Home Blog Page 5367

April, Sumut Inflasi 1,23 Persen

Ilustrasi inflasi
Ilustrasi inflasi

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Inflasi Sumatera Utara (Sumut) pada April 2019 sebesar 1,23 persen. Hampir semua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2019 mengalami inflasi di atas 1 persen. Hanya Padangsidimpuan yang mengalami inflasi di bawah 0,5 persen.

“Seluruh kota IHK Sumut mengalami inflasi yakni Sibolga sebesar 1,15%, Pematangsiantar sebesar 1,03%, Medan sebesar 1,30%, dan Padangsidimpuan sebesar 0,36%. Dengan demikian, gabungan 4 kota IHK di Sumatera Utara pada April 2019 inflasi sebesar 1,23%,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Bismark SP Sitinjak kepada wartawan di Medan, Kamis (2/5).

Bismark menyebutkan, di Medan mengalami inflasi sebesar 1,30% atau terjadi peningkatan indeks dari 138,86 pada Maret 2019 menjadi 140,66 pada April 2019.

Menurutnya, inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 4,94%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,06%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,12%, kelompok sandang sebesar 0,67%, kelompok kesehatan sebesar 0,23%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,07%, dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,22%.

“Komoditas utama penyumbang inflasi selama April 2019 di Medan, antara lain cabai merah, bawang merah, bawang putih, kontrak rumah, mobil, kacang panjang, dan cabai hijau,” jelasnya.

Lebih rinci disebutkannya, komoditas yang mengalami peningkatan harga antara lain cabai merah naik 50,02%, harga bawang merah naik 17,29%, harga bawang putih naik 47,57%, harga kontrak rumah naik 1,40%, harga mobil naik 1,15%, harga kacang panjang naik 23,02%, harga cabai hijau naik 41,31%.

“Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain tarif listrik, ikan kembung/gembung, dencis, batu bata/batu tela, daging ayam ras, cumi-cumi, dan daging sapi,” ujarnya.

Dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera seluruh kota tercatat inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Medan sebesar 1,30% dengan IHK sebesar 140,66 dan terendah terjadi di Tanjung Pinang sebesar 0,16% dengan IHK 133,84.

Bismark juga menyebutkan, inflasi pada April 2019 ini menyebabkan laju inflasi kumulatif (April 2019 terhadap Desember 2018) masing-masing kota yakni Sibolga inflasi 0,66%; Pematangsiantar inflasi 1,01%; Medan inflasi 1,54%; dan Padangsidimpuan inflasi 0,62%. Dengan demikian, laju inflasi kumulatif gabungan 4 kota IHK di Sumatera Utara inflasi 1,42%.

“Sedangkan laju inflasi year on year (April 2019 terhadap April 2018) masing-masing kota yakni Sibolga inflasi 2,60%, Pematangsiantar inflasi 2,47%, Medan inflasi 2,19%, dan Padangsidimpuan inflasi 2,05%. Sehingga inflasi year on year gabungan 4 kota IHK di Sumatera Utara 2,22%,” pungkasnya.(gus/ram)

PHPO Peduli Sosial, 20 Anak Disunat Massal

Fachril/sumut pos SIMBOLIS: Humas PT PHPO KIM, Martua Mudan Daulay, memberikan bantuan sunat secara simbolis.
Fachril/sumut pos
SIMBOLIS: Humas PT PHPO KIM, Martua Mudan Daulay, memberikan bantuan sunat secara simbolis.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sebanyak 20 anak yang berdomisili di Lingkungan III dan IV Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli mengikuti program sunat massal dari PT Permata Hijau Palm Oleo (PHPO) KIM, Kamis (2/5) sunatan massa berlangsung di Klinik Permata, Mabar, Kecamatan Medan Deli. Secara simbolis, acara dibuka oleh Humas PT PHPO KIM, Martua Mudan Daulay, SH turut dihadiri Lurah Mabar Hilir, Zumhri Lubis dan Kepling III, Mariman serta Kepling IV, Zainal Abidin.

“Kegiatan sunatan massal ini merupakan program rutin yang dilakukan PT PHPO untuk penyaluran dana CSR. Harapannya, kepada anak – anak yang ikut program sunat massal semoga mendapat manfaat apa yang telah perusahaan fasilitasi,” kata Humas PT PHPO KIM, Martua.

Program kepedulian kepada masyarakat, kata Martua, merupakan program CSR yang terus dilakukan perusahaan dengan berbagai kegiatan, misalnya, bantuan rumah ibadah, pendidikan, bantuan sembako, sunat massa dan peduli lingkungan.

Harapan dia, masyarakat dapat mendoakan dan mendukung kemajuan perusahaan, agar program CSR dapat terus terlaksana guna menjadi sinergitas hubungan bail di tengah masyarakat.

“Perusahaan akan hadir di masyarakat, kita mohon doa dan dukungan, agar perusahaan tetap sukses menjalankan usaha. Dalam beberapa hari ini memasuki bulan suci Ramadan, kita akan lakukan peduli sosial sembako untuk meringankan beban masyarakat,” ungkap Martua.

Dalam kesempatannya, Lurah Mabar Hilir, Zumhri Lubis sangat mengapresiasi program yang dilaksanakan perusahaan, sehingga sasaran dana CSR yang diperuntukkan tepat sasaran ke masyarakat. “Kita terus mendorong program CSR yang dilakukan PT PHPO, semoga program ini lebih ditingkatkan, agar beban masyarakat secara sosial dapat terbantu,” ucap Lurah Mabar Hilir. (fac/ila)

BPJS Kesehatan Ingatkan RS Segera Perbaharui Status Akreditasi

Logo BPJS Kesehatan
Logo BPJS Kesehatan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Guna meningkatkan kualitas pelayanannya kepada masyarakat, BPJS Kesehatan kembali mengingatkan sejumlah rumah sakit yang menjadi mitranya untuk memperbarui status akreditasi sesuai regulasi yang berlaku, akreditasi menjadi salah satu syarat wajib untuk memastikan peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (KIS) memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan.

“Akreditasi merupakan bentuk perlindungan pemerintah dalam memenuhi hak setiap warga negara agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan bermutu oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Akreditasi ini tidak hanya melindungi masyarakat, juga melindungi tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit itu sendiri,” ungkap Kepala BPJS Kesehatan Cabang Medan, Johana dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Aula BPJS Kesehatan Cabang Medan, Kamis (2/5).

Johana menjelaskan, akreditasi sebagai persyaratan bagi rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan seharusnya diberlakukan sejak awal tahun 2014 seiring dengan pelaksanaan Program JKN-KIS. Namun memperhatikan kesiapan rumah sakit, ketentuan ini kemudian diperpanjang hingga 1 Januari 2019 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 99 Tahun 2015 tentang perubahan PMK 71 Tahun 2013 Pasal 41 ayat (3).

“Kita sudah berkali-kali mengingatkan rumah sakit untuk mengurus akreditasi. Awal tahun lalu, pemerintah sudah memberi kesempatan kepada rumah sakit yang belum melaksanakan akreditasi untuk melakukan pembenahan dan perbaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, pemerintah juga telah memberikan surat rekomendasi kepada sejumlah rumah sakit mitra BPJS Kesehatan yang belum terakreditasi agar paling lambat 30 Juni 2019 nanti harus sudah terakreditasi. Kemudian pada 11 Februari 2019, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes juga sudah mengirimkan pemberitahuan bagi rumah sakit agar segera terakreditasi,” terang Johana.

Hingga akhir April 2019, terdapat 2.428 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, terdiri atas 2.202 rumah sakit dan 226 klinik utama.

Johana menjelaskan, dari 720 rumah sakit mitra BPJS Kesehatan pada Desember 2018 lalu belum terakreditasi saat ini jumlahnya menurun menjadi 271 rumah sakit. Ia pun mengapresiasi langkah manajemen rumah sakit yang telah menempatkan akreditasi sebagai salahsatu prioritas utama mereka.

“Fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan wajib memperbarui kontraknya setiap tahun. Hakikat dari kontrak adalah semangat mutual benefit. Kami berharap rumah sakit bisa memanfaatkan toleransi yang sudah diberikan pemerintah sampai 30 Juni 2019 tersebut untuk segera menyelesaikan akreditasinya,” tegasnya.

Di sisi lain, putusnya kerja sama rumah sakit dengan BPJS Kesehatan bukan hanya karena faktor akreditasi semata. Ada juga rumah sakit yang diputus kerja samanya karena tidak lolos kredensialing, sudah tidak beroperasi, atau Surat Izin Operasionalnya sudah habis masa berlakunya.

Dalam proses ini juga mempertimbangkan pendapat Dinas Kesehatan dan/atau Asosiasi Fasilitas Kesehatan setempat dan memastikan bahwa pemutusan kontrak tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat dengan melalui pemetaan analisis kebutuhan fasilitas kesehatan di suatu daerah.

Kriteria teknis yang menjadi pertimbangan BPJS Kesehatan untuk menyeleksi fasilitas kesehatan yang ingin bergabung antara lain sumber daya manusia (tenaga medis yang kompeten), kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup pelayanan, dan komitmen pelayanan.

Untuk di wilayah kerja Kantor Cabang Medan terdapat dua rumah sakit yang harus segera diperbarui status akreditasinya. Adapun rumah sakit tersebut yaitu RS Royal Prima, Medan dan Rumkit TK IV 01.07.02, Binjai yang masing-masing akan habis masa akreditasnya pada bulan Juni 2019

“Yang saya dengar kedua rumahsakit ini sudah memproses perpanjangan akreditasi. Kita imbau agar segera dituntaskan bila tidak kontrak kerja samanya dengan BPJS Kesehatan akan diputus,” ungkapnya

Kewajiban Akreditasi Rumah Sakit itu diatur dalam UU No 44 2009 Tentang Rumahsakit dan Permenkes 34/2017 tentang Akreditasi Rumahsakit serta Permenkes No 56/2014 Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumahsakit menjadi dasar hukum kewajiban akreditasi rumahsakit.

Selain dua rumahsakit itu, masih ada 15 rumah sakit lain di wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Medan yang 2019 ini akan berakhir status akreditasinya. “Untuk 15 rumahsakit lain kita imbau juga agar segera mengurus perpanjangan akreditasi tersebut,” imbau Johana lagi.

Ia memaparkan, ada 46 rumahsakit yang menjalin kontrak kerja sama dengan BPJS Kesehatan Medan yang akreditasinya masih panjang. Ditambah 17 rumah sakit yang masa akreditasinya bakal berakhir di Desember 2019 ini. Total ada 63 rumahsakit yang menjadi provider BPJS Kesehatan.

“Begitupun ketika rumahsakit itu diputus kerja samanya dengan BPJS Kesehatan, peserta JKN KIS tetap bisa mendapat layanan kesehatan di rumahsakit tersebut namun sebatas pasien gawat darurat. Setelah kondisinya stabil lalu dialihkan ke rumahsakit yang menjalin kerjasama dengan BPJS Kesehatan,” papar Johana.(dvs/ila)

Reklamasi Berdampak Banjir Rob Meluas, DLH Diminta Audit Amdal

BANJIR: Angkutan kota (angkot) saat melintasi genangan banjir rob di Kelurahan Belawan. Banjir rob meluas akibat minimnya daerah resapan air.
BANJIR: Angkutan kota (angkot) saat melintasi genangan banjir rob di Kelurahan Belawan. Banjir rob meluas akibat minimnya daerah resapan air.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Pelebaran dermaga di Pelabuhan Belawan melalui reklamasi terus diributi. Pemerhati kebijakan publik, Saharudin menegaskan, agar Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara mengaudit kembali izin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal).

Pasalnya, penimbunan areal Pantai Belawan telah memberikan dampak buruk secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang bermukim di Pesisir Pantai Belawan. “Kita lihat sekarang, secara sosial masyarakat telah dirugikan dengan meluasnya banjir rob. Ini sudah jelas dipengaruhi karena proyek reklamasi. Jadi kita minta kepada gubernur Sumatera Utara melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan audit kembali terhadap proses Amdalnya,” cetus Saharudin, Kamis (2/5).

Tokoh Masyarakat Medan Utara ini menduga, ada kekeliruan proses Amdal yang telah diterbitkan. Makanya, ia menegaskan agar proses audit Amdal secara berkala harus segera dilakukan, agar bisa dijelaskan ke publik hasil audit Amdal tersebut.

“Bila ada kekeliruan dari Amdal yang berdampak meluasnya air pasang, kita minta izin proyek reklamasi harus ditinjau ulang. Artinya, proyek itu sebaiknya dihentika dulu, selesaikan dampak akibat dari proyek reklamasi itu. Baru, proyek itu bisa dilanjutkan,” ungkap Saharudin.

Ia juga sangat menyesalkan, proyek reklamasi berjalan lebih dulu tanpa memikirkan dampak. Seharusnya, prioritaskan dulu dampak yang diakibatkan, setelah itu, laksanakan proyek tersebut.

“Sekarang ini sudah salah, proyek dulu dikerjakan baru dampaknya diselesaikan belakangan. Ini yang salah,” tegas Saharudin.

Mengenai dampak ekonomi, lanjut Saharudin, secara umum telah merusak mata pencaharian nelayan dan melumpuhkan aktivitas masyarakat dampak dari banjir rob. Dengan adanya kompensasi atau tali asih yang diberikan, dianggap bukan solusi.

“Ada bantuan yang diberikan ke nelayan, saya rasa itu sifatnya sementara, akhirnya akan memberikan dampak buruk bagi nelayan secara jangka panjang. Harusnya, tali asih dengan dampak harus sejalan, agat tidak merugikan sepihak,” sebutnya.

Sementara, Sekretaris Aliansi Masyarakat Nelayan Sumatera Utara (Amansu), Alfian MY mengaku kecewa dengan adanya proyek reklamasi. Sebab, proyek itu telah mengganggu dan merusak mata pencaharian nelayan. Proyek itu menutup akses alur nelayan tradisional. Sehingga, ekosistem laut telah punah tempat nelayan mencari habitat laut.

“Alur yang selama ini dilalui nelayan telah ditutup. Jadi, kita sebagai nelayan sangat dirugikan, dengan adanya tali asih, kami nilai itu bukan solusi. Karena, dampak yang dirasakan nelayan jangka panjang,” tegas Alfian.

Tokoh nelayan ini juga menyesalkan sikap Pelindo yang mengabaikan alur baru yang dibuka tidak dilengkapi lampu, sehingga alur baru membuat kapal nelaya kesulitan untuk melintas di kawasan alur baru. Harusnya, dampak ini segere diselesaikan lebih dahulu.

“Ini kita masih cerita alur, belum lagi masalah dampak banjir rob yang sudah meluas. Selama ini ketinggian air pasang hanya 30 cm, saat ini sudah 50 cm. Kita ingin, kerugian ini harus segera ditindaklanjuti oleh Pelindo, agar nelayan tidak terancam mencari makan dan bisa hidup tenang dari ancaman banjir pasang,” kata Alfian.

Sementara itu, Kepala Ombudsman Perwakilan Sumut, Abyadi Siregar menilai, reklamasi Laut Belawan untuk pengembangan dermaga oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, harus dilaksanakan dengan kajian yang benar. Jangan sampai berdampak dengan lingkungan hidup, yang dapat merugikan masyarakat sekitar.

Ia menilai reklamasi satu sisi ada dampak positif dan sisi lainnya berdampak negatif. Namun, kondisi itu perlu dilihat keseluruhan jangan sampai ada pihak dirugikan. “Bahwa mestinya dilakukan kajian, jangan sampai mengganggu ekosistem yang ada. Hal ini juga berdampak dengan di Jakarta, ada juga laporan reklamasi di Ombudsman Jakarta,” tutur Abyadi.

Abyadi mengungkapkan, saat ini belum ada laporan atau keluhan disampaikan kepada Ombudsman Perwakilan Sumut. Begitu pun, ia meminta Pelindo I Belawan harus dikerjakan dengan baik dan dampak baik dapat dirasakan masyarakat, bukan sebaliknya.

“Tapi, belum ada laporan masuk kepada kita ini. Dari belajar teman-teman itu, reklamasi harus betul-betul dilakukan dengan tidak merugikan masyarakat,” tutur Abyadi.

Kemudian, lanjut Abyadi, reklamasi jangan sampai juga mengganggu kehidupan nelayan. Karena itu, akan merugikan nelayan bila tidak dilakukan dengan kajian yang benar.

“Disebabkan Karena, akan perubahan terjadi, yang bisa membuat terganggu ekosistem ikan itu sendiri. Intinya, menurut saya menimbulkan problem macam-macam ya, harus dilakukan kajian. Jangan dilakukan reklamasi sebelum ada kajiannya,” pungkasnya.(fac/gus/ila)

Waspada! Medan Dilanda Cuaca Ekstrem

Ilustrasi cuaca
Ilustrasi cuaca

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bagi warga Kota Medan diimbau untuk waspada dalam tiga hari ke depan ini. Sebab, berdasarkan pemantauan Badan Metreologi dan Klimatologi (BMKG) Wilayah I Sumut, Kota Medan dilanda cuaca ekstrem. Untuk itu warga Kota Medan Medan diminta untuk lebih ekstra menjaga kesehatannya, apalagi menghadapi Bulan Ramadan di tengah cuaca ekstrem.

Kepala Bidang Data dan Informasi (Kabid Datin) Badan Metreologi dan Klimatologi (BMKG) Wilayah I Sumut, Syahnan mengatakan, cuaca ektrem itu terjadi di mana pada siang hari Kota Medan disengat cuaca panas, begitu sore menjelang malam hari, turun hujan. “Kondisi ini diprediksi bakal terjadi dalam beberapa hari ke depan,” ujar Syahnan, Kamis (2/5).

Kondisi itu terjadi, lanjut Syahnan, karena anomali cuaca lantaran memang Kota Medan memasuki peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan. “Saat ini memang cuaca di Medan ini memang terjadi karena sedang peralihan musim. Itu yang membuat anomali cuaca. Namun kondisi ini tidak terjadi di seluruh Sumut, melainkan hanya di beberapa daerah saja, seperti Medan dan daerah lain,” ungkap Syahnan.

Untuk di Kota Medan, lanjutnya, suhu terpanas saat siang tercatat suhu tertinggi mencapai 36 derajat celcius. “Saya kurang ingat tanggalnya tapi kondisi itu baru-baru ini saja. Terpantau kondisi tersebut masih bakal berlangsung selama kuranglebih 3 hari ke depan. Panas di pagi hari, mendung mulai sore,” paparnya.

Menurut pusat informasi mereka anomali tersebut karena ada beberapa gangguan di wilayah Samudra Hindia dan di Teluk Benggala. Alhasil untuk wilayah Medan dan sekitarnya terjadi belokan angin sehingga ada pertumbuhan awan di pagi dan semakin bertumbuh hingga mulai mendung di sore. “Jadi saat sore hingga malam akan terjadi hujan sedang hingga lebat. Pandai-pandailah kita menjaga kesehatan menghadapi anomali cuaca ini,” ujarnya.

Sementara itu untuk puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada pertengahan Mei. “Jadi kan ini sekarang peralihan kemarau ke hujan. Puncaknya musim hujan itu mulai pertengahan Mei, tapi sebebarnya bulan ini sudah memasuki musim penghujan,” pungkasnya.

Ada 14 Titik Api di Sumut

Sementara itu, teriknya udara pada siang hari akibat anomali cuaca, harus diwaspadai karena bisa terjadi kebakaran lahan/hutan. BMKG mencatat, ada 14 titik api yang harus diwaspadai terjadi di Sumut. 14 titik itu ada di Kabupaten Asahan tepatnya di Kota Kisaran Barat ada satu titik, kemudian di Kecamatan Sei Kepayang satu titik, Kecamatan Mardinding Karo satu titik, Panei Hilir Labuhanbatu satu titik.

Kemudian, Labusel di Kecamatan Kampung Rakyat dua titik, Kota Pinang satu titik, Kecamatan Besitang Langkat satu titik, Madina khususnya di Panyabungan Kota ada dua titik hotspot, selanjutnya Hutarajatinggi, Palas satu titik, Kotarih, Segei satu titik, Tarutung, Taput satu titik dan terakhir ada di Kota Tebingtinggi satu titik.

“Secara keseluruhan titik api di Sumut ini cukup aman. Namun harus tetap kita waspadai. Mengingat di Sumbagut sendiri sebenarnya ada 156 titik api. Dari jumlah itu Aceh ada 20 titik, Sumut 14 titik, Sumbar 4 titik dan sisanya ada di Kepri dan Riau yang mencapai ratusan titik,” ujar Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Edison Kurniawan pada Coffee Morning dengan Stakeholder yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut bertajuk “Evaluasi dan Prakiraan Cuaca/Iklim/Kegempaan Bulan Mei 2019 di Wilayah Sumut”, di Kantor Diskominfo Sumut, Jl. HM Said Medan, Kamis (2/5).

Selain itu, lanjutnya, pada Mei 2019, BMKG juga memperkirakan bahwa curah hujan di Sumut juga meningkat. Pada wilayah Pantai Timur intensitas hujan meningkat 50-150 mm perbulannya. Sementara di daerah pegunungan, lereng barat dan pantai barat adan penurunan. “Lereng menjadi fokus kita. Pemkab/pemko harus terus update informasi yang disampaikan BMKG. Kemudian kita juga harus antisipasi potensi puting beliung,” katanya.

Untuk daerah potensi rawan banjir di Sumut umumnya harus diwaspadai di daerah Pantai Timur seperti Deliserdang, Langkat Batubara, Asahan dan beberapa daerah lainnya. Sementara untuk daerah-daerah rawan longsor bisa diantisipasi untuk daerah-daerah seperti Dairi, Nias, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Tapsel Labuhanbatu, Samosir, Madina dan Karo. “Begitu juga untuk gelombang. Pada Mei ini kita prakirakan tinggi gelombang maksium 2,5 meter. Ini untuk perairan barat Aceh, kemudian peraitan Nias dan Sibolga,” katanya.

Turut hadir mewakili Kadis Kominfo HM Fitriyus, Sekretaris M Ayub, Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik, Abdul Azis Batubara, dan perwakilan masing-masing OPD di lingkungan Pemprovsu.

Sebelumnya saat membuka acara, M Ayub mengatakan bahwa masyarakat harus memperoleh informasi akurat untuk meminimalisir dampak-dampak bencana yang akan terjadi nantinya. Apalagi Sumut merupakan daerah rawan bencana. “Dengan memberikan informasi awal kebencanaan maka ini bentuk perlindungan masyarakat. Dan informasi-informasi ini juga akan tercantum di website kita,” ucapnya menambahkan dengan langkah-langkah yang dilakukan itu agar Sumut semakin siap menghadapi potensi bencana yang ada. (dvs/prn/ila)

Faperta UMA dan PT GPN Kerja Sama Rekrut Karyawan

azwandi/sumut pos BERSAMA: Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan MEng MSc (empat kiri), Dekan Faperta UMA Dr Ir Syahbuddin Hasibuan MSi (dua kiri), dan lainnya, foto bersama. WD Bidang Kemahasiswaan Ir Gustami Harahap MP dan Kabag Humas UMA Ir Asmah Indrawati MP diabadikan bersama tim seleksi dari PT GPN. (Istimewa)
azwandi/sumut pos
BERSAMA: Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan MEng MSc (empat kiri), Dekan Faperta UMA Dr Ir Syahbuddin Hasibuan MSi (dua kiri), dan lainnya, foto bersama.
WD Bidang Kemahasiswaan Ir Gustami Harahap MP dan Kabag Humas UMA Ir Asmah Indrawati MP diabadikan bersama tim seleksi dari PT GPN. (Istimewa)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Fakultas Pertanian Universitas Medan Area (Faperta UMA) dan PT Genting Plantation Nusantara (GPN) bekerja sama dalam rekrutmen karyawan atau staf yang akan dipekerjakan pada perusahaan perkebunan kelapa sawit itu.

Ada sekira 150 lulusan Faperta UMA dan sejumlah perguruan tinggi di Sumut yang mengikuti seleksi calon karyawan-karyawati PT GPN. Seleksi yang dibuka secara resmi Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan MEng MSc itu, digelar di Convention Hall Kampus I UMA, Jalan Kolam  Medan Estate, Selasa (30/4) kemarin.

Hadir dalam acara itu, Dekan Faperta UMA Dr Ir Syahbuddin Hasibuan MSi, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Ir Gustami Harahap MP, Kabag Humas UMA yang juga dosen Faperta Ir Asmah Indrawati MP, dan para dosen di lingkungan Faperta UMA.

Dari PT GPN hadir langsung tim seleksi, yakni Pieter Tan, Tumpal Simamora, Manatas Sihombing, dan Lenny Sinaga dari Human Resources Departement (Bagian Sumber Daya Manusia).

Rektor UMA Prof Dadan Ramdan dalam sambutan singkatnya mengatakan, peluang yang diberikan PT PGN, sebuah perusahaan perkebunan yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia dan punya kebun di Kalimantan, merupakan kesempatan yang sangat jarang terjadi.”Karenanya saya berharap para pesereta seleksi memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Saya mendoakan agar semuanya diterima bekerja di PT GPN,” kata rektor.

Dekan Faperta UMA Syahbuddin Hasibuan kepada wartawan di sela-sela pelaksanaan seleksi mengatakan, kerja sama rekrutmen karyawan dengan PT GPN ini merupakan link and match institusi pendidikan dengan perusahaan. Di sini Faperta UMA mendekatkan lapangan kerja dengan output lulusan Faperta UMA dan perguruan tinggi lainnya di Sumut.

“Dengan kerja sama ini, kami berharap lulusan Faperta UMA secepatnya mendapatkan lapangan kerja. Sehingga waktu tunggu mahasiswa yang baru menyelesaikan pendidikannya makin singkat. Artinya, kita tidak hanya mendidik mereka jadi sarjana pertanian, tapi juga membantu mereka mendapatkan lapangan kerja,” kata Syahbuddin.

Syahbuddin menyatakan bangga, Faperta UMA dijadikan pusat seleksi calon karyawan PT GPN untuk wilayah Sumut. Menurutnya hal itu tidak terlepas dari kiprah salah seorang alumni angkatan 1986 Faperta UMA, Suparman, yang kini menjadi salah seorang General Manager (GM) di PT GPN.

“Saat ini ada sekira 20 alumni Faperta UMA bekerja di PT GPN. Itu rtinya ada trush atau kepercayaan yang muncul dari perusahaan yang berpusat di Malaysia itu,” kata dekan. (azw/ila)

Tuntut Kebebasan Berorganisasi, Tolak Outsourcing

Markus/sumut pos DEMO: GERAM-SU saat menggelar demo ke kantor DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Kamis (2/5).
Markus/sumut pos
DEMO: GERAM-SU saat menggelar demo ke kantor DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Kamis (2/5).

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Ratusan buruh dan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi multisektoral yang dinamakan sebagai Gerakan Masyarakat Melawan Sumatera Utara (GERAM-SU) menggelar demo ke kantor DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan.

Massa yang terdiri dari para buruh dan mahasiswa tersebut menuntut para wakil rakyat untuk mau memberikan perhatiannya dalam memperjuangkan tuntutan mereka.

Setelah berorasi lebih dari 1 jam, perwakilan massa dari GERAM-SU akhirnya diterima dan diundang oleh dua anggota DPRD Sumut, yakni Ketua Komisi B DPRD Sumut, Robby Anangga dan anggota komisi B DPRD Sumut, Richard T Sidabutar di ruang Banmus untuk menyampaikan tuntutannya secara langsung.

Dalam pertemuan itu, perwakilan pihak buruh menyampaikan tuntutannya untuk diselenggarakannya

Rapat Dengar Pendapat (RDP) dalam membahas persoalan mereka yang sangat kompleks. Salah satunya adalah tuntutan mereka yang menolak upah murah di bawah UMK (Upah Minimum Kota), sistem kerja kontrak atau Outsourcing yang masih berlaku dan masih banyak hal lainnya.

“Banyak rekan-rekan kami yang di PHK tanpa pesangon, digaji di bawah upah minimum. Banyak sekali persoalan kami yang harus kami sampaikan kepada pihak Komisi E. Tapi malah sekarang Komisi E tidak ada ditempat dan malah disambut oleh Komisi B,” ucap Subagio sebagai perwakilan buruh, Kamis (2/5) kepada dua anggota DPRD Sumut yang menyambutnya.

Selain perwakilan buruh, perwakilan mahasiswa juga menuntut adanya Rapat Dengar Pendapat (RDP) oleh pihak Komisi E kepada para mahasiswa. Mereka ingin mencari solusi untuk mengatasi masalah SK pencabutan suara USU. “Kami mau bahas masalah itu dan harus ada solusi, panggil Rektor USU, suruh dia bertanggung jawab,” kata Dinda sebagai ketua koordinasi aksi.

Mahasiswa juga menyebutkan bahwa pihaknya menolak normalisasi kampus dengan aturan dilarang adanya organisasi didalam kampus yang jelas-jelas mengekang mahasiswa dalam berorganisasi. Selain itu, mahasiswa juga menolak apabila pihak kampus melarang mereka dalam melakukan demonstrasi.

“Itu jelas-jelas melanggar undang-undang. Undang-undang menjamin kepada setiap warga negaranya dalam menyampaikan pendapatnya didalam aksi unjuk rasa atau demonstrasi selama aksi itu memenuhi aturan yang berlaku,” ucap koordinator aksi dari pihak mahasiswa, Dinda diruang Banmus tersebut.

Setelah mendengarkan semua keluhan massa, pihak komisi B berjanji akan segera menyampaikannya kepada pihak komisi E untuk segera dilakukannya RDP.”Pasti akan kami sampaikan kepada pihak komisi E. Saat ini tidak ada anggota komisi E dikantor DPRD Sumut, mereka sedang punya kegiatan lain diluar,” pungkasnya.

Selain tuntutan – tuntutan tersebut, GERAM-SU juga mengorasikan tuntutan mereka yang lainnya seperti melawan kapitalisasi serta liberalisasi dalam dunia pendidikan, meminta berhentinya pemberangusan serikat buruh (union busting), tolak pertambangan ilegal yang merugikan masyarakat, tolak sistem uang kuliah tunggal (UKT) dan lain-lain.

Seperti diketahui, sebelum diterima oleh para wakil rakyat, massa dari perwakilan mahasiswa datang dengan membawa keranda ke kantor DPRD Sumut sebagai simbol matinya demokrasi. Dan usai pertemuan itu, sebelum membubarkan diri, massa perwakilan mahasiswa tersebut membakar keranda yang mereka bawa sebagai simbol penolakan terhadap matinya demokrasi.(mag-1/ila)

Jaga Bulan Suci Ramadan Poldasu Tindak Setiap Gangguan

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapolda Sumut), Irjen Pol Agus Andrianto menggelar tatap muka dengan sejumlah tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat di Mapolda Sumut, Kamis (2/5) Kapoldasu Irjen Pol Drs Agus Andrianto mengatakan, kegiatan tatap muka dengan tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat adalah dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1440 H yang sebentar lagi dilaksanakan.

“Saya laksanakan tugas kepolisian sesuai dengan undang-undang nomor 2 tahun 2002 yaitu memelihara Kamtibmas, menjamin terselenggaranya perlindungan, pengayoman, pelayanan kepada masyarakat dan penegak hukum dalam rangka untuk terpeliharanya stabilitas,” ucap Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto dalam kata sambutannya.

Terkait fenomena asmara subuh yang bakal meramaikan jalan-jalan seusai sahur, Agus mengimbau bagi mereka yang melakukan agar menjaga dan menahan diri. Kemudian terkait keberadaan petasan yang bakal ramai diperjual belikan selama Ramadan, pada dasarnya sudah ada aturan yang diberlakukan mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan. “Kalau petasan memang gak boleh. Tapi kalau kembang api di bawah 2 inci itu ada aturannya. Harapan saya tahan dirilah. Kemudian kepada pihak-pihak yang melanggar aturan hukum dan ketentuan-ketentuan selama perjalanan bulan suci Ramadan, kami akan memberikan tindakan tegas,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Medan menegaskan intensitas penindakan penyalahgunaan narkotika di bulan suci Ramadan 1440 H tak bakalan kendor. Malah pada bulan ini, polisi menegaskan akan menggenjot pemberantasan narkoba. Hal itu diungkapkan Kasatres Narkoba Polrestabes Medan, AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo.

Ia mengatakan sudah memberikan arahan kepada jajarannya agar mengintensifkan pemberantasan narkoba di bulan Ramadan.

“Seperti kita ketahui itu bulan suci, saatya ibadah. Harapan kita masyarakat beribadah dengan khusyuk. Untuk pemberantasan narkoba serahkan ke kita, saya pastikan anggota tidak akan kendor dalam bekerja,” ungkap Raphael. (dvs/ila)

Gubsu Lantik Pengurus APPARA Indonesia

DILANTIK: Pengurus Pusat APPARA Indonesia, foto bersama Staf Ahli Gubsu, Ellisa Marbun dan Maike Ritonga mewakili Kadis Pariwisata Sumut, usai pelantikan di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubernur Sumut, Medan.
DILANTIK: Pengurus Pusat APPARA Indonesia, foto bersama Staf Ahli Gubsu, Ellisa Marbun dan Maike Ritonga mewakili Kadis Pariwisata Sumut, usai pelantikan di Aula Raja Inal Siregar Kantor Gubernur Sumut, Medan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Gubernur Sumut, diwakili Staf Ahli Gubernur Sumut,Ellisa Marbun melantik kepengurusan Asosiasi Perusahaan Penyelenggara dan Pelaksana Acara (APPARA) Indonesia di Gedung Raja Inal Siregar,Kantor Gubernur Sumut Jalan Diponegoro Medan, Selasa (30/4).

Gubsu dalam amanat tertulis yang dibacakan Staf Ahli Gubsu, Ellisa Marbun Elisa berharap dengan adanya asosiasi yang baru dilantik ini memberi arti penting dalam upaya memperkenalkan dan mempromosikan potensi pariwisata Sumatera Utara dengan segala fasilitas pendukungnya. Ini sebagai upaya peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia, khususnya ke Provinsi Sumut sehingga Sumatera Utara semakin dikenal wisatawan mancanegara.

Pada bagian lain sambutannya, Gubernur Sumut mengapresiasi kehadiran asosiasi perusahaan penyelenggaraan dan pelaksanaan acara yang baru dilantik ini dan diharapkan memberi arti penting dalam peningkatan kunjungan wisatawan ke Indonesia termasuk Sumatera Utara. “Sehingga daerah ini semakin dikenal baik dari seni budaya etnis.kuliner dan juga kepariwisataan,” harapnya.

Gubsu juga berharap, APPARA yang baru dilantik dapat memajukan Sumatera Utara untuk menjadi provinsi yang punya daya saing, tidak kalah dengan provinsi lainnya di Indonesia yakni dengan menyelenggarakan berbagai event atau acara berskala nasional maupun internasional di daerah ini ,sehingga dampaknya bukan hanya bagi pemerintah tapi juga meningkatkan ekonomi rakyat dan masyarakat Sumatera Utara.

Ketua Umum APPARA Indonesia, Hendra Gunawan Kaban seusai pelantikan kepada pers mengatakan, APPARA merupakan mitra pemerintah dalam mewujudkan sebuah konsep event yang optimal, baik secara regular maupun dalam hal efektivitas anggaran. “Karena ratusan miliar rupiah beredar untuk event di kabupaten dan kota di Sumut namun hasilnya tidak maksimal.

Menurutnya, harusnya dibuat konsep oleh konsultan acara dalam hal ini kepada profesional di bidang penyelenggaraan acara (Event Organizer), lalu diadakan lelang pekerjaan event dan selanjutnya supervisi event oleh pemerintah. “Selama ini seperti jeruk makan jeruk, seingga indikator penilaian event pun tidak obyektif,” ujarnya.

Untuk itulah, Hendra Gunawan Kaban berharap Pemprov Sumut dan pemerintah kabupaten kota, para stakeholder dan seluruh masyarakat bergandengan tangan wujudkan cita-cita kita bersama untuk memajukan Provinsi Sumatera Utara yang bermartabat.

“Pelaku industri kreatif, termasuk APPARA Indonesia bertekad untuk terus menjadikan dunia usaha semakin kuat berdaya cipta dan berdaya saing tinggi serta professional. Guna, membentuk iklim usaha yang bersih serta ikut berperan penting memperkenalkan dan mempromosikan berbagai potensi yang ada di Sumut,” tegasnya. Adapun Pengurus Pusat APPARA Indonesia periode 2018-2021 yang dilantik yakni, Hendra Gunawan Kaban (Ketua Umum), Teuku Nur Azan (Wakil Ketua Umum), Rahmat April Lubis (Sekretaris Umum), Muhammad Aulia (Wakil Sekretaris I), Arif Tri Permana (Wakil Sekretaris 2) Carles Oliver Saragih (Bendahara), Nur Ainun Lubis (Wakil Bendahara), Arfandy (Kabid. Keanggotaan, Sertifikasi dan Pengembangan SDM), Asco Al Asag (Kabid Humas), Andi J Maturissa (Kabid Pemerintahan Antar Lembaga dan Antar Daerah) serta M. Ferry Budiman Sumbayak (Kabid Lembaga Pengembangan Organisasi). (ila)

Provokasi Warga Batangtoru, Tokoh Masyarakat akan Usir LSM

ist Abdul Gani Batubara & Maraiman Nasution
ist
Abdul Gani Batubara & Maraiman Nasution

BATANGTORU, SUMUTPOS.CO – Para tokoh masyarakat di Kecamatan Batangtoru, Marancar dan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, akan bertindak “keras” kepada para aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) asing dan LSM lokal, yang coba-coba melakukan provokasi kepada warga mereka, dengan menyebarkan isu hoax tentang Orangutan dan sungai Batangtoru.

“Kalau mereka, para LSM itu terus melakukan kampanye hitam, agar PLTA ditutup, itu namanya mereka telah memusuhi masyarakat Simarboru (Sipirok, Marancar dan Batangtoru). Andai mereka (LSM) masuk ke wilayah Simarboru, jelas akan kami usir. Kami semua sudah kompak,” kata Abdul Gani Batubara, Tokoh Masyarakat Desa Pulo Mario, Kecamatan Sipirok, dalam wawancara di Sipirok, Rabu (1/5) sore.

“Kalau kami di Desa Pulo Mario, jelas menentang penuh upaya mereka. Sedikit banyaknya kami tahu tentang lembaga-lembaga asing ini, seperti YEL, Paneco, Mighty Earth dan segala macam itu, yang memberdayakan LSM lokal untuk kampanye hitamnya. LSM lokal itu mengatakan kepada kami, dibayar oleh LSM asing tersebut untuk mengadakan aksi,” ujar Batubara.

Misi LSM asing dan mitranya yang berkantor di Medan itu, menurut Batubara, melakukan kampanye hitam melalui isu Orangutan dan isu lingkungan, untuk menggagalkan atau menutup proyek strategis nasional (PSN), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Barangtoru. “Kami menentang LSM-LSM asing dan LSM lokal, yang mengkampanye hitamkan pembangunan PLTA ini,” lanjut Batubara.

“Kami sangat berkepentingan PLTA ini dibangun, karena dengan adanya proyek itu, tenaga kerja untuk anak-anak kami terbuka lebar. Dan sudah banyak masyarakat kami yang bekerja di situ,” kata petani ini, yang mengaku desanya paling dekat dengan proyek PLTA Batangtoru tersebut.

Belakangan ini, kata Batubara, lembaga-lembaga asing itu semakin gencar berkampanye hitam untuk menggagalkan pembangunan PLTA Batangtoru. “Maka otomatis, kami pun masyarakat, akan semakin gencar pula untuk menentang dan menghalangi lsm-lsm itu,” kata Abdul Gani Batubara.

Sementara Maraiman Nasution, seorang tokoh masyarakat Desa Huraba, Kecamatan Marancar, mengungkapkan keheranannya, mengapa LSM asing dan LSM lokal itu merasa keberatan dengan pembangunan PLTA, padahal masyarakat sendiri merasa bersyukur.

“Dengan adanya PLTA ini, banyak warga sini yang bekerja di situ. Kami mendukung pembangunan proyek PLTA Batangtoru,” kata Maraiman Nasution, yang mengaku dahulu pernah mendampingi sebuah LSM dari Medan, untuk memasang kamera pengintai Orangutan.

“Selama 3 bulan mereka memasang kamera, tidak satu pun orangutan terlihat. Bagaimana mereka mengatakan ada 800 individu orangutan di sekitar Batangtoru. Kalau benar ada 800, harusnya saya tiap hari bisa melihat orangutan, sebab tiap hari saya ke kebun yang bersebelahan dengan areal proyek PLTA,” tegas Maraiman Nasution.

Tokoh masyarakat ini juga mengaku heran, mengapa persoalan PLTA Batangtoru yang menjadi sasaran kampanye hitam LSM asing dan LSM lokal tersebut. Padahal kerusakan yang lebih parah dan kentara, bisa dilihat dari akibat adanya tambang emas, yang luasnya mencapai ribuan hektare. “Ada apa sebenarnya dengan LSM ini,” katanya dengan nada bertanya.

Terkait dengan adanya tudingan LSM dengan isu daerah gempa, Maraiman Nasution mengaku bahwa LSM itu asal ngomong. “Saya dahulu ikut mendampingi ahli geologi ketika mereka melakukan riset dan penelitian. Yang disebut sesar gempa itu bukan di areal bendungan PLTA ini, tapi jauh ke sana, ada sekitar 15 Km. Para ahli itu menunjukkannya kepada saya,” aku Maraiman Nasution. (adz)