Home Blog Page 6040

Kabag Humas Pemprovsu, Indah Dwi Kumala

ALAM: Indah bersama anakanaknya saat menikmati alam Indonesia, baik pantai maupun perbukitan.(foto: Ist\sumutpos

 

ALAM: Indah
bersama anakanaknya
saat
menikmati
alam
Indonesia, baik
pantai maupun
perbukitan.(foto: Ist\sumutpos

– Menjadi seorang traveller, ternyata sudah tertanam di jiwa Indah Dwi Kumala, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat pada Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu, sejak berseragam putih abu-abu. Bahkan kini, Indah mengaku dunia travelling sudah menjadi kebutuhan hidupnya di setiap ada kesempatan dan rezeki.

Mantan Kabag Humas Pemkab Serdangbedagai ini mengatakan, sejak duduk dibangku SMA, ia sudah berwisata ke beberapa daerah di Sumatera Utara. Tak hanya sekadar berwisata bersama teman-teman seangkatannya, waktu remaja Indah juga hobi ngecamp ke Gunung Sibayak, Lau Kawar Sinabung sampai daerah Pangururan.

“Sejak remaja (SMA) saya sudah senang jalan-jalan (travelling). Waktu SMA paling jalan-jalannya itu masih seputaran wilayah Sumut saja. Tapi ketika sudah kuliah dan jadi mahasiswi, saya mulai jalan agak jauh ke Pulau Jawa,” katanya saat berbincang dengan Sumut Pos, Selasa (14/8).

Selain menyalurkan hobi travelingnya, alumnus Fisipol Universitas Sumatera Utara ini semasa SMA juga senang ngecamp dan mendaki gunung bersama kawan-kawan seangkatannya. “Seperti pernah mendaki Gunung Sibayak. Kalau camping pernah di Bukit Lawang, Lau Kawar, dan Pangururan sampai masa kuliah,” katanya.

Menurut Indah, selain menikmati pemandangan alam, keasyikan saat melakukan travelling juga untuk menikmati kuliner yang ada di daerah tersebut. Bahkan disela kesibukannya mendampingi kegiatan gubernur, wakil gubernur dan Sekdaprovsu, jika ada kesempatan dan rezeki yang cukup, ia bersama keluarga senantiasa menyempatkan diri untuk berlibur.

“Kalau ada kesempatan dan persediaan uang yang cukup, saya dan keluarga pasti jalan-jalan. Seperti ke Pulau Jawa berkeliling naik mobil. Selain menikmati suasana alam, kuliner dan paling sering itu mengunjungi pantai karena memang senang dengan panorama pantai,” ujar alumni SMA Negeri 11 Medan itu.

Adapun spot yang paling intens dikunjungi Indah bersama keluarga, yakni Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. “Hampir setiap tahun pasti ada mengarah ke sana (Sabang). Pernah juga ke Tapak Tuan dan Pulau Banyak. Disamping itu kalau diluar Sumatera, bersama anak-anak pernah ke Lombok dan juga Bali,” kata wanita kelahiran Sei Karang, Deliserdang itu.

Bagi Indah Dwi Kumala, aktivitas travelling bukan sekadar mengisi waktu luang untuk membuang penat usai menghadapi rutinitas yang begitu padat. Namun sudah menjadi kebutuhan hidup agar lebih relaksasi dalam menjalani kehidupan di masa mendatang.

“Jadi saya suka travelling ini memang gak sekadar gaya hidup lagi, tapi sudah menjadi kebutuhan hidup. Karena dengan jalan-jalan dan datang ke daerah yang baru selain menjadi pengalaman baru pula, tentu menambah semangat secara pribadi untuk memulai rutinitas kerja kembali,” pungkas ibu dari Aulia Tarinda Putri, Ariq Farhan Maulana dan Allya Amanda ini. (prn/ram)

Hentikan Pengutipan SPM di Polmed

PEMAPARAN:Direktur Polmed, M Syahruddin (tengah) saat memberikan keterangan pers di Kampus Polmed.(foto: BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos)
PEMAPARAN:Direktur Polmed, M Syahruddin (tengah) saat memberikan keterangan pers di Kampus Polmed.(foto: BAGUS SYAHPUTRA/Sumut Pos)

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Kebijakan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk menghentikan Sumbangan Peningkatan Mutu (SPM) dari mahasiswa baru, dinilai menjadi suatu ancaman bagi Politeknik Negeri Medan (Polmed) melakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan akreditasi menjadi A.

“Dana yang berasal dari SPM ini yang kami gunakan untuk berbagai kegiatan-kegiatan peningkatan mutu yang juga mendukung perbaikan perbaikan akreditasi,”ungkap Direktur Politeknik Negeri Medan (Polmed), M Syahruddin kepada wartawan di Kampus Polmed, Selasa (14/8) siang.

Dalam keterangan persnya, Syahruddin didampingi Wakil Direktur (Wadir) I Polmed, Nursiah, Wadir II Polmed, Abdul Rahman, Wadir III Polmed, Nisfan Bahri, dan Wadir IV Polmed, Berta Ginting menyebutkan bahwa penghentian SPM dikarenakan tidak mendapat izin dari Kemenristekdikti.

“Pihak Inspektorat Jendral Kementerian melakukan ivenstigasi dan mengaudit. Kemudian, uang SPM yang bersumber dari mahasiswa baru tahun ini sebesar Rp1,4 miliar tersebut dikembalikan untuk negara,”kata Syahruddin.

Dijelaskan Syahruddin, turunnya tim Inspektorat Jendral Kemenristekdikti untuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat atas penerimaan mahasiswa baru Polmed pada gelombang II Tahun Ajaran 2018/2019.

“Positifnya, tugas kami akan berkurang. Dengan tidak adanya SPM itu, kegiatan-kegiatan yang biasanya untuk menunjang akademik, tidak seperti biasa lagi,” jelas Syahruddin.

Sebab, lanjut Syahruddin, penerapan sistem SPM dimulai tahun 2016 dan mendapat persetujuan dengan melibatkan seluruh elemen pengambil kebijakan di Polmed yang sesuai peraturan Kemenristekdikti seperti dewan penyantun, senat, unsur pimpinan direktur dan satuan pengawas internal.

“Dana dari SPM inilah yang kami gunakan untuk program pembentukan karakter mahasiswa dengan bekerjasama dengan Rindam I/BB, kemudian pembinaan unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan berbagai kegiatan lainnya. Hasilnya positif, mahasiswa sangat disiplin sehingga seluruh program pendidikan di Polmed berhasil,” tutur Syahruddin.

Menurut Syahruddin, meningkatnya kualitas mahasiswa atas peningkatan karakter dinilai tidak lepas dari sumbangsih besar dalam memudahkan peningkatan akreditasi mereka. Dari 17 program studi (Prodi) yang sudah berakreditasi dan B. Secara institusi Polmed sendiri saat ini sudah memiliki akreditasi B.

“Kalau akreditasi kita sudah B, itu ikut memudahkan alumni melamar CPNS. Karena kalau akreditasinya C itu tidak diterima, bahkan di perusahaan-perusahaan juga akan sulit mereka diterima,” ungkapnya.

Ditegaskan Syahruddin, pihaknya harus pasrah atas kebijakan Kemenristekdikti untuk menghentikan SPM.

Maka dari itu, sambung Syahruddin, dana SPM sebesar Rp1 miliar tersebut sudah disimpan di rekening Kemenristekdikti.

“Kami patuhi, namun ini akan berimplikasi pada penghentian berbagai upaya peningkatan mutu yang bersumber dari dana SPM itu. Kami tidak dapat berbuat banyak, karena disisi lain Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang harusnya menjadi hak mahasiswa, juga tidak kami terima dari negara sesuai jumlah yang dibutuhkan,”beber Syahruddin.

Pun begitu, Syahruddin berkomitmen akan tetap berupaya untuk menjaga proses pendidikan tetap berjalan meskipun dengan berbagai keterbatasan yang ada. Polmed memastikan seluruh upaya peningkatan mutu akan kembali berjalan tanpa adanya SPM dengan catatan BOPTN dapat mereka terima dari pemerintah sesuai kebutuhan mahasiswa.

“Sekarang uang kuliah tunggal mahasiswa hanya Rp500 ribu hingga Rp3,2 juta. Sementara biaya kuliah yang diperlukan per mahasiswa ada pada kisaran Rp11 juta. Lantas darimana kami menutupinya? Harusnya selisih itu ditutupi dari BOPTN. Namun faktanya tidak, BOPTN yang kami terima tidak sesuai dengan kebutuhan. Artinya sangat tidak adil,” tandasnya.(gus/han)

Annisa Putri Tanjung, Siswi SMA NII Peraih Medali Emas di Ajang Popdasu 2018

PRESTASI: Annisa Putri menunjukkan sejumlah penghargaan yang diraihnya dari cabang olahraga renang.(foto/sumutpos-adz)
PRESTASI: Annisa Putri menunjukkan sejumlah penghargaan
yang diraihnya dari cabang olahraga renang.(foto/sumutpos-adz)

SUMUTPOS.CO – Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD), Annisa Putri Tanjung telah menorehkan prestasi di cabang olahraga renang. Deretan prestasi yang diraihnya, tak lepas dari peran kedua orangtuanya, terutama sang Ayah, Syafrizal Tanjung. Kini, dia tengah membidik target emas di ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

SEJAK usia 3 tahun, Annisa Putri sudah dikenalkan sang Ayah olahraga renang. Kala itu, sang ayah mengajaknya belajar renang di Kolam Renang Unimed. Bukan cuma Annisa, abangnya Muhammad Fachri juga ikut berlatih berenang.

Ternyata, bakat yang dimiliki Annisa dan Fachri ini tercium beberapa pelatih renang di Unimed, sehingga disarankan untuk bergabung dengan club renang yang ada di sana. Selanjutnya, ia pun berlatih renang lebih serius lagi untuk mengikuti kejuaraan renang baik tingkat Kota Medan, provinsi, maupun nasional.

Kejuaraan yang pertama kali diikutinya yakni lomba renang tingkat Kelas 3-4 SD se-Kota Medan untuk kategori pemula. “Alhamdulilah, saya meraih Juara satu di kejuaraan itu. Itu prestasi yang pertama saya raih dalam karir renang saya,” kenang siswa Kelas XII IPA SMA Nurul Islam Indonesia (NII), saat ditemui Sumut Pos di sekolahnya, Jalan Megawati/Halat Ujung Nomor 20, Medan Area, Selasa (8/8). Saat itu, Annisa didampingi Kepala SMA NII Ali Kadir Lubis SPd dan Sekretaris Yayasan NII Taufiq Parlaungan Pasaribu.

Sejak meraih juara, dia pun semakin giat berlatih dan sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan renang antar pelajar atau junior. Bahkan, dia sempat mendapat kesempatan untuk berlatih di Jakarta. Selama tiga tahun dia berada di Jakarta.

Prestasi lain yang selalu dikenangnya yakni saat even Pekan Olahraga Pelajar Daerah Sumatera Utara (Popdasu) di Kolam Renang Selayang, pada Mei 2016 lalu. Kala itu, Annisa meraih emas di nomor 200 meter gaya bebas renang perairan terbuka putri dengan catatan waktu 2,21.84 detik, mengalahkan Dinda Safira, atlet Pelatda Prioritas PON Sumut yang menjadi runner up dengan catatan waktu 2,22.11 detik.

Teranyar, Annisa Putri juga membawa harum nama Kota Medan di ajang Popdasu 2018 yang digelar di Padangsidimpuan, baru-baru ini. Dia menyabet medali emas yakni diantaranya di nomor 200 meter gaya bebas putrid dan 100 meter gaya bebas putri. “Tahun lalu, saya sempat mendapat tawaran dari Bangka Belitung (Babel) dan Bekasi, Jawa Barat untuk menjadi atlet renang di sana. Namun ayah saya tidak mengizinkan. Karena menurut ayah, saya masih butuh banyak pengalaman lagi,” ungkap putri dari Syafrizal Tanjung dan Farida Pohan ini sambil mengungkapkan kalau abangnya, Muhammad Fachri sudah menjadi atlet renang mewakili Jawa Barat.

Dalam menjaga prestasinya saat ini, Annisa tetap rutin berlatih di kolam renang Unimed. “Saya setiap hari berlatih di kolam renang Unimed, kecuali hari Minggu. Saya dilatih oleh ayah saya sendiri, dari jam 5 pagi sampai jam 7 pagi. Setelah itu baru saya pergi ke sekolah,” beber bungsu dua bersaudara ini.

Diakuinya, Yayasan Nurul Islam Indonesia Baru tempat dia bersekolah saat ini sangat mendukung dirinya menjadi atlet. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan yakni, dispenisasi waktu masuk sekolah. “Karena latihan setiap pagi, saya jadi selalu terlambat masuk sekolah. Syukurnya pihak sekolah memberi dispenisasi,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Annisa, pihak sekolah juga proaktif mencari informasi tentang kejuaraan renang yang akan berlangsung untuk diikutinya. “Dalam waktu dekat, akan ada even Popnas dan O2SN. Insya Allah saya akan ikuti dua even itu dan saya menargetkan akan meraih medali emas lagi,” harapnya.

Sementara, Kepala SMA Nurul Islam Indonesia Baru Ali Kadir Lubis SPd MPd mengaku sangat mendukung prestasi anak didiknya ini. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan pihak sekolah, sebut Ali, dengan memberikan keringanan uang sekolah. “Selain itu, kita akan selalu daftarkan anak didik kita ini jika ada kejuaraan renang, baik tingkat Kota Medan, maupun provinsi. Seperti dalam waktu dekat ini, ada ajang Popdasu dan O2SN. Saya kemarin juga sudah ditelepon oleh Disdik Sumut, mereka menanyakan data si Annisa,” ungkap Ali.(adz)

PGN Pasok Gas Bumi ke Pabrik Oleochemical Grup Musim Mas

BERSAMA: Karyawan Perusahaan Gas Negara (PGN) berfoto bersama karyawan pabrik Musim Mas Grup di Medan, Selasa (14/ 8) kemarin.( foto: IST)
BERSAMA: Karyawan Perusahaan Gas Negara (PGN) berfoto bersama karyawan pabrik Musim Mas Grup di Medan, Selasa (14/
8) kemarin.( foto: IST)

MEDAN, SUMUTPOS.COM – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sukses melakukan pengaliran gas (gas in) ke pabrik oleochemical milik PT Musim Mas Martubung Plant yang berada di Jl. Rawe, Kelurahan Titi Papan, Kecamatan Medan Deli, Medan, Sumatera Utara.

Perusahaan milik grup Musim Mas tersebut menjadi pelanggan baru PGN Area Medan, usai menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan volume pemakaian gas 600 – 780 ribu m3 per bulan, atau setara dengan 0,77 – 1 BBTUD per bulan.

“Musim Mas Martubung Plant merupakan pengembangan pabrik baru grup Musim Mas di Kota Medan. Kami berhasil membangun jaringan pipa distribusi gas tepat waktu, sehingga pada hari ini bisa memulai gas in untuk keperluan produksi oleochemical pabrik tersebut,” ujar Sales Area Head PGN Wilayah Medan, Saeful Hadi dalam keterangan resmi, Selasa (14/8).

Musim Mas merupakan perusahaan kelapa sawit besar yang dirintis oleh Anwar Karim dari sebuah pabrik sabun Nam Cheong di Medan, Sumatera Utara pada tahun 1932. Dibawah kepemimpinan Bachtiar Karim, sang putra sulung, Musim Mas berkembang menjadi perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit asal Indonesia yang memiliki sejumlah cabang di beberapa negara. Pada 2004, Musim Mas juga tercatat sebagai perusahaan Indonesia yang pertama kali mendapat sertifikat Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Sebelumnya, PGN Area Medan berhasil memasok gas sebanyak 240 ribu m 3 per bulan untuk PT Alfo Citra Abadi, perusahaan aluminium extrusion yang selama ini menggunakan batu bara sebagai sumber energi produksinya. Perusahaan yang mengekspor jendela, lemari, tangga, dan pintu berbahan aluminium ke Australia dan Amerika Serikat ini merasakan efisiensi dengan menggunakan gas bumi dari PGN.

Sepanjang kuartal I 2018, PGN Area Medan berhasil menjual gas sebanyak 13,5 juta British Thermal Unit (MMBTU) kepada 20.400 pelanggan yang ada di kota tersebut. Realisasi tersebut 7% lebih tinggi dibandingkan target yang diberikan grup PGN kepada Area Medan.

Saeful menjelaskan, realisasi penjualan yang melampaui target didorong oleh konsumsi dari pelanggan komersil dan industri yang terus bertumbuh, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Kota Medan yang terus melaju pesat. (rel/ram)

Lima Kali, PDAM Tirtanadi Raih Zero Accident Award

Direktur Air Limbah PDAM Tirtanadi , Heri Batanghari (foto : ISTIMEWA/sumutpos
Direktur Air Limbah PDAM Tirtanadi , Heri Batanghari (foto : ISTIMEWA/sumutpos

MEDAN,SUMUTPOS.CO – PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera untuk kelima kalinya mendapatkan Zero Accident Award (Penghargaan Kecelakaan Nihil) Tingkat Nasional dan juga menerima Bendera Emas yang merupakan prestasi tertinggi hasil audit eksternal oleh PT Surveyor Indonesia dalam mengimplentasikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di lingkungan Kantor Pusat PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.

Penganugerahan penghargaan ini diserahkan oleh Sekretaris Jenderal Kementrian Tenaga Kerja, Hery Sudarmanto mewakili Menaker Hanif Dhakiri yang diterima oleh Heri Batangari Nasution selaku Direktur Air Limbah PDAM Tirtanadi didampingi Sekretaris P2K3, Moh. Rachmat Katarina dan Alamsyah Pohan selaku Kabid Sistem Manajemen Mutu di Hotel Bidakara Jakarta (09/08)
“Memang kami sudah berkomitmen dan menjadikan kecelakan nihil sebagai proritas untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja karena dengan penerapan K3 yang baik maka Zero Accident bisa tercapai,” kata Heri Batangari kepada wartawan melalui selulernya, Selasa (13/08)
Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri dalam sambutannya mengatakan bahwa Penganugerahan Penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) atau K3 Award 2018 merupakan bentuk apresiasi kepada perusahaan yang telah menerapkan K3 di lingkungan kerja dengan baik.

“Penghargaan K3 diberikan kepada perusahaan yang berhasil melaksanakan K3. Penghargaan ini diharapkan dapat memotivasi pekerja, pengusaha, perusahaan dan berbagai pihak terkait untuk menerapkan K3,” kata Menaker Hanif Dhakiri dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekjen Kemenaker Hery Sudarmanto pada acara Penghargaan K3, Kamis malam 9 Agustus 2018.

Penghargaan K3 tahun 2018 ini meliputi lima kategori antara lain Penghargaan Kecelakaan Nihil, Penghargaan Sistem Manajemen K3 (SMK3), Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS (P2HIV-AIDS) di tempat kerja, Pembina K3 dan Peduli HIV-AIDS di tempat kerja.

“Jumlah perusahaan yang menerima penghargaan kecelakaan nihil tahun 2018 mengalami peningkatan dibanding tahun 2017. Dari 901 perusahaan pada 2017 menjadi 952 perusahaan pada 2018 atau naik 5,4 persen. Ini merupakan indikasi jika banyak perusahaan yang mulai sadar akan penerapan K3,” ujar Menaker Hanif.

Sementara itu, sebanyak 1.465 perusahaan menerima penghargaan SMK3, 123 perusahaan mendapatkan penghargaan program P2HIV-AIDS, dan 15 Gubernur dinobatkan sebagai pembina K3 terbaik.

Gubernur tersebut antara lain, Gubernur Jawa Timur, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Kalimantan Timur, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Banten, Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Riau, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Kalimantan Selatan, Gubernur Jambi, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Kalimantan Tengah, Gubernur Nangroe Aceh Darussalam, Gubernur Bali dan Gubernur Lampung.

Martabak Kekinian di Cafe Makyung Medan

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Martabak, makanan yang berasal dari Timur Tengah ini tetap menjadi idola dan kuliner pilihan siapa saja. Ya, makanan olahan ini merupakan cemilan yang bisa mengenyangkan perut yang menyantapnya.

Bila pada umumnya kita terbiasa menyantap martabak manis maupun martabak telur, bagaimana kalau kita mencoba untuk menikmati martabak dengan rasa ‘kekinian’?
Ya, di Café Makyung yang terletak di Jalan Halat Medan, pilihan martabaknya cukup menarik yang pasti akan menarik perhatian para pecinta kuliner. Disini, ada martabak pizza, bentuknya dan rasanya? Ya jelas seperti pizza, ada juga martabak keju, martabak rumput laut, dan lainnya.

Manajer Operasional Makyung Café, Nuval menyatakan ada 15 varian rasa yang tersedia, sehingga pelanggan bisa memilih sesuai dengan keinginan pelanggan.

“Kami ingin menjadikan martabak sebagai gaya hidup di tengah-tengah masyarakat urban Medan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Makyung berkreasi untuk membuat martabak lain dari yang lain yang membuat kaum muda dan milenial dan tentu saja pecinta kuliner tertarik untuk menikmati makanan ini.

Inovasi rasa inipun terus berkembang sejak Makyung Café berdiri beberapa tahun yang silam. Awalnya, hanya martbaka telur biasa, kemudian bervariasi, dan kemudian martabak pizza dan terus berkembang hingga kini telah memiliki 15 varian rasa.

“Saat ini yang sedang menjadi primadona pelanggan adalah Martabak Mozazila yang isinya terdiri dari martbak itu sendiri, ditambahkan dengan toping keju dan saus pizza home made yang akan memanjakan lidah para pecinta kuliner,” jelasnya.

Selain menyediakan berbagai varian rasa martabak, Makyung Café juga menyediakan berbagai jenis varian jus segar. Choco ice blend, dan ice blend bagi pecinta es krim. Untuk minuman favorit yaitu, jus naga.

Makyung Cafe juga menjadi referensi berkumpulnya para komunitas yang ada diMedan. Ada beberpa komunitas yang pernah meeting atau sekedar kopdar seperti komunitas Medan tours bikers dan Persatuan Laundry Indonesia.

Untuk harga makanan dan minuman kami bandrol dari 29.000 sampai 49.000.

Makyung Cafe berada di jalan Halat Nomor 69 simpang senam, Medan, buka setiap hari dari pukul 14.00 sampai 22.00. Untuk informasi dapat menghubungi: 0821 6818 6474 (rel/ram)

PGN Pasok Gas Bumi ke Pabrik Oleochemical Grup Musim Mas

BERSAMA: Karyawan Perusahaan Gas Negara (PGN) berfoto bersama karyawan pabrik Musim Mas Grup di Medan, Selasa (14/ 8) kemarin.( foto: IST)

 

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sukses melakukan pengaliran gas (gas in) ke pabrik oleochemical milik PT Musim Mas Martubung Plant yang berada di Jl. Rawe, Kelurahan Titi Papan, Kecamatan Medan Deli, Medan, Sumatera Utara.

Perusahaan milik grup Musim Mas tersebut menjadi pelanggan baru PGN Area Medan, usai menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan volume pemakaian gas 600 – 780 ribu m3 per bulan, atau setara dengan 0,77 – 1 BBTUD per bulan.

“Musim Mas Martubung Plant merupakan pengembangan pabrik baru grup Musim Mas di Kota Medan. Kami berhasil membangun jaringan pipa distribusi gas tepat waktu, sehingga pada hari ini bisa memulai gas in untuk keperluan produksi oleochemical pabrik tersebut,” ujar Sales Area Head PGN Wilayah Medan, Saeful Hadi dalam keterangan resmi, Selasa (14/8).

Musim Mas merupakan perusahaan kelapa sawit besar yang dirintis oleh Anwar Karim dari sebuah pabrik sabun Nam Cheong di Medan, Sumatera Utara pada tahun 1932. Dibawah kepemimpinan Bachtiar Karim, sang putra sulung, Musim Mas berkembang menjadi perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit asal Indonesia yang memiliki sejumlah cabang di beberapa negara. Pada 2004, Musim Mas juga tercatat sebagai perusahaan Indonesia yang pertama kali mendapat sertifikat Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Sebelumnya, PGN Area Medan berhasil memasok gas sebanyak 240 ribu m 3 per bulan untuk PT Alfo Citra Abadi, perusahaan aluminium extrusion yang selama ini menggunakan batu bara sebagai sumber energi produksinya. Perusahaan yang mengekspor jendela, lemari, tangga, dan pintu berbahan aluminium ke Australia dan Amerika Serikat ini merasakan efisiensi dengan menggunakan gas bumi dari PGN.

Sepanjang kuartal I 2018, PGN Area Medan berhasil menjual gas sebanyak 13,5 juta British Thermal Unit (MMBTU) kepada 20.400 pelanggan yang ada di kota tersebut. Realisasi tersebut 7% lebih tinggi dibandingkan target yang diberikan grup PGN kepada Area Medan.

Saeful menjelaskan, realisasi penjualan yang melampaui target didorong oleh konsumsi dari pelanggan komersil dan industri yang terus bertumbuh, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Kota Medan yang terus melaju pesat. (Rel/ram)

Malindo Air Terbang ke Danau Toba dari Subang

Malindo Air
Malindo Air

PETALING JAYA, SUMUTPOS.CO – Malindo Air akan memulai layanan terbarunya langsung dari pusat kota, melalui Bandar Udara Internasional Subang Skypark, Malaysia (SZB) ke Bandar Udara Internasional Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara (DTB) mulai 17 Agustus 2018.

Tarif promosi ditawarkan mulai dari RM189 sekali jalan dan pemesanan dapat dilakukan pada website www.malindoair.com, kantor tiket, pusat layanan pelanggan dan agen perjalanan pilihan Malindo Air.

Penerbangan Malindo Air dengan nomor OD 360 dari Subang ke Siborong-borong (di mana Bandar Udara Internasional Silangit berada) dijadwalkan berangkat pada pukul 13.45 MYT (waktu Malaysia). Penerbangan menempuh waktu sekitar 1 jam 30 menit dan akan tiba di Siborong-borong pukul 14.15 WIB (waktu lokal).

Penerbangan sebaliknya dengan OD361 dari Silangit akan berangkat pada 14.50 WIB (waktu setempat) dan tiba di Subang pukul 17.15 MYT. Rute ini akan dioperasikan menggunakan pesawat ATR72-600, yang berkapasitas 72 kursi.

Chandran Rama Muthy, CEO Malindo Air berkata, “Kami sangat gembira untuk memperkenalkan kota ketiga yang kami terbangkan dari Subang ke Indonesia, setelah Batam dan Pekanbaru. Ini menandai upaya berkelanjutan kami untuk memperluas jaringan rute Malindo Air ke Sumatra Utara, sebagai hasil dari kerja sama kami dengan Badan Pariwisata Indonesia untuk mempromosikan tujuan ekowisata. ”

“Keberangkatan dari Subang Skypark langsung ke kota di mana Danau Toba berada, akan memberikan keuntungan utama di mana penumpang akan menikmati akses kemudahan dan pengalaman perjalanan yang luar biasa dengan bagasi cuma-cuma 15kg, hal ini tentu menambah nilai lebih bagi wisatawan dalam efisiensi biaya, ” tambahnya.

Siborong-borong adalah pintu gerbang utama ke Danau Toba. Kawasan ekowisata ini  juga merupakan danau terbesar di Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam karena danau ini dikelilingi oleh pegunungan, mata air panas dan air terjun yang memukau. (rel/mea)

Berkarya salah Nomor, PSI soal Ijazah SMA

Menjadi partai politik (Parpol) terbanyak dicoret bakal calon legislatifnya, Partai Beringin Karya (Berkarya) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sumut langsung bereaksi. Kedua pimpinan parpol ini langsung berkonsultasi ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumut untuk memperjuangkan nasib Bacalegnya agar bisa ikut di Pemilu 2019.

PARTAI Berkarya dan PSI Sumut menjadi parpol terbanyak Bacalegnya dicoret KPU, lantaran tidak memenuhi kuota perempuan di satu dapil. Menyikapi ini, Ketua Partai Berkarya Sumut Rajamin Sirait mengatakan, pada prinsipnya kuota bacaleg perempuan parpolnya tidak ada masalah. Hanya saja, nomor urut bacaleg tidak tepat diletakkan.

“Kuota Bacaleg perempuan kami sudah memenuhi. Cuma lantaran nomor urutnya tidak beraturan dinyatakan TMS. Makanya kami ke Bawaslu,” katanya saat dikonfirmasi Sumut Pos, Senin (13/8).

Menurut dia, sesuai aturan, tidak ada keharusan menyusun nomor urut Bacaleg perempuan dan yang terpenting kuotanya terpenuhi 30 persen. “Jadi masalah nomor saja makanya bacaleg kami di TMS. Harusnya tidak segitu jumlahnya, karena masalah itu satu dapil (Sumut 9) jadi gugur semua,” katanya.

Atas keputusan KPU Sumut men-TMS-kan Bacaleg mereka saat pengumuman daftar calon sementara (DCS), pihaknya langsung melakukan konsultasi ke Bawaslu Sumut. “Setahu kami kalau gugur itu bila kuota keterwakilan perempuan tidak terpenuhi. Kami tidak tahu kalau ada aturan yang mengharuskan nomor urut sesuai penempatannya,” pungkasnya.

Ketua PSI Sumut, Fuad Ginting mengungkapkan, Bacaleg mereka yang dinyatakan TMS lantaran tidak melengkapi legalisir ijazah SMA sampai masa perbaikan berkas. “Memang Bacaleg perempuan kami itu sebelumnya BMS. Cuma yang kami sayangkan tidak ada verifikasi dari KPU sampai lewat masa perbaikan. Kami pikir aman dan mereka diam-diam saja. Rupanya waktu pengumuman DCS kita diberi tahu dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.

Namun sekarang masalah itu, kata Fuad sudah clear dan tinggal pengajuan mediasi di Bawaslu. Apalagi setelah pihaknya berkonsultasi dengan anggota Bawaslu, hal ini masih bisa dievaluasi kembali. “Sebelum DCT kan masih bisa diganti. Apalagi khusus bacaleg perempuan,” katanya seraya mengaku siang kemarin masih di kantor Bawaslu untuk berkonsultasi.

Di samping itu, pihaknya mengakui akan segera melengkapi berkas yang kurang tersebut. Karena persoalannya begitu sepele yang cuma tidak ada stempel basah pada legalisir ijazah Bacaleg mereka. “Jadi sudah saya bilang kepada komisioner kemarin, kenapa masalah begini tidak disampaikan jauh hari. Sehingga kita tidak perlu sampai ke Bawaslu sebab ijazah aslinya juga ada,” katanya seraya mengakui akibat hal ini bacaleg mereka semuanya gugur di dapil Sumut I.

“Cuma satu orang saja. Masalahnya ‘kan karena dia perempuan, makanya yang sembilan orang lagi gugur,” imbuh Fuad.

Bawaslu: Masih Konsultasi
Ketua Bawaslu Sumut Syafrida R Rasahan saat dikonfirmasi membenarkan ihwal konsultasi kedua parpol tersebut kepada pihaknya. “Persoalan di TMS kan KPU karena keterwakilan perempuan. Jadi mereka sifatnya masih berkonsultasi, bukan menggugat,” katanya.

Pihaknya juga belum memberi keputusan atas persoalan penempatan nomor urut bacaleg perempuan sesuai PKPU No.20/2018 tentang Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, sehingga dalam satu dapil bacaleg lain bisa dicoret. “Sebenarnya ketentuan di PKPU itu sudah pas. Contohnya dalam satu dapil ada empat calon. Nomor 1 dan 2 dan dibuatnya calon perempuan, 3 dan 4 baru disusun calon laki-laki. Mungkin tidak seperti itu mereka cara nyusunnya,” katanya.

Pun demikian lebih lanjut pihaknya akan coba memediasi persoalan tersebut. “Apakah ada perbedaan penafsiran atas PKPU tersebut, ya nanti akan kita dudukkan kembali,” pungkasnya.

Diketahui, sesuai PKPU No.20/2018 pada Bagian Kedua Persyaratan Pengajuan Bakal Calon Anggota DPR pasal 6 ayat 1 huruf c; setiap partai politik dapat mengajukan bakal calon anggota DPR, disusun dalam daftar bakal calon yang wajib memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30% (tiga puluh persen) di setiap Dapil. Pada huruf d ditekankan bahwa di setiap 3 (tiga) orang bakal colon pada susunan daftar calon sebagaimana dimaksud pada huruf c, wajib terdapat paling sedikit 1 (satu) orang bakal colon perempuan.

Pengamat politik dari UISU Irawanto menilai, banyaknya Bacaleg dari Parpol baru yang dicoret dari DCS merupakan bentuk ketidaksiapan partai menghadapi Pemilu 2019. Hal ini dapat dilihat dari persoalan demi persoalan yang dihadapi, mulai dari syarat calon hingga syarat pencalonan yang mengharuskan mengikutsertakan perempuang sebanyak 30 persen dari total Bacaleg.

“Ya, bagi kita tentu ini gambaran betapa tidak siapnya partai politik menghadapi Pemilu. Khususnya bagi partai baru, mereka cenderung tidak memiliki cukup kader untuk bisa dicalonkan sebagai bacaleg,” sebutnya.

Dengan kondisi ini pula, kata Irawanto, pemilihan dan penempatan pata bacaleg oleh sejumlah partai politik dapat dinilai seperti ‘asal comot’. Meskipun hal ini kemungkinan besar berlaku untuk semua partai politik yang tidak mungkin semua jagoannya punya kemampuan dan keseriusan yang sama dari 100 caleg yang dikuotakan dalam daftar calon untuk setiap partai.

“Karena ingin mengejar kuota jumlah caleg, maka bisa saja kan main tunjuk yang penting ada. Jadi kesannya asal comot saja. Akibatnya calon yang dimasukkan bahkan tidak memenuhi persyaratan administratif,” sebutnya.

Senada dengan itu, pengamat politik dan pemerintahan dari UMSU, Rio Affandi Siregar mengatakan, masalah pencoretan nama Bacaleg oleh KPU lebih dikarenakan syarat administrastif yang tidak terpenuhi.

Karena pada tahapan ini, yang diperlukan adalah kelengkapan berkas pendaftaran yang sifatnya mendasar. “Jadi kalau dihubungkan, apakah ini ada unsur dari partai, itu termasuk ketidaksiapan partai juga. Karena kalau syarat administrasi itukan sudah jelas dari KPU. Tentu sangat disayangkan kalau sampai dicoret, apalagi jumlahnya tidak sedikit,” sebutnya.

Kondisi ini pula yang menurutnya merupakan langkah tidak matang dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa menjadi peserta Pemilu. Atau dengan kata lain, kepesertaaan yang ada khususnya untuk partai baru, kesannya dipaksakan agar bisa ikut pesta demokrasi tanpa kekuatan yang jelas.

Diberitakan sebelumnya, Partai Berkarya dan PSI Sumut menjadi parpol terbanyak yang bakal calon legislatifnya dinyatakan TMS oleh KPU Sumut. Yakni Partai Berkarya sebanyak 11 bacaleg dan PSI sebanyak 10 orang bacaleg dinyatakan TMS.

Komisioner KPU Sumut Divisi Teknis, Benget Manahan Silitonga menjelaskan, selain kedua parpol baru peserta pemilu 2019 itu, Partai Perindo, Partai Garuda, PPP, dan PKS juga ada bacalegnya yang dinyatakan TMS. “Perindo 7 orang, PPP 3 orang, Partai Garuda 2 dan PKS 1 orang bacaleg. Kalau ditotal ada 35 bacaleg yang kita TMS kan. Secara persentase juga kecil, cuma 2,6 persen,” katanya di kantor KPU Sumut, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Minggu (12/8).

Diterangkan Benget, sebenarnya jumlah bacaleg yang TMS tersebut sekitar 25 orang saja. Namun karena ada dua parpol yang terdapat bacaleg perempuannya TMS, maka jumlah bacaleg yang di TMS bertambah. “Syarat 30 persen keterwakilan perempuan inikan wajib.

Jadi ketika ada satu saja calon perempuan TMS, maka satu dapil itu gugur semua,” katanya tanpa mau menyebut bacaleg perempuan dari parpol mana yang mereka TMS kan itu. “Gak perlulah saya sebut, yang jelas parpol baru. Akibat calon perempuan ada TMS, tentu ini berisiko kepada calon lain dalam satu dapil tersebut. Dan itu terjadi di Dapil Sumut I dan Sumut 9,” imbuhnya.

Belum Ada Keberatan Warga Terkait DCS
Terpisah, Komisioner KPU Kota Tebingtinggi Devisi Teknis Wal Ashri SP mengatakan, selama dua hari diumumkannya DCS, belum ada laporan tertulis keberatan dari masyarakat atas nama-nama bacaleg tersebut. “Dua hari sudah diumumkan baik melalui media cetak, media elektronik seperti radio, pemasangan baliho dan spanduk, belum adanya laporan keberatan atas nama bacaleg Kota Tebingtinggi sebanyak 306 caleg,” ungkap Wal Ashri, Senin (13/8).

Untuk keberatan yang diajukan Parpol kepada KPU Kota Tebingtinggi tidak ada, karena semua berkas persyaratan dari Bacaleg yang diverifikasi oleh KPU Devisi Teknis dinyatakan lengkap semua. “Jadi untuk keberatan Parpol tidak ada,”ungkap Wal Ashri.

Terakhir diungkapkan Wal Ashri bahwa untuk berkas Bacaleg Kota Tebingtinggi yang tidak memenuhi syarat (TMS) sebanyak 9 orang dari Parpol lama, tetapi dia mengaku tidak enak menyebutkan parpol dan nama bacaleg yang TMS. (prn/bal/ian)

Tahan Manahan Ditahan

istimewa DITAHAN: Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Tahan Manahan Panggabean duduk di mobil yang membawanya ke rumah tahanan, Senin (13/8) malam.
istimewa
DITAHAN: Mantan anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 Tahan Manahan Panggabean duduk di mobil yang membawanya ke rumah tahanan, Senin (13/8) malam.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan mantan anggota DPRD Sumut, Tahan Manahan Panggabean (TMP), atas kasus suap di DPRD Sumut periode 2009-2014 dan 2014-2019. Politisi Partai Demokrat ini menjadi tersangka ke-12 yang ditahan KPK.

Tahan Manahan Panggabean sebelumnya sempat mangkir dari panggilan KPK pada Selasa (7/8) pekan lalu. Saat itu, Tahan Manahan Panggabean dipanggil penyidik KPK bersama tiga rekannya yang lain yakni, Elezaro Duha, Musdalifah, dan Pasiruddin Daulay.

Namun saat itu, hanya Elezaro yang memenuhi panggilan KPK dan langsung ditahan di Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur Senin (13/8) kemarin, Tahan Panggabean kembali dipanggil penyidik dan ia memenuhi panggilan tersebut.

Berdasarkan pantauan, Tahan keluar dari Gedung KPK pada pukul 18.15 WIB dengan mengenakan rompi tahanan warna oranye. Dia pun mengaku sudah menjelaskan penggunaan uang suap yang diterimanya dari Gatot.

“Saya sudah jelaskan semua ke penyidik KPK tentang gratifikasi yang dituduhkan kepada kami. Terus gratifikasi itu sudah saya jelaskan juga penggunaannya untuk apa,” ujarnya.

Dia menyebut, telah mengembalikan uang suap yang diterimanya kepada negara. “Atas kesadaran kami, kesilapan kami, kealpaan kami, dengan kesadaran kami sudah kembalikan (uang suap) ke negara. Jumlahnya nanti tanya penyidik,” ucapnya.

Politisi Partai Demokrat itu berharap kasus yang menjeratnya segera dituntaskan oleh penyidik. Tahan juga menyinggung soal tuduhan 100 anggota DPRD Sumut diduga menerima uang suap dari Gatot.

“Berikut kita harapkan, kita mendukung KPK menuntaskan kasus ini jangan terlalu lama. Apa yang dituduhkan, 100 orang anggota DPRD Sumatera Utara yang terkait gratifikasi ini, kita harapkan dituntaskan segera, jangan terlalu lama,” ujarnya.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, Tahan Manahan Panggabean yang juga Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut ditahan selama dua puluh hari ke depan. “Tersangka TMP ditahan selama 20 hari pertama di Rutan Polres Jakarta Pusat,” ujarnya kepada wartawan, Senin (13/8).

Disebut Febri, sebenarnya kemarin penyidik KPK mengagendakan pemeriksaan terhadap tiga tersangka. Namun dua di antaranya tidak datang. Kedua tersangka yang juga mantan anggota DPRD Sumut yang tak datang itu yakni Pasiruddin Daulay dan Musdalifah.

Menurut Febri, Pasiruddin dan Musdalifah telah mengirimkan surat dengan alasan masing-masing. Musdalifah tidak hadir lantaran menghadiri acara pernikahan anaknya. Sedangkan Pasiruddin tidak hadir karena sedang dirawat di rumah sakit.

“Tersangka MDH mengirimkan surat dan meminta pemeriksaan dijadwalkan ulang, sampai dengan acara pernikahan anaknya selesai. Sedangkan tersangka PD sedang dirawat di rumah sakit, dan akan dijadwalkan ulang tanggal 16 Agustus 2018 mendatang,” ujar Febri.

Sementara, Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut Herri Zulkarnain Hutajulu enggan berkomentar terkait penahanan Tahan Manahan Panggabean yang merupakan Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Sumut ini. “No comment ya. Besok saja kita jumpa,” kata Herri ketika dihubungi Sumut Pos, tadi malam.

Berdasarkan catatan Sumut Pos, Tahan Manahan Panggabean menjadi tersangka ke-12 yang ditahan. Sebelumnya KPK telah menahan Fadly Nurzal, Rijal Sirait, Roslynda Marpaung, Helmiati, Muslim Simbolon, Rinawati Sianturi, Sonny Firdaus, Mustofawiyah Sitompul, Tiaisah Ritonga, Arifin Nainggolan dan Elezaro Duha.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan 38 anggota DPRD Sumut sebagai tersangka. Mereka yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Rijal Sirait, Rinawati Sianturi, Rooslynda Marpaung, Fadly Nurzal, Abu Bokar Tambak, Enda Mora Lubis, M Yusuf Siregar, Muhammad Faisal, DTM Abul Hasan Maturidi, Biller Pasaribu, Richard Eddy Marsaut Lingga, Syafrida Fitrie, Rahmianna Delima Pulungan, Arifin Nainggolan, Mustofawiyah, Sopar Siburian, Analisman Zalukhu, Tonnies Sianturi, Tohonan Silalahi, Murni Elieser Verawaty Munthe, dan Dermawan Sembiring.

Kemudian, Arlene Manurung, Syahrial Harahap, Restu Kurniawan Sarumaha, Washington Pane, John Hugo Silalahi, Ferry Suando Tanuray Kaban, Tunggul Siagian, Fahru Rozi, Taufan Agung Ginting, Tiaisah Ritonga, Helmiati, Muslim Simbolon, Sonny Firdaus, Pasiruddin Daulay, Elezaro Duha, Musdalifah, serta Tahan Manahan Panggabean.

Anggota dan bekas anggota dewan itu diduga menerima suap ‘uang ketok’ persetujuan atas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pemprov Sumut 2012, persetujuan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2013, serta pengesahan APBD 2014. Selain itu terkait LPJ Pemprov Sumut 2014, pengesahan APBD 2015, serta pembatalan penolakan penggunaan hak interpelasi tahun 2015.

Empat tersangka kasus ini sempat menggugat KPK yakni Arifin Nainggolan, Washington Pane, Muhammad Faisal dan Syafrida Fitrie. Mereka mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Medan. Mereka mempersoalkan penetapan sebagai tersangka kasus suap oleh KPK.

Washington Pane, Syafrida Fitrie, Ariffin Nainggolan, dan Muhammad Faisal berdalih tidak pernah menerima duit dari Gatot.

Menghadapi gugatan ini, kuasa hukum menyampaikan penetapan Washington Pane cs sebagai tersangka berdasarkan alat bukti yang cukup. Mereka merupakan bagian dari 38 ang­gota dan bekas anggota DPRD Sumut yang menerima suap dari Gatot.

Hakim tunggal Erintuah Damanik memutuskan PN Medan tidak berwenang menyidangkan gugatan praperadilan terhadap KPK. Dalam putusan sela, ia menyatakan bisa menerima ar­gumen kuasa hukum KPK. Kuasa hukum menyampaikan pengadilan yang berhak meng­gelar sidang praperadilan adalah PN Jakarta Selatan. Sebab, kantor KPK berada di wilayah itu. (bbs/adz)