Home Blog Page 6

Dukung Swasembada Energi Nasional, Gubsu Dorong Percepatan Legalisasi Sumur Minyak Rakyat

AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)
AUDIENSI: Gubsu Muhammad Bobby Afif Nasution menerima audiensi Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kamis (4/6/2026).(Diskominfo Sumut)

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mendorong percepatan legalisasi sumur minyak masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada energi nasional. Di Kabupaten Langkat sendiri tercatat terdapat 607 sumur minyak masyarakat yang sudah terverifikasi, yang berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan produksi energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Bobby saat menerima audiensi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumbagut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman, Medan, Kamis (4/6/2026).

Menurut Bobby, penerapan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 14 Tahun 2025 menjadi langkah penting dalam menata dan mengelola sumur minyak rakyat secara profesional sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

“Ini satu hal yang kami ketahui, tujuannya mencapai cita-cita Pak Presiden mencapai swasembada energi untuk memenuhi target 610 ribu barel per hari, salah satunya dengan melibatkan masyarakat daerah,” kata Bobby.

Selama ini, keberadaan sumur minyak masyarakat kerap dianggap merugikan negara karena belum memiliki payung hukum yang jelas. Namun, melalui implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025, aktivitas tersebut kini memiliki dasar legal yang kuat.

“Kita pemerintah daerah melalui BUMD diminta mengakomodir hasil sumur masyarakat, oleh karena itu percepatan cita-cita Pak Presiden harus kita wujudkan segera,” ujar Bobby.

Bobby menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut siap mendukung penuh percepatan legalisasi dan pengelolaan sumur minyak masyarakat melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

“Kami dari Pemprov Sumut bersemangat untuk terus bersinergi. Kami dari Pemda tentu akan mendukung dan ingin menjadi bagian dari pencapaian tersebut. Oleh karena itu, apa pun hal dan persoalan di Sumut, mari kita sama-sama berkolaborasi mempercepat penyelesaian persoalan di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Bupati Langkat Syah Afandin berharap proses legalisasi dapat segera direalisasikan. Menurutnya, sumur minyak masyarakat merupakan potensi besar yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.“Sebenarnya ini potensi daerah, seperti lapangan pekerjaan, PAD, dan lain-lain,” kata Syah Afandin.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Sebastian Julius mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan implementasi kebijakan tersebut. Ia juga mengapresiasi sinergi yang selama ini telah terjalin dengan Pemerintah Provinsi Sumut dan Pemerintah Daerah. “Alhamdulillah kerja sama cukup baik, ini yang kami harapkan untuk dipertahankan dan ditingkatkan,” kata Sebastian.(san/*)

Peringati Hari Lansia, 10.000 Lansia Dapat PKH Medan Makmur

HLUN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat memperingati HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026)
HLUN: Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat memperingati HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026)

Ribuan lanjut usia (lansia) di Kota Medan mendapat kabar menggembirakan pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 tingkat Kota Medan. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH) Medan Makmur yang ditargetkan menjangkau 10.000 lansia di ibu kota Sumatera Utara tersebut.

Program ini menjadi yang pertama kali dihadirkan Pemerintah Kota Medan sebagai bentuk kepedulian dan keberpihakan terhadap para lansia, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan minim dukungan keluarga.

Di hadapan puluhan lansia yang menghadiri peringatan HLUN di halaman Kantor Camat Medan Petisah, Rabu (3/6/2026), Rico Waas menegaskan bahwa kehadiran PKH Medan Makmur merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, termasuk kelompok usia lanjut yang rentan.

“Banyak lansia kita yang kehidupannya sangat susah. Ada yang keluarganya jauh, bahkan sudah tidak ada, atau anaknya tidak memperhatikan. Bagaimana mereka mau menjalani kehidupan? Pemerintah harus hadir memberikan keadilan tersebut, dari anak-anak, dewasa hingga lansia. Itulah kewajiban kami,” ujar Rico Waas.

Menurut Rico, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kondisi sebagian lansia yang harus menjalani masa tua seorang diri dan dengan keterbatasan ekonomi. Karena itu, melalui PKH Medan Makmur, Pemko Medan berupaya memberikan dukungan agar para lansia dapat menikmati kehidupan yang lebih layak dan sejahtera.

“Ini adalah kebijakan yang kami ambil. Mudah-mudahan bisa bermakna untuk kita semuanya,” katanya.

Tak hanya memperkenalkan program baru, Rico Waas juga mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan HLUN sebagai momentum refleksi. Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang saat ini berada pada usia produktif pada akhirnya akan memasuki masa lanjut usia.

“Maka maknailah hidup kita pada saat ini di waktu kita masih prima, masih sehat. Ternyata suatu saat kita akan menjadi lansia. Maka dari itu, sayangilah lansia-lansia kita semuanya,” pesannya.

Suasana peringatan HLUN ke-30 berlangsung meriah dan penuh kehangatan. Berbagai kegiatan digelar untuk mendukung kesehatan dan produktivitas lansia, mulai dari senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), hingga penyerahan paket nutrisi secara simbolis.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, drg. Henny Savitri, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemko Medan dalam meningkatkan kualitas hidup lansia melalui pendekatan promotif dan preventif yang terintegrasi dengan layanan kesehatan primer di puskesmas.

Menurut Henny, Kecamatan Medan Petisah dipilih sebagai lokasi pelaksanaan HLUN karena memiliki sekolah lansia pertama di Kota Medan yang telah menjadi pelopor pengembangan program serupa di kecamatan lainnya.

“Kesuksesan Kecamatan Medan Petisah ini diharapkan menjadi pemicu efek domino, mendorong kecamatan lain yang belum memiliki sekolah lansia untuk segera mengadopsi program serupa. Tujuannya agar pembinaan dan pemberdayaan lansia dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan di seluruh penjuru kota,” jelasnya.

Melalui peluncuran PKH Medan Makmur dan penguatan program pemberdayaan lansia, Pemko Medan berharap para lanjut usia tidak hanya mendapatkan perlindungan sosial, tetapi juga tetap sehat, aktif, dan merasakan perhatian di masa senjanya. (map/ila)

DPRD Medan Dukung BRT Mebidang, Minta Tak Korbankan Ruang Hijau

Ahmad Affandi Harahap.
Ahmad Affandi Harahap.

MEDAN – Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang yang tengah berlangsung di Kota Medan mendapat dukungan dari DPRD Kota Medan. Kehadiran transportasi massal modern tersebut dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan, mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi, sekaligus meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.

Namun di balik dukungan tersebut, DPRD mengingatkan agar pembangunan infrastruktur tidak mengabaikan aspek lingkungan hidup, terutama terkait penebangan pohon yang dilakukan di sejumlah ruas jalan untuk mendukung proyek strategis tersebut.

Anggota DPRD Kota Medan, Ahmad Affandi Harahap, menilai BRT Mebidang merupakan langkah maju dalam mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan berkelanjutan.

“Saya mendukung upaya pemerintah menghadirkan sistem transportasi yang lebih baik dan berkelanjutan. Namun, dukungan tersebut tidak berarti mengabaikan dampak yang ditimbulkan selama proses pembangunan berlangsung,” ujar Ahmad Affandi, Kamis (4/6/2026).

Menurut politisi Partai Demokrat itu, perhatian serius perlu diberikan terhadap penebangan pohon-pohon yang selama ini tumbuh di median jalan dan menjadi bagian dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Medan. Keberadaan pohon, katanya, memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan di tengah pesatnya pembangunan kota.

Di tengah meningkatnya suhu udara, polusi kendaraan bermotor, dan semakin padatnya kawasan perkotaan, pohon berperan sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, penahan panas, hingga penyaring debu yang membantu meningkatkan kualitas udara bagi masyarakat.

“Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah ada perencanaan yang matang terkait penggantian pohon-pohon yang ditebang tersebut?” katanya.

Affandi menegaskan pembangunan BRT yang bertujuan menghadirkan kemajuan transportasi tidak boleh mengorbankan kualitas lingkungan hidup masyarakat. Menurutnya, pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan agar manfaat yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan.

Persoalan tersebut dinilai semakin penting mengingat Kota Medan masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah perkotaan idealnya memiliki minimal 30 persen RTH. Sementara kondisi saat ini dinilai masih jauh dari target tersebut.

Karena itu, Affandi meminta pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk melakukan penghijauan kembali sebagai bentuk kompensasi ekologis atas pohon-pohon yang ditebang selama pembangunan berlangsung.

“Pohon yang ditebang harus diganti. Bahkan idealnya jumlah pohon pengganti lebih banyak daripada yang ditebang. Penanaman kembali bisa dilakukan di taman kota, kawasan permukiman, bantaran sungai, fasilitas umum maupun lahan milik pemerintah yang memungkinkan untuk penghijauan,” tegasnya.

Selain reboisasi, ia juga mendorong adanya transparansi kepada masyarakat terkait jumlah pohon yang ditebang, mekanisme pelaksanaannya, pemanfaatan hasil kayu, hingga rencana penanaman pengganti yang akan dilakukan pemerintah.

Menurutnya, keterbukaan informasi penting untuk menghindari munculnya persepsi negatif sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap proyek pembangunan yang sedang berjalan.

“Pembangunan Kota Medan harus mengedepankan prinsip pembangunan berkelanjutan. Infrastruktur memang penting, tetapi kualitas lingkungan hidup juga tidak kalah penting. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mewarisi jalan-jalan yang megah, tetapi kehilangan pohon-pohon yang selama ini menjadi paru-paru kota,” ujarnya.

Affandi berharap proyek BRT Mebidang tidak hanya menjadi simbol kemajuan transportasi modern di Sumatera Utara, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pembangunan dapat dilaksanakan tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan.

“Sebab kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki jalan yang baik dan transportasi modern, tetapi juga kota yang mampu menjaga ruang hijaunya demi kualitas hidup masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya. (map/ila)

Lapas Binjai Razia Kamar Hunian Wargabinaan

RAZIA: Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring saat melakukan penyisiran dalam razia ke kamar hunian wargabinaan.(Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)
RAZIA: Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring saat melakukan penyisiran dalam razia ke kamar hunian wargabinaan.(Humas Lapas Binjai/Sumut Pos)

BINJAI – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Binjai, terus menunjukkan komitmennya dalam upaya meningkatkan keamanan dan ketertiban di lingkungannya. Di bawah komando Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Binjai, Rudi Sembiring, kembali dilakukan razia yang menyasar kamar hunian wargabinaan.

Rudi menegaskan, razia ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan Lapas Binjai yang terbebas dari handphone, pungutan liar hingga narkoba serta deteksi dini terhadap gangguan keamanan dan ketertiban, Rabu (3/6/2026) malam.

“Razia dimulai pukul 21.30 WIB sampai dengan selesai,” kata Rudi, Kamis (4/6/2026).

Dia menambahkan, razia ini penting sebagai langkah preventif dalam rangka menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif. “Razia ini dilakukan untuk menekan angka pelanggaran dan memastikan bahwa, setiap wargabinaan mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Selain itu, razia ini juga bertujuan untuk menjaga kondusifitas Lapas Binjai,” ujar mantan Kasi Binadik dan Giatja Lapas Tanjungbalai ini.

Selama razia berlangsung, petugas memeriksa setiap sudut kamar hunian secara teliti. Petugas mencari benda-benda yang tidak diperbolehkan, seperti senjata tajam, alat komunikasi, dan bahan-bahan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Sementara wargabinaan, diminta untuk tetap tenang dan mematuhi instruksi yang diberikan oleh petugas. Razia ini diharap dapat menjadi langkah preventif yang dilakukan secara berkala untuk menjaga ketertiban dan keamanan di Lapas Binjai.

“Lapas Binjai mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan produktif bagi wargabinaan,” pungkasnya. (ted/ila)

UMSU Seleksi 1.219 Calon Mahasiswa Internasional dari 50 Negara

MAHASISWA INTERNASIONAL: Sejumlah mahasiswa internasional di UMSU. (Istimewa/Sumut Pos)
MAHASISWA INTERNASIONAL: Sejumlah mahasiswa internasional di UMSU. (Istimewa/Sumut Pos)

Sebanyak 1.219 calon mahasiswa dari 50 negara mengikuti seleksi masuk program sarjana dan magister di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Pendaftar berasal dari berbagai negara dengan beragam budaya ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap kualitas pendidikan UMSU.

Mayoritas pendaftar memilih program sarjana dengan jumlah 928 peserta (76,1 persen dari total pelamar). Program magister diminati oleh 260 peserta dan program doktoral diikuti 31 peserta. Program studi yang paling diminati meliputi teknologi informasi, pendidikan agama Islam, data sains, sistem informasi dan manajemen.

Lima negara menjadi pelamar terbesar yaitu Pakistan (32,98 persen), Nigeria (31,58 persen), Yaman (5,91 persen), Sudan (3,69 persen) dan Palestina (3,04 persen).

Peningkatan jumlah pendaftar internasional, menurut Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd, merupakan hasil dari komitmen universitas dalam internasionalisasi menuju world class university tahun 2033.

“Kepercayaan yang diberikan oleh mahasiswa dari 50 negara bukti UMSU semakin dikenal dan diterima di tingkat global. Kami terus berupaya menghadirkan pendidikan berkualitas, lingkungan akademik yang inklusif dan memperluas jejaring kerja sama internasional agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang berdaya saing dunia,” tegas rektor didampingi Wakil Rektor III UMSU Dr. Rudianto, M.Si, Kamis (4/6).

Rektor menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa internasional tidak hanya meningkatkan reputasi institusi, tetapi juga menciptakan ruang interaksi lintas budaya yang sangat penting untuk membangun perspektif global bagi seluruh sivitas akademika UMSU.

Sebelumnya, kata rektor, UMSU telah menerima 91 mahasiswa internasional dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, United Kingdom, Yaman, Negeria hingga Thailand. UMSU pun telah meraih akreditasi internasional dari FIBAA, mendapatkan rekognisi Internasional dari QS Ranking Asia 2026 (posisi 445), MQA Malaysia hingga The World Class University Rankings.

Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd mengutarakan bahwa peningkatan jumlah pendaftar internasional ini menjadi indikator positif bagi upaya internasionalisasi kampus yang terus dikembangkan UMSU. Selain memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi berdaya saing global, menurutnya, kehadiran mahasiswa dari berbagai negara juga diharapkan dapat memperluas jejaring akademik dan kolaborasi internasional universitas. (dmp)

Cek Langsung MBG untuk Ibu Hamil dan Balita di Dairi, Menteri Wihaji Perkuat Perang Lawan Stunting

KUNKER: Menteri Wihaji didampingi Bupati Dairi Vickner Sinaga dan anggota Komisi II DPR-RI, Ahmad Doli Kurnia Tanjung saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Dairi, Kamis (4/6). (RUDY SITANGGANG/SUMUT POS).
KUNKER: Menteri Wihaji didampingi Bupati Dairi Vickner Sinaga dan anggota Komisi II DPR-RI, Ahmad Doli Kurnia Tanjung saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Dairi, Kamis (4/6). (RUDY SITANGGANG/SUMUT POS).

DAIRI – Komitmen pemerintah dalam menekan angka stunting terus diperkuat hingga ke daerah. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, turun langsung ke Kabupaten Dairi untuk bertemu ribuan kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) sekaligus memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran prioritas berjalan optimal.

Kunjungan kerja yang dipusatkan di Gedung Balai Budaya Sidikalang, Kamis (4/6), disambut Bupati Dairi Vickner Sinaga, Bupati Pakpak Bharat Franc Bernhard Tumanggor, unsur Forkopimda, serta dihadiri anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tanjung. Sekitar 1.000 kader TPK dari Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat turut mengikuti kegiatan tersebut.

Menteri Wihaji mengatakan, kunjungannya ke Sumatera Utara bertujuan memperkuat peran kader pendamping keluarga sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Saya datang untuk memberikan penjelasan sekaligus mengecek langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Berdasarkan Peraturan Presiden, kementerian kami ditugaskan mendistribusikan MBG untuk kelompok 3B ini,” ujar Wihaji.

Menurutnya, kader TPK menjadi ujung tombak pemerintah dalam memastikan program tersebut tepat sasaran. Karena itu, pihaknya sengaja mengumpulkan para kader untuk mendengarkan langsung berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.

Wihaji menegaskan, distribusi MBG bagi kelompok rentan tersebut merupakan salah satu strategi utama pemerintah dalam menekan angka stunting yang hingga kini masih menjadi tantangan nasional.

“Secara nasional angka stunting masih berada di kisaran 19 persen. Kita berharap melalui program prioritas Presiden ini, angka tersebut bisa terus ditekan sehingga lahir generasi yang lebih sehat dan berkualitas,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Wihaji juga memberikan edukasi secara interaktif kepada para kader TPK dan Posyandu terkait penyebab stunting, pola pendampingan keluarga, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak masa kehamilan.

Sementara itu, Bupati Dairi Vickner Sinaga menyambut baik kunjungan Menteri Wihaji yang dinilai menjadi suntikan semangat baru bagi pemerintah daerah dalam mempercepat penanganan stunting.

Menurut Vickner, persoalan kependudukan dan stunting merupakan agenda prioritas yang sejalan dengan program pemerintah pusat dalam membangun sumber daya manusia unggul. “Pemkab Dairi memiliki semangat yang sama dengan pemerintah pusat untuk menekan angka stunting. Ini bagian dari upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.

Vickner juga menegaskan dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis yang saat ini terus diperluas di Kabupaten Dairi. Hingga kini, sebanyak 38 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah dibangun untuk mendukung distribusi MBG kepada masyarakat, termasuk kelompok 3B. “Dari pantauan kami di lapangan, masyarakat sangat membutuhkan program MBG. Karena itu kami siap mendukung penuh pelaksanaannya,” katanya.

Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tanjung menambahkan bahwa Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memiliki peran strategis karena tidak hanya mengurusi persoalan kependudukan dan keluarga berencana, tetapi juga berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan juga kualitas manusianya. “Karena itu pemerintah daerah harus terus berkoordinasi dan mendukung program-program kementerian ini. Kualitas manusia menjadi faktor utama dalam menentukan kemajuan bangsa,” ujar Ahmad Doli.

Ia juga mengungkapkan bahwa DPR RI saat ini sedang memperjuangkan revisi Undang-Undang Kependudukan dan Keluarga Berencana guna memperkuat berbagai program pembangunan keluarga dan kesejahteraan masyarakat. (rud/ila)

Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd Paparkan Fondasi Filosofis Transformasi Pendidikan Berdampak

CENDERA MATA: Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd menerima pengalungan ulos dari kepala bagian umum LLDikti Wilayah I. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)
CENDERA MATA: Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd menerima pengalungan ulos dari kepala bagian umum LLDikti Wilayah I. (Deddi Mulia Purba/Sumut Pos)

Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd memaparkan tentang ‘Fondasi Filosofis Transformasi Pendidikan Berdampak: Relasi Ilmu, Nilai, Kemanusiaan dan Dimensi Spiritual-Moral Pembangunan’ dalam seminar di Medan, Rabu (3/6).

Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd mengemukakan bahwavtransformasi pendidikan sering dipahami secara sempit sebagai perubahan kurikulum, digitalisasi layanan atau peningkatan indikator kinerja. Pemahaman demikian tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum memadai. Transformasi yang sejati menuntut pergeseran cara pandang tentang manusia, ilmu, nilai dan arah pembangunan.

Pendidikan tidak dapat direduksi menjadi mekanisme produksi kompetensi kerja, karena pada saat yang sama ia membentuk nalar, karakter, tanggung jawab sosial dan orientasi spiritual peserta didik.

“Disinilah istilah ‘berdampak’ perlu dibaca secara ontologis dan etis. Berdampak bukan hanya berarti tampak pada angka capaian, melainkan nyata dalam kualitas kemanusiaan, keberdayaan masyarakat dan kemaslahatan publik. Philosophical Foundation of Transformation sebagai dasar untuk menjabarkan makna berdampak, relasi ilmu-nilai-kemanusiaan, pendidikan karakter, dimensi spiritual-moral pembangunan dan kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai,” katanya pada seminar pemecahan rekor Muri ’10 pohon ilmu’ yang diikuti 58 ribu peserta dari 118 perguruan tinggi swasta se-Sumut.

Disebutkannya, lima unsur tersebut membentuk kerangka normatif yang penting bagi pendidikan di Indonesia. Khususnya ketika pembangunan daerah seperti ‘Sumut Berkah’ hendak dibaca bukan sebagai jargon administratif, melainkan sebagai orientasi nilai. Pembangunan harus menyejahterakan, memartabatkan dan menumbuhkan akhlak publik.

Secara konseptual, lanjut rektor UMSU, pendidikan berdampak mensyaratkan tiga perubahan. Pertama, perubahan tujuan dari sekadar keluaran administratif menuju pembentukan manusia berpengetahuan, berkarakter dan berdaya. Kedua, perubahan proses dari pengajaran yang berpusat pada transfer informasi menuju pembelajaran dialogis, reflektif dan kontekstual.

Ketiga, sebut rektor, perubahan ukuran keberhasilan. Dari dominasi angka menuju keseimbangan antara kompetensi, karakter, partisipasi sosial dan kemanfaatan. “Arah ini sejalan dengan gagasan Dewey tentang pendidikan sebagai proses sosial-demokratis, Freire tentang pendidikan yang membebaskan serta Biesta tentang pentingnya menilai pendidikan dari dimensi kualifikasi, sosialisasi dan subjektifikasi,” rincinya.

Makna ‘berdampak’ secara ontologis? Rektor UMSU menyebutkan bahwa dampak pendidikan menunjuk pada perubahan nyata dalam keberadaan manusia dan masyarakat. Bukan sekadar efek luar dari sebuah program, melainkan transformasi kualitas eksistensial. Cara seseorang memahami diri, berelasi dengan orang lain, memaknai ilmu dan berkontribusi bagi kehidupan bersama.

“Dengan pengertian ini, dampak pendidikan tidak boleh disamakan dengan keluaran jangka pendek. Nilai ujian, jumlah lulusan, atau akreditasi tetap penting, tetapi semuanya adalah indikator antara, bukan tujuan akhir,” katanya.

Ontologi dampak memandang peserta didik sebagai subjek yang bertumbuh, bukan objek intervensi. Peserta didik memiliki potensi akal, moral, spiritual, sosial dan kreativitas yang harus dikembangkan secara utuh. “Pandangan ini dekat dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan sebagai tuntunan terhadap kekuatan kodrat anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat,” ungkapnya.

Dalam bahasa kontemporer, menurut Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd, pendidikan berdampak adalah pendidikan yang memperluas kapabilitas manusia. “Sebagaimana pembangunan menurut Sen tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari perluasan kebebasan substantif manusia. Makna berdampak juga bersifat relasional. Dampak tidak berhenti pada individu yang kompeten, tetapi menyentuh keluarga, komunitas, institusi dan ekologi sosial,” ujarnya.

Pendidikan yang menghasilkan lulusan cerdas tetapi abai terhadap keadilan, empati dan amanah publik belum dapat disebut berdampak secara penuh. Oleh karena itu, ontologi dampak harus memasukkan dimensi kebermanfaatan sosial, bukan hanya prestasi individual.

Pendidikan yang baik melahirkan pribadi yang mampu memperbaiki lingkungan, bukan hanya beradaptasi dengan lingkungan yang ada.
“Dari sudut pandang Islam, dampak pendidikan terkait dengan pembentukan insan beradab. Manusia yang menempatkan ilmu, amal, dan akhlak secara proporsional,” kata rektor.

Dalam kesempatan ini, guru besar UMSU juga memaparkan tentang makna berdampak secara etis. Demikian juga tentang relasi ilmu, nilai dan kemanusiaan yang merupakan inti dari fondasi filosofis transformasi. Relasi ilmu-nilai-kemanusiaan mendorong rekonstruksi kurikulum. Kurikulum tidak cukup memuat daftar kompetensi.

Perlu menyusun pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan masalah nyata, pertimbangan etis dan tindakan sosial. Misalnya, pembelajaran sains dapat dikaitkan dengan etika lingkungan. Pembelajaran ekonomi dengan keadilan distribusi. Pembelajaran agama dengan kepedulian sosial. Pembelajaran teknologi dengan tanggung jawab digital.

“Dengan cara ini, ilmu menjadi sarana memanusiakan manusia dan memperbaiki kehidupan bersama,” katanya seraya menegaskan pendidikan sebagai pembentukan karakter, bukan hanya kompetensi.

Pendidikan berdampak dibawah semangat ‘Sumut Berkah’ berarti menciptakan ekosistem belajar yang menumbuhkan kecakapan akademik sekaligus kepekaan terhadap kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, konflik sosial dan masalah moral publik. Dengan demikian, pendidikan menjadi jembatan antara iman, ilmu, amal dan pembangunan,” tegas rektor.

Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd juga menyampaikan kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai. Pragmatisme tanpa nilai menjadikan pendidikan mudah mengikuti tuntutan pasar tanpa menanyakan apakah tuntutan itu adil, manusiawi dan berkelanjutan.
Kritik terhadap pragmatisme tanpa nilai penting karena pendidikan kontemporer berada dalam tekanan performativitas.

Lembaga pendidikan dituntut menghasilkan lulusan cepat kerja, publikasi meningkat, akreditasi unggul dan indikator kinerja tercapai. Semua itu diperlukan, tetapi berbahaya jika menjadi orientasi tunggal.

Agar fondasi filosofis tidak berhenti sebagai wacana, Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd mengatakan bahwa diperlukan model implementasi. Model transformasi pendidikan berdampak dapat disusun melalui rantai nilai: fondasi filosofis, desain kelembagaan, proses pembelajaran, asesmen dampak dan umpan balik perbaikan.

Rantai ini menempatkan nilai sebagai titik awal sekaligus titik evaluasi. Transformasi tidak dimulai dari teknologi atau prosedur, tetapi dari pertanyaan tentang manusia seperti apa yang hendak dibentuk dan masyarakat seperti apa yang hendak dibangun.
Pada tingkat kelembagaan, kepemimpinan pendidikan perlu membangun visi moral yang operasional.

Bagi perguruan tinggi, termasuk UMSU, kata rektor, implikasinya adalah menghubungkan pengajaran, penelitian, pengabdian dan tata kelola dengan misi kemanusiaan. Pengajaran harus memerdekakan nalar. Penelitian menjawab masalah masyarakat; pengabdian memberdayakan dan tata kelola menjadi teladan integritas. “Dengan demikian, pendidikan tinggi berperan sebagai penjaga akal sehat publik dan pembentuk peradaban,” ungkapnya.

Menutup paparannya, kata rektor UMSU, fondasi filosofis transformasi pendidikan berdampak menegaskan bahwa pendidikan tidak dapat dipahami sebagai urusan teknis semata. Pendidikan adalah proyek kemanusiaan, moral, spiritual dan sosial.

Istilah berdampak secara ontologis menunjuk pada perubahan kualitas keberadaan manusia dan masyarakat. Secara etis menunjuk pada arah kebaikan, keadilan dan kemaslahatan.

Karena itu, lanjut guru besar UMSU, dampak pendidikan harus dilihat dari pembentukan karakter, keberdayaan masyarakat dan keberkahan sosial.
Relasi ilmu, nilai dan kemanusiaan menjadi pusat transformasi. “Ilmu harus bernilai. Nilai harus berilmu. Dan keduanya harus memanusiakan manusia,” tegas rektor UMSU.

Pendidikan sebagai pembentukan karakter bukanlah pelengkap kompetensi, melainkan syarat agar kompetensi digunakan secara bertanggung jawab. Dalam konteks Sumut Berkah, pendidikan perlu mengintegrasikan dimensi spiritual dan moral pembangunan agar kemajuan tidak kehilangan makna.

Dengan kerangka tersebut, menurut Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd, pendidikan menjadi jalan pembentukan manusia yang cerdas, beriman, berakhlak, kritis, kreatif, peduli dan berdaya. Transformasi pendidikan yang berfondasi filosofis bukan hanya perubahan sistem, melainkan perubahan arah peradaban.

“Kemajuan yang bermakna harus menumbuhkan martabat manusia dan menjadikan ilmu sebagai amanah untuk kebaikan bersama,” kata tokoh pendidikan Sumut yang pernah menjadi dekan Fakultas Agama Islam UMSU tersebut. (dmp).

IFA7 World Championship 2026, Indonesia Raih Medali Perak

MEDALI PERAK: Indonesia raih medali perak IFA7 World Championship 2026 di Honduras.
MEDALI PERAK: Indonesia raih medali perak IFA7 World Championship 2026 di Honduras.

JAKARTA – Tim Football Association (FA) 7 Indonesia menorehkan sejarah di panggung sepak bola dunia. Setelah menciptakan kejutan besar dengan menyingkirkan Brasil di babak semifinal, skuad Garuda akhirnya sukses meraih medali perak atau runner-up IFA7 World Championship 2026 usai menghadapi tuan rumah Honduras di partai final yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

Pencapaian ini menjadi prestasi membanggakan bagi Indonesia di ajang sepak bola tujuh pemain internasional. Meski belum berhasil membawa pulang trophy juara dunia, keberhasilan menembus final dan meraih posisi kedua dunia menunjukkan perkembangan pesat sepak bola FA7 Indonesia di level internasional.

Perjalanan Indonesia menuju final menjadi sorotan dunia setelah tampil luar biasa pada babak semifinal dengan menumbangkan Brasil, salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. Dalam laga yang berlangsung sengit, Indonesia memastikan kemenangan melalui drama adu penalti dengan skor 2-1 dan mengamankan tiket ke partai puncak.

Di final, semangat juang para pemain Indonesia tetap menyala. Permainan kolektif, disiplin, dan penuh determinasi yang ditunjukkan skuad Garuda membuat nama Indonesia semakin diperhitungkan dalam peta sepak bola FA7 dunia. Momen berkumandangnya lagu Indonesia Raya di hadapan publik internasional menjadi simbol kebanggaan tersendiri bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden FA7 Indonesia Raden Bambang Pramukantoro mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas pencapaian bersejarah tersebut.

“Pencapaian Timnas Indonesia menjadi juara dua atau runner-up sudah sangat luar biasa di Piala Dunia IFA7 World Championship ini. Berkat kasih karunia Tuhan, Bangsa Indonesia masih diberikan kesempatan untuk tampil di Piala Dunia,” ujar Bambang Pramukantoro.

Menurut Bambang, keberhasilan meraih medali perak ini menjadi persembahan spesial bagi seluruh rakyat Indonesia yang sedang memperingati Hari Lahir Pancasila. “Kami persembahkan kemenangan ini kepada Bangsa Indonesia sebagai hadiah Hari Lahir Pancasila yang tepat di hari ini, 1 Juni,” kata Bambang Pramukantoro.

Ia juga menyoroti keberhasilan Indonesia menumbangkan Brasil sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah FA7 Indonesia. “Ini satu kebanggaan tersendiri. Timnas Indonesia berhasil mengalahkan tim dari Negeri Samba. Ke depan kami akan berlatih lebih keras dan lebih disiplin lagi agar prestasi kita semakin gemilang di masa yang akan datang,” ucapnya.

Bambang menegaskan komitmennya untuk membesarkan FA7 Indonesia hingga menjangkau seluruh daerah dari Aceh sampai Papua. Menurut dia, sepak bola tujuh pemain memiliki potensi besar berkembang karena tidak membutuhkan fasilitas seluas sepak bola konvensional.

“Kami akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa dari seluruh pelosok Republik Indonesia untuk menunjukkan bakat terbaik mereka,” papar Bambang Pramukantoro.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemain, pelatih, ofisial, manajemen FA7 Indonesia, serta masyarakat Indonesia yang telah memberikan dukungan dan doa selama turnamen berlangsung.

Dengan raihan medali perak IFA7 World Championship 2026, Indonesia tidak hanya mencatat sejarah baru di pentas internasional, tetapi juga membuka harapan besar bagi lahirnya generasi baru pemain FA7 yang mampu membawa Merah Putih meraih gelar juara dunia pada masa mendatang. (jpc/tri)