Home Blog Page 5131

Bermotif Modal Nikah, Pegawai PT ACS Otaki Perampokan Uang Rp411 Juta

PAPARKAN: Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto (kiri) didampingi Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto (kanan) menghadirkan pelaku perampokan uang Rp411 juta saat pemaparan kasus, Kamis (8/8).
PAPARKAN: Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto (kiri) didampingi Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto (kanan) menghadirkan pelaku perampokan uang Rp411 juta saat pemaparan kasus, Kamis (8/8).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Otak pelaku perampokan uang di depan Irian Supermarket sebesar Rp411 juta Kamis (1/8) lalu, akhirnya terungkap. Dua pegawai vendor PT Abacus Cash Solution (ACS) adalah aktor aksi perampokan siang bolong itu.

KEDUANYA masing-masing, Markus Manaek Pakpahan (28) warga Jalan Selamat Gang Sadar, Medan Denai dan Abdi Prayogi (26) warga Jalan Sudirman, Dusun 1 Desa Cinta Rakyat, Percut Sei Tuan.

Selain keduanya, turut ditangkap seorang wanita bernama Juniar Rahmadani (34) warga Jalan Sumber Bakti, Medan Amplas. Wanita ini merupakan pacar dari pelaku Markus.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto melalui Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dadang Hartanto mengatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap kedua pelaku diketahui uang hasil kejahatan telah mereka bagi. Setelah itu, mereka gunakan untuk keperluan masing-masing membayar utang dan lainnya.

“Dari Markus disita Rp100 juta dan dari Abdi Rp130 juta. Kemudian, dilakukan pengembangan dan berhasil disita lagi Rp175,3 juta,” tutur Kombes Dadang saat memberikan keterangan pers di Mapolrestabes Medan, Kamis (8/8).

Dijelaskan Kombes Dadang, Markus sempat membayar utangnya Rp70 juta dan menyimpan Rp35,5 juta untuk keperluan nikah. Abdi juga membayar utang Rp30 juta dan disimpannya Rp44,5 juta untuk keperluan lahiran anak serta cicilan Rp1,5 juta.

“Jadi, total yang disita sebesar Rp405,3 juta, sedangkan sisanya sudah digunakan para pelaku,” tutur Kombes Dadang.

Penngungkapan awalnya, mengarah kepada Markus yang dicurigai dengan gesture dan ciri-ciri bersangkutan. Apalagi, Markus tidak masuk kerja pada saat kejadian.

“Sekitar pukul 23.30 WIB (Kamis, 1/8), pelaku M (Markus) berhasil ditangkap lebih dulu, atau dalam waktu 10 jam. Pelaku M ini diketahui keberadaannya di kawasan Marindal. Tim langsung menuju lokasi, dan ternyata benar Markus sedang duduk bersama pacarnya yang kemudian diamankan,” papar Kombes Dadang.

Dari hasil interogasi, Markus mengaku uang hasil kejahatan disimpan di rumah pacarnya. Selanjutnya, tim bergerak menuju rumah pacar pelaku dan berhasil mengamankan uang tunai Rp100 juta.

“Tim lalu melakukan pengembangan terhadap pelaku Abdi. Akan tetapi, Markus berusaha melarikan diri sehingga petugas melakukan tembakan peringatan 2 kali namun tak dihiraukan. Petugas kemudian langsung mengarahkan tembakan ke kakinya hingga kemudian diamankan,” terang Kombes Dadang.

Selain uang tunai, barang bukti lain yang turut disita yaitu 1 unit sepeda motor Honda Beat BK 6445 AIL yang digunakan kedua pelaku dan rekaman CCTV.

“Saat ini para pelaku sudah ditahan, mereka diancam hukuman pidana maksimal 12 tahun penjara,” tandasnya.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada di dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Sedangkan, kepada anggota kepolisian di jajaran Polda Sumut untuk meningkatkan pencegahan dengan tujuan guna menghindarkan masyarakat menjadi korban kejahatan jalanan.

“Kepada anggota di lapangan apabila dalam melakukan pengungkapan kasus kejahatan ternyata nyawanya terancam, maka saya perintahkan untuk tidak ragu memberikan tindakan tegas terukur,” tegasnya.

Sementara, pelaku Markus mengakui perbuatannya telah merampas uang tersebut karena terlilit utang. Namun, tidak dijelaskan berapa banyak utangnya dan kepada siapa dia berutang.

Begitu juga saat disinggung mengenai butuh biaya modal nikah, pegawai yang aktif di perusahaan jasa itu dalam lima tahun enggan menjawab.

“Lagi butuh uang untuk bayar utang, sisanya untuk keperluan lain,” ujar Markus yang kemudian digiring polisi.

Diketahui, kedua pelaku membawa kabur uang senilai Rp411 juta dari petugas vendor saat hendak memasukkannya ke mobil Isuzu Panther hitam B 1005 SKV, Kamis (1/8) sekitar pukul 12.00 WIB.

Uang itu ditengarai milik Irian Supermarket di Jalan HM Jhoni/simpang Jalan Bahagia, Kamis (1/8) siang.(ris/ala)

Pengusaha Ternak Ayam Diimbau Lakukan Penyemprotan

Ilustrasi
Ilustrasi

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Pemkab Deliserdang memerintahkan agar pengusaha ternak ayam melakukan penyemprotan, sehingga tidak menimbulkan bau dan wabah lalat bagi warga di dua Desa Dalu X A dan Dalu X B, Kecamatan Tanjungmorawa.

Penyemprotan itu diharuskan, karena warga di dua desa tersebut merasa tak nyaman akibat bau dan wabah lalat dari peternakan ayam di yang tak jauh dari pemukiman warga.

“Ya tau kita yang jelas itu memang tidak berizin. Kemarin Dinas sudah buat pertemuan dengan pengusaha di kantor Kepala Desa. Hasil dari pertemuan itu, intinya pengusaha ternak ayam kedepannya akan rutin melakukan penyemprotan agar tidak menimbulkan banyak lalat. Kemudian, kotoran ayam dipantau dan diambil agar tidak ada lalat lagi di pemukiman warga,”ujar Kadis Pertanian Deliserdang, Samsul Bahri ketika temui di kantor Bupati, Kamis(8/8).

Diakui Samsul, pada dasarnya petugas Satpol PP Deliserdang sudah bisa bertindak terhadap pengusaha ternak ayam, karena tidak mengantongi izin. Sesuai dari tugas dan fungsi (Tupoksi) dari dinasnya.

“ Ya kita lihat lagi lah nanti perkembangannya bagaimana, apakah pengusaha melakukan apa yang disuruh dan disepakati dalam pertemuan itu. Kalau masih banyak laginya lalatnya, ya kita lihat nantilah. Satpol PP lah mungkin yang tindaklanjuti,”kata Samsul.

Sementara Kepala Desa Dalu X B, Wantoro membenarkan, bahwa Dinas Pertanian telah membuat pertemuan dengan pihak pengusaha setelah Pemerintah Desa membantu memfasilitasinya.

Namun disebutkannya, pada saat itu dari lima orang pengusaha peternakan ayam potong tersebut, hanya tiga saja yang datang. Sementara itu dua lagi tidak datang dan tidak diketahui apa alasannya.

“Sudah kita undang sebenarnya, cuma ada dua yang tidak hadir. Hari Selasa lalu pertemuannya di kantor Desa. Inti dari pertemuannya ya itu disuruh untuk rutin menyemprot agar lalatnya tidak ada. Dibilang orang Dinas kalau memang masih ada lagi nantinya ya mungkin orang Satpol PP yang bakal turun,” kata Wantoro.

Dikatakan Wantoro, pihaknya antara warga dan pengusaha pada tahun sebelumnya sudah pernah membuat pertemuan. Saat itu, ada lebih dari seratus warga yang menolak keberadaan kandang ternak ayam potong. Dari beberapa kandang ayam yang ada, baru satu kandang saja yang berhasil dihentikan aktivitasnya. Sementara lima lagi yang berada di dusun I Desa Dalu X B dan Desa Dalu X A masih beroperasi. “Inikan ternak ayam potong masyarakat. Dan di desa ini orangnya satu kampung saudara semua. Jadi ada juga yang memang masih memakluminya,”kata Wantoro.

Sementara itu, beberapa warga Desa Dalu X B yang diwawancarai mengaku lalat di kampung mereka ini bisa begitu banyak kalau sedang musim bongkar kandang (karena sudah besar ayamnya, selanjutnya dipanen). Meski lalat masih banyak di area pekarangan rumah, namun jumlahnya tidak seperti minggu lalu. Warga berharap agar Bupati Deliserdang, Ashari Tambunan dapat memberikan perhatiannya terhadap masalah yang dihadapi. (btr/han)

Mesin Rusak, Citilink QG010 Gagal Terbang

LUBUKPAKAM, SUMUTPOS.CO – Pesawat Citilink berpenumpang 127 orang, terpaksa kembali ke Bandara Kualanamu karena mengalami gangguan pada salah satu mesinnya, Kamis (8/8).

Padahal, bernomor QG010 regristasi PK GQI tipe A322 tersebut, baru take-off sekira 20 menit dengan rute Bandara Kualanamu-Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh.

Hingga kemarin sore, pihak maskapai belum menyampaikan pernyataan terkait rusaknya mesin pesawat.

Sementara, Manager Humas Bandara Kualanamu Wisnu Budi Setianto, membenarkan kembalinya pesawat Citilink tujuan Banda Aceh, setelah 20 menit take-off disebabkan gangguan pada mesin.

“Siang itu penumpang yang berjumlah 127 sudah diberangkatkan kembali dengan pesawat pengganti QG914 Regristas PK GQT tipe A322 pada pukul 11.30 WIB ke Bandara Sultan Iskandar Muda,”terangnya.

Sementara pesawat yang mengalami gangguan teknis tersebut dalam perbaikan di parkiran apron bandara Kualanamu. (btr/han)

Musrenbang Desa Makmur & Telaga Said, Prioritaskan Infrastruktur dan Pengembangan SDM

Ilyas effendy/ Sumut Pos SAMBUTAN: Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang, saat memberikan sambutan pada pembukaan musrenbang Desa Mekar Makmur Sei Lepan.
SAMBUTAN: Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang, saat memberikan sambutan pada pembukaan musrenbang Desa Mekar Makmur Sei Lepan.
Ilyas effendy/ Sumut Pos

LANGKAT, SUMUTPOS.CO – Desa Mekar Makmur dan Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan Wilayah 3 Langkat, menggelar musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) Rabu (7/8)

Camat Sei Lepan Faizal Rizal Matondang dalam sambutannya mengatakan, bahwa kegiatan musrenbang merupakan kegiatan musyawarah dari seluruh warga Desa Mekar Makmur, bersama para kepala dusun dan seluruh perangkat desa.

Pada kegiatan itu, Faizal Rizal mempersilahkan peserta musrenbang untuk mengusulkan semua kebutuhan desa secara gambling.

Pun begitu, Camat Sei Lepan mengimbau hendaknya musrenbang ini tidak hanya focus pada pembangunan infrastruktur saja, melainkan juga memprioritaskan pembangunan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM).

Untuk itu, lanjut Faizal Rizal mengajak para peserta untuk merubah usulan program pemberdayaan sumber daya manusia.”Misalnya memberdayakan usaha masyarakat rumahan seperti usaha pembuatan tempe dan lain-lain,”sarannya.

Kemudian, tambah Camat Sei Lepan, desa memperkuat dan mendukung usaha masyarakat dengan mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) agar seluruh warga membeli produksi tempe tersebut.

“Sehingga nantinya 2 sampai 3 tahun ke depan, perekonomian warga secara berlahan akan bertambah. Begitulah seterusnya dalam semua bentuk usaha rumahan (home industry) “pinta Camat Sei Lepan.

Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Desa Mekar Makmur, Lia Trisna mengatakan, sangat banyak usulan yang disampaikan para peserta dalam musrenbang Desa Mekar Makmur, salah satunya meliputi bidang pemberdayaan sumber daya manusia, sosial, pembangunan ekonomi masyarakat dan lain-lain.

Terpisah, musrenbang serupa juga berlangsung di Desa Telaga Said Kecamatan Sei Lepan, yang juga memprioritaskan usulan yang disampaikan oleh para peserta juga terkait pengerasan jalan yang hampir sebagian rusak parah.

“Karena itu, pihak desa sangat mengharapkan Pemkab Langkat pada tahun 2020 dapat merealisasi usulan-usulan yang telah disampaikan dan telah ditampung dalam musrenbang ,”bilang Plt Kades Telaga Said, drs Armaidi. (yas/han)

Agustawan: Waspadai Infeksi Penyakit Menular ke Manusia

ist CEK KESEHATAN: Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai, Agustawan Karnajaya saat melakukan pemeriksaan kesehatan sapi di salah satu peternakan di Binjai, Kamis (8/8).
ist CEK KESEHATAN: Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai, Agustawan Karnajaya saat melakukan pemeriksaan kesehatan sapi di salah satu peternakan di Binjai, Kamis (8/8).

Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun 2019, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai melakukan pemeriksaan kesehatan dan kelayakan hewan kurban di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Tunggurono, Binjai Timur, Rabu (7/8) sore.

Pada kesempatan itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemerintah Kota Binjai juga mengimbau masyarakat, agar senantiasa mewaspadai kemungkinan terjadinya infeksi penyakit menular dari hewan seperti sapi, lembu, kerbau, domba, dan kambing kurban kepada manusia.

“Kewaspadaan memang harus kita tingkatkan. Sebab tahun ini, kita memprediksi lebih dari 1.500 hewan kurban akan disembelih,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai, Agustawan Karnajaya, Kamis (8/8).

Menurut dia, pemeriksaan kesehatan dan kelayakan hewan kurban melalui metode antemortem ke seluruh agen penjualan sapi, lembu, kerbau, domba, dan kambing di Kota Binjai sudah dilakukan sejak sepekan terakhir. Ini dilakukan sebagai bentuk upaya pencegahan.

Sosialisasi penyembelihan hewan kurban yang baik dan benar, pengemasan daging, serta pencegahan infeksi penyakit hewan kepada manusia juga sudah dilaksanakan ke seluruh kelurahan dan masjid. “Langkah yang kita lakukan saat ini disebut sebagai antisipasi zoonosis atau pencegahan infeksi penyakit menular dari hewan kepada manusia,” tambahnya.

Namun tidak hanya melaksanakan pemeriksaan hewan kurban menjelang puncak Idul Adha 1440 Hijriah. Pemeriksaan kesehatan dan kelayakan daging hasil penyembelihan melalui metode postmortem.

Agus menambahkan, tujuan kegiatan ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, sekaligus menjamin daging kurban yang mereka konsumsi benar-benar aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). “Dengan kata lain, upaya tersebut diharapkan efektif untuk mencegah infeksi penyakit menular dari hewan kepada manusia, ter utama antraks, cacing hati, serta tuberkulosis (TBC) dari lembu dan sapi,” serunya.

Kepada masyarakat yang tergabung dalam panitia pelaksana ibadah kurban, mantan Kepala Bappeda Kota Binjai ini meminta agar selektif dalam memilih hewan. Begitu juga saat melakukan penyembelihan. Dan memahami cara mengemas dan membersihkan daging secara benar. Menurutnya, panitia pelaksana ibadah kurban harus cermat dan memastikan hewan yang akan disembelih telah cukup umur, tidak kurus, sehat dan tidak cacat, serta mengantongi sertifikat layak konsumsi dari dokter hewan.

“Jika seluruh persyaratan tadi sudah terpenuhi, maka pastikan perlakuan dan proses penyembelihan hewan kurban dilaksanakan dengan benar dan sesuai syariat Islam,” jelas Agus.

Selain itu, pastikan juga daging, tulang, dan jeroan hewan kurban tidak tercampur dalam satu wadah dan steril dari kotoran, serta tempatkan daging pada plastik transaparan, demi menghindari kontaminasi pewarna tekstil dan zat kimia berbahaya.

“Jika memang ada ditemukan daging sembelihan hewan kurban yang diduga terinfeksi penyakit menular atau terkontaminasi virus dan zat kimia berbahaya, maka segera laporkan temuan itu kepada petugas kita yang ada di lapangan,” tandasnya. (ted/han)

Optimis Pertumbuhan di Atas 5 Persen, Ekonomi Sumut Secara Riil Tumbuh Negatif

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) pada Triwulan II-2019 secara year on year (yoy) secara riil menunjukkan pertumbuhan yang negatif. Seperti diketahui, secara yoy pertumbuhan ekonomi Sumut sebesar 5,25 persen sementara inflasi pada Juli 2019 di atas 6 persen.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengungkapkan memang tidak dipungkiri pertumbuhan ekonomi Sumut secara yoy tumbuh sebesar 5,25persen, melebihi nasional merupakan capaian yang sangat baik. “Bahkan dengan dukungan infrastruktur yang mulai terkoneksi, kita optimis Sumut berpeluang merealisasikan angka pertumbuhan ekonomi di atas 6persen, setidaknya dalam 5 tahun mendatang,” sebut Gunawan.

Gunawan menjelaskan jika mengacu kepada realisasi laju inflasi yang secara year on year (yoy) pada Juli 2019 di atas 6persen (6,28persen), dan pada Juni adalah 5,87persen. Maka bisa disimpulkan, laju pertumbuhan ekonomi Sumut secara yoy Triwulan II-2019 sebesar 5,25persen, masih lebih rendah dari laju tekanan inflasinya yang juga secara yoy sebesar 5,87persen.

“Artinya apa, secara riil pertumbuhan ekonomi Sumut ini negatif. Karena inflasi lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonominya. Angka pertumbuhan ekonomi Sumut nettnya itu adalah -0,62persen (minus/negatif),” sebut Gunawan.

Atau dengan kata lain, upaya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di atas nasional itu, tergerus dengan laju tekanan inflasi yang melebihi pertumbuhannya.

“Pada dasarnya kita tidak bisa menghitung pertumbuhan ekonomi tanpa melibatkan inflasi. Karena pertumbuhan ekonomi itu sejatinya adalah adanya penambahan jumlah pendapatan masyarakat ataupun peningkatan daya beli. Sementara inflasi ini justru menggerus daya beli masyarakat. Tergantung siapa yang paling besar di antara keduanya. Sayangnya saat ini Inflasinya justru lebih besar,” jelasnya.

Dengan realisasi pertumbuhan yang negatif seperti ini, lanjut dosen di UIN Sumut ini, maka Sumut memiliki beban besar di tahun 2020 nanti. Yakni penyesuaian perhitungan upah minimum regional (UMP).

“Jika seandainya kita disuruh menghitung berapa UMP saat ini, maka potensi kenaikan UMP kita adalah 11,12persen (pertumbuhan ekonomi plus inflasi), minimal kenaikan gaji buruh sebesar itu,” sebutnya.

Menurutnya, kondisi ini akan menekan daya saing tenaga kerja di Sumut. Selain itu, masih ada beberapa tantangan lainnya, yaitu ekspor Sumut yang bisa saja turun di tahun ini jika perang dagang berlanjut, rupiah yang berpeluang melemah, inflasi yang tinggi.

“Semuanya karena kombinasi faktor negatif eksternal maupun internal. Dan yang internal seperti inflasi harusnya kita yang bisa lebih mengendalikannya,” pungkasnya.

Cadangan Devisa pada Juli 2019, Meningkat ke Angka USD 125,9 M

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa nasional pada akhir Juli 2019 tercatat sebesar 125,9 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Juni 2019 sebesar 123,8 miliar dolar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunkasi BI, Onny Widjanarko mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“BI menilai cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Onny dalam keteranganya kepada awak media, Rabu (7/8).

Menurut Onny, peningkatan cadangan devisa pada Juli 2019 dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan valas lainnya. Selain itu juga dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri pemerintah.

“Ke depan, bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik,” tukas Onny.

Informasi saja, posisi cadangan devisa Indonesia pada bulan lalu atau Juni 2019 tercatat sebesar 123,8 miliar dolar AS. Angka itu juga meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Mei 2019 yang sebesar 120,3 miliar dolar AS. (jpc/ram)

Disiram Air Panas, Kasatpol PP Tidak Dendam

idris/sumut pos MELEPUH: Kasatpol PP Kota Medan, M Sofyan mengalami luka melepuh di bagian wajah dan lehernya.
MELEPUH: Kasatpol PP Kota Medan, M Sofyan mengalami luka melepuh di bagian wajah dan lehernya.
idris/sumut pos

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Insiden disiramnya Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Medan, M Sofyan dengan air panas oleh pedagang kaki lima warkop RS Elisabeth, Rabu (7/8) tak membuatnya membalas dendam. Malah sebaliknya, ia menerima dengan ikhlas.

Padahal, Sofyan sendiri masih dirawat di rumah sakit Royal Prima Medan akibat insiden tersebut. “Sekarang saya masih dirawat di rumah sakit Royal Prima, tadinya saya mau pulang tapi kata dokternya belum boleh, mudah-mudahan besok (hari ini,Red) sudah bisa pulangn

Terakhir saya dengar, memang ada seorang yang diamankan, orang yang menyiram saya dan anggota. Tapi sudahlah, tak usah diperpanjang lagi,” ucap Sofyan kepada Sumut Pos, Kamis (8/8) siang.

Ia tak ingin memperpanjang masalah itu. Alasannya, ia yakin bahwa saat itu para pedagang hanya sedang kesal dan emosi. “Mereka terbawa emosi, sudah tidak pakai akal sehat lagi, kita maklumi saja. Tak usah diperpanjang, mereka juga masyarakat Kota Medan, masyarakat kita juga,” kata Sofyan.

Untuk itu, lanjutnya, dirinya akan selalu terbuka apabila ada niat baik dari oknum pedagang yang menyiramnya dengan air panas apabila ingin menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan.

“Saya selalu terbuka bila memang persoalan ini mau diselesaikan secara kekeluargaan, kalau bisa secara kekeluargaan, ya kenapa tidak. Justru itu lebih baik,” lanjutnya.

Menurutnya, ia tidak pernah bermasalah dengam oknum pedagang termasuk pedagang warkop Elisabeth. “Satu yang harus dicatat baik-baik. Saya tidak pernah bermasalah dengan oknumnya, yang saya tertibkan itu bukan orangnya, tetapi perbuatannya yang melanggar Perda. Kita tetap harus menertibkannya, karena ini terkait penegakan Perda. Saya tidak pernah benci dengan pedagang, tapi tolong jangan langgar Perda, itu saja,” pungkasnya.

Menanggapi insiden itu, Ketua Komisi III DPRD Medan, Boydo HK Penjaitan menyebutkan bahwa dirinya sangat mengecam perbuatan oknum pedagang yang sangat tidak terpuji tersebut.

“Apapun alasannya, itu tidak boleh dilakukan. Saya juga sering bersebrangan dengan pihak Pemko Medan, tapi gak begitu caranya. Kita sudah berkali-kali bilang ke pedagang bahwa ada jalurnya dan itu laj yang harus kita tempuh, bukan dengan cata memalukan seperti ini,” ucap Boydo.

Maka dari itu, lanjut Boydo, hal ini diperingatkannya sebagai yang pertama dan terakhir. Pedagang kaki lima harus bisa bersikap baik dan sopan, tidak bersikap arogan dan emosional serta memalukan seperti itu.

“Saya dari dulu paling vokal kalau mendukung pedagang, tapi kalau perbuatan seperti ini justru saya sangat menentang, saya tidak suka seperti ini, ini memalukan. Ke depannya kalau ini terjadi lagi, justru saya yang akan melaporkan oknum pedagang itu ke polisi. Saya siap perjuangkan aspirasi para pedagang tapi tetap pada jalur-jalur yang terpuji dan tidak melawan hukum. Boleh berada di pihak yang berseberangan, tapi tetap harus saling menghargai,” pungkasnya. (map/ila)

Sebaran Dokter Kandungan Belum Merata

istimewa/sumut pos USG: Dokter saat memeriksakan kehamilan pasiennya melalui USG.
USG: Dokter saat memeriksakan kehamilan pasiennya melalui USG.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penyebaran atau distribusi dokter spesialis kandungan belum merata, khususnya di Sumatera Utara (Sumut). Padahal, sudah ada regulasi terkait yakni Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang mengatur tentang dokter spesialis, sehingga tidak akan ada lagi kekurangan dokter ahli di daerah terpencil atau tertinggal.

Indikasi belum meratanya penyebaran dokter kandungan tersebut bisa dilihat dari kasus kematian ibu yang saat ini kembali menjadi perhatian pemerintah pusat. Keberadaan dokter kandungan di daerah dianggap menjadi salah satu faktor yang krusial, di samping ketersediaan layanan kesehatan, infrastruktur, hingga peran serta keluarga.

Pengamat kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU), Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI mengatakan, distribusi dari dokter spesialis kandungan sampai saat ini memang belum merata terkhusus di daerah. Namun, untuk di kota malah sebaliknya atau berlebih. “Memang masih kurang distribusi dokternya (spesialis kandungan) di daerah, tapi untuk di kota malah berlebih,” ungkapnya belum lama ini.

Menurut Umar Zein, jika di daerah terdapat dokter spesialis kandungan, maka penempatannya masih di pusat kota atau di kabupaten. Sementara di kecamatan, keberadaan dokter ini masih sangat minim sekali. “Di kecamatan paling yang ada itu bidan desa,” ucapnya.

Meski begitu, kata dia, permasalahan kematian ibu bukan hanya dikarenakan distribusi dokter kandungan yang terbatas saja. Melainkan, disebabkan karena infrastruktur seperti fasilitas jalan dan transportasi juga berperan penting.

Oleh karena itu, permasalahan kematian ibu terbilang kompleks, sehingga penanganan yang harus dilakukan oleh pemerintah harus secara menyeluruh. Hal ini supaya kasus kematian ibu benar-benar dapat ditekan. “Bukan hanya persoalan sumber daya manusia saja, karena persoalan kesehatan setiap daerah berbeda-beda. Misalnya, di Aceh, Sumut, atau pun Papua, tentu berbeda,” paparnya.

Dijelaskan mantan Kepala Dinkes Medan ini, dalam kasus kematian ibu hamil terdapat istilah ‘4 terlalu dan 3 terlambat’. Artinya, 4 terlalu itu adalah kehamilan terlalu muda, usia yang terlalu tua untuk hamil, jarak kehamilan terlalu dekat, serta kehamilan terlalu banyak.

Sedangkan untuk 3 terlambat ialah terlambat mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapat penanganan. Lalu, terlambat sampai ke tempat rujukan karena kendala transportasi, dan terlambat mendapat penanganan karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia. “Banyak faktor yang menentukan angka kematian ibu ini, jadi bukan karena ketersediaan dokter kandungan saja,” pungkas dia.

Sebelumnya, Ketua Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) Sumut, dr Khairani Sukatendel mengatakan, angka kematian ibu hamil memang sangat memprihatinkan. Perbandingannya, sekitar 305 per 100.000 untuk setiap kelahiran.

Kata Khairani, banyaknya ditemukan kasus kematian ibu hamil umumnya ketika jauhnya perjalanan ke rumah sakit ataupun juga mengalami keterlambat penanganan. (ris/ila)

Kasek Diduga Tilep Dana Bos, Murid SDN 066656 Medan Belajar Tanpa Buku

PRAN HASIBUAN/SUMUT POS BERI KETERANGAN: Nurli Samosir, Guru kelas VI SDN 066656 Medan, memberikan keterangan. Jalan Sembada Raya, Kecamatan Medan Selayang, memberi keterangan pers, Kamis (8/8) di sekolah tersebut.
BERI KETERANGAN: Nurli Samosir, Guru kelas VI SDN 066656 Medan, memberikan keterangan. Jalan Sembada Raya, Kecamatan Medan Selayang, memberi keterangan pers, Kamis (8/8) di sekolah tersebut.
PRAN HASIBUAN/SUMUT POS

MEDAN, SUMTPOS.CO – Kondisi ini diungkapkan sejumlah guru SDN 066656 Medan kepada wartawan, Kamis (8/8). Nurli Samosir, guru kelas VI bersama guru lainnya seperti Ratnawaty, Daglena br Ginting, Akfi Rahmi, Lena br Ginting di SD itu mengatakan, sangat menyayangkan sikap yang dilakukan Kepsek Nisma Hanum Nasution, yang sampai sekarang belum memesan buku dengan alasan pihak sekolah masih punya utang buku dengan penerbit sebesar Rp30 juta.

Padahal sepengetahuan para guru, sejak triwulan III dan triwulan IV tahun ajaran 2018/2019 tidak ada pembelian buku, sampai masuk tahun ajaran baru 2019 ini.

Nurli juga mengungkapkan, akibat tidak ada buku panduan, murid kelas VI masih belajar pakai buku KTSP, padahal seharusnya sudah pakai Kurikulum 13 (K13).

Dalam proses kegiatan belajar mengajar, para guru menurut Nurli diharuskan membuat RPP (Rancangan Pedoman Pembelajaran) yang dibuat berdasarkan buku pedoman. Namun karena tidak ada buku, si kepala sekolah menyarankan untuk mengajar apa adanya, tanpa menggunakan buku panduan.”Persoalan ini sebenarnya sudah dilaporkan para guru ke Inspektorat Kota Medan, namun sampai sekarang belum ada tindakan dari pihak Inspekorat,” katanya.

Sementara ketika dikonfirmasi mengenai persoalan yang disampaikan para guru kelas tersebut, Kepala SDN 066656 Medan, Nisma Hanum Nasution membantah semua tudingan yang dialamatkan kepadanya.

Ia mengaku mengatakan tak pernah melakukan hal itu.

“Saya tak pernah lakukan itu, nanti saya hubungi lagi ya pak. Ini lagi rapat kami,” katanya singkat dari seberang telepon. (prn/ila)