28 C
Medan
Monday, April 13, 2026
Home Blog Page 67

Tak Sendiri Bangkit Pascabencana, Bantuan YBM PLN Menguatkan Warga Desa Batu Hula

Penyerahan Sembako dan Alat masak untuk Dapur umum Desa Batu Hula
Penyerahan Sembako dan Alat masak untuk Dapur umum Desa Batu Hula

TAPSEL— Di tengah proses pemulihan pascabencana yang masih berlangsung, bantuan sosial dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN menjadi penguat bagi warga Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Melalui PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, bantuan berupa paket sembako dan peralatan dapur disalurkan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Bantuan tersebut diserahkan secara langsung dan diterima oleh Kepala Desa Batu Hula, M. Ali Nasutionm(9/1/2026), sebagai perwakilan masyarakat. Hingga kini, kondisi sosial dan ekonomi warga setempat belum sepenuhnya pulih akibat dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.

“Pasca bencana, kehidupan warga kami masih dalam tahap pemulihan. Bantuan sembako dan peralatan dapur ini sangat membantu keberlangsungan hidup masyarakat kami. Atas nama warga Desa Batu Hula, kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian PLN serta YBM PLN,” ujar M. Ali Nasution.

Dari sudut pandang warga, bantuan ini tidak hanya bermakna sebagai pemenuhan kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi wujud empati dan kepedulian yang menumbuhkan ketenangan serta rasa diperhatikan. Kehadiran langsung manajemen PLN di desa mereka memberikan semangat tersendiri, bahwa proses pemulihan tidak dijalani sendirian.

General Manager PLN UID Sumatera Utara Mundhakir, menegaskan bahwa penyaluran bantuan YBM PLN merupakan bagian dari komitmen sosial PLN untuk mendampingi masyarakat terdampak bencana secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Kami memahami bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Melalui YBM PLN, kami ingin hadir untuk meringankan beban warga dan memastikan mereka tidak merasa sendiri dalam proses bangkit kembali,” ujar Mundhakir.

Ia menambahkan bahwa nilai kepedulian dan gotong royong menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan masyarakat pascabencana. PLN berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat setempat, dan masyarakat agar proses pemulihan, baik dari sisi kelistrikan maupun sosial dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan.

Bagi warga Desa Batu Hula, bantuan ini menjadi simbol hadirnya harapan di tengah keterbatasan. Dengan dukungan yang berjalan beriringan antara pemulihan pasokan listrik dan bantuan sosial, masyarakat optimistis dapat menata kembali kehidupan mereka secara perlahan namun pasti. (ila)

Jaga Konektivitas Warga di Huntara, Telkomsel Perkuat Akses Internet

Aceh, 15 Januari 2026 – Telkomsel terus mendukung pemulihan pascabencana dengan memastikan ketersediaan layanan internet yang andal di 11 Hunian Sementara (Huntara) yang tersebar di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Upaya ini ditujukan untuk membantu masyarakat tetap terhubung, mengakses informasi penting, serta mendukung aktivitas sehari-hari selama masa transisi pemulihan.

Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menyampaikan bahwa Telkomsel menempatkan keandalan jaringan sebagai prioritas utama di kawasan Huntara.

“Kami memastikan konektivitas di Huntara tetap terjaga melalui peningkatan kapasitas jaringan dan pengoperasian Combat di sejumlah lokasi. Kolaborasi bersama Telkom Group yang menghadirkan WiFi gratis di Huntara juga menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat tetap terhubung selama masa pemulihan,” ujar Nugroho.

Untuk menjaga kelancaran akses internet di kawasan Huntara, Telkomsel melakukan penguatan jaringan melalui upgrade kapasitas di berbagai site yang meng-cover wilayah Huntara. Selain itu, Telkomsel juga menghadirkan Compact Mobile BTS (Combat) di sejumlah titik strategis guna memperkuat cakupan dan kualitas layanan jaringan di lokasi dengan kebutuhan konektivitas yang meningkat.
Sebagai bagian dari kolaborasi berkelanjutan, Telkom Group turut menghadirkan akses internet/WiFi gratis yang dibangun langsung di kawasan Huntara. Fasilitas ini memungkinkan masyarakat tetap berkomunikasi dengan keluarga, mengakses layanan digital, serta mendukung kebutuhan pendidikan dan aktivitas produktif lainnya selama berada di hunian sementara.

Telkomsel akan terus memantau kebutuhan jaringan di kawasan Huntara serta melakukan penyesuaian yang diperlukan agar kualitas layanan tetap optimal, sejalan dengan komitmen perusahaan untuk selalu hadir mendampingi masyarakat pascabencana dan mendukung pemulihan yang berkelanjutan.(rel)

Sepekan Keppres Terbit, Penrad Siagian Nilai Satgas Pascabencana Belum Bekerja

JAKARTA, SumutPos.co- Anggota DPD RI Pdt Penrad Siagian menyoroti lambannya tindak lanjut pemerintah terhadap penanganan pascabencana alam di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat. Pasalnya, lebih dari sepekan sejak Keppres Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumut, Aceh, dan Sumbar diterbitkan, belum terlihat langkah konkret yang dilakukan oleh satuan tugas tersebut.

“Satu minggu lebih keluar Keppres, saya tidak menemukan apapun yang sudah dilakukan oleh satgassus. Artinya kalau tidak didorong, jangan-jangan nggak kerja juga dan ketika yang namanya satgasus ini tapi kerjanya lambat yang menderita adalah masyarakat korban,” kata Penrad pada Rapat Paripurna DPD RI masa sidang ke-3 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 14 Januari 2026.

Penrad menyampaikan, DPD RI perlu segera membentuk instrumen pengawasan, baik dalam bentuk satgas, panitia khusus, maupun mekanisme lain, untuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Menurutnya, tanpa dorongan kuat dari DPD RI sebagai representasi daerah, kerja satgas berpotensi berjalan lambat dan berdampak langsung pada penderitaan masyarakat korban bencana.

“Itu mengapa sangat urgent DPD RI yang sebenarnya wajah daerah ini membentuk yang saya sebut tadi namanya apapun namanya apakah Satgas, Pansus dan lain-lain terserah, karena memang kita harus mendorong ini,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi isi Keppres yang dinilai belum merinci secara jelas aspek pembiayaan, besaran anggaran, serta objek rehabilitasi dan rekonstruksi. Penrad menegaskan, kerusakan akibat bencana tidak hanya menyangkut infrastruktur publik seperti jalan, sekolah, rumah sakit, dan perkantoran, tetapi juga rumah warga serta hilangnya mata pencaharian masyarakat.

“Saya berharap, karena tidak detail sampai ke hal itu di dalam Keppres, DPD RI harus mendorong itu. Kalau tidak sampai didorong, maka saya meyakini puluhan tahun tidak akan pulih sebagaimana awalnya dinamika ekonomi masyarakat di daerah-daerah dan itu pasti akan mempersulit daerah,” tuturnya.

Penrad menekankan pentingnya pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sepenuhnya didorong melalui APBN. Ia menilai, status bencana yang tidak ditetapkan sebagai bencana nasional tidak boleh menjadi alasan untuk membebani keuangan daerah.

Menurutnya, kondisi fiskal daerah tidak memungkinkan untuk menanggung beban rehabilitasi dan rekonstruksi secara mandiri. “Yang berikutnya dari Keppres ini agar tidak lagi memberatkan (pemerintah daerah) karena status bukan bencana nasional, koordinasi diambil oleh pusat melalui keppres ini, supaya kita mendorong pendanaan itu berasal dari APBN. Efisiensi ini tidak akan memungkinkan dan memampukan daerah untuk mampu melakukan rehab dan rekon,” ungkapnya.

Selain itu, Penrad juga menyoroti kebijakan moratorium Hak Guna Usaha (HGU) dan izin-izin konsesi yang dikeluarkan Presiden pascabencana. Ia berharap moratorium tersebut menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola ruang dan kebijakan perizinan yang selama ini dinilai berkontribusi pada terjadinya bencana ekologis.

Penrad mengingatkan bahwa terdapat ratusan hingga ribuan korporasi yang saat ini sedang dalam proses perpanjangan atau pembaruan HGU, baik di sektor pertambangan maupun perkebunan. Ia mengkhawatirkan moratorium tidak berjalan efektif apabila tidak dikawal secara ketat, mengingat masih ditemukannya aktivitas perkebunan yang tetap berproduksi meski kebijakan moratorium telah diberlakukan.

Berkaca pada kondisi di Sumatra Utara, Penrad menilai lemahnya pengawasan terhadap konsesi telah berdampak pada kerusakan lingkungan dan memicu bencana. Ia bahkan mengingatkan bahwa wilayah lain seperti Papua berpotensi mengalami kondisi serupa jika momentum moratorium ini tidak dimanfaatkan untuk menata ulang kebijakan tata ruang secara serius.

Menurut Penrad, isu rehabilitasi pascabencana dan moratorium HGU merupakan persoalan kewilayahan yang menjadi tanggung jawab moral dan politik DPD RI. Ia menegaskan, tanpa pengawalan yang kuat, masyarakat daerah akan kembali menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak pada keselamatan lingkungan dan keberlanjutan hidup warga.

“Saya berharap ini menjadi tugas DPD RI karena ini menyangkut kewilayahan dan menyangkut daerah. Jangan sampai masyarakat kembali menjadi korban,” pungkasnya. (adz)

PLN UID Sumatera Utara Peringati Bulan K3 Nasional, Teguhkan Budaya Keselamatan Kerja Pascabencana

General Manager PLN UID Sumut memastikan wearpack 20 kV untuk pekerjaan saat bertegangan dalam kondisi baik dan tidak ada kebocoran sehingga aman digunakan.
General Manager PLN UID Sumut memastikan wearpack 20 kV untuk pekerjaan saat bertegangan dalam kondisi baik dan tidak ada kebocoran sehingga aman digunakan.

MEDAN— PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara menggelar Apel Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026, di Kantor PLN UID Sumatera Utara, Medan, pada Rabu (14/1/2026).

Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di seluruh unit PLN di Sumatera Utara, termasuk di Rantau Prapat, Pematang Siantar, dan Padang Sidempuan.

Apel peringatan Bulan K3 Nasional menjadi momentum strategis bagi PLN UID Sumatera Utara untuk meneguhkan kembali komitmen dalam membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang profesional, andal, dan berkelanjutan. Penguatan budaya K3 ini dinilai semakin krusial di tengah tantangan operasional pascabencana serta dinamika cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada sistem ketenagalistrikan.

Bertindak sebagai pembina apel, General Manager PLN UID Sumatera Utara, Mundhakir, membacakan amanat Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam rangka Bulan K3 Nasional.

Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa K3 bukan sekadar kewajiban administratif atau pemenuhan regulasi, melainkan nilai fundamental yang harus melekat dalam setiap proses kerja.

Mundhakir menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan operasional perusahaan, melindungi sumber daya manusia, serta memastikan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat.

“Menyalakan listrik bisa dilakukan dengan cepat, tetapi memastikan setiap petugas bekerja dengan selamat adalah tanggung jawab yang tidak bisa dikompromikan. Keselamatan petugas adalah cahaya pertama yang harus kita jaga, terutama di tengah kondisi pascabencana dan risiko kerja yang semakin kompleks,” ujar Mundhakir.

Ia menambahkan bahwa membangun budaya K3 membutuhkan keteladanan pimpinan, disiplin dalam menjalankan prosedur kerja, serta keberanian untuk menghentikan pekerjaan yang berpotensi tidak aman. Kepemimpinan yang berorientasi pada keselamatan diyakini akan melahirkan sistem kerja yang tangguh sekaligus sumber daya manusia yang berdaya dan berintegritas.

Pada kesempatan yang sama, turut dibacakan dan diikrarkan Komitmen Keselamatan dan Kesehatan Kerja oleh Senior Manager Distribusi PLN UID Sumatera Utara Dicky Hiwardi.

Ikrar ini menjadi penegasan tekad seluruh jajaran manajemen dan pegawai PLN UID Sumatera Utara untuk menjadikan K3 sebagai budaya kerja yang hidup, konsisten, dan terintegrasi dalam setiap aktivitas operasional.

Komitmen K3 tersebut mencerminkan peran strategis insan PLN sebagai safety leader di unit masing-masing, yang tidak hanya bertugas menjalankan prosedur, tetapi juga memberikan teladan, menjaga disiplin kerja, serta aktif menjadi komunikator keselamatan di lapangan guna mencegah kecelakaan kerja dan insiden operasional.

Melalui peringatan Bulan K3 Nasional Tahun 2026 ini, PLN UID Sumatera Utara menegaskan kesiapannya untuk terus memperkuat sistem manajemen K3, meningkatkan kesiapan fisik dan mental petugas, serta membangun ekosistem kerja yang aman dan sehat. Upaya tersebut sejalan dengan tema nasional Bulan K3 Tahun 2026, “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif.”

PLN meyakini bahwa keandalan pasokan listrik bagi masyarakat hanya dapat terwujud apabila keselamatan para penjaga cahaya senantiasa dijaga dan diutamakan. (ila)

Fokus Stabilisasi dan Optimalisasi, Telkomsel Pastikan Kualitas Jaringan Tetap Andal Pascapemulihan Bencana

MEDAN , SUMUTPOS.CO – Pasca rampungnya pemulihan seluruh infrastruktur jaringan telekomunikasi di wilayah terdampak banjir Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, Telkomsel kini memasuki fase stabilisasi dan optimalisasi jaringan untuk memastikan kualitas layanan tetap andal dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Telkomsel menegaskan bahwa seluruh 7.648 site terdampak telah pulih dan beroperasi 100%, sekaligus menjadi dasar bagi langkah lanjutan dalam menjaga konsistensi performa jaringan seiring dengan meningkatnya kembali aktivitas masyarakat pascabencana.

Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menyampaikan bahwa fase stabilisasi merupakan bagian penting dari komitmen Telkomsel dalam menjaga kualitas layanan pascabencana.

“Setelah seluruh site terdampak berhasil dipulihkan, fokus kami saat ini adalah memastikan jaringan tetap stabil dan optimal. Kami ingin pelanggan dapat kembali beraktivitas dengan dukungan layanan komunikasi yang andal dan konsisten,” ujar Nugroho.

Pada fase stabilisasi, Telkomsel melakukan pemantauan intensif terhadap performa jaringan, penguatan kapasitas layanan, serta penyesuaian konfigurasi jaringan di wilayah dengan potensi lonjakan trafik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas layanan tetap optimal dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan.

Upaya optimalisasi jaringan juga mencakup penguatan sistem pendukung, termasuk pengelolaan pasokan daya cadangan, penyesuaian parameter jaringan, serta kesiapan tim teknis untuk merespons dinamika kondisi lapangan. Pendekatan ini bertujuan menjaga keandalan layanan meskipun infrastruktur pendukung di sejumlah wilayah masih dalam tahap pemulihan.
Ke depan, Telkomsel akan terus melakukan pemantauan dan penyempurnaan kualitas jaringan secara berkelanjutan, serta memperkuat kesiapan operasional untuk memastikan layanan komunikasi tetap mendukung aktivitas masyarakat dan pemulihan ekonomi di wilayah terdampak. (rel)

Ketua DPW PKS Sumut Pimpin Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Korban Banjir di Tapteng

TUKKA, SUMUTPOS.CO- Ketua DPW PKS Sumut Andi Pranata SSi memimpin peletakan batu pertama pembangunan rumah bagi korban bencana hidrometeorologi di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Hadir dalam kegiatan itu Ketua MPW PKS Sumut H Sigit Pramono Asri SE, Sekretaris DPW PKS Sumut H Mustafa SE, dan Ketua DPD PKS Tapanuli Tengah, Putra.

Peletakan batu pertama pembangunan rumah ini sebagai bentuk bantuan dari PKS Sumut untuk korban banjir yang rumahnya rusak parah. Pada kesempatan kali ini, Andi Pranata menyampaikan keperihatinan yang mendalam bagi para korban bencana hidrometeorologi. Andi juga berharap agar bantuan yang diberikan ini bisa meringankan beban serta memberikan harapan baru bagi masyarakat.

Peletakan batu pertama ini merupakan bagian dari upaya pemulihan dan penanggulangan dampak pascabencana banjir yang melanda Tapanuli Tengah. Melalui program ini, PKS menegaskan komitmennya untuk terus hadir bersama masyarakat dalam setiap fase kebencanaan, mulai dari tanggap darurat hingga pemulihan dan pembangunan kembali. Selain itu Andi juga menyalurkan bantuan bagi korban banjir yang rumahnya rusak berat.

“Kita berharap agar Pembangunan rumah ini nantinya bisa memberikan semangat baru, insyaallah PKS Sumut akan terus hadir membantu kebutuhan masyarakat,” tegas Andi. (adz)

Bantu Penyintas Bencana, PKS Sumut Dirikan Posko Kesehatan Gratis dan Dukungan Psikososial di Tapteng dan Tapsel

MEDAN, SUMUTPOS.CO- Ketua DPW PKS Sumut Andi Pranata SSi mengunjungi Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), untuk menyalurkan bantuan dan melihat kondisi terkini setalah bencana banjir dan longsor. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka mendirikan Posko layanan kesehatan gratis serta melakukan kegiatan trauma healing bagi masyarakat.

Turut hadir dalam kunjungan ini Ketua MPW PKS Sumut H Sigit Pramono Asri SE dan Sekretaris DPW PKS Sumut H Mustafa SE serta jajaran pengurus DPW lainnya. Dalam kesempatan itu, Pimpinan DPTW PKS Sumut menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah ini. Lebih dari satu bulan berlalu Tapteng dan Tapsel masih terus berproses melakukan rehabilitasi dan rekontruksi.

Sebagai respons terhadap situasi ini, PKS Sumut mendirikan posko layanan kesehatan gratis agar masyarakat bisa mendapatkan fasilitas kesehatan karena tentu setelah bencana berlalu, kesehatan menjadi hal penting yang harus kita fokuskan. “PKS berkomitmen untuk terus hadir membantu masyarakat yang terdampak banjir di Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Tapanuli Tengah ini. Kami mengintruksikan kepada seluruh kader untuk bergerak membantu masyarakat terdampak, karena seluruh kader PKS adalah relawan,” kata Andi.

Selain itu, PKS Sumut juga melakukan kegiatan dukungan psikososial bagi anak-anak di SDIT Al Muyassar Tapanuli Tengah dan anak-anak di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batangtoru untuk mengembalikan semangat dan keceriaan mereka. “Pendampingan psikososial penting kita lakukan untuk mengurangi rasa trauma yang dialami oleh anak-anak ini setelah bencana berlalu agar anak-anak merasa aman dan diperhatikan selama proses rehabilitasi dan rekontruksi ini berlangsung”, terang Andi.

Lebih lanjut Andi juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader PKS yang telah bergerak membantu. Tak lupa Andi Pranata juga menyampaikan apresiasi bagi Pemerintah Daerah yang terus bergerak memulihkan daerahnya. (adz)

Desa Sejahtera Astra Dorong Batik Singkawang Naik Kelas

Penggerak Desa Sejahtera Astra Singkawang Priska Yeniriatno yang meninggalkan karier untuk membangun rumah batik. Modal awalnya sederhana, tabungan dan keberanian. Kini ia mengelola tiga kampung wisata batik, memberdayakan ibu rumah tangga, hingga pemuda putus sekolah.
Penggerak Desa Sejahtera Astra Singkawang Priska Yeniriatno yang meninggalkan karier untuk membangun rumah batik. Modal awalnya sederhana, tabungan dan keberanian. Kini ia mengelola tiga kampung wisata batik, memberdayakan ibu rumah tangga, hingga pemuda putus sekolah.

KALIMANTAN BARAT: Astra melalui program Desa Sejahtera Astra memperkuat aktivitas membatik sebagai sumber penghidupan masyarakat desa melalui pendekatan berbasis komunitas dan sistem produksi yang berkelanjutan di Desa Sejahtera Astra Singkawang, Kalimantan Barat. Di Singkawang, keterampilan membatik telah tumbuh dan dijalankan oleh masyarakat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi lokal.

Agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan diperlukan penguatan pengelolaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pembangunan sistem produksi yang lebih terstruktur. Sejak 2021, Astra melalui program Desa Sejahtera Astra hadir mendampingi masyarakat di Singkawang untuk memperkuat sumber daya manusia serta membangun fondasi produksi yang lebih mandiri berbasis potensi lokal.

“Pendampingan yang dilakukan oleh Astra melalui Desa Sejahtera Astra bertujuan untuk membangun kapasitas masyarakat serta membangun sistem kerja dan produksi yang dikelola secara bersama, sehingga aktivitas ekonomi desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Inisiatif di Desa Sejahtera Astra Singkawang diharapkan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa,” ujar Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro.

Aktivitas produksi batik masyarakat Desa Sejahtera Astra Singkawang yang hingga saat ini, telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif.
Aktivitas produksi batik masyarakat Desa Sejahtera Astra Singkawang yang hingga saat ini, telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif.

Dalam mengembangkan batik di Singkawang, Penggerak Desa Priska Yeniriatno, memiliki peran yang sangat penting. Berangkat dari pengalaman membangun kegiatan membatik secara mandiri, Priska mendorong penguatan sumber daya manusia agar keterampilan membatik tidak berhenti pada individu, melainkan dapat ditransfer, direplikasi, dan dikelola bersama oleh masyarakat. Hingga kini, kegiatan membatik berkontribusi pada peningkatan aktivitas produksi masyarakat sebesar 50% dan membuka peluang penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi warga Desa Sejahtera Astra Singkawang.

“Bagi saya, dampak yang paling terasa adalah konsistensi warga untuk tetap produktif dalam membatik. Kini, sebagian dari mereka bahkan telah membuka workshop sendiri serta menerima berbagai kegiatan dari luar untuk berbagi pengetahuan tentang batik yang mereka kembangkan. Menurut saya, inilah dampak yang paling luar biasa,” ujar Priska Yeniriatno.

Hingga saat ini, program telah melibatkan lebih dari 240 pelaku batik yang tergabung dalam 18 kelompok produksi aktif, serta mendorong tumbuhnya workshop mandiri dan kegiatan edukasi membatik di lingkungan sekitar. Kisah lengkap perjalanan Priska Yeniriatno dalam menggerakkan perubahan di Desa Sejahtera Astra Singkawang dapat disaksikan melalui kanal YouTube SATU Indonesia. Semangat Astra untuk terus mendukung penguatan masyarakat berbasis potensi lokal melalui Desa Sejahtera Astra sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia. (ila)

36 GraPARI Telkomsel di Aceh dan Sumut Siap Berikan Kemudahan Layanan Pascabencana

Medan, SUMUTPOS.CO – Telkomsel memastikan kesiapan layanan GraPARI untuk mendukung kebutuhan pelanggan pascabencana yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Telkomsel untuk terus hadir memberikan kemudahan layanan dan menjaga kualitas pengalaman pelanggan di tengah masa pemulihan.

Saat ini, terdapat 27 GraPARI di Provinsi Sumatera Utara dan 9 GraPARI di Provinsi Aceh yang terus beroprasi dan melayani pelanggan, termasuk mendukung kebutuhan layanan pascabencana di wilayah terdampak. Dari jumlah tersebut, tujuh GraPARI yang sempat terdampak bencana telah beroperasi penuh sejak minggu ketiga Desember 2025, yakni GraPARI di Bireuen, Takengon, Sigli, Langsa, Lhokseumawe, Gunung Sitoli, dan Sibolga.

General Manager Mobile Consumer Business Region Sumbagut Telkomsel, Agung E. Setyobudi, menyampaikan bahwa Telkomsel menghadirkan kemudahan layanan bagi pelanggan yang terdampak bencana agar tetap dapat berkomunikasi dengan lancar.
“Pascabencana, pelanggan membutuhkan layanan yang cepat dan mudah diakses. GraPARI kami siapkan untuk memberikan kemudahan layanan, termasuk penggantian kartu yang hilang, agar pelanggan dapat segera kembali terhubung,” ujar Agung.

Melalui operasional GraPARI yang siap melayani, Telkomsel juga memastikan stabilitas layanan tetap terjaga sehingga experience pelanggan dapat dirasakan secara optimal. Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan proses layanan berjalan lancar, responsif, dan sesuai kebutuhan pelanggan di wilayah terdampak.

“Kami terus berupaya menjaga kualitas layanan dan kenyamanan pelanggan. Kehadiran GraPARI pascabencana menjadi wujud komitmen Telkomsel untuk selalu mendampingi pelanggan, tidak hanya melalui jaringan yang andal, tetapi juga melalui layanan yang mudah dan solutif,” tambah Agung.

Untuk informasi lebih lanjut serta pengecekan lokasi dan jam operasional GraPARI terdekat, pelanggan dapat mengunjungi halaman resmi Telkomsel di www.telkomsel.com/contact-us/my-grapari.

Apresiasi Keppres Satgas Rehabilitasi, Penrad Siagian Desak Pemulihan Korban Bencana Dipercepat

JAKARTA, SUMUTPOS.CO – Anggota DPD RI Pendeta Penrad Siagian mengapresiasi terbitnya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 1 Tahun 2026 tentang pembentukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatra Utara (Sumut) , Aceh, dan Sumatra Barat (Sumbar). Ia menilai, kebijakan tersebut sebagai bentuk kehadiran dan tanggung jawab negara terhadap masyarakat korban bencana.

“Soal Keppres Satgas Percepatan Rehabilitasi Bencana, pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak boleh membebani kas daerah. Saya mengapresiasi Keppres ini sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap situasi kebencanaan, khususnya di Sumatra Utara,” ujar Penrad dalam keterangan resminya yang diterima Sumut Pos pada Senin (12/1/2026) malam.

Ia menegaskan, Satgas yang telah dibentuk harus segera bekerja secara cepat dan efektif. Menurutnya, masyarakat tidak boleh dibiarkan terlalu lama tinggal di pengungsian tanpa kepastian pemulihan. “Jangan biarkan masyarakat terlalu lama dalam kondisi sulit akibat bencana. Pemulihan harus dipercepat agar masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sediakala,” tegasnya.

Senator asal Sumut ini juga mengingatkan pemerintah pusat agar memastikan pembiayaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Provinsi Sumut, Aceh, dan Sumbar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab APBN. Ia menegaskan kondisi keuangan daerah yang terbatas serta kebijakan efisiensi dan pemotongan Transfer ke Daerah tidak boleh menambah beban pemerintah daerah.

“Pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi jangan sampai menambah beban daerah. Negara harus hadir melalui APBN sebagai bentuk tanggung jawab konstitusional,” katanya.

Berdasarkan hasil kunjungan sekaligus menyalurkan bantuan ke lokasi bencana di Sumut, ia menilai kerugian masyarakat tidak hanya berupa kehilangan rumah, tetapi juga rusaknya sumber-sumber pencaharian seperti kebun dan pertanian yang menjadi alat produksi utama warga. Untuk itu, ia mendesak agar rehabilitasi dan rekonstruksi mengakomodasi penggantian kerugian atas sumber pencaharian masyarakat.

Menurutnya, pemulihan harus mencakup bantuan untuk mencetak sawah kembali, rehabilitasi lahan pertanian dan perkebunan, serta pembiayaan permodalan minimal untuk satu periode panen. Selain pemulihan ekonomi, Penrad juga mengingatkan pentingnya pengembalian ruang-ruang publik dan pemulihan kehidupan sosial masyarakat di desa-desa yang terdampak parah akibat bencana.

Ia menekankan, rehabilitasi dan rekonstruksi harus menjadi momentum untuk menata ulang tata ruang wilayah rawan bencana. Penataan tersebut, kata dia, harus disertai evaluasi terhadap pemberian izin-izin konsesi dan Hak Guna Usaha di Sumatra Utara.

“Salah satu penyebab terjadinya bencana adalah kesalahan kebijakan dalam pengelolaan dan tata ruang. Negara jangan sampai menjadi sumber kesalahan kebijakan yang justru menjadikan masyarakat sebagai korban,” tegas Penrad.

Ia menegaskan, hasil serap aspirasi dari masyarakat di Tapanuli Raya akan dibawa dan diperjuangkan di tingkat pusat. Penrad Siagian berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar berpihak pada pemulihan kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sebelumnya, Penrad Siagian kembali menyalurkan bantuan tahap keempat bagi korban bencana di wilayah Tapanuli Raya pada awal tahun 2026. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan sekaligus untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak serta menyerap aspirasi warga menjelang masuknya fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Bantuan diserahkan kepada masyarakat Tapanuli Tengah yang berada di Bonan Dolok, HKI Daerah V Pantai Barat, Huta Nabolon, dan Sipange, serta Kota Sibolga. Selain itu, bantuan juga diberikan kepada warga Hutagodang yang terdampak bencana Aek Ngadol Garoga di Kabupaten Tapanuli Utara, juha masyarakat Muara Ampolu dan Desa Sangkunur, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Penrad Siagian menyerahkan secara langsung bantuan sembako kepada masyarakat terdampak. Bantuan juga dilengkapi dengan peralatan memasak seperti kuali, piring, cangkir, sendok, dan garpu, serta perlengkapan sekolah berupa tas, buku tulis, pensil, dan kebutuhan belajar lainnya. (adz)