Home Blog Page 5065

Menkum HAM dan Mendes PDTT Tinjau Persiapan Sail Nias, Infrastruktur Masih Jadi Kendala

istimewa TINJAU: Menkum HAM Yasonna Laoly dan Mendes Eko Putro Widjojo saat meninjau persiapan Sail Nias, Rabu (4/9).
TINJAU: Menkum HAM Yasonna Laoly dan Mendes Eko Putro Widjojo saat meninjau persiapan Sail Nias, Rabu (4/9).

NIAS SELATAN, SUMUTPOS.CO – Sepuluh hari menjelang perhelatan Sail Nias 2019, masih terdapat sejumlah kendala di lokasi acara, khususnya terkait infrastruktur yang masih belum rampung karena faktor alam. Namun, hal tersebut dipastikan bisa teratasi sebelum even internasional itu digelar.

Ketua Umum Panitia Nasional Sail Nias 2019 yang juga Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo yang juga wakil ketua umum panitia nasional, meninjau persiapan puncakn

Sail Nias di Pelabuhan Baru Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan (Nisel), Rabu (4/9). Selanjutnya, kedua menteri memimpin rapat terbatas di Pondopo Bupati Nias Selatan.

Dalam peninjauan itu, Eko Putro Sandjojo mengakui, masih terdapat sejumlah kendala di lokasi acara terkait infrastruktur yang masih belum rampung karena faktor alam. “Masih ada yang becek dan terus dilakukan pengurukan dan pengerasan batu di lokasi acara. Tapi, dengan kerja gotong royong, semuanya akan rampung sebelum puncak acaranya berlangsung,” katanya.

Eko mengatakan, stakeholder harus mengevaluasi pemantapan Sail Nias, karena acara tersebut nantinya juga akan diliput oleh media luar. “Kegiatan Sail Nias akan membawa nama baik Kepulauan Nias serta guna mengejar ketertinggalan. Kita akan diliput oleh media nasional dan media asing supaya kegiatan ini terekspos untuk mempromosikan Kepulauan Nias menjadi lebih dikenal dan lebih maju,” ujar Eko.

Yasona menambahkan, terkait persoalan infrakstruktur jalan yang masih berlobang agar segera diperbaiki dan menjalin koordinasi dengan unsur Forkopimda guna mempercepat penjerjaan. “Persiapan kita supaya dievaluasi lagi. Lebih cepat dilakukan daripada menunggu-nunggu dan saya percaya kita semua bisa melakukan hal itu”. Katanya

Politikus PDIP ini juga meminta agar semua jalan masuk dan di kota supaya dibersihkan, sehingga saat menuju hari H acara puncak sudah benar-benar bersih.

Dalam peninjauan dan rapat terbatas itu hadir Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah; Danrem 023/Kawal Samudera Sibolga, Kolonel Inf Tri Saktiono; Karo Ops Poldasu, Kombes Pol Makmur Ginting; Dir Pam Obvit Poldasu, Kombes Pol Hery S; Bupati Nisel, Hilarius Duha; Danalanal Nias, Letkol Laut (P) Jan Lucky Boy Siburian; Kapolres Nisel, AKBP I Gede Nakti Widhiarta; Kapolres Nias, AKBP Deni Kurniawan; Dandim 0213/ Nias, Letkol Inf TP Lobuan Simbolon; Bupati Nias Barat, Faduhusi Daely; Wabup Nisel, Sozanolo Ndruru.

Wagubsu dalam rapat itu menjelaskan, untuk menyukseskan Sail Nias 2019, pihaknya sudah mengirim tim kesehatan ke Nias dan termasuk sejumlah dinas-dinas lain.

Bupati Hilarius Duha menjelaskan, lambatnya pengerjaan beberapa pekerjaan tersebut berhubung karena cuaca yang kurang bersahabat seperti hujan.

Usai menggelar rapat, Yasona Laoly dan Eko Saputro bersama rombongan menyempatkan diri menyaksikan latihan tari perang kolosal di Lapangan Orurusa Telukdalam sebelum berangkat menuju Gunungsitoli. Yasonna dan Eko pun menyapa dan menyemangati para peserta tari perang yang sedang latihan.

Pelatih tari perang, Dasa Manao mengatakan, sebanyak 500 orang dilibatkan sebagai peserta tari perang kolosal yang akan tampil pada Puncak Sail Nias pada 14 September 2019 mendatang. Ke-500 peserta tari perang kolosal ini terdiri 400 peserta tari perang dan 100 peserta lompat batu. Di mana peserta terdiri dari masyarakat dan sejumlah siswa SMA sekitar Telukdalam.

“Kita libatkan masyarakat dan siswa yang akan menampilkan tari perang ini yang nanti akan dipertunjukkan pada puncak acara Sail Nias di Pelabuhan Baru Telukdalam,” papar Dasa Manao.

Beberapa penampilan yang akan ditunjukkan pada tari perang kolosal ini, diantaranya, penari panji, tari fo’ere, kehidupan sosial masyarakat Nias Selatan, tari moyo, faluaya dan terakhir lompat batu.(bbs)

Gubsu Klarifikasi Wisata Halal di Danau Toba, Edy: Itu Hoax, Fitnah

istimewa DANAU TOBA: Panorama keindahan alam Danau Toba di Balige. Masuknya Geopark Kaldera Toba membuat wisata Danau Toba bakal mendunia.
istimewa DANAU TOBA: Panorama keindahan alam Danau Toba di Balige. Masuknya Geopark Kaldera Toba membuat wisata Danau Toba bakal mendunia.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi membantah dirinya pernah melontarkan pernyataan akan membuat Danau Toba syariah. Menurut Edy, informasi yang beredar saat ini adalah hoax dan fitnah. Selaku gubernur, Edy mengaku sangat menyadari masyarakat Sumut beragam. Ada kabupaten/kota yang masyarakatnya mayoritas Muslim. Ada pula yang mayoritas Nasrani.

“APA pernah Anda dengar saya bilang mau membuat Danau Toba syariah?” tanya Edy kepada wartawan di gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol Medan, Rabu (4/9).

Menurutnya, ada kesalahpahaman informasi atas apa yang disampaikannya

“Ada pihak yang salah menafsirkan, kemudian mendramatisir wisata halal, dan akhirnya menyalahkan. Ini yang menjadi masalah. Masyarakat menjadi salah menanggapinya,” ujar Edy.

Dia menjelaskan, usai kunjungan Presiden Jokowi ke Danau Toba beberapa waktu lalu, ia ditanya wartawan mengenai apa tindakannya sebagai gubernur terkait Danau Toba sebagai wisata unggulan. Edy pun menjawab, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan mengenai wisata Danau Toba.

Pertama, mengenai wisatawan mana yang paling banyak datang ke Danau Toba.

Dicontohkannya, jika wisatawan Malaysia yang paling banyak datang, segala keperluannya harus dipersiapkan. Hal itu tentu saja perlu disesuaikan dengan kebiasaan dan kebudayaan wisatawan yang datang. Sehingga wisatawan bisa nyaman dan akan kembali lagi ke Danau Toba. Begitu pula dengan bangsa lain yang datang.

Kedua, mengenai infrastuktur. Menurutnya infrasturktur sebagai konsep pariwisata haruslah disiapkan juga. “Harus siap infrastruktur akomodasi yang representatif,” kata Edy Rahmayadi, sembari menegaskan kembali, dirinya tidak pernah menyampaikan tentang rencana menerapkan wisata halal di Danau Toba.

Gubernur pun berharap kepada semua pihak agar polemik ini segera berakhir. Jika terus berlanjut dikhawatirkan akan berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat Sumut. Masyarakat pun diingatkan untuk tidak percaya dengan fitnah dan hasutan. “Jangan pernah percaya dengan hasutan dan fitnah,” tegas Edy.

Sebelumnya, saat melakukan kunjungan ke Nias, Selasa (3/9) lalu, Edy juga sudah memberikan klarifikasi tentang wisata halal ini. Mantan Pangkostrad ini menjelaskan, setiap daerah pariwisata menjadi ramai, bukan dipandang karena agama yang dianut masyarakat sekitarnya. Namun, setiap daerah wisata juga harus mempertimbangkan suatu kebutuhan wisatawan.

“Kita tidak memandang apa pun itu agamanya. Tetapi kalau ada orang Islam datang ke tempat itu, contoh di Bali, ada makanan di situ, rumah makan halal. Di Thailand yang mayoritas beragama Buddha, tapi di situ ada rumah makan halal,” jelasnya.

Menurutnya, konsep wisata yang sedang dibangun untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional, juga tidak menghilangkan akar budaya masyarakat yang sudah turun-temurun di sekitar Danau Toba. “Banyak orang yang tidak memahami. Konsep wisata halal Danau Toba bukan berarti semua rumah makan di sana harus berlabel halal. Ini orang-orang belum mengerti, bahkan sampai ada yang mendramatisir. Itu dia yang menjadikan masalah,” ungkapnya.

Menurut Edy, produk halal itu bukan merupakan kewenangan pemerintah untuk memberikan penjelasan. Itu merupakan kewenangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menjelaskan, termasuk di daerah wisata lainnya. “Seperti penyelenggaran Sail Nias 2019 yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Orang-orang tidak akan datang ke Nias apabila tak ada tempat untuk makan. Kita tidak boleh mengecilkan agama apapun,” sebutnya.

Hentikan Polemik

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kerukunan Puak Batak Bersaudara, Mayjend TNI (Purn) Sumiharjo Pakpahan mengajak masyarakat untuk tidak menyikapi polemik wisata halal dengan emosional, tanpa melihat dampak positif dari wacana tersebut.

“Jadi kita harus berpikir positif dan tidak emosional menanggapi masalah ini. Kerukunan Puak Batak Bersaudara tujuannya adalah rukun. Jika ada pernyataan seperti itu, lebih baik kita tanyakan langsung sebelum mengembangkan isu,” ungkap Sumiharjo kepada wartawan di Medan, Rabu (4/9) siang.

Temu pers itu juga dihadiri Ketua DPD Kerukunan Puak Batak Bersaudara Provinsi Sumut, Prof DR Marihot Manullang bersama jajaran pengurus lainnya.

Sumiharjo meminta kepada pihak-pihak yang bertentangan, untuk berpikir postif. Kalau tidak, akan memperkeruh suasana. Dengan polemik tersebut, yang dirugikan adalah orang Batak di Danau Toba sana.”Ini yang harus kita jaga. Jangan sampai pernyataan itu diplesetkan pihak-pihak yang berkepentingan,” ucap Sumiharjo.

Diketahui, wisata halal itu merupakan kebutuhan dan hak bagi wisatawan Muslim untuk mendapatkan fasilitas, seperti makanan dengan sajian halal dan dilengkapi tempat beribadah seperti masjid atau musala. Menurut Sumiharjo, hal itu bukan berarti akan merusak adat istiadat dan kearifan local di kawasan Danau Toba. Malah sebaliknya, akan banyak menarik kunjungan wisatawan muslim dari berbagai negara untuk berkunjung ke Danau Toba. “Jangan menanggapinya, wah akan dibuat nanti aturan halal menurut Islam, tidak. Itu tanggapan kita yang salah. Halal menurut satu agama, belum tentu halal satu agama lainnya,” jelas Sumiharjo.

Sumiharjo yang dikenal sebagai tokoh Batak yang sangat telorenasi itu, sangat memahami kebutuhan serta hak bagi seorang Muslim dalam menjalani ibadahnya. Sudah sepantasnya, danau terbesar di Asia Tenggara itu ramah dengan wisata Muslim. Apalagi, wisatawan mancanegra berkunjung ke Danau Toba didominasi warga Malaysia yang mayoritas pemeluk agama Islam.

“Kita harus menujukan kerukanan itu, kita mendidik manusia itu taat kepada agamanya. Yang Islam salat 5 waktu, salat Jumat. Kalau tidak ada rumah ibadah di sana (Danau Toba), sudah tidak ketuhanan yang maha esa itu. Makanya jangan emosial kita,” sebutnya.

Sumiharjo juga menegaskan, dirinya bukan pada posisi mendukung atau tidak atas konsep wisata halal yang disampaikan mantan Ketua Umum PSSI itu. Akan tetapi dia ingin semua harus berpikir positif dulu. “Bila hal ini cara terbaik untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kawasan Startegi Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, Kerukanan Puak Batak Bersaudra mendukungnya, pasti masyarakat diuntungkan,” tegasnya.

Sumiharjo menambahkan, Pemprov Sumut juga harus terbuka kepada masyarakat soal wacana halal tersebut. Dengan begitu, polemik di tengah masyarakat secepat akan tuntas dan selesai. “Supaya ini tidak berkepanjangan, perlu juga membuat seminar. Undang semua toko agama, toko masyarakat, undang Pak Gubernur dan saya siap sebagai pembicara juga,” pungkasnya.

Dalam jumpa pers itu, juga dihadiri langsung oleh Ketua DPD Kerukunan Puak Batak Bersaudara Provinsi Sumut, Prof.DR. Marihot Manullang? bersama jajaran pengurus lainnya.(gus)

Puting Beliung Sapu Medan Deli, Sungai Kukam Meluap, 10 Rumah dan Gereja Rusak, Jembatan Putus

GOTONG ROYONG: Masyarakat bergotong royong memperbaiki jembatan yang putus di Dusun 8 Bandarmeriah, Desa Namu Ukur Utara, Sei Bingai, Langkat, Rabu (4/9).
GOTONG ROYONG: Masyarakat bergotong royong memperbaiki jembatan yang putus di Dusun 8 Bandarmeriah, Desa Namu Ukur Utara, Sei Bingai, Langkat, Rabu (4/9).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Cuaca ekstrim melanda Kota Medan dan Kabupaten Langkat, Selasa (3/9) malam. Dampaknya, sebanyak 10 rumah dan satu gereja rusak diterjang angin puting beliung di Kelurahan Titipapan, Medan Deli. Sementara, satu jembatan di aliran Sungai Kukam, Dusun 8 Bandarmeriah, Desa Namu Ukur Utara, Sei Bingai, Langkat, putus dihantam banjir.

Meskipun tidak ada korban jiwa, kerugian akibat musibah alam itu mencapai ratusan juta. Peristiwa itu saat terjadinya hujan deras disertai angin kencang. Puting beliung dengan seketika melanda 4 lingkungan di Kelurahan Titipapan, Medan Deli. Tanpa disadari, angin itu menerjang rumah penduduk. Akibatnya, atap seng rumah warga berterbangan.

Warga menjadi korban hantaman puting beliung berusaha menyelamatkan diri berlindung ke rumah tetangga. Dalam tempo lebih kurang 5 menit, terjarangan angin merusak 10 rumah dan 1 gereja yang berada di 4 lingkungan.

Seorang warga, Umar mengatakan, awalnya mereka tidak menyangka terjadinya puting beliung, melihat bagian atap mulai berterbangan, ia pun meminta kepada adik kandungnya, Surya Lesmana agar keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri. “Malam itu, awalnya ada suara gemuruh. Setelah kami lihat seng terbang. Saya suruh si Surya untuk keluar rumah. Dalam posisi hujan deras, mereka berlindung ke rumah saya,” kata Umar menceritakan peristiwa menimpa rumah adiknya.

Pascamusibah itu, lanjut pria berusia 60 tahun ini, atap seng dan sejumlah kayu penyangga rumah adiknya kini berhamburan. Musibah menimpa rumahnya di Lingkungan 10 juga terjadi di lingkungan lain. “Tadi, pihak kelurahan sudah ada tangan. Kami berharap, agar ada bantuan bencana yang kami hadapi, lihatlah pakaian basah karena hujan da terpaksa adik saya mengungsi sementar ke rumah saya,” cetus Umar.

Sementara, Lurah Titipapan Asharsi Hasibuan mengatakan, pihaknya sudah turun ke lapangan, dari pengecekan ada sebanyak 10 rumah dan 1 gereja yang diterjang puting beliung. Perinciannya, di Lingkungan 9 ada sebanyak 1 gereja dan 2 rumah, di Lingkungan 10 ada sebanyak 2 rumah, Lingkungan 11 ada sebanyak 1 rumah dan Lingkungan 16 sebanyak 5 rumah.

“Kita sudah data semua, musibah ini sudah kita laporkan ke BPBD Kota Medan. Petugas BPBD sudah turun ke lapangan, untuk tindaklanjutnya akan segera ditangani petugas BPBD,” terangnya.

Erosi, Jembatan Amblas

Sementara, hujan deras yang mengguyur dua hari belakangan, mengakibatkan sebuah jembatan pada aliran Sungai Kukam di Dusun 8 Bandarmeriah, Desa Namu Ukur Utara, Sei Bingai, Langkat amblas, kemarin (3/9). Akibatnya, jembatan yang menghubungkan dua desa antara Desa Emplasmen Kwala Mencirim dan Desa Namu Ukur Utara ini sempat terputus.

Meski demikian, warga sekitar sudah bergotong royong membenahinya. Pantauan wartawan Rabu (4/9), perangkat desa, kecamatan dan BPBD serta Dinas PU Kabupaten Langkat sudah turun ke lokasi. Kapolsek Sei Bingai, Iptu Endramawan Sitepu juga turut mendampingi peninjauan jembatan yang amblas tersebut.

Jembatan itu amblas karena terjadi patahan pada ruas penyangganya. Itu terjadi akibat erosi dampak derasnya dan naiknya volume arus sungai saat hujan. Karenanya, ratusan kepala keluarga nyaris terisolasi jika jembatan tersebut tak dapat dilalui. Pasalnya, jembatan ini merupakan penopang jalannya ekonomi masyarakat setempat yang bekerja sebagai petani dan peternak.

Kadus 8 Bandarmeriah, Imanta Sembiring menyatakan, beruntung akibat kejadian ini tidak ada korban jiwa. Hanya saja, akses sempat terganggu. “Hujan deras jadi erosi, makanya amblas. Pondasi tanah berpasir. Bukan cadas. Pagi ini kami gotong royong biar warga, anak sekolah bisa lewat. Untuk sementara sudah bisa dilalui,” ujar dia di lokasi.

Menurut dia, kejadian amblasnya jembatan tersebut bukan pertama kali. Sebelumnya juga sudah pernah amblas. Bahkan, kejadian sebelumnya juga membuat hancur satu unit rumah warga yang longsor ke sungai.

Sekretaris Kecamatan Sei Bingai, Trio P Sembiring menambahkan, pihaknya sudah koordinasi ke PU dan BNPB denga harapan jembatan dapat kembali terbangun. Karenanya, dia kembali berharap anggaran dan waktu pengerjaan jembatan itu segera dibahas. “Langsung kita koordinasi ke kepala desa, ke kecamatan. Kami pun lapor ke tingkat II. Sifatnya ini sementara dulu,” tandasnya. (fac/ted)

Perahu Layar Tenggelam di Perairan Selat Malaka, 4 Hari, Dua Bule Italia Berenang di Laut

fachril/sumut pos SELAMAT: Dua turis asal Italia yang sempat berenang selama 4 hari di perairan Selat Malaka saat dimintai keterangan di Kantor Imigrasi.
SELAMAT: Dua turis asal Italia yang sempat berenang selama 4 hari di perairan Selat Malaka saat dimintai keterangan di Kantor Imigrasi.
Fachril/sumut pos

BELAWAN, SUMUTPOS.CO – Dua wisatawan mancanegara (Wisman) asal Italia, berenang selama empat hari di laut. Pasalnya, perahu layar yang mereka tumpangi tenggelam di Perairan Selat Malaka, Sabtu (31/8) lalu. Kedua bule Italia yang diketahui bernama Spalette Marsimo (56) dan Guedetti Roberto (58) itu, diselamatkan kapal kargo MV Fortune yang melintas di sekitar perairan mereka tenggelam.

Humas Syahbandar Belawan, Yovie mengatakan, kedua turis itu sebelumnya berlayar dari Batam menggunakan perahu layar kecil berniat menuju ke Bali. Dalam pelayaran itu, kapal digunakan warga asing itu mengalami kerusakan. Akibatnya, kapal mereka tenggelam.

Selama 4 hari kedua turis itu berusaha menyelamatkan diri mengarungi lautan dengan berenang. Beruntung, keduanya diselamatkan kapal kargo MV Fortune yang melintas. Kemudian, keduanya diselamatkan dan dìbawa ke Belawan.

“Kita menerima laporan, kapal MV Fortune membawa dua warga asing di tengah laut. Laporan itu kita terima, kita menjemput kedua turis itu dari kapal MV Fortune yang sedang berada di Perairan Bouy 2. Kedua turis itu kita dievakuasi ke Belawan. Saat ini, kedua turis sudah kita bawa ke Imigrasi Belawan,” sebut Yovie kepada wartawan, Rabu (4/9).

Untuk lebih lanjut, kata Yovie, kedua warga asìng itu telah beristirahat di salah satu hotel di Kota Medan. Rencananya, masing-masing dari mereka akan kèmbali ke Bali dan Bangkok. “Mereka sudah ditangani, untuk saat ini mereka dalam keadaan baik. Rencananya, mereka akan pulang secara terpisah, yang satu ke Bali dan satunya ke Bangkok,” beber Yovie. (fac)

Siswa 2 Sekolah Kesurupan Massal

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS DILIBURKAN:Kompleks SMK/SMP Arina Sidikalang terlihat sepi karena siswa diliburkan pasca kesurupan massal dialami para siswa selama dua hari berturut-turut.
DILIBURKAN:Kompleks SMK/SMP Arina Sidikalang terlihat sepi karena siswa diliburkan pasca kesurupan massal dialami para siswa selama dua hari berturut-turut.
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Puluhan pelajar SMA Negeri 1 di Jalan KL Yos Sudarso Kota Tebingtinggi mengalami kesurupan. Peristiwa yang sama juga terjadi di Yayasan Pendidikan Arina, Jalan Empatlima Kelurahan Batang Beruh Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi.

Kesurupan yang dialami siswa SMA Negeri I Tebingtinggi terjadi pada Selasa (3/9) sekira pukul 09.00 WIB. Sebanyak 10 orang siswa perempuan menjerit histeris tanpa diketahui penyebabnya.

Khawatir kesurupan tersebut merembes kepada pelajar lainnya, pihak sekolah berinisiatif memulangkan siswanya.

Namun peristiwa yang sama kembali terulang, Rabu (4/9) pagi. Saat mengikuti pelajaran di kelas, lima siswi kembali kesurupan dengan berteriak histeris.

Pihak sekolah pun kembali memutuskan para siswanya untuk dipulangkan ke rumah lebih cepat.

Menyikapi hal kejadian itu, pihak sekolah langsung memanggil orang pintar (dukun) untuk mengusir sang pengganggu anak sekolah.

Ada cerita mistis yang sempat keluar dari beberapa pekerja bangunan di dalam sekolah. Menurut mereka, sejak ada pembongkaran kelas lama untuk di bagian gedung baru, disitulah mulai terjadi para pelajar berteriak histeris.

“Iya, sejak sekolah lama di ujung di bongkar dan mau dibangun gedung baru, ada saja yang kesurupan anak-anak sekolah. Mungkin penunggu di sini marah karena bangunan selama ini kosong tidak dipergunakan di bongkar. Makanya mereka (makluk halus) mengganggu para pelajar,” jelas Pakde.

Para pelajar ketika ditanya enggan berkomentar, bahkan mereka bilang tidak ada kejadian apapun. Sedangkan Wakepsek, Trianda menyatakan, bahwa kondisi pelajar sudah baik , dan tidak ada yang kesurupan lagi. Semua bisa diatasi dan kita sudah mencarikan solusi atas kejadian tersebut. “Aman pak,” bilangnya.

Isu yang berkembang, kejadian yang tidak lazim ini diduga akibat dari permainan memanggil roh yang disebut Charlie Charlie Challenge yang lagi populer di media sosial.

Untuk mencegah terjadinya kesurupan, pihak sekolah akan mengimbau orangtua untuk tidak mengizinkan anak murid membawa Android ke sekolah.

Sementara di SMP dan SMK Arina Sidikalang, peristiwa kesurupan terjadi pada Selasa (2/9) dan Rabu (3/9).

Kepala SMK Arina, Asi Sitanggang didampingi Kepala SMP Marlin Sinaga saat ditemui wartawan, Rabu (4/9), di kompleks sekolah mengatakan, peristiwa Senin (2/9) pagi, tiga orang siswa kesurupan saat berbaris di lapangan sekolah. Untuk mengobati ketiga siswa, pihak sekolah menghadirkan rohaniawan. Setelah siuman, ketiga siswa pun dipulangkan.

Keesokan harinya, Selasa (3/9), peristiwa serupa kembali terulang dan berdampak kepada puluhan siswa yang juga terjadi saat siswa berbaris di lapangan.

“Jumlah pasti, kita tidak tahu. Kala itu situasi benar-benar panik. Di sana-sini ter dengar teriakan, Seperti menular yang satu sembuh dan tersadar, pindah lagi ke yang lain. Mungkin puluhan oranglah yang kena termasuk siswa SMP”, terang Asi Sitanggang yang diamini Marlin Sinaga.

“Daripada anak-anak terus terganggu, maka sesuai rapat dewan guru bersama pimpinan yayasan, siswa disuruh untuk belajar di rumah selama dua hari yakni Rabu dan Kamis” urainya.

Ditambahkannya, Ketua Yayasan adalah Listina boru Sinaga yang juga istri Ketua DPRD Dairi ,Sabam Sibarani.

Terkait kemungkinan akan melakukan kegiatan kerohanian atau ritual tertentu sebagai upaya untuk menetralisir situasi, Asi Sitanggang mengaku belum terpikir dan juga belum pernah dibicarakan.

“Sementara anak diliburkan, untuk hari ini dan besok, guru-guru akan melakukan kegiatan gotong royong membersihkan seluruh komplek sekolah, sesuai saran rohaniawan, langkah lain belum dibahas”, pungkasnya. (ian/mag-10/han)

Evaluasi RDKK dan Pengawasan Pupuk Subsidi, Bupati Dairi Kumpulkan PPL

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS EVALUASI: Bupati Dairi, Eddy KA Berutu didampingi Kadis Pertanian, Herlina Tobing mengumpulkan semua Koordinator dan para PPL untuk evaluasi RDKK serta pengawasan pupuk bersubsidi.
EVALUASI: Bupati Dairi, Eddy KA Berutu didampingi Kadis Pertanian, Herlina Tobing mengumpulkan semua Koordinator dan para PPL untuk evaluasi RDKK serta pengawasan pupuk bersubsidi.
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Dalam rangka evaluasi Rencana Depenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan Pengawasan pupuk bersubsidi, Bupati Dairi, Eddy Keleng Ate Berutu mengumpulkan kordinator serta para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di ruang kerja bupati, Selasa (3/9). Demikian disampaikan Plt Kabag Humas Pemkab Dairi, Palti Pandiangan kepada wartawan, Rabu (4/9).

Bupati Eddy KA Berutu didampingi staf ahli Bupati, Marisi Sianturi, Kepala Dinas Pertanian, Herlina Tobing, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Rahmat Syah Munthe serta Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian, Carlos Situmorang.

Dalam pertemuan itu, bupati Eddy KA meminta semua koordinator menyampaikan sejauhmana RDKK telah dilaksanakan, serta apa keluhan dan masukan agar bisa diambil langkah oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Begitu juga kepada semua PPL apa saran dan kendala dihadapi dalam memberikan pendampingan kepada para petani.

Dalam kesempatan itu, Koodinator PPL menyampaikan kendala yang dihadapi adalah minimnya fasilitas, seperti jaringan internet dan laptop yang mengakibatkan proses entry data RDKK terkendala.

“Selain dukungan teknologi, tenaga penyuluh sangat kurang bila dibanding luas lahan serta Desa yang harus didampingi. Koordinator berharap adannya perekrutan atau penambahan PPL untuk mengoptimalkan prnyuluhan,”terangnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Herlina Tobing menyampaikan, data hingga per 30 Agustus 2019, masyarakat petani di 15 Kecamatan Kabupaten yang selama ini tidak masuk kelompok sudah didata ulang, agar masuk kelompok seperti Kecamatan Sidikalang ada terbentuk 20 kelompok tani baru.

Sedangkan data RDKK yang sudah masuk per Agustus 2019 sebanyak 43.465 orang anggota dengan estimasi jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 67.800 KK sehingga pendataan RDKK sekitar 64,1 %. Bupati Eddy KA Berutu mendorong semua koordinator PPL menjalankan tugas dengan baik. Kalian harus memiliki skill dan pengetahuan dalam membina petani.

Kemudian, koordinator PPL harus mampu meyakinkan para petani bahwa program yang sudah di tetapkan dan di rencanakan harus dilaksanakan. “Kedepan, kita sudah programkan serta anggarkan dana pelatih keahlian dan pengetahuan para koordinator PPL,”tandasnya.

Sedangkan untuk tenaga PPL, lanjut Eddy, akan ditambah jumlahnya. Begitu infrastruktur pendukung seperti alat pengukur PH tanah akan disediakan namun bertahap.”Untuk pupuk bersubsidi, Bupati mengajak semua pihak yang masuk dalam pengawasan pupuk agar mengoptimalkan pengawasan, sehingga penyaluran pupuk berjalan sesuai aturan dan tepat sasaran,”pungkasnya. (mag-10/han)

Bupati Dairi Kunjungi Pendeta HKBP Distrik VI

RUDY SITANGGANG/SUMUT POS BERI BIBIT KOPI: Bupati Dairi, Eddy KA Berutu disaksikan Praeses HKBP Distrik VI, Pdt Winners Sitorus memberikan bibit kopi kepada salahsatu pendeta Resort HKBP.
BERI BIBIT KOPI: Bupati Dairi, Eddy KA Berutu disaksikan Praeses HKBP Distrik VI, Pdt Winners Sitorus memberikan bibit kopi kepada salahsatu pendeta Resort HKBP.
RUDY SITANGGANG/SUMUT POS

SIDIKALANG, SUMUTPOS.CO – Bupati Dairi, Eddy Keleng Ate Berutu didampingi sitri Romy Mariani boru Simarmata kunjungi para pendeta HKBP Distrik VI Dairi, Selasa (3/9).

Rombongan Bupati disambut Praeses HKBP Distrik VI, Pdt Winners Sitorus dan belasan pendeta, serta majelis pengerja sinode (MPS) HKBP yang juga Wakil Ketua DPRD Dairi, Benpa Hisar Nababan dan sejumlah anggota DPRD Dairi seperti Markus Purba dan Robin Lingga.

Praeses HKBP Distrik VI Dairi, Pdt Winners Sitorus mengaku sangat senang dan merupakan suatu kehormatan menerima kunjungan Bupati.

Winners juga menyampaikan bahwa HKBP Distrik VI Dairi siap bersinergi, serta mendukung program Pemerintah Kabupaten Dairi dibawah kepemimpinan pasangan Eddy KA Berutu-Jimmy Andrea Lukita Sihombing.

“HKBP siap dilibatkan membangun Kabupaten Dairi kearah lebih baik sesuai orientasi pelayanan diakoni sosial, yakni mengangkat dari kemiskinan supaya semakin sejahtera,”ujar Winners.

Sementara itu, Bupati Eddy KA Berutu mengatakan, saat ini pemerintahannya fokus pembenahan di dalam seperti perampingan organisasi perangkat daerah (OPD) serta peningkatan sumber daya manusia (SDM) aparatur sipil negara (ASN) dimiliki.

Dikatakannya, penciutan OPD terpaksa dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan juga pemghematan (efisiensi) anggaran.”Saat ini pemerintah dan legislatif sedang membahas RPJMD Kabupaten Dairi tahun 2019-2024 untuk kami kerjakan 5 tahun ke depan,”terangnya. (mag-10/han)

Labuhanbatu Raih Predikat Pratama KLA 2019

FAJAR DAME HARAHAP/SUMUT POS TERIMA:Plt Bupati Labuhanbatu menerima tropi dan piagam keberhasilan Pemkab Labuhanbatu meraih predikat Pratama KLA-2019.
TERIMA:Plt Bupati Labuhanbatu menerima tropi dan piagam keberhasilan Pemkab Labuhanbatu meraih predikat Pratama KLA-2019.
FAJAR DAME HARAHAP/SUMUT POS

LABUHANBATU, SUMUTPOS.CO – Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu sebagai salah satu Kabupaten/Kota se-Indonesia peraih penghargaan predikat pratama Kabupaten/Kota Layak Anak 2019 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Yohana Susana Yembise, melalui Deputi Tumbuh Kembang Anak dan Deputi Perlindungan Anak pada Selasa (23/7) di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Sebanyak 135 Kabupaten/Kota yang meraih predikat pratama Kabupaten Layak Anak (KLA) dan salah satunya termasuk Kabupaten Labuhanbatu,” ungkap Kepala Bagian Protokoler Setdakab Labuhanbatu, Supardi Sitohang, Rabu (4/9) seusai menyaksikan, pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Labuhanbatu, melalui Kabid Perlindungan Anak Kabupaten Labuhanbatu Tuti Novrida, menyerahkan trophy dan piagam penghargaan tersebut kepada Plt Bupati Labuhanbatu, Andi Suhaimi Dalimunthe.

Penghargaan Kabupaten/Kota Layak Anak itu, terdiri atas lima predikat, yaitu Pratama, Madya, Nindya, Utama, dan Kabupaten/Kota Layak Anak. “Penghargaan KLA terdiri atas sejumlah predikat. Yaitu Pratama, Madya, Nindya, Utama. Dan baru tahap peraih predikat utama yang ada, yaitu Surakarta, Surabaya dan Kota Denpasar,” ujarnya.

Kemudian sebanyak 135 Kabupaten/Kota di Indonesia berhasil meraih predikat Pratama, 86 Kabupaten/Kota meraih predikat Madya, dan 23 Kabupaten/Kota meraih predikat Nindya.

Penilaian Kabupaten/Kota Layak Anak 2019 dilakukan dalam empat tahap. Pertama adalah penilaian mandiri terhadap 24 indikator oleh masing-masing kabupaten/kota secara daring.

Selanjutnya, tim yang terdiri atas tim independen dan tim dari kementerian/lembaga terkait melakukan verifikasi administratif, verifikasi lapangan, hingga verifikasi final.

Plt Bupati Labuhanbatu dikesempatan itu mengatakan, Pemkab Labuhanbatu akan terus berupaya dan berusaha melalui berbagai inovasi dan program dengan melibatkan lembaga/instansi, komponen masyarakat dan media publik menuju prestasi yang terbaik lagi.

“Kita menyadari sepenuhnya bahwa dalam menuju Kabupaten Layak Anak (KLA) sangatlah berat. Karena KLA itu tergabung dalam sistem yang menyatu dengan Kabupaten yang hijau. Inklusi (terbuka), cerdas, aman bencana, sehat dan Kabupaten Peduli Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, kesemua itu jika dikerjakan secara bersama-sama, terpadu dan sungguh-sungguh, kita yakin Labuhanbatu dapat menjadi Kabupaten Layak Anak,” harapnya.(mag-13/han)

Dua Kali Banmus DPRD Humbahas Batal Rapat, P-APBD 2019 Terancam Tak Disahkan

ist Tertutup: Sekdakab Humbahas Tonny Sihombing keluar dari rapat Banmus yang berlangsung tertutup dan singkat. , yaitu sekitar 1 jam saja. Ternyata, rapat ini berujung gagal digelar dikarenakan ketidakkourumnya anggota Banmus.
Tertutup: Sekdakab Humbahas Tonny Sihombing keluar dari rapat Banmus yang berlangsung tertutup dan singkat. , yaitu sekitar 1 jam saja. Ternyata, rapat ini berujung gagal digelar dikarenakan ketidakkourumnya anggota Banmus.

HUMBAHAS, SUMUTPOS.CO – Rapat untuk penyusunan penjadwalan pembahasan Perubahaan APBD Kabupaten Humbang Hasundutan tahun anggaran 2019, dua kali batal digelar oleh Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Kabupaten Humbang Hasundutan, Selasa (3/9).

Padahal, rapat Banmus sudah dijadwalkan, dipicu ketidakkehadiran 13 orang anggota Banmus, sebanyak 7 orang anggota tidak hadir.

Kepada wartawan, Ketua DPRD Manaek Hutasoit membenarkan ketidak korumnya pembahasan penjadwalan untuk penyusunan Perubahaan APBD. Sehingga, yang telah dijadwalkan untuk menyusun jadwal pembahasan APBD itu, gagal digelar.

“ Iya ini kedua kalinya gagal,” kata Manaek.

Dikatakan Manaek, rapat untuk penyusunan penjadwalan pembahasan Perubahaan APBD daerahnya yang sudah kedua kalinya batal digelar, kembali ke pimpinan DPRD. Dari situ, nantinya nasib Perubahaan APBD dapat disahkan atau tidak.

“Iya kita lihatlah nanti, saya sebagai pim pinan DPRD hanya menjalankan amanah,” sambung Politisi Partai Golkar ini.

Rapat Banmus ini berlangsung singkat, yaitu sekitar 1 jam saja, biarpun telah dua kali diskor yang dipimpin Manaek sendiri didampingi 5 anggota dewan. Dihadiri, Sekdakab Tony Sihombing, Kepala Bappeda Lautdin Sitinjak, Kepala BPKPAD Jhon Harry Marbun, Kepala Inspektorat Bilson Siahaan, Asisten Pemerintahaan Makden Sihombing, Sekdis BPKPAD Martogi Purba dan Kepala Bidang Anggaran Maradu Napitupulu.

Menurut Manaek, seyogianya kehadiran rekan-rekannya diharapkan dan bila perlu pada saat paripurna pengambilan keputusan disampaikan jika ada ketidaktepatnya PAPBD ditetapkan. “Seharusnya pada paripurna disampaikan, namun namanya dinamika, iya kita jalani saja,” tukasnya.

Manaek menuturkan, selama ini alasan anggota Badan Musyawarah yang tidak hadir, dirinya tidak mengetahui. Padahal, jauh sebelumnya undangan disampaikan. “ Sudah diundang, hadir atau tidak, tidak ada komentar mereka,” ucap Manaek.

Terpisah, Sekretaris Daerah Tonny Sihombing menolak dikonfirmasi sekaitan gagalnya pembahasan PAPBD tersebut. “ Janganlah dulu iya dek,” elak Tonny sembari berlalu meninggalkan wartawan di sela-sela saat rapat pertama diskor didampingi Asisten Pemerintahaan Makden Sihombing.

Sekedar diketahui, keenam anggota Banmus yang hadir itu adalah, Irwan Simamora dari Politisi Partai Hanura, Bresman Sianturi dari Politisi Demokrat, Kepler Torang Sianturi dari PDI Perjuanga, Saut Nainggolan dari PKB, Tulus Hutasoit Nasdem, selain Manaek selaku pimpinan DPRD.(mag-12/han)

Warga Kampung Binjai Tolak Pembangunan Drainase Kotaku

TEDDY AKBAR/SUMUT POS DITOLAK: Pembangunan sistem drainase dan jalan beton di Kelurahan Binjai, Kecamatan Binjai Kota yang mendapat penolakan oleh warga.
DITOLAK: Pembangunan sistem drainase dan jalan beton di Kelurahan Binjai, Kecamatan Binjai Kota yang mendapat penolakan oleh warga.
TEDDY AKBAR/SUMUT POS

BINJAI, SUMUTPOS.CO – Pembangunan sistem drainase dan jalan beton di Kelurahan Binjai, Binjai Kota atau daerah yang akrab dikenal Kampung Binjai, ditolak warga. Pasalnya, Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu langsung dikerjakan tanpa sosialisasi terlebih dahulu.

Informasi dihimpun, pengerjaan proyek ini disebar pada tiga titik di daerah tersebut. Pembangunannya menyasar pada gang-gang sempit. Pada proyek ini, anggaran yang dikucurkan mencapai Rp1,6 miliar lebih. Rinciannya masing-masing anggaran tersebut yakni, Rp605.384.000, Rp650.384.000 dan Rp451.852.000.

Pada plang tersebut, proyek itu mulai dikerjakan sejak 15 Agustus 2019. Namun masih berjalan beberapa hari, penolakan warga datang. Padahal proyek tersebut ditarget harus rampung pada 30 September 2019. “Tiba-tiba sudah kerja. Kami enggak tahu. Mau masuk rumah pun payah. Enggak tahu kami mau bangun apa,” kata warga sekitar saat Sumut Pos melakukan pemantauan terhadap ketiga titik lokasi pengerjaan tersebut.

“Kami menolak karena orang ini datang mau main gali-gali saja. Enggak ada izin sama kami yang miliki rumah. Selama ini juga gak ada masalah sama kami seperti kek gini saja,” tambah warga.

Kepala Lingkungan III, Rudi Bangun mengakui, sebagian warga menolak Program Kotaku tersebut. Meski menolak, sebagian warga lain juga ada yang menerima.

“Sebagian besar warga sudah menerima, tapi yang menolak ada juga. Itu ada yang di dalam gang, mereka pasang spanduk menolak pembangunan proyek. Yang gak mau ya biari saja lah, mau bagaimana lagi,” kata Kepling, Rabu (4/9). Penolakan itupun sempat menuai kekisruhan, karena jalur yang hendak digali belum dapat izin dari sebagian warga. Alhasil, warga melakukan musyawarah bersama sejumlah pihak terkait. Termasuk mengadu dan dimediasi oleh Camat Binjai Kota, Fazar.

Dikonfirmasi, Camat Binjai Kota, M Fazar membenarkan bahwa ada penolakan pembangunan proyek dari warga. Pun demikian, dia tidak mau terlalu ikut campur. Fazar hanya bertanggungjawab menerima audiensi dan memediasi aspirasi warga yang menolak. “Benar ada penolakan, saya mediasi di sekolah inpres. Namanya kayak gini, biasanya itu ada pro dan kontra. Padahal itu dibangun kan untuk mereka juga. Kenapa menolaknya, enggak tahu. Saya enggak ada kepentingan,” tandasnya.

Diketahui pengerjaan proyek ini juga bagian swadaya masyarakat. Swadaya masyarakat ini juga dimasukkan ke dalam anggaran yang telah tertera di plank proyek. (ted/han)