MEDAN, SUMUTPOS.CO – Rahmad Abdi (44) warga Jalan HM Yamin Gang Lurah Kelurahan Sei Kera, Medan Perjuangan ini, dituntut 3 tahun penjara. Terdakwa dinilai terbukti mencuri tabung gas 3 kilogram (kg) milik Sri Melinda Purba, dalam sidang virtual di Ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/11).
Palu Hakim-Ilustrasi
Dalam nota tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Vernando Agus Hakim, terdakwa melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-3e dan 5e KUHPidana. “Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Rahmad Abdi dengan pidana selama 3 tahun penjara,” ujarnya di hadapan hakim ketua, Jarihat Simarmata.
Usai pembacaan tuntutan, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pembelaan (pledoi) terdakwa. Mengutip surat dakwaan, pada 1 Juni 2020, terdakwa datang kerumah saksi korban Sri Melinda Purba, dengan cara merusak pintu depan rumah menggunakan linggis.
Kemudian, terdakwa mengambil pintu kayu, mesin cuci dan satu tabung gas 3 kg milik korban. Pada 11 Juni 2020 terdakwa menjual barang milik saksi korban kepada orang lain. Namun belum sempat terdakwa jual, kemudian polisi mendatangi terdakwa di rumahnya dan langsung dibawa ke Polsek Medan Timur. Akibat perbuatan terdakwa maka saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp15 juta. (man/azw)
POLDA SUMUT: Gapura Markas Polda Sumut di Jalan Sisingamangaraja Medan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sudah hampir setahun lamanya, kasus dugaan korupsi di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi masih ditangani Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut). Hingga kini, kasus tersebut sedang dalam tahapan melengkapi keterangan saksi-saksi oleh pihak Polda Sumut. Hal itu dikatakan Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan kepada Sumut Pos di Medan, Selasa (10/11).
POLDA SUMUT: Gapura Markas Polda Sumut di Jalan Sisingamangaraja Medan.
“Untuk kasus dugaan korupsi di PDAM Tirtanadi masih melengkapi keterangan saksi-saksi,” ujar Nainggolan singkat.
Diketahui, pihak Polda Sumut masih terus mendalami kasus dugaan korupsi setoran kontribusi PDAM Tirtanadi ke PAD Pemrov Sumut. Kasus yang ditangani penyidik Direktorat Reskrimsus Polda Sumut ini akan mengambil keterangan para saksi untuk mengembangkan penyelidikan.
Nainggolan, pada Jumat (6/3) lalu menyebutkan, pihaknya akan memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti-bukti untuk melengkapi berkas penyelidikan.
Disebutkan dia, untuk mengungkap kasus yang merugikan negara ini, pihaknya akan memeriksa beberapa saksi dari pihak PDAM maupun dari pihak manapun yang ada keterlibatan. “Siapa saja itu bakal akan kita periksa untuk melengkapi penyelidikan dan tergantung penyidik,” cetusnya.
Hal sama dikatakan Nainggolan, terhadap kasus dugaan korupsi pembangunan gedung kuliah terpadu UINSU Medan. Saat ini, katanya, pihak Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus Polda Sumut) juga sedang melengkapi keterangan dari saksi-saksi untuk kasus ini.
Sebelumnya, Nainggolan, beberapa waktu lalu mengungkapkan, sedang terus melakukan pendalaman kemungkinan adanya tersangka lain dalam dugaan kasus korupsi pembangunan gedung kuliah terpadu UINSU Medan tersebut.
Hal itu dilakukan, setelah menetapkan dan memeriksa tiga tersangka dalam dugaan kasus korupsi tersebut.
Ia mengatakan, pendalaman itu dilakukan, guna mencari adanya kemungkinan keterlibatan tersangka lain dalam kasus ini. “Selain itu, penyidik juga sedang melengkapi berkas tiga orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ujarnya.
Ia menyebutkan, memang tidak tertutup kemungkinan ada lagi tersangka lain dalam kasus dugaan korupsi ini.
Sedangkan terhadap berkas perkara tiga tersangka yaitu, SS, JS dan S, bila nanti sudah lengkap, maka akan segera dikirim ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. “Doakan biar dinyatakan lengkap,” pungkasnya. (mag-1/azw)
RAPID TEST: Sebanyak 9.549 petugas KPPS dan PAM TPS Pilkada Labuhanbatu menjalani Rapid Test.
LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO-Sebanyak 9.549 orang calon anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan Petugas Pengamanan Tempat Pemungutan Suara (PAM TPS) pada Pilkada Labuhanbatu tahun 2020 menjalani rapid test.
Pelaksanaan rapid test dilakukan secara bertahap di masing-masing kecamatan, dan untuk petugas KPPS di 1.061 Tempat Pemungutan Suara (TPS).
“Rapid test dilakukan untuk 7 orang petugas KPPS dan dua orang petugas PAM di 1.061 TPS,” ungkap Ketua KPU Labuhanbatu, Wahyudi saat dihubungi, Selasa (10/11).
Dikatakannya, untuk mengantisipasi klaster baru penyebaran Covid-19 saat Pilkada, KPPS juga akan dilengkapi sejumlah alat pelindung diri (APD). Di antaranya, penyediaan masker, sarung tangan dan kaca mata face shield.
Dijelaskan Wahyudi, rapid test dilakukan kepada seluruh petugas KPPS dan PAM TPS yang dinyatakan lulus seleksi berdasarkan pengumuman KPU Labuhanbatu nomor 434/PP.04.2-PU/1210/KPU-KAB/X/2020. “Pelaksanaan rapid test ini dilakukan dengan bekerjasama Tim Gugus Tugas Labuhanbatu, dan koordinasi dengan Puskesmas,”tandasnya.
Dimana sebelumnya, sebanyak 45 petugas Panitia Pemungutan Kecamatan (PPK) di 9 kecamatan dan sebanyak 294 petugas PPS di 98 kelurahan/desa juga telah menjalani proses rapid test.
Terpisah, Komisioner KPU Labuhanbatu, Raja Gompulon Rambe, memaparkan jadwal pelaksanaan rapid test. Di antaranya, Kecamatan Bilah Barat seluruh KPPS dan PAM TPS sudah menjalani rapid test sejak 9- 12 November 2020. “Pelaksanaan dilakukan di kantor Camat Bilah Barat untuk 774 orang petugas,”ungkapnya.
Sedangkan di Kecamatan Rantau Utara, dimulai tanggal 9-15 November untuk 1.818 orang petugas. Lalu di Kecamatan Rantau Selatan dimulai tanggal 9-13 November untuk sebanyak 1269 orang petugas.
Kecamatan Bilah Hulu dimulai tanggal 9-14 November untuk 1377 orang. Di kecamatan Pangkatan 9-11 November ada 729 orang.
“Di kecamatan Bilah Hilir per tanggal 9-13 November untuk 1.233 orang. Di Panai Hulu dimulai tanggal 9-12 November untuk 792 orang,” kata dia.
Kemudian, di Kecamatan Panai Tengah dilaksanakan pada 9-12 November untuk 774 orang. Dan di Kecamatan Panai Hilir dilaksanakan 9-12 November untuk 783 orang. (fdh/han)
TINJAU: Kapolres Sergai, AKBP Robin Simatupang saat meninjau tanggul yang jebol di Sungai Siboro, Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul.
SERGAI, SUMUTPOS.CO-Usai mengikuti apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam bersama jajaran Muspida, Kapolres Sergai AKBP Robin Simatupang SH, Mhum langsung meninjau lokasi tanggul jebol di Sungai Siboro, Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul, Senin (9/11) sore.
Dalam kesempatan itu, AKBP Robin Simatupang juga melakukan pemantauan situasi kamtibmas dan memberikan bantuan sosial kepada warga korban banjir.
Saat melakukan peninjauan, Kapolres juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga situasi kamtibmas agar Kabupaten Sergai tetap aman dan baik menjelang Pilkada pada 9 Desember mendatang.
“Peninjauan ini sebagai respon kesiapsiagaan penanggulangan bencana, maka kita langsung lakukan action di lapangan,”ujar AKBP Robin.
Usai meninjau lokasi tanggul, AKBP Robin bersama pejabat lainnya memberikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Martebing, Desa Dolok Sagala, Kecamatan Dolok Masihul.
“Kita juga lakukan bakti sosial dengan memberikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak musibah banjir. Sembako disalurkan kepada masyarakat yang memang terdampak banjir di Desa Martebing dan Desa Dolok Sagala,”pungkasnya.(han)
PARAPAT, SUMUTPOS.CO – Danau Toba pernah memiliki ikan endemik pora-pora (Puntius binotatus). Sejak tahun 90-an, ikan pora-pora makin jarang terlihat.
Kemudian tahun 2004 silam, ada ikan kecil mirip pora-pora yang merajalela di Danau Toba, yakni sejak bibitnya ditaburkan Presiden Megawati Soekarnoputri. Namanya ikan bilih, ikan pemakan detritus (sampah organik) yang diintroduksi dari Danau Singkarak. Karena mirip, warga sekitar Danau Toba tetap menyebutnya ikan pora-pora.
Ikan bilih, menurut Friska Saragih, Manajer Lingkungan Regal Spring Indonesia (RSI), dikenal sebagai ikan pembersih danau. Ia memakan segalanya. Sisa pakan ikan, kotoran ikan, plankton, bahkan batu pun bisa ditemukan di perutnya.
“Ikan ini cocok dibudidayakan di Danau Toba, menjadi predator alami sampah organik,” cetusnya.
Sayangnya, masyarakat nelayan melakukan overfishing. Masyarakat menangkap ikan bilih di muara sungai yang airnya relatif agak hangat, tempat induk-induk ikan suka bergerombol hendak bertelur. Jaring yang digunakan juga jaring rapat, sehingga selain induknya, ikan bilih yang kecil-kecil pun ikut terjaring.
“Dalam 1 bagan, nelayan dapat menangkap ikan bilih hingga 400 kg per malam dengan menggunakan lampu. Ikan-ikan itu kemudian dikeringkan, dan dijual ke Padang sebagai ikan pora-pora. Dampaknya, populasi ikan-ikan ini menurun di tahun 2014 dan makin jarang tahun 2016,” kata Friska.
Padahal, lanjutnya, Danau Toba sangat cocok untuk populasi ikan bilih. Buktinya, pernah ditemukan ikan bilih berukuran 17 cm, lebih besar dari ukuran di populasi aslinya di Danau Singkarak.
Saat ini, sulit menemukan ikan bilih di perairan Danau Toba. Selain karena overfishing, ikan kaca-kaca juga memakan anak-anak ikan bilih. Udang lobster air tawar — yang belakangan merajalela di Danau Toba— juga diduga menjadi predator ikan bilih.
Regal Spring Indonesia sudah pernah mencoba membawa bibit ikan bilih dari Danau Singkarak ke Danau Toba. Sayang, ada masalah teknis yang menyebabkan ikan mati di perjalanan. “Ikan bilih sangat rentan. Lecet sedikit saja bisa mati,” katanya.
Meski demikian, ia berharap RSI dapat mengembalikan ikan bilih ke danau Toba, berkoordinasi dengan Prof. Dr. Ir. Hafrijal Syandri, M.S, ahli perikanan dan ilmu kelautan, sekaligus peneliti ikan bilih dari Universitas Bung Hatta. (mea)
PENYELAM: Dua orang penyelam RSI, Rony Gurning dan Homsir Silaban, bercerita tentang pengalaman mereka sebagai penyelam. triadi wibowo/sumut pos.
DANAU TOBA, SUMUTPOS.CO – Regal Spring Indonesia saat ini memiliki sekitar 50 orang penyelam. Mereka bekerja membersihkan sistem daur ulang KJA milik RSI di perairan Danau Toba. Penyelam RSI umumnya warga lokal. Mereka dilatih Arnulfo Rosete, seorang penyelam profesional sekaligus coaching asal Filipina, yang dipekerjakan RSI.
PENYELAM: Dua orang penyelam RSI, Rony Gurning dan Homsir Silaban, bercerita tentang pengalaman mereka sebagai penyelam. triadi wibowo/sumut pos.
Tugas penyelam: membersihkan KJA dari ikan-ikan mati serta memastikan keamanan jaring.
Dua orang penyelam, masing-masing Rony Gurning (27) dan Homsir Silaban (20), bercerita tentang kegiatan penyelaman mereka di KJA milik RSI, kepada Sumut Pos, belum lama ini.
“Saya baru dua bulan jadi penyelam. Masih training,” kata Rony, warga Parapat, di sela-sela kegiatannya menyelam di KJA. Ia mengenakan baju selam, kaki katak, kacamata menyelam, berikut tabung oksigen di punggungnya.
Rekannya, Homsir Silaban sudah 5 bulan bekerja dan sudah karyawan kontrak, hari itu bertugas menjadi pendampingnya.
Apa syarat diterima menjadi penyelam di RSI? Ternyata simpel, yakni bisa berenang dan bertubuh sehat. Training dilakukan selama 3 bulan.
“Tiap pagi jam 7, kami berangkat dari dermaga Ajibata menuju KJA. Jam 8 pagi mulai pekerjaan membersihkan kolam dari ikan-ikan mati di permukaan. Ini dilakukan cukup dengan berenang di permukaan,” jelas Rony.
Setelah permukaan air kolam bersih dari ikan mati, pukul 10 mereka mulai menyelam untuk mengambil ikan mati yang tenggelam di dasar keramba. Kelengkapan penyelaman disediakan perusahaan, berupa pakaian menyelam, tabung oksigen, kacamata, dan kaki katak.
Satu tim dua orang. Misalnya tim Rony dan Homsir. Hari Senin, Rony yang menyelam, Homsir yang membantu di permukaan. Keesokan harinya, peran berganti. Homsir yang menyelam. Pengaturan menyelam digilir 3 kali seminggu. Tujuannya untuk menjaga vitalitas para penyelam agar tubuhnya tidak kedinginan.
Selain mengambil ikan mati, penyelam juga mesti memeriksa jaring sekeliling KJA, untuk mengecek apakah ada yang koyak. Jika ada, mereka harus menjahitnya dengan jarum dan benang. Sebelumnya mereka juga telah ditraining cara menjahit jaring di bawah permukaan air.
Pukul 12 lewat, mereka istirahat untuk makan siang. Perusahaan melengkapi penyelam dengan susu dan vitamin.
Apa saja tantangan yang dihadapi?
“Suhu air. Kalau menyelam di KJA paling ujung sana, airnya lebih dingin,” kata Homsir, sambil menunjuk KJA paling jauh di tengah danau.
Meski masih pemula, mereka sudah mampu menyelam hingga kedalaman 12-13 meter. Lebih dalam dari itu, biasanya diserahkan ke para senior atau instruktur.
Apa saja pengalaman menyenangkan selama bekerja sebagai penyelam RSI?
“Ketemu ikan-ikan langka. Saya pernah ketemu ikan patin Danau Toba. Pernah juga ketemu ikan louhan,” kata Homsir dengan mata berbinar.
Adapun prinsip kehati-hatian bagi mereka: penyelam harus tenang. Pasalnya, ikan-ikan kadang menabrak alat bernafas di mulut penyelam, hingga terlepas. “Kalau gelagapan, hidung penyelam bisa kemasukan air dan sulit bernafas,” cetusnya.
Mereka berdua mengaku senang bekerja di RSI. Apalagi gajinya di atas UMR. “Lumayanlah,” kata mereka sembari memamerkan senyumnya yang lebar.
Selanjutnya, ikan-ikan yang mati dikumpulkan, dan tiap hari dijemput pihak yang ditunjuk dengan kapal untuk dibagikan ke kelompok masyarakat sekitar. (mea)
KJA DI DANAU TOBA: Keramba Jaring Apung milik PT Aqua Farm Nusantara (Regal Spring Indonesia) di perairan Desa Pangambatan-Lontung, Danau Toba. Menurut Manajer Lingkungan RSI, kualitas air Danau Toba secara umum tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun, karena danau Toba memiliki self recovery alami.
triadi wibowo/sumut pos.
TOBA, SUMUTPOS.CO – Sebagai perusahaan budidaya ikan tilapia yang beroperasi di perairan air tawar Danau Toba, PT Aquafarm Nusantara di bawah manajemen Regal Spring Indonesia, selayaknya berkepentingan menjaga kualitas air danau tetap bagus. Sejak hadir PTAN hadir di Danau Toba, hasil survei profil air Danau Toba dari tahun ke tahun, tidak ada perubahan signifikan. Konon, Danau Toba memiliki sistem self recovery alami.
KJA DI DANAU TOBA: Keramba Jaring Apung milik PT Aqua Farm Nusantara (Regal Spring Indonesia) di perairan Desa Pangambatan-Lontung, Danau Toba. Menurut Manajer Lingkungan RSI, kualitas air Danau Toba secara umum tidak ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun, karena danau Toba memiliki self recovery alami.
triadi wibowo/sumut pos.
“DANAU TOBA memiliki luas total 112 ribu hektare. Airnya masuk dan keluar setiap saat. Adapun keramba ikan milik RSI tidak sampai 1 persen dari luas total danau,” jelas Friska Saragih, Manajer Lingkungan Regal Spring Indonesia (RSI), didampingi Kasan Mulyono, Corporate & Communications Affairs Senior Manager RSI, kepada Sumut Pos, di Parapat, belum lama ini.
Menegaskan bahwa RSI sangat peduli menjaga lingkungan Danau Toba, Friska menjelaskan, RSI rutin melakukan monitoring air sejak Januari 2006 lalu, bekerja sama dengan Wageningen University, Belanda. “Peneliti Belanda datang dua kali se-tahun melakukan validasi lingkungan dan lab. Monitoring sudah berlangsung selama 15 tahun.
Tujuannya untuk cek standar mutu sesuai sertifikasi internasional,” kata n Friska.
Monitoring dilakukan untuk memeriksa kualitas air sekarang dan masa depan, baik di lingkungan KJA maupun di luar lingkungan KJA. Sampel diambil dari berbagai titik di perairan Danau Toba. Dari ujung ke ujung Pulau Samosir.
“Tes yang dilakukan meliputi tes kimia, biologi, fisika, pemeriksaan sedimen, lumpur, dan lain-lain. Seluruh sampel dites di laboratorium,” jelasnya.
Parameter yang dites antara lain suhu air, warna, bau-rasa, salinitas, padatan, kekeruhan, pH, oksigen terlarut, kadar detergen, logam, dan sebagainya.
Sampel diambil mulai kedalaman 2 hingga 60 meter. Kesimpulan hasil monitoring: tidak ada perubahan signifikan kualitas air danau dari tahun ke tahun.
Kadar oksigen terlarut di permukaan relatif tinggi (6-7 mg/l), namun menurun dratis pada kedalaman 100 meter. Suhu masih optimal. Secara umum, kualitas air relatif stabil.
“Memang ada beberapa perubahan signifikan pada musim tertentu. Misalnya pada musim hujan, tingkat kekeruhan air danau relatif lebih tinggi karena banyak air masuk dari daratan. Sementara di musim kemarau, terjadi evaporasi (proses penguapan) yang lebih tinggi. Akibatnya, air lebih pekat. Namun kondisi itu biasanya sementara saja dan tidak berpengaruh pada mutu ikan,” kata Friska.
Selain monitoring oleh internal perusahaan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumut juga melakukan monitoring air Danau Toba dua kali dalam setahun.
“RSI terus berupaya memenuhi berbagai persyaratan sertifikasi mutu internasional yang memiliki persyaratan ketat dalam tanggung jawab terhadap lingkungan dan praktik sosial budidaya perikanan. RSI menjunjung tinggi budidaya ikan yang bertanggung jawab untuk menghasilkan Naturally Better Tilapia,” katanya.
Berbagai sertifikasi internasional dan nasional, menurutnya, menjamin bahwa cara perusahaan mengolah dan produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu internasional dan nasional.
“Skala internasional, RSI memegang dua sertifikasi. Masing-masing memiliki parameter pemantauan yang berbeda-beda,” katanya.
Sertifikasi dimaksud yakni ASC (Aquaculture Stewardship Council) dan standar sertifikasi BAP (Global Aquaculture Alliance Best Aquaculture Practice) untuk budi daya tilapia yang bertanggung jawab.
RSI sendiri tetap patuh dengan standar lokasi keramba di permukaan dengan kedalaman minimal 100 meter.
Self Recovery Alami
Hasil penelitian RSI, Danau Toba memiliki sistem self recovery secara alami. Misalnya, terjadinya pertukaran air secara alami. Air masuk dari 295 sungai (baik permanen maupun musiman) ke danau. Dan air keluar secara konstan melalui Sungai Asahan, dengan debit rata-rata 110 m3 per detik.
Self recovery lainnya yakni adanya keanekaragaman plankton di Danau Toba. Dikutip dari Wikipedia, plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas, plankton dianggap sebagai salahsatu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik.
“Selama terjadi keseimbangan alam di air danau, tidak ada masalah,” jelas Friska.
Ditanya tentang pengaruh Keramba Jaring Apung terhadap kualitas air Danau Toba, Friksa menyarankan, dilakukan pengaturan letak keramba jaring apung pada jarak tertentu.
“Kalau bisa jangan ada sentralisasi KJA, agar tidak terjadi buffer zone. Kemudian, KJA sebaiknya jangan di perairan dangkal, karena rentan menyebabkan ikan mati saat terjadi pergerakan air dari bawah ke atas. Budidaya ikan di keramba juga jangan terlalu padat. Pemberian pakan ikan sesuai standar, jangan berlebihan. Sesuaikan dengan perilaku makan ikan, agar pakan tidak tersisa dan lingkungan terjaga dengan baik,” kata dia.
RSI sendiri saat ini membesarkan ikan tilapia di ratusan Keramba Jaring Apung yang tersebar di 4 lokasi, yakni Desa Panahatan Kabupaten Simalungun (pindah ke perairan Samosir sejak Februari 2018), Desa Pangambatan-Lontung dan Desa Silimalombu Kabupaten Samosir, serta Desa Sirungkungon Kabupaten Toba.
Adapun KJA di perairan Danau Toba mayoritas atau sekitar 95 persen milik masyarakat, dan kurang lebih 5 persen milik perusahaan.
Masih Trial And Error
Ditanya mengenai proyek uji coba sistem daur ulang KJA RSI di Danau Toba yang menunjukkan hasil menggembirakan pada Desember 2019 lalu, menurut Friska, hingga pekan lalu sifatnya masih trial and error.
“Mengangkat sisa-sisa kotoran dan pakan dari bawah keramba dilakukan secara manual. Ternyata ditemukan tantangan teknis dengan resiko tinggi. Hingga saat ini, masih terus dicari teknis yang tidak terlalu beresiko,” katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut resiko dimaksud.
Sebelumnya RSI menyatakan, dalam proyek daur ulang tersebut, semua materi pakan yang telah dicerna ikan bisa terkumpul dan kemudian diangkat dari dasar KJA.
“Rancangan kantong besar telah dipasang di dasar KJA dan kantong ini menampung materi pakan yang telah dicerna. Materi tersebut kemudian disedot dengan pompa ke sebuah tangki penampung di atas kapal. Materi tercerna tersebut lalu disaring untuk memisahkan kandungan airnya dan kemudian diangkut ke permukaan untuk didaur ulang menjadi pupuk yang digunakan untuk pertanian,” kata Juan Carlos, Presiden Direktur Regal Springs Indonesia, Desember tahun 2019 lalu.
Juan Carlos mengatakan, RSI terus mengembangkan solusi-solusi lainnya untuk mengoptimalkan sistem daur ulang ini, agar kita bisa mencapai kinerja sistem yang paling efisien di masa mendatang.
Selain pemasangan sistem daur ulang KJA, Regal Springs Indonesia juga telah memasang 4 alat pemberi pakan secara otomatis berteknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi pemberian pakan ikan dalam KJA. Tujuannya, untuk meningkatkan kinerja kegiatan budidaya perikanan kami yang bertanggung jawab. (mea)
SAMPEL: Agusmanto Sihombing, Asisten Manager Lingkungan RSI, sedang mengambil air Danau Toba sebagai sampel untuk diuji di lab Ajibata. triadi wibowo/sumut pos.
TOBA, SUMUTPOS.CO – Berdasarkan Pasal 8 Peraturan Gubernur Sumatra Utara No 1 Tahun 2009, ada 4 kelas klasifikasi dan kriteria mutu air. Status mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metoda tertentu.
SAMPEL: Agusmanto Sihombing, Asisten Manager Lingkungan RSI, sedang mengambil air Danau Toba sebagai sampel untuk diuji di lab Ajibata. triadi wibowo/sumut pos.
Klasifikasi dimaksud yakni Kelas I, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas II, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi 17 pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkann
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas III, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Kelas IV, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyarat kan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Setiap golongan sumber air tersebut mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Namun karena Kelas I dan Kelas II ditujukan langsung dengan kebutuhan primer manusia, maka Kelas I dan Kelas II umumnya mempunyai nilai lebih ketat daripada golongan lainnya, utamanya pada parameter-parameter logam berat.
Sejumlah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas air Danau Toba mengungkapkan, air Danau Toba di beberapa lokasi –antara lain di wilayah Kabupaten Tobasa dan Haranggaol-Simalungun— memiliki BOD, COD dan konsentrasi besi dan Cl2 bebas melebihi kriteria mutu air Kelas I pada Pergub Sumut di atas.
Tingginya nilai COD dan BOD (saat penelitian ddilakukan, Red) mengisyaratkan bahwa perairan Danau Toba tercemar oleh bahan organik yang diduga berasal keramba jaring apung (KJA). Sedangkan Cl2 bebas diduga berasal dari limbah domestik kegiatan Kota Parapat dan sekitarnya.
Secara umum disimpulkan, air Danau Toba di wilayah Kabupaten Tobasa dan Haranggaol tidak/belum memenuhi kriteria untuk air baku air minum dan wisata air. Hanya
Kategori Kelas 2 sesuai Pergub Sumut.
Namun di beberapa tempat lain, baku mutu air Danau Toba dikategorikan kelas 1. Yakni layak untuk air minum.
PT Aquafarm Nusantara (RSI), yang memiliki keramba jaring apung di 4 lokasi, mengambil sample air dua kali mingguan dan bulanan, untuk diuji di laboratorium internal Ajibata. Sampel air diambil dari dalam KJA dan luar KJA dari kedalaman 1 hingga 2 meter. Kemudian dibandingkan dengan air di tengah danau.
“Hasil uji sampel yang dilakukan RSI dua kali seminggu, air Danau Toba masih memenuhi baku mutu sesuai PP RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang baku mutu air kelas 1. Parameter dissolved oxygent (oksigen terlarut), PH (derajat keasaman), conductivity, resistivity, salinity (tingkat keasinan), kecerahan air, dan lainnya masihdi bawah ambang batas,” kata Agusmanto Sihombing, Asisten Manager Lingkungan RSI di Ajibata.
Selain pihaknya, lab eksternal Enviro Medan juga melakukan pengujian sampel air setiap 3 bulan.
Irvan, Enviromental Officer Farming Waste RSI, pada kesempatan itu mengatakan, menurut penelitian UPT DLH HUMBAHAS, kualitas air in let (yang masuk) ke Danau Toba dari sejumlah sungai, lebih parah dibanding kualitas air di KJA. “Kata mereka, kasuk kategori kelas 3,” katanya.
Selain itu, kualitas air di perairan Haranggaol lebih jelek dibanding seluruh air di kawasan lainnya di Danau Toba.
Budi Sahputra, Quality Manager RSI, mengatakan, RSI terus menerus mengingatkan seluruh tenaga kerja agar peduli dengan pentingnya manajemen mutu. “Kegiatan budidaya ikan RSI telah memenuhi standar sertifikasi nasional dan internasional, baik di bidang sosal, SDM, dan lingkungan. Untuk mempertahankannya, kami terus menerus melakukan training kepada seluruh karyawan agar peduli manajemen mutu,” ungkapnya.
Sebagai Quality Manager RSI, Budi mengatakan RSI selalu memberi pakan sesuai dengan jam tertinggi nafsu makan ikan. Tujuannya, untuk meminimalisir pakan tersisa di keramba.
“Misalnya, saat musim hujan, pemberian pakan dikurangi karena nafsu makan ikan menurun. Saat musim ombak besar, juga tidak dianjurkan memberi makan ikan. Ini untuk safety karena ada potensi KJS terangkat,” jelasnya.
Ikan mati diambil dua kali sehari, sehingga tidak mencemari air danau.
Sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan, RSI melakukan penyuluhan cara budidaya ikan yang baik kepada masyarakat. “Staf ahli RSI ikut memberi pelatihan ke masyarakat nelayan Haranggaol,” katanya. (mea)
AUDIENSI: Ketua Fraksi Demokrat DPRD Medan, Burhanuddin Sitepu, Wakil Ketua Parlindungan Sipahutar, Sekretaris Ishaq Abrar Mustafa Tarigan, foto bersama. pengurus LSM GANN Sumut usai audiensi, Senin (9/11).ADE ZULFI AS/SUMUT POS.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – LSM Generasi Anti Narkoba Nasional (GANN) Sumut mengajak Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan memberantas peredaran Narkoba di Sumut, khususnya Kota Medan. Pasalnya, saat ini Sumatera Utara menempati posisi pertama peredaran Narkoba di Indonesia.
AUDIENSI: Ketua Fraksi Demokrat DPRD Medan, Burhanuddin Sitepu, Wakil Ketua Parlindungan Sipahutar, Sekretaris Ishaq Abrar Mustafa Tarigan, foto bersama. pengurus LSM GANN Sumut usai audiensi, Senin (9/11).ADE ZULFI AS/SUMUT POS.
Ketua LSM GANN Sumut Azwar Hasibuan mengatakan, peredaran gelap narkoba merupakan ancaman yang dapat menghancurkan masa depan bangsa. Apalagi saat ini penyalahgunaan narkoba telah merasuki seluruh lapisan masyrakat, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA , mahasiswa, bahkan kalangan pengusaha dan profesional termasuk oknum TNi/Polri.
“Untuk itu, kami memohon suport dari Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Medan dalam menyelamatkan generasi kita dari penyalahgunaan narkoba,” kata Azwar Hasibuan saat audiensi dengan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan Burhanuddin Sitepu didampingi Wakil Ketua Fraksi Parlindungan Sipahutar, Sekretaris Ishaq Abrar Mustafa Tarigan dan Bendahara Dodi Robert Simangunsong di gedung DPRD Medan, Senin (9/11).
Disebutnya, kondisi ini diperparah lagi dengan ketidakpastian hukum bagi pelaku peredaran narkoba, termasuk terjadinya indikasi praktik jual beli hukum dalam kasus narkoba. “Seperti dugaan keterlibatan oknum Polisi di Polsek Delitua yang tidak diproses hukum, bahkan sudah dilporkan ke Propam. Namun, oknum tersebut saat ini sudah dipindahtugaskan,” ungkapnya.
Di sisi lain, mereka juga meminta kesediaan Burhanuddin Sitepu menjadi Dewan Penasehat DPD LSM GANN Sumut dan mensuport program-program yang telah mereka susun dan laksanakan dalam upaya pencegahan dan memberantas peredaran narkoba.
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Medan Burhanuddin Sitepu menyambut baik ajakan GANN Sumut dalam memerangi peredaran narkoba ini. Menurut Burhanuddin, salah satu program Partai Demokrat adalah perang terhadap peredaran narkoba. “Artinya, program GANN Sumut sejalan dengan program Partai Demokrat. Karenanya, keberadaan GANN Sumut ini sangat kami apresiasi dan siap bekerjasama dalam pemberantsan peredaran Narkoba,” kata Burhanuddin.
Ketua DPC Partai Demokrat Kota Medan ini juga mengaku siap mensuport segala program GANN Sumut demi terciptanya generasi muda yang bebas narkoba. (adz/ila)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Teka teki siapa yang akan mengisi posisi direktur utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, akhirnya terjawab. Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyebut sudah memilih satu nama sebagai pengganti dirut sebelumnya, Trisno Sumantri. Dia adalah Kabir Bedi.
“Hari ini sudah ditentukan ini, direkturnya, dirutnya. Tadi yang melakukan asesmen (penilaian) dari Telkom, ACI, tadi barusan menghadap saya dan sekarang ini ada konseling lulus ya. Nanti Anda lihat itu di situ sedang di konseling sama asesmen,” kata Edy menjawab wartawan di Rumah Dinas Gubsu, Jalan Jenderal Sudirman Medan, Senin (9/11).
Seperti diketahui, Kabir Bedi, lulusan Sarjana Teknik dan Master of Business Administration (MBA) itu menyisihkan 9 calon dirut lain dalam seleksi yang digelar Tim Seleksi ACI (Assessment Center Indonesia) PT Telkom.
Menurut Gubsu, siapa yang terpilih melalui proses dan tahapan asesmen tersebut, dia adalah yang terbaik. “Dia yang terbaik. Kalau ini pun sudah tidak bisa lagi memperbaiki perairan Sumatera Utara, nanti wartawan aja yang jadi dirut,” ujarnya berseloroh. “Namanya aja udah antik dia, Kabir, oke!” sambung Gubsu.
Ia menambahkan pelantikan dirut baru PDAM Tirtanadi tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat. Oh segera, bila perlu besok kulantik itu,” pungkasnya.
Komisi C DPRD Sumut berharap kinerja dan pelayanan PDAM Tirtanadi Sumut dibawah kepemimpinan dirut yang baru nanti, bisa profesional dan mampu menuntaskan sejumlah persoalan krusial pada BUMD Pemprov Sumut tersebut.
“Namanya memang asing bagi saya, tapi semoga kinerjanya profesional. Kan banyak persoalan di PDAM Tirtanadi kita. Salah satunya bagaimana pelayanan air bersih mampu diwujudkan dengan maksimal kepada seluruh pelanggan,” kata Anggota Komisi C DPRD Sumut, Misno Adi Syahputra kepada Sumut Pos.
Pelayanan air bersih ini, menurut dia, kembali terungkap pada pekan lalu. Ramai diperbincangkan di media sosial bahwa sejumlah kecamatan di Kota Medan mengalami kondisi air yang keruh bersumber dari PDAM Tirtanadi.
“Termasuk saya juga kena, air PAM di rumah saya itu jorok dan berwarna cokelat. Ini memang salah satu persoalan yang harus diselesaikan oleh dirut PDAM yang baru nanti,” katanya.
Tak hanya itu, Misno juga meminta agar dengan kehadiran Kabir Bedi sebagai top manajemen baru di PDAM Tirtanadi, mampu meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemprov Sumut.
“Karena selain perusahaan berbasis pelayanan publik di bidang air bersih, PDAM Tirtanadi merupakan perusahaan daerah yang juga mesti memberikan profit buat pemerintah provinsi. Ini akan kita dorong dan kawal di Komisi C sesuai target pendapatan yang telah mereka tetapkan,” pungkasnya. (prn/ila)