MEDAN, sumutpos.co- MEDAN — Universitas Sumatera Utara (USU) kembali melahirkan ribuan lulusan baru yang siap bersaing di dunia profesional. Rektor USU, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., resmi mengukuhkan 5.263 wisudawan pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026. Prosesi sakral ini digelar maraton di Auditorium USU mulai Sabtu (22/8) hingga Jumat (28/8).
Dalam wisuda kali ini, total lulusan didominasi oleh Program Sarjana sebanyak 3.439 orang, disusul Program Diploma 739 orang, dan Program Magister 579 orang. Sisanya tersebar pada Program Doktor (78 orang), Pendidikan Spesialis (94 orang), Pendidikan Sub-Spesialis (3 orang), Dokter Jenjang Magister (75 orang), serta Pendidikan Profesi (256 orang). Dengan tambahan ini, total alumnus USU kini menembus angka 282.395 orang.
Mengangkat tema besar “Relevansi Lulusan Perguruan Tinggi: Degree vs Skills?”, Prof Muryanto memberikan wejangan kuat kepada para lulusan. Dia mengingatkan bahwa perdebatan antara pentingnya gelar akademik (degree) dan keterampilan (skills) sudah tidak relevan lagi.
Keduanya wajib berjalan beriringan.
“Ijazah menjadi bukti seseorang telah menempuh proses pendidikan terstruktur dan memenuhi standar akademik. Sedangkan keterampilan menunjukkan kemampuan menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan,” tegas Muryanto di hadapan wisudawan, Rabu (26/8).
Muryanto menggarisbawahi adanya fenomena skills-based hiring di dunia industri saat ini, di mana korporasi lebih melirik kompetensi nyata, portofolio, dan rekam jejak digital ketimbang sekadar lembar ijazah (credential-based hiring). Meski begitu, dia menolak anggapan bahwa gelar sarjana sudah kehilangan tajinya.
Bagi mantan Dekan FISIP USU ini, perguruan tinggi tetaplah penyedia fondasi keilmuan yang krusial. Tantangan terbesar para lulusan baru justru terletak pada konsistensi mereka untuk terus upgrade kemampuan setelah angkat kaki dari kampus.
“Gelar tidak kehilangan relevansi. Makna gelar berubah ketika dunia kerja terus berkembang. Gelar bukan lagi tanda bahwa seseorang telah selesai belajar. Gelar menjadi bukti bahwa seseorang telah memiliki fondasi untuk terus belajar,” imbuhnya.
Di akhir pidatonya, rektor berpesan agar para alumni baru ini tidak sekadar mengejar status sosial lewat gelar di depan atau belakang nama. Nilai tertinggi dari seorang lulusan universitas adalah seberapa besar dampak dan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Gelar dapat membuat orang mengetahui latar belakang pendidikan saudara. Namun, kontribusi membuat orang merasakan manfaat keberadaan saudara,” pungkasnya. (adz)

