31 C
Medan
Saturday, April 11, 2026
Home Blog Page 45

PUD Pasar Siap Evaluasi Total Kerja Sama Pihak Ketiga

Dirut PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan.(Markus Pasaribu/Sumut Pos)
Dirut PUD Pasar Kota Medan, Anggia Ramadhan.(Markus Pasaribu/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Hasil Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI menjadi sorotan serius bagi manajemen PUD Pasar Kota Medan. Dalam audit tersebut, BPK menilai sistem kerja sama pengelolaan pasar dengan pihak ketiga selama ini tidak memberikan keuntungan optimal bagi perusahaan daerah tersebut.

Direktur Utama PUD Pasar Kota Medan Anggia Ramadhan, mengaku sangat menyayangkan pola kerja sama yang telah berlangsung bertahun-tahun di 53 pasar yang berada di bawah naungan PUD Pasar.

“BPK sudah melakukan audit dan LHP-nya telah kami terima. Hasilnya, para pihak ketiga tidak memberikan keuntungan yang sesuai dengan potensi sebenarnya kepada PUD Pasar Kota Medan,” ujar Anggia, Minggu (22/2/2026).

Berdasarkan temuan BPK, PUD Pasar sebagai pemilik aset dan pembina pedagang hanya memperoleh keuntungan yang sangat kecil dari pengelolaan pasar dan seluruh fasilitas yang ada. Sebaliknya, keuntungan lebih besar justru dinikmati oleh pihak ketiga.

Anggia menjelaskan, salah satu faktor utama persoalan tersebut adalah kesalahan dalam penghitungan potensi pendapatan pasar.

“Penghitungan potensi hampir di seluruh pasar tidak tepat. Bahkan ada pasar yang tidak dihitung secara riil. Setelah BPK melakukan uji petik, ternyata potensi sebenarnya jauh lebih besar dari angka yang selama ini ditetapkan dan dibayarkan,” jelasnya.

Temuan tersebut membuat BPK menilai sistem kerja sama yang dibangun selama ini berpotensi merugikan PUD Pasar Kota Medan.

Menindaklanjuti rekomendasi dalam LHP BPK, Anggia menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kerja sama dengan pihak ketiga.

“Seluruh kerja sama akan kita evaluasi. Nantinya, kerja sama tersebut akan kita hentikan, dan sementara waktu pengelolaan pasar akan diambil alih langsung oleh PUD Pasar,” tegasnya.

Setelah pengambilalihan sementara, manajemen akan melakukan penghitungan ulang potensi pendapatan dari 53 pasar yang ada. Hasilnya akan disinkronkan dengan data dan temuan BPK sebelum membuka skema kerja sama baru.

“Kita akan buka kerja sama baru dengan sistem dan penghitungan yang baru. Dengan siapa kerja sama dilakukan, itu menjadi kewenangan penuh PUD Pasar,” kata Anggia.

Anggia menegaskan, pembenahan ini menjadi momentum untuk melakukan “bersih-bersih” dalam sistem pengelolaan pasar. Ia optimistis, jika dikelola dengan sistem yang tepat dan transparan, seluruh pasar di Kota Medan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan daerah.

“Saat pendapatan meningkat, pasar-pasar bisa kita bangun lebih layak. Pedagang juga akan merasakan manfaatnya secara langsung. Semua ini demi kesejahteraan pedagang dan kenyamanan pengunjung,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ke depan PUD Pasar juga berencana menerapkan sistem digitalisasi di seluruh pasar guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

“Pasar adalah wajah kota. Kita ingin pasar-pasar di Medan menjadi modern, nyaman, transparan, dan menjadi pusat perekonomian yang menguntungkan semua pihak,” pungkas Anggia optimistis. (map/ila)

Robi Barus Serap Aspirasi Warga: Simak Apa Saja Jadi Keluhan Warga

RESES: Robi Barus saat menggelar Reses di Jalan Gatot Subroto, Kel Sei Putih Timur II, Medan Petisah, Sabtu (21/2/2026).(Markus Pasaribu/Sumut Pos)
RESES: Robi Barus saat menggelar Reses di Jalan Gatot Subroto, Kel Sei Putih Timur II, Medan Petisah, Sabtu (21/2/2026).(Markus Pasaribu/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Persoalan keamanan lingkungan hingga bantuan sosial menjadi keluhan utama warga dalam Reses V Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Medan, Robi Barus, di Jalan Gatot Subroto No.200, Kelurahan Sei Putih Timur II, Kecamatan Medan Petisah, Sabtu (21/2/2026) siang.

Reses tersebut dihadiri Lurah Sei Putih Timur II Arizona Siregar, perwakilan Dinas Perhubungan Medan, Dinas Sosial Medan, Dinas SDABMBK, serta Dinas Kesehatan Kota Medan.

 Keluhan pertama datang dari Sugeng, warga Jalan Pasundan, Kecamatan Medan Petisah. Ia mengaku resah dengan maraknya aksi pencurian di lingkungan tempat tinggalnya. “Banyak kali maling di tempat kami, pak. Semua dicuri, sampai pagar besi pun lenyap diangkut maling,” keluhnya.

Sugeng juga menyoroti banyaknya lampu penerangan jalan yang mati, sehingga membuat lingkungan semakin rawan tindak kriminal. Ia meminta Pemko Medan kembali mengaktifkan sistem keamanan lingkungan (siskamling).

Menanggapi hal itu, Robi Barus meminta pihak kelurahan segera mengaktifkan kembali siskamling di setiap lingkungan. “Siskamling harus diaktifkan lagi. Tapi semua warga juga harus terlibat aktif, karena kamtibmas ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

 Sugeng juga menyampaikan keluhan lain terkait bantuan sosial yang dinilai tidak tepat sasaran. Ia mengaku sebagai penarik becak yang hidup pas-pasan, namun tak pernah menerima bantuan.

Perwakilan Dinas Sosial Medan, Linda Silalahi, menjelaskan bahwa saat ini pemerintah tengah fokus melakukan graduasi penerima bansos. Warga yang dinilai sudah mampu akan dicoret dari daftar penerima.

Robi Barus pun meminta agar seluruh kepala lingkungan (kepling) dilibatkan aktif dalam proses pendataan. “Kepling ini yang paling tahu kondisi warganya. Mereka harus dilibatkan supaya bansos tepat sasaran,” katanya.

Keluhan serupa datang dari Sri Tresnawati, warga Jalan Panci. Ia mengaku BPJS PBI yang sebelumnya aktif untuk keluarganya kini telah dinonaktifkan.“Kalau pakai BPJS Mandiri kami tak sanggup bayar iurannya. Lalu bagaimana kami kalau mau berobat?” tanyanya.

Menjawab hal tersebut, Robi menjelaskan bahwa pemerintah pusat memang tengah memperbaiki sistem pendataan BPJS PBI. Namun khusus warga Kota Medan, ia memastikan pelayanan kesehatan tetap terjamin melalui program Universal Health Coverage (UHC).

“Sejak Desember 2022, seluruh warga Kota Medan sudah dicover program UHC. Cukup bawa KK atau KTP Medan, sudah bisa berobat gratis di puskesmas dan rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Selain keamanan, bansos, dan layanan kesehatan, warga juga menyampaikan keluhan terkait kondisi jalan dan drainase yang perlu perbaikan.

Menutup kegiatan reses, Robi Barus berkomitmen membawa seluruh aspirasi tersebut ke Sidang Paripurna DPRD Kota Medan untuk disampaikan langsung kepada Wali Kota Medan.

Diketahui, pada hari yang sama Robi Barus juga menggelar reses lanjutan di Jalan Gelas No.26, Kelurahan Sei Putih Tengah, Kecamatan Medan Petisah, sebagai bagian dari komitmennya menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. (map/ila)

30.952 Tiket Kereta Api Sudah Terjual

BERANGKAT: Penumpang kereta api (KA) bersiap akan berangkat ke tempat tujuan. Pemesanan tiket Angkutan Lebaran 2026 saat ini sudah mencapai 30.952 tempat duduk.
BERANGKAT: Penumpang kereta api (KA) bersiap akan berangkat ke tempat tujuan. Pemesanan tiket Angkutan Lebaran 2026 saat ini sudah mencapai 30.952 tempat duduk.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Seiring memasuki awal Ramadan 1447 H, masyarakat di Sumatera Utara mulai mematangkan rencana perjalanan mudik ke kampung halaman. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat tren positif pada pemesanan tiket Angkutan Lebaran 2026, dengan total 30.952 tempat duduk telah dipesan untuk periode keberangkatan 11 Maret hingga 1 April 2026.

Plt Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat dalam memesan tiket di awal Ramadan ini terus meningkat. Hal ini dipicu oleh keinginan masyarakat untuk mengamankan tiket perjalanan lebih awal guna menghindari kehabisan kuota di tanggal favorit.

“Seiring dimulainya bulan suci Ramadan, warga Sumatera Utara sudah mulai merencanakan perjalanan mudik. Kami melihat tren pemesanan terus tumbuh positif karena kereta api menawarkan kepastian jadwal dan kenyamanan yang dibutuhkan masyarakat untuk pulang kampung,” ujar Anwar.

Data sementara menunjukkan distribusi penumpang yang cukup merata. Untuk periode sebelum Lebaran (11–20 Maret), tercatat sebanyak 11.727 tiket telah terjual. Pada masa puncak Lebaran yang diperkirakan jatuh tanggal 21–22 Maret, tiket yang terjual mencapai 6.692 kursi. Sementara itu, untuk arus balik (23 Maret–1 April), tercatat sebanyak 12.533 tiket telah dipesan.

Meningkatnya minat masyarakat tahun ini juga dipengaruhi oleh periode libur panjang. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, rangkaian hari libur nasional dan cuti bersama dalam rangka Hari Suci Nyepi dan Idulfitri akan berlangsung selama tujuh hari berturut-turut, mulai dari 18 hingga 24 Maret 2026.

 

“Berdekatannya perayaan Hari Suci Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah diprediksi akan memicu peningkatan pergerakan penumpang. Kereta api tidak hanya akan dipadati oleh umat Muslim yang mudik, tetapi juga umat Hindu yang merayakan Nyepi serta masyarakat umum yang memanfaatkan libur panjang untuk berwisata,” tambah Anwar.

Terkait prosedur pemesanan, KAI mengingatkan bahwa tiket KA Jarak Jauh sudah dapat dipesan jauh-jauh hari melalui kanal resmi. Namun, untuk layanan KA Lokal seperti KA Siantar Ekspres dan KA Datuk Belambangan, pemesanan tiket baru dapat dilakukan mulai H-7 sebelum keberangkatan.

KAI Divre I Sumatera Utara mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat melakukan pemesanan, mulai dari menentukan tanggal keberangkatan, memasukkan nama dan nomor identitas, hingga memilih stasiun tujuan. Masyarakat juga disarankan menggunakan aplikasi Access by KAI, laman booking.kai.id, atau mitra resmi lainnya untuk menjamin keamanan transaksi dan menghindari penipuan.

“Kami berkomitmen penuh untuk menjaga layanan tetap selamat, aman, dan andal selama masa Angkutan Lebaran 2026. Dukungan serta kepercayaan besar dari masyarakat menjadi motivasi utama bagi kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik, agar momen pulang kampung di Sumatera Utara tahun ini berjalan lancar dan berkesan,” pungkas Anwar.(san/ila)

Reses Zulkarnaen: Anjing Dilepas dan LPJU Padam Jadi Sorotan

RESES: Wakil Ketua DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen S.K.M saat menggelar Reses di Medan Perjuangan, Minggu (22/2/2026). (Markus Pasaribu/Sumut Pos).
RESES: Wakil Ketua DPRD Kota Medan, H. Zulkarnaen S.K.M saat menggelar Reses di Medan Perjuangan, Minggu (22/2/2026). (Markus Pasaribu/Sumut Pos).

SUMUTPOS.CO – Pelaksanaan Reses V Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar Wakil Ketua DPRD Kota Medan, Zulkarnaen, di Jalan Pimpinan Gg Tabah, Kelurahan Sei Kera Hilir I, Kecamatan Medan Perjuangan, Minggu (22/2/2026), berlangsung penuh dinamika.

Sejumlah persoalan krusial disampaikan warga, mulai dari keresahan akibat anjing peliharaan yang dilepas bebas, lampu penerangan jalan umum (LPJU) yang padam, hingga persoalan drainase dan bantuan sosial yang dinilai tidak tepat sasaran.

Dalam suasana Bulan Suci Ramadan 1447 H, warga khususnya dari wilayah Medan Tembung mengeluhkan banyaknya anjing peliharaan yang dilepas bebas tanpa pengawasan pemiliknya. Kondisi ini dinilai meresahkan, terutama bagi warga yang hendak menunaikan salat tarawih dan salat subuh ke masjid.

“Banyak anjing peliharaan yang dilepas begitu saja, tidak dirantai pemiliknya. Sementara saat Ramadan ini banyak warga yang pergi ke masjid,” ujar seorang warga Kelurahan Sidorejo, Medan Tembung, yang langsung diamini ratusan warga lainnya.

Tak hanya soal keselamatan, warga juga menyoroti aspek kebersihan lingkungan. Mereka menyebut ada pemilik anjing yang membawa hewannya dengan tali dari rumah, namun membiarkannya buang air besar di jalan tanpa dibersihkan.

“Ini sangat mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan,” keluh warga.

Menanggapi hal tersebut, Zulkarnaen menegaskan bahwa memelihara anjing merupakan hak setiap warga, namun pemilik wajib memastikan hewannya tidak mengganggu kepentingan umum.

“Kita tidak bisa melarang orang memelihara anjing. Tetapi hewan peliharaan tidak boleh dilepas begitu saja tanpa pengawasan karena ini menyangkut keselamatan masyarakat. Saya minta kecamatan dan kelurahan segera turun tangan,” tegasnya.

Persoalan lain datang dari Ahmad Syarifuddin, warga Lingkungan 12 Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Deli. Ia meminta Pemko Medan segera membenahi drainase yang tidak berfungsi optimal sehingga kerap menyebabkan genangan air. “Parit yang bermasalah ada di gang pribadi dan gang bersama. Mohon segera dibenahi,” pintanya.

Menanggapi hal itu, Zulkarnaen mengaku telah meminta Dinas SDABMBK untuk melakukan normalisasi drainase di wilayah tersebut. Ia bahkan mengingatkan bahwa saat banjir besar November tahun lalu, dirinya turun langsung melihat kondisi lingkungan yang minim saluran drainase. “Masih banyak lingkungan yang tidak memiliki drainase memadai. Ini sudah saya minta menjadi perhatian serius,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Juli Monalisa, warga Medan Perjuangan, mempertanyakan sistem pendataan bantuan sosial yang dinilai tidak objektif. Ia mencontohkan ada warga kurang mampu yang rumahnya tidak layak huni namun justru masuk kategori desil 6 sehingga tidak menerima bantuan.“Bagaimana sebenarnya sistem survei dan pendataan warga miskin ini?” tanyanya.

Selain itu, Juli juga meminta agar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) memprioritaskan tenaga kerja dari warga sekitar.“Harusnya emak-emak di sekitar dapur MBG dulu yang dipekerjakan. Kalau masih kurang baru dari luar. Jangan kami cuma jadi penonton,” ujarnya yang disambut tepuk tangan warga.

Zulkarnaen menegaskan akan mendorong Dinas Sosial untuk melakukan pendataan secara objektif agar bantuan tepat sasaran. Ia juga sepakat agar pengelola dapur SPPG mengutamakan warga sekitar. “Perangkat kewilayahan harus berkoordinasi dengan pengelola dapur agar masyarakat setempat mendapat prioritas,” katanya.

Pada sesi reses sore hari di lokasi yang sama, Zulkarnaen kembali menerima keluhan terkait banyaknya LPJU yang mati di sejumlah titik Kota Medan. Warga menilai kondisi jalan gelap sangat mengganggu, terlebih di bulan Ramadan saat aktivitas ibadah malam meningkat.

Effendi, warga Gg Wasliyah, Kelurahan Sei Kera Hilir II, mengaku telah berulang kali melaporkan LPJU mati namun belum diperbaiki.“Sudah bolak-balik saya sampaikan, tapi belum juga diperbaiki. Ini Ramadan, seharusnya jalan terang,” keluhnya.

Zulkarnaen pun meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Medan segera melakukan perbaikan menyeluruh.

“Jangan biarkan jalan-jalan gelap. Pemerintah harus memberi rasa aman, apalagi saat Ramadan. LPJU yang berfungsi juga dapat mencegah aksi kejahatan seperti begal dan pencurian,” tegasnya.

Ia memastikan seluruh aspirasi warga akan dibawa ke Sidang Paripurna DPRD Kota Medan sebagai Pokok Pikiran (Pokir) untuk menjadi skala prioritas pembangunan.

“Nantinya semua persoalan ini akan saya kawal agar menjadi perhatian serius Pemko Medan. Reses bukan sekadar seremonial, tetapi wadah nyata menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat,” tutupnya. (map/ila)

Safari Ramadan di MIRA Institute, Menko AHY Tekankan Pembangunan Berlandaskan Nilai dan Integritas

PANDEGLANG, SumutPos.co— Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, pembangunan nasional tidak semata-mata berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan nilai, karakter, dan integritas. Penegasan itu disampaikan AHY saat Safari Ramadan di Ma’had Islam Rafiatul Akhyar (MIRA) Institute, Pandeglang, Banten, Sabtu (21/2/2026).

Didampingi Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, AHY bersilaturahmi dan berdiskusi bersama Ustadz Adi Hidayat. Kunjungan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah dan ulama dalam merespons tantangan pembangunan bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Menko AHY menyampaikan Ramadan menjadi momentum refleksi dan penguatan niat dalam menjalankan amanah publik. “Ini adalah momen yang spesial. Di bulan suci Ramadan, kita tidak hanya menyambung silaturahim, tetapi juga melakukan refleksi, kontemplasi, dan membasuh hati,” ujar AHY.

Ia mengaku mendapatkan penguatan moral dari diskusi tersebut. “Kalau diminta memberikan motivasi, sebetulnya saya yang dimotivasi oleh Pak Ustadz. Dalam waktu yang singkat, beliau menyampaikan banyak hal yang penuh makna, nilai filosofi, dan kebenaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis,” tuturnya.

Menurut AHY, kepemimpinan memerlukan fondasi spiritual agar setiap kebijakan berpijak pada keadilan dan kemaslahatan. Tantangan dalam proses pengabdian harus dimaknai sebagai bagian dari perjuangan yang lebih besar.

“Ketika kita merasa berat menjalani proses dan perjuangan, ingatlah kita mendedikasikan semua itu untuk masyarakat luas. InsyaAllah, Allah SWT akan membalas dan menaikkan derajat kita,” ucapnya.

Dalam konteks tugas, Kemenko Infrastruktur mengoordinasikan pembangunan infrastruktur dan kewilayahan, Menko AHY menekankan keadilan sosial sebagai prinsip utama. Penyelesaian persoalan agraria, pembangunan jalan, jembatan, bendungan, perumahan, serta penguatan konektivitas nasional harus berjalan selaras dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan karakter bangsa.

Ia menilai sinergi ulama dan umara menjadi fondasi moral dalam menghadirkan solusi kebangsaan. “Saya meyakini jika ulama dan umara kokoh bersatu dalam sinergi dan kolaborasi, saling mengingatkan, serta terus bertafakur dan mawas diri, pembangunan akan memiliki arah yang lebih kuat dan bermakna,” kata Menko AHY kepada awak media.

Menko AHY juga mengapresiasi MIRA Institute sebagai model pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter generasi muda. “Saya sangat mengapresiasi. Meski usianya masih muda, institusi ini berpotensi menjadi Center of Excellence yang mencetak ulama-ulama masa depan Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Ustadz Adi Hidayat menyampaikan pentingnya keseimbangan antara pembangunan fisik dan penguatan spiritual dalam arah kebangsaan. “Mencoba menyeimbangkan narasi pembangunan kebangsaan dengan dasar intelektualitas dan fisikal, serta ditopang kekuatan spiritual yang kokoh,” ujarnya.

Safari Ramadan ini menegaskan pembangunan nasional harus menghadirkan keseimbangan antara infrastruktur yang berdampak dan pembinaan nilai serta integritas. Sinergi pemerintah dan ulama diharapkan menjadi pijakan kokoh dalam mewujudkan pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut turut hadir Hj. Eneng Inayatin, Ketua Yayasan MIRA Institute; Syeikh Muhammad Ali Muhammad Ismail, Al Azhar; Syeikh Yusuf Al Amin, Kulliyaah Da’wah Al Islamiyyah, Libya; dan Syeikh Abdul Adzim Yunus Muhammad, Kulliyaah Da’wah Al Islamiyyah, Libya. Menko AHY juga didampingi Staf Khusus Menko Jovan Latuconsina, Herzaky Mahendra Putra, dan Arif Rachman. (adz)

Nenek Jarina Tak Pernah Terima Bansos Lansia

RESES: dr Dimas Sofani Lubis saat menggelar Reses di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Sei Mati, Medan Maimun, Minggu (22/2/2026). (Markus Pasaribu/Sumut Pos)
RESES: dr Dimas Sofani Lubis saat menggelar Reses di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Sei Mati, Medan Maimun, Minggu (22/2/2026). (Markus Pasaribu/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Suasana haru mewarnai pelaksanaan Reses V Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar Anggota DPRD Kota Medan Fraksi Partai Golkar, Dimas Sofani Lubis, di Jalan Brigjend Katamso Gg Istirahat, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Minggu (22/2/2026) siang.

Seorang lanjut usia, Nenek Jarina, dengan suara lirih dan tangan gemetar menyampaikan keluhannya karena tak pernah menerima bantuan sosial lansia, meski hidup dalam kondisi serba kekurangan bersama cucunya.

“Saya ini orang susah, hanya hidup berdua sama cucu saya. Tapi saya tidak pernah dapat bansos, termasuk bansos lansia,” ucapnya di hadapan peserta reses.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan Medan, Dinas Sosial Kota Medan, serta sejumlah organisasi perangkat daerah lainnya.

Menanggapi keluhan tersebut, perwakilan Dinas Sosial Kota Medan, Ratu, menjelaskan bahwa pemerintah pusat saat ini tengah memfokuskan pendataan ulang agar bantuan sosial tepat sasaran. Ia menyebutkan banyak penerima bantuan telah “digaraduasi” karena dinilai sudah tidak lagi memenuhi kriteria.“Nantinya bantuan itu akan dialihkan kepada yang lebih layak, seperti Nenek Jarina ini contohnya,” ujarnya.

Mendengar langsung keluhan tersebut, dr Dimas Sofani Lubis tampak terharu. Ia menegaskan bahwa Pemko Medan tahun ini akan meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH) Medan Makmur yang bersumber dari APBD Kota Medan.

“Pemko Medan punya Program PKH Medan Makmur. Warga miskin yang tidak mendapatkan PKH dari Kementerian Sosial akan kita data untuk menerima bantuan dari program ini. Kita akan upayakan agar Nenek Jarina bisa mendapatkannya,” tegasnya.

Tak hanya Nenek Jarina, dua warga lainnya, Yeti dan Lala, juga mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial. Mereka mempertanyakan isu bahwa warga yang memiliki pinjaman bank tidak bisa mendapatkan bansos.

“Benar nggak pak, kalau punya pinjaman bank seperti Mekar atau lainnya, kita nggak bisa dapat PKH? Padahal kami ini orang susah dan banyak utang,” tanya Lala.
Perwakilan Dinsos Medan menjelaskan bahwa tidak semua warga yang memiliki pinjaman otomatis gugur sebagai penerima bansos. Namun, warga yang tercatat memiliki pinjaman di atas Rp5 juta dinilai telah memiliki kemampuan ekonomi tertentu.

“Yang tidak bisa menerima bansos adalah yang memiliki pinjaman di atas Rp5 juta. Itu dianggap sudah punya kemampuan usaha atau sumber pendapatan lain,” jelasnya.
Keluhan lain datang dari Juniar yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat harga bahan pokok yang melonjak. Ia menyebut kenaikan harga terjadi sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menanggapi hal itu, dr Dimas menjelaskan bahwa MBG merupakan program pemerintah pusat untuk pemenuhan gizi anak-anak Indonesia. Ia menilai kenaikan harga bahan pokok lebih disebabkan oleh momentum hari besar keagamaan seperti Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri.

“Memang biasanya menjelang hari besar keagamaan harga naik. Tudingan bahwa MBG menyebabkan kenaikan harga sudah dibantah oleh Kementerian Perdagangan,” terangnya.
Dalam reses tersebut, berbagai aspirasi lain juga disampaikan masyarakat. dr Dimas berjanji seluruh masukan akan dicatat dan diperjuangkan melalui mekanisme DPRD. “InshaAllah semua aspirasi ini akan menjadi catatan penting untuk saya teruskan ke Pemko Medan,” tutupnya.

Diketahui, pada hari yang sama, dr Dimas juga menggelar reses lanjutan di Jalan Brigjend Katamso Gg Mesjid, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, sebagai bentuk komitmen menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil di Kota Medan. (map/ila)

Tak Ada BPJS Ketenagakerjaan, Bilal Jenazah Curhat ke M. Afri Rizki Lubis

RESES: M. Afri Rizki Lubis, saat reses di Jalan Karya Kasih, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Medan Johor, Sabtu (21/2/2026).
RESES: M. Afri Rizki Lubis, saat reses di Jalan Karya Kasih, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Medan Johor, Sabtu (21/2/2026).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Suasana haru mewarnai pelaksanaan Reses V Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 yang digelar Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai NasDem, M. Afri Rizki Lubis, di Jalan Karya Kasih, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, Sabtu (21/2/2026) sore.

Seorang bilal jenazah bernama Murni menyampaikan keluhannya yang hingga kini belum terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, meski telah mengabdi selama 10 tahun melayani masyarakat.

“Saya sudah 10 tahun jadi bilal jenazah, tetapi sampai sekarang belum terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Padahal kami dengar semua bilal jenazah akan didaftarkan,” ungkap Murni di hadapan peserta reses.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Kecamatan Medan Johor, Lurah Pangkalan Masyhur, serta perwakilan sejumlah OPD seperti Dinas PKPCKTR, Dinas Perhubungan, dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan.

Menanggapi keluhan tersebut, Rizki Lubis yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi 4 DPRD Medan meminta Dinas Sosial segera mendata para pelayan masyarakat, termasuk bilal jenazah, untuk kemudian berkoordinasi dengan Dinas Ketenagakerjaan agar mereka dapat didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

“Ini harus menjadi perhatian Dinas Sosial Kota Medan. Mereka adalah pelayan masyarakat dan sudah seharusnya terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,” tegasnya.

Menurutnya, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan sangat penting bagi bilal jenazah yang setiap hari menjalankan tugas sosial dan kemanusiaan dengan risiko kerja yang tidak kecil.

Selain persoalan jaminan sosial, warga Jalan Karyawan juga mengeluhkan banyaknya dahan pohon yang tidak dipangkas sehingga menutupi Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU). Akibatnya, ruas jalan menjadi gelap dan rawan kecelakaan maupun tindak kejahatan.

Menanggapi hal itu, Rizki meminta Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan rutin melakukan pemangkasan pohon. “Selain menutup penerangan LPJU, pohon yang tidak dipangkas juga berpotensi membahayakan masyarakat. Ini harus rutin dilakukan,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan, Suci Yano, menyatakan kesiapan pihaknya untuk menindaklanjuti laporan masyarakat. Ia juga menginformasikan bahwa warga dapat menyampaikan pengaduan terkait pohon, sampah, dan taman melalui WA Centre Dinas Lingkungan Hidup di nomor 0823-8699-3101.

Keluhan lainnya datang dari warga terkait maraknya pedagang yang berjualan di atas trotoar sepanjang Jalan Karya Kasih. Kondisi tersebut dinilai mengganggu hak pejalan kaki.

Atas persoalan itu, Rizki Lubis meminta pihak kecamatan dan kelurahan segera berkoordinasi dengan Satpol PP Kota Medan untuk melakukan penertiban.

“Trotoar adalah hak pejalan kaki. Tidak dibenarkan digunakan untuk berdagang atau parkir. Trotoar bukan lapak, bukan tempat parkir, tapi fasilitas untuk masyarakat berjalan kaki,” tegasnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung penuh antusiasme itu, warga aktif menyampaikan berbagai aspirasi lainnya. Rizki Lubis berkomitmen seluruh masukan tersebut akan dijadikan sebagai Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD untuk dibacakan dalam Sidang Paripurna DPRD Kota Medan.

“Semua pokok pikiran ini akan saya sampaikan di Sidang Paripurna agar dapat segera ditindaklanjuti oleh Pemko Medan,” pungkasnya.

Diketahui, selain di Jalan Karya Kasih, Rizki Lubis juga menggelar reses serupa di Jalan Metrologi (Karya Kasih Ujung), Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, Minggu (22/2/2026) sore, sebagai bentuk komitmen menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat. (map/ila)