusulkan ke depan ini tidak ada lagi zonasi-zonasi. Jadi prestasi gitu, kita kan hanya dikasih 20 persen untuk jalur prestasi, yang lain zonasi ,” kata Gubernur Edy kepada wartawan di rumah dinas Gubernur Sumut, Kota Medan, Selasa (21/6) siang.

Mantan Pangkostrad itu, mengatakan keinginan dirinya perlu terlebih dahulu dilakukan pengkajian dan dipelajari dari keseluruhan aspek pada pelaksanaan PPDB.”Zonasi ini juga nanti harus kita pelajari, itukan harus kita siasati,” tutur Gubernur Edy.

Gubernur Edy menjelaskan keinginan PPDB 100 persen jalur prestasi. Karena, melihat siswa dan siswi yang prestasi di Sumut ini sangat banyak. Sehingga tidak dapat tertampung dengan sekolah SMA Negeri dan SMK Negeri favorit dan bagus di Kota Medan. Karena, keterbatasan kouta hanya 20 persen saja.

“Jadi orang Tarutung enggak bisa sekolah di sini nanti, atau orang Nias enggak bisa sekolah di sini kalau sistem zonasi ini. Nah ini yang harus kita pertimbangkan walaupun ada kegiatan-kegiatan anak kita nanti kita lihat,” jelas Gubernur Edy.(gus/ila)

Kapolri Mutasi 7 Kapolres di Sumut

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo memutasi 7 Kapolres, di jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut), pada Senin (20/6) kemarin.

Mutasi tersebut berdasarkan Surat Telegram Kapolri, Nomor: ST/1216/VI/KEP/2022, Tanggal 20 Juni 2022. Hal itu dibenarkan Kasubbid Penmas Polda Sumut, Kompol Herwansyah Putra kepada Sumut Pos di Medan, Rabu (22/6).

Dia menjelaskan, Kapolres di Sumut yang dimutasi ada tujuh orang, yakni Kapolres Toba, Kapolres Tanjungbalai, Kapolres Nias, Kapolres Asahan, Kapolres Tapanuliselatan (Tapsel), Kapolres Simalungun dan Kapolres Tapanuliutara (Taput).”Benar, ada tujuh orang yang dimutasi. Hal ini merupakan biasa di tubuh Polri dalam rangka penyegaran,” ujarnya.

Adapun, tujuh Kapolres yang dimutasi itu, adalah Kapolres Toba AKBP Akala Fikta Jaya dimutasi sebagai Kabagwassidik Ditreskrimum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penggantinya, yakni AKBP Taufiq Hidayat Thayeb.

Selanjutnya, Kapolres Tanjungbalai AKBP Triyadi dimutasi sebagai Kabaginfolog Rolog Polda Sumut. Penggantinya AKBP Ahmad Yusuf Afandi. Lalu, Kapolres Nias AKBP Wawan Iriawan digantikan AKBP Lufhi dari Kabagdiklat Pusdik Lantas Lemdiklat Polri.

Kemudian, Kapolres Asahan AKBP Putu Yudha Prawira dipercaya sebagai Wadirreskrimsus Polda Sumatera Selatan (Sumsel). Penggantinya Kapolres Tapanuliselatan (Tapsel) AKBP Roman S Elhaj. Sementara itu, AKBP Imam Zamroni dipercaya menjabat sebagai Kapolres Tapsel.

Selain itu, Kapolres Tapanuliutara (Taput) AKBP Ronald Fredy Christian Sipayung dipercaya sebagai Kapolres Simalungun. Dan Kapolres Taput yang baru dijabat AKBP Johanson Sianturi. Dia sebelumnya menjabat sebagai Kanit 3 Subdit II Dittipid Siber Bareskrim Polri.

Terakhir, Kapolres Simalungun AKBP Nicolas Dedy Arifianto diangkat dalam jabatan baru sebagai Wadirlantas Polda Sumbar. Jabatan sebelumnya diisi oleh AKBP Ronald Fredy Christian Sipayung yang saat ini sebagai Kapolres Taput.

“Kapolri juga memutasi jabatan Wadirbinmas dan Wadirsamapta Polda Sumut. AKBP Jonner MH Samosir yang sebelumnya menjabat Wadirbinmas Polda Sumut dimutasikan ke jabatan baru sebagai Direktur Pamobvit Polda Sulawesi Barat (Sulbar),” ujarnya.

Sedangkan, AKBP Benny Remus Hutajulu yang sebelumnya menjabat Wadirsamapta Polda Sumut dimutasikan ke jabatan baru sebagai dosen utama STIK Lemdiklat Polri. “Penggantinya, AKBP Sonny Henrico Parsaulian Sirait yang sebelumnya menjabat Kapolres Kutai Barat Polda Kalimantan Timur (Kaltim),” tandasnya. (dwi/ila)

Tingkatkan Sektor Pariwisata, Sumut Bangun Kerja Sama dengan Kamboja

KUNJUNGAN: Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara (Sumut) Afifi Lubis menerima kunjungan Wakil Menteri Pariwisata Kerajaan Kamboja Katoeu Mohammad Nossry. di Ruang Rapat Kantor Gubernur, Jalan Diponegoro, Medan, Rabu (22/6/2022).istimewa/sumutpos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) menjajaki kerja sama di bidang pariwisata dengan Kamboja. Harapannya, semakin banyak wisatawan dari Kamboja yang datang ke Sumut. Hal itu disampaikan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut Afifi Lubis saat menerima kunjungan Wakil Menteri Pariwisata Kerajaan Kamboja Katoeu Mohammad Nossry di Ruang Rapat Kantor Gubernur, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan, Rabu (22/6).

Dikatakan Afifi, pariwisata merupakan salah satu sektor prioritas Pemprov Sumut.”Pemprov sangat terbuka melakukan kerja sama terhadap pihak dari dalam negeri dan maupun luar negeri, terutama dalam rangka pemulihan ekonomi rakyat yang targetnya untuk menyejahterakan rakyat,” ujar Afifi.

Afifi menyampaikan, Sumut memiliki beragam destinasi wisata yang kaya. Hal itu didukung geografis Sumut yang juga beragam mulai dari pegunungan, laut, dataran rendah ada di Sumut. Maka, Sumut bisa menjadi destinasi wisata pilihan warga Kamboja. Untuk itu, Pemprov sangat serius dengan pengembangan pariwisata di Sumut.

“Sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terkena imbas pandemi Covid-19, dimana jumlah kunjungan wisatawan berkurang drastis sehingga banyak pengurangan tenaga kerja yang memengrauhi berkurangnya PAD. Menjadi tanggung jawab Pemprov untuk mengembangkan potensi wisata di Sumut secara berkelanjutan,” kata Afifi.

Afifi mengharapkan, ada pertemuan lanjutan berikutnya membahas hal-hal yang lebih detail dan teknis. “Saya harap ke depan ada pertemuan lanjutan, sehingga kita bisa mengembangkan gagasan-gagasan kita mengenai pariwisata di Indonesia dan Kamboja,” kata Afifi.

Wakil Menteri Pariwisata Kerajaan Kamboja Katoeu Mohammad Nossry mengharapkan ada pertukaran wisatawan antara Sumut dengan Kamboja. Apalagi Kamboja sudah memiliki kerja sama dengan Indonesia di bidang pariwisata, yang ditandai dengan penandatanganan MoU oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

Katoeu mengharapkan Pemprov Sumut menjalin kerja sama Sister Province dengan Provinsi Sihanouk Kamboja. Lebih lanjut, Katoeu mengatakan Kamboja memiliki satu juta penduduk muslim dengan ribuan masjid, serta restoran-restoran yang menyediakan makanan halal.

Untuk itu, Katoeu mengatakan perlunya pembentukan kelompok kerja yang membahas kerja sama antara Sumut dan Kamboja. “Perlu kita membentuk working group untuk mendekatkan kedua negara ini melalui kerjasama yang akan kita lakukan ke depan,” kata Katoeu. (gus/ila)

Ada Warga Menolak Pembangunan Tanggul Rob, Harusnya Masyarakat Mendukung

DIALOG: Wali Kota Medan Bobby Nasution berdialog dengan warga terkait pembangunan tanggul rob Belawan.istimewa/sumutpos.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wali Kota Medan Muhammad Bobby Afif Nasution menaruh perhatian besar terhadap pembangunan di kawasan Medan bagian Utara. Salah satu pembangunan besar yang akan dimulai di sana khususnya di Kecamatan Medan Belawan adalah tanggul rob. Fungsinya, tanggul tersebut diharapkan mampu mencegah atau setidaknya mengurangi debit banjir rob yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat di Belawan.

Saat kampanye, Bobby kerap mendengar keluhan warga Belawan soal banjir rob. Maka saat itu, Menantu Presiden Jokowi itu pun berjanji akan membangun tanggul sesuai keinginan warga setempat. Konon, pembangunan tanggul itu adalah solusi terbaik untuk atasi debit banjir rob.

Untuk memastikan pembangunan tanggul tersebut berjalan lancar, Bobby menggelar rapat di Kantor Kelurahan Belawan Bahagia Selasa (21/6). Selain membawa langsung OPD terkait, konsultan juga ikut rapat. Perwakilan warga setempat juga ikut.

Disayangkan, ada segelintir warga yang menolak pembangunan tanggul rob tersebut dengan alasan-alasan yang kurang tepat. Namun Bobby Nasution tampak bijaksana dengan meminta agar warga kembali berembuk dalam satu pekan ini. Jika warga telah bersedia, maka awal Juli ini pembangunan segera dilakukan.

“Yang pasti pembangunan tanggul rob dilakukan untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini dikeluhkan warga. Yang pasti dalam pembangunan tanggul ini, Pemko Medan tidak mau mempersusah atau pun mengorbankan warganya. Apabila warga tidak setuju, maka pembangunan tanggul tidak akan kita lakukan. Untuk itu kita beri waktu seminggu apakah masyarakat setuju atau tidak dengan pembangunan tanggul. Apabila setuju, maka pembangunan akan kita mulai Juli 2022 ini,” kata Bobby.

Mendengar adanya warga yang menolak pembangunan tanggul rob tersebut, politisi Partai Hanura yang juga anggota komisi IV DPRD Medan Hendra DS pun angkat suara. “Harusnya masyarakat mendukung penuh. Ini kesempatan emas, sebab sudah puluhan tahun dinanti pembangunan tanggul rob itu. Ini sudah ada Wali Kota Bobby yang bisa membangun kok ditolak. Saya kira masyarakat harus dukung penuh semangat wali kota Bobby Nasution,” kata Hendra DS Selasa (21/6) malam.

Kata pria yang juga Ketua Fraksi Hanura DPRD Medan itu, semangat Bobby Nasution membangun Medan Utara harus didukung. “Toh ini untuk kebaikan warga di Medan Utara terkhusus Belawan. Semangat pak wali untuk membangun utara harus didukung. Jangan sampai ada oknum yang mengompori warga hingga menolak pembangunan. Ini untuk hajat hidup orang banyak, bukan hanya segelintir. Saya harap pembangunan tersebut benar terealisasi. Nanti warga bisa langsung merasakan hasilnya,” pungkas Hendra DS.

Sementara itu, Pengamat Politik dan Pemerintahan asal USU Doktor Indra Fauzan, PHd menilai penolakan itu bisa diatasi dengan komunikasi yang baik. Terlebih fungsi tanggul itu akan lebih banyak manfaatnya.

“Tentunya wajar apabila ada penolakan dari sebagian warga. tapi tentunya ini adalah tugas dari pemerintah yang berwenang untuk mensosialisasikan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa tujuan dari pembaagunan tanggul rob itu adalah untuk mengurangi banjir, sehingga warga bisa terlindungi. Dari aspek pembangunan tentunya pembangunan tanggul ini banyak fungsi bila dilihat dari aspek sosial dan ekonominya,” kata Fauzan. (map/ila)

Lapangan Merdeka Medan Sudah Kosong, Tenant Belum Pindah ke Taman Lili Suheri

SITE PLAN: Desain rancangan pembangunan (site plane) Lapangan Merdeka yang sudah selesai direvitalisasi. Rencananya, revitalisasi pembangunan fisik Lapangan Merdeka dimulai pada 4 Juni ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Lapangan Merdeka Medan kini sudah kosong dari pemilik tenant tempat usaha. Pengosongan Lapangan Merdeka Medan ini sejalan dengan wacana revitalisasi ruang publik tersebut, yang dicanangkan Pemko Medan.

Meski Lapangan Merdeka Medan sudah dikosongkan para pemilik tenant, tapi mereka belum mau pindah ke Taman Lili Suheri. Sampai saat ini, belum ada pemilik tenant yang mengaku mau pindah ke Taman Lili Suheri. “Sejauh ini belum ada yang bilang untuk pindah ke Taman Lili Suheri, ini masih terus berkoordinasi,” kata Direktur PT Orange Indonesia Mandiri (OIM), W Karokaro, Rabu (22/6).

Sementara itu, sampai saat ini masih ada sejumlah pekerja tenant yang mengevakuasi barang dari Lapangan Merdeka Medan. “Kemarin terakhir angkut barang, kebetulan ada yang ketinggalan,” kata Andi, pekerja tenant.

Andi mengatakan, karena tenant tempatnya bekerja tutup, ia pun diliburkan perusahaan. Namun, ia belum tahu akan dipindahkan kemana setelah tenant di Lapangan Merdeka Medan ditutup. “Memang banyak cabang (perusahaan), tapi di sana sudah full semua. Sementara kejelasan di Taman Lili Suheri belum diketahui, lantaran tidak ada bangunannya,” kata Andi.

Seperti diketahui, Wali Kota Medan Bobby Nasution memastikan akan melakukan revitalisasi terhadap Lapangan Merdeka Medan. Hal ini dilakukan sebagai upaya Pemko Medan untuk mengembalikan fungsi Lapangan Merdeka Medan sebagai kawasan Cagar Budaya (Heritage) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dengan begitu, nantinya masyarakat benar-benar dapat memanfaatkan fungsi lapangan yang pada zaman Belanda disebut de-Esplanade itu.

Untuk memulai revitalisasi yang akan direncanakan pada awal Juli mendatang, Pemko Medan terlebih dahulu akan merelokasi sejumlah tenant yang berada di Merdeka Walk (MW) di Taman Lili Suheri yang berlokasi di Jalan Listrik/Palang Merah Medan. Sedangkan untuk pedagang buku, dikabarkan akan dipindahkan ke Kawasan Kelurahan Gaharu, Kecamatan Medan Timur.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Penataan Ruang (PKPPR) Kota Medan, Endar Sutan Lubis mengatakan, pihakmya telah meminta agar Lapangan Merdeka Medan dikosongkan paling lambat 20 Juni nanti.

Dia pun menjelaskan, pengerjaan fisik revitalisasi Lapangan Merdeka Medan akan dimulai awal Juli mendatang. Saat ini, Pemko Medan tengah fokus mengosongkan ruang terbuka hijau (RTH) yang dulu bernama De Esplanade.

“Pada 4 Juli kita mulai pengerjaan fisiknya. Sebelum itu akan ada kegiatan seremonial peletakan batu pertama pertanda kegiatan dimulai. Di 29 Juni, itu sudah bisa peletakan batu pertama,” katanya.

Dia juga menyebutkan, untuk merevitalisasi Lapangan Merdeka Medan, dibutuhkan anggaran hingga Rp400 miliar. Karena anggarannya cukup besar, maka dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal, telah disiapkan anggaran sebesar Rp97,5 miliar.”Dana untuk revitalisasi seluruh Lapangan Merdeka Medan, butuh anggaran Rp400 miliar. Tahap awal ini sudah dialokasikan Rp97,5 miliar,” beber Endar.

Menurut Endar, anggaran Rp400 miliar itu berasal dari APBD Kota Medan dan APBD Sumut. Namun untuk pengerjaan tahap awal sebesar Rp100 miliar, berasal dari Pemprov Sumut.”Dari Rp100 miliar yang sudah disiapkan, untuk fisik Rp97,5 miliar, dan untuk manajemen konstruksinya Rp2,5 miliar,” pungkasnya. (map/ila)

Pengganti Migor Curah Segera Hadir

istimewa KEMASAN: Pemerintah keluarkan kemasan minyak curah.

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Rencana pemerintah mengganti kemasan minyak goreng curah ke kemasan sederhana bakal segera terealisasi. Menurut Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Kemendag sedang memproses izin edar ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Migor kemasan sederhana ini bermerk Minyak Kita. Kementerian Perdagangan sedang memproses izin edar Minyak Kita ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Nah sekarang kita sedang matangkan, lagi diurus izin edarnya minyak Kita, minyak curah kemasan sederhana. Kalau Kamis jadi, mungkin nanti Senin sudah diproduksi oleh pabrik-pabrik,” kata Zulhas saat blusukan ke Pasar Klender SS, Jakarta Timur, Rabu (22/6).

Zulhas mengatakan, pihaknya memberi waktu selama satu minggu. Setelah itu akan ada minyak goreng curah kemasan sederhana yang dipasarkan ke masyarakat.

Terkait ongkos pengemasan, hal itu menjadi tanggung jawab pihak produsen. “Biaya pengemasan ditanggung produsen, jadi nggak naik lagi,” kata Zulhas menambahkan.

Zulhas mengklaim kemasan baru migor curah jauh lebih bersih dari kemasan sebelumnya. Dalam kemasan minyak Kita, akan tertulis label harga sebesar Rp 14 ribu.

Mendag sempat berbincang dengan pemilik toko sembako di sekitar Pasar Klender SS. Pedagang meminta pemerintah melakukan pengemasan terhadap minyak goreng curah.

“Pak, kalau bisa pemerintah yang kasih kemasan buat minyak goreng curah,” kata salah satu pedagang. Zulhas pun mengiyakan, dan menyebut jika proses pengemasan migor curah sedang dalam proses pengurusan. (dtc/ram)

Harga Cabai Naik, Migor Turun

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Setelah sempat turun pada awal pekan, harga cabai merah kembali naik. Berdasarkan data dari PIHPS, harga cabai merah di Kota Medan berkisar Rp91 ribu per kg. Sementara cabai rawit dijual dikisaran Rp59 ribu per Kg nya. Puspatari, pedagang sayur di Jalan Sisingamangaraja mengatakan awalnya dirinya senang karena harga cabai mulai turun. Dan berharap oenurunan ini akan terus berlangsung.

“Tapi ternyata gak, seperti hari ini (Rabu, 22/6) malah naik,” ujarnya.

Belum stabil ini membuat dirinya tidak berani belanja banyak. Karena ditakutkan, bila tidak laku akan termakan modal.

“Ya, kalau harganya naik, kalau turun?. Karena harga cabai merah naik, yang beli juga sedikit,” ungkapnya.

Sementara itu pengamat ekonomi dari UINSU, Gunawan Benjamin mengatakan bila dilihat ari tren harga cabai, pada dasarnya kenaikan harga cabai merah di kota medan merupakan bagian dari fluktuassi harga yang jamak terjadi di wilayah lain.

“Ini hanya fluktuasi harga,” ungkapnya.

Sementara itu hasil pantauan di lapangan, harga minyak goreng kembali mengalami penurunan, khususnya minyak goreng curah. Di kota medan, harga minyak goreng berada dikisaran Rp15.600 per Kg, dari sebelumnya yang bertengger dikisaran Rp16.000 per Kg nya.

Selain minyak goreng curah, harga daging ayam juga terus mengalami penurunan. Penurunan harga daging ayam belakangan ini memang dimotori oleh penurunan harga bahan baku utama pakan ternak. Ditambah lagi mulai melimpahnya pasokan ikan segar yang menjadi subtitusi bagi daging ayam.

Untuk di medan, harga daging ayam rata rata dipasarkan di kisaran Rp29.900 per kg. Untuk harga telur ayam, harganya di kota medan terpantau stabil sejauh ini dikisaran angka Rp26.500 per kg. tetapi di sejumlah wilayah lain di Sumut harganya bergerak turun meskipun masih terpantau di kisaran harga yang sama.

Bawang merah di kota medan harganya terpantau stabil di kisaran Rp60 ribu per Kg. Namun di Kota Siantar harganya mengalami penurunan di kisaran Rp56 ribu per Kg nya.

“Saya masih yakin bawang merah ini berpeluang untuk kembali turun harganya,” ungkap Gunawan. (mag-1/ram)

Buka FSQ ke-44 Kabupaten Deliserdang Tahun 2022, Ashari: Jadikan Motivasi

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan secara resmi membuka Festival Seni Qasidah (FSQ) ke-44 Tingkat Kabupaten Deliserdang Tahun 2022 di Lapangan Sepak Bola Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Percut Seituan, Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan, Selasa(21/6) malam.

Pembukaan FSQ ke-44 tersebut ditandai dengan pemukulan bedug, sekaligus dirangkai dengan pelantikan dewan hakim.

Dalam sambutannya, Bupati Ashari menjelaskan saat ini seni qasidah sudah sangat berkembang di tengah kehidupan masyarakat, baik di lingkungan pesantren, majelis pengajian, kalangan remaja masjid dan masyarakat luas. Kehadiran seni qasidah terus mewarnai spirit keagamaan masyarakat, khususnya di Kabupaten Deliserdang. Seni yang dipadukan antara musik dengan lantunan syair-syair qasidah, menghasilkan harmonisasi indah yang sarat akan nilai-nilai keislaman.

Festival yang mengangkat tema, “Melalui Festival Seni Qasidah ke-44, Kita Gemakan Seni Budaya Islam Menuju Deli Serdang yang Maju, Sejahtera, Religius dan Rukun dalam Kebhinekaan” ini, kata Bupati, bertujuan untuk melestarikan kesenian qasidah. Terlebih, saat ini dengan pesatnya perkembangan musik modern yang identik dengan budaya luar, membuat kesenian qasidah mulai terkikis. Tentunya, ini tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan akhlaq.

“Ajang ini sekaligus juga memberikan pembinaan bagi masyarakat dalam menempatkan seni qasidah sebagai lagu dan syair Islami, di mana makna dan artinya dapat dijadikan sebagai tuntunan hidup, karena mengandung nilai-nilai dakwah dan ajaran yang baik sesuai dengan kaidah Islam,” kata Bupati.

Bupati meminta para peserta utusan dari masing-masing kecamatan, untuk menjadikan momen tersebut sebagai motivasi dalam memahami dan menggali nilai-nilai budaya religius.

Sebelumnya, Kabag Kesra Setdakab, Mukti Ali Harahap SAg MSi, selaku ketua panitia, melaporkan pelaksanaan FSQ ke/44 Tingkat Kabupaten Deliserdang ini akan berlangsung dalam lima hari, mulai Selasa (21/6) hingga Sabtu (25/6).

Ada delapan cabang yang diperlombakan, antara lain Qasidah Klasik Remaja, Qasidah Klasik Dewasa, Qasidah Klasik Pelajar, Bintang Vokalis Anak-anak, Bintang Vokalis Remaja, Bintang Vokalis Dewasa, Pop Religi Anak-anak dan Pop Religi Remaja. Kedelapan lomba tersebut akan diikuti 378 peserta dari 20 kecamatan se-Deli Serdang. Sedangkan dewan pembina, juri, pengawas, panitra dan sekretariat berjumlah 40 orang.(btr/han)

Tingkat Kemiskinan Deliserdang 4,01 Persen

CENDERAMATA: Bupati Deliserdang menyerahkan cenderamata kepada Ketua Tim III DPRD Provinsi Sumatera Utara H Muhammad Subandi ST, di sela-sela kunjungan kerja.

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Capaian indikator makro pembangunan di Kabupaten Deliserdang pada tahun 2021 bisa dilihat dari persentase angka kemiskinan di Kabupaten Deliserdang sesabr 4,01 persen, yang berada dibawah rata-rata Pemropvsu 9,01 persen dan Nasional berada di 10,14 persen.

Demikian disampaikan Bupati Deliserdang H. Ashari Tambunan saat menerima kunjungan kerja Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Dapil III, untuk mengecek realisasi hasil pelaksanaan kegiatan dan program APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2021, di Aula Cendana Lantai II Kantor Bupati Deli Serdang, Rabu (22/6).

Selain itu, lanjut Bupati Deliserdang, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Deli Serdang adalah 75,53. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata IPM Provinsi Sumatera Utara sebesar 72,00 dan nasional sebesar 72,29.

Karena itu, melalui kesempatan yang baik ini, kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari segenap Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara yang hadir pada hari ini, kiranya dapat memperjuangkan tambahan alokasi anggaran untuk Deli Serdang pada tahun-tahun mendatang baik yang bersumber dari bantuan keuangan provinsi, dana bagi hasil, maupun sumber dana lainnya.

“ Pemerintah Kabupaten Deliserdang sangat mendukung percepatan pembangunan Nasional maupun Provinsi Sumatera Utara, yang mana maupun kegiatan tersebut berdampak terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Deli Serdang “, kata Bupati.

Hal senada juga dikatakan Ketua Tim III DPRD Provinsi Sumatera Utara H Muhammad Subandi ST, tentu kita merasa bangga kepada Kabupaten Deli Serdang sebagai pintu gerbangnya indonesia bagian barat yang mengelilingi ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini harus menjadi prioritas pembangunan di Sumatera Utara karena kalau cerita Sumatera Utara wajahnya adalah Kabupaten Deliserdang, Ucapnya.

“Deliserdang adalah rumah kita dan pintu gerbang Sumatera Utara harus sama-sama kita bangun, sama-sama kita prioritaskan untuk meningkatkan Kabupaten yang kita cintai ini, tentu sebagai dapil kami juga punya tanggung jawab terhadap masyarakat Kabupaten Deli Serdang ini”,ucap H Muhammad Subandi ST.

Sebelumnya, Bupati Deli Serdang H Ashari Tambunan memaparkan perihal Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu Kabupaten terbesar di Provinsi Sumatera Utara, memiliki luas wilayah sebesar 249.772 (Dua Ratus Empat Puluh Sembilan Ribu Tujuh Ratus Tujuh Puluh Dua) ha atau 2.497,72 (Dua Ribu Empat Ratus Sembilan Puluh Tujuh Koma Tujuh Puluh Dua) km², yang terdiri dari 22 kecamatan, 380 Desa dan 14 Kelurahan, dengan jumlah penduduk sekitar dua juta jiwa.

Selain itu, Kabupaten Deliserdang juga merupakan pintu gerbang Provinsi Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan lokasi Bandara Kuala Namu berada berada di Kabupaten Deliserdang dan merupakan kawasan cepat tumbuh dan berkembang dengan meningkatnya investasi terutama di sektor industri, perdagangan dan jasa.

Kunjungan itupun diakhiri dengan penyerahan usulan program/kegiatan prioritas pembangunan di Kabupaten Deliserdang yang bersumber dari dana Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) dan APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun 2023 yang diserahkan Bupati Deliserdang H Ashari Tambunan, dan diterima langsung oleh Ketua TIM III Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara H.Muhammad Subandi,ST. (btr/han)