Catatan Kunjungan Dosen UMN Al-Washliyah: Sistem Pendidikan Tinggi Brunei Darussalam dan Pelajaran dari Unissa

Jika kita melihat peta pendidikan tinggi di Asia Tenggara, Brunei Darussalam mengambil jalan yang sangat berbeda. Disaat negara lain berlomba-lomba membangun kampus besar dengan ribuan mahasiswa, Brunei Darussalam justru membangun kampus yang kecil, fokus dan ideologis. Universitas Islam Sultan Sharif Ali Unissa adalah puncak dari jalan itu.

Sistem pendidikan tinggi di Brunei tidak bisa dilepaskan dari falsafah negara Melayu Islam Beraja (MIB). MIB bukan sekadar mata kuliah wajib, melainkan sistem operasi. Seluruh universitas di Brunei Darussalam, baik itu UBD, Unissa, maupun politeknik wajib menjadikan MIB sebagai ruh kurikulum.

Inilah yang membuat lulusan Brunei Darussalam memiliki identitas yang sangat kuat. Unissa secara khusus diposisikan oleh negara bukan sebagai universitas biasa, melainkan sebagai penjaga otoritas keislaman negara.

Tiga Keunggulan Sistem Unissa yang Tidak Dimiliki Indonesia:

– Negara Bertindak sebagai Wali Penuh. Di Indonesia, perguruan tinggi Islam, termasuk UMN Al-Washliyah, harus berjuang secara mandiri untuk keberlangsungan finansial. Kami harus mencari mahasiswa, mencari donasi, dan mengelola unit usaha. Di Brunei, Unissa dibiayai penuh oleh negara. Dampaknya, Unissa tidak terjebak dalam logika pasar. Mereka tidak perlu mengejar kuantitas mahasiswa. Mereka bisa fokus pada kualitas dan pengabdian. Dosen tidak sibuk mencari proyek, mahasiswa tidak terbebani UKT yang tinggi. Negara hadir sepenuhnya agar kampus bisa fokus melahirkan ulama dan profesional yang beradab.

– Integrasi Ilmu yang Utuh, Bukan Sekuler. Di Indonesia, kita masih mengalami dikotomi: Fakultas Syariah di satu sisi, Fakultas Sains di sisi lain. Di Unissa, dikotomi itu telah selesai. Seorang mahasiswa Hukum Islam di Unissa belajar tentang bioteknologi halal. Mahasiswa Bahasa Arab belajar tentang manajemen industri halal. Pusat Penyelidikan Halalan Thayyiban, Fakultas Syariah, dan Fakultas Teknologi terhubung langsung dengan industri dan Kementerian Hal Ehwal Ugama. Ilmu agama tidak hanya diajarkan, tetapi menjadi standar untuk industri. Inilah yang membuat Brunei, dengan penduduk hanya 460 ribu jiwa, mampu menjadi rujukan standar halal dunia.

– Hilirisasi Ilmu Sampai ke Liang Lahat. Inilah pelajaran paling berharga dari kunjungan ke Ar-Razaq Kifayah Management dan Al-Huffaz Management. Banyak kampus Islam di dunia berhenti di wisuda. Unissa tidak. Ilmu yang diajarkan di kelas menjelma menjadi ekosistem bisnis sosial yang nyata: ada yang mengurus kebutuhan mengaji dari lahir (Al-Huffaz), ada yang mengurus kebutuhan fardhu kifayah sampai mati (Ar-Razaq). Kampus melahirkan standar, alumni melahirkan layanan. Pendidikan tinggi benar-benar hadir dari buaian hingga ke kubur.

Tiga Catatan Kritis untuk Masa Depan

Sebagai sesama keluarga besar Melayu-Islam, ada tiga catatan yang perlu menjadi bahan renungan bersama untuk Unissa:

– Tantangan Daya Saing Global. Karena difasilitasi penuh oleh negara, ada risiko zona nyaman. Lulusan Unissa unggul dalam adab dan penguasaan turats, namun pasar industri halal global saat ini sangat kompetitif dan agresif. Diperlukan penguatan jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan global agar lulusan Unissa tidak hanya menjadi penjaga sistem di dalam negeri, tetapi juga pemain utama di luar negeri.

– Tantangan Skala. Brunei Darussalam adalah negara kecil. Kekuatan Unissa di masa depan tidak terletak pada jumlah mahasiswa, melainkan pada ekspor sistem. Unissa harus berani memposisikan diri sebagai MIT-nya dunia Islam Melayu: kampus yang kecil secara fisik, tetapi besar pengaruhnya karena sistemnya dipakai di banyak negara.

– Tantangan Narasi. Dunia internasional masih sedikit yang mengetahui kehebatan model Brunei Darussalam ini. Publikasi ilmiah tentang MIB, tentang fikih halal Brunei Darussalam dan tentang manajemen kifayah masih didominasi Bahasa Melayu dan Arab. Diperlukan lebih banyak publikasi internasional berbahasa Inggris agar model Brunei Darussalam bisa menjadi rujukan akademik dunia.

Penutup: Poros Gadong-Medan

Akhirnya, kolaborasi terbaik antara Brunei Darussalam dan Indonesia bukanlah sekadar pertukaran mahasiswa. Model idealnya adalah: Unissa sebagai hulu, dan Indonesia sebagai hilir.

Unissa sebagai hulu yang menjadi pusat rujukan, sertifikasi dan penjaga mutu berstandar Brunei Darussalam. Sementara kampus-kampus seperti UMN Al-Washliyah di Medan dengan pasar 280 juta muslim menjadi hilir sebagai laboratorium raksasa untuk implementasi.

Mahasiswa Unissa belajar tentang skala dan dinamika pasar di Medan. Mahasiswa UMN Al-Washliyah belajar tentang sistem, mutu dan adab di Brunei Darussalam. Jika ini terjadi, kita tidak hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi generasi yang mampu mengurus umat secara profesional, dari kebutuhan mengaji Iqra di masa kecil hingga kebutuhan fardhu kifayah di akhir hayat.

Itulah hakikat pendidikan tinggi yang sesungguhnya: tidak hanya berada di menara gading, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, saat masyarakat paling membutuhkannya. (dmp)

Jika kita melihat peta pendidikan tinggi di Asia Tenggara, Brunei Darussalam mengambil jalan yang sangat berbeda. Disaat negara lain berlomba-lomba membangun kampus besar dengan ribuan mahasiswa, Brunei Darussalam justru membangun kampus yang kecil, fokus dan ideologis. Universitas Islam Sultan Sharif Ali Unissa adalah puncak dari jalan itu.

Sistem pendidikan tinggi di Brunei tidak bisa dilepaskan dari falsafah negara Melayu Islam Beraja (MIB). MIB bukan sekadar mata kuliah wajib, melainkan sistem operasi. Seluruh universitas di Brunei Darussalam, baik itu UBD, Unissa, maupun politeknik wajib menjadikan MIB sebagai ruh kurikulum.

Inilah yang membuat lulusan Brunei Darussalam memiliki identitas yang sangat kuat. Unissa secara khusus diposisikan oleh negara bukan sebagai universitas biasa, melainkan sebagai penjaga otoritas keislaman negara.

Tiga Keunggulan Sistem Unissa yang Tidak Dimiliki Indonesia:

– Negara Bertindak sebagai Wali Penuh. Di Indonesia, perguruan tinggi Islam, termasuk UMN Al-Washliyah, harus berjuang secara mandiri untuk keberlangsungan finansial. Kami harus mencari mahasiswa, mencari donasi, dan mengelola unit usaha. Di Brunei, Unissa dibiayai penuh oleh negara. Dampaknya, Unissa tidak terjebak dalam logika pasar. Mereka tidak perlu mengejar kuantitas mahasiswa. Mereka bisa fokus pada kualitas dan pengabdian. Dosen tidak sibuk mencari proyek, mahasiswa tidak terbebani UKT yang tinggi. Negara hadir sepenuhnya agar kampus bisa fokus melahirkan ulama dan profesional yang beradab.

– Integrasi Ilmu yang Utuh, Bukan Sekuler. Di Indonesia, kita masih mengalami dikotomi: Fakultas Syariah di satu sisi, Fakultas Sains di sisi lain. Di Unissa, dikotomi itu telah selesai. Seorang mahasiswa Hukum Islam di Unissa belajar tentang bioteknologi halal. Mahasiswa Bahasa Arab belajar tentang manajemen industri halal. Pusat Penyelidikan Halalan Thayyiban, Fakultas Syariah, dan Fakultas Teknologi terhubung langsung dengan industri dan Kementerian Hal Ehwal Ugama. Ilmu agama tidak hanya diajarkan, tetapi menjadi standar untuk industri. Inilah yang membuat Brunei, dengan penduduk hanya 460 ribu jiwa, mampu menjadi rujukan standar halal dunia.

– Hilirisasi Ilmu Sampai ke Liang Lahat. Inilah pelajaran paling berharga dari kunjungan ke Ar-Razaq Kifayah Management dan Al-Huffaz Management. Banyak kampus Islam di dunia berhenti di wisuda. Unissa tidak. Ilmu yang diajarkan di kelas menjelma menjadi ekosistem bisnis sosial yang nyata: ada yang mengurus kebutuhan mengaji dari lahir (Al-Huffaz), ada yang mengurus kebutuhan fardhu kifayah sampai mati (Ar-Razaq). Kampus melahirkan standar, alumni melahirkan layanan. Pendidikan tinggi benar-benar hadir dari buaian hingga ke kubur.

Tiga Catatan Kritis untuk Masa Depan

Sebagai sesama keluarga besar Melayu-Islam, ada tiga catatan yang perlu menjadi bahan renungan bersama untuk Unissa:

– Tantangan Daya Saing Global. Karena difasilitasi penuh oleh negara, ada risiko zona nyaman. Lulusan Unissa unggul dalam adab dan penguasaan turats, namun pasar industri halal global saat ini sangat kompetitif dan agresif. Diperlukan penguatan jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan global agar lulusan Unissa tidak hanya menjadi penjaga sistem di dalam negeri, tetapi juga pemain utama di luar negeri.

– Tantangan Skala. Brunei Darussalam adalah negara kecil. Kekuatan Unissa di masa depan tidak terletak pada jumlah mahasiswa, melainkan pada ekspor sistem. Unissa harus berani memposisikan diri sebagai MIT-nya dunia Islam Melayu: kampus yang kecil secara fisik, tetapi besar pengaruhnya karena sistemnya dipakai di banyak negara.

– Tantangan Narasi. Dunia internasional masih sedikit yang mengetahui kehebatan model Brunei Darussalam ini. Publikasi ilmiah tentang MIB, tentang fikih halal Brunei Darussalam dan tentang manajemen kifayah masih didominasi Bahasa Melayu dan Arab. Diperlukan lebih banyak publikasi internasional berbahasa Inggris agar model Brunei Darussalam bisa menjadi rujukan akademik dunia.

Penutup: Poros Gadong-Medan

Akhirnya, kolaborasi terbaik antara Brunei Darussalam dan Indonesia bukanlah sekadar pertukaran mahasiswa. Model idealnya adalah: Unissa sebagai hulu, dan Indonesia sebagai hilir.

Unissa sebagai hulu yang menjadi pusat rujukan, sertifikasi dan penjaga mutu berstandar Brunei Darussalam. Sementara kampus-kampus seperti UMN Al-Washliyah di Medan dengan pasar 280 juta muslim menjadi hilir sebagai laboratorium raksasa untuk implementasi.

Mahasiswa Unissa belajar tentang skala dan dinamika pasar di Medan. Mahasiswa UMN Al-Washliyah belajar tentang sistem, mutu dan adab di Brunei Darussalam. Jika ini terjadi, kita tidak hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi generasi yang mampu mengurus umat secara profesional, dari kebutuhan mengaji Iqra di masa kecil hingga kebutuhan fardhu kifayah di akhir hayat.

Itulah hakikat pendidikan tinggi yang sesungguhnya: tidak hanya berada di menara gading, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, saat masyarakat paling membutuhkannya. (dmp)

Artikel Terkait


Terpopuler

Artikel Terbaru