TERJARING: Petugas Satpol PP Pemko Binjai merazia kos-kosan yang dilaporkan warga sudah sangat meresahkan, Jumat (6/12).
TEDDY AKBARI/SUMUT POS
TERJARING: Petugas Satpol PP Pemko Binjai merazia kos-kosan yang dilaporkan warga sudah sangat meresahkan, Jumat (6/12).
TEDDY AKBARI/SUMUT POS
BINJAI, SUMUTPOS.CO – Aparat Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja Pemko Binjai merazia rumah kos-kosan yang berada di Kelurahan Timbang Langkat, Binjai Timur, Jumat (6/12) pukul 07.00 WIB.
“Ini merupakan operasi non yustisi yang mengacu kepada Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum,”ujar Kepala Bidang Trantibum Satpol PP Kota Binjai, Arif Sihotang ketika dikonfirmasi.
Dalam operasi non yustisi ini, kata Arif, Satpol PP Kota Binjai hanya melakukan pembinaan. Begitu juga terhadap pemilik kos-kosan, demi terjaganya kondusifitas.
Dijelaskan Arif, razia tersebut dilakukan atas laporan pengaduan masyarakat yang mengaku resah terhadap para penghuni kos-kosan milik bermarga Perangin-angin, tersebut.
“Kami melakukan operasi non yustisi bersama Kepling dan Lurah. Operasi berjalan lancar. Kami melakukannya sesuai Standard Operasional Prosedur, seperti tidak merusak dan terlebih dahulu mengetuk pintu kos-kosan,”kata Arif.
Dari 6 pintu kos-kosan tersebut, terdapat satu pasangan berlainan jenis. “Tapi mereka bisa menunjukkan surat nikahnya,”kata dia.
Mantan Lurah Damai ini juga mengatakan, selain pasangan suami istri itu, pihaknya memboyong lima wanita penghuni kos-kosan. Empat di antaranya masih berusia dibawa umur.
“Saat ini kami masih memproses mereka. Agar bisa pulang, minimal harus ada penjamin dari kelimanya. Sebab razia ini sifatnya pembinaan,”pungkasnya. (ted/han)
NATAL:
Kadis Ketenagakerjaan Kota Medan, Hannalore Simanjuntak bersama lainnya, khusuk berdoa dalam Perayaan Natal Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota Medan di Danau Toba Convention Hall, Jalan Imam Bonjol Medan, Kamis (5/12).
NATAL:
Kadis Ketenagakerjaan Kota Medan, Hannalore Simanjuntak bersama lainnya, khusuk berdoa dalam Perayaan Natal Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota Medan di Danau Toba Convention Hall, Jalan Imam Bonjol Medan, Kamis (5/12).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Umat Kristiani diajak untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai baik yang diajarkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam bersosialisasi di tengah-tengah keberagaman hidup di Kota Medan. Dengan demikian, suasana aman, damai dan nyaman terus tercipta sebagai bentuk dan wujud dari bingkai kebersamaan.
Ajakan tersebut disampaikan Plt Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution Msi, diwakili Kadis Ketenagakerjaan Kota Medan, Hannalore Simanjuntak dalam Perayaan Natal Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota Medan di Danau Toba Convention Hall, Jalan Imam Bonjol Medan, Kamis (5/12). Melalui perayaan ini, diharapkan hubungan antar umat Kristiani semakin erat meski berasal dari berbagai gereja yang berbeda.
“Puji syukur atas kebaikan Tuhan, hari ini kita semua dapat merayakan Natal dengan rasa penuh suka cita dan balutan damai kasih. Momentum ini menjadi wujud kebersamaan kita meski kita hadir sebagai jemaat dari berbagai gereja yang berbeda. Tapi, kekompakaan bisa kita hadirkan dan rajut bersama,” kata Hannalore.
Selanjutnya, perayaan Natal yang mengusung tema Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang tersebut, diharapkan mampu menjadikan umat Kristiani sahabat bagi semua umat Kota Medan tanpa memandang suku dan agama. Sebab, selama ini Kota Medan dikenal sebagai kota multikultural yang humanis, tentram dan damai.
“Teruslah berbuat baik meski dalam perbedaan. Sebab, keberagaman Tuhan hadirkan agar kita belajar menjadi manusia yang hidup penuh dalam tenggang rasa, toleransi dan saling menghargai. Hadirkan dan tebarlah kedamaian di mana pun kita berada,” ajaknya.
Perayaan Natal yang dihadiri ribuan jemaat ini berlangsung dalam suasana khidmat. Sebelum dimulai, acara terlebih dahulu diawali dengan rangkaian ibadah serta pengumpulan dana untuk renovasi gereja di Kota Medan. Tampak seluruh jemaat yang hadir dengan penuh suka cita mengikuti jalannya ibadah yang dipandu oleh seorang pendeta. (map/ila)
SALAMI: Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, Agus Suryono menyalami pemain dram Marching Band SD Muhammadiyah 02 Medan.
SALAMI: Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, Agus Suryono menyalami pemain dram Marching Band SD Muhammadiyah 02 Medan.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Halaman Masjid Taqwa Kampung Dadap Jalan Mustafa No 1 Medan pada Kamis (5/12) sore tampak berbeda dari biasanya. Puluhan siswa berpakaian hitam biru berada di halaman Masjid tersebut. Para siswa tersebut merupakan para personel Marching Band yang akan menghibur tamu undangan yang hadir.
Penampilan tersebut merupakan Konser Pamit Marching Band SD Muhammadiyah 02 Medan. Sebab Marching Band SD Muhammadiyah 02 Medan akan mengikuti Kejuaraan Minang Marching Band Competition Ke-8 Tingkat Nasional dan Asia pada tanggal 13-15 Desember mendatang di Universitas Andalas dan Pantai Padang Sumatera Barat.
Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, Ir H Akhyar Nasution Msi diwakili Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, Agus Suryono bersama Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Masrul Badri yang hadir pada acara tersebut berharap Marching Band SD Muhammadiyah 02 Medan bisa meraih juara sehingga mampu mengharumkan Kota Medan.
“Saat ini, kian banyak kegiatan seni dan olahraga yang bisa menjadi sebuah karya dan prestasi. Salah satu contohnya merupakan kegiatan festival marching band seperti saat ini,” ujarnya.
Lebih lanjut Agus mengungkapkan, di dalam marching band, jika satu nada saja salah bisa berakibat pada sumbangnya lagu yang dimainkan. Jika satu langkah saja salah, bisa berakibat kesatuan gerak seluruh tim menjadi berantakan.
“Agar nada dan langkah bisa harmonis, maka setiap anggota tim harus bisa mengurangi ego pribadinya dan bergerak bersama dalam satu kesatuan yang kompak. Ternyata, tanpa kita sadari, marching band turut mengajarkan kita tentang pentingnya satu hati dalam menjaga persatuan dan kesatuan demi mencapai satu tujuan yang sama,” kata Agus.
Maka dari itu Agus berharap, dengan adanya Kejuaraan Minang Marching Band Competition Ke-8 Tingkat Nasional dan Asia kali ini, akan mampu membangkitkan semangat generasi muda Sumatera Utara dalam meraih prestasi, baik di level lokal, nasional hingga level internasional. Impian ini akan bisa diwujudkan melalui kerja keras tak kenal lelah dan kerjasama tim yang solid.
“Saya tentunya berharap, para siswa yang mengikuti lomba Marching Band ini nantinya dapat berjuang mengharumkan nama sumut serta Kota Medan khususnya SD Muhammadiyah 02 Medan dengan meraih juara pertama,” harapnya.
Agus juga mengingatkan bahwa kalah dan menang dalam sebuah kompetisi adalah hal yang biasa, termasuk dalam kejuaraan marching band kali ini. Bila nanti berhasil menang, jangan menjadi jumawa dan jangan cepat berpuas diri atas prestasi yang telah mampu diraih. Namun jika belum berhasil menang, tetaplah tingkatkan kemampuan, karena suatu saat nanti akan tiba masanya kesuksesan kalian raih.
“Ini hanya sekadar kompetisi kalah ataupun menang itu merupakan hal biasa. Tetapi kalian tetap harus mengerahkan seluruh kemampuan kalian saat kompetisi tunjukkan hasil dari latihan dan kerjasama kalian selama ini dengan berlatih sekuat tenaga dalam mengasah disiplin dan kekompakan bersama tim satu kelompok kalian,” pungkasnya. (map/ila)
ANGKAT: Seorang pencari cacing berusaha mengangkat bangkai babi yang mengambang di Sungai Padang, Kota Tebingtinggi, Jumat (6/12).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah ternak babi yang mati di Sumatera Utara akibat wabah hog cholera atau kolera babi, meningkat tajam. Pada 22 November, tercatat masih 10.289 ekor ternak babi yang mati. Per Jumat (6/12), jumlah babi yang mati melesat hingga 22.985 ekor babi. Untuk mencegah penyebarluasan virus, Kementerian Pertanian menyalurkan bantuan desinfektan. Namun suplainya terbatas, hanya 450 liter saja.
“Saat ini semua upaya sudah dan sedang dilaksanakan. Kementerian juga sudah mendrop 450 liter desinfektan. Kemudian ada didrop lagi hand supplier. Jadi semua sedang bekerja. Orang pusat (tim dari kementerian) juga sedang di Sumut sampai sekarang,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Utara, Azhar Harahap menjawab Sumut Pos, Jumat (6/12).
Hingga kini, ungkap Azhar, Kementerian Pertanian masih mengkaji secara mendalam mengenai penyebaran virus kolera babi di Sumut. Semua aspek dipertimbangkann
sebelum mengambil keputusan. “Nggak bisa secepat itu kementerian mengambil keputusan. Harus memikirkan dampak ekonomi, sosial, dan lainnya. Mengkaji ini ‘kan tidak bisa hanya kementerian. Tetapi mesti melibatkan berbagai pihak terkait,” katanya.
Pada prinsipnya, kata dia, pemerintah bertugas melindungi seluruh masyarakat. Oleh karenanya yang bisa dilakukan saat ini —mengingat status atas wabah kolera babi belum ditetapkan pemerintah—adalah dari sisi pengendalian dan pencegahan.
Salahsatu strategi pencegahan yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan populasi kuman (bakteri, larva cacing, oosit, virus, jamur dan lain sebagainya) di areal kandang (bioskuriti), peningkatan kekebalan anak babi terhadap berbagai jenis penyakit (vaksinasi), serta membunuh kuman yang berhasil masuk ke dalam tubuh babi (medikasi).
“Pemerintah pusat juga punya pertimbangan khusus sesuai regulasi, sebelum menetapkan status wabah yang terjadi ini. Kita tidak bisa memaksa pusat menetapkan ini menjadi KLB. Kenapa itu harus kita permasalahkan? Yang kita pikirkan adalah bagaimana cara mengendalikan penyakitnya,” terangnya.
Ia menambahkan, jika nanti sudah ada ketetapan status soal wabah kolera babi di Sumut, kondisinya akan semakin menyulitkan masyarakat, terutama kalangan peternak. Sebab tidak boleh lagi perpindahan antarbabi dari satu tempat ke tempat lain.
“Makanya saya heran kenapa semua orang sibuk agar ini segera ditetapkan (status kejadian luar biasa/KLB)? Bahwa masyarakat bisa tambah menjerit kalau wabah ini nanti ditetapkan. Bukan lagi dimusnahkan, tetapi babinya tidak bisa keluar. Untuk itulah kajian ini masih terus dilakukan pemerintah pusat,” pungkasnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DKPP Sumut, Mulkan Harahap, mengatakan sampai saat ini, kematian babi di Sumut positif karena hog cholera. “(ASF) kita masih tunggu dari Menteri Pertanian,” ujar Mulkan, Jumat.
Mulkan mengatakan, 22.985 babi yang mati tersebar di 16 kabupaten, yakni di Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Tebing Tinggi, Siantar, dan Langkat.
Dari 16 kabupaten, Deli Serdang merupakan yang tertinggi dengan angka 6.997 ekor. Adapun yang tercatat kematian paling sedikit ada di Pematangsiantar sekitar 12 ekor. Sebelumnya, hanya 11 kabupaten yang kena wabah. Lima kabupaten lagi yang ikut kena adalah di Langkat, Tebing Tinggi, Siantar, Simalungun, Pakpak Bharat.
Asperba Minta Zonasi Ternak
Untuk mengatasi wabah virus hog cholera yang telah membunuh ribuan ekor ternak babi di Sumut, pengurus Asosiasi Peternak Babi (Asperba) Sumut, Hendri Duin, mengatakan pihaknya tidak terlalu ambil pusing dengan wabah virus hog cholera yang belum ada status di Sumut. Asperba lebih fokus untuk menetapkan zonasi ternak babi, agar virus tidak semakin meluas.
“Soal status no commentlah ya. Itu haknya pemerintah pusat. Saat ini kami justru sedang fokus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi soal zonasi ternak babi di Sumut,” ucap Hendri yang juga anggota DPRD Medan ini, kepada Sumut Pos, Jumat (6/12).
Zonasi dimaksud, kata Hendri, adalah mempersempit ruang gerak distribusi ternak babi dari satu daerah ke daerah lain di Sumut. “Kalau awalnya kan Pemprov bilang, babi tidak boleh keluar ataupun masuk ke Sumut, sekarang kita persempit lagi zonasinya. Yakni ternak babi tidak boleh keluar dari satu kabupaten/kota ke kabupaten/kota lainnya di Sumut. Ini akan lebih memperketat penyebaran virus hog cholera ini,” ujarnya.
Menurut Hendri, hingga saat ini hanya cara itu yang dapat dilakukan dalam mengatasi serangan virus hog cholera yang menyerang ternak babi. Sebab belum ditemukan obat melawan virus tersebut. “Cara paling realistis ya cuma mencegah penyebaran, agar tidak menjangkit ke ternak babi lainnya,” sebut Hendri.
Untuk itu, Hendri meminta agar pemerintah mau lebih serius untuk menangani masalah virus hog cholera tersebut. “Intinya ‘kan pengawasan dari pemerintah, agar distribusi babi tidak lagi keluar dari satu kabupaten/kota ke wilayah lainnya di Sumut. Kita juga harapkan agar pemerintah terus menyosialisasikan kepada masyarakat, agar tidak takut mengonsumsi daging babi. Sebab virus hog cholera tidak menjangkit ke manusia,” tandasnya.
Terpisah, peternak di Galang, Deliserdang, menilai pemerintah tidak peduli dengan wabah kolera babi yang merugikan masyarakat peternak babi. “Tak ada penjelasan tegas dari pemerintah soal vaksin dan penanganan wabah,” ungkap M Manurung, warga Desa Jahara B Kecamatan Galang, Jumat (6/12).
Meski ia menyebut ternak babinya tidak terjangkit virus hog cholera, tetapi ternak milik tetangganya banyak yang mati ternak. Dan ancaman virus terus menghantui peternak. “Hendaknya pemerintah memberikan bantuan berupa vaksin atau obat penangkal virus, sehingga tak makin banyak yang jadi korban,” Sebutnya.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Pemkab Deliserdang, Ruslan P Simanjuntak, mengatakan pihaknya telah membuat laporan ke Dinas Peternakan Sumut, yang kemudian berkordinasi dengan Kementrian. “Kami tinggal menunggu petunjuk agar wabah ini dibuat statusnya. Apakah luar biasa atau apa,” sebutnya.
Distan juga sudah mengeluarkan maklumat kepada masyarakat peternak babi, agar melapor jika ada babi yang mati. “Jangan dibuang. Kita sudah menyediakan lobang untuk menguburnya,” ucapnya.
Evakuasi Bangkai Babi dari Sungai
Sementara itu di Tebingtinggi, seorang pencari cacing, Tulif (15) warga Lingkungan II Kelurahan Tanjung Marulak Hilir Kecamatan Rambutan Kota Tebingtinggi, mengevakuasi seekor bangkai babi ukuran besar yang tersangkut di Sungai Padang di Kelurahan Tanjung Marulak Hilir Kecamatan Rambutan Kota Tebingtinggi, Jumat (6/12).
Tulif mengaku, saat itu sedang mencari cacing di sungai. Lantas ia melihat bangkai babi tersangkut di tetumpukan sampah. Aroma menyengat dari bangkai yang diperkirakan sudah dibuang sejak empat hari lalu. “Penemuan ini langsung dikabarkan kepada masyarakat,” bilang Tulif.
Saat melakukan evakuasi bangkai babi dari tengah sungai, Tulif menggunakan sebatang bambu untuk mengikat, kemudian Tulif terjun ke dalam sungai dengan mengikuti arus sungai yang dalam dan berenang ke tepian sambil menarik bangkai babi. “Arus sungai sangat deras. Capek juga berenang menarik bangkai babi itu,” jelas Tulif.
Tulif menceritakan, selama dirinya mencari cacing untuk pakan ikan ternak lele di Sungai Padang, dirinya sering melihat bangkai babi membusuk melintas di arus Sungai Padang. “Ada puluhan, Pak,” bilangnya.
Kepling setempat, Khulil mengatakan setelah mendapat informasi dari pencari cacing, ia dan warga menguburkan bangkai babi di bantaran Sungai Padang. Warga berharap pemangku kepentingan menegur dinas terkait dalam hal ini.
Kematian babi akibat hog cholera pertama kali diketahui terjadi di Dairi pada 25 September lalu. Kematian ternak babi ini kemudian meresahkan masyarakat, karena bangkai babi dibuang sembarangan di sungai. Bangkai babi terlihat mengapung di antaranya di Sungai Bederah, Danau Siombak, beberapa sungai di Medan, Deliserdang, dan Serdang Bedagai. Bangkai babi juga dibuang oleh orang tidak bertanggung jawab di pinggir jalan. (prn/map/btr/ian)
ARAHAN: Pelatih Timnas Indonesia U23 Indra Sjafri memberikan arahan kepada anak asuhnya di sela latihan, jelang menghadapi Myanmar.
ARAHAN: Pelatih Timnas Indonesia U23 Indra Sjafri memberikan arahan kepada anak asuhnya di sela latihan, jelang menghadapi Myanmar.
MANILA, SUMUTPOS.CO – Myanmar bakal menjadi lawan yang menyulitkan bagi Timnas Indonesia U-23, sore nanti. Itu jika mengacu pada catatan pertemuan di arena SEA Games. Dari tujuh kali bentrok di ajang multieven negara Asia Tenggara itu, timnas hanya membukukan dua kemenangan sebaliknya, Myanmar sudah mencatat tiga kali kemenangan.
Ancaman lainnya adalah soal kebugaran. Myanmar memiliki masa recovery yang lebih panjang ketimbang timnas. Tim asuhan Velizar Popov itu, terakhir kali bermain pada Senin lalu (2/12). Yakni, saat mereka melakoni laga terakhir grup A. Bandingkan dengan Indonesia yang baru Kamis lalu (5/12) bermain habis-habisan untuk memperebutkan tiket lolos semifinal.
Performa timnas kala masuk fase semifinal juga tak terlalu gemerlap. Sejak 1977, Indonesia tercatat 16 kali menembus semifinal. Namun, timnas hanya enam kali mencapai babak final. Dua di antaranya berakhir dengan raihan medali emas. Yakni pada edisi 1987 dan 1991.
Namun, Indra Sjafri tak mau terbebani catatan masa lalu. “Biarkan masa lalu menjadi masa lalu, saya harus melihat ke depan dan harus optimistis,” terangnya dalam konferensi pers jelang semifinal kemarin (6/12).
Indra juga tak peduli dengan catatan pertemuan melawan Myanmar. Faktanya, dua tahun lalu atau pada pertemuan terakhir di arena SEA Games, Garuda Muda-julukan timnas U-23- berhasil mengatasi Myanmar. Pertemuan itu terjadi pada laga perebutan medali perunggu.
Memang, situasinya sekarang jauh berbeda. Saat ini, Indra menangani timnas U-23. Sementara itu, Myanmar ditangani pelatih asal Bulgaria, Velizar Popov. “Banyak informasi yang kami dapatkan, dari video, dan pertandingan yang pernah kami lakoni,” ujarnya.
Indra menyebutkan, motivasi para pemainnya meningkat. Selain itu, mengacu program latihan, mantan pelatih Bali United itu melihat progres pemainnya menuju peak performance.
Kabar baiknya, 20 pemain Garuda Muda dalam kondisi siap tempur. M Rafli dan Firza Andika yang sebelumnya mengalami masalah engkel, sudah terlihat berlatih bersama. Osvaldo Haay juga kembali mendapatkan treatment bersama fisioterapis Timnas Asep Azis. Dia masih mengeluh nyeri di paha kirinya.
Di sisi lain, Velizar Popov menyatakan timnya berhasil membalik semua dugaan pengamat. Timnya memang tidak dijagokan lolos ke semifinal dari grup A. “Tetapi pemain saya layak bermain di semifinal. Target kami di empat besar,” terangnya.
Misi Myanmar sudah terpenuhi. Popov selanjutnya berharap para pemainnya tampil lebih lepas ketika menghadapi Indonesia. Popov pun sadar mengalahkan Indonesia merupakan misi yang sulit. “Mereka adalah pasukan yang paling cepat dan taktis di turnamen. Jadi tentu saja mereka sangat berbahaya bagi kami,” ujar pelatih 43 tahun itu.
Antisipasi Adu Penalti
Segala kemungkinan bisa terjadi di laga semifinal sore nanti. Termasuk, kemungkinan terjadinya adu penalti. Indra Sjafri dan pasukannya pun sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut. Kemarin (6/12), para pemain mengakhiri latihan di Rizal Memorial Stadium dengan sesi eksekusi tendangan penalti. Dua kiper Garuda Muda, Nadeo Argawinata dan M Riyandi bergiliran berlatih menahan tendangan dari titik putih.
Nadeo dan Riyandi juga berkesempatan mengambil tendangan menjelang sesi berakhir. “Kalau nanti adu penalti begini sih, namanya juga untung-untungan ya,’’ kata Nadeo.
‘’Saya berusaha aja. Siapa sih yang nggak mau tepat nebak penalti, ya kan,” ujar penjaga gawang asal Kediri tersebut.
Berbagai cara dilakukan Nadeo untuk mengasah kemampuannya dalam adu penalti. Mulai sharing dengan pelatih kiper Hendro Kartiko dan rekan satu kamar Bagas Adi Nugroho. Hingga menyaksikan tayangan video kiper-kiper hebat dunia.
“Ya, saya cari banyak referensi. Nggak hanya Kepa (Arizabalaga), (David) de Gea, ataupun (Marc Andre) Ter Stegen,” terangnya.
Dia akan mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang jika terjadi drama adu penalti. “Yang jelas 20 pemain kami saat ini sudah siap di mainkan,” timpal Indra. (nap/bas)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Polrestabes Medan memeriksa secara intensif istri kedua dari Hakim Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, Jamaluddin, yang ditemukan tewas di dalam mobil diduga dibunuh. Anak dari istri kedua Jamaluddin pun telah diperiksa.
“Penyidik memintai keterangan istri kedua dari korban di Nagan Raya Aceh,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto, Jumat (6/12).
Saat ini, status istri kedua Jamaluddin itu masih sebagai saksi. Penyidik juga telah memeriksa Ketua PN Medan, panitera, Humas PN Medan, hingga sejumlah hakim di PN Medan dan staf dari hakim Jamaluddin.
Namun, Eko belum mau merinci hasil pemeriksaan mereka. Dia hanya mengatakan kepolisian bakal terus mengusut tuntas. “Masih dilakukan penyelidikan dan penyidikan intensif kasus ini, mohon doanya,” tuturnya.
Terpisah, Wakil Ketua PN Medan Abdul Aziz mengatakan, Jamaluddin tengah mengurus sekitar 17 berkas perkara. Seluruh berkas akan dialihkan ke hakim lain usai Jamaluddin ditemukan tewas.
“Beliau ini, hampir sama dengan seluruh hakim di PN Medan ini, hampir 300-an atau 200-an setahun seorang hakim memeriksa perkara. Jadi memang banyak. Jadi nanti akan diganti hakim yang lain,” tuturnya.
Aziz lalu membantah kabar bahwa hakim Jamaluddin sempat masuk kantor sebelum ditemukan tewas pada pada Jumat lalu (29/11). Dia memastikan itu usai memeriksa absen manual, finger print dan rekaman CCTV.
“Beliau hari Jum’at itu tidak masuk kantor. Pada Jumat itu kegiatan olahraga bersama sengaja ditiadakan, karena ada kegiatan sosialisasi tentang e-legislasi di Pengadilan Tinggi di Medan. Pas sosialisasi pun beliau tidak ada,” paparnya.
Humas yang juga Hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin (55) ditemukan tewas di dalam mobil Toyota Prado Warna Hitam BK 77 HD, Jumat lalu (29/11). Dia ditemukan sekitar pukul 13.30 WIB di perkebunan sawit Dusun II Namo Bintang Desa Suka Dame Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
Saat ditemukan, mobil Jamaluddin berada di jurang. Kondisi mobil rusak di bagian depan lantaran menabrak pohon sawit. Posisi Jamaluddin berada belakang bangku supir tepatnya di bawah tempat duduk. Korban saat ditemukan mengenakan pakaian olahraga berwarna hijau yang bertulisan PN Medan.
Hingga saat ini, Kepolisian telah menerima 22 orang saksi. Kepolisian juga telah mengautopsi jasad Jamaluddin untuk mencari tahu penyebab kematiannya. “Menurut hasil pemeriksaan labfor, jadi mayat sudah lemas kembali dan mulai lembab mengarah pada pembusukan. Artinya korban meninggal antara 12 sampai 20 jam (sebelum ditemukan). Ya kita nanti akan runtut dari sana, pelan-pelan,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto, di Medan, Rabu (4/12). (bbs)
KAPOLDA
Irjen Martuani Sormin diangkat menjadi Kapolda Sumut menggantikan Irjen Agus Andrianto yang dimutasi menjadi Kabaharkam Polri.
Irjen Agus Andrianto Dipromosi Jadi Kabaharkam
KAPOLDA
Irjen Martuani Sormin diangkat menjadi Kapolda Sumut menggantikan Irjen Agus Andrianto yang dimutasi menjadi Kabaharkam Polri.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kapolda Sumut Irjen Polisi Agus Andrianto dipromosikan menduduki jabatan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri. Agus yang hampir genap satu tahun empat bulan (mulai 13 Agustus 2018) menjabat Kapolda Sumut ini, menggantikan posisi Komjen Firli yang akan dilantik sebagai Ketua KPK.
Pergantian struktur organisasi Polri tersebut, diketahui berdasarkan Surat Telegram (ST) Kapolri Nomor ST/3229/XII/KEP/2019n
tertanggal 6 Desember 2019 yang beredar dikalangan jurnalis. Dalam surat itu, ada 118 perwira polisi mulai dari pangkat AKBP hingga Komjen yang berganti jabatan.
Pengganti posisi Agus sebagai Kapolda Sumut, ditunjuk Irjen Martuani Sormin yang sebelumnya sebagai Asops Kapolri. Nama Irjen Martuani Sormin Siregar sebenarnya tak asing lagi. Jenderal bintang dua itu sempat populer saat tragedi bom Sarinah, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016 silam. Saat itu, Martuani masih berpangkat Kombes.
Ia menjadi perbincangan karena aksi nekatnya saat baku tembak dengan teroris. Martuani Sormin Siregar tidak menggunakan rompi, satu perwira lain yang ada di lokasi adalah AKBP Untung Sangaji. Dalam tragedi ini, ada tujuh orang tewas. Empat orang adalah pelaku, sementara korban ada 3 orang yang merupakan warga sipil.
Tak hanya itu, nama Irjen Martuani Sormin Siregar juga sempat diusulkan menjadi Penjabat Gubernur Sumut (Gubsu) oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo pada 2018 lalu, untuk menggantikan Tengku Erry Nuradi yang berakhir masa jabatannya. Namun urung terlaksana.
Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan membenarkan surat telegram yang beredar tersebut. Kata dia, rotasi jabatan di tubuh Polri merupakan hal yang biasa. “(Rotasi) ini juga untuk penyegaran, dan peningkatan karir. Selain itu, untuk kepentingan organisasi Polri,” ujarnya singkat yang dihubungi via seluler, Jumat (6/12).
Rotasi jabatan juga diikuti perwira menengah (pamen) dan perwira pertama Polri. Rotasi ini berdasarkan ST yang dikeluarkan Kapolri dan ada juga Kapolda Sumut.
Untuk ST Kapolri dengan Nomor ST/3230/XII/KEP/2019, tercatat Direktur Pengamanan Objek Vital (Dirpamobvit) Polda Sumut Kombes Pol Hery Subiansauri, dirotasi sebagai pamen Baharkam Polri dalam rangka pensiun. Sebagai penggantinya, ditunjuk Kombes Pol Ferdinan Pasaribu yang sebelumnya menjabat Dirpamobvit Polda Maluku. Kemudian, Kabiddokkes Polda Sumut Kombes Pol dr Sahat Harianja yang dimutasi sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Kesmapta Pusdokkes Polri. Penggantinya, Kombes Pol dr Raden Harjuno yang sebelumnya menjabat Kabiddokkes Polda Sulsel.
Sedangkan ST Kapolda Sumut, terdapat jabatan sejumlah Kapolres dirotasi, seperti Kapolres Sergai, Kapolres Batubara, Kapolres Pelabuhan Belawan, dan Kapolres Humbahas. Selanjutnya, posisi Kasat Intelkam Polrestabes Medan yang dipercayakan kepada AKBP Ahyan menggantikan AKBP Masana, yang dirotasi sebagai Kasubdit 4 Ditintelkam Polda Sumut. Kemudian, jabatan Kapolsek Medan Barat, Kapolsek Medan Helvetia, Kapolsek Deli Tua, Kapolsek Medan Area, Kapolsek Pancurbatu, Kapolsek Patumbak, dan Kapolsek Medan Labuhan.
Ditemui di Mapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto menyampaikan, diangkatnya ia sebagai Kabaharkam Polri merupakan hadiah dari masyarakat Sumut. Untuk itu, ia pun memohon doa restu atas promosi jabatan yang segera diembannya tersebut. “Saya berterimakasih. Ini adalah doa dan berkah warga Sumut kepada saya,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (6/12).
Kendati begitu, Agus juga mengakui, bahwasanya masih banyak hal yang memang belum dapat ia kerjakan untuk Sumut ini. Termasuk juga mengenai beberapa kasus menonjol yang belum selesai, seperti kasus dugaan korupsi Disporasu, hingga kasus tewasnya Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan Jamaluddin.
Karenanya, Agus pun menyampaikan permintaan maafnya kepada masyarakat Sumut. Mengingat sejauh ini masih banyak hal yang memang belum dapat ia berikan dan tuntaskan. “Masih banyak yang belum saya kerjakan. Yang pasti penggantinya (Kapolda) akan lebih baik dari kita,” tandasnya.
Menanggapi Irjen Agus yang dipromosi menjadi Kabaharkam Polri, Ketum Badko HMI Sumut M Alwi Hasbi Silalahi mengaku kehilangan. Sebab, menurut Hasbi, Agus adalah sosok yang humanis dan banyak membantu masyarakat Sumut. “Tentunya kita kehilangan sosok polisi yang humanis, Pak Agus sering membantu masyarakat. Bisa dicek Rumah Sakit Bhayangkara (Tingkat II Medan), banyak warga kurang mampu dibantu untuk berobat,” ujarnya kepada wartawan.
Kata Hasbi, Kapolda Sumut yang baru nantinya diharapkan setidaknya dapat menyamai dengan Irjen Agus. “Pasti memiliki tugas yang lebih berat. Harapannya, tentu bisa lebih baik lagi seperti diterohkan Pak Agus,” tukasnya. (ris)
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Temuan beras Bulog berbau apek oleh Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi saat sidak di Pusat Pasar Medan dan gudang Bulog di Jalan Mustafa Medan, langsung ditindaklanjuti Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kota Medan dengan melakukan uji laboratorium. Hasilnya, baru akan diketahui dalam dua hari ke depan.
“Kita akan periksa dulu di lab kita dari segi kandungan nutrisinya, dari sisi layak atau tidaknya dikonsumsi oleh masyarakat. Kita akan riil menilai ini. Tidak menyudutkan Bulog dan tidak akan merugikan masyarakat,” kata Kepala Dinas Ketapang Kota Medan, Emilia Lubis kepada wartawan di Medan, Jumat (6/12).
Emilia menerangkan, dalam waktu satu hingga dua hari baru akan diketahui hasilnya dan akan didiskusikan dengan Gubernur Sumut untuk diambil kebijakan. “Kita sayang terhadap masyarakat kita, jadi kita akan mengujinya. Insya Allah dalam waktu satu atau dua hari akan dapat hasilnya. Kita lihat kandungan nutrisinya, apakah berkurang atau bagaimana. Nanti akan kita diskusikan dengan Pak Gubernur,” sebut Emilia.
Menurutnya, sejauh ini belum ada keluhan dari masyarakat tentang beras yang sudah berbau ini. Selain itu, terkait dengan ketersediaan, saat ini untuk Kota Medan ada sebanyak 44.000 ton beras, dengan kebutuhan 14.000 ton. “Jadi ketersediaan beras di Kota Medan masih cukup untuk waktu dua setengah bulan ke depan dengan harga yang masih normal,” katanya.
Mengenai apakah nantinya bila ternyata beras yang berbau tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi akan ditarik dari pasaran, Emilia Lubis mengatakan, pihaknya akan mendiskusikan terlebih dahulu dengan pihak terkait. “Kita tidak bisa menzolimi Bulog dan kita belum tahu ini hasilnya. Kita jangan berandai-andai. Kita akan uji dulu. Nanti akan diuji juga oleh provinsi, kita akan laga dan baru kita diskusikan dengan Bulog dan juga Balai POM, mudah-mudahan kandungan nutrisinya masih memadai untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumut Arwakhudin Widiarso juga mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti temuan tersebut dengan melakukan uji lab apakah masih bisa dikonsumsi atau tidak. Karena dari kondisi fisiknya masih bagus, hanya saja sudah mulai berbau diduga karena faktor usia.
“Beras yang tadi kita lihat masih cukup bagus karena pada saat dibeli kondisinya bagus. Umur simpan beras dari Thailand dan India dari 2018. Yang mulai berbau sebagian, ya tidak semua,” pungkasnya.(gus)
WAWANCARA: Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Anak RSUP H Adam Malik, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu diwawancarai wartawan, Jumat (6/12).
Korban Meninggal Tak Pernah Imunisasi
WAWANCARA: Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Anak RSUP H Adam Malik, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu diwawancarai wartawan, Jumat (6/12).
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kondisi tiga anak asal Kecamatan Perdagangan, Kabupaten Simalungun, yang suspect difteri mulai membaik. Namun ketiganya hingga kemarin masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Medan. Ketiga anak tersebut masing-masing berinisial YS (6), RS (3), dan MS (2). Mereka merupakan satu keluarga alias kakak beradik.
Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) Anak RSUP H Adam Malik, dr Ayodhia Pitaloka Pasaribu Mked (Ped) SpA, PhD, mengatakan rata-rata kondisi dari ketiganya sudah menunjukkan perkembangan yang membaik. Akan tetapi masih butuh perawatann
“Pasien YS datang sudah kita prediksi sebagai klinis probable difteri, karena ketika masuk ke sini dengan kondisi sudah dengan leher membengkak, dan sel membrannya sudah tertutup. Lalu kita berikan terapi dan responnya bagus. Kini, sudah bersih semua sudah tidak ada lagi sel membrannya dan juga klinis lain sudah tidak ada,” ujar Ayodhia saat memberikan keterangan pers, Jumat (6/12).
Sedangkan kedua adik YS, sambungnya, yakni RS yang datang belakangan, kondisinya tidak dengan leher bengkak. Hanya selaput yang masih sedikit, langsung diberi terapi. Kini kondisi RS sangat baik. “Begitu juga MS, akan tetapi MS tidak didiagnosa sebagai suspect difteri, karena tidak ada klinis ke arah difteri. MS tidak ada ditemui selaput putih di dalam mulutnya, namun tetap ditangani untuk dilakukan observasi karena berkontak langsung,” ungkap Ayodhia didampingi Bagian Pelayanan Medik RSUP H Adam Malik, dr Anita Rosari SpPD dan Kassubag Humas RSUP Haji Adam Malik Rosario Dorothy Simanjuntak.
Lebih lanjut Ayodhia mengatakan, terkait pasien HS (5) yang meninggal karena juga suspect difteri dan masih memiliki hubungan keluarga dengan ketiganya, memang sudah tak tertolong lagi. Sebab, HS dibawa ke RSUP H Adam Malik dengan keadaan yang memang cukup berat.
“HS datang dengan nafas yang sangat sesak, mengorok dan sudah membengkak di bagian leher. Selain itu, terjadi penurunan kesadaran, tekanan darah rendah hingga nadi sudah halus. Jadi memang penyakitnya sudah cukup berat, walaupun mendapatkan tata laksana (penanganan) yang cepat. Sebab progresivitas penyakitnya sudah berat risikonya, dan memang sangat besar untuk kematian. Progresif dari penyakit ini sangat cepat, kalau sudah lewat dari 3 hari baru dilakukan tata laksana maka klinis akan sangat jelek dan risiko kematian memang cukup besar,” terangnya.
Diutarakan dia, HS ditangani hanya sebentar dan murni akibat karena suspect difteri berat. Artinya, bukan ada penyakit lain penyertanya. “Riwayat pasien (HS) memang tidak mendapat imunisasi sama sekali. Pasien-pasien suspect difteri yang tidak mendapat imunisasi sama sekali, maka klinisnya akan jauh lebih jelek dan persentase kematiannya lebih besar. Itu yang biasa kita tangani pada pasien yang dirawat di sini,” beber Ayodhia.
Untuk ketiga keluarganya yang lain, lanjut dia, memang diimunisasi tetapi tidak rutin atau tidak lengkap. “Kalau kondisi yang demikian, tentu risikonya juga hampir sama. Akan tetapi, kalau cepat ditangani maka bisa selamat,” ucapnya.
Menurutnya, penyakit difteri sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi. Untuk itu, seharusnya penyakit ini sudah tidak ada lagi. Tetapi, kalau penyakitnya muncul maka cakupan imunisasinya tidak terlalu baik. “Kalau satu kasus ada, maka akan ada kasus-kasus penyakit yang lain. Untuk menuntaskannya tidak bisa satu atau dua tahun saja. Sebagai contoh Rusia, negara itu butuh 10 tahun untuk membereskannya. Jadi, Indonesia juga membutuhkan waktu yang cukup panjang. Makanya, kita (di Indonesia) akan tetap ada kasusnya apabila imunisasinya cakupan tidak ditingkatkan dengan baik,” jelas Ayodhia.
Dikatakan Ayodhia, penyebab penyakit difteri berasal dari bakteri, sehingga obat yang diberikan antibiotik. Bakteri tersebut sangat menular dan bisa menimbulkan gejala dalam waktu yang sangat cepat. Misalnya, dua hari saja ketemu dengan orang yang suspect difteri maka akan muncul gejalanya. “Bakteri penyakit ini biasanya melalui udara. Penularannya bisa melalui bersin atau batuk, bakteri atau kumannya akan berpindah kepada orang yang kontak. Makanya, sangat dianjurkan menggunakan masker apabila ada yang sakit,” tuturnya.
Gejala khas penyakit difteri seperti batuk dan pilek biasa. Selanjutnya, demam tetapi tidak tinggi. Oleh karenanya, jika ada yang mengalami gejala tersebut ditambah nyeri menelan, terutama pada usia anak-anak maka sebaiknya langsung ke pusat kesehatan supaya mendapat pemeriksaan. “Apabila dokternya mendapati selaput putih dalam mulutnya dan mudah berdarah bila disentuh, maka diagnosa perbandingan difteri harus masuk. Meskipun, ada juga jenis penyakit yang lain pada gejala tersebut,” jabarnya.
Ayodhia menyatakan, difteri bisa dicegah dengan proteksi melalui imunisasi. Imunisasi bisa diberikan kepada anak dari usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Kemudian, diulangi lagi imunisasinya sampai usia sekitar kelas 5 sekolah dasar. “Kalau imunisasi ini dilakukan dengan baik, maka risiko terinfeksi bakteri tersebut akan sangat minimal,” tegasnya.
Dia juga menyatakan, sudah lebih dari 30 anak yang suspect difteri ditangani mulai dari 2017 hingga sekarang. Namun yang meninggal hanya 1 orang karena lambat ditangani. Padahal kalau cepat dibawa ke rumah sakit maka kemungkinan besar akan selamat.
“Persediaan obat difteri selalu ada. Selain stok di rumah sakit, kita juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumut. Dengan begitu, tidak sampai terjadi kekosongan karena terus dievaluasi. Obat antidifteri ada dua, pertama antibiotik untuk membunuh bakterinya dan kedua antidifteri serum yang berguna membunuh racun dari bakteri penyakit tersebut,” jelasnya.
Ayodhia menambahkan, untuk mereka yang kontak langsung dengan pasien suspect difteri menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Sumut maupun Simalungun. Sejauh ini sudah berkoordinasi. “Nantinya dilakukan PE (Penyelidikan Epidemiologi) terhadap orang-orang yang kontak langsung. Lalu, diberikan eritromisin dan vaksin,” tukasnya.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Simalungun untuk segera melakukan langkah-langkah sesuai prosedur penanganan pasien difteri. “Sudah otomatis tim dari dinas kesehatan turun melakukan berbagai hal terhadap persoalan difteri. Mereka yang kontak langsung diberikan obat dan vaksin,” ujarnya.
Pemprov Diminta Koordinasi dengan Pemda
Diberitakan sebelumnya, YS, HS, RS, dan MS mengalami suspect difteri. Namun, HS meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUP H Adam Malik. HS masuk pada Senin (2/12) pukul 20.22 WIB. Ketika masuk, kondisinya sudah mengalami penurunan kesadaran, mendengkur, sesak nafas berat, hingga ditemukan ada bercak berwarna hitam keabuan yang mudah berdarah pada tenggorokan dan leher membengkak.
Merespon hal ini, DPRD Sumatera Utara meminta pemerintah provinsi berkoordinasi intens dengan pemda lainnya. “Tentu untuk menanggulangi dan mencegah penyakit ini, antara provinsi dan daerah mesti terkoordinasi dengan baik. Melakukan sosialisasi sebagai langkah awal pencegahan penyakit difteri. Ini yang menurut saya penting dilakukan dulu,” kata Wakil Ketua DPRD Sumut, Salman Alfarisi menjawab Sumut Pos, Jumat (6/12).
Langkah selanjutnya, sebut dia, penting dilakukan upaya jemput bola oleh pemerintah daerah di Sumut, mana tau ada informasi di daerah lain warganya terjangkit difteri. Dengan demikian dapat segera mendapat pertolongan medis, ataupun mencegah penyakit tersebut semakin menyebar ke warga lainnya.
“Dan yang terpenting, pemerintah mampu membuang stigma, agar masyarakat tidak takut berobat manakala sudah terkena penyakit ini karena masalah biaya. Apalagi kita khawatir, penyakit-penyakit begini membuat warga takut berobat. Ini yang perlu dihilangkan,” katanya.
Kepada pemerintah daerah, ia menekankan supaya memberi pelayanan maksimal terhadap pasien difteri. Artinya, jangan banyak alasan dalam hal penanganan bilamana mendapat pasien yang terserang difteri.
“Apalagi kan dalam penanganan difteri ini yang kita tahu, bahwa hanya RSUP Adam Malik yang memiliki peralatan lengkap. Jika lebih awal mendapat informasi ini dari daerah, dapat langsung diarahkan ke sana guna mendapat pelayanan sehingga cepat tertangani.
Sosialisasi inilah yang mesti cepat dilakukan pemda dan provinsi,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera itu. “Begitupun kepada rumah sakit, jangan sampai tidak melayani pasien difteri secara maksimal. Sebab ini bagian dari tanggung jawab pemerintah,” pungkasnya. (ris/prn)
BERKUNJUNG: Menkopolhukam RI Mahfud MD bersama pemilik Rahmat Gallery, Rahmat Shah, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi serta Wagubsu Musa Rajekshah saat berkunjung ke Rahmat Gallery di Jalan S Parman Medan, belum lama ini.
Tumbuhkan Kreativitas dan Gugah Kecintaan akan Alam
BERKUNJUNG: Menkopolhukam RI Mahfud MD bersama pemilik Rahmat Gallery, Rahmat Shah, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi serta Wagubsu Musa Rajekshah saat berkunjung ke Rahmat Gallery di Jalan S Parman Medan, belum lama ini.
MEDAN, SUMUTPOS.CO – Keberadaan Rahmat International Wildlife Gallery yang terletak di Jalan S Parman Medan, diapresiasi pemerintah. Lokasi yang lebih dikenal dengan nama Rahmat Gallery ini, dinilai dapat menumbuhkan kreativitas dan menggugah kecintaan akan alam.
Demikian disampaikan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD saat berkunjung ke Museum Rahmat belum lama ini. Pada kesempatan itu, Mahfud MD mengingatkan pentingnya keberadaan museum untuk mengenal dan belajar dari peninggalan perjuangan. Termasuk kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini.
“Museum selalu memberi pelajaran tentang peninggalan atau bekasn
perjuangan serta kekayaan alam yang dianugerahkan oleh Tuhan. Museum yang bagus dapat menggugah kesadaran dan kecintaan akan alam ciptaan Allah dan seluruh isinya,” ucapnya.
Melalui kesadaran dan kecintaan akan alam ciptaan Tuhan tersebut, lanjutnya, dapat mewariskan sikap kesatria, kreatif dan rendah hati kepada generasi penerus. “Museum Rahmat adalah salah satu yang terbaik untuk fungsi-fungsi itu,” katanya.
Seperti diketahui, Rahmat International Wildlife Museum & Gallery atau yang lebih dikenal dengan Rahmat Gallery memiliki koleksi sebanyak 2.600 spesies dengan 5.000 lebih spesimen dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari yang terkecil hingga terbesar. Koleksi tersebut adalah hasil buruan legal dan sumbangan lembaga, serta rekan dari Rahmat Shah selaku pemilik galeri.
Mahfud MD didampingi Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dan Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah juga Wakapolda Sumut, Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto mendatangi Monumen Nasional Keadilan yang ia resmikan Maret 2011 silam. Mahfud MD turut menyapa siswa-siswi sekolah dasar yang tengah berkunjung.
Rahmat Shah menjelaskan, monumen yang terletak persis di halaman Rahmat Gallery ini terinspirasi dari berbagai kasus ketidakadilan di tanah air. “Tujuannya sebagai pengingat kepada seluruh masyarakat maupun Pemerintah Indonesia agar berusaha selalu bersikap adil dan tidak mengulang sikap ketidakadilan,” ungkapnya. (prn/ila)