Home Blog Page 5384

Kelelahan Jaga Pemilu Serentak 2019, Iptu Partahian Dalimunte Meninggal

Ayo memilih
Ayo memilih

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Jumlah personel Polda Sumut yang meninggal dunia akibat kelelahan dalam Pemilu 2019 bertambah.

Setelah seorang personel polisi di Dairi, Aiptu Jonter Siringoringo (51), yang meninggal dunia Kamis (18/4) lalu karena serangan jantung usai mengawal pemilu yang berlangsung Rabu (17/4), kali ini kabar duka dating dari Padangsidimpuan.

Kanit Dikyasa Polres Padangsidimpuan, Iptu Partahian Dalimunte meninggal dunia Kamis (25/4) pukul 13.30 WIB di Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya karena kelelahan melakukan pengawalan dan pengawasan dalam rekapitulasi suara di Kecamatan Hutaimbaru, Padangsidimpuan.

Kapolda Sumatera Utara Irjen pol Agus Andrianto didampingi Kabid Humas Kombes pol Tatan Dirsan Atmaja menjelaskan sebelum meninggal dunia, korban sempat pingsan dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit, namun Allah berkehendak lain karena korban tidak tertolong. “Saya dan jajaran sangat berduka, semoga keluarga yang ditinggalkan bersabar dan kuat dalam menghadapi musibah ini,” katanya.

Selanjutnya, kata Agus, Jenazah korban dibawa ke rumah duka di perumahan Sabungan Indah, Desa Sabungan Kecamatan Hutaimbaru. Rencananya, ia akan mengajukan kenaikan pangkat luar biasa ke Kapolri. “Baik penyelenggara, polisi atau pun TNI yang meninggal dunia dalam menjalankan tugas merupakan pahlawan demokrasi, mari kita hargai dan hormati pelaksanaan Pilpres dan Pileg ini,” ucapnya.

Agus juga mengimbau masyarakat untuk mengawal pelaksanaan pemilu ini dengan tetap menjaga ketertiban, keamanan dan kondusifitas. Kalau pun ada dugaan terjadi kecurangan dalam pelaksaan pemilu maka laporkan ke Bawaslu. “Kan ada Bawaslu, Mahkamah Konstitusi tempat penyelesaian sengketa pemilu. Mari kita jadikan hukum sebagai panglima,” tutupnya.

Sementara itu, Kapolres Padang Sidimpuan, AKBP Hilman Wijaya, mengatakan Iptu Partahian merupakan personel yang ulet dan giat semasa berdinas. Sebagai pimpinan ia mengaku cukup memberi apresiasi atas kesiapan almarhum menjadi seorang polisi. “Almarhum berdedikasi dalam tugas sampai akhir hayat dan mengabdikan diri utk menjaga keamanan saat pemilu ini sampai nafas terakhirnya. Saya memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada almarhum. Dan kepada keluarga yang ditinggal semoga tabah,” ungkapnya.

Diketahui dari Polres Padangsidimpuan masih ada lagi personel yang menjalani perawatan medis karena kelelahan mengawal Pemilu, ia adalah Aiptu Martin Sembiring (54), personel Bhabinkamtibmas Polres Padangsidimpuan. Martin mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Tengku Rizal Nurdin, KM 7, Kecamatan Padang Sidimpuan Tenggara, Kota Padang Sidimpuan Sabtu (20/4), sekitar pukul 23.00 WIB.

Iptu Martin Sembiring pada Rabu (17/4) bertugas pengamanan TPS di Desa Tarutung Baru Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padangsidimpuan sampai hari Kamis tanggal (18/4). Yang bersangkutan juga mengawal kotak suara hasil penghitungan Pilpres dan Pileg Desa Tarutung Baru menuju PPK Tenggara di Kantor Camat Padangsidimpuan Tenggara. Kemudian Sabtu (20/4) pukul 08.00 WIB di PPK Tenggara dalam rangka Perhitungan Suara ( Rapat Pleno Terbuka) di Kantor Camat Padangsidimpuan Tenggar. Tepat pukul 21.45 WIB yang bersangkutan merasa kurang sehat dan meminta ijin untuk istirahat pulang ke rumahnya mengendarai sepedamotor dinas.

Kurang lebih pukul pukul 21.55 WIB ia mengalami lakalantas di Jalan Umum HT Rijal Nurdin KM 7 yang diduga disenggol satu unit mobil dari arah berlawanan sehingga sepeda motor yang bersangkutan oleng ke kiri dan menyenggol seorang anak laki-laki berusia 17 tahun bernama Ali Hamzah Sitompul warga Desa Salambue Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara.

8 Orang PPS dan PPK di Asahan Dirawat

Di Kabupaten Asahan, sebanyak delapan orang petugas PPS dan PPK terpaksa dirawat di rumah sakit karena kelelahan merekapitulasi suara hingga dini hari. “Memang ada delapan orang PPS yang masuk rumah sakit karna kelelahan,” kata Ketua KPU Asahan, Hidayat SP di Kantor KPU Asahan, Kamis (25/4).

Disebutnya, begitu ada gejala langsung diboyong ke rumah sakit untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. “Pastilah KPU Asahan harapkan rekan PPS yang masuk RS dapat cepat sembuh,”kata Hidayat.

Dimana, sambungnya, bahwa Faktor dominan akibat kelelahan, namun ada satu orang penyelenggara terpaksa mendapat perawatan intensif akibat menabrak kawat antena pemancar radio, diperkirakan akibat kelelahan sehingga menimbulkan kepanikan. “Memang pasti kelelahan para PPS. Pasalnya, menguras tenaga ekstra,” bilangnya.

Adapun kedelapan PPS yang mendapatkan perawatan yakni Dian Marwah anggota PPK Kisaran Barat, Norma anggota PPS Teluk Dalam, Mukhlis anggota PPK Tanjungbalai, Syarifah anggota PPK Tanjungbalai, Armaini Ketua PPK, Edi Santoso Ketua PPS Buntu Pane, NN anggota KPPS TPS 13 desa Silau Lama dan Suryanto anggota KPPS TPS 1 desa Aek Ledong. “Kami berdoa, semoga rekan-rekan yang sempat mendapat perawatan medis segera bisa pulih kembali. Memang pemilu kali ini cukup menguras energi bagi penyelenggara,” katanya.

Sementara anggota Pengawas TPS yang meninggal dunia adalah, Elfrida warga desa Sei Lunang Kecamatan Sei Kepayang. (dvs/omi)

Dari Kopi, Musannif Terima Rp15 Juta per Bulan

dame/sumut pos MENAMPI: Pengelola UD Ondo Coffee yang dikelola Erwinsyah Siregar, menampi biji kopi yang sudah menjalani proses roasting, di Desa Simaninggir, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (22/4).
dame/sumut pos
MENAMPI: Pengelola UD Ondo Coffee yang dikelola Erwinsyah Siregar, menampi biji kopi yang sudah menjalani proses roasting, di Desa Simaninggir, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (22/4).

SIPIROK, SUMUTPOS.CO – Memiliki hak paten atas merk Kopi Sipirok, meningkatkan gairah petani menanam kopi. Kelompok petani ini pun bercita-cita menjadikan Sipirok sebagai sentra kopi di Tapsel.

SAAT memasuki wilayah Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Tapsel, Senin kemarin, tanaman kopi terlihat di mana-mana. Bahkan di median jalan pun ada batang kopi yang baru ditanam. Semangat menanam kopi terasa di kawasan tersebut.

“Diperkirakan ada 35 hektare ladang kopi di Tapsel. Produksi sekitar 70 ton per tahun. Jumlah ini berpeluang terus bertambah, karena minat menanam kopi semakin berkembang. Karena itulah, kami bermimpi menjadikan Sipirok sebagai sentra kopi di Tapsel,” cetus Erwinsyah, dengan ekspresi bertekad di wajahnyan

Saat ini, petani yang dibina PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) yang mengelola PLTA Batangtoru, masih dalam bentuk Kelompok Tani Mekar Sari. Anggotanya 22 petani, dengan Erwinsyah sebagai ketua. Kegiatannya masih menggelar pelatihan, berbagi ilmu soal tanaman kopi, pengolahan kopi, dan pengemasan.

Ke depan, koptan ini berharap dapat membentuk Koperasi, yang akan menyerap seluruh produksi kopi yang dihasilkan petani. Nantinya koperasilah yang akan mengolah dan menjual produksi kopi dalam beragam bentuk, langsung ke konsumen.

“Saya sendiri… saat ini masih menjual langsung ke sebuah perusahaan di Medan melalui menantu saya. Setiap minggu saya mengirim 200 solup (volume dua liter) ke Medan. Sisanya baru saya kirim ke asosiasi,” ungkap Musannif Pane (63), petani yang sudah cukup lama menggeluti kopi.

Saat ini, ia memiliki total 4.500 pohon kopi di dua lokasi, dengan produksi mencapai 6 ton per tahun. Produksi mingguan itu di luar panen raya dua kali setahun, yakni Maret-April dan Oktober- November.

Dengan harga Rp35 ribu per soluk green bean (kopi digiling, difermentasi selama 12 jam, dicuci dan dijemur satu hari), dalam sebulan ia dapat meraup penghasilan bersih Rp 15 juta setelah membayar upah pekerja.

“Saya membuktikan bahwa dari kopi pun bisa hidup,” kata Musannif sambil tertawa ceria.

Beda dengan Musannif, Erwinsyah hanya memiliki 1.000 batang kopi. Penghasilan kotor dari kebun kopi mencapai Rp8 juta per bulan. Tapi ia hanya menerima bersih Rp2 juta, karena semua pengerjaan digajikan ke orang lain.

Erwin lebih fokus mengurus koptan Mekarsari, sekaligus membuka Usaha Dagang (UD) Ondo Coffee, yakni usaha roasting bean (kopi yang sudah disangrai, maupun yang sudah digiling). Di UD Ondo Coffee, kopi yang dijual sudah setengah jadi dan jadi. Levelnya premium. Harganya mencapai Rp85 ribu per kg. Kualitas kelas 1 bisa Rp100 ribu per kg. Dari UD ini, ia memperoleh penghasilan hingga Rp8 juta per bulan.

Meski sudah diserap pasar di Tapsel, Medan, maupun Jawa, petani punya visi menembus pasar internasional. Saat ini, sudah ada pemesanan dari Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Tetapi masih skala kecil.

Untuk mempromosikan ke dunia internasional, Kopi Sipirok sempat dipamerkan dalam salahsatu ajang kopi internasional di Baku, Azerbaijan pada tahun 2018 lalu.

“Permintaan kopi saat ini memang masih skala kecil-kecil. Tapi intensitasnya banyak. Paling banyak dari warung dan cafe-cafe,” katanya.

Beberapa tahun terakhir, petani Kopi Sipirok jumlahnya terus bertambah. Apalagi sejak dibantu PT NSHE dalam hak paten serta berbagai pelatihan, berbabagi pihak ikut melirik Kopi Sipirok. Mulai dari Pemkab Tapsel, Pemprovsu, para eksportir, dan sebagainya.

“Jumlah pemain kopi juga makin banyak. Saat ini ada 20-an pemain kopi di seluruh Tapsel. Cafe-cafe juga semakin banyak yang menjual minuman kopi dengan merk Kopi Sipirok,” katanya.

Karena itulah, cita-cita membentuk Koperasi, dan menjadikan Sipirok sentra kopi, dinilai sangat realistis.

Erwin berharap pemerintah ikut mencari investor yang bisa bekerja sama dengan MPIG dalam mengembangkan Kopi Sipirok.

Humas PT NSHE, Dede Wafiza Ashia, menjelaskan support yang diberikan kepada masyarakat khususnya petani kopi, tidak akan berhenti hingga hak paten merk dan berbagai pelatihan. “PT NSHE akan trus mendukung petani kopi selama dibutuhkan. Mulai dari penanaman, pemasaran, hingga branding. Kami juga akan ikut mengupayakan pembentukan koperasi kopi, untuk mewadahi petani mengembangkan kopi Arabika Sipirok ini,” katanya sembari tersenyum manis. (mea/habis)

Pemko Tebingtinggi Gelar Isra Mikraj, Perkuat Ukhuwah Ulama dan Umara

BERSAMA: Sekdako Tebingtinggi Marapusuk Siregar, didampingi Ustad Riza Muhammad dan Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi, bersama para anak yatim piatu di Masjid Agung Jalan Gunung Lauser Kota Tebingtinggi, Kamis (25/4).
BERSAMA: Sekdako Tebingtinggi Marapusuk Siregar, didampingi Ustad Riza Muhammad dan Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi, bersama para anak yatim piatu di Masjid Agung Jalan Gunung Lauser Kota Tebingtinggi, Kamis (25/4).

TEBINGTINGGI, SUMUTPOS.CO – Pemko Tebingtinggi menggelar peringatan Isra Mikraj di Masjid Agung Jalan Gunung Lauser Kota Tebingtinggi, Kamis (25/4).

Wali Kota Tebingtinggi yang diwakili Pj Sekdako Tebingtinggi, Marapusuk Siregar menyatakan, dengan memperingati Isra Mikraj ini, diharap dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah di antara ulama dan umara.

“Mari jadikan Isra Mikraj ini sebagai sarana untuk kembali saling bersatu dan mempererat silaturahim, setelah kita melaksanakan pesta demokrasi Pemilu 2019,” imbau Marapusuk.

Marapusuk menyampaikan, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah junjungan dan suriteladan bagi umatnya. Untuk itu, peringatan ini janganlah hanya dijadikan sebagai seremonial belaka, tapi mari ambil makna yang terkandung di dalamnya. “Utamanya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam menerima amanah dari Allah Subhanahu wa Taala, dan menjalani serta mewariskan kepada umatnya sesuai dengan perintah Allah,” jelasnya.

Dia juga menyampaikan, melalui perintah salat, banyak hal terkandung di dalamnya selain bersyukur, bersikap jujur, amanah, santun, dan bersilaturahim. “Kami berharap dengan peringatan ini, hubungan yang mungkin renggang, saling curiga, semuanya dapat kita tinggalkan. Mari rajut kembali hubungan tersebut dengan kebersamaan membangun Tebingtinggi ke depan lebih baik,” harap Marapusuk.

Sedangkan Ustad Riza Muhammad dari Jakarta, pada tausyiahnya, mengatakan, dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan tahun ini, dia mengajak untuk memperkokoh silaturahim sesama umat Muslim dan umat manusia yang ada di dunia ini. “Mari sucikan hati dan diri untuk mempertebal iman dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Taala, Sebagai umat Muslim, kita harus terus menjaga keutuhan umat beragama di dunia ini,” katanya.

Selama ini, lanjut Riza, terjadi kesalahpahaman di antara umat Muslim, maka dengan datangnya bulan baik dan hari baik pada Ramadan ini, bisa mempersatukan semangat ukhuwah Islamiyah kembali. Dia mengajak umat agar tidak terpecah karena beda pilihan dalam Pemilu kemarin. “Tapi mari kita rajut kembali semangat kebersamaan menuju rahmatan lil alamin,” imbaunya.

Dalam peringatan Isra Mikraj tersebut, Pemko Tebingtinggi menyerahkan santunan kepada 175 anak yatim piatu se-Kota Tebingtinggi. (ian/saz)

Gunakan Metode MA 11, Lahan Pertanian Seadanya, Hasil Melimpah

BAGUS SYAHPUTRA/SUMUT POS BANTUAN: Kepala BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat menyerahkan bantuan pertanian di Kecamatan Medan Tuntungan.
BAGUS SYAHPUTRA/SUMUT POS
BANTUAN: Kepala BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat menyerahkan bantuan pertanian di Kecamatan Medan Tuntungan.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumut bersama Pemerintah Kota (Pemko) Medan melakukan pembinaan bersama Gabungan Kelompok Tani Bawang Merah.

Hal ini, sebagai wujudkan untuk menekan inflasi di kota terbesar nomor tiga di Indonesia ini.

Kepala BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, kegiatan ini salah satu komitmen lanjutan yang dilakukan pihaknya bekerjasama dengan Pemko Medan dan petani untuk mengendalikan inflasi daerah.

“Khususnya kota Medan, inflasi disumbang dari bawang merah dan komiditi-komiditi lainnya seperti bawang putih, cabai dan beras,” ucap Wiwiek kepada wartawan, usai acara Kick Off Klaster Bawang Merah dan Program Youth Agriprenuer BI 2019 di Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Kamis (25/4) siang.

Wiwiek mengungkapkan, Kecamatan Medan Tuntungan dijadikan BI Sumut sebagai pilot project pertama di Kota Medan untuk bawang merah dengan metode baru yang disebut dengan MA 11.

“MA 11 ini, tidak memerlukan tanah luas. Tapi, produksinya melimpah. Kita sudah bekerjasama dengan penemu MA 11 Pak Dr Nugroho. Terbukti beberapa tempat dan beberapa produksi menunjukan produksinya,” kata Wiwiek.

Ia mengatakan, bila pilot project ini berhasil, BI akan mengembangkan per tanian bawang merah di daerah lain. Karena, bawang merah menjadi salah satu penyumbang inflasi di daerah.

“Kalau berhasil, akan kita lakukan beberapa daerah lainnya,” sebut Wiwiek.

“Jadinya, bawang merah harganya bisa turun dan stabil. Kedepannya, ada komitmen tidak ada posisi budaya dan produksinya. Tapi, dikembangkan di sisi hilirnya (pemasaran),” sambungnya.

Dari pertanian bawang merah ini, ia mengungkapkan akan menciptakan sumber-sumber perekonomian baru. Seperti memproduksi bawang merah menjadi bawang goreng, kripik bawang, kue bawang dan lain-lainya.

“Hal ini, akan menjadi sumber-sumber ekonomi baru. Kalau sumber-sumber ekonomi lama akan menurun. Jadinya, kita cari sumber-sumber ekonomi baru di Medan ini,” tandasnya.

Pada acara itu, BI Sumut menyerahkan bantuan berupa bibit bawang merah dengan kualitas baik kepada Gabungan Kelompok Tani Mandiri di Kelurahan Baru Ladang Bambu dan Kelurahan Sidomulyo di Kecamatan Medan Tuntungan, kemarin (25/4) siang.

Selain itu, pihak BI juga memberikan alat ukur tanah, traktor dan alat pertanian untuk mengolah tana pertanian bawang merah tersebut.

Wakil Wali Kota, Akhyar Nasution yang hadir dalam kesempatan itu, mengucapkan terima kasih kepada BI Sumut yang sudah memberikan kontribusinya dalam membantu peningkatkan dan membina pertanian bawang merah dengan menghasilkan produk pertanian kualitas baik.

“Ini menggunakan pupuk organik, saya berharap pembinaan pertanian ini mampu menekan inflasi di Kota Medan. Kemudian, membina petani kita untuk mengolah pertaniannya dengan baik,” sebut Akhyar Nasution.

Akhyar berharap, kerjasama ini tidak sampai disini saja.

“Kita harus mencoba yang baru, jadi ada peningkatkan produksi pertanian dengan pupuk organik responnya cepat,” pungkas Akhyar.

Ketua Gabungan Kelompak Tani Mandiri, Hermanto mengatakan, Kick Off Klaster Bawang Merah ini, sangat membantu pihaknya untuk pengembangan pertanian dengan lahan seadaanya dan tidak luas.

“Kami petani merasa terbantu. Proses pupuk lama, sekarang cepat,” kata Hermanto.(gus/ala)

Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan, PJU di Medan Diusul Gunakan Tenaga Surya

Lampu PJU
Lampu PJU

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penerangan Jalan Umum (PJU) di Kota Medan diusulkan menggunakan sistem tenaga surya atau cahaya matahari. Sebab, dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Usulan tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PD Pembangunan Kota Medan, Putrama Alkhairi. Menurutnya, PJU dengan tenaga surya atau solar cell maka mengurangi daya dari PLN.

“Dengan sistem solar cell, tentunya lebih efisien dan membuat Kota Medan menjadi ramah lingkungan. Kita akan usulkan kepada Pemko Medan untuk menerapkan sistem tersebut dalam PJU,” ungkap Putrama kepada Sumut Pos, kemarin.

Dia mengaku, saat ini pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengadaan PJU sistem solar cell. Kini, sedang diujicoba PJU di sejumlah titik Kota Medan. Namun, sayangnya Putrama tak dapat menyebutkan di lokasi mana saja yang telah dipasang.

“Lagi ujicoba, sudah ada sejumlah kawasan yang dipasang lampu jalan sistem tenaga surya. Ujicoba ini kemungkinan berlangsung beberapa bulan untuk mengetahui bagaimana kualitas dan daya tahan. Hasilnya, akan dilakukan kajian dan disampaikan kepada Pemko Medan,” ujarnya.

Disinggung apakah nantinya seluruh PJU yang ada di Medan, Putrama mengatakan hal itu tergantung dari Pemko Medan. “Kota Medan adalah kota metropolitan dan strategis dari kota-kota di dunia untuk itu kita mempelopori dan pemanfaatan energi terbarukan. Sehingga, menjadikan kotanya asri dan bisa berkesinambungan untuk masa depan,” katanya.

Dijelaskan Putraman, penggunaan PJU dengan solar cell merupakan aspek penting yang mesti ada dalam penataan kota. PJU mempunyai peran yang betul-betul penting bagi pengendara, terutamanya pada malam hari dimana sinar matahari telah tak bisa menerangi keadaan jalan.

“Keunggulan lain PJU tenaga surya, yaitu sumber kekuatan tak terbatas, tidak memberikan polusi, gampang dipasang, dan mudah dalam perawatan. Sudah ini tentu memberikan profit bagi pemakai yang tak perlu berulang kali melakukan pergantian lampu atau menjalankan sejumlah perawatan rutin,” ujarnya sembari mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan.

Sementara, Sekretaris DKP Kota Medan, Zulfakhri mengatakan, PJU yang ada saat ini masih menggunakan daya listrik. Ada yang konvensional dan juga sistem LED. “Kita masih pakai listrik, ada yang konvensional dan ada yang LED. Kalau dengan tenaga surya lebih efisien, kenapa tidak,” ujarnya. (ris/ila)

Antisipasi Aksi Corat-coret Usai UNBK, SMPN 7 Medan Kumpuli Seragam Sekolah

BAGUS SYAHPUTRA/SUTAN SIREGAR/SUMUT POS KUMPUL SERAGAM: Kasek SMP Negeri 7 Medan, Irnawati, mengumpuli seragam siswa-siswinya ke dalam kardus untuk menghindari aksi corat-coret usai UNBK. Foto kanan, sejumlah pelajar SMP melakukan aksi coret-coret baju usai UNBK, di kawasan Lapangan Merdeka, Medan, Kamis (25/4). Tradisi coret-coret baju sekolah tersebut dilakukan usai pelajar tersebut mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang serentak dilakukan di Indonesia.
BAGUS SYAHPUTRA/SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
KUMPUL SERAGAM: Kasek SMP Negeri 7 Medan, Irnawati, mengumpuli seragam siswa-siswinya ke dalam kardus untuk menghindari aksi corat-coret usai UNBK. 

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Guna mengantisipasi aksi corat-coret usai mengikuti pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), para siswa SMP Negeri 7 Medan lebih memilih mengumpulkan seragam sekolah untuk dapat digunakan kembali adik kelas mereka.

Satu persatu siswa keluar dari ruang ujian, mereka membuka seragam mereka dan dikumpulkan dalam sebuah kardus. Kemudian, mereka menggunakan pakaian batik sekolah di akhir UNBK, Kamis (25/4). Di SMP Negeri 7 Medan peserta UNBK berjumlah 264 siswan

Selain itu, Kepala Sekolah (Kasek) SMP Negeri 7 Medan, Irnawati mewajibkan orangtua untuk menjemput anaknya setelah melaksanakan UN terakhir dengan mata pelajara Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), kemarin.

“SMP Negeri 7 Medan dalam melakukan kegiatan akhir Ujian Nasional dan telah kami sosialisasikan ke orangtua lewat pemberitahuan. Pertama, kami memohon kepada orangtua untuk kerja samanya dalam mengantisiapasi kegiatan yang sifatnya euforia yang selalu dilakukan oleh siswa setiap tahunnya. Seperti ngebut-ngebut di jalan, coret-coret, kongkow di jalanan yang bisa menyebabkan terganggungnya arus lalin dan mengakibatkan masyarakat terganggu,” ucap Irnawati kepada wartawan di Sekolah SMP Negeri 7 Medan, kemarin siang.

Imbauan itu juga sudah disampaikan melalui dengan nomor : 6017/SMP/2019, yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan, sebelum pelaksanaan UN berakhir. Pastinya, pihak tetap melakukan antisipasi kegiatan negatif dilakukan siswa.

“Pertama mengajurkan siswa dan orang tua untuk memberikan sumbangan pakaian seragam yang masih layak digunakan untuk adik-adik kelas maupun yang membutuhkan. Yang kedua, menggunakan baju seragam batik saat ujian,” jelas wanita berjilbab itu.

Ia mengungkapkan, pihak sekolah juga memberikan fasilitas coret-coretan mengarah positif dengan menggunakan spanduk putih, para siswa dipersilahkan menuliskan komitmen mereka di dalam spanduk panjang untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan hingga ke Perguruan Tinggi.

“Nah di situlah disediakan untuk anak-anak apa yang mau mereka tulis. Dan terakhir, pulang harus dijemput orang tua. Kalau tidak dijemput orangtua. Kami menahan sementara sampai batas waktu kami anggap kondusif untuk diperbolehkan pulang,” ungkap wanita berkacamata itu.

Selanjutnya, ia mengatakan jika siswa atau anak kedapatan melakukan aksi negatif, seperti tertera dalam surat disampaikan tersebut.”Maka siswa tersebut akan dipertimbangkan untuk kelulusannya dari SMP Negeri 7 Medan,” pungkasnya.

Disdik Diminta Data Kebutuhan Komputer SMP Negeri

Anggota Komisi B DPRD Medan, Irsal Fikri mengatakan, pelaksanaan UNBK secara mandiri yang dilakukan seluruh SMP negeri pada tahun ini harus dievalusi. Sebab, banyak catatan kendala atau permasalahan yang dihadapi. Mulai dari ketidaksiapan sekolah dalam hal perangkat komputer hingga persoalan teknis di lapangan, seperti gangguan jaringan dan lain sebagainya.

“Kalau tahun ini komputer di seluruh SMP negeri belum memadai, maka tahun depan pelaksanaannya harus ada sekolah yang benar-benar lengkap peralatannya (komputer). Paling tidak, 50 persen dari jumlah SMP negeri yang ada (45 sekolah) harus sudah memiliki,” ungkap Irsal.

Diutarakan dia, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan harus mempunyai data kebutuhan komputer di setiap SMP negeri yang ada. Artinya, melakukan pendataan dan kemudian diajukan pengadaannya pada APBD.

“Disdik Medan harus melakukan pendataan dari sekarang jumlah komputer yang dibutuhkan masing-masing SMP negeri, lalu diusulkan pengadaannya. Selain itu, jangan hanya mengandalkan APBD saja tetapi mencari solusi dengan menjalin kerja sama dengan pihak swasta atau lainnya untuk menyerap dana CSR (Control Social Responsibility). Bahkan, kalau bisa mengusulkan bantuan kepada pemerintah pusat,” tegasnya.

Kata dia, Disdik Medan harus mengurangi anggaran kegiatannya yang tidak penting untuk mengalokasikan pengadaan komputer. Sebab, menurutnya, dengan meminjam berarti membebani siswa atau orang tuanya. “Kalau kebetulan tidak banyak yang punya laptop bagaimana? Tentu ini menjadi persoalan,” ujarnya.

Tak jauh beda disampaikan Anggota Komisi B DPRD Medan, Jumadi. Ia mengkritik pelaksanaan UNBK tingkat SMP negeri yang dinilai terkesan dipaksakan. Alasannya, karena perangkat komputer belum memadai sehingga meminjam laptop kepada siswa.

Kata Jumadi, seharusnya sekolah jangan memaksakan untuk UNBK mandiri apabila memang belum memadai peralatan komputernya. Karena, dengan memaksakan diri akhirnya membebani siswa secara tidak langsung.

Jumadi sangat menyayangkan, kalau memang mau menerapkan UNBK tingkat SMP 100 persen maka jauh-jauh hari peralatan komputernya atau sarana dan prasarana telah disiapkan. Dengan begitu, siswa bisa fokus belajar dalam mengikuti ujian. Sedangkan orang tua siswa, tinggal mengawasi anaknya.

“Jika begini kondisinya, siswa dan orang tua murid seperti terbebani karena mau tidak mau mencari laptop untuk dipinjamkan. Kalau kebetulan punya tentu tidak menjadi masalah, tapi kalau tidak ada bagaimana,” sebutnya.

Oleh karenanya, sambung dia, hal-hal seperti itu perlu dicermati sekolah dan Dinas Pendidikan (Disdik) Medan. “UNBK ini kan sudah dari tahun lalu dan bahkan tahun sebelumnya. Tapi kenapa belum disiapkan juga peralatan komputernya. Untuk itu, hal ini harus menjadi perhatian bagi Dinas Pendidikan Medan pada tahun berikutnya guna menyediakan komputernya,” tukas dia.

Sementara, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SMP Dinas Pendidikan Medan, Supri Harahap mengatakan, pihaknya mengakui bahwa pelaksanaan UNBK secara mandiri di SMP negeri masih mengalami kekurangan terutama perangkat komputernya. Tidak mungkin sanggup sekolah menyediakan komputer seluruhnya, minimal sepertiga dari jumlah murid yang mengikuti ujian.

Disinggung adakah Disdik Medan melakukan pendataan terhadap kebutuhan perangkat komputer di SMP negeri dalam melaksanakan UNBK, Supri menyatakan tidak ada dilakukan. “Pendataan tidak ada memang kami lakukan, yang penting bagi kami bagaimana sekolah melakukan jalinan kerjasama dengan pihak lain untuk pengadaan komputer. Sebab, banyak sekali yang harus dipenuhi. Misalnya, dengan meminjam kepada siswa atau orang tua murid, guru hingga sekolah lain yang memiliki komputer berlebih,” pungkasnya. (gus/ris/ila)

11 Pelajar SD Jadi Korban Pedofilia

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Sedikitnya, 11 pelajar Sekolah Dasar (SD) yang merupakan warga Kecamatan Medan Tuntungan, menjadi korban pedofilia (pedofilia, pria yang tertarik seksual terhadap bocah lelaki, Red). Didampingi orangtuanya, mereka mengadu ke Polda Sumut sesuai Surat Tanda Terima Lapor Polisi Nomor 594/IV/2019 tanggal 24 April 2019 diterima Brigadir Arfan Dilla.

Sedangkan pelakunya merupakan tetangga para korban, JM alias Jimmy (34), warga Jalan Bunga Turi II, Lingkungan IV, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Kasus ini bisa terbongkar atas kecurigaan salah seorang pemuka agama, Sofyan Sembiring, yang curiga melihat pelaku suka tidur bersama anak-anak dan suka memeluk anak-anak laki-laki.

Salah seorang orangtua korban, Sulis Setriani Ketaren (37), yang membuat pengaduan ke Polda Sumut kepada wartawan menceritakan, peristiwa pedofilia ini diketahui, Senin (22/4). Anak laki-lakinya berusia 11 tahun dan masih duduk di kelas V SD menjadi korban. “Ada 11 korban semuanya laki-laki yang masih sekolah kelas IV dan V SD. Peristiwa ini diduga terjadi sejak Maret 2019,” ungkap Sulis Setriani.

Kata Sulis Setriani, kasus ini bisa terbongkar karena kecurigaan Sofyan Sembiring yang melihat pelaku suka tidur bersama anak-anak dan memeluknya di warung di pinggir sawah kawasan tersebut.

“Sorang korban yang dekat dengan pelaku, sering dikasi uang, diberi pinjam handphone. Pak Sofyan curiga melihat hal ini kemudian melaporkan kepada orangtua si korban. Ketika si anak ditanya orangtuanya, anaknya mengaku kalau pelaku si Jimmy sudah menyodominya dengan iming-iming uang,” cerita Sulis.

Dari pengakuan korban F, terkuaklah kalau anak laki-laki Sulis dan ada anak laki-laki lainnya yang juga menjadi korban sodomi Jimmy. Selanjutnya, orangtua F melalui Kepling bernama Bob, mengumpulkan para orangtua korban yang berjumlah 10 orang berikut KTP nya untuk membuat laporan ke polisi. Namun belakangan urung dilakukan dengan alasan dimintai uang.

“Tapi karena kepling bilang perlu biaya untuk membuat pengaduan, orangtua korban tidak mau membuat pengaduan. Masa mau buat pengaduan polisi mesti kasih uang. Mereka kemudian tidak jadi membuat laporan ke polisi,” terangnya.

Masih pengakuan Sulis, total korban yang disodomi berjumlah berjumlah 11 orang laki-laki pelajar SD. “Anak saya mengaku disodomi dan disuruh pegang kemaluan pelaku, baru dikasih uang. Tapi anak saya bilang setelah selesai tidak mau diberi uang Rp10 ribu. Kami minta polisi mengusut dan menangkap pelaku yang sudah melarikan diri,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja melalui Kasubbid Penmas AKBP MP Nainggolan mengatakan, pihaknya akan segera menelusuri laporan tersebut.

“Saya baru dengar laporannya, kalau sudah dilapor tentu akan kita tangani secepatnya. Nanti akan dilihat apakah penangannya kita (Polda Sumut) yang pegang atau akan dilimpahkan ke Polrestabes Medan,” pungkas Nainggolan. (dvs/ila)

Peringati May Day, 1.500 Massa Turun ke Jalan

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Aliansi Pekerja Buruh Daerah Sumatra Utara (APBD-SU), akan turun ke jalan untuk memperingati hari buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei mendatang. Diperkirakan, ada 1.500 buruh yang tergabung.

Aksi dalam bentuk konvoi dan long mach ini akan dititikkan di bundaran air mancur, Jalan Gatot Subroto, Medan.”Kalau tanggal 30 April nanti, sekitar 500 massa akan turun ke jalan. Sedangkan 1 Mei, 1.500 massa akan turun,” ujar Koordinator APBD-SU, Natal Sidabutar kepada wartawan di Medan, Kamis (25/4).

Dalam aksinya, mereka akan meminta Presiden dan Menakertrans serta DPR-RI menghapus Peraturan Pemerintah No 78 Tahun 2015 tentang pengupahan dan Permenaker No 15 Tahun 2018 tentang upah minimun yang justru bertentangan dengan UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.

Natal mengatakan, selama ini pemerintah tidak memiliki niat untuk memperbaiki kondisi kehidupan kaum pekerja/buruh dan merupakan cerminan bahwa pemerintah saat ini berada dibawah kendali kekuatan modal.

“Di tengah ketertindasan buruh ini, kami akan memperjuangkan hak-hak buruh melalui jalan dialog dan jalur hukum. Karna banyak buruh yang minim pengetahuan di bidang hukum, yang menjadi korban dari pengusaha yang diputus kontrak, outsorching dan PHK,” tegasnya.

Didampingi pengurus GSBI Sumut, Ahmadsyah, pengurus PPMI, Awaluddin Pane, dan pengurus Serbundo, Lorent E Aritonang, Natal meminta agar saldo BPJS ketenagakerjaan setiap tahun bagi pekerja/buruh dan mendaftarkan semua pekerja/buruh sebagai peserta BPJS kesehatan tanpa memandang status kerja.

Selain itu, pihaknya juga meminta Dinas Ketenagakerjaan Sumatra Utara segera menuntaskan permasalahan pekerja di PT Unibis, terkait pemberian kekurangan ekstra puding terhitung sejak 2014 hingga 2018 yang belum tuntas penyelesaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Aksi ini akan long march dan konvoi dari Lapangan Garuda Tanjung Morawa menuju bundaran air mancur Jalan Gatot Subroto Medan,” pungkas Natal. (man/ila)

Edar Upal di Marelan Ayah dan Anak Ditangkap

Fachril/sumut pos DIAMANKAN: Dua pelaku pengedar uang palsu yang merupakan ayah dan anak, saat diamankan polisi.
Fachril/sumut pos
DIAMANKAN: Dua pelaku pengedar uang palsu yang merupakan ayah dan anak, saat diamankan polisi.

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Iwan (52) dan Zulkarnain (28) harus berurusan dengan polisi. Ayah dan anak memetap di Kelurahan Rengas Pulau, Kecamatan Medan Marelan ini ditangkap mengedarkan uang palsu. Keduanya ditangkap di wilayah Jalan Rahmad Buddin Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan, Kamis (25/4).

Kanit Reskrim Polsek Medan Labuha, Iptu Bonar H Pohan mengatakan, kedua pria ini melakukan aksi kejahatannya sudah hampir seminggu. Mereka bekerjasama untuk mengedarkan uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100ribu.

“Setelah kita selidiki ternyata yang bersangkutan membuat uang palsu sendiri dengan menggunakan kertas pembungkus endog (telur) atau kertas layangan” ungkap Kanit Reskrim

Modusnya, kata Bonar, kedua tersangka membeli barang yang murah-murah di warung kecil. Selain mendapatkan uang kembali, pedagang warung kecil biasanya lebih longgar pengawasan terhadap uang palsu.

Berdasarkan keterangan pelaku, uang palsu yang sudah diedarkan berkisar antara Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa 10 lembar duit pecahan Rp 100 ribu dan uang 50 ribu sebanyak 14 lembar.”Anak dan bapak ini sudah edarkan upal selama seminggu belakangan ini dengan jumlah uang palsu sebanyak Rp 1 juta “tambah Bonar.

Pelaku mengaku nekat mencetak dan edarkan uang palsu karena terdesak kebutuhan. Salah seorang pelakul Zulkarnain miliki utang Rp 500 ribu untuk biaya membayar utang Narkoba.

“Saya punya utang pak kepada bandar narkoba. saya bingung bayar biayanya Rp 500 ribu, oleh karena itu saya terpaksa mencetak uang palsu” tutur zulkarnain.

Kedua pelaku dijerat dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang Rupiah Pasal 36 Ayat 1,2, dan 3 membuat, menyimpan dan mengedarkan uang palsu dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (fac/ila)

PD Pasar Ultimatum Pedagang Pasar Kampunglalang, Tak Ditempati, Kios dan Lapak Dialihkan

no picture
no picture

MEDAN, SUMUTPOS.CO – PD Pasar Kota Medan mengultimatum para pedagang di Pasar Kampunglalang untuk menempati kios atau lapak dan berjualan. Sebab, hingga kini masih banyak kios dan lapak yang kosong lantaran pedagang berjualan di kaki lima atau luar pasar.

Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Kota Medan, Rusdi Sinuraya mengatakan, secara keseluruhan pedagang di pasar tersebut terdata sebanyak 732 pedagang. Mereka dihimbau untuk menempati kios dan lapak yang telah disediakan.

“Sabtu (27/4) ini akan ada acara syukuran untuk memasuki bangunan pasar tersebut yang telah rampung dikerjakan. Dengan kata lain, secara resmi sudah bisa dioperasikan untuk berjualan di sana,” ujar Rusdi kepada Sumut Pos, kemarin.

Diakui dia, memang masih ada saja pedagang yang berjualan di emperan. Oleh karena itu, akan diambil tindakan tegas bagi pedagang yang tak mematuhi imbauan.”Terhitung pekan depan, jangan ada lagi pedagang yang berjualan di luar pasar atau tak menempati kios dan lapaknya. Bagi pedagang yang tak ikut aturan, maka akan ditertibkan,” tegas Rusdi.

Kata dia, jika masih tidak tertib juga maka kios dan lapaknya dialihkan kepada pedagang lain. Sebab, banyak yang memang ingin berjualan di dalam pasar. “Kita masih toleransi sampai minggu ini untuk memberi kesempatan menempati kios dan lapak mereka, karena masih dibuka pendaftaran dan proses administrasinya. Apabila masih membandel, jangan salahkan kami bila ditertibkan dan (kios/lapak) diberikan kepada pedagang lain,” cetusnya.

Menurut dia Pasar Kampung Lalang ini nantinya menjadi pasar tradisional yang berstandar nasional atau SNI. Pasar ini dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana seperti kamar mandi, musola, wastafel, toilet, fasilitas difabel dan bahkan untuk ibu menyusui. “Pasar ini akan kita jadikan pasar percontohan yang SNI untuk di kawasan bagian barat Kota Medan. Untuk itu, kita akan tata dan lengkapi semua fasilitasnya dengan baik,” tukasnya.

Sementara, Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution mengatakan, pihaknya akan menertibkan pedagang kaki lima di kawasan Pasar Kampung Lalang. Selain untuk membuat lalu lintas lancar dan memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan, penertiban ini bertujuan memaksimalkan Pasar Kampung Lalang yang telah selesai dibangun.

“Pemko Medan telah memberikan peringatan kepada PKL Pasar Kampung Lalang di Jalan Gatot Subroto maupun Klambir V agar tidak berdagang di bahu jalan. Jika peringatan ini tidak diindahkan, penertiban akan dilakukan secara tegas,” kata Akhyar dalam rapat yang digelar di Balai Kota Medan.

Akhyar menuturkan, penertiban ini tentunya harus dilakukan secara persuasif dengan melibatkan aparat kepolisian. “Tidak ada alasan lagi pedagang menggelar berdagang di pinggir jalan, baik yang di Jalan Gatot Subroto maupun Klambir V,” ucapnya.

Ia meminta kepada instansi terkait untuk menyempurnakan pembangunan pasar tersebut. Salah satu diantaranya, dengan membenahi drainase di sekitar pasar. “Sejak awal April, para pedagang yang termasuk dalam data (732 pedagang) telah memasuki pasar tersebut. Hingga kini, sudah 60 sampai 70 persen yang telah menggelar dagangan di dalam pasar. Sedangkan, sisanya masih berdagang di pinggir jalan,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Persatuan Pedagang Pasar Kampung Lalang, Erwina Pinem mengatakan, PKL yang berjualan di depan pasar sudah tidak ada lagi. Tapi, yang di samping masih ada. “Memang yang di depan bangunan pasar sudah dibersihkan semua, tapi yang di sampingnya belum. Ada beberapa pedagang yang berjualan dan membuka lapak sendiri,” ujarnya.

Disebutkan Erwina, tak hanya PKL, ada juga pedagang yang seharusnya berjualan di dalam malah membuka lapak di samping pasar. Salah satu pedagang tersebut adalah penjual kelapa parut. Pedagang ini mendirikan tenda dan menempatkan barang jualannya di sana.

“Kami minta kepada PD Pasar pedagang itu dan PKL lainnya ditertibkan. Padahal, pedagang kelapa parut tersebut sudah ada lapaknya di dalam yang berada di area basement. Tapi, malah berjualan di sana,” keluhnya.

Erwina menilai, keberadaan pedagang dan PKL yang berjualan di luar bangunan pasar sudah menyalahi aturan atau tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Sebab, kesepakatan awal menempati lapakl masing-masing yang telah diundi. Terkecuali, PKL karena baru berjualan di sana.

“Kalau terus ini dibiarkan, khawatir terjadi gejolak di antara pedagang. Makanya, harus dibersihkan total seluruh pedagang atau PKL yang berjualan di luar bangunan pasar. Mereka harus berjualan di dalam dan jangan sampai timbul kecemburuan hingga berujung konflik antara pedagang,” tegasnya. (ris/ila)