25 C
Medan
Friday, January 2, 2026
Home Blog Page 4307

PSBB Opsi Terakhir di Sumut, Utamakan Razia Kerumunan & Social Distancing

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Saat ini, jumlah pasien positif atau terkonfirmasi mengidap Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Sumatera Utara masih 102 orang, dengan kasus meninggal dunia 9 orang dan sembuh 12 orang. Sedangkan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 129 orang. Jumlah tersebut dinilai belum signifikan untuk menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Sumut. PSBB menjadi opsi terakhir, yang diberlakukan jika terjadi lonjakan pasien positif dan PDP.

“JIKA terjadi lonjakan penyebaran Covid-19, tidak menutup kemungkinan akan diberlakukan PSBB. Namun itu langkah alternatif terakhir untuk menekan persebaran wabah Covid-19. Langkah tegas yang telah diambil saat ini adalah merazia tempat keramaian, hingga membubarkan kerumunan oleh aparat kepolisian,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut , Whiko Irwan dalam keterangan pers di Media Center Gugus Tugas Covid-19 Kantor Gubernur Sumut, Rabu (15/4).

Whiko mengatakan, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumut terus mengimbau masyarakat agar mematuhi lima protokol kesehatan, dan memperbanyak intensitas imbauan melalui berbagai media. Namun jika ada indikasi lonjakan, keputusan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akan dipertimbangkan.

Gugus Tugas menerima banyak laporan dari warga tentang kondisi masyarakat di beberapa daerah, seperti Kota Medan, Kabupaten Deliserdang dan lainnya, yang masih belum mematuhi protokol kesehatan di tengah wabah Covid-19 melanda Indonesia, khususnya provinsi ini.

“Kota Medan merupakan daerah tertinggi hasil sebarannya, namun sepertinya warga belum juga sadar melakukan pembatasan sosial. Untuk itu, kembali kami mengimbau dan mengajak warga Sumut untuk mengikuti imbauan pemerintah. Juga kepada pemerintah kabupaten/kota agar terus menyosialisasikan tentang Covid-19,” ujar Whiko .

Menurutnya, Covid-19 bisa menular dari orang tanpa gejala (OTG). OTG adalah orang-orang tanpa gejala infeksi saluran pernafasan, namun memiliki riwayat kontak erat dengan penderita Covid-19. “Contohnya, orang yang membersihkan ruangan penderita Covid-19 tanpa menggunakan APD (alat pelindung diri), atau berada dalam satu ruangan dengan penderita Covid-19, atau berada di dalam kendaraan yang sama (angkutan umum) dalam radius jarak satu meter,” jelas Whiko.

Untuk itu, bagi orang yang berada di luar rumah diminta agar menghindari keramaian, menjaga jarak fisik, serta menggunakan masker. Ketiga hal itu dinilai menjadi jurus menekan penyebaran Covid-19 di masyarakat.

Mengenai laporan warga tentang adanya swalayan di beberapa tempat yang terlihat ramai pengunjung, Whiko meminta agar pelayanan bagi pelanggan menggunakan nomor antrean, untuk membatasi jumlah orang di dalam satu gedung.

“Kepada pemilik swalayan agar menyediakan fasilitas pencegah virus corona, seperti menyediakan nomor antrian bagi pelanggan dan menyiapkan tempat pencuci tangan. Semoga wabah ini dapat segera berakhir,” ujarnya.

Mengenai data persebaran Covid-19 di Sumut, hingga kemarin sore sebanyak 129 orang berstatus PDP, meningkat dari hari sebelumnya 101 orang. Untuk yang positif atau terkonfirmasi sebanyak 102 orang, diketahui dari hasil PCR (78 orang) dan Rapid Test (24). Sementara data meninggal dunia sebanyak 9 orang dan sembuh 12 orang.

“Hasil sebaran, Kota Medan masih terbanyak merawat PDP sebanyak 66 orang, diikuti Simalungun sebanyak 20 orang, dan Deliserdang sebanyak 11 orang,” sebut Whiko.

Sumut Belum Perlu PSBB

Terpisah, pemerhati sosial dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Shohibul Ansor Siregar, memuji sikap Pemprovsu yang belum mengusulkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada Menteri Kesehatan.

“Saya kira Gubsu perlu melihat lebih detil perbedaan potensi ancaman bersama bupati dan wali kota tertentu di Sumut, sebelum menentukan status. Sampai saat ini, mungkin Sumut secara menyeluruh belum perlu PSBB, kecuali ada perkembangan baru nanti,” kata Shohibul menjawab Sumut Pos.

Meski Sumut belum perlu PSBB, menurut dia, kota seperti Medan dan daerah-daerah lain di sekitar Sumatera Timur serta daerah tempat proyek-proyek besar yang memperkerjakan tenaga asing, cara penanganannya harus dibedakan. “Ini nanti akan mirip dengan usul Jawa Barat yang memilah kabupaten/kota berdasarkan tingkat ancaman untuk diusulkan PSBB,” katanya.

Memang, lanjut Shohibul, antara Jakarta dan Sumut tak hanya ada perbedaan faktor geografi, kondisi sosial ekonomi, dan komposisi demografis. Tetapi beberapa wilayah kabupaten dan kota tertentu di Sumut, dilihat dari tingkat potensi ancaman Covid-19, tak begitu berbeda dengan Jakarta.

“Saya kira gubernur tahu dan sudah memetakan itu. Beberapa daerah di Sumut harus lebih waspada,” katanya.

Diakui dia, penetapan PSBB pada suatu daerah, memerlukan kajian luas dalam dua wilayah utama. Wilayah kajian pertama menyangkut hal-ihwal epidemiologis yang memerlukan dukungan data-data valid. Sedangkan wilayah kajian kedua menyangkut aspek-aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, pertahanan, keamanan dan lain-lain.

“Saya kira itu yang kita saksikan di DKI sejak awal hingga akhirnya diperkenankan memberlakukan PSBB. Dan segera disusul dengan permohonan PSBB oleh Jawa Barat. Penentangan dari Papua melalui salah seorang pejabat bupati di sana, menunjukkan perbedaan cara pandang dan kepentingan antara daerah dan pusat. Kita tahu berdasarkan regulasi yang ada, status PSBB ditentukan pemerintah pusat. Daerah hanya mengusulkan,” katanya.

Sebelumnya, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Aris Yudhariansyah menyampaikan, Pemprov Sumut maupun pemkab dan pemko di Sumut belum memberlakukan PSBB dalam menangani pandemi Covid-19. Sebab, sejauh ini belum ada yang mengajukan PSBB baik Pemprovsu dan pemkab/pemko di Sumut.

Menurutnya, pemberlakuan PSBB berpedoman terhadap Permenkes Nomor 9/2020. PSBB itu ditetapkan oleh menteri Kesehatan RI, yang diputuskan berdasarkan permohonan kepala daerah baik gubernur, bupati ataupun wali kota. Artinya, mengenai pemberlakukan PSBB harus disampaikan ke pemerintah pusat.

Ada beberapa kriteria untuk penetapan PSBB ini. Pertama, jumlah kasus dan kematian yang meningkat. Kedua, terdapat kaitan epidemiologi kejadian di wilayah atau serupa dengan negara lain. Ketiga, pengajuan PSBB ini harus dilampirkan beberapa data-data sesuai dengan Permenkes Nomor 9/2020.

“Jadi, tidak ada kaitan perbedaan data kasus antara provinsi (Sumut) dengan kabupaten/kota, sehingga belum menetapkan PSBB,” ucap sekretaris Dinas Kesehatan Sumut ini.

Aris berharap, walaupun tidak diajukan PSBB akan tetapi sosialisasi sesuai dengan protokol kesehatan yaitu social dan physical distancing bisa terus dilakukan. Dengan begitu, berharap PSBB ini tidak perlu dilakukan. (rel/prn)

Siapkan Anggaran Rp260 Miliar, Gubsu: 1,3 Juta KK Tidak Mampu di Sumut

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hasil pendataan Pemerintah Sumatera Utara (Pemprovsu), saat ini tercatat sekitar 1,3 juta kepala keluarga yang tergolong tidak mampu terkena dampak Covid-19. Untuk itu, Pemprov Sumut mengalokasikan anggaran bantuan selama satu bulan.

“Setelah dihitung, satu bulan Pemprov Sumut akan membantu total sekitar Rp260 miliar,” ujar Gubsu Edy Rahmayadi, dalam pertemuan dengan anggota DPRD Sumut di Pendopo Rumah Dinas Gubsu, Rabu (15/4)n

Menurut Gubsu, ada tiga hal yang dibahas dengan anggota DPRD Sumut soal penanganan Covid-19. Pertama kegiatan fisik seperti penyiapan fasilitas kesehatan, dokter dan perawatnya. Kedua, nonfisik yakni bantuan ekonomi kepada masyarakat di luar Program Keluarga Harapan (PKH) pusat. Dan ketiga, menjaga agar tidak terjadi PHK pada perusahaan.

Untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak ekonomi senilai Rp260 miliar, saat ini pemerintah sedang mendata 1,3 juta KK warga tidak mampu tersebut, agar pembagian bantuan tepat sasaran.

Dana bantuan akan diambil dari dana refocussing kegiatan dan relokasi anggaran Pemprov Sumut, di mana setiap tahapannya Pemprov Sumut menyediakan dana sekitar Rp500 miliar. Seluruhnya ada tiga tahap persiapan yang dilakukan Pemprov Sumut dalam penanganan Covid-19.

“Tahap pertama ini dari refocussing dan realokasi anggaran kami menyediakan Rp500 miliar. Jika pandemi ini belum juga usai, akan masuk tahap kedua dengan dana Rp500 miliar. Dan bila belum selesai juga, akan disiapkan dana sekitar Rp500 miliar. Ini demi rakyat kita. Tetapi kita tentu tak ingin ada tahap kedua dan tahap ketiga,” tambah Edy Rahmayadi.

Ketua Tim Infrastruktur Gugus Tugas Percepatangan Penanganan Covid-19, Handoyo, mengatakan dana-dana ini tidak akan cukup bila tidak ada kesadaran masyarakat melakukan pencegahan penyebaran Covid-19. Karena itu, lanjutnya, semua lapisan masyarakat termasuk anggota DPRD, diminta ikut menyosialisasikan kepada masyarakat.

“Seberapa besarpun anggaran yang kita siapkan, tidak akan cukup bila tidak ada kesadaran dari masyarakat untuk komitmen mencegah penyebaran Covid-19. Jadi, bantuan anggota dewan untuk langsung terjun ke masyarakat, bergerak di dapilnya masing-masing membantu menyosialisasikan pencegahan penyebaran Covid-19, akan sangat besar manfaatnya. Saat ini dokter bukan garda terdepat penanganan Covid-19, tetapi masyarakat,” tegasnya.

Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Sumut, Syahrul Ependi, mengatakan legislatif akan mendukung upaya-upaya pemerintah dalam penanganan Covid-19. Namun dia juga menegaskan DPRD Sumut akan terus memantau dan mengawasi jalannya penanganan Covid-19.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Sekda Provinsi Sumatera Utara R. Sabrina, Ketua DPDRD Sumut Baskami Ginting dan OPD terkait.

Bantuan Pangan Perlu Tiru DKI

Mengenai dampak ekonomi akibat kebijakan pemerintah meminta masyarakat bekerja, belajar, dan ibadah dari rumah untuk memutus rantai penularan Covid-19, program Jaring pengaman sosial (JPS) dinilai mesti segera dilaksanakan tanpa pandang bulu.

“Saat ini kondisi tidak normal akibat wabah Covid-19.. Karena itu, pemerintah harus bekerja cepat membantu rakyat terdampak corona. Karena perekonomian sedang sulit,” kata Ketua DPRD Sumut, Baskami Ginting, menjawab wartawan, Rabu (15/4).

Pihaknya meminta pemerintah mengguyut stimulus ekonomi kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. “Pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan refocusing/realokasi anggaran yang tidak perlu, untuk percepatan penanganan Covid-19. Artinya, anggaran di semua kegiatan dapat digeser untuk membantu dampak ekonomi sosial masyarakat terdampak corona,” katanya.

Menurut Baskami, kebijakan Pemprov DKI Jakarta mendistribusikan bantuan sembako setiap minggu selama wabah corona, dapat saja ditiru Pemprovsu. Karena manfaat kebijakan itu dapat dirasakan langsung oleh rakyat.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, pihaknya telah menyurati Gubsu Edy Rahmayadi agar segera menyampaikan realokasi anggaran untuk penanggulangan Covid-19 di Sumut, pada APBD TA. 2020 ke DPRD Sumut.

DPRD juga sudah menerima surat pemberitahuan tentang Pergubsu No.7/2020 tentang Perubahan Atas Pergubsu No.47/2019 tentang Penjabaran APBD 2020, dalam rangka melakukan realokasi kegiatan dan realokasi anggaran pada APBD Sumut 2020. Tetapi alokasi anggaran untuk Covid-19 belum disampaikan ke DPRD Sumut.

“Meski penggeseran anggaran berada di ranah pemerintah provinsi, tapi tetap harus berkoordinasi dengan legislatif. Azas transparansi harus dikedepankan dalam penyusunan, pergeseran maupun penggunaan APBD, guna menghindari masalah hukum di kemudian hari,” pungkasnya. (rel/prn)

Begini Kondisi 62 ABK Kelud saat Dikarantina

PENANGANAN COVID: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Whiko Irwan, memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan Covid-19, Rabu (15/4).
PENANGANAN COVID: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Whiko Irwan, memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan Covid-19, Rabu (15/4).
PENANGANAN COVID: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Whiko Irwan, memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan Covid-19,  Rabu (15/4).
PENANGANAN COVID: Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumut, Whiko Irwan, memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan Covid-19, Rabu (15/4).

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 62 orang anak buah kapal (ABK) menjalani karantina di Kapal Motor (KM) Kelud. Selama 14 hari menjalani karantian di Perairan Bouy 1, Belawan, mendapat pengawasan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Klas I Medan.

“Saat ini kita telah menetapkan 62 kru KM Kelud sebagai ODP, dan 3 orang reaktif berstatus PDP menjalani perawatan di rumah sakit. Untuk kru kapal berstatus ODP terus kita pantau kondisi mereka selama menjalani karantina di kapal,” ungkap Kepala KKP Klas I Medan, Priagung Adhi Bawono, Rabu (15/4).

Selama pengawasan berlangsung, kata Adhi, belum ada ditemukan gejala yang dialami ABK KM Kelud. Jadi, mereka tetap berada di kapal tidak boleh turun untuk menjalani proses karantina. “Kita terus mengamati dan memantau kondisi kesehatan mereka. Bila nanti sudah menjalani proses karantina selama 14 hari, kita akan mengecek kembali dengan rapid test kepada seluruh awak kapal. Mudah – mudahan tidak ada yang reaktif,” ucap Adhi.

Apabila ada informasi yang berkembang tentang kondisi kesehatan para kru kapal, pihaknya akan segera menginformasikan kepada media. “Yang jelas, untuk saat ini belum ada yang mengalami demam tinggi. Jadi, kita masih melakukan pemantauan kepada awak kapal yang dikarantina,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala cabang PT Pelni Medan, Luthfi mengaku, dari hasil kesepakatan protokoler Pelabuhan Belawan operasional KM Kelud dihentikan sampai 28 April 2020 mendatang. Setelah menjalani proses karantina pihaknya akan menungggu perkembangan dari KKP dan Syahbandar untuk mengaktifkan kembali operasional KM Keludn

“Untuk mereka yang dikarantina itu bukan otoritas kami. Jadi, kalau nantinya selesai karantina kita menunggu proses dari Syahbandar dan KKP. Kalau penyetopan operasional sampai tanggal 28, kalau nanti tidak ada masalah lagi setelah proses karantina sudah bisa diizinkan berlayar. Kita akan berlayar,” kata Luthfi.

Mengenai 62 orang ABK yang menjalani proses karantina, sebut Luthfi, kondisi mereka masih sehat. Mengenai stok makan mereka sudah didistribusikan sebelum parkir di Bouy 1 Belawan. “Untuk fasilitas mereka selama karantina tidak ada masalah. Sejauh ini kita masih menunggu proses ini berakhir dan mendapat rekomendasi kembali untuk berlayar,” ungkap Luthfi. (fac)

Banjir Sibiru-biru Angkut Gelondongan Kayu, Korban 1 Tewas, 1 Hilang

TINJAU LOKASI: Gubsu Edy Rahmayadi diskusi dengan Kepala BWS Sumatera II Roy P Pardede, saat meninjau lokasi banjir bandang di Bendungan Lau Simeme, Kecamatan Sibiru-biru, Deliserdang (15/04). Biro Humas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia
TINJAU LOKASI: Gubsu Edy Rahmayadi diskusi dengan Kepala BWS Sumatera II Roy P Pardede, saat meninjau lokasi banjir bandang di Bendungan Lau Simeme, Kecamatan Sibiru-biru, Deliserdang (15/04). Biro Humas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia
TINJAU LOKASI: Gubsu Edy Rahmayadi diskusi dengan Kepala BWS Sumatera II Roy P Pardede, saat meninjau lokasi banjir bandang di Bendungan Lau Simeme, Kecamatan Sibiru-biru, Deliserdang (15/04). Biro Humas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia
TINJAU LOKASI: Gubsu Edy Rahmayadi diskusi dengan Kepala BWS Sumatera II Roy P Pardede, saat meninjau lokasi banjir bandang di Bendungan Lau Simeme, Kecamatan Sibiru-biru, Deliserdang (15/04).
Biro Humas & Keprotokolan Setdaprovsu / Fahmi Aulia

DELISERDANG, SUMUTPOS.CO – Banjir bandang membawa material gelondongan kayu dan batu melanda Bendungan Lau Simeme, Kecamatan Sibiru-biru Kabupaten Deliserdang, Selasa (14/4) sore. Tiga orang hanyut terbawa arus, satu orang selamat, satu korban meninggal dunia, sementara satu orang lagi belum ditemukan.

Korban tewas adalah Mesias Tarigan Silangit, dan korban hilang dan masih dalam pencarian Roy Saputra Bangun. Korban selamat yakni Riki Renaldo Sembiring, saat ini dia menjalani perawatan di RSU Sembiring Delitua.

Kemarin, Rabu (15/4), Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi meninjau lokasi banjir bersama Kepala Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumut Alfi Syahriza dan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera 2 Roy Pardede.

“Kita turut berduka sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Semoga keluarga korban diberikan kelapangan hati. Saya sudah meminta kepada Kepala BWS Sumatera II Roy Pardede dan pihak kontraktor Bendungan Lau Simeme agar sistem keamanan Sungai Sibiru-biru ditingkatkan lagi, karena sekarang kita memasuki musim penghujan. Jadi kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Edy Rahmayadi.

Edy juga mengatakan pencarian korban yang belum ditemukan akan terus dilakukan oleh tim SAR, Basarnas, Polda Sumut dan TNI. “Untuk korban yang belum ditemukan Tim SAR, Polda Sumut, TNI bahkan masyarakat juga terus melakukan pencarian. Mari kita doakan bersama-sama agar cepat ditemukan,” tambahnya.

Usai meninjau lokasi banjir bandang di Bendungan Lau Simeme, Edy Rahmayadi didampingi Kepala Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Sumut Alfi Syahriza dan Kepala BWS Sumatera II Roy Pardede langsung menuju RSU Sembiring untuk menjenguk korban selamat, Riki Renaldo Sembiring. Selain menanyakan kronologi kejadian, Edy juga memberikan santunan dan semangat kepada korban selamat tersebut.

Menurut salah satu saksi mata banjir bandang, Join Sembiring, air yang datang dari arah hulu bendungan begitu deras dan membawa material seperti batu dan kayu. “Tinggi airnya kira-kira 3 meter lebih tinggi dari yang normal serta ada kayu dan batu. Air di sini makin kencang karena di bagian hulu sungai ini lebih sempit dari yang di sini (Bendungan Lau Simeme),” kata Join.

Pencarian korban masih terus dilakukan tim gabungan. Tim gabungan menyisir aliran sungai Sibirubiru dari hulu ke hilir menggunakan perahu karet. (rel/prn)

Tak Terima Dituduh Curi Anjing, Roni Perangin-angin Bacok Pemilik Warung Kopi

Roni Perangin-angin pelaku pembacokan.
Roni Perangin-angin pelaku pembacokan.
Roni Perangin-angin pelaku pembacokan.
Roni Perangin-angin pelaku pembacokan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Roni Perangin-angin alias Codri mengamuk serta membacoki pemilik warung kopi, Jerry Anthoni Barus (39), dengan menggunakan parang, Rabu (15/4) sekira pukul 06.20 WIB. Pria yang tinggal di Jalan Besar Delitua, Kelurahan Delitua Timur, Kecamatan Delitua, Kabupaten Deliserdang tak terima dituduh mencuri anjing.

Kapolsek Delitua AKP Zulkifli Harahap mengungkapkan, awalnya Roni datang ke Warung Kopi Barus Jalan Besar Delitua Gang Bakti Ujung milik Jerry, Rabu (15/4) sekitar Pukul 02.00 WIB. Tak lama duduk, Jerry langsung menuduh Roni telah mencuri anjing peliharaannya.

Jerry kemudian meminta Roni untuk segera mengembalikan anjingnya. Apabila tidak dikembalikan, Jerry meminta jaminan handphone milik Roni.”Korban dan pelaku sempat beradu mulut hingga akhirnya pelaku pulang ke rumahnya yang tak begitu jauh dan mengambil parang. Pelaku berencana akan membunuh korban karena telah menuduhnya mencuri anjing,” ungkap Zulkifli.

Setelah mendapatkan parang, sekitar pukul 06.00 WIB pelaku kembali ke warung kopi korban. Secara kebetulan, pelaku mendapati korban sedang tidur. Tanpa buang waktu, Roni langsung membacoki kepala dan wajah korban. Spontan, korban berteriak minta tolong hingga mengundang perhatian warga sekitar.

“Pelaku langsung melarikan diri. Sedangkan korban dilarikan warga ke RS Sembiring untuk mendapatkan pertolongan medis. Selanjutnya, anak korban melapor ke Polsek Delitua,” jelas Zulkifli.

Dari laporan anak korban, sambung dia, personel turun ke lokasi dan cek TKP. Kemudian, langsung dilakukan pengejaran terhadap pelaku dan berhasil ditemukan di Jalan Besar Delitua. “Pelaku berhasil ditangkap tanpa waktu lama dan disita parang yang digunakannya untuk membacok korban,” kata Zulkifli.

Ia menambahkan, saat ini, korban masih mendapatkan perawatan yang serius di RS Sembiring. “Kasus ini merupakan percobaan pembunuhan, dengan motif dendam karena dituduh mencuri anjing,” tandasnya. (ris/btr)

Tiga Pelaku Curanmor Diringkus Polsek Medan Helvetia, 2 Ditembak

DITANGKAP: Tiga tersangka curanmor Haposan Purba, Soni Manullang dan Josua P Purba berhasil ditangkap Unit Reskrim Polsek Medan Helvetia.
DITANGKAP: Tiga tersangka curanmor Haposan Purba, Soni Manullang dan Josua P Purba berhasil ditangkap Unit Reskrim Polsek Medan Helvetia.
DITANGKAP: Tiga tersangka curanmor  Haposan Purba, Soni Manullang dan Josua P Purba berhasil ditangkap Unit Reskrim Polsek Medan Helvetia.
DITANGKAP: Tiga tersangka curanmor Haposan Purba, Soni Manullang dan Josua P Purba berhasil ditangkap Unit Reskrim Polsek Medan Helvetia.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Unit Reskrim Polsek Medan Helvetia berhasil meringkus tiga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dari lokasi dan waktu terpisah. Dari ketiga pelaku, dua di antaranya terpaksa ditembak kakinya.

Dua pelaku ditembak adalah Haposan Purba (18) dan Soni Manullang (20) yang merupakan warga Jalan Karya 7 Garapan, Kecamatan Medan Sunggal. Seorang pelaku linnya tidak ditembak, Josua Parluhutan Purba (25), warga yang sama.

Kapolsek Medan Helvetia Kompol Pardamean Hutahaean menjelaskan, ketiganya ditangkap berdasarkan laporan pengaduan (LP/196/IV/2020/SU/Restabes Medan/SPK Medan Helvetia) korbannya, Dita Febri Ayu (22).

Dalam pengaduannya, korban menyatakan sepeda motornya Honda Scoopy hitam BK 5994 AIF yang diparkirkan dengan stang terkunci di Alfamidi Cempaka Jalan Gaperta Ujung Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia hilang dicuri, Minggu (12/4) pagi.

“Korban berangkat dari rumah mengendarai sepeda motornya menuju tempat kerjanya di Alfamidi Cempaka. Setelah sampai, korban memarkirkan kendaraannya dengan stang terkunci dan masuk ke dalam Alfamidi. Tak berapa lama, saat korban hendak mengecek barang-barang di depan mini market tersebut ternyata sepeda motornya sudah hilang,” ungkap Pardamean, Rabu (15/4).

Selanjutnya, korban mengecek kamera CCTV dan melihat sepda motornya dibawa oleh dua pria tidak dikenal. Merasa menjadi korban pencurian, warga Jalan Medan-Binjai Km 15,5, Dusun VIII, Karang Rejo Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Deliserdang ini mendatangi Polsek Medan Helvetia untuk membuat laporan.

“Laporan korban langsung dilakukan penyelidikan, dan pada Senin (13/4) mendapatkan informasi keberadaan tersangka Haposan sedang di kawasan Jalan Kapten Sumarsono dekat pintu tol yang berhasil diamankan. Kepada personel, tersangka mengakui perbuatannya dan beraksi bersama dua rekannya,” jelas Pardamean.

Dari pengakuan tersangka Haposan, sambung dia, personel kemudian melakukan pengembangan dan mengamankan tersangka Soni Manullang dan Josua. Namun, sepeda motor korban belum berhasil disita karena telah dijual kepada penadah.

“Saat mencari keberadaan pelaku lainnya bernama Eriko Manullang, tersangka Haposan dan Soni berusaha melarikan diri. Sempat diberi tembakan peringatan namun tidak diperdulikan, petugas menembak ke arah kakinya. Personel lalu membawa kedua tersangka itu ke RS Bhayangkara Medan untuk mendapatkan penanganan medis,” terang Pardamean.

“Ketiga tersangka dikenakan Pasal 363 KUHPidana tentang pencurian, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun kurungan penjara,” pungkasnya. (ris/btr)

Solusi Dukung Belajar di Rumah, Gunakan Kuota Internet Smartfren

KARTU: Regional Head Northern Sumatera Smartfren, Jefry Batubara saat menunjukkan kartu perdana 1On+ di Medan, belum lama ini.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kuota internet smartfren menjadi solusi para pelajar di Sumatera Utara, Kota Medan pada khususnya untuk semakin semangat walau belajar dari rumah. Selain murah, jaringan Smartfren yang kuat membuat internetan lebih mudah.

Erick misalnya, salah seorang pelajar di Kota Medan ini mengaku selama di rumah dirinya selalu menggunakan internet untuk menunjang semua kegiatannya, seperti belajar, dan berhubungan dengan teman saat situasi masih physical discasting.

“Kegiatan sehari-hari harus belajar online,dan melihat video di youtube sangat terbantu dengan adanya kuota internet yang murah dari smartfren dan cepat. Ya, untuk saat ini hanya internet yang paling dibutuhkan untuk menghabiskan waktu,” tuturnya.

Erick mengatakan, selain jaringan dan murah, untuk isi ulang Smartfren juga sangat mudah ditemukan. Hampir semua counter pulsa yang dekat dengan rumahnya menyediakan voucher maupun kartu perdana Smartfren.

Bukan hanya untuk pelajar, internet murah Smartfren juga dapat dirasakan oleh karyawan yang Work From home (WFH). Eko, misalnya yang sangat terbantu dengan layanan provider ini.

Untuk melancarkan pekerjaannya, Eko menggunakan kartu perdana 1ON+ dengan harga Rp20 ribu sudah bisa puas nikmati kuotanya.

“Sangat terbantu, karena selama kerja dari rumah, penggunaan internet semakin besar, jadi harus punya kuota banyak, untung ada internet murah smartfren,” ucapnya.

Regional Head Northern Sumatera Smartfren, Jefry Batubara mengatakan kebutuhan masing-masing pengguna telekomunikasi sangat berbeda. Kartu Perdana 1ON+ ini sangat cocok di kantong pelajar yang biasanya mengisi ulang pulsanya secara mingguan, sesuai dengan uang jajan mereka.

“Mereka selalu butuh kuota lebih, makanya kita beri bonus kuota yang cukup untuk pemakaian setiap minggunya dan tidak perlu repot memikirkan masa aktif kartu perdananya. Kartu Perdana ION+ ini sudah tersedia di Toko Ponsel terdekat anda,” tambahnya.

Dijelaskannya, kartu perdana 1ON+ sendiri dijual dengan harga Rp20 ribu. Dengan membeli kartu perdana ini, konsumen akan mendapatkan benefit data aktivasi sebesar 0,5 GB setiap bulannya selama 6 bulan. Jadi, pengguna akan mendapatkan total kuota 3 GB.

“Untuk setiap pembelian voucher data, pelanggan juga akan mendapatkan bonus kuota mingguan dengan total bonus kuota hingga 13 GB selama setahun. Masa aktif kartu perdana sangat panjang hingga 365 hari, sehingga pelanggan tidak perlu takut kartu akan hangus,” jelasnya.

Keuntungan lainnya, kuota yang didapat pelanggan semuanya adalah kuota utama dan dapat digunakan di semua aplikasi untuk chatting, video streaming, Tik Tok dan media sosial macam Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya.

Jefry mengungkapkan kartu perdana ini sesuai dengan misi Smartfren yang mengajak masyarakat Sumatera Utara untuk tidak perlu was-was selama berkegiatan di rumah, baik bekerja, belajar ataupun sedang gabut.

Smartfren pun terus mengajak masyarakat untuk tetap tinggal di rumah karena faktor keselamatan di tengah pandemi virus Corona yang sedang melanda. (rel/ram)

Joni Tombang Marbun,SE Anggota DPRD Taput Sambangi Posko Jurnalis Covid-19

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Anggota DPRD Taput Joni Tombang Marbun, SE sambangi Posko Jurnalis Covid.19, Rabu (15/04/2020) di Tanggul Aek Sigeaon Tarutung Tapanuli Utara, sekaligus memberikan masker kepada jurnalis yang peduli terhadap Covid 19.

Sebelumnya masyarakat di sekitar jalan Diponegoro, Jalan Gajah Mada Tarutung Anggota DPRD tersebut telah membagikan bantuan berupa alat pelindung diri (APD) berupa masker dengan menjumpai masyarakat dengan door to door
Bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona yang sangat mengkwatirkan seluruh masyarakat akhir-akhir ini, agar masyarakat menjaga diri dengan memakai masker tersebut.

Anggota DPRD Tapanuli Utara dari Fraksi Golkar Joni Tombang Marbun, SE saat diwawancarai mengungkapkan dalam memutus mata rantai penularan dari pada virus corona tersebut sangat dibutuhkan kerja keras dari semua pihak, masyarakat harus mematuhi segala anjuran dari pemerintah dan juga partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan dan kepada masyarakat agar menjauhi keramaian, tidak bergerombol demi kepentingan dan keselamatan bersama, ungkapnya.

Ditambahkannya, menjaga kebersihan serta menjaga imunitas tubuh juga merupakan hal yang sangat penting, mengingat virus tersebut sangat mudah menyerang dan masuk kepada manusia yang imunnya lemah atau kesehatannya terganggu, tambahnya.

Kepada insan pers Joni Tombang Marbun, SE harapkan kontribusi dan peran aktif insan pers dalam menyajikan berita tentang virus corona dan sedapat mungkin berita yang tersajikan harus mampu menjadi edukasi kepada pembaca berita tersebut dan bukan malah mengakibatkan kebingungan di tengah masyarakat, ungkapnya.

Pada tempat yang sama H.Sirait yang merupakan masyarakat yang ikut menerima bantuan tersebut mengapresiasi sentuhan dari anggota DPRD tersebut, serta mengharpakan anggota dewan lain agar turut menunjukkan empatinya ditengah-tengah Pandemi Covid 19 ini, ucapnya.(mt)

Jangan Anak Tirikan Petani di Tengah Pandemi Covid-19

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut Mangapul Purba meminta pemerintah memberikan proteksi kepada petani, khususnya petani holtikultura yang terdampak Covid-19. Karena selama pandemi berlangsung, pemerintah pusat maupun daerah hanya fokus memperhatikan UMKM, Ojol, kesejahteraan para PNS dan pelayanan.

“Nasib para petani seperti terlupakan,” kata Mangapul Purba kepada wartawan, Rabu (15/4).

Menurutnya, petani adalah orang-orang kuat yang memiliki kemampuan bertahan hidup serta tidak pernah cengeng kepada pemerintah. Untuk itu, dia meminta perhatian khusus dari pemerintah agar memperhatikan nasib para petani, karena dalam diam mereka sudah sangat menderita merasakan dampak Covid 19.

“Oleh karena itu, kita meminta kepada, presiden/mentan, Pemprov, pemkab termasuk kepada Gugus Tugas Covid-19 agar memberikan perhatian khusus kepada seluruh petani di Sumut, demi kelangsungan hidup mereka,” ungkap Mangapul.

Dalam masa pandemi Covid-19, petani holtikultura merasakan dampak yang luar biasa dengan menurunnya penghasilan yang dikarenakan komoditas hasil pertanian tidak laku, karena permintaan pasar menurun drastis, sebab para pedagang dari kota terhalang datang membeli komoditi pertanian yang umumnya terletak di wilayah pedesaan.

“Kita juga menerima laporan, banyak petani yang terjebak dalam meminjam modal ke penyedia alat pertanian,dengan menurunya penjualan maka petani tidak bisa berbuat banyak lagi selain meratapi nasib,” ucap Mangapul prihatin.

Meski demikian, bagi petani, kegiatan harus dilanjutkan dengan melakukan upaya sekecil apapun demi mempertahankan hidup, dan sayangnya sampai hari ini Pemeritah seolah memperlakukan petani dan buruh tani sebagai anak tiri di negeri ini. “Kita prihatin bahwa Negara agraris seperti kita ini, tidak pernah mendengar dan membantu nasib para petani yang merupakan tulang punggung kehidupan bangsa,” pungkas Mangapul. (adz)

Bobby Nasution Bagikan 13.000 Paket Sembako di Medan

Bobby Nasution SAAT pembagian sembako kepada puluhan petugas kebersihan di Jalan Setia Budi Medan, Selasa (14/4) sore.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Wabah Covid 19 hingga saat ini sangat meresahkan masyarakat. Hal itu berdampak terhadap masalah sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya di Medan.

Guna membantu meringankan beban masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah, Bobby Nasution ikut turun tangan bergerak dengan membagikan paket sembako kepada masyarakat di Kota Medan.

“Mulai hari ini, kita akan membagikan sekitar 13.000 paket sembako kepada masyarakat yang terdampak akibat Covid 19 ini,” ungkap Bobby Nasution di sela-sela pembagian sembako kepada puluhan petugas kebersihan di Jalan Setia Budi Medan, Selasa (14/4) sore.

Ayah satu anak ini menjelaskan, paket-paket itu nantinya akan diserahkan kepada seluruh tim relawan dan selanjutnya akan diserahkan kepada masyarakat yang akan membutuhkan.

“Target kita dalam pembagian sembako ini harus selesai dalam waktu 12 hari, artinya sebelum bulan puasa seluruh masyarakat yang membutuhkan paket ini sudah menerimanya,” ungkap Bobby.

Pengusaha kelahiran tahun 1991 ini berharap,  pembagian sembako ini dapat meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan sosial distancing.

“Paket yang kita berikan memang tidak banyak. Tapi insyaallah paket sembako ini dapat meringankan beban masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah, sehingga dapat memutus penyebaran Covid 19,” ujarnya.

Selain itu, Bobby Nasution mengingatkan para relawan untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengacu pada protokol kesehatan saat membagikan sembako tersebut.

“Saya meminta relawan untuk membagikan paket sembako ini secara door to door. Langsung ke masyarakat yang membutuhkan. Hindari kerumunan masyarakat saat pembagian sembako,” tegasnya.

Sementara itu, Asih (50) salah satu petugas kebersihan yang menerima bantuan sembako tersebut sangat senang, pasalnya pemberian sembako itu sangat dibutuhkan. “Alhamdulilah ya Allah, sembako ini sangat kami butuhkan pada saat sekarang ini,” ungkapnya.

Ia mengatakan, dampak bencana Covid 19 ini sangat berdampak kepada kebutuhan rumah tangganya. “Semenjak adanya virus ini dek, ruang gerak kami untuk bekerja dibatasi, memang tang dilakukan pemerintah sudah tepat agar masyarakat tetap berada di rumah, namun kalau kami tidak bekerja apa pendapatan kami,” terang ibu 5 anak ini.

Ia juga berharap, agar kegiatan yang dilakukan Bobby Nasution akan terus berlanjut dan dapat tersalurkan kepada masyarakat yang membutuhkannya. (rel)