LANGKAT, sumutpos.co– Banjir merupakan salah satu bencana yang tidak hanya dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan kerugian material, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan dan menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui mitigasi non-struktural, yaitu pendekatan pengurangan risiko bencana yang menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan, kesadaran, kesiapsiagaan, serta penyediaan informasi keselamatan bagi masyarakat. Edukasi kebencanaan dan komunikasi visual melalui rambu peringatan, jalur evakuasi, dan titik kumpul menjadi bagian penting agar masyarakat dapat mengenali risiko serta mengetahui tindakan yang tepat saat menghadapi kondisi darurat.
Berangkat dari hal tersebut, tim dosen Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Mitigasi Non-Struktural Bencana Banjir Berbasis Komunikasi Visual: Pendampingan Rambu Keselamatan Bencana dan Edukasi di Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat.” Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Mono Tahun Reguler 2026 – Pengabdian Masyarakat Perintis/Pemula.

Tim pengabdian diketuai oleh Fadhila, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik USU, dengan anggota Dr. Amir Husin, S.T., M.T. dan Dr. Sarah Patumona Manalu, S.K.M., M.Sc. dari Teknik Lingkungan, serta Selly Veronica, S.T., M.T. dari Arsitektur USU. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam penerapan ilmu pengetahuan secara langsung di lapangan.
Kegiatan dilaksanakan bersama Pemerintah Desa Namo Sialang dengan Kepala Desa Rasliadi Sembiring sebagai mitra. Program difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan masyarakat melalui edukasi mitigasi banjir dan penyediaan sarana komunikasi visual yang mudah dikenali dan dipahami.
Salah satu bentuk implementasinya adalah pemasangan rambu pada sejumlah lokasi strategis, meliputi rambu peringatan kawasan rawan banjir, rambu jalur evakuasi, dan rambu titik kumpul. Penempatan rambu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan akses masyarakat sehingga informasi yang disampaikan dapat membantu memberikan arahan ketika masyarakat perlu melakukan evakuasi.
Selain pemasangan rambu, tim juga memberikan edukasi mengenai mitigasi banjir serta pengenalan manfaat dan cara membaca rambu keselamatan. Masyarakat diperkenalkan pada makna simbol dan informasi yang terdapat pada rambu, tanda-tanda peringatan, arah jalur evakuasi, serta fungsi titik kumpul. Dengan demikian, rambu yang dipasang tidak hanya menjadi fasilitas fisik, tetapi juga menjadi media edukasi dan komunikasi risiko bagi masyarakat.
Ketua tim pengabdian, Fadhila, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian dari mitigasi non-struktural.
“Mitigasi non-struktural tidak berfokus pada pembangunan infrastruktur pengendali banjir, tetapi pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Melalui edukasi serta keberadaan rambu peringatan, jalur evakuasi, dan titik kumpul, masyarakat diharapkan lebih memahami risiko di lingkungannya dan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat banjir,” ujar Fadhila.
Kepala Desa Namo Sialang, Rasliadi Sembiring, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa diharapkan dapat mendukung peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat serta mendorong pemanfaatan rambu yang telah dipasang secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga menunjukkan kolaborasi keilmuan antara Teknik Lingkungan dan Arsitektur, terutama dalam memadukan aspek lingkungan, keselamatan, edukasi, komunikasi visual, dan penempatan rambu sehingga informasi kebencanaan dapat disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
Program pengabdian ini turut berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui penguatan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana terkait kondisi lingkungan dan iklim; serta SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui kegiatan edukasi yang meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi banjir.
Melalui kegiatan ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat USU berharap rambu yang telah dipasang dapat menjadi sarana komunikasi risiko yang digunakan secara berkelanjutan, sekaligus membantu membangun budaya sadar bencana. Edukasi yang diberikan juga diharapkan dapat mendorong masyarakat Desa Namo Sialang untuk semakin tanggap dalam mengenali risiko, memahami jalur evakuasi, dan mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat banjir. (adz)

